Jurnal Ilmiah Pamenang - JIP E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 5 No. Desember 2023, 46 - 52 EFEKTIFITAS AKTIVITAS JALAN KAKI PADA LANSIA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN DIASTOLIK PADA PASIEN HIPERTENSI EFFECTIVENESS OF ELDERLY WALKING ON SYSTOLIC AND DIASTOLIC BLOOD PRESSURE IN HYPERTENSIVE PATIENTS Erni Rahmawati1. Dwi Rahayu2*. Astri Yunita3 1,2 STIKes Pamenang 3 STIKes Bhakti Mulia Kediri *Korespondensi Penulis : ns. dwirahayu@gmail. Abstrak Prevalensi penderita hipertensi tidak hanya terjadi di negara maju tetapi juga terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Latihan berjalan kaki menurunkan tekanan darah harian baik pada saat istirahat maupun saat aktivitas. Tujuan penelitian adalah efektifitas jalan kaki pada lansia terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment, dengan dua kelompok, yaitu kelompok intervensi . alan kak. dan kelompok kontrol . anpa intervens. Sampel penelitian yaitu klien hipertensi primer dengan jumlah 22 responden setiap kelompok, sehingga total 44 responden. Teknik sampling menggunakan simple random sampling, dengan responden klien hipertensi yang berdomisili di Dusun Cangkring Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, wilayah kerja Puskesmas Bendo. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dan Instrumen/alat ukur dalam pengumpulan data penelitian. Analisa data menggunakan uji wilcoxon dan mann-withney pada variabel tekanan darah. Hasil analisis perbedaan kelompok intervensi dan kontrol terhadap penurunan tekanan darah, yaitu pada tekanan darah sistolik didapatkan hasil p value 0,000 dan pada tekanan darah diastolik didapatkan hasil p value 0,000. Nilai rata-rata selisih tekanan darah diastolik yaitu 10,0 dan tekanan darah sistolik yaitu 9,00. Penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi setelah latihan jalan kaki disebabkan karena terjadinya beberapa mekanisme dalam tubuh yaitu penurunan aktivitas sistem saraf simpatis, penurunan resistensi total perifer vaskular, penurunan curah jantung, meningkatkan sensivitas barorefleks dan menurunnya volume plasma. Aktivitas jalan kaki dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik pada pasien hipertensi, sehingga dapat sebagai alternative aktifitas fisik dalam menurunkan tekanan darah. Kata kunci : Jalan kaki. Lansia. Tekanan Darah. Hipertensi Abstract The prevalence of hypertension not only occurs in developed countries but also in developing countries including Indonesia. Walking exercise lowers daily blood pressure both at rest and during activity. The purpose of the study was the effectiveness of walking in the elderly on systolic and diastolic blood pressure in hypertensive patients. This study used a quasi experiment method, with two groups, namely the intervention group . and the control group . ithout The research sample was primary hypertension clients with a total of 22 respondents per group, making a total of 44 respondents. Data collection techniques using simple random sampling, with respondents all hypertensive clients who live in the Bendo Health Center working Data analysis techniques using Wilcoxon and Mann-Withney tests on blood pressure The results of the analysis of differences between the intervention and control groups on blood pressure reduction, namely on systolic blood pressure obtained p value 0. 000 and on diastolic blood pressure obtained p value 0. The average value of the difference in diastolic blood pressure is 10. 0 and systolic blood pressure is 9. The decrease in blood pressure in hypertensive patients after walking exercise is due to several mechanisms in the body, namely Submitted Accepted Website : 10 Agustus 2023 : 13 November 2023 : jurnal. di | Email : jurnal. pamenang@gmail. Efektifitas Aktivitas Jalan Kaki Pada Lansia . (Erni Rahmawati, dk. decreased sympathetic nervous system activity, decreased total peripheral vascular resistance, decreased cardiac output, increased baroreflex sensitivity and decreased plasma volume. Keywords : Walking. Elderly. Blood Pressure. Hypertensi Pendahuluan Tekanan darah adalah kekuatan yang dihasilkan oleh aliran darah terhadap tiap satuan luas dari dinding pembuluh darah (Riyadina. Martha, and Anwar 2. Nilai tekanan darah (BP) ditentukan oleh perkalian curah jantung (CO) dengan tahan total perifer (TPR). Nilai curah jantung didapatkan dari perkalian denyut jantung dan isi sekuncup, sedangkan tahan perifer total merupakan gabungan tahapan pembuluh darah perifer. Tekanan darah adalah kekuatan lateral pada dinding arteri oleh darah yang didorong dengan tekanan dari jantung (Sylvestris 2. Prevalensi penderita hipertensi tidak hanya terjadi di negara maju tetapi juga terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil data WHO pada tahun 2008 angka kematian penyakit tidak menular di Indonesia mencapai 647 per 100. Salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian paling umum adalah hipertensi. Berdasarkan data hipertensi merupakan penyakit penyebab kematian peringkat ketiga di Indonesia dengan CFR (Case Fatality Rat. sebesar 4,81%. Prosentase pria yang menderita hipertensi lebih tinggi dibanding wanita hingga usia 45 tahun dan sejak usia 45-64 tahun prosentasenya sama, kemudian mulai dari 64 tahun ke atas, prosentase wanita yang menderita hipertensi lebih tinggi dari pria (Firmansyah and Wahab 2. Penurunan tekanan darah sangat penting bagi pasien hipertensi guna mengurangi terjadinya komplikasi (Natalia. Lestari, and Prasida 2. Manfaat yang dapat diperoleh dengan penurunan tekanan darah antara lain menurunkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner sebesar 5-9% dan stroke sebesar 8-14% dengan menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 3 mmHg. The Framinghan Heart Study mengungkapkan bahwa dengan mengurangi tekanan darah diastolik sebesar 2 mmHg dapat mengurangi resiko penyakit jantung koroner sebesar 9% dan insiden stroke sebesar 15%. Penurunan 7,5 mmHg pada DBP mengurangi resiko penyakit jantung koroner sebesar 29% dan insiden stroke sebesar 48% (Kurniadi 2. Menurut data menunjukkan tingkat aktivitas penduduk masih rendah, sekitar 60 Di Indonesia tidak ada data pasti tentang aktivitas fisik di masyarakat, tetapi belakangan ini terjadi kecenderungan perubahan perilaku gaya hidup masyarakat menjadi kurang bergerak (Emi Inayah Sari Siregar 2. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di daerah perkotaan bahkan telah menyebar ke pedesaan seiring dengn kemudahan bagi masyarakat. American College of Sport Medicine merekomendasikan latihan aerobik . isalnya: berjalan, berlari, bersepeda dan berenan. sebagai latihan utama untuk mencegah dan mengontrol hipertensi (Lasung. Lepius. Antara. Agung, and Jati 2. Pada latihan jalan kaki yang merupakan latihan aerobik terdapat respon awal berupa peningkatan intensitas kerja yang secara sekunder disebabkan oleh peningkatan curah jantung. Penurunan resisten ini lebih jelas terjadi pada tekanan darah diastolik. Setelah melakukan latihan berjalan kaki untuk waktu 6 menit tertentu pasien hipertensi akan mengalami penurunan tekanan darah dan juga peningkatan fungsi jantung (Fadila and Solihah 2. Latihan berjalan kaki menurunkan tekanan darah harian baik pada saat istirahat maupun saat aktivitas (Tiwari, 2. , yaitu dengan cara berjalan kaki santai selama 30 menit sehari dan dilakukan beberapa kali perminggu (Chobanian et al. Olahraga dengan aktivitas kurang memiliki resiko mengalami hipertensi. Perubahan mencolok sistem kardiovaskuler pada saat beraktivitas termasuk peningkatan aliran darah otot rangka, peningkatan bermakna curah jantung, penurunan tesistensi perifer total dan peningkatan sedang tekanan arteri rata-rata (Sumarta 2. Terapi non farmakologis berdasarkan algoritma penanganan yang dikeluarkan oleh The Joint National On Detection Evaluation and Treatment of High Blood Pressure pengobatan hipertensi dimulai dengan modifikasi gaya hidup. Tujuan modifikasi gaya hidup pada klien adalah untuk memperoleh tekanan darah yang terkontrol, menurunkan faktor resiko dan mengurangi Efektifitas Aktivitas Jalan Kaki Pada Lansia . (Erni Rahmawati, dk. jumlah antihipertensi yang harus dikonsumsi (Christine Aden. Barto Mansyah, and Berthiana . T 2. Modifikasi gaya hidup klien dengan hipertensi dapat dilakukan dengan cara (Agus et al. Kegagalan menurunkan tekanan darah pada beberapa individu telah menimbulkan kemungkinan terdapat kelompok individu yang memberikan respons baik dan kelompok individu yang memberikan respons negatif (Oliveros et al. Terdapat respons akut tekanan darah saat latihan, respons akut ini tergantung dari jenis latihan yang digunakan. Pada latihan berjalan kaki yang merupakan latihan aerobik terdapat respon awal berupa peningkatan secara linier tekanan darah sistolik yang terjadi bersamaan dengan peningkatan intensitas kerja yang secara sekunder disebabkan oleh peningkatan curah jantung. Penurunan resisten ini lebih jelas terjadi pada tekanan darah diastolic (Lee. Kim, and Cho 2. Setelah melakukan latihan berjalan kaki untuk waktu tertentu pasien hipertensi akan mengalami penurunan tekanan darah dan juga peningkatan fungsi jantung (Eliani. Yenny, and Sukmawati 2. Metode Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment, dengan dua kelompok, yaitu kelompok intervensi . alan kak. dan kelompok kontrol . anpa intervens. Sampel penelitian yaitu klien hipertensi primer dengan jumlah 22 responden setiap kelompok, dengan rincian kelompok intervensi . dan kelompok kontrol . sehingga total 44 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan simple random sampling, dengan responden klien hipertensi yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Bendo yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian yaitu . Penderita hipertensi dengan tekanan darah sistolik Ou 140mmHg dan atau diastolik Ou 90mmHg yang didiagnosis oleh dokter puskesmas, dan . Bersedia menjadi Variabel dalam penelitian yaitu variable independen . ktivitas jalan kak. dan variable dependen . ekanan darah sistolik dan tekanan darah diastoli. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan alat ukur . Teknik analisa data menggunakan uji wilcoxon dan mann-withney pada variabel tekanan darah. Hasil Hasil Karakteristik Data Demografi dan Riwayat Berikut ini karakteristik responden berdasarkan status umur, jenis kelamin, nutrisi, dan riwayat hipertensi, lama hipertensi, penggunaan obat, diabetes melitus, stroke, gagal jantung, merokok, aktifitas fisik, stress, serta konsumsi lemak, natrium dan Tabel 1. Data Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di wilayah kerja Puskesmas Bendo Kabupaten Kediri Tahun 2016 Kelompok Kelompok No. Kategori 1 Umur . < mean 15 34,1 Ou mean 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 18 40,9 3 Berat badan < mean Ou mean 4 Tinggi badan < mean 12 27,3 Ou mean 10 22,7 5 Riwayat diabetes melitus Tidak 22 50,0 6 Riwayat stroke Tidak 22 50,0 7 Riwayat gagal jantung Tidak 22 50,0 8 Riwayat gagal ginjal Tidak 22 50,0 9 Riwayat merokok Tidak 18 40,9 Hasil Uji Homogenitas dan Reliabilitas Data Tekanan Darah Efektifitas Aktivitas Jalan Kaki Pada Lansia . (Erni Rahmawati, dk. Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas Variabel TDS pre TDD pre Kelompok Kontrol Intervensi p value Ket. 0,529 Homog Kontrol Intervensi 0,345 Homog *Nilai kemaknaan p > . Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Variabel TDS pre Kelompok statistic Kontrol 0,002 Intervensi TDD pre Kontrol 0,000 Intervensi * Nilai kemaknaan p > . Ket. Tidak Tidak Hasil Karakteristik Data Tekanan Darah Tabel 4 Perbedaan TDS dan TDD TDS TDD Pre-Post Negatif Positif Sama n Mean Rank 10,00 0,00 Total Negatif Positif Sama 9,00 0,00 p value 0,000* 0,000* Total *Uji Wilcoxon nilai p value < . , n = 44 Tabel 5 Perbedaan rerata TDS dan TDD Post Intervensi Kel. Mean p value Rank TDS . Kontrol 21,25 0,514 Intervensi 23,75 TDD . Kontrol 25,11 0,161 Intervensi 19,89 TDS . Kontrol 26,41 0,041 Intervensi 18,59 TDD . Kontrol 28,02 0,003 Intervensi 16,98 TDS . Kontrol 30,55 0,000 Intervensi 14,45 TDD . Kontrol 27,36 0,004 Intervensi 17,64 * Uji mann-withney nilai p < . , n = 44 Pembahasan Hasil penelitian ini sesuai dengan literatur yang mengemukakan tentang Penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi setelah latihan jalan kaki disebabkan karena terjadinya beberapa mekanisme dalam tubuh yaitu penurunan aktivitas sitem saraf simpatis, penurunan resistensi total perifer vaskular, penurunan curah jantung, meningkatkan sensivitas barorefleks dan menurunnya volume plasma (Ungvari et al. Latihan berjalan kaki menurunkan tekanan darah harian, baik pada saat istirahat maupun saat aktivitas (Mills. Stefanescu, and He 2. Selain itu juga aktifitas latihan jalan kaki terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada tubuh setelah melakukan latihan dengan berjalan kaki secara kontinue, antara lain . ukuran jantung, peningkatan isi sekuncup, dan peningkatan kapasitas paru serta peningkatan VO2 yang maksimal (Lee. Kim, and Cho Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan data bahwa terdapat pengaruh latihan jalan kaki terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi saat dirawat dirumah sakit, namun pada penelitian ini hanya memberikan dampak pada tekanan darah sistolik saja, sedangkan pada tekanan darah diastolik masih tidak ada perubahan setelah latihan jalan kaki. Berbeda dengan hasil penelitian ini intervensi jalan kaki dapat berpengaruh pada tekanan darah sistolik dan diastolik, sehingga perlu adanya pemantuan dan tahap yang lebih efektif dalam pelaksanaan terapi atau latihan jalan kaki. Pemantaun tersebut dapat mengurangi dampak terjadi penurunan tekanan darah yang terlalu banyak, sehingga dapat membuat kondisi responden semakin memburuk (Oliveros et al. Pada penelitian ini penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi setelah latihan jalan kaki disebabkan karena terjadinya beberapa mekanisme dalam tubuh, yaitu . penurunan aktivitas sitem saraf simpatis, penurunan resistensi total perifer vaskular, penurunan curah jantung, meningkatkan sensivitas barorefleks dan menurunnya volume plasma. Latihan berjalan kaki menurunkan tekanan darah harian, baik pada saat istirahat maupun saat aktivitas ringan, sehingga latihan ini bisa digunakan dalam Efektifitas Aktivitas Jalan Kaki Pada Lansia . (Erni Rahmawati, dk. kondisi dan lingkungan yang relatif mudah dikondisikan (Yusuf Eka Dana 2. Stres meningkatkan tahanan vaskuler perifer dan kardiak output serta merangsang aktivitas system saraf simpatik (Sumarta Tubuh akan bereaksi dengan meningkatkan ketegangan otot, denyut janyung dan meningkatkan tekanan darah ketika seseorang mengalami stress. Reaksi ini dipersiapkan oleh tubuh, yang mana bila tidak digunakan akan menimbulkan penyakit termasuk hipertensi (Pariyem 2. Rokok, konsumsi alkohol berlebihan dan penggunaan obat terlarang merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi. Nikotin dalam rokok dan obat seperti kokain berefek langsung terhadap peningkatan tekanan darah dan insidennya semakin meningkat ketika digunakan secara terus-menerus. Insiden hipertensi juga meningkat pada kien yang mengkonsumsi lebih dari 30 cc alkohol setiap hari (Oktaviani. Noor Prastia, and Dwimawati Olahraga dengan aktivitas kurang memiliki resiko mengalami hipertensi. Perubahan mencolok sistem kardiovaskuler pada saat beraktivitas termasuk peningkatan aliran darah otot rangka, peningkatan bermakna curah jantung, penurunan tesistensi perifer total dan peningkatan sedang tekanan arteri rata-rata (Ungvari et al. Menjadi aktif secara fisik merupakan bagian penting dari menjalani pola hidup sehat dan dapat membantu untuk menurunkan tekanan darah. Pada usia berapa pun, aktivitas fisik memberikan berbagai manfaat kesehatan. Mencoba untuk menjadi aktif setiap hari, dapat dilakukan dengan berjalan kaki bersepeda untuk bekerja atau ke toko, berkebun, berenang bergabung dengan klub atau mencoba olahraga baru. Aktivitas setiap hari didasarkan pada model aktivitas . erjalan, berlatih dan berseped. , dengan frekuensi 3-5 hari seminggu, dengan durasi 20-60 menit dengan intensitas 60-90% dari heart rate maximum yang dapat dinilai dengan menggunakan formula karnoven . -umur = heart rate maksima. Program latihan fisik perlu disesuaikan dengan obat antihipertensi yang dikonsumsi. Obat yang dapat menurunkan tahanan perifer dengan menginduksi vasodilatasi dapat menimbulkan hipotensi setelah latihan. Pada keadaan ini diperlukan pendinginan yang cukup untuk membantu mendistribusikan kembali aliran darah (Lasung. Lepius. Antara. Agung, and Jati 2. Obat yang mengurangi cardiac output dengan jalan menurunkan frekuensi denyut jantung membutuhkan kriteria intensitas latihan fisik yang bukan didasarkan pada frekuensi denyut jantung. Penderita hipertensi yang mempergunakan diuretik dapat mengakibatkan disrithmia jantung selama latihan sehingga perlu dilakukan monitor irama jantung yang lebih Beberapa obat lain dapat sekaligus mempengaruhi denyut jantung dan total peripheal resistence. Oleh karenanya program latihan harus senantiasa disesuaikan dengan keadaan individu. Secara keseluruhan program latihan didasarkan pada respon spesifik denyut jantung dan tekanan darah penderita terhadap latihan fisik. Perubahan jenis dan dosis obat antihipertensi juga membutuhkan penyesuaian program latihan (Fadila and Solihah 2. Konsumsi sodium dengan dosis tinggi dapat menjadi faktor penting dalam perkembangan hipertensi primer. Hal ini terjadi karena tingginya sodium dapat merangsang pengeluaran natriuretik hormon meningkatkan tekanan darah. Asupan natrium yang berlebih menyebabkan tubuh meretensi cairan, yang akan meningkatkan volume darah, sebagai akibatnya jantung harus memompa dengan kuat untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang yang semakin sempit, memicu peningkatan tekanan darah (Diana Helda and Ludia Seprianti 2. Kesimpulan Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat efektivitas jalan kaki pada lansia terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi. Dalam pengembangan kebijakan tentang aktivitas fisik yaitu jalan kaki sebagai salah satu komplementar untuk klien hipertensi dan bisa digunakan sebagai alternatif dalam kegiatan sehari-hari di perlahan-lahan merubah gaya hidup yang Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak khususnya para lansia Dusun Cangkring Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, wilayah kerja Puskesmas Efektifitas Aktivitas Jalan Kaki Pada Lansia . (Erni Rahmawati, dk. Bendo yang banyak memberikan bantuan dan dukungan, serta ucapan terimakasih kepada STIKes Pamenang yang telah memberikan izin melaksanakan penelitian. Daftar Pustaka