POTENSI EKSTRAK DAUN PISANG (Musa textilis Ny. TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH Rama Febryanto*. Hajrah. Laode Rijai Laboratorium penelitian dan pengembangan FARMAKA TROPIS. Fakultas Farmasi UniversitasMulawarman. Samarinda. Kalimantan Timur. *email: ramanisama69@gmail. ABSTRAK Tanaman pisang telah umum digunakan masyarakat Indonesia sebagai obat dalam pengobatan tradisional. Masyarakat Mahakam Ulu secara empiris menggunakan daun kering pisang sebagai obat untuk menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder ekstrak etanol daun kering pisang (Musa textilis Ny. dan potensinya dalam menurunkan kadar gula darah secara invivo dengan menggunakan metode toleransi glukosa. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol daun kering pisang (Musa textilis Ny. memiliki kandungan metabolit sekunder berupa tanin, fenol dan senyawa flavonoid. Ekstrak daun kering pisang memiliki efek terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit galur Swiss Webster pada dosis uji 100, 200 dan 400 mg/kgBB. Simpulan penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun kering pisang (Musa textilis Ny. berpotensi sebagai penurun kadar gula darah. Kata Kunci: Musa textilis Nye, potensi penurunan gula darah, metabolit sekunder. ABSTRACT Musa textilis Nye has been used by Indonesian people as a herbal medicine. In Mahakam Ulu Musa textilis Nye is well known empirically using dried leaves as antihyperglicemic. The purpose of this research was to investigate secondary metabolites ethanol extract Musa textilis Nye and antihyperglicemic effect this plant using glucose tolerance. Secondary metabolites content from ethanol extract Musa textilis Nye include flavonoid, tannins and The result show that Musa textilis Nye leaves extract can decrease blood glucose from mice male Swiss Webster at dose of 100, 200 and 400 mg/kg. Conclusion the study showed that the ethanol extract of Musa textilis Nye potentially has antihyperglycemic. Keywords : Musa textilis Nye , potential antihyperglicemic, secondary metabolites. PENDAHULUAN Kejadian terhadap penyakit tidak menular semakin hari terus meningkat baik di negara maju maupun berkembang, termasuk di Indonesia. Kejadian ini ditandai dengan bergesernya pola penyakit menular ke penyakit tidak menular yang secara global meningkatsecara epidemiologi dan secara nasional telah menduduki sepuluh penyakit terbanyak penyebab kematian serta kasus terbanyak di antaranya adalah penyakit diabetes melitus (DM) (DEPKES, 2. Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-4. Samarinda, 20 Ae 21 Oktober 2016 Diabetes melitus merupakan sindrom metabolik paling umun di seluruh dunia dengan angka kejadian 1-8%. Penyakit ini muncul ketika insulin tidak cukup diproduksi atau insulin tidak dapat berfungsi dengan baik. Diabetes ditandai dengan hiperglikemi yang menyebabkan berbagai gangguan metabolik jangka pendek dalam metabolisme lemak dan protein dan jangka panjang menyebabkan perubahan aliran kadar yang irreversibel. Manifestasi jangka panjang dari diabetes adalah dapat menyebabkan beberapa komplikasi mikrovaskuler maupun makrovaskuler (Brahmachari, 2. Musa paradisiaca, atau musaceae, dikenal sebagai 'pisang', yang merupakan ramuan pohon abadi yang dibudidayakan di banyak daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Pisang, dimakan sebagai buah atau sayuran, merupakan salah satu tanaman yang paling penting di beberapa negara karena pisang merupakan makanan yang diperkaya dan dinilai sebagai obat serbaguna. Berbagai bagian dari tanaman Pisang telah digunakan secara oral maupun topikal sebagai obat dalam pengobatan tradisional dan dalam sebuah studi (Ros, 2. telah menunjukkan potensi sebagai obat diabetes. Penggunaan empiris daun pisang oleh masyarakat Mahakam Ulu dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah. Uniknya masyarakat Mahakam Ulu menggunakan daun pisang kering atau daun berwarna coklat yang telah mati sebagai penurunan kadar gula Namun, sejauh ini sedikit sekali adanya laporan mengenai metabolit sekunder dan farmakologis daun pisang. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki secara in vivo dari ekstrak kasar etanol dari daun Musa textilis Nye terhadap kadar glukosa darah mencit (Mus musculu. dan Fitokimia daun kering Musa textilis Nye. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah glucometer (Easy Touc. , gunting anatomis. Bahan yang digunakan adalah sukrosa, glibenklamid 5 mg, dan daun kering pisang raja yang diperoleh dari perkebunan Sungai Kapih. Samarinda. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan galur Swiss Webster dengan berat badan 20-40 gram. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium penelitian dan pengembangan Farmako Tropis. Fakultas Farmasi. Universitas Mulawarman. Samarinda. Kalimantan Timur pada tahun 2016. Ekstraksi Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Maserasi dihentikan apabila pelarut yang digunakan dalam proses maserasi telah bening. Dilakukan penyaringan dengan kertas saring, sehingga didapatkan filtrat yang kemudian diuapkan pelarutnya dengan menggunakan rotary vacum evaporatour dan didapatkan ekstrak kasar. Hasil ekstrak ini yang digunakan sebagai bahan uji. Identifikasi Metabolit Sekunder Uji Alkaloid Sebanyak 2 mL ekstrak diuapkan di atas cawan porselin. Residu yang dihasilkan kemudian dilarutkan dengan 5 mL HCl 2 M. Larutan yang diperoleh dibagi ke dalam 3 tabung reaksi. Tabung pertama berfungsi sebagai blanko, ditambahkan dengan 3 tetes HCl 2 M. Tabung kedua ditambahkan 3 tetes pereaksi Dragendorff dan tabung ketiga ditambahkan 3 tetes pereaksi Mayer. Pada pereaksi Dragendorff akan terbentuk endapan Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-4. Samarinda, 20 Ae 21 Oktober 2016 berwarna jingga sedangkan pereaksi Mayer akan terbentuk endapan kuning yang menandakan positif adanya alkaloid (Farsnworth, 1. Uji Flavonoid Sebanyak 2 mL ekstrak ditambahkan dengan air panas secukupnya, kemudian dididihkan selama 5 menit lalu disaring. Filtrat sebanyak 5 mL ditambahkan 0,05 mg serbuk Mg dan 1 mL HCl pekat, kemudian dikocok kuatkuat. Uji positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah, kuning atau jingga (Harborne, 1. Uji Saponin Sebanyak 2-3 mL ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air panas lalu didinginkan, kemudian dikocok kuatkuat selama 10 detik lalu ditambahkan 1 tetes HCl 2 N. Uji positif ditunjukkan dengan terbentuknya buih yang stabil setinggi 1-10 cm selama tidak kurang dari 10 menit (Depkes, 1. Uji Fenolik Ekstrak sampel sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk dilakukan pengujian fenolik dengan cara ekstrak ditambahkan pereaksi FeCl3 1%, jika terjadi warna hitam menunjukkan adanya senyawa fenolik (Harborne, 1. Uji Triterpenoid dan Steroid Sebanyak 2 mL ekstrak ditambahkan CH3COOH glasial sebanyak 10 tetes dan H2SO4 pekat sebanyak 2 tetes. Larutan dikocok perlahan dan dibiarkan selama beberapa menit. Adanya steroid ditunjukan oleh warna biru atau hijau, sedangkan triterpenoid memberikan warna merah atau ungu (Harborne, 1. Penyiapan Hewan Uji Hewan uji yang digunakan adalah mencit putih jantan galur Swiss Webster. Sebelum digunakan hewan coba di aklimatisasi selama 7 hari serta diberi pakan dan minum ad Pengujian Aktivitas Penurunan Kadar Glukosa Darah Aktivitas penurunan kadar glukosa darah diuji dengan menggunakan metode toleransi glukosa. Kemudian dibagi menjadi lima kelompok hewan uji, antara lain kelompok kontrol positif dengan pemberian obat glibenklamid pada dosis manusia yang telah dikonversi untuk mencit sebesar 0,65 mg/kgBB, kemudian kontrol negatif dan kelompok uji variasi dosis dari ekstrak daun kering pisang masing-masing sebesar 100 mg/kgBB. 200 mg/kgBB. mg/kgBB yang terdiri dari 5 ekor setiap kelompok. Sebelum dilakukan pembebanan glukosa, dilakukan pengecekan kadar glukosa darah awal pada setiap kelompok. Kemudian dilakukan induksi pembebanan glukosa akut 5 g/kgBB yang ditunggu selama 15 menit dan kemudian dilakukan pengukuran kadar glukosa darah pada menit ke 15, 30, 60, 90, 120, 150, 180 dan 210 menit. Pengukuran kadar glukosa dilakukan menggunakan alat pengukur kadar glukosa . Analisis Data Analisis data dilakukan perhitungan statistika dengan metode ANAVA dengan aplikasi IBM SPSS Statistic 21 dan uji lanjut dengan Duncan untuk melihat kebermaknaan penurunan kadar glukosa darah antar kelompok. Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-4. Samarinda, 20 Ae 21 Oktober 2016 HASIL PENELITIAN Kandungan Metabolit Sekunder Metabolit sekunder adalah senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya. Senyawa kimia sebagai hasil metabolit sekunder telah banyak digunakan sebagai zat warna, racun, aroma, makanan, obatobatan dan sebagainya (Lenny, 2. Hasil uji metabolit sekunder dapat dilihat pada Tabel Tabel 1. Hasil Uji Metabolit Sekunder Metabolit sekunder Sampel Ekstrak Alkaloid Flavonoid Saponin Fenolik Steroid Etanol Tanin Keterangan : ( ) = terdeteksi metabolit sekunder (- ) = tidak terdeteksi metabolit sekunder Hasil uji metaabolit yang diperoleh dari ekstrak etanol daun pisang ialah golongan alkaloid, flavonoid, tanin dan fenol. Uji Aktivitas Penurunan Kadar Glukosa Darah Uji aktivitas yang dilakukan menggunakan metode toleransi glukosa, tiap hewan coba pada masing-masing kelompok menunjukan perubahan kadar gula darah yang berbeda tiap Pendekatan klinis yang dilakukan pada hewan coba yaitu pengkategorian terjadinya hiperglikemik atau peningkatan kadar glukosa darah, normal pada mencit yang berumur 10 minggu adalah 61 Ae 130 mg/dL (Grant et al, 2. Hasil pengukuran terhadap penurunan kadar glukosa darah mencit dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-rata penurunan kadar glukosa darah mencit kontrol positif, kontrol negatif dan pemberian daun pisang *Waktu (Meni. /Hewan uji Kelompok Kontrol Positif . g/dL) Kelompok Kontrol Negatif . g/dL) Kadar Gula Darah Awal 98,67 190,33 137,33 111,33 64,33 58,33 57,33 102,33 248,66 250,33 214,33 192,67 124,67 96,67 95,33 100 m/kg BB 200 mg/kg BB 400 mg/kg BB g/dL) . g/dL) . g/dL) 121,67 75,33 70,33 69,67 54,67 115,67 115,33 84,33 82,67 65,33 73,67 107,33 116,67 105,67 101,67 91,33 82,33 75,67 Pemberian perlakuan pada kelompok uji, kelompok kontrol positif serta kelompok negatif dilakukan 15 menit setelah pemberian beban glukosa. Pada menit ke-15 terjadi Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-4. Samarinda, 20 Ae 21 Oktober 2016 penurunan kadar glukosa darah pada kelompok perlakuan dosis uji dan kontrol positif namun tidak pada kontrol negatif. Hal ini terjadi akibat pemberian Na CMC . ontrol negati. tidak memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah. Dilihat dari menit ke-15 hingga menit ke-180 terjadi penurunan kadar glukosa darah secara perlahan pada tiap kelompok hewan uji termasuk kontrol negatif. Penurunan yang terjadi pada kelompok kontrol negatif diduga diakibatkan oleh sistem keseimbangan tubuh oleh hormon insulin. Proses ini dinamakan homeostasis tubuh, dimana terjadi proses keseimbangan tubuh secara normal untuk mengkondisikan kadar glukosa yang terdapat didarah. Pemberian beban glukosa terhadap hewan uji tidak merusak organ pankreas sehingga proses homeostasis tetap berjalan secara normal. Dengan adanya respon kadar glukosa darah tinggi, insulin akan dirilis dari sel pankreas untuk membantu menyeimbangkan kadar glukosa darah pada tubuh. Penurunan kadar glukosa secara perlahan ini dapat diartikan bahwa kerja dari hormon insulin Proses sekresi insulin ini terjadi dalam 2 fase, pada fase pertama kadar insulin melonjak tinggi seketika. Hal ini secara normal terjadi 10 menit sesudah kenaikan kadar glukosa darah. Kemudian terjadi fase kedua yang bersifat lambat, berlangsung selama lebih dari 10 menit sampai 2 jam setelah konsumsi karbohidrat (Hutagalung, 2. Sedangkan terjadinya penurunan kadar glukosa darah pada kontrol positif diperantarai oleh kerja obat glibenklamid yang merupakan obat antidiabetik oral golongan sulfonilurea yang bekerja menstimulasi sel pankreas untuk melepaskan sekresi insulin (Novrial et al. Sedangkan pada kelompok uji terjadi pula penurunan kadar gula darah yang diduga dipengaruhi oleh senyawa golongan flavonoid dan tanin yang sebelumnya telah menunjukan hasil positif pada uji kandungan metabolit sekunder terhadap ekstrak. Senyawa golongan flavonoid berfungsi dalam menghambat enzim glukosidase dan alfa amilase sehingga pemecahan karbohidrat menjadi monosakarida gagal dan glukosa tidak dapat diserap oleh usus, sedangkan senyawa tanin dapat pula menurunkan absorbsi nutrisi dengan menghambat penyerapan glukosa di intestinal, selain itu membantu menginduksi regenerasi sel pankreas yang berefek pada sel adipose sehingga menguatkan aktifitas insulin. Tanin merupakan salah satu pemangsa radikal bebas dan meningkatkan uptake glukosa dalam darah melalui aktifitas mediator insulin sehingga menurunkan glukosa dalam darah (Kumari dan Jain, 2. Kadar . g/dL) t awal Waktu (Meni. kontrol ( ) Gambar 1. Kontrol (-) Uji 100 mg/kg Uji 200 mg/kg Uji 400 mg/kg Grafik rata-rata penurunan kadar glukosa darah Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-4. Samarinda, 20 Ae 21 Oktober 2016 Berdasarkan hasil pengukuran efek penurunan kadar glukosa darah oleh ekstrak etanol daun pisang, dapat diukur dengan menghitung nilai AUC total pada tiap kelompok hewan Luas AUC digunakan untuk mengetahui luasan di bawah kurva dari respon glukosa Metode yang digunakan untuk menghitung luas AUC adalah Trapezoid Method (Wolever, 2. AUC (Area Under Curv. total merupakan gambaran penurunan kadar glukosa darah secara keseluruhan pada masing-masing kelompok. Tabel 3. Nilai AUC (Area Under Curv. total tiap kelompok Perlakuan Total AUC Kontrol positif 15615,40 mg/dL. Kontrol negatif 28360,54 mg/dL. Dosis 100 mg/kg BB 14767,07 mg/dL. Dosis 200 mg/kg BB 16883,45 mg/dL. Dosis 400 mg/kg BB 18973,70 mg/dL. Kontrol negatif memiliki nilai AUC tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini menandakan kadar glukosa darah hewan uji cenderung masih tinggi. Sedangkan nilai AUC total kontrol positif dan variasi dosis uji dibawah kurva kontrol negatif. Didapatkan dosis terbaik dari variasi dosis uji dalam menurunkan kadar glukosa darah pada hewan uji ialah dosis 100 mg/kg BB dengan nilai AUC total dibawah dari AUC total kontrol negatif. Berdasarkan analisis statistik ANAVA diperoleh nilai Sig. 0,036 . < 0,. yang menunjukan adanya perbedaan antara kelompok uji dan kontrol negatif dalam penurunan kadar glukosa Nilai AUC total pada dosis 100 mg/kgBB terlihat lebih rendah dibandingkan kontrol Untuk melihat apakah dosis uji 100 mg/kgBB lebih baik atau tidak dibandingkan kontrol positif, maka digunakan uji banding yaitu uji t, diperoleh hasil 0,235 . >0,. yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok uji dosis 100 mg/kgBB dengan kelompok kontrol positif sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok uji dosis 100 mg/kgBB memiliki efek yang sebanding dengan kelompok kontrol positif . KESIMPULAN Ekstrak daun kering pisang mengandung senyawa metabolit sekunder golongan tannin, fenol dan flavonoid. Pengujian aktivitas penurunan kadar glukosa darah pada seluruh variasi dosis 100. dan 400 mg/kgBB memiliki aktivitas dan berpotensi sebagai penurun kadar glukosa darah. DAFTAR PUSTAKA