Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Sosialisasi Masyarakat Sadar Lingkungan di Kecamatan Pondokgede Kota Bekasi Mishelei Loen1*. Rosdiana2. Dhistianti Mei Rahmawantari3. Diajeng Reztrianti4. Ayu Puspitaningtyas5. Diana Gustinya6. Dewi Rejeki7. Fajar Cahyo Utomo8. Kausar Maulana9. Yuaniko Paramitra10. Arief Syaf Safrianto11. Tatag Herbayu12. Arry Dwi Syahputra13. Iwan Kurniawan Subagja14. Nino Nopriandi Saleh15. Arief Rachmawan Assegaf16. Muhammad Harri17. Guswandi18 Universitas Krisnadwipayana. Indonesia misheleiloen@unkris. Submitted: 18th March 2025 | Edited: 25th June 2025 | Issued: 01st July 2025 Cited on: Loen. Rosdiana. Rahmawantari. Reztrianti. Puspitaningtyas. Gustinya. Rejeki. Utomo. Maulana. Paramitra. Safrianto. Herbayu. Syahputra. Subagja. Saleh. Assegaf. Harri. , & Guswandi. Sosialisasi Masyarakat Sadar Lingkungan di Kecamatan Pondokgede Kota Bekasi. Jurnal PKM Manajemen Bisnis, 5. , 466-480. ABSTRACT Waste management is one of the greatest challenges faced by global communities today. Understanding the types, sources, and forms of waste is essential to raise awareness. This study aims to increase awareness and promote positive behavior in household waste management, focusing on the Environmentally Aware Community (MasDarLin. in Pondokgede District, which consists of 5 sub-districts and 78 neighborhood units (RW), through the UNKRIS Community Service Program (KKN). This research employs a qualitative analysis method with several stages, including preparation, implementation, and evaluation. The results show that 67% of the community understands the importance of not littering, 84% are aware of the need to sort waste before disposal, and 97% are conscious of the negative impacts of waste on the environment. Additionally, 84% of the community deposits inorganic waste at waste banks, and 97% have knowledge about composting and biopore absorption holes. The positive impacts of this activity include a cleaner environment, increased environmental awareness, and the establishment of more waste banks in Pondokgede District. Keywords: Waste Management. Composting. Biopore Infiltration Holes. Waste Bank. Greening PENDAHULUAN Pengolahan sampah merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh masyarakat global saat ini. Pemahaman tentang sampah dari jenis, sumber dan bentuknya sangat perlu untuk disosialisasikan. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan urbanisasi yang pesat, terutama di daerah perkotaan seperti di Kecamatan Pondokgede Bekasi, masalah pengelolaan sampah semakin kompleks dan memerlukan perhatian Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta,Timbulan Sampah Tahunan di Bekasi mengalami kenaikan sejak 2019 sampai Hal ini disebabkan akibat timbulan sampah yang masuk setiap harinya pada tahun 2023 sebanyak 7. 708 ton. Sehingga TPA Bantargebang mendadak mendunia setelah mendapatkan label sebagai tempat pembuangan sampah terbesar di dunia, hal ini disebabkan karena tingginyatimbunan sampah mencapai 40 meter (Lestari, 2. Berikut gambar grafik jumlah sampah masuk TPA Bantar gebang. Sumber. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, 2025 Gambar 1. Grafik Peningkatan Jumlah Sampah Masuk TPA Bantargrbang Bekasi Peningkatan jumlah sampah yang masuk ke TPA Bantargebang menunjukkan bahwa sebagian besar sampah masih dibuang di tempat pembuangan akhir tanpa proses pengolahan yang memadai. Ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah masih jauh dari kata ideal. Tingginya timbulan sampah ini diakibatkan karena kurangnya kesadaran masyarakat, fasilitas yang terbatas, sistem pengangkutan sampah yang tidak efisien, kurangnya sumber daya manusia, lemahnya regulasi, serta banyaknya variasi jenis sampah. Hal ini menjadi tantangan yang melibatkan aspek ekonomi, sosial, dan Secara ekonomi. Pengelolaan sampah yang efektif di Indonesia membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur dan teknologi. Hal ini karena pengelolaan sampah yang baik memerlukan sistem yang terintegrasi, mulai dari pemilahan sampah hingga pengolahan dan daur ulang. Dari aspek sosial, kebiasaan dan perilaku masyarakat dalam menangani sampah sangat berpengaruh pada efektivitas pengelolaan sampah. Masyarakat masih memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan dan langsung ke lingkungan, yang berdampak negatif pada lingkungan. Kebiasaan ini juga disebabkan oleh kurangnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Pengetahuan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. yang tepat tentang cara mengelola sampah yang benar sangat diperlukan untuk mengubah kebiasaan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan multidimensional untuk mengatasi masalah ini. Akademisi memainkan peran penting dalam membentuk kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah melalui Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana dengan fokus pada Masyarakat Sadar Lingkungan (MasDarLin. Kecamatan Pondokgede ( terdiri dari 5 kelurahan yaitu kelurahan Jatibening. Jatimakmur. Jatibening Baru. Jatiwaringin dan Jaticempaka dan 78 RW) berperan penting dalam menciptakan solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah rumah tangga bersama dengan Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) kota Bekasi, selaku pihak swasta. Melalui pendekatan terintegrasi ini, akan membangun masyarakat yang tidak hanya sadar lingkungan, tetapi juga berdaya saing dan mandiri dalam mengelola sumber daya. Sinergi antara akademisi, masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghadapi masalah yang serupa. Dalam konteks ini. KKN menjadi langkah strategis untuk mewujudkan masyarakat Kecamatan Pondokgede yang lebih sadar lingkungan, mandiri, dan berdaya saing, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat untuk generasi mendatang. Melalui program KKN, mahasiswa diharapkan dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi tentang, komposting, lubang resapan biopori, penghijauan dan pengembangan bank sampah di seluruh RW kecamatan Pondokgede. Pengolahan sampah rumah tangga merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah, selain memanfaatkan nilai yang masih terkandung dalam sampah itu sendiri. Pengolahan sampah rumah tangga dalam bentuk organik dapat dilakukan dengan cara komposting dan lubang resapan biopori (Saputra, 2. , sedangkan sampah rumah tangga dalam bentuk anorganik dapat didaur ulang dengan memanfaatkan bank sampah (Yuliana, 2019. Pratama, 2. Komposting adalah proses dekomposisi biologis terhadap bahan organik yang dapat terurai secara alami. Proses ini bertujuan untuk mengurangi volume dan massa bahan organik serta menghasilkan produk akhir berupa kompos organik yang stabil (Nirmala & Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. I, 2. Salah satu cara untuk mengurangi efek berbahaya dari sampah adalah dengan membuat kompos sampah organik. Sampah yang berasal dari rumah tangga merupakan limbah yang berasal dari aktivitas pengelolaan makanan serta sisa tumbuhan di sekitar Dengan pengelolaan sampah yang tepat, lingkungan akan terlihat lebih bersih, dan sampah yang diolah dengan baik dapat dijadikan kompos yang bermanfaat untuk proses penyuburan tanah, sehingga lingkungan terlihat lebih hijau dan asri (Ningsih. Maka dari itu, fermentasi dan pengomposan dapat memanfaatkan sisa makanan yang tersisa setelah dimasak dengan baik, terutama sayuran seperti sayuran kubis, kacang panjang, daun bawang, dan lainnya (Hidayat, 2019. Lestari, 2. Selain dengan komposting, lubang resapan biopori juga dapat membantu warga di Kecamatan pondokgede dalam memberikan gambaran yang lebih baik tentang cara mengubah sampah dapur sayur menjadi penyubur tanah (Putra, 2. Lubang resapan biopori menurut peraturan menteri Kehutanan nomor: 70/Menhut-II/2008 tentang pedoman teknis rehabilitasi hutan dan lahan bagian E mempunyai pengertian adalah lubang-lubang yang terbentuk di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman dan rayap. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah (Harisdani, 2. Sektor rumah tangga menjadi salah satu sektor yang menyumbang sampah makanan dalam jumlah yang cukup besar (Yulianti, 2. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, salah satunya adalah perilaku seseorang terhadap sampah makanan atau biasa disebut dengan food waste behavior yang diinvestigasikan dari perspektif perilaku konsumen. Sampah makanan banyak menjadi problem di masyarkat (Budiyanto, 2. Metode yang dapat digunakan dalam menyelesaikan permasalahan sampah organik dan sampah makanan . ood wast. yaitu Metode Biopori. Menurut (Basri, 2. bahwa biopori sebaiknya dibuat pada area terbuka yang akan terkena air hujan. Beberapa tempat dapat dipilih seperti halaman rumah, sekitar pepohonan, area parkir, dan lahan terbuka. Berkaitan dengan konservasi lingkungan, melindungi tata air di tanah dan menjaga kesuburan tanah, maka pembuatan lubang resapan biopori ini sangat perlu dilakukan (Ramadhan, 2. Pada praktiknya, biopori dapat dijadikan program warga dan pemerintah kota. Apalagi, biopori ini dapat dijadikan program untuk mengedukasi serta meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya lubang resapan air tanah dan pemanfaatan air resapan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. sampah organik bagi lingkungan (Wibowo, 2. Biasanya lubang biopori terbentuk oleh aktivitas organisme dalam tanah. Namun semakin kesini, biopori dapat dibentuk oleh bantuan manusia melalui limbah organik. Bank sampah merupakan pengembangan konsep pengelolaan sampah di Indonesia dengan metode 3R . euse, reduce, recycl. Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce. Reuse, dan Recycle. Melalui Bank Sampah dalam pasal 1 ayat 1 mendefinisikan bank sampah sebagai tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau digunakan ulang yang memiliki nilai ekonomi. Mekanisme bank sampah terdiri atas pemilahan bank sampah rumah tangga, penyetoran sampah ke bank, penimbangan sampah, pencatatan, dan pengangkutan sampah yang sudah terkumpul (Syafriani, 2. Penghijauan merupakan penanaman di lahan kosong untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan kesuburan tanah (S. Akaputra, & I, 2. Tanaman adalah sumber manfaat dari Allah yang dimanfaatkan manusia sebagai pangan dan pakan (Darmawan, 2. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, penghijauan menjadi solusi pelestarian lingkungan (Hakim, 2. Tujuannya mencakup menjaga estetika alam, menyegarkan udara, serta mengurangi dampak musim panas dan risiko Dalam konteks KKN, program ini tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga pengembangan keterampilan praktis yang bermanfaat dalam kehidupan seharihari, menjadikannya sarana pengabdian sekaligus pembelajaran bagi mahasiswa dan METODE Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis Analisis kualitatif mengandung makna suatu penggambaran atas data dengan menggunakan kata dan baris kalimat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang dapat bertujuan memahami suatu situasi sosial, peristiwa, peran, interaksi dan Sebelum kegiatan KKN dilaksanakan, beberapa langkah persiapan dilakukan untuk memastikan kelancaran dan efektivitas program. Langkah-langkah tersebut meliputi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Pada tahap persiapan diawali dengan pelaksanaan seminar umum. Training Of Trainer (TOT) dan Rapat Koordinasi / FGD serta penyebaran kuesioner prasosialisasi. Sedangkan tahap pelaksanaan mencakup sosialisasi mengenai komposting, lubang biopori, bank sampah, penghijauan serta penyerahan fasilitas, selanjutnya tahap evaluasi mencakup penyebaran kuesioner pascasosialisasi. PEMBAHASAN Tahap Persiapan Seminar Umum Pada tahap persiapan ini diawali dengan pelaksanaan seminar umum bersama pegadaian tentang bank sampah kepada mahasiswa/wi, pada tanggal 22 November 2024 dengan tema AySeminar Umum Literasi Keuangan Dan Edukasi Masyarakat Mewujudkan Mimpi Dengan EmasAy yang bertunjuan untuk meningkatkan pemahaman kepada Mahasiswa tentang konsep inklusi keuangan. Mengedukasi mahasiswa untuk selanjutnya mengedukasi kepada masyarakat tentang program KKN Sosialisasi MasDarLing dan Pegadaian yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dalam pembentukan Bank Sampah melalui investasi emas dan pinjaman berbasis emas, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan melalui pembentukan Bank Sampah. Komposting, dan Lubang Biopori. Training Of Trainer (TOT) Training Of Trainer (TOT) bersama yayasan rumah sopan selaku penggiat lingkungan pada tanggal 7 dan 8 Desember 2024 dengan tujuan untuk membentuk mahasiswa/wi menjadi fasilitator dengan Membekali mahasiswa/wi pengetahuan dan keterampilan dasar konservasi lingkungan melalui Bank Sampah. Komposting. Lubang Biopori,dan Ecopreneurship atau kewirausahaan berbasis lingkungan Rumah Tangga. Rapat Koordinasi / FGD Rapat Koordinasi / FGD yang dilaksanakan bersama Kecamatan Pondokgede pada tanggal 14 Januari 2025 mencakup observasi langsung dan wawancara mengenai pengolahan sampah di 78 rw dan penyebaran kueaioner prasosialisasi oleh mahasiswa/wi. Kuesioner Pra-Sosialisasi Kuesioner dibagikan kepada 78 RW dan 5 Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. lurah untuk mengetahui perilaku awal mereka dalam menangani sampah. Pertanyaan dalam kuesioner ini meliputi frekuensi membuang sampah . eberapa sering mereka membuang sampah di sembarang tempa. , pengetahuan tentang jenis sampah . eberapa banyak mereka tahu tentang jenis-jenis sampah dan cara pengelolaanny. , kesadaran lingkungan . ejauh mana mereka menyadari dampak negatif sampah terhadap lingkunga. , kontribusi dalam bank sampah . eberapa sering mereka menyetorkan sampah anorgani. , komposting dan lubang biopori . eberapa banyak mereka tahu tentang komposting dan lubang resapan biopor. Hasil Kuesioner Pra-Sosialisasi Dari kuesioner awal, diketahui bahwa sebagian masyarakat di kecamatan Pondokgede masih membuang sampah tidak pada tempat. Terdapat beberapa masyarakat yang memilah sampah organik dan non-organik, dan sebagian belum memahami mengenai komposting, lubang resapan biopori dan bank sampah. Berikut adalah ringkasan hasil kuesioner pra-sosialisasi Seberapa sering anda membuang sampah disembarang sangat sering kadang kadang tidak pernah Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 2. Hasil Prasosialisasi Menunjukan 52% Masyarakat Masih Membuang Sampah Disembarang Tempat Anda selalu memilah sampah sebelum membuangnya? Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Gambar 3. Hasil Prasosialisasi Menunjukan 57% Masyarakat Tidak Memilah Sampah Sebelum Membuangnya Anda mengetahu dampak negatif sampah terhadap Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 4. Hasil Prasosialisasi Menunjukan 11% Masyarakat Tidak Mengetahui Dampak Negatif Sampah Terhadap Lingkungan Anda menyetorkan sampah anorganik di bank sampah? Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 5. Hasil Prasosialisasi Menunjukan 63% Tidak Menyetorkan Sampah Anorganik Di Bank Sampah Apakah anda mengetahui tentang komposting dan lubang resapan biopori Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 6. Hasil Prasosialisasi Menunjukan 68% Masyarakat Tidak Mengetahui Informasi Mengenai Komposting Dan Lubang Biopori Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Tahap Pelaksanaan Sosialisasi Sosialisasi dilakukan serempak pada 5 kelurahan yaitu kelurahan Jatibening. Jatimakmur. Jatibening Baru. Jatiwaringin dan Jaticempaka di kecamatan Pondokgede dengan memberikan materi mengenai permasalahan lingkungan, cara menanggulangi permasalahan lingkungan, bank sampah, komposting, lubang resapan biopori, dan penghijauan. Materi sosialisasi disampaikan dalam bentuk ceramah, diskusi, dan praktek. Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 7. Sosialisasi Dilakukan Pada 5 Kelurahan Di Kecamatan Pondokgede Penyerahan Fasilitas Penyerahan fasilitas berupa ember composting, cairan bioaktivator, molase, casing lubang resapan biopori dan botol spray kepada 78 RW di dikecamatan pondokgede, serta 5 alat bor tanah kepada 5 kelurahan di dikecamatan pondokgede. Selain itu juga diberikan poster tata cara pembuatan komposter, dan lubang resapan biopori, dengan tujuan untuk memudahkan warga di Kecamatan Pondokgede mengelola sampah organiknya untuk dijadikan pupuk padat dan cair, dan mulai membuat lubang resapan biopori dimasing rumah Pelatihan dan Praktek Langsung Pelatihan dan praktek langsung dilakukan untuk mengajarkan cara memilah sampah organik, non-organik, membuat pupuk padat cair, membuat lubang biopori dan penghijauan diberikan kesempatan untuk mempraktekkan langsung di bawah bimbingan fasilitator. Pelatihan ini mencakup pemilahan sampah . eserta diajak untuk melakukan simulasi pemilahan sampah dengan menggunakan tempat sampah yang disediaka. , kemudian peserta diajak untuk membuat pupuk padat dan cair, serta membuat 2 mata lubang resapan biopori, kemudian diskusi dan tanya jawab Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. eserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi ), dan evaluasi praktek . asilitator memberikan evaluasi dan masukan tentang cara pemilahan sampah yang benar, pembuatan komposting dan lubang resapan biopor. Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 8. Pelatihan dan Praktek Langsung Tentang Komposting. Penghijauan dan Lubang Resapan Biopori Tahap Evaluasi Pada tahap ini mahasiswa/wi menyebar kuesioner Pasca-Sosialisasi Kuesioner kedua dibagikan setelah sosialisasi untuk mengetahui perubahan perilaku dan pemahaman peserta tentang pengelolaan sampah. Hasil kuesioner dianalisis untuk mengevaluasi efektivitas kegiatan KKN. Pertanyaan dalam kuesioner ini meliputi perubahan perilaku . eberapa sering mereka memilah sampa. , pemahaman tentang jenis sampah . pakah pemahaman mereka tentang jenis-jenis sampah dan cara pengelolaannya meningka. , kesadaran lingkungan . pakah kesadaran mereka tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik meningka. kontribusi dalam bank sampah . eberapa sering mereka menyetorkan sampah anorgani. , komposting dan lubang biopori . eberapa banyak mereka tahu tentang komposting dan lubang resapan biopor. Pada tahap evaluasi ini, terjadi perubahan signifikan dalam perilaku masyarakat, dimana masyarakat mulai memilah sampah, untuk sampah organik dimanfaatkan untuk komposting dan lubang resapan biopori, sedangkan untuk sampah anorganik disetorkan pada bank sampah dimasing masing kelurahan, sebagian masyarakat juga sudah memahami arti pentingnya pengelolaan sampah yang baik bagi lingkungan. Berikut adalah ringkasan hasil kuesioner pasca-sosialisasi: Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Seberapa sering anda membuang sampah disembarang sangat sering kadang kadang tidak pernah Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 9. Hasil Pascasosialisasi Menunjukan 33% Masyarakat Masih Membuang Sampah Disembarang Tempat Anda selalu memilah sampah sebelum membuangnya? Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 10. Hasil Pascasosialisasi Menunjukan 16% Masyarakat Tidak Memilah Sampah Sebelum Membuangnya Anda mengetahu dampak negatif sampah terhadap lingkungan? Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 11. Hasil Pascasosialisasi Menunjukan 3% Masyarakat Tidak Mengetahui Dampak Negatif Sampah Terhadap Lingkungan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Anda menyetorkan sampah anorganik di bank sampah? Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 12. Hasil Pascasosialisasi Menunjukan 16% Masyarakat Tidak Menyetorkan Sampah Anorganik di Bank Sampah Apakah anda mengetahui tentang komposting dan lubang resapan biopori? Sumber: Data kegiatan PKM, 2025 Gambar 13. Hasil Pascasosialisasi Menunjukan 3% Masyarakat Tidak Mengetahui Informasi Mengenai Komposting dan Lubang Biopori Dari hasil kuesioner prasosialisasai dan pascasosialisasi menunjukan adanya peningkatan yang signifikan dimana: Terdapat perubahan perilaku masyarakat, dimana ada peningkatan prilaku masyarkat sebesar 19%. Pada tahapan pra sosialisasi menunjukan sebesar 52% masyarakat masih membuang sampah disembarang tempat, pascasosialisasi menunjukan penurunan menjadi 33% masyarakat masih membuang sampah disembarang tempat. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat di kecamatan pondokgede sebanyak 67% paham tidak membuang sampah disembarang tempat Terdapat perubahan perilaku masyarakat, dimana ada peningkatan pemahaman tentang jenis sampah sebesar 41%. Pada tahapan pra sosialisasi menunjukan sebesar 57% masyarakat tidak memilah sampah sebelum membuangnya, pascasosialisasi menunjukan penurunan menjadi 16% masyarakat tidak memilah Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. sampah sebelum membuangnya. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat di kecamatan pondokgede sebanyak 84% paham untuk memilah sampah sebelum Terdapat perubahan perilaku masyarakat, dimana ada peningkatan tentang kesadaran lingkungan sebesar Pada tahapan pra sosialisasi menunjukan sebesar 11% masyarakat tidak sadar tentang dampak negatif sampah terhadap lingkungan, pascasosialisasi menunjukan penurunan menjadi 3% masyarakat tidak sadar sadar tentang dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat di kecamatan pondokgede sebanyak 97% sadar tentang dampak negatif sampah terhadap lingkungan Terdapat perubahan perilaku masyarakat, dimana ada peningkatan tentang kontribusi dalam bank sampah sebesar Pada tahapan pra sosialisasi menunjukan sebesar 63% masyarakat tidak masyarakat menyetorkan sampah anorganik di bank sampah, pascasosialisasi menunjukan penurunan menjadi 16% masyarakat tidak masyarakat menyetorkan sampah anorganik di bank sampah. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat di kecamatan pondokgede sebanyak 84% menyetorkan sampah anorganik di bank sampah Terdapat perubahan perilaku masyarakat, dimana ada peningkatan tentang informasi komposting dan lubang resapan biopori sebesar 21%. Pada tahapan prasosialisasi menunjukan sebesar 68% masyarakat tidak mengetahui informasi mengenai komposting dan lubang biopori, pascasosialisasi menunjukan penurunan menjadi 3% masyarakat tidak mengetahui informasi mengenai komposting dan lubang biopori. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat di kecamatan pondokgede sebanyak 97% mengetahui informasi mengenai komposting dan lubang biopori Berdasarkan hasil sosialisasi yang dilakukan dalam program KKN di Kecamatan Pondokgede, terjadi perubahan signifikan dalam perilaku dan pemahaman masyarakat terkait pengelolaan sampah dan lingkungan. Tercatat peningkatan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan sebesar 19%, dengan 67% masyarakat kini memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Pemahaman tentang pemilahan sampah meningkat 41%, di mana 84% masyarakat telah memilah sampah sebelum Kesadaran terhadap dampak negatif sampah terhadap lingkungan juga mengalami peningkatan sebesar 8%, dengan 97% masyarakat kini menyadari pentingnya Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. menjaga lingkungan. Selain itu, kontribusi masyarakat terhadap bank sampah naik sebesar 47%, serta pengetahuan mengenai komposting dan lubang biopori meningkat sebesar 21%, dengan 97% masyarakat telah mengetahui dan memahami informasi Data ini menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan berhasil meningkatkan kepedulian dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan. KESIMPULAN Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS) di Kecamatan Pondokgede telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang Edukasi yang diberikan mencakup pemilahan sampah organik dan anorganik, pembuatan kompos melalui metode komposting, pemanfaatan lubang resapan biopori, serta optimalisasi peran bank sampah dan penghijauan lingkungan. Hasilnya terlihat dari perubahan perilaku masyarakat, di mana mereka mulai memilah sampah secara aktif. Sampah organik kini dimanfaatkan untuk kompos dan biopori, sedangkan sampah anorganik disalurkan ke bank sampah di setiap kelurahan. Selain itu, pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan menunjukkan peningkatan yang Data yang diperoleh menunjukkan bahwa 97% masyarakat menyadari dampak negatif sampah terhadap lingkungan, 84% sudah terbiasa memilah sampah sebelum membuangnya, dan 67% paham untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, 84% masyarakat kini rutin menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah, dan 97% sudah mengenal praktik komposting dan lubang biopori. Dampak positif dari kegiatan ini sangat terasa, seperti terciptanya lingkungan yang lebih bersih, meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan, serta bertambahnya jumlah bank sampah yang tersebar di wilayah Pondokgede. Program KKN ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang terintegrasi dengan praktik langsung mampu memberikan hasil yang nyata dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan. DAFTAR PUSTAKA Basri. Pendampingan Pembuatan Biopori Melalui Pemanfaatan Lahan Terbatas Di Kelurahan Sialang Palembang. Jurnal Abdimas Indonesia, 2. , 484Ae Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Budiyanto. Pelatihan Dan Pendampingan Pengolahan Sampah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi Pada Bank Sampah Bersih Bersama Karanganom. Sitimulyo. Piyungan. Bantul. SPEKTA . Darmawan. Bunga Rampai Manajemen Terapan. LPPM Unsuri Surabaya . Hakim. Analisis Kebijakan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota DKI Jakarta. Institut Teknologi Bandung. Bandung. Harisdani. Partisipasi Masyarakat Dalam Penggunaan Teknik Biopori Untuk Mengendalikan Banjir Kota (Studi Kasus: Kelurahan Tanjung Reo-Meda. NALARs, , 17. , 97-104. Hidayat. Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Rumah Tangga. Surabaya: Green Life Publisher. Jaksa. Penyuluhan Pemanfaatan dan Optimalisasi Lahan Fasilitas Umum (Fasu. untuk Penghijauan dengan Tanaman Obat sebagai Alternatif Obat Keluarga di Perumahan Taman Harapan Baru. LPPM UMJ. Lestari. Komposting dan Pengaruhnya terhadap Kualitas Tanah. Bandung: Pustaka Alam.