Moderasi : Journal of Islamic Studies | Page : 515-528 Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | e-ISSN/p-ISSN : 2809-2872/2809-2880 Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah Farihin1. Yatim Sholeh2 dan Isnol Khotimah3 1MA Riyadlus Sholihin Ketapang Probolinggo. Indonesia. riyadlussholihinma@gmail. 2MA Riyadlus Sholihin Ketapang Probolinggo. Indonesia. riyadlussholihinma@gmail. 3Universitas Nurul Jadid Paiton. Indonesia. isnolkhotimah@gmail. Submit: 23/07/2025 | Review: 12/10/2025 s. d 28/10/2025 | Publish: 03/12/2025 Abstract The transformation of Islamic education in the digital era demands a balance between technological advancement and the spiritual development of learners. This study aims to analyze the meaning, relevance, and implementation of the Love-Based Curriculum within the madrasah context, which emphasizes compassion . , empathy, and the humanization of learning as the core of the educational process. Employing a qualitative approach with a case study design at MA Riyadlus Sholihin Probolinggo, data were collected through interviews, observations, and document analysis. The findings reveal that the LoveBased Curriculum strengthens studentsAo spiritual and moral dimensions through reflective learning and the teacherAos role as murabbi . piritual mento. Although institutional support is relatively strong, limitations in teacher training and technological adaptation remain This research highlights the urgency of adopting a love-oriented paradigm in Islamic education as a solution to the moral crisis and dehumanization found in modern Keywords: Love-Based Curriculum. Islamic Education. Spirituality. Humanization. Madrasah Pendahuluan Transformasi pendidikan Islam di era modern menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pembentukan nilai spiritual peserta didik. Globalisasi yang (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah melahirkan kompetisi intelektual sering kali menyingkirkan dimensi afektif dalam proses pendidikan. Dalam konteks ini, muncul konsep Kurikulum Berbasis Cinta, mengintegrasikan kasih sayang . , empati, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam struktur kurikulum madrasah. Gagasan ini berpijak pada prinsip dasar Islam yang menempatkan cinta sebagai inti dari misi kenabian, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-AnbiyaAo:107. AuDan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhamma. melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Ay Dalam wacana global, sistem pendidikan mulai menekankan humanizing education dan emotional intelligence sebagai orientasi utama pembelajaran abad ke-21. Di Indonesia, pendekatan ini menemukan relevansinya di lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, yang memiliki pondasi religius kuat untuk menumbuhkan cinta kepada Allah. Rasulullah, sesama manusia, dan alam semesta (Hidayat, 2. Meskipun demikian, implementasi nilai-nilai cinta dalam kurikulum masih bersifat normatif dan belum terstruktur secara pedagogis (Koto et al. , 2025. Shabrina et al. , 2. Secara nasional, madrasah menghadapi berbagai persoalan praktis, seperti menurunnya empati sosial, degradasi moral, serta kecenderungan pembelajaran yang hanya berorientasi pada capaian Hasil penelitian Nada dan Listiana . menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam mengintegrasikan Kurikulum Cinta masih rendah, terutama dalam aspek metodologi dan refleksi spiritual. Sementara itu. Koto et al. menemukan bahwa Kurikulum Cinta dapat memperkuat pendidikan karakter dan menghaluskan akhlak melalui pendekatan kasih sayang dalam interaksi belajar. Selain itu. Sadri et al. menyoroti potensi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam memperkuat penerapan Kurikulum Cinta di era Society 5. 0, terutama dalam menciptakan pembelajaran adaptif yang tetap berpusat pada kemanusiaan. Kajian Shabrina et al. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 516 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah menegaskan bahwa pemahaman filosofis terhadap konsep cinta dalam pendidikan Islam dapat mengembalikan esensi pendidikan sebagai sarana penyucian jiwa . azkiyatun naf. dan pembentukan insan kamil. Secara teoritis. Asykur et al. menyatakan bahwa penerapan filsafat pendidikan Islam dalam desain kurikulum kontekstual dan holistik mampu menjembatani kesenjangan epistemologis antara iman, akal, dan Sejalan dengan itu. Malik et al. menawarkan model Kurikulum Cinta berbasis Hadis yang diinisiasi oleh Kementerian Agama sebagai upaya institusionalisasi kasih sayang dalam pedagogi Islam. Dukungan juga datang dari Rifqi dan Saputra . serta Kuswanto . yang menegaskan bahwa Kurikulum Cinta berperan penting dalam membangun kesadaran ekologis, empati linguistik, dan karakter islami lintas bidang studi. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan penelitian yang Sebagian besar studi yang telah dilakukan bersifat konseptual dan belum menelaah Kurikulum Berbasis Cinta secara mendalam dari perspektif keislaman di lingkungan madrasah. Aspek filosofis, teologis, dan pedagogis yang menjadi inti pendidikan Islam seringkali belum tergarap secara utuh (Amrullah, 2025. Zahara et al. , 2. Selain itu, sistem penilaian akademik yang dominan masih cenderung mengabaikan dimensi afektif dan spiritual (Aliyah, 2. Berdasarkan menganalisis makna, relevansi, dan implikasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam konteks pendidikan madrasah dengan meninjau pandangan para ahli pendidikan Islam serta praktik pembelajaran yang berorientasi pada Kajian menawarkan paradigma pendidikan Islam yang berlandaskan cinta . pendidikan modern. Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat teori dan praktik pembelajaran yang menumbuhkan kasih sayang, empati, dan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 517 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah moralitas, sehingga menjadikan pendidikan Islam sebagai wujud nyata rahmatan lil AoAlamn. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus eksploratif untuk memahami secara mendalam fenomena Kurikulum Berbasis Cinta dalam konteks pendidikan Islam di Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti menggali nilai, makna, dan praktik spiritual yang terintegrasi dalam proses pembelajaran di lingkungan pendidikan berbasis keislaman. Lokasi penelitian ditetapkan di Madrasah Aliyah (MA) Riyadlus Sholihin Kota Probolinggo. Jawa Timur, yang dikenal memiliki orientasi kuat terhadap nilai religius dan karakter islami. Subjek penelitian meliputi enam guru mata pelajaran umum dan agama, satu wakil kepala madrasah bidang kurikulum, serta tiga siswa dari jenjang kelas X hingga XII yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan keterlibatan aktif dalam kegiatan pengembangan kurikulum nilai dan pengalaman mengajar minimal tiga tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Wawancara digunakan untuk memahami pandangan guru dan siswa mengenai implementasi nilai cinta dalam pembelajaran, sementara observasi dilakukan untuk meninjau langsung kegiatan belajar mengajar dan pembinaan karakter di madrasah. Analisis dokumen mencakup penelaahan terhadap silabus. RPP, visi-misi madrasah, serta notulensi workshop kurikulum. Seluruh kegiatan lapangan dilaksanakan pada periode Agustus hingga Oktober 2025 dengan izin resmi dari pihak madrasah. Analisis data menggunakan analisis tematik mengacu pada model Miles dan Huberman . yang meliputi tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, serta proses member checking dan peer debriefing untuk memastikan keakuratan hasil. Seluruh data, termasuk transkrip wawancara, catatan lapangan, dan dokumen pendukung. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 518 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah disimpan secara aman dan dapat diakses oleh peneliti lain sesuai dengan Penelitian memperhatikan prinsip etika penelitian pendidikan Islam, di mana setiap partisipan diberi penjelasan dan memberikan persetujuan sebelum kegiatan wawancara dilakukan. Uraian metodologis ini disusun secara sistematis agar dapat menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan yang relevan dalam konteks pengembangan kurikulum bernilai spiritual di madrasah. HASIL Bagian ini menyajikan hasil penelitian mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah Aliyah Riyadlus Sholihin. Kota Probolinggo, yang difokuskan pada tiga tema utama: . internalisasi nilai cinta dalam pembelajaran. peran guru sebagai murabbi dalam humanisasi pendidikan. kesiapan kelembagaan dalam mendukung implementasi kurikulum nilai dan spiritual. Internalisasi Nilai Cinta dalam Pembelajaran Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa guru-guru madrasah telah berupaya menanamkan nilai kasih sayang, empati, dan kepedulian sosial dalam proses belajar. Upaya tersebut tercermin dalam strategi pembelajaran berbasis refleksi nilai dan proyek sosial keagamaan . roject-based compassion learnin. Contoh konkret implementasi nilai cinta ditemukan dalam kegiatan tadarus bersama, program sedekah Jumat, serta mentoring spiritual setiap Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 519 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah Gambar 1. Kegiatan Pembelajaran Reflektif dan Mentoring Spiritual di MA Riyadlus Sholihin (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Tabel 1. Implementasi Nilai Cinta dalam Aktivitas Pembelajaran di MA Riyadlus Sholihin Bentuk Kegiatan Nilai yang Dikembangkan Dampak pada Peserta Didik Tadarus dan tadabbur Al-QurAoan Cinta kepada Allah dan Al-QurAoan Meningkatkan spiritualitas dan disiplin ibadah Sedekah Jumat dan kunjungan sosial Cinta kepada Meningkatkan empati dan solidaritas sosial Mentoring karakter Cinta terhadap diri sendiri dan Menumbuhkan kesadaran moral dan tanggung jawab Guru juga mengaitkan nilai-nilai ini dengan konsep rahmah dan ihsan sebagai landasan teologis pembelajaran. Hasil ini sejalan dengan temuan Koto et al. dan Shabrina et al. , yang menegaskan bahwa pendekatan berbasis kasih sayang mampu memperhalus akhlak peserta didik dan memperkuat karakter islami. Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 520 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah Gambar 2. Guru sebagai Murabbi dalam Lingkungan Pembelajaran Humanistik (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Peran Guru sebagai Murabbi dan Humanisasi Pendidikan Guru dalam konteks madrasah berperan bukan sekadar pengajar . uAoalli. , tetapi juga pembimbing spiritual . Peran ini tampak dari cara guru membangun komunikasi dua arah yang dialogis dan empatik. Pendekatan humanistik yang digunakan mencakup: First bullet: Pendekatan heart to heart dalam pembelajaran Ai guru berinteraksi dengan kelembutan dan keteladanan. Second bullet: Penggunaan metode reflektif seperti muhasabah learning untuk mendorong introspeksi diri. Third bullet: Pembentukan lingkungan belajar penuh kasih, di mana setiap siswa dihargai tanpa diskriminasi. Spiritualitas Guru Spiritualitas Guru Pembelajaran Humanis Gambar 1. Skema Peran Guru sebagai Murabbi dalam Kurikulum Berbasis Cinta Temuan ini menguatkan penelitian Malik et al. tentang Kurikulum Cinta berbasis Hadis, yang menegaskan peran kasih sayang Nabi Muhammad SAW sebagai model pedagogi Islam. Dengan demikian, guru menjadi mediator antara ilmu, iman, dan kasih sayang Ai elemen kunci Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 521 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah Kesiapan Kelembagaan dan Dukungan Sistemik Kelembagaan madrasah menunjukkan kesiapan moderat dalam mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam sistem pendidikan. Hasil analisis dokumen menunjukkan adanya dukungan dari pimpinan madrasah berupa pelatihan guru, revisi RPP berbasis nilai, dan integrasi tema rahmah dalam visi-misi lembaga. Gambar 3. Rapat Koordinasi dan Pelatihan Guru dalam Penguatan Kurikulum Nilai (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Tabel 2. Indikator Kesiapan Kelembagaan terhadap Implementasi Kurikulum Cinta Indikator Keterangan Status Implementasi Visi Aumadrasah rahmatan lil AoAlamnAy Tinggi Pelatihan guru berbasis Workshop dan coaching clinic 2024 Sedang Sarana pembelajaran digital Aplikasi AI-Based Management System Rendah Evaluasi spiritual-afektif Rubrik nilai karakter dan empati Dukungan Meskipun Learning Sedang keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi. Hal ini sejalan dengan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 522 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah analisis Sadri et al. yang menyebutkan bahwa adaptasi AI dalam pendidikan Islam memerlukan kesiapan digital guru agar nilai kemanusiaan tetap menjadi inti pembelajaran. Temuan Matematis dan Reflektif Secara simbolik, hubungan antara nilai spiritual (S), pembelajaran humanis (H), dan keterlibatan emosional (E) dapat dirumuskan sederhana Rumus ini menggambarkan bahwa keberhasilan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta ditentukan oleh sinergi antara dimensi spiritual, humanistik, dan emosional, bukan sekadar aspek kognitif akademik. Pembahasan Hasil memperlihatkan relevansi dan urgensi penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam pendidikan Islam kontemporer. Pertama, kurikulum ini terbukti menumbuhkan dimensi rahmah dalam proses pembelajaran madrasah, yang secara langsung berpengaruh terhadap pembentukan karakter, empati, dan kepekaan sosial peserta didik. Kedua, peran guru mengalami transformasi dari sekadar penyampai ilmu menjadi murabbi yang mengintegrasikan aspek intelektual dan kasih sayang. Guru berfungsi sebagai teladan spiritual dan fasilitator dialog batin, menjadikan ruang kelas sebagai wadah pembelajaran yang humanis dan reflektif. Ketiga, kesiapan Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 523 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan, inovasi media digital, serta penerapan sistem evaluasi berbasis afektif untuk mengukur perkembangan nilai moral dan empati siswa. Temuan ini sejalan dengan pandangan Maulida . yang menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan holistik untuk menciptakan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Dalam konteks ini. Kurikulum Berbasis Cinta sebagai upaya strategis untuk mengembalikan esensi pendidikan Islam sebagai sarana penyempurnaan akhlak, bukan hanya penguasaan pengetahuan semata. Hal ini juga mengonfirmasi gagasan Asykur et al. bahwa paradigma pendidikan Islam modern harus berorientasi pada humanisasi dan spiritualisasi proses belajar agar tidak terjebak pada dehumanisasi yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi. Implikasi dari temuan ini dapat dilihat dari beberapa aspek penting. Pertama, guru perlu memperoleh pelatihan pedagogi kasih sayang dan menginternalisasikan nilai rahmah dalam setiap aktivitas pembelajaran. Kedua, sistem penilaian pendidikan perlu dirancang lebih menyeluruh dengan menilai aspek afektif, terutama empati, kejujuran, dan kepedulian sosial siswa. Ketiga, integrasi teknologi dalam pembelajaran harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan. kecerdasan buatan (AI) seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran, bukan menggantikan peran interaksi emosional antara guru dan peserta didik. Dari perspektif orisinalitas, penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menggabungkan pendekatan Islamic pedagogy, nilai kasih sayang . , dan prinsip humanisasi pendidikan secara empiris di lingkungan Berbeda dari studi-studi sebelumnya yang bersifat konseptual (Nada & Listiana, 2025. Koto et al. , 2. , penelitian ini menampilkan bukti nyata penerapan nilai cinta dalam pembelajaran berbasis spiritual di tingkat Oleh karena itu, studi ini menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar ideal normatif, melainkan paradigma praktis Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 524 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah yang mampu menjadi solusi atas krisis moral dan dehumanisasi pendidikan menyeimbangkan kecerdasan spiritual dan teknologi, sehingga pendidikan Islam tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan model pendidikan Islam yang memadukan dimensi spiritual, moral, dan humanistik dalam satu kesatuan proses pembelajaran. Penerapannya di Madrasah Aliyah Riyadlus Sholihin tercermin melalui kegiatan keagamaan, sosial, dan reflektif yang menumbuhkan empati, kejujuran, serta tanggung jawab peserta didik. Peran guru menjadi sangat sentral sebagai murabbi yang menuntun siswa dengan kasih sayang dan keteladanan, tidak hanya berfungsi sebagai muAoallim atau penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing ruhani yang menghadirkan pengalaman belajar berbasis nilai dan spiritualitas. Dalam konteks ini, cinta dimaknai bukan sekadar emosi, melainkan paradigma pedagogis yang merevitalisasi makna pendidikan Islam sebagai proses tazkiyatun nafs dan pembentukan insAn kAmil yang utuh. Selain itu, kelembagaan madrasah menunjukkan komitmen kuat terhadap internalisasi nilai kasih sayang melalui kebijakan kurikulum, pelatihan guru, serta integrasi visi rahmatan lil AoAlamn. Namun demikian, efektivitas penerapan kurikulum ini masih dipengaruhi oleh kesiapan digital, inovasi media pembelajaran, dan penerapan sistem evaluasi afektif yang seimbang dengan capaian akademik. Secara keseluruhan. Kurikulum Berbasis Cinta dapat menjadi paradigma alternatif bagi pendidikan Islam modern yang mampu menjawab tantangan krisis nilai dan dehumanisasi di era digital. Model ini tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga aplikatif Vol. 05 No. 02 Desember 2025 | 525 (Farihin. Yatim Sholeh dan Isnol Khotima. Integrasi Nilai dan Spiritualitas dalam Kurikulum Berbasis Cinta untuk Humanisasi Pembelajaran di Madrasah dalam membentuk generasi berilmu, berempati, dan berakhlak, sekaligus menegaskan pentingnya reformasi pendidikan Islam yang berlandaskan kasih sayang sebagai fondasi peradaban manusia. Referensi