Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 TAHAPAN MENGGUNTING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI KELOMPOK USIA 4-6 TAHUN Lukman Hamid Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Hidayah Tasikmalaya email: lucky. lukmanhamid@gmail. ABSTRACT Pshyco motor is a movement that only involves certain parts of the body that are carried out by small muscles. Therefore Pshyco motor movements do not really need energy, but require careful coordination and accuracy. Pshyco motor skills begin to develop, after starting with very simple activities such as holding a pencil, holding a spoon, and stirring. Cutting is easy, but if it does not go through the proper steps, the results of the cut will not be as expected. Scissors is a continuation of the stages of paper tearing activities in early childhood, cutting activities intended to train the child's Pshyco motorics, especially training the fingers of the child with paper media and knobs with certain stages and patterns Keywords: Cutting is part of the Pshyco motoric stages of early childhood ABSTRAK Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tibuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil. Oleh karena itu gerakan motorik halus tidak terlalu membutuhkan tenaga, akan tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat serta ketelitian. Keterampilan motorik halus mulai berkembang, setelah diawali dengan kegiatan yang amat sederhana seperti memegang pensil, memegang sendok, dan mengaduk. Menggunting adalah hal yang mudah, tapi bila tidak melalui tahap-tahapan yang semestinya, maka hasil dari guntingan itu tidak akan sesuai dengan harapan. Menggunting merupakan kelanjutan dari tahapan kegiatan merobek kertas pada anak usia dini, kegiatan menggunting dimaksudkan untuk melatih motoric halus anak khususnya melatih jari-jari anak dengan media kertas dan guntung dengan tahapan dan pola tertentu Kata Kunci: Menggunting merupakan bagian dari tahapan motoric halus anak usia dini. PENDAHULUAN Dalam rangka meningkatkan kesadaran belajar masyarakat Indonesia maka pemerintah menerapkan pendidikan anak usia sejak dini, dengan suatu tujuan agar anakanak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan bekal dan kemampuan yang telah dipersiapkan, namun demikian untuk menunjang kebutuhan para anak-anak mendapatkan materi yang lebih mudah dan cepat di dapat tentunya lembaga harus menyiapkan media-media dan tahapan-tahapan dalam pembelajarannya dengan tujuan untuk memudahkan anak dalam setiap melakukan kegiatannya, tanpa meminta bantuan terus terhadapa orang-orang disekitarnya. Motorik halus banyak ragam dan bentuknya, salah satunya adalah menggunting yang merupakan rangkaian kegiatan stelah merobek dan meremas. Menggunting memegang peranan penting dalam proses pembelajaran anak usia dini, dengan tujuan melatih konsentrasi dan ketelitian anak. Menggunting dapat dijadikan sebagai wahana untuk mendekatkan persepsi dan pemahaman guru dengan daya tangkap anak. Dengan tahapan menggunting anak akan lebih antusias dalam melakukan kegiatan bermain sambal belajar, meningkatkan kemampuan sensori motornya, mengembangkan otot jemarinya serta mengembangkan otot tangannya. Gerakan tersebut melibatkan bagian badan yang luas yang digunakan dalam Lukman Hamid Page 1 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 berjalan, berlari, melompat, berenang dan sebagainya. Setelah berumur 5 tahun, terjadi perkembangan yang besar dalam pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan kelompok otot yang lebih kecil yang digunakan untuk menggenggam, melempar, menangkap bola, menulis, dan menggunakan alat. Jadi dapat dikatakan bahwa menggunting merupakan bagian yang integral dari seluruh sistem pembelajaran. PENGERTIAN MENGGUNTING PADA PAUD Makna menggunting menurut KBBI adalah: memotong . emangkas dan sebagainy. dengan memakai gunting. Menurut Suratno. Suratno. Pengembangan kreatifitas Anak Usia Dini. ( Jakarta: Depdiknas, 2. , h. menyatakan bahwa kegiatan menggunting membutuhkan kterampilan menggerakkan otot-otot tangan dan jari-jari untuk mengkoordinasi dalam menggunting sehingga dapat emoting kertas, kain atau yang lain sesuai dengan yang diinginkan seperti: menggunting yang berpola, menggunting dan melipat untuk berbentuk gambar. Wiwik Chabibah, dalam buku Peningkatan Motorik Halus Anak Usia 3-4 Tahun Melalui Menggunting Dasar di SPS AL-Mutaqqin Jombang, hlm. Menggunting adalah kegiatan menggunakan peralatan dengan menggunakan proses dan pengendalian tangan serta koordinasi tangan, maka kegiatan ini akan dapat memberikan rasa percaya diri pada anak berbentuk pola ataupun yang lainnya. Menggunting berguna untuk melatih anak agar mampu menggunakan alat, dan melatih keterampilan memotong objek gambar. Hal ini membantu perkembangan motorik, latihan keterampilan, sikap, dan apresiatif bagi Keterampilan yang akan didapat oleh anak antara lain. keterampilan mengoperasikan alat gunting untuk memotong kertas, keterampilan memotong di tempat yang benar, kecermatan mana yang harus dipotong dan mana yang tidak boleh dipotong, dan ketahanan mengerjakan memotong dengan waktu yang relatif lama bagi anak. Menggunting adalah kegiatan memotong dengan menggunakan alat berupa gunting. Kegiatan menggunting sudah diperkenalkan sejak anak usia dini, yaitu pada anak berusia 4 tahun. Pengembangan-motorik-halus. Menurut Depdiknas 2010 menggunting adalah salah satu aktivitas atau kegiatan memotong yang melibatkan dan membutuhkan koordinasi antara mata,tangan dan konsentrasi. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menggunting adalah suatu keterampilan mengoprasikan alat gunting untuk memotong suatu benda. Dari berbagai pendapat di atas tentang batasan pengertian menggunting ,maka dapat disimpulkan bahwa pengertian menggunting adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi dari sumber kepada anak didik yang bertujuan agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian anak didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Sebelum memasuki pembahasan lebih lanjut berkenaan pendidikan anak usia dini (PAUD), baiklah jika didefinisikan lebih dahulu apakah yang dimaksud dengan PAUD itu sendiri. PAUD ialah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan. lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. PAUD merupakan salah satu kebijakan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia mengingat bahwa: Usia dini ini merupakan masa keemasan . he golden ag. namun sekaligus sebagai periode yang sangat kritis dalam tahap perkembangan manusia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sampai usia 4 tahun tingkat kapabilitas kecerdasan anak telah mencapai 50%. Pada usia 8 tahun mencapai 80%, dan sisanya sekitar 20% diperoleh pada saat anak berusia 8 tahun ke atas. Lukman Hamid Page 2 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia dini sangat menentukan derajat kualitas kesehatan, intelegensi, kematangan emosional dan produktivitas manusia pada tahap berikutnya. Dengan demikian pengembangan anak usia dini merupakan investasi sangat penting bagi Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Menurut Hamid Muhammad. Pedoman Penyelenggaraan PAUD Terpadu, (Jakarata: Dirjen Pembinaan PUDNI, 2. , h. Berdasarkan kajian di atas, maka pemerintah menerbitkan Undang-Undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa AuPendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjutAy. Batasan lain mengenai anak usia dini pada anak berdasarkan psikologi perkembangan yaitu usia 0-8 tahun. Di samping istilah pendidikan anak usia dini terdapat pula terminologi pengembangan anak usia dini yaitu upaya yang dilakukan oleh masyarakat atau pemerintah untuk membantu anak usia dini dalam mengembangkan potensinya secara holistic baik aspek pendidikannya, gizi maupun kesehatannya. Lebih lanjut pada pasal 28 dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. PAUD pada jalur pendidikan formal dapat berupa Taman Kanak-Kanak dan (TK) /Raudathul Atfhal (RA). Adapun PAUD pada jalur pendidikan nonformal dapat berupa Kelompok Bermain (KB). Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan (Koordinasi motorik halus dan kasa. , kecerdasan . aya fikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, sosio- emosional . ikap dan perilaku serta agam. bahasa komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap- tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Tujuan utama diselenggarakanya PAUD yaitu : Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yakni anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal didalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. Tujuan penyerta: membantu menyiapkan anak mncapai kesiapan belajar( akademi. di sekolah. Rentangan anak usia dini adalah 0-6 tahun. (UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003 pasal 28, ayat 1. Belajar sambil bermain adalah sistem pendidikan yang umum diterapkan disetiap lembaga pendidikan usia dini. Sistem ini telah lama diImplementasikan di Indonesia, utamanya diterapkan tokoh pendidikan sekaligus penyayang anak-anak, pak Kasur yang bernama lengkap Soerjono seorang tokoh pendidikan Indonesia. Pusat, teori dan praktek pendidikan yang diterapkan ialah memadukan cara mengajarAy bermain sambil belajarAy yang memadukan kurikulum yang digariskan oleh pemerintah yaitu: Cara belajar anak usia dini bisa melalui nyanyian. Bercerita Permainan yang dibuat dan diberikan pada anak yang bertujuan untuk keterampilan. Upacara hormat bendera yang dilakukan setiap pagi sebelum dimulai sekolah. Dunia anak adalah dunia bermain, dan belajar dilakukan dengan sambil bermain yang melibatkan semua alat indra anak. Sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak- kanak paling awal, dan pembelajaran ini sebagian besar diperoleh dari bermain, sayangnya bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapat apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya. Lukman Hamid Page 3 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Bermain bagi anak adalah kegiatan serius tetapi menyenangkan. Bemain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan , bukan karena hadiah atau Melalui bermain semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan karena dengan bermain anak secara bebas dapat berkespresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan dapat menemukan hal-hal yang baru. Melalui permainan anak juga dapat mengembangkan semua potensi secara optimal, baik potensi fisik maupun amental intelektual dan agama. Oleh karena itu bermain bagi anak merupakan jembatan bagi perkembangan tumbuh kembangnya. PERAN DAN FUNGSI MENGGUNTING DALAM PEMBELAJARAN PAUD Menggunting adalah kegiatan menggunakan peralatan dengan menggunakan proses dan pengendalian tangan serta koordinasi tangan, maka kegiatan ini akan dapat memberikan rasa percaya diri pada anak. ( Wiwik Chabibah. Peningkatan Motorik Halus Anak Usia 3-4 Tahun Melalui Menggunting Dasar di SPS AL-Mutaqqin Jombang, h. Menurut Depdiknas menggunting adalah salah satu aktivitas atau kegiatan memotong yang melibatkan dan membutuhkan koordinasi antara mata, tangan dan konsentrasi. Manfaat dari kegiatan menggunting menurut Crain W dalam Mahmuda. Mengembangkan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting Kertas Mengikuti Pola Garis Lurus pada Anak Usia 3-4 Tahun. Universitas Nusantara PGRI Kediri, 2015, h. adalah untuk mengikuti pola garis lurus anak didik dapat mengkoordinasi garis dan jari tangan dan juga juga anak didik dalam memegang gunting akan lebih sempurna, selain itu anak akan belajar mengontrol emosi dan anak dapat bermain sambil belajar, karena bermain adalah naluri bagi setiap anak terutama pada usia dini. Keterampilan menggunting berguna untuk melatih anak agar mampu menggunakan alat dan melatih kterampilan memotong objek gambar, hal ini akan membantu pekembangan motoric anak karena dengan kegiatan menggunting yang tepat, memilih di mana yang harus digunting merupakan latihan kterampilan bagi anak. Menurut Kimberly Wiggins dalam The Important Teaching Your Child How To Use Scissors, beberapa manfaat yang di peroleh bila anak di beri kesempatan belajar menggunting, antara lain: Menguatkan otot-otot telapak tangan anak karena melakukan gerakkan membuka dan menutup tangan. Otot yang kuat akan membantu anak saat menulis, menggambar, memegang sesuatu dengan menggenggam. koordinasi mata dengan tangan, karena saat menggunting pandangan harus selalu mengikuti gerakan tangan yang memegang gunting. Hl tersebut merupakan pekerjaan yang sulit. Pengembangan otorik halus dengan kegiatan menggunting kertas mengikuti pola garis lurus anak didik dapat mengungkapkan perasaan dan emosinya melalui kegiatan yang positif. Melalui kegiatan menggunting kertas mengikuti pola garis lurus anak didik dapat mengkoordinasi garis dan jari tangan dan juga anak didik dalam memegang gunting akan lebih sempurna, selain itu anak akan belajar mengontrol emosi dan anak dapat bermain sambil belajar, karema bermain adalah nauri bagi setiap anak terutama pada usia Selain itu pentingnya pengembangan motorik halus melalui kegiatan menggunting kertas mengikuti pola garis lurus dimanfaatkan anak sebagai media pengungkapan perasaan, ide, gagasan dan pikiran anak. Hasil karya seorang anak dapat sebagai alat bermain imajinasi, dapat mengutarakan ide dan media komunikasi bagi anak. Kegiatan menggunting ini bertujuan untuk melatih koordinasi tangan dan mata yang merupakan persiapan menulis, anak perlu menggunting karena: Menggunting merupakan kegiatan yang sangat di sukai anak. Berguna untuk mengembangkan sensori motor. Berguna untuk mengembangkan kekuatan otot tangan Berguna untuk mengembangkan kekuatan jari tangan. Lukman Hamid Page 4 ejournal. stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 Dari pemaparan di atas dapat peneliti simpulkan bahwa manfaat kegiatan menggunting yaitu anak dapat mengkoordinasikan mata dan tangannya pada saat menggunting motorik halus anak dapat tersetimulus. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN MENGGUNTING. Dalam mengajarkan menggunting guru hendaknya mengikuti petunjukAe petunjuk yang ada. Adapun petunjuk mengajarkan menggunting menurut Sumanto adalah sebagai Guru dalam memberikan peragaan langkah-langkah menggunting pada anak supaya menggunakan peraga yang ukurannya cukup besar . ebih besa. dari kertas lipat yang digunakan oleh siswa. Selain itu lengkapi peragaan tersebut dengan gambar dan contoh guntingan yang ditempelkan di papan tulis. Setiap tahapan menggunting yang sudah dibuat oleh siswa hendaknya diberikan penguatan oleh guru. Bila anak sudah selesai membuat satu model atau bentuk guntingan berikan kesempatan untuk mengulangi menggunting lagi agar setiap anak memiliki keterampilan sendiri membuat guntingan tanpa bantuan bimbingan guru. Hasil guntingan yang ditempelkan di kertas gambar berikanlah kebebasan anak untuk menyusunnya sendiri sesuai kreasinya masing-masing. Demikian pula keinginannya anak untuk menambahkan pewarnaannya. Langkah-langkah lainnya dalam kegiatan gunting pola di antaranya: Guru menyediakan peralatan gunting sesuai dengan jumlah anak. Guru menyediakan lembar kertas kosong sesuai sesuai dengan jumlah anak. Guru menjelaskan kepada anak cara memegang gunting yang benar. Guru menjelaskan kepada anak cara menggunting kertas yang baik dan benar. Guru memeriksa hasil kerjaan anak dalam menggunting kertas. Guru memperbaiki beberapa anak yang kurang mampu cara menggunting kertas yang baik dan benar. Guru membagikan kertas berpola gambar yang sudah disiapkan sebelumnya. Guru mempragakkan cara menggunting kertas berpla gambar yang baik dan benar. Anak mempraktekan cara menggunting kertas berpola gambar seperti yang telah di siapkan guru. Guru dan anak melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah di lakukan. Guru memberikan penilaian hasil pekerjaan siswa. Selanjutnya tahapan perkembangan mengunting anak yaitu sebagai berikut: Tahap pra menggunting. Kegiatan yang memperkuat tangan dan genggaman yang harusnya dimulai sejak bayi dengan kegiatan anak memungut benda-benda kecil, kegiatan meremas, kegiatan merobek dengan sepenuh tangan dan kegiatan merobek dengan jari. Perkembangan menggunting TAHAPAN MENGGUNTING ANAK USIA DINI Alat dan Bahan - Gunting . esuaikan usia perkembangan - Kertas . isa menggunakan kertas bekas . oran, kertas habis pakai dan Lukman Hamid Tahapan Tahap 1 Deskripsi Anak menggunting bagian tepi kertas dengan ujung Kemudian di tempel di buku gambar menempel, dengan tujuan Page 5 ejournal. stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 , kertas Hvs, ataupun kertas lipat. anak meng arsipkan semua Tahap 2 Tahap 3 Anak menggunting bagian tepi kertas dengan cara membuka gunting seccara keseluruhan dan menutup pola satu guntingan penuh, pada seluruh permukaan kertas. Anak menggunting tepat pada pola garis lurus vertikal yang sudah guru gambar di kertas, dan anak menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan. Tahap 4 Anak diantara pada dua garis lurus vertikal yang sudah guru gambar di kertas, dan anak menggunting sesuai pola yang sudah guru Tahap 5 Anak menggunting pola yang sudah guru gambar di menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan. Tahap 6 Anak menggunting pola lengkung kanan yang sudah guru gambar di menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan. Lukman Hamid Page 6 ejournal. stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 Tahap 7 Tahap 8 Anak menggunting pola gelombang yang sudah guru gambar di kertas, dan anak menggunting sesuai pola yang sudah guru Anak menggunting pola zig zag yang sudah guru gambar di kertas, dan anak menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan Tahap 9 Anak menggunting bentuk segi tiga tepat pada garis yang sudah guru gambar di menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan Tahap 10 Anak menggunting bentuk segi tiga diluar garis yang sudah guru gambar di menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan Tahap 11 Anak menggunting bentuk segi empat tepat pada garis yang sudah guru gambar di kertas, dan anak menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan Tahap 12 Anak menggunting bentuk segi empat diluar garis yang sudah guru gambar di menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan. Lukman Hamid Page 7 ejournal. stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 Tahap 13 Anak menggunting bentuk lingkaran tepat pada garis yang sudah guru gambar di menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan Tahap 14 Anak menggunting bentuk selingkaran diluar garis yang sudah guru gambar di menggunting sesuai pola yang sudah guru sediakan Tahap 15 Anak menggunting bentuk buah yang bulat yang tidak jauh dari bentuk dari Seperti gambar tomat atau yang lainnya Tahap 16 Anak menggunting bentuk buah yang oval atau lonjong yang tidak jauh dari bentuk dari tahapan Seperti gambar mangga atau yang Tahap 17 Anak menggunting bentuk daun yang mengeksplor dua bentuk antara segi tiga dan lingkaran yang tidak jauh dari bentuk dari tahapan sebelumnya. Lukman Hamid Page 8 ejournal. stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 Tahap 18 Anak menggunting bentuk Kegiatan menggunting dengan pola adalah untuk melatih oto-totot/jari, koordinasi otot, mata dan keterampilan tangan, melatihpengamatan, memupuk ketelitian dan Kemampuan motoric anak didapatkan dengan anak selalu berusaha untuk menggerakkan fisiknya secara terkendali dan terarah sesuai dengan aturan-aturan pada umumnya dalam tata cara menggunting. Kemampuan didapatkan dari olah tangan yang berulang-ulang, sehingga semakin lama anak akan mampu mengendalikan dan megarahkan sehingga yang dihasilkan dari olah tangan mereka selesai 4 dengan yang Dari kebiasaan ini, keterampilan berkarya akan tercapai. Dari uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa ketrampilan motorik halusyaitu guru perlu memberikan contoh tahapannya dengan baik dan di sarankan agar guru lebih sering melakukan kegiatan menggunting pola agar motorik halus anak lebih terstimulus. Kisi- Kisi Observasi Mengembangkan Motorik Halus Langkah-langkah Guru dalam Mengembangkan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting Menyiapkan gambar sesuai dengan tema Mempersiapkan peralatan dan keperluan kegiatan menggunting Memberikan pengarahan pada saat kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus anak. Mengamati dan memperbaiki beberapa anak yang kurang mampu cara menggunting dengan baik dan benar Memberikan penilaian hasil pekerjaan siswa setelah kegiatan Keterangan Tidak Kadang Kadang DOKUMEN ANALISIS Dokumen analisis merupakan salah satu teknik pengumpulan alat dalam melakukan penelitian, pengambilan data melalui dokumen tertulis maupun elektronik dari empat Dokumen diperlukan untuk mendukung kelengkapan proses penelitian. Dokumen diperlukan untuk mendukung kelengkapan proses penelitian. Dokumen analisis yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Haria. yang dibuat oleh guru yang bersangkutan. Lukman Hamid Page 9 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 INSTRUMEN PENELITIAN Instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti untuk melakukan kegiatan mengumpulkan data agar di peroleh data yang lebih cermat, lengkap, dan sistematis, sehingga data yang di peroleh lebih mudah untuk di kelola. Instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk melihat seberapa besar keberhasilan kegiatan menggunting pola memberikan dampak dalam mengembangkan motorik halus Dalam penelitian deskriptif kualitatif ini instrumen yang digunakan adalah lembar observasi . heck lis. pada saat proses kegiatan. mengembangkan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting. Peneliti menggunakan pedoman observasi, ketika peneliti melakukan obervasi agar observasinya lebih terarah dan terukur sehingga hasil data yang telah didapatkan mudah untuk diolah. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data dalam penelitian ini, dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai dilapangan. Miles and Huberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam menganalisis data dilakukan seara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktifitas dalam analisis data, yaitu data reduction . eduksi dat. , data display . enyajian dat. , dan conclusion drawing/ verification . enarikan kesimpulan/ verifikas. Untuk dapat memberikan gambaran data hasil penelitian maka dapat di lakukan prosedur sebagai Pengumpulan Data Reduksi Data Lukman Hamid Penyajian Data Penarikan Kesimpulan/ Verifikasi Page 10 ejournal. stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 Keterangan Hasil Observasi di TK At-Taqwa Jl. Merdeka Belakang 69 Kec. Tarogong Kidul Kab. Garut Observasi Guru menentukan Tema dan Sub Tema terlebih Guru menentukan Gambar Sesuai dengan Tema Guru Menyediakan Alat Dan Bahan yang akan digunakan dalam mengembangkan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting pola Koding Guru memberikan Tahapan Proses Kegiatan Menggunting Pola Guru memberikan Pengarahan Dari Awal kegiatan Guru membantu anak yang belum mampu cara Memotong Dan Menempel Gambar Sesuai Pola dengan baik dan benar MTP Guru mengawasi dan mengamati anak saat kegiatan Guru menevaluasi Dengan Tanya Jawab tentang kegiatan yang di lakukan hari ini Guru memebrikan penilaian dari hasil kerja anak MAB MAM MTJ MPN HASIL DAN PEMBAHASAN Berkaitan analisis data yang bersifat deskriptif maka bagian ini akan peneliti uraikan hasil observasi dan wawancara dari upaya guru dalam mengembangkan motorik halus anak dmelalui kegiatan menggunting pola pada kelompok A di TK At-Taqwa Jl. Merdeka Belakang 69 Kec. Tarogong Kidul Kab. Garut Antara lain . Guru menyiapkan gambar sesuai gengan tema. Guru mempersiapkan peralatan dan keperluan kegiatan menggunting. guru mempersiapkan pralatan kegiatan menggunting pola agar memudahkan peserta didik dalam melakukan kegiatan. Guru memberikan pengarahan dari awal sampai akhir pada saat kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus anak. Guru mengamati dan memperbaiki beberapa anak yang kurang mampu cara menggunting kertas dengan benar. masih banyak anak yang kurang cara menggunakan gunting dengan benar sehingga murid perlu bantuan guru. Guru memberikan penilaian hasil pekerjaan siswa setelah kegiatan berakhir. guru menetapkan hasil penilaian kegiatan menggunting pola dengan menggunakan daftar ceklis yang sesuai dengan indikator kegiatan menggunting. Guru dalam proses kegiatan mengembangkan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting pola telah melaksanakan beberapa tahap di antaranya menyiapkan gambar sesuai dengan tema dalam kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus Sependapat dengan Dadan Suryana yang menyatakan bahwa menetapkan tema terlebih dahulu sebelum melakukan proses kegiatan akan memudahkan anak dalam membangun konsep tentang benda atau peristiwa yang ada dilingkunganya. Oleh karena itu menyiapkan tema dalam kegiatan menggunting pola sangatlah penting dilakuakn agar memudahkan anak dalam membangun konsep tentang suatu benda atau pristiwa dalam pelaksanaan proses kegiatan pengembangan motorik halus. Selanjutnya dalam pengembangan motorik halus melalui kegiatan menggunting pola, setelah guru Lukman Hamid Page 11 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 menyiapkan gambar sesuai dengan tema lalu guru mempersiapkan peralatan dan keperluan kegiatan menggunting, yaitu guru mempersiapkan gunting, lem dan majalah bergambar yang akan di gunting oleh anak sesuai dengan jumlah anak. Sependapat dengan Krassadaki, yang menyatakan bahwa alat dan bahan yang dipilih dalam pelaksanaan kegiatan seharusnya memiliki sifat fleksibel yang dapat digunakan dimana-mana dengan pralatan yang tersedia di sekitar kita. Oleh itu mempersiapkan peralatan sebelum melakukan kegiatan sangatlah penting agar memudahkan anak dalam proses kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus anak. Berdasarkan pandangan diatas hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti sejalan dengan hasil yang diperoleh para pakar sebelumnya, apabila alat dan bahan yang menarik yang digunakan anak menambah motivasi pada diri anak. Menurut Hoben et al dalam penelitiannya, yang mengungkapkan bahwa media yang lebih menarik perhatian anak akan membuat motivasi bagi anak. Guru bukan hanya mempersiapkan alat atau bahan yang menarik namun guru juga memberikan pengarahan kepada murid pada saat kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus anak. Guru sebagai fasilitator bagi peserta didiknya dalam kegiatan, selanjutnya guru menjelaskan cara-cara menggunting dengan benar kepada peserta didik dari awal sampai akhir agar mempermudah peserta didik dalam melakukan kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus. Sependapat dengan Polina Resty bahwa guru berperan dalam mempelajarkan anak, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalamannya. Keberhasilan seorang anak tergantung pada kesiapan seorang guru. Guru menjelaskan cara memegang gunting dengan baik dan benar terlebih dahulu kepada peserta didiknya, lalu guru menjelaskan tahapan-tahapan menggunting yang di mulai dari menggunting tepi-tepi gambar mengikuti bentuk pola gambar. Sependapat dengan penelitian Fransisca Anggraeni Suriantoso. Ni Made Ayu Suryaningsih. Christiani Endah P, untuk meningkatkan kemampuan motorik halus seseorang, maka dibutuhkan suatu proses pembelajaran melalui latihan yang bertahap atau melalui fase-fase tertentu. Guru bukan hanya memberikan pengarahan pada kegiatan menggunting, akan tetapi guru juga mengamati dan mengamati dan memperbaiki beberapa anak yang kurang mampu cara menggunting kertas dengan baik dan benar. Setelah guru selesai menjelaskan cara menggunting dengan benar, lalu guru membagikan majalah gambar berpola yang akan digunting oloeh peserta didik. Terlihat dari kegiatan menggunting pola, ada beberapa anak yang perkembangan motoric halusnya masih kurang berkembang. Anak belum mampu memegang gunting dengan baik dan benar sehingga memerlukan bantuan guru untuk menyelesaikan kegiatan menggunting pola. Sependapat dengan Eliasson & Pehoski dalam penelitiannya menyatakan bahwa seharusnya guru dapat menyediakan lingkungan dimana anak-anak dapat bermain motorik yang mampu untuk mengembangkan serta melatih anak dalam mengkoordinasikan jari-jemari tangan. Keterampilan motorik adalah tujuan dari pendidikan, khususnya pendidikan anak usia Selanjutnya guru memberikan motivasi dan bimbingan kepada anak agar anak terus bersemangat dan kemampuan motorik halus anak berkembang dengan baik. Menurut Tekin. Ali Kemal dalam penelitianny, guru dalam membimbing anak usia dini harus memberikan perhatian khusus serta motivasi kepada anak seperti, motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik sehingga memotivasi anak untuk masa depanya. Guru bukan hanya mencontohkan cara menggunting dengan baik dan benar namun guru juga harus melakukan penilaian terhadap hasil dari pelaksaan kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus yang dilakukan oleh anak, karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga pemberian penilaian yang dilakukan Lukman Hamid Page 12 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 1, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 guru terhadap hasil pelaksanaan kegiatan menggunting pola yang dilakukan anak dalam perkembangan motoric halus sangat penting dilakukan. Menurut Hansen. Kirstine, apabila salah satu bentuk nyata untuk melihat perbedaan anak adalah dengan memeriksa hasil pencapaian anak karena, tingkat pencapian berbeda-beda dengan kemampuan anak. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan sebelumnya, maka peneliti simpulkan bahwa upaya guru dalam mengembangkan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting pola di TK At-Taqwa Jl. Merdeka Belakang 69 Kec. Tarogong Kidul Kab. Garut. Guru menyiapkan gambar sesuai dengan tema. guru mempersiapka gambar yang sesuai dengan temadan menetapkan tema dengan melakukan analisis silabus kurikulum 2013. Guru mempersiapkan peralatan dan keperluan kegiatan menggunting. mempersiapkan segala kebutuhan yang akan di gunakan peserta didik dalam kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus anak, seperti gunting, majalah bergambar yang berpola dan lem. Guru memberikan pengarahan pada saat kegiatan menggunting pola dalam mengembangkan motorik halus anak. setelah guru mempersiapkan alat dan bahanya, lalu guru menjelaskan cara-cara menggunting dengn baik dan benar. Guru menjelaskan cara memegang gunting dengan benar, guru menjelaskan cara menggunting gambar berpola dengan benar agar tidak melewati pola, dan guru menjelaskan car mengelem dan menempel gambar dengan benar sesuai. Guru mengamati memperbaiki beberapa anak yang kurang mampu cara menggunting kertas dengan benar. setelah guru memberikan pengarahan lalu guru memperbaiki beberapa anak yang kurang mampu cara menggunting dengan baik dan benar. Guru mengawasi dan memperbaiki anak yang kurang mampu cara-cara menggunting dengan Guru memberikan penilaian hasil pekerjaan siswa. lalu langkah yang terakhir, guru memberikan penilaian dari hasil pekerjaan siswa. karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga pemberian penilaian yang dilakukan guru terhadap hasil pelaksanaan kegiatan menggunting pola yang dilakukan anak dalam perkembangan motorik halus sangat penting dilakukan. SARAN Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti mengemukakan saran sebagai berikut : Pihak Sekolah Agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan optimal, sebaiknya guru lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi di kelas hingga anak termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru. Sebaiknya guru menggunakan strategi pembelajaran yang baik dan motivasi pada anak sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan serta anak tidak cepat merasa bosan, khususnya untuk aspek keterampilan motorik halus. DAFTAR PUSTAKA