Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM EDUKASI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI Anggraeny Rara Sasmitha*. Rahmaya Nova Handayani. Emiliani Elsi Jerau Fakultas Kesehatan. Universitas Harapan Bangsa. Jl. Raden Patah No. Kedunglongsir. Kembaran. Banyumas. Jawa Tengah 53182 Indonesia *anggraenyrara123@gmail. ABSTRAK Dismenorea adalah istilah medis dari kondisi nyeri haid atau kram perut yang terjadi setiap kali saat Penanganan dismenorea dapat dilakukan melalui intervensi nonfarmakologi, salah satunya adalah dengan teknik relaksasi otot progresif. Tujuan dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah untuk memperluas pemahamam remaja putri mengenai manfaat relaksasi otot progresif dalam mengatasi dismenorea. Metode yang digunakan dalam PkM ini yaitu ceramah dan demonstrasi, dengan media berupa presentasi Power Point, leaflet, dan video. Kegiatan PkM ini dilaksanakan di SMAN 5 Purwokerto pada 19 Agutus 2024. Peserta dalam kegiatan PkM ini sebanyak 40 orang Siswi kelas XI. Pelaksanaan PkM diawali dengan kegiatan pre test dan diakhiri kegiatan post test. Pre test dan post test dilakukan dengan mengisi lembar checklist untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta PKM. Setelah kegiatan PkM, mayoritas peserta memiliki pengetahuan dalam kategori cukup sejumlah 23 orang . ,5%) dan dalam kategori baik sejumlah 14 orang . %). Rata-rata pengetahuan peserta sebelum edukasi adalah 6,98, sedangkan setelah edukasi meningkat menjadi 11,65. Luaran dari PkM ini meliputi leaflet dan publikasi ilmiah. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah teknik relaksasi otot progresif dapat di aplikasikan sebagai salah satu terapi non farmakologi untuk mengatasi disminorea. Kata kunci: pengetahuan. relaksasi otot progresif. remaja putri PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION EDUCATION ON DYSMENORRHEA IN ADOLESCENT GIRLS ABSTRACT Dysmenorrhea is the medical term for menstrual pain or abdominal cramps that occur every time during menstruation. Dysmenorrhea can be treated through non-pharmacological interventions, one of which is with progressive muscle relaxation techniques. The purpose of this Community Service (PkM) activity is to broaden the understanding of young women about the benefits of progressive muscle relaxation in overcoming dysmenorrhea. The methods used in this PkM are lectures and demonstrations, with media in the form of Power Point presentations, leaflets, and This PkM activity was carried out at SMAN 5 Purwokerto on August 19, 2024. Participants in this PkM activity were 40 grade XI female students. The implementation of PkM began with a pre-test activity and ended with a post-test activity. The pre-test and post-test were carried out by filling out a checklist to determine the level of knowledge of PKM participants. After the PkM activity, the majority of participants had knowledge in the sufficient category of 23 people . 5%) and in the good category of 14 people . %). The average knowledge of participants before education was 6. 98, while after education it increased to 11. The output of this PkM includes leaflets and scientific publications. The conclusion of this activity is that Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group progressive muscle relaxation techniques can be applied as one of the non-pharmacological therapies to overcome dysmenorrhea. Keywords: adolescent girls. progressive muscle relaxation PENDAHULUAN Remaja, atau adolescence pada bahasa Latin berasal dari AuadolescereAy yang artinya AuberkembangAy atau Aumenjadi dewasaAy. Dalam bahasa Inggris, istilah "adolescence" sekarang memiliki pengertian yang luas, meliputi kematangan mental dan emosional (Proverawati & Misaroh, 2. Tahap perkembangan pada remaja dimulai dengan kematangan organ-organ fisik . yang kemudian memungkinkan mereka untuk bereproduksi (Putri, 2. Periode ini dikenal sebagai masa pubertas, dan tanda khas adalah menstruasi (Akbar et al. , 2. Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2018, ada 1. 425 remaja putri yang mengalami dismenorea, di mana 90% di antaranya mengalami kondisi ini, dan 10%-15% mengalami dismenorea berat. Prevalensi dismenorea di Indonesia mencapai 64,25%, dengan 54,89% mengalami dismenorea primer, seperti nyeri saat menstruasi, dan 9,36% mengalami dismenorea sekunder, yang disebabkan oleh infeksi kronis pada saluran reproduksi (Putri, 2020 dalam Sulistyorini, 2. Di Jawa Tengah, jumlah remaja putri berusia 10-15 tahun adalah 1. jiwa, sementara usia 15-19 tahun mencapai 1. 756 jiwa (BPS Provinsi Jawa Tengah, 2. Prevalensi dismenorea di Indonesia, mencapai 55% di kalangan usia produktif, dengan 15% di antaranya melaporkan bahwa dismenorea membatasi aktivitas mereka (Putri, 2. Di Jawa Tengah, kejadian dismenorea mencapai 56%. Meskipun dismenorea umumnya merupakan kondisi bulanan yang alami bagi wanita, hal ini tetap dapat menjadi gangguan signifikan bagi yang mengalaminya (Haryanti & Kurniawati, 2. Penelitian Sandra . tentang pemahaman remaja tentang penanganan dismenorea menunjukkan bahwa 74,20% dari mereka menggunakan air hangat, 66,10% kompres hangat, 61,30% berolahraga, 58,10% pemijatan, 50,00% tidak mengonsumsi obat, 43,50% minum air putih, dan 32,20% memilih untuk Pendekatan farmakologis dalam menangani dismenorea kurang diminati di kalangan Pengobatan farmakologis untuk nyeri menstruasi biasanya melibatkan penggunaan analgetik narkotik dosis standar dapat menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, sembelit, kecemasan, dan rasa kantuk (Sari et al. , 2. Penelitian Indrawati . mengungkapkan bahwa berdasarkan penilaian menggunakan kuesioner, 42 dari 78 responden . ,8%) memiliki pengetahuan yang kurang mengenai topik ini (Fredelika et al. , 2. Penelitian Lestari . melaporkan bahwa dari 199 responden, 98,5% pernah mengalami Temuan tersebut menunjukkan bahwa 82% remaja membiarkan nyeri tanpa intervensi khusus, 40,2% menggunakan air hangat, 37,2% mencari bantuan dari orang tua, dan 12,4% mencari pertolongan medis (Fredelika et al. , 2. Penelitian mengenai dampak teknik relaksasi otot progresif pada pengurangan nyeri dismenorea terhadap remaja putri di Desa Pulau Jambu, yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kuok pada tahun 2020, menunjukkan bahwa sebelum penerapan teknik ini, terdapat 30 responden yang mengalami nyeri haid dengan intensitas sedang. Setelah intervensi, 24 responden melaporkan penurunan nyeri haid menjadi nyeri ringan. Rata-rata penurunan tingkat nyeri dismenorea setelah intervensi tercatat sebesar 3,73 (Fira et al, . Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Hasil wawancara dalam prasurvey terhadap 7 remaja putri di SMAN 5 Purwokerto menunjukkan bahwa 2 di antaranya mengalami dismenorea berat dan mengatasi kondisi tersebut dengan berbaring di tempat tidur serta menggunakan minyak kayu putih. Selain itu, terdapat 2 remaja putri yang mengalami dismenorea dengan tingkat sedang, yang mengatasi gejala mereka dengan mengurangi aktivitas dan mengonsumsi teh hangat. Dua remaja putri lainnya mengalami dismenorea ringan, yang hanya mereka atasi dengan minum air putih, sementara satu remaja putri tidak mengalami dismenorea sama sekali. Berdasarkan hasil tersebut, penulis melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat yang berfokus pada edukasi mengenai teknik relaksasi otot progresif untuk menangani dismenorea di SMAN 5 Purwokerto. Tujuan dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah untuk meningkatkan pemahaman remaja putri tentang manfaat teknik relaksasi otot progresif dalam mengatasi dismenorea. METODE Pelaksanaan kegiatan PkM oleh penulis dilaksanakan pada 19 Juni 2024 dengan izin dari SMAN 5 Purwokerto melalui surat No. 070/639/2024 dan No. Etik B. LPPM-UHB/834/08/2024. Metode yang digunakan adalah survei lapangan. Proses seleksi melibatkan pengumpulan dan pengelompokkan data peserta yang memenuhi syarat untuk mengikuti kegiatan PkM, yaitu siswi kelas XI SMAN 5 Purwokerto yang berjumlah 40 orang dan bersedia menjadi peserta dengan menandatangani lembar informed consent. Setelah memperoleh informed consent, peserta diminta untuk melakukan pretest dengan mengisi lembar observasi penilaian tingkat pengetahuan selama 15 menit. Penulis kemudian memberikan edukasi melalui presentasi power point dengan materi Relaksasi Otot Progresif dan Disminorea, mengajarkan cara melakukan relaksasi otot progresif melalui video, dan membagikan leaflet kepada peserta selama 30 menit. Penulis bersama 3 fasilitator mendemonstrasikan gerakan relaksasi otot progresif selama 30 menit. Setelah itu, dilakukan posttest dengan meminta peserta mengisi kembali lembar observasi untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan mereka tentang relaksasi otot progresif selama 15 menit. Keterbatasan dalam pelaksanaan PkM di SMAN 5 Purwokerto ialah rencana penulis dalam kegiatan PkM ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tidak semua bisa direalisasikan. Dalam PkM ini penulis hanya bisa memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan peserta sedangkan untuk keterampilan tidak terealisasikan. Selain itu penulis tidak melakukan evaluasi setelah para peserta melakukan demonstrasi gerakan relaksasi otot progresif, sehingga penulis tidak bisa menilai keterampilan peserta. Hal ini menyebabkan hasil dari PkM ini menjadi kurang maksimal. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini adalah gambaran pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada Sisiwi kelas XI SMAN 5 Purwokerto. Gambar 1. Tahap Pelaksanaan PkM Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Tingkat Pengetahuan Peserta Pengabdian Kepada Masyarakat Tingkat pengetahuan peserta Pengabdian kepada Masyarakat digambarkan dalam tabel berikut: Tabel 1 Distribusi Pengetahuan Peserta Pengabdian kepada Masyarakat . Pengetahuan Baik . -100%) Cukup . -75%) Kurang (<56%) Pre-Test Post-Test Tabel 1 menunjukkan sebelum diberikan edukasi relaksasi otot progresif, tingkat pengetahuan peserta Pengabdian kepada Masyarakat berada dalam kategori rendah, dengan 38 peserta . %). Setelah edukasi diberikan, mayoritas peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan ke kategori cukup, yaitu sebanyak 23 peserta . ,5%). Pendidikan kesehatan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan lebih efektif dengan menggunakan berbagai media seperti video, leaflet, lembar balikan, audio, dan lain-lain. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penyuluhan telah berhasil meningkatkan kesadaran dan pemahaman peserta mengenai relaksasi otot progresif setelah mereka memperoleh informasi tentang topik tersebut. Perbedaan antara hasil pretest dan posttest menandakan bahwa upaya penyuluhan berhasil meningkatkan pengetahuan peserta tentang relaksasi otot progresif. Rendahnya pengetahuan awal peserta yang tercermin dari hasil pretest mempengaruhi pemahaman serta sikap mereka terhadap relaksasi otot progresif. Menurut Notoadmodjo . , pengetahuan diperoleh melalui proses pengenalan yang terjadi setelah seseorang merasakan objek tertentu melalui indera mereka, seperti rasa dan sentuhan. Proses edukasi adalah interaksi yang mendorong pembelajaran, sedangkan pembelajaran itu sendiri merupakan usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui prakti. Temuan dari proses edukasi ini konsisten dengan hasil penelitian Kusuma et al. , . dan Arkeman et al. , yang menunjukkan bahwa penggunaan media seperti audiovisual dalam penyuluhan efektif dalam membantu pemahaman materi yang disampaikan. Edukasi kesehatan adalah pembelajaran yang dialami oleh individu, kelompok, dan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dalam berbagai aspek (Astuti et al. , 2. Melalui pemberian edukasi, diharap pengetahuan akan meningkat, karena pengetahuan adalah faktor yang bisa memengaruhi sikap. Penyuluhan adalah suatu metode yang dapat memengaruhi perubahan perilaku, termasuk pengetahuan, dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, sehingga dapat diterapkan perilaku yang baik (Kusuma et al. , 2. Gambar 2. Tahap Pelaksanaan PkM Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group Rata-rata Tingkat Pengetahuan Peserta Pengabdian Kepada Masyarakat Rata-rata tingkat pengetahuan peserta Pengabdian kepada Masyarakat diuraikan dalam hasil Tabel 2 Distribusi Rata-rata Pengetahuan Peserta Pengabdian kepada . Pengetahuan Pre-Test Post-Test Mean 6,98 11,65 Min-Max Tabel 2 menunjukkan rata-rata pengetahuan peserta sebelum edukasi adalah 6,98, sedangkan rata-rata pengetahuan setelah edukasi meningkat menjadi 11,65. Keberhasilan edukasi tercermin dari peningkatan rata-rata pengetahuan dan sikap setelah pemberian informasi kesehatan tentang overweight melalui media audio visual dan leaflet (Meidiana et al. , 2. Temuan serupa juga terlihat dalam edukasi kesehatan mengenai gizi pada remaja yang menggunakan media audio visual/video (Sekti & Fayasari, 2. Ini menunjukkan bahwa pemilihan media yang sesuai dapat menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan pengetahuan selama proses edukasi Menurut Akbar et al. , jika menerapkan teknik relaksasi otot progresif, otot mengalami spasme atau ketegangan akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah di area abdomen, sehingga memperlancar aliran darah dan mencegah iskemia serta produksi zat-zat kimia yang dapat memicu rasa nyeri (Widyastuti, 2. Relaksasi otot progresif adalah terapi relaksasi yang melibatkan proses melepaskan otot-otot di satu bagian tubuh pada satu waktu untuk memberikan sensasi relaksasi fisik. Proses ini melibatkan serangkaian gerakan mengencangkan dan melepaskan kelompok otot secara berurutan. (Rochmawati, 2014 dalam Atmanegara, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Ramadhiani et al. pemberian edukasi dengan media leaflet berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan tentang DAGUSIBU . apatkan, gunakan, simpan dan buan. Selain itu penelitian lain yang dilakukan oleh Kurnia . menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara pendidikan kesehatan dan edukasi melalui media video terhadap tingkat pengetahuan remaja putri terhadap dampak pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi. Ada bukti bahwa teknik relaksasi otot progresif dan terapi pijat endorphin dapat membantu menurunkan tingkat dismenorea. Teknik relaksasi digunakan untuk mengurangi ketegangan. Selain itu, intervensi ini meningkatkan kemampuan fisik, meningkatkan keseimbangan tubuh dan pikiran, dan bermanfaat untuk pengobatan penyakit dalam tubuh (Rahmawati & Setyawti, 2. Teknik relaksasi otot progresif adalah alternatif untuk mengurangi nyeri dengan meredakan ketegangan dan ketegangan otot melalui latihan nafas dalam dan berbagai teknik relaksasi dan kontraksi otot (Fira et al. , 2. SIMPULAN Kegiatan PkM berjalan lancer dan sesuai dengan tujuan yang dicapai serta peserta semangat melakukan PkM. Hasil PkM menunjukkan setelah dilakukan edukasi relaksasi otot progresif mayoritas peserta memiliki pengetahuan dalam kategori cukup sebanyak 23 peserta . ,5%) dan kategori baik sebanyak 14 peserta . %). Rata-rata pemahaman peserta sebelum edukasi adalah 6,98, sedangkan rata-rata pemahaman peserta setelah edukasi meningkat menjadi 11,65. Sehingga dapat disimpulkan bahwa teknik relaksasi otot progresif dapat di aplikasikan sebagai salah satu terapi non farmakologi untuk mengatasi disminorea. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group DAFTAR PUSTAKA