Perbedaan Pola Asuh Kesehatan Oral dan Literasi Kesehatan Oral antara Anak Stunting dengan Anak Sehat Retno Hani Adriani1. Ike Anggraeni Gunawan2. Annisa Nurrachmawati*3 1Puskesmas Palaran. Dinas Kesehatan Kota Samarinda 2Departemen Biostatistik dan Kependudukan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman 3Departemen Promosi Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman Author's Email Correspondence (*): annisanurachmawati@fkm. ABSTRAK Upaya yang belum banyak dilakukan dalam pencegahan dan penanganan stunting yaitu menjaga kesehatan oral pada anak usia baduta. Pemenuhan gizi seimbang bukan saja dengan asupan makan, tetapi juga kesehatan kondisi gigi geligi dan fungsi saliva optimal sehingga anak dapat makan dengan baik. Pola asuh kesehatan gigi dan mulut dan literasi kesehatan gigi dan mulut (Oral Health Literac. yang baik juga merupakan faktor penting Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan gigi dan mulut dan pola asuh perawatan kesehatan gigi dan mulut pada baduta stunting. Metode: penelitian observasional dengan pendekatan case control. Populasi meliputi 3 kelurahan di Kecamatan Palaran yang merupakan salah satu lokus penanganan stunting di Kota Samarinda. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 80 kasus: dan 160 kontrol dengan total 240 responden ibu balita. Variabel yang diteliti adalah literasi kesehatan gigi dan mulut, sosial demografi, pola asuh kesehatan gigi dan mulut dan indeks def-t. Instrumen yang digunakan adalah Health Literacy Dentistry-Indonesian Version (HeLD-ID). Data dianalisa dengan uji bivariat yaitu crossestional. Hasil menunjukkan proporsi terbesar anak caries terdapat pada anak dengan status gizi stunting . ,8%). Terdapat hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting antara kelompok kasus dan control. value= 0,. Diperlukan intervensi yang mengintegrasikan pendidikan literasi kesehatan oral dengan perbaikan asupan gizi terutama pada baduta stunting. Kata Kunci: Literasi. Kesehatan Gigi dan Mulut. Stunting. Pola Asuh Published by: Article history : Tadulako University Received : 20 10 2024 Address: Received in revised form : 06 12 2024 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 17 12 2024 Indonesia. Available online : 31 12 2024 Phone: 6282290859075 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: preventifjournal. fkm@gmail. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 ABSTRACT Efforts that have not been made much in preventing and treating stunting was maintained oral health in toddlers. Fulfilling balanced nutrition is not only about food intake, but also the health of the teeth and optimal salivary function in order to children could have optimal nutrition digestion. Good oral health care and oral health literacy are also important factors Purpose: This study aims to examine the influence of oral health literacy and oral health care behavior of stunted toddlers. Methods: observational study with a case control approach. The population includes 3 sub-districts in Palaran District which is one of the loci for handling stunting in Samarinda City. The number of samples in this study was 80 cases: 160 controls with a total of 240 respondents, mothers of Variables are oral health literacy, social demographics, oral health care parenting patterns. , and def-t The instrument used was Health Literacy Dentistry-Indonesian Version (HeLD-ID). Data were analyzed using the crossectional test Result: The results showed that the largest proportion of childhood caries is found in stunted children . 8%). There are differences in the level of maternal education and the incidence of stunting between the case and control groups. value= 0. Interventions are needed that integrate oral health literacy education with improving nutritional intake, especially for stunted toddlers. Keywords: Literacy. Oral Health. Stunting. Toddler. Parenting PENDAHULUAN Stunting di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar. World Health Organization (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus tertinggi di Asia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen, sementara target WHO adalah angka stunting tidak boleh melebihi 20 persen . Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan kejadian stunting di Provinsi Kalimantan Timur mengalami kenaikan dari 22. 8% menjadi 23. Persentase ini berada di atas angka stunting nasional . dengan angka tertinggi ada pada Kabupaten Kutai Kertanegara . Kota Samarinda . Kabupaten Paser . Kabupaten Kutai Timur . Kutai Barat ( 23. dan Penajam Paser Utara . Masih tingginya kejadian stunting ini perlu cegah dan diatasi sebab stunting berhubungan dengan risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal, sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. Hal ini menjadi PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 ancaman serius sebab anak stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif untuk suatu bangsa di masa yang akan datang . Masalah stunting juga merupakan salah satu target dari Sustainable Development Goals (SDG. , yang termasuk dalam tujuan pembangunan berkelanjutan kedua, yaitu menghapuskan kelaparan dan segala bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030 dan mencapai ketahanan pangan. Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting sebesar 40% pada tahun 2025 . Peran ibu sangat berpengaruh dalam keberhasilan pencegahannya, perempuan dan ibu menjadi target utama pembangunan nasional dalam menurunkan angka stunting, terkait dengan pencegahan dan penanganan infeksi, gizi, kehamilan yang sehat dan praktik pemberian makan pada bayi dan balita . Proses pemberian makanan pada bayi dan balita sangat dipengaruhi oleh kondisi gigi dalam menjalankan fungsi pengunyahan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa gizi yang buruk dan tidak seimbang memiliki hubungan positif dengan tingkat keparahan karies gigi atau gigi berlubang, dan cenderung memiliki jumlah gigi yang mengalami karies lebih banyak dibandingkan anak dengan gizi yang cukup . Selain itu, terdapat hubungan timbal balik antara karies dan stunting. Karies gigi yang tidak ditangani dengan baik akan berdampak negatif pada kemampuan anak untuk makan dan memperoleh asupan gizi . Di sisi lain, anak dengan malnutrisi atau stunting akan mengalami atrofi kelenjar ludah, padahal ludah berperan penting untuk membersihkan gigi dan mulut, serta mencegah terjadinya karies gigi . Salah satu upaya pencegahan karies gigi dapat dilakukan dengan pemenuhan gizi seimbang, terutama untuk mendapatkan fungsi saliva yang optimal . METODE Studi ini merupakan studi observasional dengan pendekatan retrospective case control dimana dua kelompok individu awalnya telah diidentifikasi yaitu . kelompok yang PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 memiliki permasalahan kesehatan yang diteliti . dalam hal ini stunting dan . kelompok yang tidak memiliki permasalahan kesehatan yang diteliti . tidak Selanjutnya kedua kelompok tersebut dibandingkan untuk menilai berapa besar peran faktor resiko terhadap kejadian stunting. Populasi target atau yang menjadi subjek untuk digeneralisasi dalam studi ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak dibawah dua tahun (Badut. yang berada di kota Samarinda Sampel dalam studi ini ialah Ibu yang memiliki Baduta yang tinggal Lokus stunting yang terpilih yaitu kecamatan Palaran. Jumlah sampel minimal dalam studi ini dihitung berdasarkan rumus Lemeshow. Hosmer Jr. Klar, & Lwanga, . Hasil perhitungan besar sampel yaitu responden sejumlah 80 baik untuk kasus maupun kontrol. Selanjutnya guna meningkatkan kekuatan statistik, kontrol dapat ditingkatkan sampai dengan perbandingan 1: 2. Pada studi ini perbandingan besar sampel untuk kasus dan kontrol adalah 1 : 2, sehingga total sampel menjadi 240 orang. Kelompok kasus dipilih secara purposive dari daftar anak stunting yang telah diperiksa petugas gizi puskesmas. Kelompok kontrol dipilih menggunakan matching berdasar jenis kelamin, usia dan wilayah (RT) yang sama dengan kasus. Instrumen untuk mengukur literasi kesehatan oral adalah HeLD-14 dengan 7 domain yaitu: Penerimaan, pemahaman, dukungan, hambatan ekonomi, akses, komunikasi dan pemanfaatan. Setiap item dinilai berdasarkan skala likert 5 point, dengan nilai baik/memadai. Variabel Pola asuh diukur dengan 4 domain. Analisis bivariat yaitu crossectional kemudian dilakukan untuk menguji hubungan antara faktor risiko dan stunting di daerah studi. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 HASIL Distribusi Karakteristik Responden Data karakteristik responden disajikan dalam bentuk tabel 1, sebagai berikut: Tabel 1 Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia Ibu def-t Baduta Sangat Rendah Rendah Sedang Sangat tinggi Jenis Kelamin Baduta Laki-laki Perempuan Pekerjaan Ibu PNS/TNI/POLRI pK Pegawai Swasta Wiraswasta Ibu Rumah Tangga Pendidikan SMP SMA Diploma/Sarjana Pendapatan Kurang dari 1,5 juta 1,5-2,5 juta 2,5-3,5 juta Lebih dari 3,5 juta Pola Asuh Baik Tidak Baik HELD-14 literasi Memadai Tidak Memadai Mean Min. Max. Sumber data: Primer, 2024 PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Berdasarkan tabel 1, hasil menunjukkan bahwa rerata usia ibu berkisar di usia 30 tahun. Pada karies def-t baduta, sebagian besar berada di status sangat rendah . ,8%) dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki . ,3%). Pekerjaan orang tua mayoritas ibu rumah tanggan atau tidak bekerja . Pada tingkat pendidikan ibu, mayoritas memiliki latar belakang pada lulusan SMA . ,8%) dan sebagian besar pendapatan lebih dari 3,5 juta . ,2%). Pada pola asuh mayoritas orang tua memberikan pola asuh yang baik . ,1%. Kemudian, pada HELD-14 literasi mayoritas memadai . ,1%). Distribusi Kasus Stunting Data berdasarkan status stunting meliputi stunting dan normal. Data disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi Berdasarkan Status Stunting Jenis Frekuensi Persentase Stunting Normal Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 2, hasil menunjukkan pada status stunting dimana anak dengan stunting berjumlah 60 anak . ,0%) sedangkan anak dengan status normal berjumlah 180 anak . ,0%). Hubungan Karakteristik Responden Dengan Status Stunting Pada tahap ini dilakukan uji signifikansi yang berguna untuk mengetahui signifikansi hubungan antar dua variabel yang dibuktikan secara statistik apabila nilai p value < . %). Adapun hasil analisis bivariat ditunjukan melalui table 3, sebagai berikut PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Tabel 2. Hubungan Kejadian Status Stunting antar Variabel Status Stunting Karakteristik Individu Stunting Usia Ibu Ou 35 Tahun < 35 Tahun Def-t Baduta Tinggi Rendah Pendidikan Sedang Tinggi Pekerjaan Orang Tua Tidak Bekerja Bekerja Pendapatan Sedang Tinggi Pola Asuh Tidak Baik Baik HELD-14 literasi Tidak Memadai Memadai Sumber: Data Primer, 2024 Normal Total P Value 0,132** 0,835 0,019** 0,166** 0,655 0,182** 0,044** Diantara anak dengan status gizi stunting proporsi terbesar terdapat pada anak dengan status def-t tinggi . ,8%) dibandingkan anak dengan status def-t rendah . ,5%). Selanjutnya pada anak dengan status gizi normal proporsi terbesar terdapat pada anak dengan status def-t rendah . ,5%) dibandingkan anak dengan status def-t tinggi . ,%). Hasil dari analisis bivariat menunjukkan nilai p value sebesar 0,835 > yang artinya tidak ada hubungan antara status def-t baduta dengan kejadian stunting. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Diantara anak dengan status gizi stunting proporsi terbesar terdapat pada ibu dengan pendidikan sedang . ,5%) dibandingkan ibu dengan pendidikan tinggi . ,6%). Selanjutnya pada anak dengan status gizi normal proporsi terbesar terdapat pada ibu dengan pendidikan tinggi . ,4%) dibandingkan ibu dengan pendidikan sedang. Hasil dari uji bivariat menunjukkan bahwa p value sebesar 0,019 < yang artinya ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting antara kelompok kasus dan control. Variabel pola asuh menunjukkan anak dengan status gizi normal lebih banyak berasal dari ibu dengan pola asuh kesehatan oral yang baik . 4%). Instrumen pola asuh kesehatan oral terdiri dari 4 domain yaitu: domain pendidik, domain pendorong, domain pengasuh dan domain pengawas, dengan nilai kriteria baik jika skor total senilai 70-100. Pada riset ini didapatkan informasi bahwa pola asuh kesehatan oral yang telah dipraktikkan dengan baik meliputi ibu telah mengajarkan menggosok gigi minimal dua kali sehari, telah menyediakan peralatan menggosok gigi serta memotivasi dan membimbing anak menggosok gigi. Meskipun hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p value sebesar 0,182 > yang artinya tidak ada hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting. Diantara orang tua yang memberikan literasi kesehatan yang memadai, proporsi terbesar terdapat pada anak dengan status gizi stunting . ,0%) dibandingan dengan anak status gizi normal . ,4%). Literasi kesehatan yang memadai artinya antara lain ibu sudah cukup dapat menggunakan informasi dari dokter gigi untuk mengambil keputusan tentang kesehatan gigi, mampu melaksanakan instruksi gigi yang diberikan dokter gigi, dan bisa mencari pendapat lain . econd opinio. tentang kesehatan gigi pada tenaga kesehatan. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa nilai p value sebesar 0,044 < yang artinya ada hubungan antara literasi kesehatan dengan kejadian stunting. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 PEMBAHASAN Pengaruh literasi kesehatan mulut ibu (OHL) terhadap status kesehatan anak, khususnya stunting, merupakan topik penelitian yang menggarisbawahi peran penting pengetahuan dan perilaku ibu dalam membentuk kesehatan anak. Stunting, yang bisa dideteksi melalui kondisi tinggi badan rendah menurut usia, merupakan masalah kesehatan masyarakat signifikan yang terkait dengan gizi dan praktik perawatan kesehatan yang tidak adekuat, yang dapat diperburuk oleh literasi kesehatan ibu yang rendah. Literasi kesehatan oral . ral health literacy/OHL) yang dimiliki ibu merupakan penentu penting kesehatan mulut dan kesejahteraan anak secara keseluruhan. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat OHL yang lebih tinggi cenderung memiliki perilaku kesehatan mulut yang lebih baik, seperti kunjungan gigi rutin dan praktik kebersihan mulut yang tepat untuk anak-anak mereka, yang dapat mengurangi risiko karies gigi dan masalah kesehatan mulut lainnya . Misalnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa OHL ibu secara langsung mempengaruhi status kesehatan mulut anak-anak mereka, yang menyoroti peran mediasi pendidikan ibu dan faktor sosial ekonomi. Hubungan ini penting karena kesehatan mulut yang buruk pada anak usia dini dapat menyebabkan kekurangan gizi, yang terkait erat dengan stunting . Penelitian menunjukkan bahwa malnutrisi dapat menyebabkan terjadinya hipoplasia email gigi, yang merupakan predisposisi terjadinya karies pada anak-anak, sedangkan karies yang tidak diobati dapat semakin mengganggu asupan nutrisi karena rasa sakit dan kesulitan makan . Hubungan timbal balik antara status gizi dengan kejadian caries ini memerlukan pemahaman komprehensif tentang bagaimana kesehatan mulut berdampak pada hasil gizi dan sebaliknya, khususnya pada populasi rentan seperti anak anak . PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Meskipun telah diketahui bahwa terdapat pengaruh antara kesehatan mulut dan status gizi, belum banyak dilaksanakan intervensi yang ditargetkan untuk mengatasi kedua masalah tersebut secara bersamaan. Strategi yang ada saat ini sering kali berfokus hanya pada kesehatan gigi atau perbaikan nutrisi secara terpisah, sehingga hasil yang didapatkan kurang optimal bagi anak-anak yang menderita masalah gizi . ,9,. Selain itu, interaksi antara OHL ibu dan gizi anak sangatlah penting. Ibu yang memahami pentingnya gizi dan kesehatan mulut lebih siap untuk membuat pilihan makanan yang tepat yang mendukung pertumbuhan sehat pada anak-anak mereka. Sebuah studi yang dilakukan di wilayah perkotaan Nepal menekankan bahwa peningkatan pengetahuan ibu mengenai gizi dan kesehatan mulut merupakan langkah penting dalam mengatasi kekurangan gizi dan stunting pada anak . Hal ini khususnya relevan dalam konteks di mana faktor sosial-lingkungan dapat membatasi akses ke pilihan makanan sehat, sehingga memperburuk risiko stunting . Oleh sebab itu diperluan solusi yang komprehensif melibatkan penerapan program kesehatan terpadu yang mempromosikan baik kebersihan mulut dan pendidikan gizi, sehingga mengatasi akar penyebab karies dan stunting . Contoh intervensi yang dapat dilakukan yaitu, penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan ibu mengenai kesehatan mulut secara signifikan mempengaruhi pola makan anak, sehingga mengurangi kejadian karies dan meningkatkan hasil gizi . Selain itu, intervensi yang mencakup modifikasi pola makan, seperti mengurangi asupan gula dan mendorong gizi seimbang, telah terbukti mengurangi dampak karies pada pertumbuhan dan perkembangan anak . Hasil dari studi-studi ini menunjukkan bahwa pendekatan multidimensi yang menggabungkan pendidikan kesehatan, perubahan pola makan, dan perawatan gigi rutin dapat secara efektif mengatasi tantangan ganda yaitu karies dan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Peran program pendidikan kesehatan memang penting. Intervensi efektif yang meningkatkan literasi kesehatan mulut ibu telah terbukti meningkatkan hasil kesehatan ibu dan anak. Misalnya, inisiatif pendidikan kesehatan yang menargetkan ibu hamil dapat mengarah pada praktik kebersihan mulut yang lebih baik dan peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mulut selama kehamilan . Program-program ini dapat memberdayakan ibu untuk mengadopsi perilaku yang lebih sehat, yang berperan mengurangi risiko karies gigi dan meningkatkan asupan gizi untuk anak-anak mereka, sehingga mencegah terjadinya stunting . KESIMPULAN DAN SARAN Hasil studi ini mendapatkan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu, dan pola asuh kesehatan oral dengan kejadian stunting. Hubungan yang ditemukan pada kelompok kasus dan kelompok kontrol yaitu perbedaan pada variabel tingkat pendidikan ibu, dan literasi Untuk itu diperlukan intervensi yang mengintegrasikan pendidikan literasi kesehatan oral dengan perbaikan asupan gizi terutama pada baduta stunting DAFTAR PUSTAKA