SAINTIFIK: Jurnal Matematika. Sains, dan Pembelajarannya ISSN 2407-4098 . ISSN 2622-8904 . Vol. No. Juli 2026, pp. DOI:10. 31605/saintifik. Pemetaan Karakteristik Kemiskinan dengan Multidimensional Scaling Provinsi Kalimantan Utara 1,2,3 St Syahdan1*. Yuspa2. Amalya Nur Nabila3 Program Studi Matematika. Universitas Kaltara. Indonesia e-mail: stsyahdan89@gmail. Abstrak Upaya penanggulangan kemiskinan tidak cukup hanya berorientasi pada penurunan jumlah penduduk miskin tetapi juga harus mempertimbangkan karakteristik kemiskinan yang berbeda pada setiap wilayah. Provinsi KalimantanUtara, karakteristik kemiskinan pada masing-masing kabupaten/kota menunjukkan variasi yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan. Kalimantan Utara merupakan provinsi yang terdiri atas kawasan perkotaan, pedesaan, pesisir serta daerah perbatasan dan pedalaman yang memiliki tingkat aksebilitas dan pembangunan yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di setiap kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, dengan menerapkan metode multidimensional scaling (MDS). Metode MDS digunakan untuk memetakan objek dan variabel secara bersamaan ke dalam ruang multidimensi sehingga hubungan antarkabupaten/kota dapat dianalisis berdasarkan tingkat kemiripan maupun perbedaannya. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu. MDS pada pemetaan karakteristik di wilayah Provinsi Kalimantan Utara berada dalam kriteria baik, berdasarkan nilai STREES yaitu 5,264% dan nilai ycISQ > 0,6 yaitu 0,99134 yang berarti model penskalaan layak untuk mewakili data input. Kedekatan posisi antara beberapa wilayah dengan indikator tertentu seperti Kota Tarakan dengan indikator ycU6 , ycU7 , dan ycU12 . Kabupaten Malinau dan Tanah Tidung dengan indikator ycU9 . Kabupaten Nunukan dengan indikator ycU1 dan ycU5 , serta Kabupaten Bulungan dengan indikator ycU10 mengindikasi adanya kemiripan karakteristik berdasarkan indikator- indikator tersebut. Kata kunciAiKarakteristik Kemiskinan. Multidimensional Scaling. Pemetaan. PENDAHULUAN Kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan Pembangunan ekonomi di Indonesia (Rosyadi. , 2. Permasalahan ini bersifat kompleks dan multidimensional karena tidak hanya ditandai oleh rendahnya tingkat pendapatan Masyarakat tetapi juga berkaitan dengan terbatasnya akses terhadap berbagai aspek penting seperti pendidikan, layanan kesehatan, kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak, infrastruktur, serta layanan dasar lainnya. Oleh karena itu, upaya penanggulanagan kemiskinan terus menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya penanggulangan kemiskinan tidak cukup hanya berorientasi pada penurunan jumlah penduduk miskin tetapi juga harus mempertimbangkan karakteristik kemiskinan yang berbeda pada setiap wilayah. Strategi pengentasan kemiskinan perlu dilakukan dengan memberikan perlindungan kepada keluarga dan kelompok masyarakat miskin melalui pemenuhan kebutuhan di berbagai Selain itu, peningkatan kapasitas Masyarakat juga penting dilakukan melalui pelatihan agar mereka memiliki keterampilan dan kemandirian ekonomi sehingga mampu mencegah munculnya kondisi kemiskinan baru (Ferezagia, 2. Kemiskinan sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti terbatasnya ketersediaan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar, rendahnya akses terhadap pendidikan, serta sempitnya kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak (Situmorang& Susanti. , 2. Salah satu akar permasalahan kemiskinan di Indonesia yakni ketidakmerataan pembangunan sehingga menciptakan kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan (Khairiroh, 2. Selain itu, menurut Zuhdiyati & Kaluge . pengangguran merupakan salah satu faktor penyebab kemiskinan yang ada di setiap negara salah satunya Indonesia. Salah satu ciri utama kemiskinan adalah terbatasnya kemampuan masyarakat dalam mengakses kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, layanan kesehatan, maupun https://jurnal. id/index. php/saintifik kebutuhan penunjang kesejahteraan lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan memerlukan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik penyebabnya agar tingkat kemiskinan dapat ditekan secara efektif. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Provinsi Kalimantan Utara masih memerlukan berbagai upaya dan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG. tujuan pertama yaitu mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk disetiap wilayah (Kurniawan & Roberto. , 2. Meskipun merupakan provinsi termuda di Indonesia. Kalimantan Utara masih menghadapi tantangan yang berkaitan dengan permasalahan kemiskinan (Hasyim & Veriyanto. , 2. Provinsi Kalimantan Utara memiliki tingkat kemiskinan relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Meski demikian masih terdapat kesenjangan kondisi sosial ekonomi antarwilayah yang memerlukan perhatian dalam perumusan kebijakan pembangunan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada September tahun 2020 mencatat jumlah penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Utara mencapai 48,61 ribu jiwa atau 6,49 persen dari total penduduk. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 6,63 persen dibandingkan dengan Maret Meski demikian, kemiskinan masih menjadi tantangan bagi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Utara karena variabel tunggal berupa persentase penduduk miskin belum mampu menjelaskan karakteristik kemiskinan yang melatarbelakangi setiap wilayah. Karakteristik kemiskinan antar kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara cukup beragam. Hal ini dikarenakan. Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda di Indonesia yang terdiri atas kawasan perkotaan, pedesaan, pesisir serta daerah perbatasan dan pedalaman yang memiliki tingkat aksebilitas dan pembangunan yang berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut menunjukkan bahwa kebijakan penanggulangan kemiskinan memerlukan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada besarnya angka kemiskinan tetapi juga pada pola kemiripan karakteristik antar wilayah. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pemetaan karakteristik kemiskinan adalah metode multidimensional scaling atau biasa dikenal dengan sebutan metode MDS. Metode MDS merupakan metode analisis multivariat yang digunakan untuk menganalisis data berdasarkan tingkat kemiripan atau ketidakmiripan ke dalam ruang multidimensi dengan konsep jarak euclidien sehingga hubungan antarobjek dapat divisualisasikan dengan lebih mudah (Sumin. , 2. Analisis MDS merupakan salah satu teknik statistika multivariat yang digunakan untuk menganalisis tingkat kesamaan maupun perbedaan antarobjek dengan hasil representasi visual berupa plot titik-titik dalam suatu ruang berdimensi rendah (Walundungo et , 2. Metode MDS digunakan untuk menyajikan representasi visual mengenai hubungan antarobjek berdasarkan tingkat kemiripan maupun perbedaannya (Haryati. , 2. Berdasarkan tipe datanya. MDS dibagi menjadi dua jenis, yaitu penskalaan berdimensi ganda metrik dan penskalaan berdimensi ganda non-metrik (Nahar. , 2. Beberapa penelitian terdahulu telah menerapkan metode Multidimensional Scaling (MDS). Salah satunya menunjukkan bahwa pemetaan sarana kesehatan di Provinsi Jawa Barat menghasilkan tiga kelompok kota yang memiliki karakteristik serupa di dalam masing-masing kelompok, namun berbeda dengan kelompok lainnya (Nahar. , 2. Penelitian lain mengenai penerapan Multidimensional Scaling (MDS) untuk pemetaan kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan indikator tenaga kesehatan menunjukkan bahwa objek penelitian dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok yang memiliki karakteristik serupa di antara anggota dalam kelompok yang sama, namun berbeda dengan kelompok lainnya. Selain itu, hasil pemetaan menghasilkan nilai stress sebesar 4,354% dan koefisien determinasi (RA) sebesar 99,568%, yang menunjukkan bahwa konfigurasi pemetaan memiliki tingkat kecocokan yang sangat baik dalam merepresentasikan data. Nilai stress yang relatif rendah dan nilai ycI 2 yang sangat tinggi mengindikasikan bahwa konfigurasi hasil pemetaan mampu merepresentasikan data dengan sangat baik, sehingga hubungan antarobjek dapat digambarkan secara akurat (Islami et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, menunjukkan bahwa analisis MDS efektif digunakan untuk memetakan kemiripan karakteristik antarobjek pada berbagai bidang. Meski demikian, penelitian-penelitian tersebut masih berfokus pada sektor kesehatan sementara penelitian yang menerapkan metode MDS untuk memetakan karakteristik kemiskinan pada kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara masih terbatas. Padahal, setiap kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara memiliki kondisi geografis, tingkat pembangunan serta karakteristik sosial ekonomi yang berbda sehingga memungkinkan terbentuknya pola kemiripan karakteristik kemiskinan yang beragam. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut mengenai Pemetaan Karakteristik Kemiskinan dengan Multidimensional Scaling Provinsi Kalimantan Utara (Syahdan, dk. https://jurnal. id/index. php/saintifik analisis MDS dalam memetakan karakteristik kemiskinan perlu dikaji. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menerapkan metode MDS untuk memetakan karakteristik kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan berbagai indikator kemiskinan. Hasil dari penelitian ini diharapkan tidak hanya memperluas penerapan metode MDS pada bidang kemiskinan tetapi juga memberikan informasi yang relevan bagi pemerintah daerah dalam mendukung perumusan kebijakan dalam penaggulangan kemiskinan yang lebih tepat sasaran sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah sehingga tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. khususnya tujuan pertama yaitu mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk dapat tercapai. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian terapan. Jenis penelitian ini berorientasi pada penerapan hasil penelitian untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi secara praktis. Penelitian terapan tidak selalu bertujuan menghasilkan teori atau temuan baru, melainkan lebih menekankan pada pemanfaatan, pengembangan, atau penerapan konsep dan metode yang telah ada agar dapat memberikan solusi terhadap suatu permasalahan tertentu (Ramli et al. , 2. 1 Jenis dan Variabel Data Peneltian ini memanfaatkan data sekunder sebagai sumber data utama. Data sekunder merupakan data yang didapatkan secara tidak langsung oleh peneliti melalui berbagai sumber yang telah mengumpulkan dan mempublikasikan informasi tersebut sebelumnya (Sulung & Muspawi. , 2. Dalam penelitian ini, data bersumber dari Badan Pusat statistik (BPS) di Provinsi Kalimantan Utara yang diperoleh melalui berbagai publikasi resmi seperti profil kemiskinan serta publikasi statistik lainnya yang memuat informasi mengenai kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Provinsi Kalimantan Utara. Variabel dalam penelitian ini merupakan indikator-indikator yang menggambarkan karakteristik kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara. Pemilihan indikator didasarkan pada kajian teoritis mengenai hasil penelitian terdahulu dan ketersediaan data pada publikasi BPS. Selain itu, indikator-indikator tersebut dipilih karena mampu mereppresentasikan berbagai dimensi kemiskinan, yaitu dimensi pendidikan, ketenagakerjaan, pengeluaran rumah tangga, kesehatan, kondisi perumahan, sanitasi serta akses terhadap program perlindungan sosial sehingga diharapkan analisis yang dilakukan dapat memberikan informasi lebih menyeluruh terkait faktor-faktor yang berkaitan dengan kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara. Adapun variabel yang digunakan pada penelitian ini merupakan indikator penyebab kemiskinan yang ada di Kalimantan Utara, indikator penyebab kemiskinan terdiri dari 15 indikator yaitu: Pendidikan 0,6. Berdasarkan output SPSS nilai RSQ yang diperoleh 0,99134 > 0,6 maka hal ini menunjukkan model dapat diterima untuk menggambarkan pemetaan karakteristik kemiskinan 5 Kabupaten/ Kota di Kalimantan Utara berdasarkan 15 indikator kemiskinan yang digunakan dalam penelitian. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Islami et al. , 2. yang sama-sama memperoleh nilai STRESS yang rendah dan nilai koefisien determinasi (RSQ) yang tinggi sehingga menunjukkan bahwa hasil pemetaan memiliki tingkat akurasi yang baik. Hasil dari penelitian ini semakin menguatkan bahwa MDS merupakan salah satu metode yang efektif untuk digunakan dalam mengidentifikasi pola kemiripan perbedaan antarwilayah secara visual maupun analitis. KESIMPULAN Metode multidimensional scaling pada pemetaan karakteristik di wilayah Provinsi Kalimantan Utara berada dalam kriteria baik, berdasarkan nilai STREES yaitu 5,264% dan nilai ycIycIycE > 0,6 yaitu 0,99134 yang berarti model penskalaan layak untuk mewakili data input. Pemetaan karakteristik indikator-indikator yang mempengaruhi kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan kedekatan posisi antara beberapa wilayah dengan indikator menunjukan bahwa Kabupaten Bulungan memiliki karakteristik kemiskinan yang lebih berkaitan dengan persalinan oleh tenaga kesehatan . cU10 ). Kota Tarakan memiliki karakteristik kemiskinan dengan pekerja sektor formal . cU6 ), pekerja sektor pertanian . cU7 ), dan akses air bersih. cU12 ). Pemetaan Karakteristik Kemiskinan dengan Multidimensional Scaling Provinsi Kalimantan Utara (Syahdan, dk. https://jurnal. id/index. php/saintifik Kabupaten Malinau dan Kabupaten Tanah Tidung memiliki kemiripan karakteristik kemiskinan yakni cenderung berkaitan dengan penggunaan alat KB . cU9 ). Sedangkan Kabupaten Nunukan meskipun berada relatif dekat dengan Kabupaten Malinau dan Tanah Tidung, tetapi posisinya lebih rendah pada dimensi dua yang mengindikasikan bahwa karakteristik kemiskinan di Kabupaten Nunukan masih memiliki kemiripan dengan kedua wilayah tersebut, namun terdapat perbedaan pada beberapa indikator yang menyebabkan posisinya terpisah pada dimensi kedua. Karakteristik kemiskinan yang lebih berkaitan dengan Kabupaten Nunukan adalah rendahnya pendidikan . cU1 ) dan tingginya pekerja sektor informal . cU5 ). Hasil ini menunjukkan bahwa kemiskinan di Provinsi Kalimantan Utara memiliki pola yang beragam antarwilayah sehingga kebijakan penanggulangan kemiskinan perlu dirancang berdasarkan karakteristik daerah dengan mempertimbangkan faktor dominan yang mempengaruhi kemiskinan di masing-masing kabupaten/kota. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan prioritas program dan mengarahkan alokasi sumber daya agar kebijakan dapat lebih terarah sesuai kondisi DAFTAR PUSTAKA