Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan PENGARUH INFLASI TERHADAP NILAI TUKAR RUPIAH DI INDONESIA Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 Universitas Negeri Medan1. Universitas Negeri Medan2. Universitas Negeri Medan3. Universitas Negeri Medan4 pos-el: emiamei29@gmail. com , faisirawan80@gmail. com2, stevaninababan25@gmail. eviharahap21@unimed. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh inflasi terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia selama periode 2013Ae2022. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil uji normalitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi klasik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah, dengan koefisien determinasi (RA) sebesar 0,383, artinya 38,3% variasi nilai tukar dipengaruhi oleh inflasi. Persamaan regresi Y = 14848. - 2. 596X menunjukkan bahwa setiap kenaikan inflasi 1 satuan menyebabkan pelemahan nilai tukar sebesar 2,596 poin. Temuan ini konsisten dengan teori Purchasing Power Parity . dan penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa inflasi tinggi mengurangi daya beli mata uang domestik, sehingga memicu depresiasi. Implikasi kebijakan dari penelitian ini menekankan pentingnya pengendalian inflasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kata kunci : Inflasi. Nilai Tukar Rupiah. Stabilitas Moneter. Indonesia ABSTRACT This study aims to analyze the effect of inflation on the exchange rate of the Indonesian Rupiah during the 2013Ae2022 period. The method used is simple linear regression analysis with secondary data from the Central Statistics Agency (BPS). Classical assumption tests . ormality, autocorrelation, and heteroscedasticit. confirm the validity of the regression model. The results reveal that inflation has a significant negative effect on the exchange rate, with a coefficient of determination (RA) of 0. 383, indicating that 38. 3 persen of exchange rate fluctuations are influenced by inflation. The regression equation Y = 14848. 762 - 2. 596X shows that a 1 persen increase in inflation leads to a 2. 596-point depreciation of the exchange rate. These findings align with the Purchasing Power Parity . theory and prior research, suggesting that high inflation reduces domestic currency purchasing power, triggering depreciation. Policy implications highlight the importance of inflation control to maintain exchange rate stability and promote sustainable economic growth. Keywords: Inflation. Rupiah Exchange Rate. Monetary Stability. Indonesia PENDAHULUAN Nilai tukar merupakan indikator makroekonomi yang memainkan peran sentral dalam stabilitas perekonomian suatu negara, khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai harga relatif suatu mata uang terhadap mata uang asing, nilai tukar tidak hanya memengaruhi perdagangan internasional dan arus modal, tetapi juga berinteraksi secara dinamis dengan variabel-variabel ekonomi Jurnal Edueco Volume 8 No 2. Desember 2025 domestik, termasuk inflasi. Fluktuasi nilai tukar yang tidak stabil ekonomi, mempengaruhi daya saing ekspor, dan berpotensi memicu tekanan inflasi melalui kenaikan harga barang Dalam konteks ini, pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar, khususnya peran inflasi sebagai salah satu determinan utamanya, menjadi landasan Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 penting bagi perumusan kebijakan moneter yang efektif. Inflasi, sebagai cerminan kestabilan harga domestik, memiliki hubungan timbal balik yang kompleks dengan nilai tukar. Teori Purchasing Power Parity . yang diperkenalkan oleh Cassel . , menyatakan bahwa nilai tukar akan menyesuaikan diri untuk mencerminkan perbedaan tingkat inflasi antara dua negara. Artinya, jika inflasi domestik lebih tinggi daripada inflasi di negara mitra dagang, mata uang domestik cenderung mengalami kesetimbangan daya beli. Mekanisme ini diperkuat oleh pendekatan moneter terhadap nilai tukar Dornbusch . , yang menekankan bahwa kebijakan moneter yang longgar seringkali ditandai dengan tingginya inflasi dapat mengurangi daya tarik mata uang domestik di pasar global, sehingga memperlemah nilai tukar. Empat tahun terakhir . menunjukkan perubahan penting pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Tahun 2019 ditandai stabilitas kurs di rentang Rp14. 000Ae14. 500 per USD dengan laju inflasi tahunan rata-rata 2,8%. Awal 2020, dampak pandemi COVID-19 menyebabkan pelemahan ekstrem hingga Rp16. 000 per USD pada April 2020, meskipun inflasi tercatat rendah di level 1,9% karena Pemulihan mengembalikan nilai Rupiah ke Rp14. per USD di akhir Desember 2021. Namun pada 2022, ketegangan geopolitik pascainvasi Rusia ke Ukraina mendorong pelemahan mata uang domestik ke Rp15. 100 per USD pada September 2022, bersamaan kenaikan inflasi domestik mencapai 5,95%. Gambar hubungan historis antara inflasi dan pergerakan Rupiah/USD selama 2013Jurnal Edueco Volume 8 No 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan 2022, menunjukkan pola korelasi terutama selama periode ketidakstabilan ekonomi tahun 2020 dan 2022 Gambar 1. Grafik Tingkat Inflasi dan Nilai Tukar tahun 2013-2022 Sumber: Badan Pusat Statistik(BPS) Berdasarkan grafik tersebut. Januari-September memperlihatkan peningkatan inflasi Indonesia dari 2,18% menjadi 5,95%, diiringi pelemahan Rupiah Rp14. 300/USD menjadi Rp15. 100/USD. Data empiris dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada tahun 2022 memperlihatkan pola yang konsisten dengan teori ini. Selama periode Januari hingga September 2022, tingkat inflasi Indonesia meningkat dari 2,18% menjadi 5,95%, diiringi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dari Rp14. 300/USD menjadi Rp15. 100/USD. Korelasi positif antara kedua variabel ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi depresiasi Rupiah, sekaligus membuka peluang terjadinya imported inflation akibat kenaikan harga barang impor. Fenomena ini sejalan dengan temuan Edwards . , dalam studi lintasnegara yang menunjukkan bahwa kenaikan inflasi 1% dapat menyebabkan depresiasi nilai tukar sebesar 0,6% pada ekonomi berkembang. Namun, hubungan antara inflasi dan nilai tukar tidak selalu bersifat Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 Penelitian-penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Taylor . dan Calvo. , & Reinhart . , mengungkapkan bahwa interaksi antara kedua variabel ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor perantaraseperti suku bunga, neraca perdagangan, dan ekspektasi pasar. Sebagai contoh, kebijakan pengetatan moneter . isalnya kenaikan suku bung. yang bertujuan mengendalikan inflasi dapat menarik arus modal asing, sehingga memberikan apresiasi terhadap mata uang domestik. Di sisi lain, defisit neraca perdagangan yang terjadi bersamaan dengan tingginya inflasi dapat memperburuk tekanan terhadap nilai tukar. Dengan demikian, analisis mengenai pengaruh inflasi makroekonomi yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pengaruh inflasi terhadap nilai tukar Rupiah dengan mempertimbangkan variabel-variabel perantara yang relevan. Temuan dari studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris bagi literatur yang ada, sekaligus menjadi masukan bagi otoritas moneter dalam merancang kebijakan yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan Dalam pemahaman yang komprehensif tentang interaksi antara kedua variabel ini akan ekonomi yang berkelanjutan, khususnya dalam menghadapi gejolak pasar global yang semakin tidak pasti. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan mencakup uji asumsi klasik, analisis deskriptif dan analisis Jurnal Edueco Volume 8 No 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan regresi linier sederhana. Pertama-tama, data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia untuk periode 2013Ae2022 dianalisis secara deskriptif guna menggambarkan tren inflasi dan nilai tukar rupiah selama kurun waktu tersebut. Analisis ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pola fluktuasi, arah pertumbuhan, serta karakteristik ekonomi di wilayah yang Selanjutnya, untuk mengetahui hubungan antara inflasi dannilai tukar, digunakan metode regresi linier. Melalui model ini, ditelusuri sejauh mana variabel . variabel dependen . ilai tukar rupia. Hasil dari analisis regresi ini menentukan apakah terdapat pengaruh yang signifikan di antara kedua variabel Diharapkan, melalui kombinasi metode ini, penelitian mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika ekonomi, khususnya terkait hubungan antara inflasi dan nilai tukar dalam konteks ekonomi regional di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Klasik merupakan uji prasyarat yang dilakukan sebelum melanjutkan analisis lebih lanjut. Uji asumsi klasik pada regresi linier sederhana: Uji Normalitas Residual Uji Normalitas pada model regresi digunakan untuk menguji apakah nilai Residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah apabila datanya berdistribusi normal. Pedoman pengambilan Keputusan uji normalitas residual: Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Jika nilai Asymp Sig 2-tailed > 05, maka nilai residual data berdistribusi Jika nilai Asymp Sig 2-tailed < 05, maka nilai residual data berdistribusi tidak nol Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Sumber : SPSS, data di olah Berdasarkan summary di peroleh nilai dw hitung sebesar 1,409. Dengan jumlah sampel sebanyak n = 10 dan variabel bebas atau k = 1, kemudian di konfirmasi pada dw tabel di peroleh nilai dl = 0,878 dan du = 1,319. Sehingga nilai dw hitung 1,409 berada di antara du =1,319 dan 4-du= 2,681. Artinya tidak ada permasalahan autokorelasi dalam peneiltian ini. Kesimpulan du . < dw . < 4du . Maka h0 di terima. Artinya tidak terdapat autokorelasi Sumber : SPSS. Data di olah Berdasarkan tabel diatas, diperoleh nilai Asymp. Sig. 2-tailed sebesar 0. 080 > 0. maka dapat disimpulkan nilai residual data berdistribusi normal. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi adalah analisis statistik yang digunakan untuk mendeteksi adanya hubungan . antara residual . esalahan penggangg. pada suatu periode dengan residual pada periode sebelumnya dalam model regresi, terutama pada data runtut waktu . ime Pedoman pengambilan keputusan: Jika nilai dw hitung berada di antara du dan 4-du . u < d < 4-d. , maka di simpulkan bahwa tidak ada permasalahan autokorelasi dalam model penelitian ini Tabel 2. Hasil Uji Autokorelasi Jurnal Edueco Volume 8 No 2. Desember 2025 Uji Heteroskedastisitas Uji pengujian dalam analisis regresi yang bertujuan untuk mendeteksi apakah varians residual . atau tidak konstan . pada setiap Tabel 3. Hasil Uji Heterokedastisitas Sumber : SPSS Data Di Olah Pengambilan keputusan dengan kriteria: Jika nilai Sig > 0,05, maka Ho Artinya permasalahan heteroskedastisitas. Jika nilai Sig < 0,05, maka Ho ditolak. Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 Artinyaada JURNAL Edueco Universitas Balikpapan faktor-faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. ahan heteroskedastisitas. Berdasarkan tabel Coefficients data diatas, diketahui nilai Sig sebesar 0,709 > 0,05, maka Ho diterima. Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalam model penelitian tersebut. Uji Regresi Linier Sederhana Uji Koefisien Determinasi Koefisien determinasi digunakan untuk menilai seberapa baik suatu model regresi dalam menjelaskan variasi yang terjadi pada variabel Nilai RA berkisar antara 0 hingga 1, di mana nilai yang mendekati 0 mengindikasikan bahwa memilikisedikit pengaruh terhadap variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai RA mendekati 1, maka hal itu independen memberikan kontribusi yang besar dalam menjelaskan perubahan pada variabel dependen, sehingga model regresi dianggap memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam melakukan prediksi. Tabel 4. Uji Koefisien Determinasi Uji Regresi Linier Sederhana Regresi linear sederhana adalah metode mengevaluasi hubungan linear antara satu variabel bebas . dan satu variabel . Metode ini berguna untuk mengetahui arah serta pola hubungan antara kedua variabel tersebut, sehingga dapat dipahami bagaimana perubahan pada variabel independen, baik peningkatan maupun penurunan, dapat memengaruhi variabel dependen. Tabel 5. Hasil Uji Regresi Sederhana Sumber : SPSS. Data diolah Persamaan regresi Pada kolom B diketahui Constant 762 dan Koefisien Regresi Inflasi - 2,596 Jadi persamaan Regresi Y = 14848. - 2. Makna Persamaan Regresi Sumber : SPSS. Data Diolah Nilai R yang tercantum dalam tabel model summary pada regresi sederhana korelasi regresi sederhana sebesar 0,621. Sementara itu, nilai R square sebesar 0,383 menunjukkan bahwa 38,3% variasi dalam Nilai Tukar dapat dijelaskan oleh variabel Inflasi Adapun sisanya, yaitu 61,7%, dipengaruhi oleh Jurnal Edueco Volume 8 No 2. Desember 2025 Konstanta . artinya bahwa ketika variabel Inflasi adalah 0, maka rata-rata Nilai Tukar adalah sebesar 14848. 762 persen. Slope regresi sebesar 2. 596, artinya jika terdapat kenaikan 1 persen pada Inflasi (X), maka akan meningkatkan prediksi Nilai Tukar (Y) sebesar Koefisien regresi bernilai negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi Inflasi, maka Nilai Tukar cenderung semakin menurun. Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Sumber: SPSS, data diolah Tabel 7 Tabel Uji t Sumber : SPSS. Data di olah . = n-k-1 = 20-1-1 = 18. Maka nilai t tabel = 1. Uji Hipotesis Selanjutnya pada tabel Coefficients diketahui nilai t hitung sebesar 2,695 dengan perolehan t tabel pada = 0,10 dan db = 18 yakni sebesar 1. Sehingga t hitung . > t tabel . maka H0 ditolak. Penarikan Kesimpulan Nilai t hitung . > t tabel . , maka H0 ditolak. Artinya terdapat pengaruh negatif dan signifikan Inflasi terhadap Nilai Tukar. Hipotesis yang diajukan teruji Uji Signifikansi Parameter Individualistik (Uji Statistik . Uji statistik t bertujuan untuk menilai seberapa besar pengaruh masingmasing variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel, di mana penilaiannya didasarkan pada kriteria tertentu. Jika hasil dari thit > ttab atau Sig < 0,10, maka Ha diterima dan Ho ditolak, berpengaruh terhadap variabel terikat. Jika hasil thit < ttab atau Sig > 0,10, maka Ha ditolak dan H, diterima, yang berarti variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat. Tabel 6. Tabel Hipotesis Statistik Jurnal Edueco Volume 8 No 2. Desember 2025 Selanjutnya pada tabel Uji t diketahui nilai t hitung sebesar -2,243 dengan perolehan t tabel pada = 0,10 dan db = 18 yakni sebesar 1. 33039 Sehingga t hitung . > t tabel . , maka H0 ditolak. Penarikan Kesimpulan Nilai t hitung . > t tabel . , maka H0 ditolak. Artinya terdapat pengaruh positif dan signifikan Inflasi terhadap Nilai Tukar. Hipotesis yang diajukan teruji kebenarannya. PEMBAHASAN Dari hasil pengolahan data, diketahui bahwa nilai t hitung sebesar 2,243 melebihi nilai t tabel sebesar 33039, yang mengindikasikan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Temuan ini menandakan bahwa Inflasi memiliki dampak negatif dan signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah di Indonesia pada Tahun 2013- 2022. Dapat disimpulkan bahwa inflasi berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi, diperoleh nilai R square sebesar 0,383. Artinya, sekitar 38,3% variasi dalam nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh perubahan inflasi selama periode Sementara itu, sisanya, yaitu 61,7%, dipengaruhi oleh faktor lain di luar inflasi, seperti tingkat suku bunga, neraca perdagangan, serta faktor eksternal dari kondisi global. Pengaruh menunjukkan bahwa ketika inflasi meningkat, nilai tukar rupiah cenderung mengalami pelemahan terhadap mata uang asing. Secara ekonomi, kondisi ini terjadi karena tingginya inflasi mengurangi daya beli mata uang Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 menurunkan permintaan terhadap mata uang tersebut dan menyebabkan depresiasi nilai tukar. Dengan kata lain, ketidakpastian dalam perekonomian dan mengurangi kepercayaan investor terhadap rupiah, sehingga menyebabkan penurunan nilai tukarnya. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Karimah et al. dalam Jurnal COSTING menemukan bahwa inflasi dan suku bunga secara terhadap nilai tukar rupiah di masa pemulihan ekonomi pasca-COVID-19. Sementara itu. Mutiara & Puspitasari . , dalam Jurnal Simki Economic menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap nilai tukar dalam periode 2016Ae2022. Selanjutnya Gusmianto . , dalam Jurnal INTEGRAL menyimpulkan bahwa inflasi, bersama dengan jumlah uang beredar dan suku bunga, secara bersama- sama berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Sejalan dengan itu, penelitian oleh Nurajizah et . , dalam SANTRI: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam juga menegaskan bahwa inflasi dan nilai tukar memiliki dampak signifikan Indonesia pada periode 2014Ae2023. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis, inflasi terbukti memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa penurunan daya beli mata uang Saat inflasi meningkat, harga barang dan jasa di dalam negeri turut naik, sehingga masyarakat dan pelaku usaha membutuhkan lebih banyak uang untuk memperoleh barang dalam jumlah yang sama. Kondisi ini menyebabkan nilai riil mata uang Turunnya daya beli tersebut Jurnal Edueco Volume 8 No 2. Desember 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan permintaan terhadap rupiah di pasar valuta asing, karena rupiah dianggap kurang bernilai jika dibandingkan dengan mata uang asing yang lebih Dalam situasi seperti ini, investor asing maupun pelaku pasar cenderung memindahkan investasinya ke negara dengan tingkat inflasi yang lebih rendah dan ekonomi yang lebih terjaga Akibatnya, aliran modal Indonesia sementara permintaan terhadap mata uang asing meningkat, yang pada akhirnya mendorong depresiasi nilai tukar rupiah. Inflasi yang tinggi juga menciptakan ketidakpastian dalam Ketika pelaku pasar merasa ragu terhadap efektivitas mengendalikan inflasi, kepercayaan terhadap mata uang nasional menurun. Berkurangnya kepercayaan ini memperburuk posisi rupiah terhadap mata uang asing di pasar internasional. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian ini menyimpulkan adanya korelasi negatif dan signifikan antara Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah di Indonesia pada Tahun 2013- 2022. Kesimpulan ini didukung oleh nilai t hitung . yang melampaui nilai t . ,73. signifikansi 0,055 yang lebih kecil dari 0,10. Selain itu, koefisien determinasi sebesar 0,383 mengindikasikan bahwa Inflasi mampu menjelaskan 38,3% variasi dalam Nilai Tukar Rupiah di Indonesia. Persamaan regresi menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu persen dalam Inflasi berkontribusi pada penurunan nilai tukar rupiah di Indonesia 2,596. Ini mengimplikasikan bahwa semakin tinggi Inflasi, maka nilai tukar rupiah akan semakin menurun. Koefisien korelasi sebesar 2,596 juga menegaskan adanya hubungan yang sangat kuat Emia Perangin Angin1. Fais Irawan2. Stevani Nababan3. Evi Syuriani4 antara variabel Inflasi (X) dan Nilai Tukar Rupiah (Y). Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan dampak signifikan Inflasi terhadap Nilai Tukar. Oleh karena itu, kebijakan moneter yang dirancang secara tepat memainkan peran krusial dalam menekan laju inflasi, yang pada gilirannya membantu menjaga stabilitas berkelanjutan di tingkat nasional. JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Analisis pengaruh nilai tukar dan inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014Ae SANTRI: Jurnal Ekonomi Dan Keuangan Islam, 2. , 229Ae Taylor. Discretion versus Policy Rules in Practice. CarnegieRochester Conference Series on Public Policy, 39, 195Ae214. DAFTAR PUSTAKA