http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian The Relationship between Fiber Intake. Physical Activity, and Waist Circumference with Total Blood Cholesterol Levels (Case Study of MTs Teachers in Sukatani Distric. Regietta Neiva Fitriyah El Mahmudiyah1. Ratih Kurniasari2. Linda Riski Sefrina3 Abstrak Latar Belakang: Prevalensi hiperkolesterolemia di Kecamatan Sukatani tahun 2021 yaitu sebesar 6,018%. Hiperkolesterolemia dapat dicegah oleh asupan serat dan aktivitas fisik yang cukup supaya dapat mencegah terjadinya penumpukan lemak terutama di bagian perut, sehingga ukuran lingkar pinggang pun normal atau tidak berisiko obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan serat, aktivitas fisik, dan lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total darah. Metode: penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dan teknik pengambilan sampel menggunakan Teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji rank-spearman. Hasil : Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara asupan serat dan aktivitas fisik dengan kadar kolesterol total darah . > 0,. , serta terdapat hubungan positif yang signifikan antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total darah pada guru MTs di Kecamatan Sukatani . < 0,. Kesimpulan : tidak ada hubungan antara asupan serat dan aktivitas fisik dengan kadar kolesterol Kata kunci: guru, asupan serat, aktivitias fisik, lingkar pinggang, kolesterol total Abstract Background: The prevalence of hypercholesterolemia in Sukatani District in 2021 was 6. Hypercholesterolemia can be prevented by adequate fiber intake and physical activity so that there is no fat accumulation, especially in the abdomen, so that the waist circumference is average or not at risk of obesity. This study analyzes the relationship between fiber intake, physical activity, and waist circumference with total blood cholesterol Method: This research method uses a cross-sectional design, and the sampling technique uses a purposive sampling technique. Data analysis used the Spearman rank test. Results: The results of this study showed no relationship between fiber intake and physical activity with total blood cholesterol levels . >0. , and there was a significant positive relationship between waist circumference and total blood cholesterol levels in MT teachers in Sukatani District . <0. Conclusion : There is no relationship between fiber intake and physical activity with cholesterol levels Keywords: teacher, fiber intake, physical activity, waist circumference, total cholesterol Submitted : 5 May 2023 Revised: 5 June 2024 Affiliasi penulis: 1,2,3 Program Studi Gizi Universitas Singaperbangsa Karawang Korespondensi : AuRegietta Neiva Fitriyah El MahmudiyahAy 1910631220026@student. id Telp: 6289667925782 PENDAHULUAN Penyakit jantung koroner (PJK) kardiovaskular yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Salah satu faktor risiko paling utama untuk terjadinya penyakit jantung koroner adalah hiperkolesterolemia . Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 diketahui penyakit jantung koroner berdasarkan diagnosis dokter, yaitu sebesar 0,5% dan pada tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi sebesar 1,5%. Prevalensi hiperkolesterolemia sendiri di Indonesia sebesar 7,6% dan pada penduduk usia Ou 15 tahun pada masyarakat yang tinggal di pedesaan yaitu sebesar 6,8% (Kemenkes RI. Salah Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted: 12 June 2024 pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi hiperkolesterolemia, yaitu mengkonsumsi makanan tinggi serat pangan . Serat pangan dapat membantu menurunkan kolesterol atau menjaga agar jumlah kolesterol dalam darah tetap normal (<200 mg/d. Berdasarkan hasil penelitian Ampangallo et al. tentang hubungan asupan serat dengan kadar kolesterol membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah asupan serat dengan kadar kolesterol, artinya semakin sedikit tingkat konsumsi serat maka kadar kolesterol semakin tinggi. Anjuran kecukupan serat sehari menurut World Health Organization (WHO) adalah 25-30 gram per hari . Dietary Reference Intake (DRI) serat berdasarkan national academy of sciences mengemukakan konsumsi serat yang baik adalah 19-38 gram per hari sesuai dengan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 umur masing-masing konsumen (Harahap & Hutabarat, 2. Selain asupan serat, aktivitas fisik yang kurang juga merupakan Aktifitas Ketika melakukan aktivitas fisik, tubuh membentuk energi berupa adenosin triphosphate (ATP) dari makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhannya, sehingga tidak semua makanan yang dikonsumsi akan langsung diubah menjadi ATP melainkan ada yang disimpan dalam bentuk kolesterol . Semakin banyak aktivitas fisik yang dilakukan, maka akan semakin banyak kebutuhan ATP sehingga pembentukan kolesterol total dan kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) pembentukan kolesterol High Density Lipoprotein (HDL) meningkat . Aktivitas fisik yang rendah dapat menyebabkan pembentukan ATP rendah sehingga lebih banyak yang diubah menjadi kolesterol, apabila terjadi dalam jangka waktu lama dapat meningkatan kadar kolesterol LDL. Konsentrasi kolesterol LDL yang tinggi akan menyebabkan banyak penumpukan lemak di dalam rongga perut . Penumpukan lemak di perut disebut juga obesitas sentral. Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas sentral atau tidak dapat diperkirakan dengan pengukuran lingkar pinggang. Pengukuran lingkar pinggang atau lingkar perut umumnya digunakan untuk mengetahui distribusi lemak tubuh bagian Lingkar pinggang diketahui dapat mengidentifikasi individu dengan obesitas sentral yang merupakan faktor utama yang terhadap penyakit kardiovaskular . Obesitas sentral menyebabkan kelainan metabolisme lipid diantaranya kenaikan kadar kolesterol total, kenaikan kadar kolesterol LDL, kenaikan kadar trigliserida, dan penurunan kadar kolesterol HDL . Kecamatan Sukatani merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi. Jawa Barat. Berdasarkan data yang didapat dari Puskesmas Sukatani, diketahui proporsi hiperkolesterolemia pada tahun 2021 sebesar 6,018%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti dengan metode wawancara pada dua MTs di kecamatan Sukatani, yaitu MTsN 3 Bekasi dan MTsS Daruttakwien, diketahui bahwa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman lima dari empat puluh sembilan guru MTsN 3 Bekasi didapatkan empat orang . %) mengkonsumsi makanan tinggi lemak, seperti gorengan, sate kambing, sop sapi, gulai kepala kakap. Selain itu, diketahui juga bahwa usia guru di MTsN 3 Bekasi berada pada rentang 40 sampai dengan 50 tahun serta memiliki aktivitas fisik relatif rendah sehingga lingkar pinggang cenderung lebih besar, sedangkan hasil wawancara tiga dari dua puluh empat guru di MTsS Daruttakwien diketahui bahwa dua orang mengkonsumsi gorengan, jeroan seperti hati atau babat, udang goreng, serta guru-gurunya memiliki rentang usia 35 sampai dengan 55 tahun dan juga memiliki aktivitas fisik relatif rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan asupan serat, aktivitas fisik, dan lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total darah pada guru MTs di Kecamatan Sukatani. METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada dua MTs di Kecamatan Sukatani. Kabupaten Bekasi, yaitu MTs Negeri 3 Bekasi dan MTs Swasta Daruttakwien. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Maret 2023. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 263 Sampel penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive sampling, yaitu ditentukan dengan kriteria inklusi, diantaranya subjek penelitian merupakan guru di MTsN 3 Bekasi dan MTsS Daruttakwien, berusia 30-59 tahun, bersedia menjadi subjek penelitian, serta dapat berkomunikasi dengan baik. Jumlah sampel sebanyak 73 yang didapat melalui perhitungan rumus Lemeshow. Instrument penelitian ini diantaranya Semi Quantitative Food Questionnaire (SQ FFQ) dan formulir International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Analisis data penelitian dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan SPSS dengan uji yang digunakan yaitu uji Spearman dengan nilai signifikan p < 0,05. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik yang dikeluarkan oleh Komisi Etik Penelitian Universitas Esa Unggul dengan /DPKEKEP/FINAL-EA/UEU/IV/2023. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 HASIL Karakteristik Responden Tabel responden diantaranya sebagian besar berusia antara 40-49 tahun dan 50-59 tahun . ,7%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40 orang . ,8%), memiliki IMT kategori kelebihan berat badan (BB) ringan dan berat . ,6%), memiliki asupan protein per hari kategori defisit berat sebesar . %), asupan lemak sehari berlebih . ,2%), asupan karbohidrat kategori defisit berat . ,8%), dan asupan kolesterol per hari normal . ,9%). Pada Tabel 1 diketahui bahwa asupan serat sebagian besar responden kurang, yaitu sebanyak 61 responden . ,6%) dan sebanyak 12 responden memiliki asupan serat cukup . ,4%). Sebagian besar responden melakukan aktivitas fisik kategori berat yaitu sebanyak 60 responden . ,2%), sebanyak 11 responden . ,1%) yang melakukan aktivitas fisik kategori sedang dan sebanyak 2 responden . ,7%) melakukan aktivitas fisik Karakteristik responden berisiko obesitas yaitu sebanyak 66 responden . ,1%), sedangkan sebanyak 7 responden . ,6%) tidak berisiko obesitas. Karakteristik kadar kolesterol total sebagian besar responden memiliki kadar kolesterol total normal sebanyak 37 responden . ,7%). Sebanyak 36 responden . ,3%) memiliki kadar kolesterol total tinggi. Tabel 1 Karakteristik Responden Variabel Usia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan IMT Kekurangan BB Berat Kekurangan BB Ringan Normal Kelebihan BB Ringan Kelebihan BB Berat Asupan Protein Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Asupan Lemak Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Asupan Karbohidrat Defisit Berat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Asupan Kolesterol Lebih Normal Asupan Serat Kurang Cukup Aktivitas Fisik Ringan Sedang Berat Lingkar Pinggang Berisiko Obesitas Tidak Berisiko Obesitas Kadar Kolesterol Total Tinggi Normal Total Hubungan Asupan Serat dengan Kadar Kolesterol Total Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa responden dengan kadar kolesterol total tinggi mayoritas memiliki asupan serat kurang yaitu sebesar 45,2%, sedangkan responden dengan kadar kolesterol tinggi yang memiliki asupan serat cukup sebesar 4,1%. Responden dengan kadar kolesterol total normal memiliki asupan serat kurang sebesar 38,4% dan cukup sebesar 12,3%. Tabel 6 menunjukkan hasil analisis bivariat hubungan asupan serat dengan kadar kolesterol total yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara asupan serat dan kadar kolesterol total dengan p-value sebesar 0,067. Tabel 2 Hubungan Asupan Serat dengan Kadar Kolesterol Total Kadar Kolesterol Total Total Asupan Tinggi Normal p-value Serat Kurang 38,4 61 83,6 0,067 Cukup 12,3 12 16,4 Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kadar Kolesterol Total Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa responden yang memiliki kadar kolesterol total normal melakukan aktivitas fisik ringan sebesar 1,4%, aktivitas fisik sedang sebesar 11%, dan aktivitas fisik berat sebesar 38,8%. Responden yang memiliki kadar kolesterol total tinggi melakukan aktivitas fisik ringan sebesar 1,4%, aktivitas fisik sedang 1,4%, dan aktivitas fisik berat 23,3%. Hasil uji spearman menunjukkan hasil p-value sebesar 0,157 . > 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar kolesterol Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 total pada guru MTs di Kecamatan Sukatani. Kabupaten Bekasi. Tabel 3 Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kadar Kolesterol Total Kadar Kolesterol Total Total p-value Aktivitas Fisik Tinggi Normal Ringan Sedang 11 15,1 0,157 Berat 32 43,8 28 38,3 60 82,1 Hubungan Lingkar Pinggang dengan Kadar Kolesterol Total Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa sampel yang memiliki lingkar pinggang berisiko obesitas dengan kolesterol total normal sebesar 41,1% dan kolesterol total tinggi sebesar 49,3%. Kemudian sampel yang memiliki lingkar pinggang tidak berisiko mengalami obesitas dengan kadar kolesterol total normal sebesar 9,6%, sedangkan sampel yang tidak berisiko mengalami obesitas dengan kadar kolesterol total tinggi tidak ada. Hasil uji spearman menunjukkan hasil antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total dengan nilai p-value sebesar 0,006 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total. Nilai r = 0,321 menunjukkan bahwa terdapat hubungan dengan kekuatan cukup pada guru MTs di Kecamatan Sukatani. Kabupaten Bekasi. Tabel 4 Hubungan Lingkar Pinggang dengan Kadar Kolesterol Total Kadar Kolesterol Total Total Lingkar Pinggang Tinggi Normal % n Berisiko obesitas 36 49,3 30 41,1 65 90,4 Tidak berisiko 9,6 0,006 0,321 7 9,6 7 PEMBAHASAN Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar Responden memiliki jenis kelamin laki-laki dan berusia diatas 40 tahun. Laki-laki pada usia <50 tahun cenderung memiliki kadar kolesterol lebih tinggi dibanding perempuan pada usia yang sama, namun setelah usia >50 tahun biasanya kadar kolesterol total pada perempuan akan lebih tinggi . IMT responden sebagian besar kelebihan berat badan (BB) ringan dan berat. IMT merupakan salah satu cara untuk mengetahui status gizi Orang dengan status gizi kelebihan berat badan dengan nilai IMT Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman diatas 25,1 mempunyai kecenderungan mempunyai berat badan normal . Berdasarkan hasil asupan protein diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki asupan protein per hari kategori defisit berat dan asupan lemak sehari berlebih. Asupan lemak berlebih terutama lemak jenuh dapat meningkatkan produksi kolesterol dalam darah karena lemak jenuh cenderung merangsang hati untuk produksi kolesterol . Hasil asupan karbohidrat kategori defisit berat, asupan karbohidrat yang menurun akan meningkatkan asupan lemak untuk mengimbangi asupan karbohidrat kolesterol total . Asupan kolesterol diketahui sebagian besar responden memiliki asupan kolesterol per hari normal, namun hasil kadar kolesterol totalnya masih termasuk tinggi. Hal ini dapat dapat kolesterol adalah dari hati . ekitar 70%), sedangkan sisanya dari makanan yang dikonsumsi . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara asupan serat dengan kadar kolesterol total. Hal ini karena dilakukan, mayoritas responden memiliki asupan serat kurang dan asupan lemak lebih. Kurangnya dikarenakan responden hanya mengonsumsi sayur dan buah sebanyak 3 Ae 4 kali dalam seminggu, sedangkan dalam satu kali makan mayoritas responden hanya makan sebanyak 3 - 4 sendok makan sayur dan 1 - 2 buah, sehingga asupan serat harian responden termasuk dalam kategori kurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Diana . bahwa tidak ada hubungan bermakna asupan serat dengan kadar kolesterol total dengan nilai p-value = 0,861 . Hal ini dikarenakan ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol darah seperti genetik, usia, jenis kelamin, dan aktivitas Penelitian Kustiyah et al. juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan serat dengan kolesterol HDL, kolesterol LDL, kolesterol total dan trigliserida . -value > 0,. , hal tersebut dapat disebabkan oleh asupan serat responden masih tergolong rendah dengan rata Ae rata asupan serat sebesar 15,5 g/hari . Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar kolesterol total. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sunu et al. bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dan angka kecukupan gizi makronutrien terhadap rasio kolesterol total/HDL pada orang dewasa di Desa Kepuharo, responden dengan aktivitas fisik kurang memiliki kemungkinan 7,76 kali untuk mengalami risiko CVD dibandingkan responden yang melakukan aktivitas fisik cukup . Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Syarfaini et al. yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan Kadar Kolestrol pada Aparatur Sipil Negara Dinas Pendidikan Kota Makassar Tahun 2019 yaitu nilai p = 0. 830 dikarenakan meningkatnya kesibukan sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berolahraga . Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan hubungan cukup antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Manik et al. menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total dengan nilai p = 0,006 . Lingkar pinggang berhubungan dengan kolesterol terkait dengan lemak pada bagian perut. Hal ini dikarenakan banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan produksi asam lemak bebas yang dihidrolisis oleh lipoprotein lipase (LPL) yang akhirnya akan meningkatkan kadar kolesterol darah. Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Sulistyoningsih . yang mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara lingkar perut dengan kadar kolesterol total pada pra lansia di Kelurahan Patihan Kecamatan Mangunharjo Kota Madiun dengan nilai p-value = 0,012 . < 0,. Hal ini dikarenakan faktor usia, jenis kelamin, kebiasaan konsumsi makanan cepat saji. Seseorang dengan jenis kelamin terutama perempuan dan memiliki usia yang terus bertambah akan meningkatkan penumpukan lemak di daerah perut yang disebabkan penurunan beberapa hormon dan massa otot, serta metabolisme yang melambat . Makanan cepat saji mengandung tinggi energi, garam, lemak, kolesterol dan rendah makanan cepat saji secara sering dapat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman obesitas . SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini, dapat disimpulkan karakteristik responden mayoritas berusia 40-59 tahun, berjenis kelamin laki-laki, memiliki status gizi karbohidrat, dan kolesterol kategori defisit berat, asupan lemak yang lebih, asupan serat kategori kurang, mayoritas responden melakukan aktivitas fisik berat, memiliki lingkar pinggang berisiko obesitas, dan memiliki kadar kolesterol total normal. Tidak terdapat hubungan antara asupan serat dan aktifitas fisik dengan kadar kolesterol total pada guru MTs di Kecamatan Sukatani dengan nilai p-value secara berurutan sebesar 0,067 dan 0,157, serta terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan cukup antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total pada guru MTs di Kecamatan Sukatani dengan nilai p-value sebesar 0,006 dan nilai r sebesar 0,321. DAFTAR PUSTAKA