p-ISSN: 2089-2551 e-ISSN: 2615-143X https://journal. Volume 15. Nomor 3. Agustus 2025 GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENYAPIHAN DINI TERHADAP KEJADIAN STUNTIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BARA-BARAYA Rusnaeni Saide1*. Ni luh Gede Sriwahyudianti2. Fitriani2. ST. Salmawati2. Haryati Sahrir3 Program Studi S1 Kebidanan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Program Studi Profesi Bidan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Program Studi D3 Kebidanan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Alamat Korespondensi: neylasaid97@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Penyapihan dini adalah penghentian pemberian ASI sebelum anak mencapai usia dua Penyapihan yang dilakukan terlalu dini dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, termasuk risiko stunting. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan ibu mengenai penyapihan dini dan dampaknya terhadap kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Bara-Baraya Makassar. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain analitik observasional. Sampel penelitian berjumlah 60 ibu yang memiliki balita. Hasil: analisis menunjukkan bahwa mayoritas ibu . %) mengetahui tentang penyapihan dini, dampaknya, cara melakukannya, serta waktu yang tepat, sementara 43% tidak memiliki pengetahuan Uji chi-square menghasilkan nilai p = 0. 302 untuk semua variabel yang diuji. Kesimpulan: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki pengetahuan yang cukup tentang penyapihan dini, tetapi masih terdapat beberapa yang belum memahami dampaknya terhadap Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dan kejadian stunting pada anak. Penelitian ini menekankan pentingnya edukasi lebih lanjut mengenai praktik penyapihan yang tepat agar dapat mencegah risiko stunting. Kata Kunci: ASI Ekslusif. Penyapihan Dini. Stunting PENDAHULUAN Kualitas sumber daya manusia suatu negara sangat dipengaruhi oleh kualitas hidup anak-anaknya sejak dini. Pemberian ASI adalah salah satu cara penting untuk memastikan perkembangan optimal mereka (Pujiastuti. Sutjiati and Retnowati, 2. Makanan terbaik untuk bayi adalah ASI, yang secara alami dihasilkan oleh tubuh ibu untuk bayi, dengan komponen zat gizi yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap oleh bayi (Windiarto et al. , 2. Peraturan No. 450/MENKES/VI/2004 menegaskan bahwa ASI eksklusif adalah kebutuhan bayi hingga usia enam bulan, dan sebaiknya dilanjutkan hingga dua tahun. Pemberian ASI secara luas dapat secara signifikan menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi. Mengingat tantangan kesehatan yang dihadapi Indonesia. ASI menjadi kunci untuk membangun pertahanan tubuh anak sejak dini (Pollard, 2. ASI yang di dapat anakselama proses menyusuii akan memenuhui kebutuhan nutrisii anak, karena ASI mengandung zat gizi bekualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan ASI unggul karena menyediakan DHA dalam jumlah besar untuk pertumbuhan otak, serta komposisi proteinnya yang didominasi oleh whey yang mudah diserap, bukan kasein yang lebih sulit dicerna (Handayani, 2. Walaupun secara teori penyapihan dapat dimulai setelah bayi berusia dua tahun. Keputusan untuk menyapih anak lebih awal sering dipengaruhi oleh beberapa hal, di Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 antaranya adalah pemahaman ibu yang kurang tentang manfaat ASI, dukungan suami yang tidak memadai, dan tekanan pekerjaan (Prasetyono, 2. Penghentian pemberian ASI terlalu dini perkembangan, dan kesehatan anak di masa Penyapihan yang terlalu cepat berisiko penyerapan nutrisii yang kurang optimal, peningkataan BB berlebih, serta risiko infeksi . Meskipun belunn ada patokan pasti mengenai waktu terbaik untuk menghentikan pemberian ASI, pemberian ASI eksklusiif hingga 6 bulan dan dilanjut sampe 2 tahun sangat dianjurkan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi. Keputusan ibu untuk berhenti menyusui lebih awal bisa dipengaruhii oleh berbagai faktor, seperti kondisi kesehatanibu danbayi, faktor psikologis, sosial, spiritual, serta tingkat pengetahuan. Mayoritas ibu ada yang menghadapi kesulitan dalam memberikan ASI secara optimal karena berbagai faktor, sehingga periode menyusui diakhir dan diikuti dengan proses penyapihan. (Ramyrez-Silva et al. Penyapihan dini adalah penghentian pemberian ASI kepada bayi sebelum mereka mencapai usia enam bulan (Depkes, 2. Penyapihan yang dilakukan lebih cepat bisa dipengaruhi oleh orang-orang yang kurang memahami prosesnya. Dasar pemikiran mengapa harus menunggu sampai bayi berusia enam bulan dan mereka menerima panduan ini sebagai suatu hal yang dapat di sesuaikan. Kendala dalam penerapannya yaitu bayi sulit menyusui karena mengalami gangguan kesehatan, mengalami perubahan emosi yang tidak stabil, air susu tidak keluar dari payudara. Kendala bisa menyebabkan bayi kekurangan nutrisi, sehingga dilakukan upaya untuk penyapihan yang lebih awal (Septikasari. Berdasarkan penelitian lain, keputusan ibu untuk menyapih dipengaruhi oleh karakteristik biologis dan fisiknya. Namun, perilakunya dalam proses tersebut juga dipengaruhi oleh faktor psikologis, seperti keinginan, motivasi, dan hambatan, serta oleh lingkungan sosial, termasuk tekanan dari orang Hal ini mencerminkan konsep unit biopsikososial (Ramyrez-Silva et al. , 2. Menyapih merupakan proses penghentian menyusui yang dapat terjadi secara bertahap atau sekaligus. Hal ini bisa disebabkan oleh keinginan anak untuk berhenti menyusu, keputusan ibu untuk menghentikan menyusui, atau keduanya, dengan berbagai alasan. Penyapihan berlangsung secara bertahap, dimulai dengan mengurangi frekuensi pemberian ASI hingga akhirnya berhenti (Tambunan et al. , 2. Namun, beberapa ibu memilih cara instan untuk menghentikan bayi dari menyusu dalam waktu singkat tanpa memahami dampak yang bisa Hingga kini, masih banyak ibu yang melakukan penyapihan dengan metode yang kurang tepat, seperti mengoleskan obat merah pada puting, menutupnya dengan perban atau plester, serta mengoleskan jamu, brotowali, atau kopi agar terasa pahit. Selain itu, ada juga yang menitipkan anak ke kakek-nenek, terusmenerus mengalihkan perhatian anak saat ia ingin menyusu, atau bersikap acuh setiap kali anak meminta ASI (Khoiriyah et al. , 2. Tenaga kesehatan, terutama bidan, sebaiknya berupaya mengatasi masalah penyapihan yang kurang tepat dengan memberikan pengetahuan pada ibu-ibu edukasi mengenai ASI eksklusif sangatlah penting, akan tetapi perlu ditambahkan informasi mengenai waktu penyapihan yang tepat, terutama untuk anak yang sudah berumur 2 tahun. Hal ini akan sangat membantu para ibu Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 dalam menentukan sikap mengenai waktu penyapihan yang tepat bagi anak mereka. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik observasional, yang menjelaskan gambaran melalui pengujian hipotesis, hubugan antara variiabel independen dan variabeel dependen dapat dianalisis. Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Bara-baraya Makassar. Dimana puskesmas Bara-baraya memiliki cakupan balita yang Penelitian di laksanakan tanggal 12 Juni 2023 S/D 13 Juni 2023. Penelitian ini akan menggunakan sampel sebanyak 60 ibu yang punya balita diwilayah Puskesmas Bara-baraya, yang diperoleh memakai rumus Slovin. Memakai analisis data yaitu uji analisis univariat lalu dilanjut dengan menganalisis bivariat yaitu dengan memakai uji Chi Square. HASIL Analisis univariat untuk menghasilkan distribusi karateristik ibu, yaitu: Ibu yang berumur 20-35 tahun sejumlah 58 orang . %), ibu berumur <35 tahun sejumlah 2 orang . %). Ibu dengan paritas multipara sejumlah 48 orang . %), ibu paritas primipara sejumlah 12 orang . %). Ibu yg berpendidikan SD yaitu 10 orang. %). SMP 9orang. SMA 27 orang. %), orang. ,3%). Ibu yang tidak memiliki pekerjaan. sebanyak 36 orang . %), sedangkan ibu yang bekerja sebanyak 24 orang . %). Bayi yang berumur 0-3 tahun sebanyak 41 orang . %), sedangkan bayi berumur 4-5 tahun sebanyak 19 orang . %). Bayi yang memiliki BB 0-10 kg sebanyak 43 orang . %), sedangkan 11-15 kg sebanyak 17 orang . %). Bayi yang memiliki BB 0-80 cm sebanyak 30 orang . %), sedangkan tinggi badan bayi 81-100 cm sebanyak 30 orang . %). Bayi yang memiliki Lila 0-10 cm sebanyak 31 orang . %), sedangkan bayi yang lilanya 11-20 cm sebanyak 29 orang . %). Distribusi frekuensi ibu yang tahu tentang penyapihan dini sejumlah 34 orang . %), sedangkan ibu yang tidak tahu tentang penyapihan dini sejumlah 26 orang . %). Responden yang mengetahui dampak penyapihan sejumlah 34 orang . %), responden yang tidak mengetahui dampak penyapihan sejumlah 26 orang . %). Responden penyapihan sejumlah 34 orang . %), responden yang tidak mengetahui cara penyapihan sejumlah 26 orang . %). Responden mengetahui waktu yang tepat penyapihan sejumlah 34 orang . %), responden yang tidak mengetahui waktu yang tepat penyapihan sejumlah 26 orang . %). Responden yang mengetahui stuntied sejumlah 30 orang. %), responden yang tidak mengetahui stuntied sejumlah 30orang . %). Analisis Bivariat dengan uji ChiSquare hubungan usiaibu dengan kejadian penyapihan dini diperoleh hasil nilai p = 0. Kemudian hubungan antara paritas ibu dengan penyapihan diperoleh nilai p=0. 000 Kemudian hubungan antra jarak kehamiilan ibu dengan penyapihan dini di peroleh nilai p = 0. Kemudian hubungan antara pendidkan ibu dengan penyapihan dini di peroleh nilai p = Kemudian hubungan antara pekerjaan ibu dengan penyapihan dini di peroleh nilai p = Kemudian ubungan antara umur bayi dengan penyapihan dini di peroleh nilai p = Kemudian hubungan antara berat bayi dengan kejadian penyapihan dini di peroleh nilai p=0. Kemudian hubungan antara tinggi badan bayi dengan penyapihan dini di Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 peroleh nilai p=1. Kemudian ubungan antara lila bayi dengan penyapihan dinidi peroleh nilai p = 0. 796 maka dapat di simpulkan tidak terdapat hubungan antara lila bayi dengan penyapihan dini di puskesmas bara-baraya. Hasil uji chi-square hubungan antara pengetahuan ibu dengan penyapihan dini di peroleh nilai p=0. Kemudian hubungan antara dampak dengan penyapihan dinidi peroleh nilai p=0. 302 Kemudian hubungan antara cara penyapihan dengan penyapihan dini diiperoleh nilai p=0. 302 maka dapat di simpulkan tidak terdapat hubungan antara cara penyapihan dengan penyapihan dini. Kemudian hubungan antara waktu penyapihan dengan penyapihan dini di peroleh nilai p=0. Kemudian hubungan antara stuntied dengan penyapihan dini di perolah nilai p = 1. PEMBAHASAN Berdasarkan Puskesmas Bara-Baraya Makassar, peneliti menemukan bahwa mayoritass ibu memiliki usia antara 20-35 tahun, yaitu sebanyak 58 orang . %), sementara 2 responden lainnya . %) berusia di bawah 35 tahun. Temuanini sejalan dengan teori yang mengemukakan dipengaruhi oleh faktor usia. Usia didefinisikan sebagai lamanya keberadaan sseorang yang diukur dalam satuan waktu secara kronologis, di mana individu yang normal akan menunjukkan perkembangan anatomis dan fisiologis tertentu. Seiring bertambhnya usia, seseorang juga mengalami perubahan baik dalam aspek fisik maupun psikologis . (Notoatmodjo, 2. Seiring bertambahnya usia, seseorang cenderung memperoleh lebih banyak pengetahuan. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Dewi et al. yang menyatakan bahwa usia ibu yang produktif memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif, karena pada rentang usia ini ibu cenderung aktif mencari informasi seputar kesehatan anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 60 responden, ditemukan bahwa ibu primipara berjumlah 12 orang . %), sedangkan ibu multipara sebanyak 48 orang . %). Peneliti berasumsi bahwa ibu primipara cenderung lebih sering memberikan ASI kepada anaknya karena mereka memiliki lebih banyak waktu luang dan belum terlalu disibukkan dengan mengurus anak lainnya. Hal ini memungkinkan mereka untuk memberikan perhatian penuh kepada bayinya. Sementara itu, ibu multipara cenderung memiliki waktu yang lebih terbatas untuk menyusui karena kesibukan mengurus beberapa anak, sehingga berpotensi melakukan penyapihan sebelum anak berusia 2 tahun. Hal ini diperkuat oleh penelitian Sari et al. , yang menyebutkan bahwa ibu primipara cenderung lebih disiplin dalam memberikan ASI karena memiliki waktu dan perhatian penuh terhadap anak pertamanya, dibanding ibu multipara yang memiliki lebih banyak tanggung jawab rumah tangga. Namun, tingkat paritas seorang ibu belum tentu menjadi faktor utama dalam menentukan usia menyapih, karena terlepas dari jumlah anak yang dimiliki, banyak ibu tetap menyusui hingga anaknya mencapai usia 2 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, responden dengan jarak kehamilan 0-3 tahun sebanyak 53 responden . %), dan jarak kehamilan 4-6 tahun sebanyak 7 responden . %). Menurut kutipan buku (Buckles et al. , 2. Jeda waktu yang cukup antara kehamilan, atau yang disebut jarak kelahiran, sangat penting untuk kesehatan ibu dan bayi. Menurut Buckles et al. jarak kelahiran ideal adalah 24Ae60 bulan. Penelitian ini didukung oleh studi dari Siregar dan Nasution . yang menemukan bahwa jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat menyebabkan gangguan pada pola menyusui, karena perubahan fisiologis selama kehamilan memengaruhi produksi ASI dan menyebabkan Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 ibu mengalami kelelahan yang berdampak pada proses menyapih dini. Menurut kutipan buku Soetjhiningsih . dalam (Windiarto et al. , 2. Jarak menyebabkan bayi berhenti menyusu lebih Sering kali, anak secara alami enggan menyusu ketika ibunya hamil, karena perubahan hormon selama kehamilan dapat mengurangi produksi ASI dan membuat puting lebih sensitif. Selain itu, penyapihan juga bisa dipengaruhi oleh ketidaknyamanan yang dirasakan ibu, seperti mual, muntah, atau Penyapihan . o wea. merupakan suatu proses pembiasaan, di mana bayi mulai beradaptasi untuk mengonsumsi makanan yang lebih padat seperti yang dikonsumsi orang Selama masa transisi ini, makanan bayi secara bertahap berubah dari hanya ASI menjadi kombinasi antara ASI dan makanan Namun, pemberianmakanan tambahan tidak berarti ASI harus dihentikan sepenuhnya, justru ASI tetap diberikan selama masa peralihan tersebut. Salah satu faktor utama yang menyebabkan penyapihan sebelum anak mencapai usia 2 tahun adalah jarak kehamilan yang terlalu dekat. Hasil menunjukkan keragaman tingkat pendidikan, dengan mayoritas lulusan SMA. Peneliti memengaruhi pengetahuan ibu tentang Semakin tinggi pendidikan ibu, semakin luas wawasannya dan semakin banyak informasi yang dapat diserap, yang berdampak pada kualitas pemberian ASI. Penelitian oleh Rahayu et al. menyebutkan bahwa semakin tinggi pendidikan ibu, semakin baik pemahaman dan penerimaan terhadap informasi kesehatan, termasuk pentingnya pemberian ASI eksklusif dan penyapihan sesuai usia anak. Pendidikan sendiri merupakan pengetahuan, keterampilan,dan kebiasan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi pengajaran,pelatihan. Masa menyapih merupakan pengalaman emosional bagi ibu,anak, danjuga ayah, karena ketiganya memiliki ikatan yang erat dan saling berpengaruh. Ayah juga berperan penting dalam proses menyusui, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebenarnya, tidak ada aturan pasti mengenaai kapan waktu yang tepat untuk menyapih anak, karena tidak terdapat ketentuan baku yang mengharuskan seorang anak berhenti menyusu pada usia tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 60 responden, mayoritas ibu yang tidak bekerja berjumlah 36 orang . %), sedangkan ibu yang bekerja sebanyak 24 orang . %). Hasil ini didukung oleh penelitian Fitriani & Marlina . , yang menunjukkan bahwa ibu yang bekerja memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar untuk melakukan penyapihan dini dibandingkan ibu rumah tangga karena keterbatasan waktu untuk menyusui langsung. Berdasarkan asumsi peneliti mengenai hubungan antara pekerjaan ibu dan penyapihan anak,ibu yang bekerja di luar rumaah cenderung kesulitan memberikan ASI secara eksklusif karena keterbatasan waktu akibat jam kerja yang mencapai 8 jam sehari. Meskipun beberapa ibu berusaha memerah ASI, jumlah yang dihasilkan sering kali tidak mencukupi kebutuhan bayi selama mereka bekerja. Beberapa ibu yang bekerja memilih untuk menyapih lebih awal karena produksi ASI yang menurun atau merasa kurang termotivasi untuk terus menyusui. Sementara itu, sebagian lainnya menyapih karena khawatir bentuk payudara mereka akan berubah. Alasan yang paling umum dikemukakan oleh ibu yang tidak menyusui adalah tuntutan pekerjaan. Semakin banyak perempuan yang aktif dalam bidang ekonomi dan mengembangkan diri, serta menyadari bahwa kebutuhan mereka lebih dari sekadar kebutuhan fisik dan reproduksi. Peran Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 ganda sebagai pekerja dan ibu rumah tangga dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam keluarga jika tidak dikelola dengan proporsional, yang dapat memengaruhi kesejahteraan anak. Bayi yang baru lahir membutuhkan ASI sebagai sumber utama nutrisi selama enam bulan pertama, sehingga ibu harus selalu siap untuk menyusui kapan Sebagai upaya mendukung pemberian ASI, pemerintah telah menerapkan kebijakan dengan menyediakan fasilitas khusus di empat ibu bekerja serta di tempat umum untuk membantu ibu menyusui, terutama bagi mereka yang bekerja. Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan berat badan bayi 0-10 kg sebanyak 43 orang . %), berat badan bayi 11-15 kg sebanyak 17 orang . %). Hasil ini sejalan dengan penelitian Oktaviani et al. yang menjelaskan bahwa bayi yang disapih sebelum usia 2 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan karena kehilangan nutrisi utama dari ASI yang tidak sepenuhnya tergantikan oleh susu formula. Penjelasan ini mengemukakan adanya hubungan antara penyapihan dan berat badan Pada anak usia di bawah 2 tahun. ASI merupakan sumber nutrisi terbaik untuk Meskipun peningkatan berat badan mungkin tidak terlalu signifikan, kandungan ASI tetap tidak dapat dibandingkan dengan susu formula yang beredar di pasaran. Transisi dari ASI ke susu formula dapat memengaruhi kondisi anak secara berbeda. Ada anak yang mengalami kenaikan berat badan, namun ada pula yang mengalami masalah pencernaan seperti diare. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam mencerna susu formula karena tidak mengandung enzim pencernaan yang diperlukan. Selain itu, anak yang tidak lagi menerima ASI berisiko kehilangan nutrisi penting dan antibodi yang hanya terdapat dalam ASI, sehingga mereka mungkin menjadi kurang aktif, kurang cerdas, serta lebih rentan terhadap penyakit dan alergi. Teori yang didukung oleh Kementerian Kesehatan (Depkes, 2. menyatakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi berat badan anak, salah satunya adalah asupan makanan. Pada anak usia di bawah 2 tahun. ASI merupakan sumber utama yang berperan penting dalam meningkatkan berat badan. Berat badan sendiri merupakan hasil dari perubahan massa berbagai jaringan tubuh, termasuk tulang, otak, lemak, dan cairan tubuh lainnya. Berdasarkan hasil penelitian juga di dapatkan ibu yang tahu tentang penyapihan dini sejumlah 34 orang . %), sedangkan ibu yang tidak tahu tentang penyapihan dini sejumlah 26 orang . %), responden yang mengetahui dampak penyapihan sejumlah 34 orang . %), responden yang tidak mengetahui dampak penyapihan sejumlah 26 orang . %), responden yang mengetahui cara penyapihan sejumlah 34 orang . %), responden yang tidak mengetahui cara penyapihan sejumlah 26 orang . %), responden mengetahui waktu yang tepat penyapihan sejumlah 34 orang . %). Responden yang tidak mengetahui waktu yang tepat penyapihan sejumlah 26 orang . %). Responden yang mengetahui stunting sejumlah 30 orang . %), responden yang tidak mengetahui stuntied sejumlah 30 orang . %). Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan dapat menjadi alat untuk meningkatkan berperilaku sesuai dengan pemahamannya. Perubahan dari periilaku yang didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maupun sikap positif cenderung lebih konsisten, karena muncul secara alami tanpa adanya paksaan dari pihak lain (Suryana, 2. Ini diperkuat oleh hasil studi dari Kurniawati et al. , yang menyimpulkan bahwa ibu dengan pengetahuan baik cenderung lebih konsisten dalam menyusui hingga anak berusia 2 tahun dan lebih Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 memilih metode penyapihan bertahap yang aman secara emosional dan fisiologis bagi Pengetahuan dapat dinilai melalui berdasarkan materi yang ingin diukur. Pemahaman terhadap pengetahuan yang akan diukur dapat disesuaikan dengan enam tahapan, . , . , menerapkan . , . , . , dan mengevaluasi . (Notoatmodjo, 2. Sedangkan sumber data yang sudah di dapatkan dari penelitian di Puskesmas barabaraya Makassar bahwa ibu yang tahu tentang penyapihan dini sejumlah 34 orang . %), sedangkan ibu yang tidak tahu tentang penyapihan dini sejumlah 26 orang . %). Jika dilihat dari data yang telah diperoleh lebih banyak ibu yang tahu tentang penyapihan dini. Penelitian dari Lestari et al. menunjukkan bahwa pengetahuan ibu yang kurang tentang stunting berkontribusi terhadap tingginya kejadian stunting pada balita, karena ibu tidak memahami pentingnya pemberian ASI dan MP-ASI yang adekuat. Berdasarkan data di atas, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu belum menerima informasi mengenai penyapihan. Padahal, informasi memegang peranan penting. Kurangnya pengetahuan dapat memengaruhi sikap ibu dalam menyapih anak, yang dapat menyebabkan praktik seperti mengoleskan jamu pada puting. Informasi yang tepat sangat penting untuk membantu ibu memperoleh Responden yang mengetahui dampak penyapihan sejumlah 34 orang . %), responden yang tidak mengetahui dampak penyapihan sejumlah 26 orang . %). Jika di lihat dari data di atas lebih banyak responden yang mengetahui dampang penyapihan. Menyapih terlalu dini dapat berdampak pada berkurangnya kedekatan antara ibu dan anak Selain itu, anak juga berisiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti diare dan kekurangan gizi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan malnutrisi. Peneliti juga mendapatkan responden yang masih melakukan penyapihan yang tidak benar, adapun responden yang tahu penyapihan yang benar sejumlah 34 orang . %), yang tidak mengetahui sejumlah 26 orang . %). Dari hasil data yang di dapat lebih banyak responden yang tahu penyapihan yang benar. Salah satu metode penyapihan yang dapat melakukannya secara bertahap. Pendekatan ini bertujuan agar anak dapat beradaptasi dengan perubahan tanpa merasa terkejut. Dalam proses ini, anak mulai dibiasakan untuk mengurangi frekuensi menyusu secara perlahan hingga akhirnya berhenti sepenuhnya. Tujuan dari penyapihan bertahap adalah sebagai pencegahan timbulnya dampak negatif akibat perubahan kebiasaan secara mendadak. Seperti yang dikemukakan oleh Buqrath dalam karyanya, perubahan yang terjadi secara tibatiba, baik dalam hal asupan makanan, pengosongan tubuh, perubahan suhu, atau aktivitas fisik yang tidak biasa, dapat membahayakan kesehatan seseorang. Semakin besar perubahan yang dilakukan secara drastis, semakin besar pula risikonya, karena hal tersebut bertentangan dengan proses alami Sebaliknya, perubahan yang dilakukan secara perlahan akan lebih mudah diterima dan kadaryang sedikit . maka hal iiu akan lebih terjaga. Ay Responden yang sudah tahu waktu yang tepat untuk penyapihan dan belum tahu waktu yang tidak tepat untuk penyapihan dapat dihubungkan dengan pengetahuan ibu. Berdasarkan data yang diperoleh, mayoritas responden, yaitu 34 orang . %), sudah mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan penyapihan, sementara hampir setengahnya. Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 yaitu 26 orang . %), masih belum mengetahui kapan waktu yang tidak tepat untuk menyapih. Responden yang telah menyapih anaknya pada waktu yang tepat menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman sebelumnya mengenai proses penyapihan. Sebaliknya, responden yang belum tahu waktu yang tidak tepat untuk penyapihan belum mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Periode penyapihan antara usia 6 bulan hingga 2 tahun merupakan masa yang rentan bagi anak, terutama jika ia tidak mendapatkan energi dan zat gizi yang cukup. Risiko ini meningkat jika anak tidak menerima makanan pendamping ASI yang memadai, tidak mengonsumsi makanan keluarga dengan baik, atau berhenti menyusu sebelum usia 2 tahun, misalnya karena ibunya kembali hamil. Selain itu, anak juga lebih rentan mengalami diare jika Kebiasaan memasukkan benda yang kotor kedalam mulut bisa mengakibatkan diare atau cacingan, sementara interaksi dengan anak - anak atau orang yang dewasa lain dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Pada saat yang sama, anak kehilangan kekebalan alami dari ASI, padahal sistem imunnya belum sepenuhnya berkembang untuk melawan infeksi secara mandiri (Maharani, 2. Dari data di atas peneliti juga mendapatkan responden yang masih kurang penyapihan dini,responden yang mengetahui tentang stuntied terhadap penyapihan sebanyak 30 orang . %),yang tidak mengetahui tentang stuntied terhadap penyapihan sebanyak 30 orang . %). Dari data tersebut lebih banyak yang mengetahui tentang stuntied terhadap penyapihan di bandingkan dengan yang tidak Stunting atau pendek merupakan kondisi gagal tumbuh pada bayi . - 11 bula. dan anak balita . -59 bula. akibat dari kekurangan gizi kronis terutama dalam 1. hari pertama kehidupan sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa Stunting dapat mulai terjadi sejak bayi lahir, namun kondisi ini biasanya baru terlihat jelas setelah anak mencapai usia 2 tahun (Khotijah. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang stunting, semakin kecil kemungkinan mereka memiliki balita yang mengalami Sementara itu, responden yang memiliki pengetahun tahu tentang penyapihan dini tidak mengalami kesulitan untuk memahami langkah-langkah dalam mengatasi stunting pada balita, penelitianini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara pengetahuan mengenai penyapihan dini dengan kejadian stunting pada balita. Namun, hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa pengetahuan dapat memengaruhi perubahan sikap ibu terhadap stunting. Ibu dengan pemahaman yang baik cenderung memiliki sikap yang lebih proaktif dalam mencegah dan mengatasi stunting pada anaknya. Hasil ini konsisten dengan penelitian oleh Rahmadani et . , yang menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan tinggi memiliki sikap proaktif dalam menjaga gizi dan pola makan anak serta lebih memahami dampak jangka panjang dari penyapihan dini yang tidak tepat. KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang ditarik oleh peneliti, . Diketahui dari 60 responden, ditemukan bahwa sebagian besar responden . %) mengetahui tentang penyapihan, dampak penyapihan dini, cara penyapihan yang benar, serta waktu yang tepat untuk penyapihan dini. Namun, masih terdapat 43% responden yang belum memiliki pemahaman mengenai hal-hal . Didapatkan 30 orang . %) yang Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 3. Agustus 2025 mengetahui tentang hubungan stunting terhadap anak yang di sapih dini, dan 30 orang . %) yang tidak mengetahui tentang hubungan stunting terhadap anak yang di sapih Hal ini di simpulkan bahwa 30 orang yang mengetahui tentang hubungan stunting terhadap anak yang di sapih dini dan 30 orang yang tidak mengetahui tentang hubungan stunting terhadap anak yang di sapih dini. DAFTAR PUSTAKA