AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 10 November . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1221-1227 Peningkatan Literasi Keuangan Pada Pelaku Usaha Tempe Melalui Pelatihan Pembukuan Keuangan di Kelurahan Tembalang Semarang Tri Widiastuti1*. Fariha Azzahra2. Dina Kharisma3. Elisa Teguh Prasetyani4. Nasyya Kumalarahmadani5 1,2,3,4,5Fakultas Ekonomi. Universitas Semarang. Semarang. Indonesia Email: 1* tri_widiastuti@usm. id, 2 fariha@usm. 3dinaaish41@gmail. com,4prasetyanielisateguh@gmail. com, 5 nasyyarahma199@gmail. (* : corresponding autho. AbstrakOe Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu memberikan pelatihan pembukuan sederhana dan pendampingan bagi pelaku usaha rumahan tempe. Dalam menjalankan usahanya pelaku usaha belum membuat pencatatan/pembukuan keuangan sesuai dengan aturan yang berlaku. Permasalahan yang dihadapi pelaku usaha yakni minimnya literasi/pengetahuan keuangan. Dengan memberikan pengetahuan, pelatihan dan pendampingan, pelaku usaha dapat meningkatkan pengetahuan keuangan sehingga dapat mengetahui pengeluaran, pemasukan, keuntungan yang diperoleh dan dapat mengetahui perkembangan Metode yang dilakukan adalah melalui survey lokasi, sosialisasi, pelatihan dan pendampingan dalam membuat pembukuan keuangan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pelatihan ini adalah meningkatnya pengetahuan dalam membuat pembukuan sederhana sebesar 89,09 %, pelaku usaha dapat melakukan pembukuan keuangan, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mengetahui keuntungan yang diperoleh dan dapat mengambil keputusan dengan baik. Kata kunciAi pelaku usaha rumahan tempe, pelatihan, pendampingan, pembukuan sederhana. Abstract- The purpose of community service activities is to provide simple bookkeeping training and mentoring for Tempe home-based businesses. In running a business, the business actors have not made financial records/books in accordance with applicable regulations. The problem faced by business actors is the lack of financial literacy/knowledge. By providing knowledge, training, and assistance, business actors can increase their knowledge so that they can find their expenses, incomes, profits, and developments. The method used is a site survey, socialization, training, and assistance in making financial books. The result of this training activity is increased knowledge in making bookkeeping by 89. 09%, business actors can do financial bookkeeping, separate personal and business finances, know the benefits obtained and make good decisions. KeywordsAi tempe home-based business actors, training, mentoring, simple bookkeeping. PENDAHULUAN Industri rumahan merupakan salah satu jenis usaha kecil bergerak dalam bidang tertentu. Pelaku usaha industri rumahan adalah keluarga itu sendiri atau salah satu anggota keluarganya dengan mengajak beberapa orang di sekitar tempat tinggalnya untuk menjadi karyawan (Muliawan,2. Industri rumahan dapat dijalankan dengan modal yang sangat terjangkau oleh pelaku usaha dan mampu menghasilkan keuntungan yang besar. Dalam sistem perekonomian Indonesia, industri rumahan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan rumahtangga, serta mampu berperan sebagai perekat dan stabilitas sosial terutama dalam mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial. Meskipun memiliki peran penting, industri rumahan kurang memiliki daya saing, karena tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kapabilitas terhadap tekonologi serta akses sumber permodalan rendah (Siswanto 2. Industri rumahan juga tidak memiliki perencanaan sistem rencana jangka Panjang dan pembukuan keuangan yang memadai (Tohar,2. Sebuah survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa tingkat literasi keuangan tergolong rendah hanya 38,3%. Artinya dari sekian juta penduduk Indonesia hanya terdapat 38,3% persen yang memahami literasi keuangan. Salah satu penyebabnya adalah kualitas sumber daya manusia masih rendah. Fatoki . mengungkapkan bahwa literasi keuangan berpengaruh secara positif terhadap kemampuan dalam pengambilan keputusan keuangan dan kesejahteraan serta keberlangsungan Tri Widiastuti | https://journal. id/index. php/amma | Page 1221 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 10 November . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1221-1227 Literasi keuangan menjadi hal yang sangat diperlukan oleh setiap organisasi bisnis, utamanya UKM di Indonesia guna meningkatkan kemampuan bersaing secara lobal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memperkaya pengetahuan terkait dengan pembukuan keuangan dari usaha yang dijalankan. Pembukuan keuangan mempunyai peranan penting untuk mencapai keberhasilan pelaku usaha kecil/usaha rumahan. Hal ini dikarenakan pembukuan keuangan dapat menjadi pedoman bagi pelaku usaha dalam mengatur perencanaan keuangan sehingga dapat memperoleh keuntungan yang semakin besar. Pembukuan keuangan juga dapat digunakan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan dalam mengelola usaha, seperti penetapan harga, pemasaran dan lain sebagainya. Narsa . mengungkapkan bahwa pembukuan keuangan yang baik dan teratur akan menghasilkan laporan keuangan yang akurat. Laporan keuangan dapat digunakan untuk mengajukan modal kepada Laporan Keuangan merupakan informasi keuangan yang disusun oleh pelaku usaha pada periode tertentu untuk menggambarkan kinerja keuangan suatu perusahaan sehingga pelaku usaha dapat mengambil keputusan dengan baik. Laporan keuangan pada umumnya terdiri dari laporan arus kas. Neraca. Laporan Laba/Rugi. Laporan Perubahan Modal (Kasmir, 2016. Munawir, 2. Di Kelurahan Tembalang Semarang terdapat industri rumahan tempe. Tempe adalah salah satu makanan tradisional khas Indonesia dan diproduksi dengan menggunakan cara tradisional. Tempe banyak digemari karena kaya akan nutrisi dan harganya terjangkau. Pada umumnya, masyarakat mengkonsumsi tempe sebagai panganan pendamping nasi. Hasil observasi pada pelaku usaha tempe, diketahui bahwa permasalahan yang dihadapi yakni rendahnya literasi keuangan terkait dengan pembukuan keuangan. Dalam menjalankan usahanya pelaku usaha tempe belum melakukan pembukuan keuangan yang bersifat baku dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelaku usaha tempe mengungkapkan bahwa pencatatan keuangan terlalu berbelit-belit, sulit untuk mengidentifikasi aset pribadi dan usaha, dampaknya pelaku usaha belum mampu menggambarkan kondisi usaha yang sebenarnya. Keterbatasan literasi keuangan terkait dengan pembukuan keuangan berdampak pada sulitnya mendapatkan modal tambahan. Pembukuan keuangan akan menghasilkan laporan keuangan menjadi salah syarat yang diminta oleh pihak ketiga untuk menambah modal. Pinasti . mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku usaha kecil di Indonesia tidak menyelenggarakan dan menggunakan informasi akuntansi dalam pengelolaan usahanya. Pelaku usaha kecil tidak memiliki pengetahuan akuntansi, dan banyak diantara pelaku usaha yang belum memahami pentingnya pembukuan keuangan bagi kelangsungan usaha. Melalui laporan keuangan, dapat dihitung keuntungan yang diperoleh, dan dapat mengambil keputusan dalam mengembangkan Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yakni meningkatkan literasi keuangan dengan memberikan pelatihan pembukuan keuangan sederhana dan memberikan pendampingan bagi pelaku usaha dalam mengimplementasikan pembukuan tersebut di dalam aktivitas usaha seharihari. Di samping itu melalui kegiatan pengabdian ini, pelaku usaha secara berkala dipantau untuk melihat perkembangannya. Hasil pengamatan tersebut akan menjadi pembelajaran untuk meningkatkan performa pelaku usaha di masa yang akan datang. Dari uraian di atas, diketahui bahwa permasalahan pelaku usaha rumahan tempe berkaitan dengan aspek keuangan. Pelaku usaha belum membuat pembukuan keuangan kondisi ini disebabkan karena rendahnya pengetahuan keuangan serta ketidakmampuan dan ketidakmauan sumber daya untuk melakukan pencatatan keuangan, dampaknya pelaku usaha tidak dapat memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi. Pembukuan keuangan merupakan aspek yang sangat penting demi kemajuan sebuah usaha. Semua sumber dana dan jenis penggunaan dana harus dicatat dengan tepat agar tidak terjadi penyelewengan dan ketidakberesan dalam kinerja keuangan pelaku usaha. Solusi dari permasalahan yang timbul yaitu dengan memberian pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha dalam hal mengelola keuangan dengan menggunakan pembukuan. Kemampuan pelaku usaha melakukan pencatatan keuangan secara tertib dan teratur dapat membantu meningkatkan kinerja keuangan usahanya. Tri Widiastuti | https://journal. id/index. php/amma | Page 1222 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 10 November . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1221-1227 METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan dengan tahapan. Survey lokasi. Survey lokasi merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam merencanakan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam kegiatan ini Tim pengabdian memilih dan menentukan mitra yang akan dijadikan sebagai obyek pengabdian serta melakukan identifikasi permasalahan dan kendala yang dihadapi mitra. Mitra yang dijadikan obyek adalah pelaku usaha rumahan tempe di Jl. Agung RT 05 RW 10 Kelurahan Tembalang Semarang. Mitra dipilih karena termasuk pelaku usaha yang produktif namun literasi keuangan rendah. Tim pengabdian melakukan wawancara untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dan mengetahui seberapa tinggi literasi keuangan yang dimiliki mitra terkait dengan pembukuan keuangan dari usaha yang . Sosialisasi Program. Sosialisasi program merupakan proses mengkomunikasikan program pengabdian kepada mitra. Tujuan sosialisasi program agar mitra mengembangkan potensi dan kemampuan mitra. Kegiatan sosialisasi diawali dengan pengenalan program kerja, manfaat dan tujuan program kerja. Pada kegiatan ini tim pengabdian menjabarkan jadwal dan kegiatan pengabdian serta kesepakatan guna memperlancar jalannya program pengabdian. Sosialisasi diikuti oleh pelaku usaha rumahan tempe yang ada di wilayah tersebut. Pelatihan, tim pengabdian memberikan pelatihan yang sesuai dengan kemampuan pelaku usaha. Pendampingan, dalam kegiatan pengabdian ini juga diberikan pendampingan berkala kepada pelaku usaha, untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan pelaku usaha dalam meningkatkan kinerja usahanya. Evaluasi, dilakukan memberikan pretest dan posttest, untuk membandingkan hasil tes sebelum dengan sesudah program pelatihan, apakah ada peningkatan pengetahuan, keahlian dan kepercayaan diri mitra. HASIL DAN PEMBAHASAN Literasi Keuangan Kegiatan diawali dengan memberikan pengetahuan terkait dengan literasi keuangan. Literasi keuangan merupakan kemampuan seseorang untuk mengelola keuangan dengan baik. Literasi keuangan sangat diperlukan pelaku usaha dalam menjalankan usahanya. Edukasi pada pelaku usaha kecil/rumahan secara sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan mengenai literasi keuangan membangun fondasi bisnis yang kuat sangat dibutuhkan. Peningkatan literasi keuangan diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada kestabilan sistem keuangan, mengurangi kerentanan dalam sistem keuangan dan membuat keputusan yang efektif terhadap sumber daya keuangannya (Widiastuti, 2. Literasi keuangan pelaku usaha kecil/rumahan sangat berpengaruh pada pengelolaan dan pencatatan keuangan usaha yang dijalankan. Pencatatan keuangan sangat diperlukan oleh suatu unit bisnis sebagai acuan dalam melihat kondisi bisnis yang tengah dijalankan. Pencatatan keuangan merupakan suatu alat untuk mengambil keputusan strategi bisnis selanjutnya. Setiap keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dapat dipakai oleh para pemangku kepentingan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan ekspansi pasar atau keputusan strategis lainnya (Ayunda, 2. Masalah krusial yang sering di temukan pada pelaku usaha rumahan yakni masalah terkait dengan pembukuan keuangan. Pada umumnya kemampuan pelaku usaha rumahan dalam mengelola dan membukukan keuangan sangat kurang. Dampaknya pemasukan dan pengeluaran keuangan tidak tercatat dengan tertib dan teratur. Pembukuan keuangan secara sederhana sangat berpengaruh pada perkembangan usahan yang dijalankan. Dengan pembukuan keuangan pelaku usaha dapat mengambil keputusan terkait strategi untuk mengembangkan usahanya. Pembukuan Keuangan Menurut UU Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 28, beberapa hal yang dicatat dalam pembukuan berupa data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan, biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi untuk suatu periode tertentu. Untuk itu Tim Tri Widiastuti | https://journal. id/index. php/amma | Page 1223 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 10 November . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1221-1227 Pengabdian melalui program peningkatan literasi keuangan memberikan pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha untuk membuat pembukuan keuangan sederhana. Tujuannya agar pelaku usaha mengetahui setiap transaksi usaha, baik pemasukan maupun pengeluaran serta dapat menentukan biaya- biaya dan menghitung berapa laba yang diperoleh. DeCenzo dan Robin . , mengungkapkan bahwa pelatihan adalah suatu pengalaman pembelajaran di dalam mencari perubahan permanen secara relatif pada suatu individu yang akan memperbaiki kemampuan dalam melaksanakan pekerjaannya itu. Dengan pelatihan dapat membantu pelaku usaha mempunyai suatu keahlian dalam hal ini pembukuan keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelatihan diikuti oleh 10 . pelaku usaha rumahan tempe yang ada di Jl Agung RT 05 RW 10 Kelurahan Tembalang Semarang. Pelatihan pembukuan keuangan dilakukan dengan cara memberikan penjelasan-penjelasan terkait dengan pembukuan keuangan. Materi pembukuan keuangan yang diberikan mencakup laporan arus kas yang berfungsi menjelaskan tentang jumlah penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan dalam satu periode beserta sumber-sumbernya. laba rugi yang berfungsi memberikan informasi tentang aktivitas bisnis perusahaan. perubahan modal yang berfungsi menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode yang bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut. neraca yang berfungsi menjelaskan nilai Aset. Kewajiban dan Modal perusahaan pada suatu tanggal tertentu (Mardika et al. Winarno et al. Kegiatan pelatihan seperti digambarkan pada Gambar 1. Pelatihan Pembukuan Keuangan Tim pengabdian memberikan pengetahuan tahap-tahap pencatatan keuangan dengan detail agar pelaku usaha mengerti, memahami dan mau nenerapkan dalam menjalankan usahanya. Untuk mengetahui seberapa tinggi pengetahuan pelaku usaha rumahan tempe, sebelum pelatihan dilakukan Pelaku usaha diminta untuk mengisi kuesioer dengan pertanyaan-pertanyaan terkait pembukuan keuangan. Hasil pretest menunjukkan total angka 275, dengan mengetahui kemampuan awal pelaku usaha maka tim pengabdian dapat menentukan cara pelatihan yang sederhana, dan efektif disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi pelaku usaha. Pada akhir kegiatan dilakukan postest, hasil postest menunjukkan total angka 520 poin, kondisi ini menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman pengetahuan tentang pembukuan keuangan. Hasil pretest dan postest dapat dilihat dari tabel 1. Dibawah ini: Tabel. Hasil Pretest dan Posttest No. Nama Imroatul Mufikhah Aisyiah A. Mei Yudi Esti Dwi Lestari Tantri Mega Lestari Putri Nilai Pretest Posttest Tri Widiastuti | https://journal. id/index. php/amma | Page 1224 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 10 November . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1221-1227 Susanti Lailatun D. Lailatur Puji Endah Jumlah Peningkatan pengetahuan yang dimiliki pelaku usaha setelah mengikuti kegiatan pelatihan dan penyuluhan pembukuan keuangan yaitu sebesar 89,09%. Hal ini dikarenakan para mitra pengabdian memahami materi yang disampaikan pada pelatihan secara langsung yang dilakukan oleh tim pengabdian. Dari tabel di atas dapat dilihat adanya peningkatan pengetahuan tentang pembukuan sederhana pada pelaku usaha rumahan tempe. Besarnya perubahan dapat dihitung: OIycE = OIycE = ycEycuycyc ycNyceycycOeycEycyce ycNyceycyc ycEycyce ycNyceycyc ycu 100% 520 Oe 275 ycu 100% = 89,09% Untuk mengukur keberhasilan pelatihan tim pengabdi menggunakan skala likert. Menurut Sugiono . skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Tingkat perubahan pemahaman pelaku usaha terhadap materi yang diberikan sebesar 89,09% kondisi ini dapat diartikan bahwa pelaku usaha mampu memahami dan mengerti dengan sangat baik materi yang diberikan selama pelatihan. Tabel skala likert dapat dilihat seperti tabel 2. Pendampingan Pendampingan adalah suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan menempatkan tenaga pendamping yang berperan sebagai fasilitator, komunikator, dinamisator dan memberikan perubahan kepada pelaku usaha untuk lebih kreatif. 100 Ae 81 80 Ae 61 60 Ae 41 40 Ae 21 0 Ae 20 Tabel 2. Skala Likert Sangat baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Tim pengabdian membantu meningkatkan kemandirian dan memberikan motivasi kepada pelaku usaha untuk membuat pembukuan keuangan secara maksimal dan penuh tanggungjawab. Kegiatan pendampingan seperti dihambarkan pada gambar 2. Tri Widiastuti | https://journal. id/index. php/amma | Page 1225 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 10 November . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1221-1227 Gambar 2. Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk mengukur dan memperbaiki suatu kegiatan. Pengukuran tingkat keberhasilan dilakukan pada berbagai komponen, termasuk metode yang digunakan, penggunaan sarana, dan pencapaian tujuan. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat perkembangan program pendampingan yang dilaksanakan dan untuk mengetahui kendala yang dialami pelaku usaha, sehingga program pendampingan yang didapatkan benar-benar efektif serta dampak dari program ini dapat berkelanjutan setelah pendampingan selesai dilaksanakan. Evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan menggunakan pretest dan postest serta pengamatan setelah kegiatan dilaksanakan. Hasil pretest dan postest dapat mengidentifikasi pengetahuan pelaku usaha rumahan terkait dengan pembukuan keuangan Teknik identifikasi pengetahuan pelaku usaha tempe terkait dengan pembukuan sederhana dengan memberikan soal terkait dengan pembukuan keuangan. Sebelum pelatihan, tim pengabdian berhasil mengindentifikasi kemampuan pelaku usaha dalam memahami pembukuan sederhana sebesar 275. Dengan mengetahui tingkat pemahaman pelaku usaha mengenai pembukuan sederhana, maka tim pengabdi akan mengoptimalkan pada bagian-bagian yang sangat penting pada pembukuan Pelaku usaha sangat antusias mengikuti pelatihan, pada tahap ini, juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi antara tim pengabdian dan pelaku usaha jika terdapat materi yang kurang dipahami. Hasil evaluasi menunjukkan terjadi peningkatan terlihat pada gambar 3. Dengan adanya feedback, tim pengabdian memberikan penjelasan mengenai materi yang ditanyakan dari Kegiatan pelatihan mencakup pencatatan keuangan seperti arus kas, neraca, laporan rugi laba dan perubahan modal. Kegiatan pelatihan dan pendampingan ini memberikan dampak yang positif bagi pelaku usaha. NILAI Series1 HASIL PRETEST DAN POSTTEST Gambar 3. Peningkatan Pelatihan Tri Widiastuti | https://journal. id/index. php/amma | Page 1226 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 10 November . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1221-1227 Secara keseluruhan pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat cukup berhasil karena peserta mampu menguasai materi, baik tentang membuat pembukuan sederhana. Peserta juga menjadi lebih mengerti bagaimana cara mengukur kinerja keuangan usahanya. Dengan diadakan pelatihan pembukuan sederhana, semua pihak memperoleh hasil dan manfaat, terutama bagi pelaku usaha tempe. Tim pengabdian mampu memberikan pengetahuan tentang pembukuan keuangan KESIMPULAN Kesimpulan yang didapat berdasarkan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat pelaku usaha tempe bahwa pelaku usaha mengalami peningkatan literasi keuangan melalui pembukuan keuangan sederhana sebesar 89,09%, kondisi ini dapat diartikan bahwa pelaku usaha mampu memahami dan mengerti dengan sangat baik materi yang diberikan selama pelatihan. Pelaku usaha harus mempunyai keyakinan bahwa dengan membuat pembukuan keuangan sederhana maka pelaku usaha dalam membuat keputusan yang baik untuk keberlangsungan usahanya. REFERENCES