NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 DOI: https://doi. org/10. 55681/nusra. Homepage: ejournal. id/index. php/nusra p-ISSN: 2715-114X e-ISSN: 2723-4649 RELEVANSI SEMBOYAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI PEDOMAN GURU Siti Asiah1. Nafiah1*. Indah Shaum Muliawati1. Muhammad Syakhil Afkar Ramadhani1 Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam 45 Bekasi *Corresponding author email: nfiah384@gmail. Article History ABSTRACT Received: 23 January 2024 Revised: 16 May 2024 Published: 26 May 2024 This research aims to determine the relevance of Ki Hajar Dewantara's motto as a teacher's guide. The method applied in this research is qualitative by conducting literary research using journals and books available on the internet. The results of the research show that the three mottos coined by Ki Hajar Dewantara are Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri Handayani. Having a strong bond, with the teacher as a facilitator, must be a role model for students, because in the world of formal education, it is the teacher who controls students' cognitive, emotional and psychomotor development. There is a very strong influence on the education system in Indonesia which no longer applies like the education system outside but has implemented a character and culture education system in the world of education. Due to the existence of an education system, an ideal educator can be a role model for his students so that they can determine the true future of the Keywords: Relevance. Motto of Ki Hajar Dewantara. Teacher's Guide Copyright A 2024. The Author. How to cite: Asiah. Nafiah. Muliawati. , & Ramadhani. Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara Sebagai Pedoman Guru. NUSRA : Jurnal Penelitian Dan Ilmu Pendidikan, 5. , 656Ae662. https://doi. org/10. 55681/nusra. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 5. Issue 2. Mei 2024 LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Seperti halnya investasi yang memberikan hasil, hal yang sama juga berlaku pada suatu pendidikan, yaitu sebuah kegiatan yang melibatkan investasi pada manusia . umber daya manusi. dalam jangka waktu yang sangat lama. (Aflaha et al. , 2. Sehingga, dibutuhkan suatu kerja sama dari segala pihak dalam menciptakan pendidikan yang Pendidikan dapat diartikan sebagai pemberian persediaan yang tidak ada dimasa anak-anak tetapi dibutuhkan ketika dewasa. Pendidikan sendiri memiliki tujuan, dimana manusia di didik supaya ia terdidik dan (IstiqAofaroh, 2. Dalam proses pendidikan formal dan nonformal, guru memegang peranan penting dalam menentukkan capaian tujuan Guru adalah seseorang yang menentukan keberhasilan atau prestasi siswa baik secara akademik maupun secara sikap. Dalam konteks akademik, guru harus memiliki pengetahuan yang mendalam meningkatkan prestasinya. Sedangkan dari segi sikap, hendaknya guru mempunyai budi pekerti yang baik, ketaatan dalam beribadah, dan lain-lain, sehingga bisa menjadi teladan untuk siswa. Tugas guru tidak hanya memimpin jalannya materi pelajaran, tetapi juga bertingkahlaku yang baik agar siswa dapat meniru tingkah laku guru dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika bertingkahlaku buruk dalam kehidupan sehari-hari, tidak menutup keamungkinan siswa akan menirunya, karena hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan tidak langsung yang dilakukan guru. Menurut Ki Hajar Dewantara, sosok guru tidak hanya harus mengajarkan ilmu- ilmu tertentu, tetapi juga mampu menjadi alat untuk mempertemukan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, patriotisme, nilai-nilai agama dan spiritual. (Tohir, 2. Sementara itu, guru juga harus menjadi teladan untuk anak didiknya, bahkan orang tua pun harus dapat membimbingnya kapan saja, menjadi tempat untuk menyelesaikan pengetahuan dan wacana bagi orang Seorang guru yang baik tentunya perlu memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya, baik dalam hal pengajaran maupun dalam hubungannya dengan siswa dan anggota komunitas sekolah. Selain itu, profesionalisme dan keinginan untuk meningkatkan dan mengikuti perkembangan saat ini. Di Indonesia, pendidikan mengalami berbagai macam masalah. Banyak sekali kasus pelanggaran yang terjadi di sekolah. Contohnya seperti, seorang guru yang melakukan tindakan asusila terhadap siswanya, guru memukul siswa, serta masih terdapat guru yang senang ketika dikenal sebagai guru killer. Hal ini berbanding terbalik dengan konsep pendidikan sistem Ki Hajara Dewantara Among. Tut Wuri Handayani dan Tringa yang sebenarnya (Salsabilah et al. , 2. Menurut salah satu ahli pendidikan Islam, pendidikan di Indonesia saat ini lebih berkembang ke arah pengetahuan, walaupun terlihat baik akan tetapi pada realitanya pandangan dunia tentang manusia ialah hati, yang seharusnya pendidikan diarahkan ke hati supaya kepribadian yang baik. (Huda, 2. Mayoritas masyarakat memahami bahwa konsep pendidikan yang digunakan di Indonesia merupakan hasil pemikiran Ki Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara Sebagai Pedoman Guru . Oe Nafiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara juga di juluki sebagai AuBapak Pendidikan NasionalAy dikarenakan jasa dan karya yang telah ia berikan untuk pendidikan Indonesia. Didalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara terdapat penjelasan mengenai ciri guru yang ideal yang dapat dilihat melalui semboyan pendidikan dan Tri Pantangan. Menjadi guru yang profesional tidaklah mudah karena guru harus mempunyai kemampuan mengajar yang Oleh karena itu, guru patut dihormati dan diberi kedudukan yang sangat kontribusi yang besar dalam membimbing dan mendidik siswa, membentuk prinsipprinsip moral dan mempersiapkan mereka untuk masa depan dengan penuh keyakinan dan keamanan. (Rahman, 2. Belajar dari sejarah yang Jepang alami, ketika kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Sekutu dan melapor kembali kepada komandannya. Hal pertama yang ditanyakan oleh para pemimpin negara tersebut ialah berapa banyak guru yang Baginya, peran guru sangat penting bagi kemajuan negaranya kedepan. (Yusmad & SH, 2. Dengan demikian, kalau melihat dari peristiwa yang terjadi, sering terjadi polemik pada pendidikan Indonesia. Tokoh pendidikan di Indonesia sangatlah Namun bapak pendidikan nasional yang paling dikenal ialah Ki Hadjar Dewantara. Salah pendidikannya adalah AuIng Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri HandayaniAy (Memimpin dengan memberi contoh di depan, menentukan arah di tengah, memberi semangat di belakan. (Bakar & Daulai, 2. Artinya guru harus menjadi teladan bagi siswanya, menjadi pemimpin yang baik dan mengetahui cara mendorong siswanya menjadi manusia yang Volume 5. Issue 2. Mei 2024 cerdas dan berguna bagi negara, bangsa, dan Namun kenyataannya masih banyak guru yang menganggap pekerjaannya hanya sekedar mencari penghasilan saja. Hal ini sejalan dengan perkataan (Herlambang, 2. bahwa saat ini terdapat pemikiran yang keliru mengenai pemahaman profesi guru diantaranya : mencetak manusia yang siap untuk bekerja, dengan mengetahui bahwa pendidikan adalah tugas sederhana yang dapat dilakukan siapa saja dan tujuan utamanya adalah mendapatkan penghasilan. Padahal seorang guru harus menjalankan kewajibannya sebagai mana seharusnya yaitu guru mempunyai kewajiban dalam mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan menilai siswanya. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi semboyan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman guru. Berdasarkan penjelasan diatas, bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek kunci dalam pembentukan karakter dan peradaban suatu bangsa. Filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara bukan hanya sekadar teori, melainkan juga menjadi melaksanakan tugas membentuk suatu bangsa yang maju. Lantas bagaimanakah relevansi semboyan Ki Hajar Dewantara tentang pedoman guru. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yakni menggunakan metode deskriptif dan studi literatur pada jurnal dan buku. Peneliti melakukan teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan berbagai sumber jurnal dan buku mengenai semboyan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman guru. Selanjutnya, peneliti mengkaji untuk menarik kesimpulan serta Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara Sebagai Pedoman Guru . Oe Nafiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan menggabungkan dengan temuan-temuan HASIL DAN PEMBAHASAN Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara Sebagai Pedoman Guru Pendidikan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Sebagai pendiri pendidikan nasional Indonesia. Ki Hajar Dewantara memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan sistem pendidikan di Indonesia. Namun makna Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman bagi guru belum sepenuhnya tergali. Sebab salah satu nilai mereka adalah Auguru sebagai pahlawan tanpa tanda jasaAy. Ki Hajar Dewantara menghargai peran guru sebagai pembimbing dan pendamping dalam membentuk karakter dan pengetahuan peserta didik. Guru tidak hanya mengajar, namun juga berperan sebagai teladan bagi siswa dalam hal sikap, moral dan kejujuran. (Rahayuningsih, 2. Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama asli RM Soewardi Soerjaningrat. Pada usia 39 tahun, ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara tutup usia pada tanggal 26 April Mujamuju Yogyakarta. Ia dikenal sebagai tokoh nasional, yang dihormati dan dikagumi baik kawan maupun lawan. Ki Hajar Dewantara sangat kreatif, dinamis, ikhlas, sederhana, konsisten dan berani. Visinya yang begitu luas hingga ia tak pernah lelah berjuang demi negaranya hingga akhir hayatnya. Perjuangannya didasari oleh rasa keaikhlsan diikuti rasa pengabdian dan pengorbanan yang besar untuk mengantarkan bangsanya menuju dunia kemerdekaan. (Nurhalita & Hudaidah, 2. Oleh karena itu, pada Volume 5. Issue 2. Mei 2024 tanggal 28 November 1959 Ki Hajar Dewantara di tetapkan sebagai AuPahlawan NasionalAy serta pada tanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan hari lahir Ki Hajar Dewantara pada tanggal 2 Mei sebagai AuHari Pendidikan NasionalAy. Ki Hajar Dewantara berkata bahwa pengetahuan akademik, tetapi juga tentang pengembangan karakter, keterampilan sosial, dan nilai-nilai kehidupan. Dengan guru mampu membimbing siswa untuk menjadi individu yang seimbang dan Karena dalam suatu pendidikan seharusnya tidak hanya tentang pengetahuan formal, tetapi juga tentang pencerahan jiwa dan karakter. Selain itu, dalam sebuah prinsip utama Ki Hajar Dewantara ialah kesetaraan dalam (Muzakki. Beliau menegaskan bahwa pendidikan harus dapat dijangkau oleh semua masyarakat tanpa Dalam konteks ini guru menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan pembelajaran inklusif dan merangsang potensi setiap siswa. Oleh karena itu seorang pendidik harusl mengerti bagaimana sifat dan perilaku masyarakat yang sedang dihadapi, agar sistem pendidikan yang sedang diterapkan bisa berjalan dengan baik. Adapun relevansi semboyan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman bagi guru "Ing ngarsa sung tuladha. " Artinya. Ketika guru berdiri di hadapannya, mereka harus memberikan contoh yang baik kepada karena guru merupakan sosok teladan yang harus diindahkan dan ditiru baik perkataan maupun perbuatannya. Dengan guru bukan hanya sekedar pembimbing yang menunjang siswa dalam Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara Sebagai Pedoman Guru . Oe Nafiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan menemukan dan mengembangkan bakat serta minat mereka. Dengan demikian. Jika guru mencontohkan yang baik kepada siswanya, maka perilaku mereka akan sama baik dan bahkan mungkin lebih baik dari perilaku kita. (Rambitan, 2. Tetapi sementara itu sudah banyak beberapa kasus seperti kasus seksual yang dilakukan guru terhadap siswa yang kini sudah beberapa kali terjadi dan hal tersebut merupakan suatu tindakan asusila yang membuat lemahnya peran guru sebagai teladan bagi anak didiknya. Namun, dalam kasus kekerasan seperti itu, pemerintah perlu mengevaluasi dan menyeleksi dalam penerimaan guru baru selanjutnya dan memastikan adanya sanksi yang tepat atas kejadian kekerasan yang terjadi. Dengan demikian, menjadi seorang guru bukan hal yang mudah, selain harus menjadi teladan bagi siswanya, guru pun harus bisa di gugu dan ditiru dalam perkataan maupun (PS et al. , 2. "Ing madya mangun karsa" Artinya, ketika posisi guru di tengah-tengah bersama siswanya ia harus mendukung keinginan anak, membangunkan kreativitas dan keinginan dalam berinisiatif serta bertindak. Dengan menumbuhkan semangat peserta didik untuk terus mengoreskan karya dengan pentingnya mewujudkan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. Karena guru harus mampu pengetahuan saja, tetapi juga membentuk karakter siswa agar terciptanya suasana belajar yang kondusif dan nyaman. (Ruth et , 2. Dalam memperoleh sebuah kode bagi para guru supaya bisa berpartisipasi dalam kehidupan siswa serta menjadi sahabat yang baik untuk Karena kadang pemikiran siswa lebih Volume 5. Issue 2. Mei 2024 cepat tanggap dibandingkan orang yang lebih tua. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menyerap buah pemikiran KI Hajar Dewantara untuk menjamin kemajuan sebuah bangsa, tanpa adanya diskriminasi berdasarkan keyakinan, adat istiadat, dan status ekonomi, karena orang yang cerdas adalah orang yang mampu mendidik orang (Haerullah & Elihami, 2. "Tut wuri handayani" bermula dari bahasa Jawa yakni: Autut wuriAy yang artinya mengikuti dari belakang, dan AuhandayaniAy yang artinya mendorong, memotivasi, atau Dengan demikian dapat diterjemahkan bahwa tut wuri handayani adalah penyesuain dengan sifat, bakat atau potensi yang dibawa anak dari lahir. Sertaguru selalu memberikan bimbingan penuh kasih sayang, memberikan dukungan dan dorongan emosional kepada siswa serta dapat memiliki dampak jangka (Hermawan & Tan, 2. Namun, ada banyak permasalahan yang terjadi dalam dunia pengajaran saat ini, dimana guru hanya memberikan dukungan komprehensif hanya kepada siswa yang memiliki keterampilan sesuai dengan bidang Misalnya, seorang guru PAI hanya memperhatikan kepada siswa yang berbakat atau ahli dalam aspek serupa, sedangkan untuk siswa yang kurang berbakat dalam aspek tersebut sering kali (Irwanto, 2. Hal ini merupakan sebuah bukti ketidakmampuan guru dalam mengontrol karakter peserta didik yang dapat ditanamkannya sesuai dengan minat yang mereka miliki. Oleh sebab itu penting sekali adanya suatu dorongan dan semangat dari guru sangat dibutuhkan sekali oleh siswa dalam menunjang prestasinya, dengan tidak melihat guru tersebut ahli dari bidang Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara Sebagai Pedoman Guru . Oe Nafiah et al NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan manapun, melainkan semua pihak sekolah akan ikut serta dalam mendukung prestasi dari siswanya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Dengan begitu tidak aka nada lagi kesenjangan antara guru dan siswa dalam dunia pendidikan. (Syaparuddin et al. Dari ketiga semboyan tersebut mempunyai ikatan yang erat dan saling menumbuhkan nilai-nilai pada diri siswa. (Astuti & Arif, 2. Dalam hal ini, guru tidak hanya dapat memotivasi dan membimbing siswanya untuk mencapai nilai-nilai tersebut, melainkan guru harus menunjukkan bagaimana nilai-nilai tersebut mengakar dalam diri mereka. Oleh karena itu, guru dapat mewariskan nilai-nilai kepada siswa agar dapat bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian untuk menjadi seorang guru yang baik harus mempunyai sifat-sifat tertentu, baik dalam mengajar ataupun dalam menjalin hubungan dengan siswa, bahkan baik pula dalam menjalin hubungan di luar lingkungan sekolah. Dengan seorang guru juga harus memiliki sikap profesional yang tinggi, yakni dengan kata lain adanya keinginan untuk terus perkembangan zaman. Sehingga, guru sangat penting untuk dapat mengembangkan etos kerja yang baik, berkesinambungan, kepedulian diri dalam menjalankan pekerjaan dan keinginan mengabdi pada Sehingga dapat membentuk kesadarannya terhadap realitas dunia. Volume 5. Issue 2. Mei 2024 KESIMPULAN Dari pemaparan diatas, disimpulkan bahwa relevansi tiga semboyan yang di cetuskan KI Hajar Dewantara yakni Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri Handayani. ikatan kuat, dengan guru sebagai fasilitator harus menjadi teladan yang baik bagi siswanya, karena dalam dunia pendidikan perkembangan kognitif, emosional, dan psikomotorik siswa. Sekurang-kurangnya dengan guru mampu memberikan stimulus kuat yang diperlukan siswa dalam proses Karena sebagai seorang pendidik seyogyanya harus memiliki kepribadian baik untuk menjadi role model . bagi anak didiknya. Dengan guru dapat membantu membentuk generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademis namun juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan. DAFTAR PUSTAKA