Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 STUDI PERBANDINGAN KETAJAMAN PENGLIHATAN DENGAN SNELLEN CHART. LOGMAR CHART DAN APLIKASI SMART OPTOMETRY COMPARATIVE STUDY OF VISUAL AQUITY USING SNELLEN CHART. LOGMAR CHART. AND SMART OPTOMETRY APPLICATION Cucu Nurpatonah*. Aisyah Alfiah Rahma. Azril Pratama. Ai Meri Yulianti. Itmam Milataka Prodi D. i Refraksi Optisi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Bakti Tunas Husada *e-mail Korespondensi: cucunurpatonah@universitas-bth. ABSTRAK Ketajaman penglihatan . isual acuit. merupakan parameter utama dalam evaluasi kesehatan mata. Seiring berkembangnya teknologi, aplikasi digital seperti Smart Optometry mulai digunakan sebagai alat skrining alternatif, meskipun validitasnya masih perlu dibandingkan dengan metode konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pengukuran ketajaman penglihatan menggunakan Snellen chart. LogMAR chart, dan aplikasi Smart Optometry pada mahasiswa S1 Farmasi berusia 19Ae 21 tahun. Desain penelitian ini adalah cross-sectional non-intervensional dengan pendekatan komparatif terhadap 105 responden . Pemeriksaan dilakukan secara monokular menggunakan Snellen chart pada jarak 5 meter. LogMAR chart pada jarak 4 meter, dan aplikasi Smart Optometry pada jarak 40 cm. Rerata hasil pengukuran ketajaman penglihatan secara keseluruhan menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry memberikan nilai lebih tinggi . dibandingkan LogMAR . dan Snellen chart . Pada kelompok dengan visus normal (LogMAR = 1,. , rerata hasil aplikasi mencapai 0,98, sedikit lebih tinggi dibanding Snellen . Namun, pada kelompok dengan visus buruk (LogMAR > 1,. , hasil aplikasi menunjukkan perbedaan yang mencolok . ata-rata 0,. dibanding Snellen . dan LogMAR . Analisis statistik menggunakan uji Friedman dan Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan antara aplikasi dan metode konvensional . < 0,0. Hasil ini menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry cenderung menghasilkan nilai visus lebih tinggi dibandingkan Snellen chart dan LogMAR, terutama pada kelompok dengan visus kurang. Aplikasi ini berpotensi digunakan sebagai alat skrining awal, namun memerlukan kalibrasi lebih lanjut untuk kelompok visus rendah. Kata Kunci : aplikasi digital, ketajaman penglihatan. LogMAR, smart optometry. Snellen ABSTRACT Visual acuity is a key parameter in evaluating eye health. With technological advancements, digital applications such as Smart Optometry have emerged as alternative screening tools, although their validity still needs to be compared with conventional methods. This study aimed to compare visual acuity measurements using the Snellen chart. LogMAR chart, and the Smart Optometry application among undergraduate students aged 19Ae21 years. This was a non-interventional cross-sectional study with a comparative approach involving 105 participants . Monocular examinations were conducted using the Snellen chart at a distance of 5 meters, the LogMAR chart at 4 meters, and the Smart Optometry application at 40 cm. The overall average visual acuity results showed that the Smart Optometry application yielded higher values . compared to LogMAR . and the Snellen chart . In the normal vision group (LogMAR = 1. , the application's average result reached 0. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 slightly higher than that of Snellen . However, in the poor vision group (LogMAR > 1. , the application showed a notable difference . compared to Snellen . and LogMAR . Statistical analysis using the Friedman and Wilcoxon tests indicated a significant difference between the application and conventional methods . < 0. These findings suggest that the Smart Optometry application tends to produce higher visual acuity values than both the Snellen chart and LogMAR, particularly in individuals with reduced vision. While this application shows potential as an initial screening tool, further calibration is necessary for populations with low visual acuity. Keywords: digital application, visual acuity. LogMAR. Snellen. Smart Optometry Diterima: 07 Mei 2025 Direview: 21 Juni 2025 Diterbitkan: 06 Agustus 2025 PENDAHULUAN Peningkatan angka gangguan penglihatan dan kebutaan sering kali disebabkan oleh keterlambatan deteksi dini, seperti pada kasus kelainan refraksi yang tidak terkoreksi . Hal ini menjadi perhatian, terutama karena program skrining yang tepat untuk anak-anak dan remaja masih terbatas, padahal ambliopia dapat diidentifikasi sejak dini. Meskipun lebih dari 80% gangguan penglihatan sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan perawatan yang tepat waktu, keterlambatan diagnosis gangguan penglihatan sering terjadi akibat berbagai faktor, termasuk keterbatasan akses ke layanan kesehatan, kurangnya tenaga profesional di fasilitas kesehatan, serta minimnya strategi skrining yang efisien dan hemat biaya. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) tahun 2023, terdapat 2,2 miliar orang dari seluruh dunia memiliki gangguan penglihatan dekat atau jauh. Dari jumlah tersebut diperkirakan 1 miliar orang dengan gangguan penglihatan hanya saja belum ditangani. Penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan di tingkat global adalah kelainan refraksi sebanyak 36% orang. Prevalensi ambliopia global diproyeksikan mempengaruhi 175,2 juta orang pada tahun 2030 dan 221,9 juta pada Berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) pada 2014Ae2016 dalam Ismandari . , menyebutkan di 15 provinsi mencatat bahwa angka kebutaan di Indonesia mencapai 000 jiwa. Pada populasi berusia 50 tahun ke atas, katarak yang tidak tertangani menjadi penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan dengan proporsi sebesar 77,7%. (Ismandari. Kondisi ini mencerminkan banyaknya kasus yang belum terdiagnosis atau ditangani. Fakta ini menekankan pentingnya untuk menerapkan metode pemeriksaan tajam penglihatan yang dapat diakses oleh semua orang sebagai langkah awal dalam deteksi dini gangguan penglihatan (Raffa et al. , 2. Ketajaman penglihatan menurut (Tomys et al. , 2. adalah ukuran secara sudut . yang berhubungan dengan jarak pandang dalam mengamati ukuran objek terkecil pada jarak tertentu. Ini mencerminkan kemampuan mata untuk membedakan dua titik atau stimulus yang terpisah dalam ruang ketika dilihat dengan latar belakang yang memiliki kontras tinggi . Metode pemeriksaan tajam penglihatan secara konvensional menggunakan logMAR dianggap sebagai standar emas karena keakuratannya dan kemampuannya untuk mengukur sensitivitas visual secara lebih detail. Metode ini tetap menjadi standar yang diakui dalam mengevaluasi ketajaman penglihatan secara objektif. Di sisi lain. Husna H, . , menyebutkan Snellen chart merupakan jenis optotype sebagai objek pemeriksaan mata yang lebih dulu dikembangkan dibandingkan jenis optotype lainnya. Selain itu Snellen chart yang lebih sering digunakan di Indonesia dalam layanan kesehatan mata, memiliki peran penting dalam diagnosis, evaluasi terapi, dan pemantauan penyakit mata. Disisi lain Snellen chart memiliki kelemahan, seperti perbedaan ukuran huruf antar baris dan jumlah huruf yang tidak konsisten pada setiap baris. Hal ini dapat menyebabkan efek sekunder, seperti fenomena crowding, yang dapat mempersulit pasien dalam mengenali huruf pada optotype dengan akurat, sehingga berpotensi menimbulkan bias hasil pemeriksaan Evani et al. , . Metsing et al. , . membandingkan Spectrum logMAR chart dengan Snellen chart pada 206 anak usia 6Ae17 tahun. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata VA dari logMAR chart satu garis lebih baik daripada Snellen chart, dengan deviasi standar lebih kecil pada logMAR chart mengindikasikan variabilitas yang lebih tinggi pada Snellen chart . = 0,. Studi retrospektif yang dilakukan oleh Yu et al. , . pada 773 mata pasien retina mengungkap bahwa skor nilai ketajaman penglihatan Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 LogMAR dengan huruf jenis Early Treatment Diabetic Retinopathy Study (ETDRS) rata-ratanya 6,1 huruf lebih baik dibandingkan Snellen (OOA1. 2 bari. , dan perbedaan tersebut semakin besar pada pasien dengan ketajaman penglihatan rendah . < 0. (Yu et al. , 2. Aplikasi berbasis smartphone juga memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas dan Studi di China yang dilakukan oleh Wu et al. dalam pengujian tajam penglihatan menggunakan aplikasi WHOeyes, mendapatkan hasil akurasi WHOeyes setara dengan ETDRS dengan perbedaan rata-rata berkisar antara -0,084 hingga 0,012 logMAR. Dilaporkan juga oleh penelitian di Indonesia, pada aplikasi smartphone peek aquity menunjukan perbedaan rata-rata signifikan antara hasil pemeriksaan kartu Snellen dan aplikasi smartphone bernama PEEK Acuity (Evani et al. , 2. Selain aplikasi WHO eyes dan PEEK aquity, pada smartphone terdapat juga aplikasi digital yang sama-sama menawarkan fitur yang tidak tersedia pada metode konvensional, seperti pengaturan jarak otomatis, kontrol pencahayaan, dan opsi multibahasa. Keunggulan ini memungkinkan aplikasi seperti Smart Optometry untuk diadaptasi di berbagai kondisi, mulai dari pemeriksaan individual hingga skrining massal. Implementasi teknologi aplikasi digital di Indonesia dapat mendukung program nasional yang tercantum dalam Peta Jalan Penanggulangan gangguan penglihatan di Indonesia Tahun 2017-2030 yang berfokus pada pengurangan gangguan penglihatan yang dapat dicegah (Kemenkes RI, 2. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, penelitian ini bertujuan membandingkan hasil pemeriksaan tajam penglihatan yang dilakukan menggunakan Smart Optometry, logMAR chart, dan Snellen chart. Analisis ini akan memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan metode pemeriksaan mata yang lebih efisien, akurat, dan terjangkau, khususnya dalam mendukung upaya kesehatan mata di tingkat global maupun nasional. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kuantitatif komparatif dengan pendekatan cross-sectional nonintervensional, yang bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan ketajaman penglihatan menggunakan tiga metode berbeda: Snellen Chart. LogMAR Chart, dan aplikasi Smart Optometry. Penelitian dilaksanakan pada bulan November hingga Desember 2023 di Laboratorium Mini Optik. Universitas Bakti Tunas Husada (BTH). Tasikmalaya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Program Studi S1 Farmasi Universitas BTH yang berjumlah 105 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling, dengan kriteria inklusi berupa mahasiswa berusia 19Ae21 tahun yang bersedia mengikuti seluruh rangkaian pemeriksaan dan memiliki ketajaman penglihatan minimal 0,1 . pada pemeriksaan awal. Kriteria eksklusi mencakup mahasiswa yang memiliki riwayat gangguan okular berat, atau tidak dapat menyelesaikan ketiga jenis pemeriksaan secara lengkap. Penelitian ini bersifat non-invasif dan beresiko minimal, peneliti tetap menerapkan prinsip etika penelitian dengan diberikan penjelasan lengkap terhadap mahasiswa mengenai tujuan, prosedur, manfaat, dan potensi risiko sebelum diminta kesediaannya untuk berpartisipasi secara sukarela. Partisipasi dilakukan atas dasar persetujuan sadar . nformed consen. secara tertulis. Data dikumpulkan dan dianalisis secara anonim untuk menjaga kerahasiaan dan privasi partisipan. Pemeriksaan ketajaman penglihatan dilakukan pada kondisi pencahayaan standar ruangan pemeriksaan (A500 lu. , secara monokular . atu mata diuji secara bergantia. dan tanpa koreksi refraksi, untuk memastikan hasil yang bersumber dari visus alami subjek. Ada tiga jenis instrumen digunakan dalam penelitian ini: Snellen Chart digunakan untuk pemeriksaan ketajaman penglihatan jarak jauh pada jarak 5 meter. Subjek diminta membaca deret huruf dari baris terbesar hingga terkecil yang masih dapat dikenali. Hasil dinyatakan dalam format pecahan Snellen . isalnya, 6/6, 6/9, 6/. (Mukherjee, 2. LogMAR Chart digunakan untuk pemeriksaan visus jarak jauh pada jarak 4 meter, dengan desain yang lebih sistematis dan konsisten . huruf per baris, penurunan logaritmik antar bari. Skor dinyatakan dalam nilai desimal LogMAR, skor nilai lebih kecil menunjukkan ketajaman penglihatan yang lebih baik (Husna, 2. Smart Optometry (Aplikas. yaitu aplikasi berbasis smartphone yang diunduh dari Google Play Store dan dijalankan pada perangkat Android. Pemeriksaan dilakukan pada jarak 40 cm untuk mengukur ketajaman penglihatan dekat. Subjek diminta membaca huruf-huruf yang muncul di layar hingga batas kemampuan maksimal. Aplikasi secara otomatis mengkonversi hasil ke dalam nilai visus standar dalam satuan Snellen atau desimal (Satgunam et al. , 2. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Seluruh pemeriksaan dilakukan oleh satu pemeriksa terlatih untuk meminimalkan variasi antar Urutan pemeriksaan diacak untuk setiap subjek untuk mencegah bias urutan. Data hasil pemeriksaan dari ketiga metode dicatat pada lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan IBM SPSS versi 25. Uji normalitas dilakukan terlebih dahulu menggunakan Shapiro-Wilk Test. Karena data tidak terdistribusi normal, analisis statistik dilakukan menggunakan uji Friedman untuk melihat perbedaan signifikan antar ketiga metode, dan uji Wilcoxon sebagai uji lanjutan . ost ho. untuk mengetahui pasangan metode mana yang memiliki perbedaan bermakna. Nilai p < 0,05 dianggap sebagai batas signifikan secara statistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji statistik dalam penelitian ini disajikan dalam hasil sebagai berikut: Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Usia 43,81 48,57 7,62 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Sumber: data primer Tabel 1 menunjukan bahwa dari 105 responden yang terlibat paling banyak pada usia 20 tahun sebanyak 51 responden . ,57%). Jenis kelamin perempuan lebih mendominasi sebanyak 84 responden . %). Tabel 2. Perbandingan Rata-rata Hasil Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan Pemeriksaan Total mata LogMAR LogMAR <1. LogMAR 0,78 0,45 Snellen Chart 0,79 0,47 Aplikasi 0,88 0,98 0,72 Sumber: data primer Pada Tabel 2 menunjukan rata-rata hasil pemeriksaan ketajaman penglihatan pada 210 mata didapatkan untuk total rata-rata antara LogMAR. Snellen chart dan Aplikasi smart optometry adalah 0,78:079:0,88. Pada nilai LogMAR 1. didapatkan nilai rata-rata yang sama dengan snellen yaitu 1,0 akan tetapi ada sedikit perbedaan pada hasil pemeriksaan aplikasi smart optometri dimana didapatkan rata-rata 0,98. Pada nilai LogMAR > 1. 0 didapatkan nilai rata-rata yang hampir sama dengan snellen chart yaitu 045. 0,47 akan tetapi hasil pemeriksaan menggunakan aplikasi smart optometri jauh berbeda yaitu rata-rata 0,73. Pada rata-rata keseluruhan kedua mata, terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pemeriksaan menggunakan aplikasi Smart Optometry dengan chart LogMAR dan Snellen, masing-masing sebesar -0,10 dan -0,09. Sementara itu, pada hasil rata-rata dengan nilai logMAR <1,0, perbedaan tercatat sebesar -0,27 untuk LogMAR dan -0,25 untuk Snellen chart, menunjukkan bahwa hasil dari aplikasi menunjukkan ketajaman visual yang lebih baik dalam rentang 0,9 hingga 0,27 unit. Tabel 3: Hasil analisis Fridman dilanjutkan dengan post-hoc wilcoxon Metode Median . in-ma. rerataAs. Snellen chart OD 1,00 . ,1-1,. 0,77A0,33 0,0001 LogMAR OD 1,00 . ,1-1,. 0,80A0,33 smart optometry OD 1,00 . ,1-1,. 0,87A0,22 Snellen chart OS 1,00 . ,1-1,. 0,80A0,32 0,0001 LogMAR OS 1,00 . ,1-1,. 0,79A0,33 smart optometry OS 1,00 . ,1-1,. 0,89A0,21 Sumber: data primer Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Pada tabel 3 menunjukan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry memberikan nilai ketajaman visual (VA) yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional seperti Snellen chart dan LogMAR. Pada mata kanan (OD), rerata VA menggunakan aplikasi adalah 0,87 A 0,22, sedangkan Snellen chart dan LogMAR masing-masing menunjukkan 0,77 A 0,33 dan 0,80 A 0,33. Demikian pula, pada mata kiri (OS), rerata VA dengan aplikasi adalah 0,89 A 0,21, sementara Snellen chart dan LogMAR masing-masing menunjukkan 0,80 A 0,32 dan 0,79 A 0,33. Uji statistik Friedman dan post-hoc Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan antara metode pengukuran menggunakan aplikasi dengan metode konvensional . < 0,0. Hasil penelitian pada Tabel. 2 menunjukkan bahwa rata-rata ketajaman penglihatan (VA) pada 210 mata yang diukur menggunakan tiga metode, yaitu LogMAR. Snellen chart, dan aplikasi Smart Optometry, memiliki perbedaan signifikan. Rata-rata keseluruhan dari masing-masing metode adalah 0,78 (LogMAR), 0,79 (Snellen char. , dan 0,88 . plikasi Smart Optometr. Temuan ini menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry cenderung memberikan nilai VA yang lebih tinggi . ebih bai. dibandingkan metode konvensional. Pada kelompok dengan VA normal (LogMAR 1. , nilai rata-rata VA aplikasi sedikit lebih rendah . dibandingkan LogMAR dan Snellen . eduanya 1,. , namun perbedaan ini kecil dan tidak terlalu signifikan secara klinis. Namun, perbedaan menjadi lebih nyata pada kelompok LogMAR >1. 0 (VA renda. , di mana aplikasi menunjukkan nilai lebih tinggi secara mencolok . dibandingkan LogMAR . dan Snellen chart . Perbedaan keseluruhan antara aplikasi dengan LogMAR dan Snellen adalah -0,10 dan -0,09, dan pada kelompok VA < 1,0 perbedaannya lebih besar, yaitu -0,27 . engan LogMAR) dan -0,25 . engan Snelle. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Raffa et al. , yang juga menunjukkan bahwa aplikasi Smart Optometry cenderung overestimate ketajaman visual dibandingkan dengan uji konvensional, namun tetap memiliki sensitivitas yang tinggi . ,3%) untuk mendeteksi gangguan penglihatan, sehingga masih layak sebagai alat skrining awal dalam konteks tele optometri atau pelayanan kesehatan jarak jauh. Studi oleh Bhaskaran et al. juga mendukung temuan ini, menyatakan bahwa aplikasi berbasis smartphone sering memberikan hasil yang lebih tinggi karena pengaruh pencahayaan layar, kontras lebih tinggi, dan jarak pembacaan yang tidak sepenuhnya terstandar, sehingga dapat memperbaiki persepsi visual secara subjektif (Bhaskaran et al. , 2. Fenomena ini secara teoritis dapat dijelaskan melalui mekanisme akomodasi. Menurut teori klasik akomodasi oleh Helmholtz . dalam Wati . , menyatakan bahwa sistem visual manusia akan mengubah bentuk lensa untuk mempertajam fokus pada objek dekat. Ilyas . menyebutkan bahwa akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk berubah menjadi lebih cembung sebagai respons terhadap kontraksi otot siliaris. Kemampuan ini menyesuaikan diri berdasarkan kebutuhan penglihatan, di mana semakin dekat jarak objek yang dilihat, semakin besar usaha akomodasi yang diperlukan oleh mata. Aplikasi berbasis layar smartphone, karena memancarkan cahaya dan memiliki kontras tinggi, dapat merangsang akomodasi lebih aktif, terutama pada individu muda yang masih memiliki cadangan akomodasi besar. Hal ini memungkinkan persepsi visual tampak lebih tajam dibandingkan saat menggunakan media cetak atau chart dengan pencahayaan standar. Kondisi vergence-accommodation conflict pada media digital menyatakan bahwa stimulus visual yang berasal dari layar digital dapat menipu sistem akomodasi dan konvergensi, sehingga subjek bisa mendapatkan kesan ketajaman visual yang lebih baik dari yang sebenarnya (Zhou et al. , 2. Tabel 3 memperlihatkan adanya perbedaan signifikan pada nilai ketajaman visual (VA) berdasarkan hasil uji statistik Friedman dan uji lanjutan Wilcoxon . < 0,0. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun aplikasi tersebut valid sebagai alat ukur, fungsinya belum dapat sepenuhnya menggantikan metode klinis yang telah distandarisasi. Namun demikian, potensi aplikasi ini sangat besar dalam konteks skrining populasi, edukasi kesehatan mata, dan pelayanan di daerah terbatas, selama penggunaannya memperhatikan batasan-batasan teknis dan fisiologis. Studi lain oleh Ogino et al. juga mencatat bahwa aplikasi pengukuran VA berbasis smartphone menunjukkan reliabilitas yang baik dalam kondisi tertentu, tetapi cenderung menunjukkan nilai yang lebih optimistik jika dibandingkan dengan pengukuran klinis di bawah kontrol pencahayaan dan jarak pandang standar (Ogino et al. , 2. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian tidak diajukan ke komite etik meskipun telah dilakukan dengan informed consent tertulis dan partisipasi sukarela. Kedua, subjek terbatas pada mahasiswa usia 19Ae21 tahun sehingga hasil belum dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas. Ketiga, pemeriksaan dilakukan tanpa koreksi refraksi dan tidak mengontrol pengaruh Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 akomodasi secara objektif, khususnya pada penggunaan aplikasi smartphone. Selain itu, variasi perangkat dan pencahayaan layar tidak dikendalikan secara ketat. Terakhir, uji reliabilitas antarpemeriksa tidak dilakukan sehingga konsistensi hasil antar-operator belum dapat dipastikan. KESIMPULAN Pengukuran ketajaman visual menggunakan aplikasi Smart Optometry berbasis smartphone menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik jika dibandingkan dengan pengukuran menggunakan bagan LogMAR maupun Snellen Chart . =0,0. Nilai rata-rata ketajaman visual berdasarkan LogMAR. Snellen chart, dan aplikasi smart optometry . ,0 : 1,0 : 0,. menunjukkan bahwa aplikasi ini lebih sesuai digunakan untuk keperluan skrining awal gangguan penglihatan, atau pelengkap dalam pemeriksaan ketajaman visual, bukan sebagai pengganti metode standar klinis, bukan sebagai alat koreksi kelainan refraksi, mengingat hasil LogMAR <1,0 . ,45. 0,47. Pada penelitian lebih lanjut disarankan dengan populasi yang lebih beragam dan evaluasi terhadap faktor-faktor teknis seperti ukuran layar dan pencahayaan untuk memastikan akurasi dan konsistensinya serta difokuskan pada analisis hasil pengukuran tiap unit ketajaman visual guna mengevaluasi validitas aplikasi secara lebih rinci pada setiap tingkat penglihatan. DAFTAR PUSTAKA