Vol. No. Oktober 2025. DOI: https://doi. org/10. 60011/jumpa. DIGITALISASI DALAM KEGIATAN KATEKESE SEBUAH STUDI LITERATURE REVIEW Stefanus Dama Muda. Florianus Pruda Muda. Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Indonesia stefanusdamamuda@gmail. Universitas Teknologi Yogyakarta. Indonesia florianuspmuda@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menyintesis literatur yang ada mengenai kekurangan dan kelebihan digitalisasi dalam katekese. Data dikumpulkan dari artikel jurnal yang relevan yang dipublikasikan dalam lima tahun Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun digitalisasi dalam kegiatan katekese menawarkan banyak kelebihan tetapi juga memiliki kekurangan yang sangat urgen seperti minimnya pengetahuan umat dalam memanfaatkan dan mengoperasikan media digital untuk kegiatan katekese, kurangnya infrastruktur pendukung, kurangnya minat umat terhadap konten yang bernuansa rohani, sebagian umat memanfaatkan media digital untuk menyampaikan informasi pertemuan tertentu, dan sebagian umat juga mengikuti katekese online secara pasif. Untuk itu, penelitian ini memberikan rekomendasi kepada Gereja, para katekis dan umat untuk mengatasi tantangan ini guna meningkatkan efektivitas digitalisasi dalam katekese. Kata Kunci: Digitalisasi. Katekese. Kekurangan. Kelebihan. Systematic Literature Review Abstract This study aims to analyse and synthesise existing literature on the advantages and disadvantages of digitisation in Data was collected from relevant journal articles published in the last five years. The results of the study show that although digitisation in catechetical activities offers many advantages, it also has very urgent disadvantages, such as the lack of knowledge among the faithful in utilising and operating digital media for catechetical activities, the lack of supporting infrastructure, the lack of interest among the faithful in spiritual content, some of the faithful utilising digital media to convey information about certain meetings, and some of the faithful also passively participating in online catechesis. Therefore, this study provides recommendations to the Church, catechists, and the faithful to overcome these challenges in order to increase the effectiveness of digitisation in Keywords: Digitalisation. Catechesis. Shortcomings. Advantages. Systematic Literature Review PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan informasi terus merambah ke dalam setiap aspek kehidupan manusia sekaligus membantu memperlancar setiap pekerjaan manusia. Orang tidak lagi mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Hal yang sama juga terjadi dalam institusi-institusi sosial dan keagamaan. Setiap institusi-institusi sosial dan keagamaan dengan caranya sendiri memanfaatkan teknologi dan informasi untuk memperlancar kegiatan atau tugas yang telah ditetapkan atau dicanangkan. Gereja Katolik merupakan salah satu institusi keagamaan melihat situasi ini sebagai salah satu media pewartaan iman. Hal Page | 34 yang sama ditegaskan oleh Afandi . dalam Herlinda Keron & Emmeria Tarihoran . bahwa Aosituasi seperti ini menuntut Gereja untuk terjun dan berpartisipasi dalam tren modernisasi saat ini. Hal ini ditandai dengan masuknya teknologi digital dalam pelayanan Gereja saat iniAo. Gereja Katolik menyadari bahwa kehadiran dan perkembangan teknologi memberi ruang baru bagi Gereja untuk berpastoral dan menjangkau kebutuhan umat (Stepanus Angga & Antonius Denny Firmanto, 2. Salah satu harapan bagi Gereja adalah tidak ragu untuk memanfaatkan berbagai platform dalam media komunikasi modern untuk kegiatan katekese (Andreas Sainyakit, et. , 2. Yoyok . sebagaimana dikutip oleh Dominikus Irpan, et. , 2022 mengungkapkan bahwa katekese adalah Aobagian utuh dari usaha Gereja untuk melaksanakan pewartaan sabda Allah di tengah realitas konkret kehidupan umat KatolikAo. Dengan demikian, kegiatan katekese merupakan salah satu bentuk perwujudan karya pastoral Gereja (Gregorius Dimas Arya Pradipta & Hadrianus Tedjoworo, 2. Untuk merealisasikan kegiatan katekese, maka dalam katekese dibutuhkan adanya perencanaan matang, entah mengenai isi, metode, maupun sarana yang digunakan. Salah satu yang dibutuhkan dalam memperlancar kegiatan katekese adalah sarana misalnya, pemanfaatan media sosial seperti Facebook. WhatsApp. TikTok. Instagram, dan YouTube. Hal ini penting yang tidak hanya memudahkan Gereja melaksanakan kegiatan katekese tetapi juga mengikuti perkembangan gaya hidup umat beriman di tengah kemajuan teknologi agar dapat merangkul semua anggota komunitas teritorial atau lingkungan (Kanisius Komsiah Dadi, 2. Dhiu . sebagaimana dikutip oleh Fransiska Masandai Jawan & Emmeria Tarihoran . juga menegaskan bahwa Aopewartaan dengan media digital bertujuan memudahkan perjumpaan dengan Tuhan dan sesamaAo. Untuk itu. Gereja harus berusaha untuk memberikan ruang yang baru dengan memanfaatkan media sosial dan internet untuk menunjang dan memperlancar kegiatan katekese agar dapat membantu umat semakin dekat dengan Tuhan dan menumbuh-kembangkan iman umat. Dengan demikian. Odi & Darianto, . sebagaimana dikutip oleh Chechilia A. Banjarnahor & Intansakti Pius X . menekankan bahwa. AoGereja tidak hanya mempertahankan relevansinya di tengah kemajuan teknologi, tetapi juga berkontribusi dalam membangun komunitas yang lebih kuat, di mana nilainilai Injil dapat terus diterapkan dan diwariskan kepada generasi mendatangAo. Maka dari itu, pentingnya memahami dan mengadaptasi model katekese dengan teknologi, terutama media digital agar memudahkan penyampaian ajaran injili dan nilai kristiani ke berbagai lapisan umat dan seorang katekis dalam berkatekese (Agnes Dwi Rahayu, & Intansakti Pius X, 2. Dalam konteks umat Gereja Katolik. Skolastika Dinda Ayu Maharani & Emmeria Tarihoran . menegaskan bahwa Aumelalui katekese digital, umat Katolik diajak memperdalam iman melalui komunikasi digitalAy. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung proses katekese yang lebih efektif di era modern. Dengan cara ini, umat Katolik diberi kesempatan untuk lebih mudah mengakses materi-materi iman, baik dalam bentuk teks atau audio yang memungkinkan mereka untuk belajar dan merenungkan ajaran agama kapan saja dan di mana saja. Gereja Katolik tidak hanya memperluas jangkauan pengajaran iman, tetapi juga menyesuaikan diri dengan cara-cara baru yang lebih menarik dan interaktif dalam menjangkau umat. Dengan demikian, katekese digital tidak hanya berfungsi sebagai alat pembelajaran, tetapi juga sebagai media yang mempererat hubungan antarumat dalam Gereja universal. Meskipun demikian, di tengah perkembangan teknologi, tantangan dan kesulitan dalam digitalisasi katekese tidak bisa diabaikan misalnya. tidak semua daerah memiliki akses internet yang stabil dan cepat. tidak semua orang, terutama generasi yang lebih tua, terbiasa atau nyaman menggunakan teknologi digital. dan konten digital sering kurang komprehensif atau interaktif dibandingkan dengan katekese tatap muka. Meskipun tantangan digitalisasi sangat signifikan, tetapi memiliki potensi besar misalnya. membantu para katekis untuk memberikan bahan katekese kepada umat dan juga membantu umat untuk meningkatkan kehidupan iman mereka sekaligus semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Page | 35 Bertolak dari uraian di atas, penelitian dan pengembangan dalam bidang ini menjadi penting untuk menjaga pertumbuhan iman umat di era digital. Dengan memanfaatkan literatur terkini, jurnal ini akan menjawab rumusan masalah utama yaitu apa saja kekurangan dan kelebihan dari digitalisasi dalam kegiatan katekese bagi pertumbuhan dan perkembangan iman umat. Untuk itu, tujuan utama tulisan ini adalah memaparkan kekurangan dan kelebihan digitalisasi dalam kegiatan katekese yang dihimpun dari berbagai artikel hasil penelitian yang diakses melalui Google Scholar. Dengan demikian, penelitian ini dapat membantu pihak Gereja dan para katekis serta umat untuk memperbaiki hal mana yang masih kurang dan hal mana yang membutuhkan pertimbangan lanjutnya agar pemanfaatan digitalisasi dalam kegiatan katekese dapat berkembang dengan lebih baik sesuai kebutuhan Gereja dan umat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR). Menurut B. Barricelli, et. , . Razavian, et. , . Lusiana & M. Suryani . sebagaimana dikutip oleh Evi Triandini, et. , . mencatat bahwa Aometode Systematic Literature Review (SLR) bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menafsirkan semua penelitian yang tersedia dengan bidang topik fenomena yang menarik, dengan pertanyaan penelitian tertentu yang relevanAo. Metode Systematic Literature Review dilakukan dengan lima tahapan yang dijelaskan oleh Nurfadilah et al. , . dan Fitriani & Putra . sebagaimana dikutip Hasna Nur Alifah et. , . yaitu: Ao. membuat perumusan terhadap pertanyaan penelitian, . memetakan dan mencari artikel yang sesuai dengan pertanyaan penelitian yang diajukan, . melakukan inklusi/klasifikasi dan eksklusi/evaluasi dengan menyeleksi terhadap artikel yang sudah dikumpulkan, . menyajikan dan mengolah data, . menginterpretasi hasil temuan dalam artikel tersebut dan berakhir pada penarikan kesimpulanAo. Berdasarkan pengertian metode Systematic Literature Review dan tahapan-tahapannya di atas, dalam artikel ini, penulis menggunakan metode Systematic Literature Review untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menafsirkan hasil penelitian dari berbagai peneliti tentang digitalisasi dalam katekese. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan dari digitalisasi dalam Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti mengumpulkan dan menganalisis berbagai penelitian yang relevan. Untuk itu, langkah-langkah penelitian ini melibatkan pencarian literatur di Google Scholar dengan kata kunci Audigitalisasi dalam katekeseAy dan Aukatekese digitalAy serta membatasi artikel dari tahun 2019 hingga 2024. Dalam pencarian literatur, penulis menemukan 128 artikel, dipilih 20 artikel yang relevan, kemudian dipelajari secara mendetail hingga tersisa 8 artikel yang sesuai dengan tema tulisan ini. Artikel ini kemudian dijadikan bahan pembahasan, diskusi, kesimpulan, dan saran penelitian, sementara artikel yang tidak relevan dikecualikan. KAJIAN PUSTAKA Katekese berasal dari bahasa Yunani AoKatecheinAo dalam artian menggemakan Sabda Allah (Petriana Dae Lelangwayan & Emmeria Tarihoran, 2. Katekese adalah Auproses komunikasi iman yang mencakup pengetahuan dan pengalaman iman, dengan tujuan memperkuat, menghidupkan, dan memperluas iman hingga mencapai tingkat perilaku beriman yang matang, yang mampu menghadapi segala tantangan kehidupanAy (Petriana Dae Lelangwayan & Emmeria Tarihoran, 2. Paus Yohanes Paulus II dalam anjuran apostoliknya Catechesi Trandendae, 18 sebagaimana dikutip oleh Dominikus Irpan, et. , . mengatakan bahwa. Aokatekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, khususnya penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar pada pendengar memasuki kepenuhan hidup KristenAo. Dengan demikian, katekese adalah proses pembinaan iman yang bertujuan memperkuat dan mengembangkan iman umat yang Page | 36 mana harus dilakukan secara terorganisir untuk membawa semua umat menuju kehidupan Kristen yang Hal yang sama juga ditegaskan oleh Woga . sebagaimana dikutip oleh Andreas Sainyakit, et. , . bahwa kegiatan katekese Aomenolong umat untuk bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan hidup keagamaan, serta mampu mengamalkan iman itu dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mengantar orang untuk percaya secara mendalam kepada Yesus dan akhirnya menjadi Kristus yang lain . lter Cristu. Ao. Sedangkan katekese digital adalah Aupenggunaan teknologi digital untuk menyampaikan pengetahuan dan nilai-nilai iman kepada orang-orang dengan cara yang mudah dipahami dan relevan dengan dunia digital saat iniAy (Floriana Doa & Emmeria Tarihoran, 2. Katekese digital merupakan Aucara berkatekese . eliputi kemasan, penyajian, interaksi, dan penuturanny. menggunakan media teknologi digital dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan imanAy (Komisi Kateketik KWI, 2. Dengan demikian, katekese digital adalah cara menyampaikan ajaran dan nilai iman dengan memanfaatkan teknologi digital. Pendekatan ini membuat pengetahuan agama lebih mudah dipahami dan relevan dengan perkembangan dunia digital saat ini. Dalam katekese digital, media teknologi digunakan untuk menyajikan ajaran agama dengan cara yang menarik, interaktif, dan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan iman. Untuk merealisasikan katekese digital, maka dibutuhkan media pendukung, seperti Facebook. TikTok. YouTube, dan platform digital lainnya. Media sosial ini memungkinkan penyebaran informasi dengan cepat dan luas sehingga dapat menjangkau lebih banyak orang. Hal ini karena platform digital menawarkan format yang beragam, seperti video, gambar, dan teks, yang memudahkan penyampaian pesan iman secara menarik dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan ketentuan kriteria artikel yang telah ditetapkan oleh peneliti, artikel yang berhasil diperoleh untuk penelitian ini berjumlah delapan artikel yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2019 Keseluruhan artikel yang terpilih menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yang dianggap paling relevan untuk menggali pemahaman yang mendalam tentang topik yang diteliti. Subjek penelitian dalam artikel-artikel tersebut adalah umat Katolik, dengan fokus pada kelompok yang tidak dibatasi oleh kategori atau klasifikasi tertentu, sehingga memberikan gambaran yang lebih luas dan Rincian analisis penelitiannya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1. Analisis Penelitian Kualitatif digitalisasi dalam Kegiatan Katekese Kategori Artikel Kode Artikel Jumlah Artikel Persentase Kualitatif A1. A2. A3. A4. A5. A6. A7. Kuantitatif Korelasi Survey Eksperimen Tabel 2. Data Artikel Digitalisasi dalam Kegiatan Katekese Tahun 2019-2024 Tahun Jumlah Artikel Page | 37 Tabel 3. Hasil Penelitian Kelebihan dan Kekurangan Digitalisasi dalam Katekese Peneliti dan Jurnal Hasil Penelitian Tahun Kekurangan Kelebihan Kristophorus Media Audio Belum semua OMK dapat Meningkatkan minat OMK dalam Ukat, 2019 Visual sebagai menggunakan media audio visual berkatekese secara signifikan. Sarana Katekese untuk meningkatkan katekese OMK di Paroki karena keterbatasan sarana. Santo Petrus Kanisius Manufui. Teresia N. Derung, 2021 Maria Pulo Muda, 2022. In Veritate Lux: Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi. Pendidika. Antropologi, dan Budaya. Media Sosial sebagai Sarana Katakese Mahasiswa di Malang. Jawa Timur. KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Media Sosial sebagai Sarana Pewartaan di Era Digital di Kalangan Orang Muda Paroki Weri. JAPB: Jurnal Agama. Pendidikan dan Budaya. Beberapa mahasiswa terlibat dalam kegiatan katekese secara pasif atau situasional, hanya karena tuntutan kondisi misalnya, mereka menggunakan media sosial hanya saat mengerjakan tugas terkait mata kuliah tertentu. Keterlibatan mahasiswa dalam menggunakan media sosial sebagai sarana katekese berjalan baik dengan skor 1,72. Uji binomial menunjukkan nilai z = 4,05, yang lebih rendah dari taraf signifikan 0,05. Penggunaan media sebagai sarana pewartaan belum menjadi gerakan bersama karena kurangnya sosialisasi dan pelatihan tentang pewartaan melalui media sosial. Tidak semua OMK menggunakan media sosial untuk pewartaan karena mereka tidak memiliki konten sendiri dan hanya meneruskan konten dari orang lain. Minimnya pemahaman OMK tentang katekese juga berkontribusi pada kurangnya inisiatif dalam membuat konten pewartaan. Media sosial belum menjadi sarana utama pewartaan bagi Orang Muda Katolik (OMK). Banyak yang menggunakannya untuk keperluan lain di luar karya pewartaan, masih terikat pada dunia mereka sendiri. Kelompok-kelompok OMK di OMK Paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Weri memahami arti, peran, dan fungsi media sosial, dan semua anggotanya memiliki media sosial. Ini dibuktikan dengan adanya grup WhatsApp khusus OMK untuk berbagi informasi kegiatan. Page | 38 Igansius N. Saputra, 2022. Natalia T. Ikanubun & Donatus Wea. IPTEK sebagai Sarana Berkatekese dalam Pembinaan Iman Siswa/I Khususnya di Masa Pandemi Covid-19. In Theos: Jurnal Pendidikan dan Theologi. TikTok sebagai Media Alternatif dan Relevan dalam Katekese Sekolah di SMP Santo Mikhael Merauke. media sosial hanya digunakan untuk menyebarkan informasi tentang pertemuan, kerja bakti, dan program kerja, bukan sebagai media pewartaan atau solusi iman bagi semua orang. Guru senior sering kesulitan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi Peneliti tidak memasukan kekurangan siswa SMP Santo Mikhael dalam menggunakan aplikasi TikTok. Sapa: Jurnal Kateketik dan Pastoral Harefa. Katekase Online Pendidikan Iman di Paroki Santa Maria BPB Gunungsitoli Nias. Dharmas Education Journal Upaya katekese sudah ada di postingan Facebook paroki, namun masih berupa renungan dan kegiatan rohani lainnya. Belum ada katekese terencana untuk memberikan sapaan rohani, menanggapi permasalahan umat, dan membina iman umat. Mereka cenderung pasif dalam mencari informasi dan menanggapi informasi sesuai nilai dan keyakinan pribadi. Tidak banyak umat yang mengikuti akun media sosial paroki. Umat lebih tertarik pada konten hiburan seperti tarian dibandingkan renungan. Pemanfaatan IPTEK sangat membantu proses belajar-mengajar dan katekese TikTok menjadi media alternatif yang sangat relevan untuk katekese di SMP Santo Mikhael Merauke. Siswa sangat familiar dengan TikTok dan sering TikTok adalah platform yang baik dan mudah digunakan untuk menyampaikan pesan dengan cara yang lucu dan menghibur, durasi singkat namun kaya pesan, siswa tertarik dengan konten ajaran iman Katolik yang sesuai usia mereka, dan TikTok lebih cocok sebagai media katekese dibandingkan aplikasi lainnya. Berdasarkan data peneliti, katekese online terbukti tepat dan penting. Peningkatan aktivitas di media sosial membuka peluang katekese online menjangkau lebih banyak Page | 39 Christina Flayembuna, , 2023. Penguatan Iman Anak Biak melalui Media Audio Visual Paroki Ratu Pecinta Damai Surabaya. Beberapa anak mungkin masih merasa malu untuk berbicara karena sudah memasuki tahap Namun, proses pembinaan iman tetap berjalan, dan anak-anak masih antusias untuk In Theos: Jurnal Pendidikan Dan Theologi Elisabeth Yecilda Woga & Emmeria Tarihoran. Penggunaan Media Audio Visual dalam Pengajaran Katekase. Tri Tunggal: Jurnal Pendidikan Kristen dan Katolik Dalam menjalankan tugasnya, katekis sering menghadapi Kendala-kendala yang mereka hadapi termasuk kurangnya fasilitas yang memadai untuk mendukung penggunaan media audio visual dalam pengajaran katekese, serta keterbatasan pemahaman tentang cara memanfaatkan media audio visual. Di Paroki Ratu Pencinta Damai, program BIAK dibagi menjadi dua kelas: kelas besar untuk anak usia 911 tahun . elas 4-6 SD), dan kelas kecil untuk anak-anak TK PAUD dan SD kelas 1-3. Keaktifan mereka dalam mengikuti bina iman anak dapat dinilai dari hasil pengisian angket, di mana 30 anak memiliki tingkat keaktifan 90% dalam mengikuti kegiatan BIAK. Hal ini didukung oleh peran media audiovisual yang kreatif dan menarik dalam menyampaikan pesan katekese, sehingga anak-anak dapat memahami dan mendalami isi katekese dengan baik. Pemanfaatan media audio visual dalam katekese terbukti sangat efektif dalam menarik perhatian peserta dan memudahkan pemahaman materi. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran lebih menarik, terutama di era digital, dan berhasil mengatasi kebosanan serta menyampaikan ajaran Kristiani dengan cara yang lebih hidup dan Berdasarkan studi literatur review, dapat dipahami bahwa pemanfaatan media digital dan media audiovisual telah menjadi alat penting dalam menyampaikan pesan iman dan mengembangkan pembinaan Beberapa penelitian menunjukkan bahwa meskipun banyak potensi positif dari penggunaan media digital dalam katekese, masih ada berbagai tantangan dan kendala yang perlu diatasi agar media ini dapat dimanfaatkan secara optimal dalam membina iman umat. Kristophorus Ukat, . dalam penelitiannya tentang penggunaan media audiovisual untuk katekese OMK di Paroki Santo Petrus Kanisius Manufui, menunjukkan bahwa meskipun media audiovisual memiliki potensi besar untuk meningkatkan minat OMK dalam berkatekese, kenyataannya belum semua OMK dapat memanfaatkannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sarana dan kurangnya akses terhadap teknologi yang memadai. Meskipun begitu, ketika digunakan dengan baik, media ini dapat membantu meningkatkan minat dan partisipasi OMK dalam kegiatan katekese secara signifikan. Penggunaan media audiovisual dapat menarik perhatian mereka yang mungkin merasa bosan atau kurang tertarik dengan metode katekese tradisional. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Teresia N. Derung, . di Malang. Jawa Timur, mengungkapkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam katekese melalui media sosial sering kali bersifat pasif. Beberapa mahasiswa hanya terlibat dalam kegiatan katekese melalui media sosial ketika ada tuntutan, seperti mengerjakan tugas Hal ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memiliki potensi besar untuk menjadi sarana katekese, tidak semua orang menggunakannya dengan tujuan yang sama. Mahasiswa cenderung menggunakan media sosial untuk tujuan pribadi atau hiburan, bukan untuk tujuan pembinaan iman. Meskipun demikian, keterlibatan mereka dalam katekese melalui media sosial masih memberikan skor Page | 40 yang cukup baik, yang menunjukkan bahwa ada potensi untuk mengembangkan penggunaan media sosial sebagai sarana katekese di kalangan mahasiswa. Maria Pulo Muda . juga menemukan bahwa di kalangan OMK di Paroki Weri, penggunaan media sosial untuk pewartaan belum menjadi gerakan bersama. Banyak OMK yang tidak memiliki konten sendiri dan hanya meneruskan konten dari orang lain. Selain itu, pemahaman OMK tentang katekese masih terbatas, yang menyebabkan kurangnya inisiatif untuk membuat konten pewartaan. Banyak dari mereka yang lebih tertarik menggunakan media sosial untuk kegiatan pribadi, seperti berbagi informasi tentang pertemuan atau kegiatan sosial, daripada untuk tujuan pewartaan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memiliki potensi besar untuk digunakan dalam pewartaan, diperlukan pelatihan dan sosialisasi lebih lanjut mengenai bagaimana menggunakan media sosial sebagai sarana pembinaan iman. Di sisi lain. Igansius N. Saputra, . menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi, khususnya di masa pandemi COVID-19, sangat membantu dalam proses pembelajaran dan katekese. Banyak guru yang awalnya kesulitan dengan perkembangan teknologi, namun seiring waktu, mereka mulai menyesuaikan diri dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan katekese. Pemanfaatan teknologi, termasuk media sosial dan aplikasi digital lainnya, memungkinkan penyampaian materi katekese yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Hal ini membuktikan bahwa meskipun ada tantangan, teknologi tetap dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam proses pembinaan iman, terutama dalam situasi yang membatasi pertemuan tatap muka, seperti pandemi. Penelitian oleh Natalia T. Ikanubun & Donatus Wea, . di SMP Santo Mikhael Merauke menunjukkan penggunaan TikTok sebagai media alternatif yang relevan untuk katekese. TikTok, yang dikenal dengan format video singkatnya, ternyata sangat cocok untuk menyampaikan pesan-pesan iman Katolik kepada siswa. Siswa yang sudah familiar dengan TikTok merasa lebih tertarik dengan cara penyampaian pesan yang lucu, kreatif, dan menghibur. Penggunaan TikTok sebagai sarana katekese terbukti efektif, karena platform ini memungkinkan penyampaian pesan dalam durasi singkat, namun tetap kaya akan informasi dan nilai-nilai Keberhasilan ini menunjukkan bahwa media sosial yang populer di kalangan anak muda dapat digunakan sebagai sarana efektif dalam katekese, asalkan pesan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. Namun, penggunaan media sosial dan media audiovisual dalam katekese juga menghadapi beberapa Penelitian E. Harefa, . mengenai katekese online di Paroki Santa Maria BPB Gunungsitoli Nias mengungkapkan bahwa meskipun sudah ada upaya untuk menggunakan media sosial, seperti Facebook, untuk berbagi renungan dan kegiatan rohani, banyak umat yang masih pasif dalam mengikuti informasi rohani di media sosial. Mereka cenderung lebih tertarik pada konten hiburan, seperti tarian atau video lucu, daripada konten yang berhubungan dengan iman. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial membuka peluang yang besar untuk penyebaran katekese, perlu ada upaya yang lebih terencana dan kreatif untuk menarik perhatian umat dan memastikan mereka lebih terlibat dalam katekese melalui media Selain itu. Christina Flayembuna, et. , . dalam penelitiannya di Paroki Ratu Pecinta Damai Surabaya menemukan bahwa meskipun ada tantangan, penggunaan media audio visual dalam program BIAK (Bina Iman Ana. dapat meningkatkan keaktifan anak-anak dalam mengikuti kegiatan katekese. Program ini membagi anak-anak ke dalam dua kelompok usia dan menggunakan media audio visual yang kreatif untuk menyampaikan pesan iman. Anak-anak yang terlibat dalam program ini menunjukkan tingkat keaktifan yang tinggi dalam mengikuti kegiatan, yang menunjukkan bahwa media audio visual sangat efektif dalam menarik perhatian anak-anak dan membantu mereka memahami pesan katekese dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Sedangkan berdasarkan hasil pembahasan dari Elisabeth Yecilda Woga & Emmeria Tarihoran . , mencatat bahwa pentingnya penggunaan media audio visual dalam pengajaran katekese. Dalam tugasnya, seorang katekis sering kali menghadapi berbagai tantangan, di antaranya adalah terbatasnya fasilitas yang Page | 41 mendukung penggunaan media audio visual, serta kurangnya pemahaman tentang cara yang tepat untuk memanfaatkan media tersebut dalam pembelajaran. Meskipun ada kendala ini, penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media audio visual dalam katekese sangat efektif. Media audio visual dapat menarik perhatian peserta didik, membuat materi ajaran lebih mudah dipahami, dan menghidupkan suasana Pendekatan ini sangat relevan di era digital saat ini, di mana peserta didik lebih mudah merasa bosan dengan metode pengajaran yang tradisional. Dengan media audio visual, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan dapat menyampaikan pesan Kristiani dengan cara yang lebih Secara keseluruhan, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya integrasi media audio visual dalam pengajaran katekese untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran. Berdasarkan berbagai penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial dan media audiovisual memiliki potensi besar dalam mendukung proses katekese, khususnya di kalangan generasi Meskipun ada tantangan, seperti kurangnya fasilitas, keterbatasan pemahaman tentang cara memanfaatkan teknologi, dan ketertarikan yang rendah terhadap konten rohani, media ini tetap dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan iman. Oleh karena itu, penting untuk memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada umat, terutama generasi muda, mengenai cara menggunakan media sosial dan media audiovisual untuk katekese yang lebih bermakna. Keberhasilan dalam menggunakan media digital ini juga bergantung pada kreativitas, relevansi pesan, dan kemampuan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pemanfaatan media digital dalam kegiatan kateksese belum terlaksana dengan baik. Sebagai tindaklanjutnya. Gereja diharapkan untuk berjuang memperbaikinya dengan semaksimal mungkin agar pemanfaatan media digital dalam kegiatan katekese dapat berjalan dengan baik dan dapat menjangkau kebutuhan umat dalam menumbuhkan iman umat. SIMPULAN Penggunaan media digital dalam kegiatan katekese merupakan bentuk kesadaran Gereja Katolik dalam menanggapi perkembangan teknologi yang terus berkembang. Dari berbagai penelitian yang ada, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial dan teknologi dalam katekese memiliki potensi besar untuk mencapai lebih banyak orang. Namun, masih ada tantangan dalam implementasinya, seperti kurangnya apresiasi dari umat, kurangnya sosialisasi, dan kesulitan guru dalam menyesuaikan diri dengan teknologi. Untuk itu, melalui penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak Gereja dan para katekis untuk memperbaiki beberapa hal yang berkaitan dengan kekurangan digitalisasi dalam kegiatan katekese agar dapat menjangkau umat dan membantu umat semakin dewasa dalam iman. DAFTAR PUSTAKA