Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY (TSTS) TERHADAP KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 SUNGAI TARAB Lutfi DelfiannC. Sri Arita 2 Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Padang. Indonesia 12 nC Corresponding Author Email: lutfidelfian3@gmail. Author Email : sriarita69@gmail. Article History: Received: June 2025 Revision: July 2025 Accepted: July 2025 Published: August Keywords: Two Stay Two Stray (TSTS). Student Engagement. Learning Outcomes. QuasiExperiment. Economics. Sejarah Artikel: Diterima: Juni 2025 Direvisi: Juli 2025 Disetujui: Juli 2025 Diterbitkan: Agustus Kata kunci: Two Stay Two Stray (TSTS). Keaktifan Belajar. Hasil Belajar. Quasi-Eksperimen. Ekonomi. Abstract: This study ventures into uncovering the transformative currents of the Two Stay Two Stray (TSTS) model in igniting student enthusiasm and enhancing their academic performance in Economics. At its core. TSTS weaves cooperative learning magic by pairing students where two adventurers AustrayAy into other groups to gather fresh insights, while their AustayAy partners hold the fort, ready to swap and absorb new ideas. The inspiration for this study blooms from witnessing yawning participation gaps and underwhelming academic scores, symptoms often rooted in the stale terrain of traditional, teacher-led, and passive classrooms. Using a quasi-experimental blueprint, this exploration unfolds through a pretest-posttest control group setup, aiming to capture the true power of TSTS in action, with purposive sampling designating class X E1 as the intervention cohort and X E3 as the comparison unit at SMA Negeri 2 Sungai Tarab. Instruments for data gathering included engagement perception scales and standardized assessments of learning, with statistical evaluation performed via independent sample t-tests. The empirical findings underscore a notable efficacy of the TSTS model in amplifying student attentiveness and scholastic performance when contrasted with traditional didactic techniques. These outcomes advocate for the integration of interactive and student-centered teaching paradigms to enhance the dynamism of the educational process. Abstrak: Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengkaji pengaruh implementasi model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) terhadap peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Ekonomi, seiring masih rendahnya tingkat keaktifan belajar dan hasil belajar siswa akibat penggunaan model pembelajaran yang kurang variatif. Model TSTS dirancang guna memaksimalkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran melalui mekanisme diskusi kelompok, di mana dua anggota kelompok keluar untuk berbagi informasi . wo stra. sementara dua lainnya tetap di kelompok untuk menerima masukan dari kelompok lain . wo sta. Studi ini dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat partisipasi dan pencapaian belajar siswa, yang diduga kuat akibat dominannya metode konvensional berbasis ceramah, di mana guru menjadi pusat utama kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bersifat quasieksperimental dengan rancangan pretest-posttest control group dan metode purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari siswa kelas X E1 sebagai kelompok perlakuan, dan X E3 sebagai kelompok kontrol di SMA Negeri 2 Sungai Tarab. Instrumen penelitian berupa angket keaktifan belajar serta tes hasil belajar, yang kemudian dianalisis menggunakan independent sample t-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa model TSTS secara signifikan lebih unggul dalam meningkatkan partisipasi aktif serta hasil belajar siswa dibandingkan metode konvensional. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar pendidik This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 595 | Lutfi Delfian. Sri Arita. PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY (TSTS) TERHADAP KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 SUNGAI TARAB. mengadopsi model pembelajaran yang mendorong interaksi aktif antar peserta didik guna mengoptimalkan efektivitas proses belajar mengajar. How to Cite: Lutfi Delfian. Sri Arita. PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY (TSTS) TERHADAP KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 2 SUNGAI TARAB. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 10 . DOI : 10. 31932/jpe. PENDAHULUAN Proses pembelajaran memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi individu sekaligus meningkatkan kualitas manusia sebagai aset utama pembangunan. Pendidikan tidak sekadar menjadi jembatan menuju kemakmuran sosial, melainkan juga berperan sebagai kunci strategis untuk memperkuat daya saing bangsa di era persaingan global. Konsep ini beriringan dengan pandangan Abels et al. yang menegaskan bahwa mutu pendidikan yang unggul merupakan elemen krusial dalam membentuk insan yang sanggup bersaing di kancah global serta tanggap terhadap perubahan zaman. Di samping itu, interaksi yang harmonis dan adaptif antara pengajar dan pelajar turut menjadi komponen kunci dalam menapaki keberhasilan proses pendidikan (Muhammad et al. , 2. Pendidikan bermutu lahir tak hanya dari kurikulum, tapi dari pembelajaran yang membangkitkan keaktifan siswa. Proses edukasi memainkan peran sentral sebagai pengarah dalam membentuk jati diri seseorang sekaligus menjadi peradaban bangsa. Ini menandakan bahwa mutu pendidikan yang unggul memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kemajuan nasional (Kardina dan Magriasti, 2. Maka dari itu, upaya peningkatan kualitas pendidikan menjadi langkah utama dalam menuntun proses perubahan bangsa ke arah yang lebih progresif (Setiyorini dan Setiawan, 2. Salah satu bentuk konkret dari peningkatan kualitas pendidikan dapat pembelajaran di berbagai mata pelajaran, termasuk ekonomi. Pelajaran ekonomi di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) menanamkan wawasan kepada peserta didik mengenai seluk-beluk aktivitas keseharian mereka (Fifi Puspitasari et al. Meski demikian, hasil pengamatan awal di SMA Negeri 2 Sungai Tarab menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menilai proses belajar ekonomi cenderung membosankan dan terlalu berorientasi pada teori semata. Temuan ini diperoleh dari obrolan santai dengan beberapa murid yang menyampaikan bahwa penyampaian materi oleh guru kurang bervariasi serta minim melibatkan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Untuk menancapkan inti persoalan, peneliti memulai langkah pengamatan pendahuluan pada para pelajar kelas X di SMA Negeri 2 Sungai Tarab. Ditemukan bahwa mayoritas siswa memiliki tingkat keaktifan belajar yang rendah, berdasarkan lembar pengamatan yang menunjukkan kurang dari 50% siswa aktif dalam pembelajaran pada setiap indikator. Pada indikator pertama hanya 50% siswa yang mengerjakan tugas yang diberikan guru, pada indikator kedua hanya 26% siswa yang mengeluarkan pendapat dalam penyelesaian permasalahan yang diberikan guru,pada indikator ketiga hanya 34% This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 596 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE siswa yang bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahami, pada indikator keempat hanya 38% siswa yang berusaha memanfaatkan buku pelajaran, pada indikator kelima hanya 40% siswa yang turut serta dalam diskusi kelompok, pada indikator keenam hanya 26% siswa yang merasa yakin bisa menyelesaikan tugasnya sendiri, pada indikator ketujuh mengerjakan soal-soal terkait materi yang telah diajarkan oleh guru, pada indikator terakhir hanya 34% siswa yang mampu menyelesaikan tugas sesuai perintah guru. Selain itu, lebih dari 70% siswa juga belum tuntas dalam mata pelajaran Ekonomi pada ujian sumatif akhir semester. Hal ini tampak dari kelas X E1 hanya 2 orang siswa yang tuntas dari 25 siswa, kemudian pada kelas X E2 hanya 5 orang siswa yang tuntas dari 25 siswa dan pada kelas X E3 hanya 4 orang siswa yang tuntas dari 25 Gejala ini menekankan pentingnya penerapan strategi pengajaran yang dapat mendorong partisipasi aktif pelajar serta menumbuhkan atmosfer pembelajaran yang dinamis dan sarat makna. Keaktifan murid dalam pembelajaran mencerminkan adanya komunikasi yang interaktif dan hidup antara pendidik dan anak didik, serta partisipasi dalam beragam kegiatan seperti informasi (Rikawati dan Sitinjak, 2. Oleh karena itu, keaktifan siswa bukan hanya sebagai tanda keterlibatan mereka, melainkan juga berperan penting dalam meningkatkan pemahaman dan capaian Dengan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran menjadi unsur vital yang (Indayani et al. , 2. Fenomena ini menegaskan urgensi inovasi dalam metode pengajaran guna memperkuat partisipasi aktif peserta didik selama proses belajar Penetapan strategi pengajaran yang sesuai dan memikat memiliki kontribusi krusial dalam menjamin berlangsungnya kegiatan edukatif secara efektif dan efisien serta mampu mendorong keterlibatan aktif siswa, sehingga hasil belajar yang dicapai menjadi lebih optimal. Model pembelajaran adalah representasi dari keseluruhan rangkaian proses belajar yang disampaikan secara khas oleh pendidik mulai dari pembukaan hingga penutupan (Pratama et , 2. Dengan demikian, secara fundamental, model pembelajaran menjadi keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan (Oktaria et al. Model TSTS merupakan strategi sinergis yang diciptakan khusus guna memicu keterlibatan dinamis antar peserta didik. Metode ini dipilih dibandingkan dengan teknik kooperatif lainnya, yakni memungkinkan siswa untuk saling berbagi informasi lintas kelompok melalui mekanisme AustayAy dan AustrayAy. Keunggulan penyebaran ide lebih merata dan Dibandingkan dengan studi Setianingrum dan Hardini . yang mengimplementasikan model Think Pair Share dan model Two Stay Two Stray (TSTS) pada penelitiannya menunjukkan bahwa model TSTS lebih efektif dalam meningkatkan karakter tanggung jawab Hal ini sejalan dengan meningkatnya keterlibatan atau partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran, karena siswa tidak This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 597 | : Lutfi Delfian. Sri Arita. Pengaruh Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Terhadap Keaktifan Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 2 Sungai Tarab hanya dituntut untuk memahami materi, tetapi juga bertanggung jawab dalam menyampaikan hasil diskusi kelompoknya kepada kelompok lain. Menurut Silberman, pembentukan kelompok dalam proses belajar dapat mengoptimalkan kerja sama serta rasa tanggung jawab di antara siswa. Model TSTS adalah taktik belajar bersama yang membagi murid ke dalam kelompok kecil, lalu mereka saling bertukar peran untuk mengurai persoalan secara kolektif, kemudian dua anggota kelompok keluar untuk bertukar wawasan dengan dua individu dari tim lain yang tetap berada di Melalui metode ini, peserta didik dituntut menumbuhkan sikap tanggung jawab dan partisipasi aktif sepanjang rangkaian kegiatan belajar mengajar berlangsung (Budiyanto, 2. Metode pembelajaran TSTS diadopsi karena mampu membagi tugas secara tegas di memudahkan pengendalian peserta didik yang ramai dan susah dikendalikan saat proses belajar berlangsung (Hartono, 2. Pengadopsian pendekatan pembelajaran ini dilatarbelakangi oleh teori konstruktivisme oleh Piaget, yang menyoroti bahwa proses belajar bersifat aktif dan berkembang, di mana murid merangkai pengetahuan mereka sendiri melalui keterlibatan sosial serta pengalaman otentik yang dialami secara langsung (Suparlan, 2. Metode pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) telah dibuktikan efektif dalam mengangkat partisipasi serta pencapaian akademik peserta didik, sebagaimana terungkap dalam berbagai stt Contohnya, studi yang dilakukan oleh Putri & Puspasari . , telah teridentifikasi adanya dampak pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) terhadap capaian akademik peserta didik pada mata pelajaran Administrasi Umum di SMK Ketintang Surabaya. Temuan sejenis juga muncul dalam studi sebelumnya Mesah et al. , temuan studi menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) mendorong pencapaian akademik dan meningkatkan keterlibatan aktif siswa, khususnya dalam materi sistem peredaran Meski pendekatan ini dalam konteks pembelajaran ekonomi digital masih jarang dijajaki. Oleh karena itu, integrasi Canva sebagai media visual interaktif pada model TSTS berpotensi meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkaya pengalaman pembelajaran ekonomi menjadi lebih menarik dan Kebaruan dari studi ini terletak pada cakupan analisis yang tidak hanya memfokuskan pada dampak penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) terhadap peningkatan aspek kognitif siswa, namun juga menelaah sejauh mana model tersebut berkontribusi terhadap dinamika keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Studi ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Sungai Tarab yang merepresentasikan konteks sekolah negeri di wilayah nonperkotaan, sehingga temuan yang diperoleh dapat memperluas khazanah ilmiah terkait implementasi model pembelajaran di luar kawasan urban. Di samping itu, nilai kebaruan lainnya terletak pada adanya integrasi unsur teknologi dalam penerapan model TSTS untuk mata pelajaran ekonomi di tingkat pendidikan menengah atas. Studi ini memiliki peran penting dalam menunjang realisasi Kurikulum Merdeka, yang menitikberatkan pada 598 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik (Student Centered Learnin. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa temuan empiris yang pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan berdampak pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas. Selaras dengan temuan tersebut, studi ini dirancang untuk mengimplementasikan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) pada mata pelajaran Ekonomi, dengan dukungan pemanfaatan media digital Canva dalam proses presentasi. Melalui pendekatan ini, diharapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray TSTS dapat secara bersamaan meningkatkan partisipasi aktif serta capaian hasil belajar siswa. METODE PENELITIAN Studi ini mengadopsi metode kuasieksperimen dengan rancangan PretestPosttest Control Group. Dua kelompok peserta dilibatkan dalam studi, yaitu kelompok eksperimen yang menerima pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dan kelompok kontrol yang memperoleh Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Sungai Tarab. Kabupaten Tanah Datar. Provinsi Sumatera Barat, tepatnya pada siswa kelas X. Pemilihan kelas ini didasarkan pada permasalahan yang ditemukan pada observasi awal yang menunjukkan rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa, dimana datanya sudah tertera pada pendahuluan. Pelaksanaan studi ini berlangsung pada semester genap tahun akademik 2024/2025, tepatnya selama bulan Mei hingga Juni 2025. Populasi dalam studi ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 2 Sungai Tarab pada tahun pelajaran 2024/2025. Pada tahun pelajaran tersebut, kelas X terbagi ke dalam tiga rombongan belajar, yaitu: kelas X E1 sebanyak 25 siswa, kelas X E2 sebanyak 22 siswa, dan kelas X E3 sebanyak 25 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dengan mempertimbangkan kesamaan nilai ratarata hasil Sumatif Akhir Sekolah (SAS). Adapun rata-rata nilai SAS untuk kelas X E1 adalah 54, kelas X E2 sebesar 60, dan kelas X E3 sebesar 55. Berdasarkan kesamaan nilai tersebut, kelas X E1 dan X E3 dipilih sebagai sampel karena memiliki nilai rata-rata yang paling mendekati. Penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan secara acak melalui Hasil undian menunjukkan bahwa kelas X E1 ditetapkan sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas X E3 sebagai kelas kontrol. Setiap kelas terdiri dari 25 siswa, sehingga jumlah total partisipan dalam penelitian ini adalah 50 siswa. Studi ini memusatkan perhatian pada variabel pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), serta variabel terikat yang mencakup tingkat keaktifan belajar dan capaian hasil belajar siswa. Instrumen yang digunakan pada mengidentifikasi tingkat keaktifan belajar, serta tes berbentuk soal untuk mengukur hasil belajar. Uji validitas instrumen dilakukan melalui tahapan pengujian validitas, reliabilitas, analisis tingkat kesulitan soal, serta daya pembeda butir Untuk mengevaluasi tingkat validitas instrumen, dilakukan uji validitas melalui penyebaran angket atau kuesioner. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa 37 dari 39 pernyataan dinyatakan valid karena nilai R This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 599 | : Lutfi Delfian. Sri Arita. Pengaruh Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Terhadap Keaktifan Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 2 Sungai Tarab hitung Ou R tabel, kecuali pernyataan nomor 1 dan 30 yang dinyatakan tidak valid karena R hitung < R tabel. Dengan jumlah sampel sebanyak 30 siswa maka nilai R tabel sebesar 0,361. Hal ini berarti jika nilai R hitung Ou 0,361, maka item pernyataan dianggap valid, sedangkan jika R hitung < 0,361, item tersebut dinyatakan tidak valid. Selanjutnya, pengujian soal tes dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (Content Validit. Validitas isi merupakan jenis validitas yang dinilai berdasarkan kesesuaian dan relevansi isi tes oleh pihak yang berkompet. Proses validasi ini dilakukan melalui konsultasi dengan dosen pembimbing guna menilai kesesuaian soal dengan kompetensi siswa yang diukur. Berdasarkan hasil konsultasi tersebut, diperoleh 20 soal yang valid dan layak digunakan sebagai instrumen tes. Selanjutnya dilakukan uji reabilitas untuk mengetahui sejauh mana suatu instrumen pengukuran seperti angket dan soal tes memberikan hasil yang konsisten dan stabil jika digunakan berulang kali dalam kondisi yang sama. Skala pengukuran reliabilitas dalam metode ini berkisar 0 sampai 1. Suatu instrumen penelitian dianggap memiliki reliabilitas yang tinggi apabila nilai pengukurannya mendekati angka satu. Hasil uji reliabilitas koefisien Cronbach Alpha, dimana instrumen dikatakan reliabel jika memiliki koefisien Cronbach Alpha Ou 0,60. Berdasarkan hasil uji relibilitas pada isntrumen angket memiliki koefisien sebesar 0,944 dan instrumen soal tes sebesar 0,741 artinya nilai koefisien Ou 0,60 sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Selanjutnya pada instrumen soal tes juga dilakukan uji tingkat kesukaran untuk melihat apakah soal tersebut tergolong sulit, sedang, atau mudah. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau terlalu sulit. Soal yang terlalu mudah tidak akan mendorong siswa untuk berusaha lebih keras dalam menyelesaikannya. Sebaliknya, soal yang terlalu sulit akan membuat siswa merasa putus asa dan tidak bersemangat untuk mencoba lagi karena Berdasarkan hasil olah data tingkat kesukaran soal dapat diketahui bahwa terdapat 6 soal dengan tingkat mudah, 14 soal dengan tingkat sedang. Selain itu dilakukan pula uji daya pembeda soal untuk membedakan siswa berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan rendah. Suatu soal dapat dikategorikan baik jika memiliki nilai indeks daya pembeda Ou 0,40. Berdasarkan hasil olah data daya pembeda soal dapat diketahui bahwa 20 soal semuanya dalam kategori baik. Setelah dilakukan uji coba instrumen, data yang diperoleh dari hasil penelitian selanjutnya Analisis data didahului dengan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas, kemudian dilanjutkan dengan pengujian hipotesis menggunakan metode Independent Sample T-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Studi ini merekam dinamika partisipasi belajar serta capaian akademik dari dua kelompok berbeda yaitu kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), dan kelas kontrol yang mempertahankan gaya pembelajaran konvensional. Data seputar keaktifan belajar serta hasil evaluasi diraih melalui angket dan ujian yang melibatkan masing-masing 25 siswa di setiap kelompok. Seluruh gambaran 600 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE deskriptif dari temuan tersebut kemudian dirangkum dalam bentuk tabel berikut sebagai visualisasi yang mudah dipahami: Tabel 1: Analisis Deskriptif Keaktifan Belajar Variabel Keaktifan Belajar awal kelas Keaktifan Belajar akhir kelas Keaktifan Belajar awal kelas Keaktifan Belajar akhir kelas Sumber: data olahan. Min. Max. Mean Std. Deviation Berdasarkan Tabel 1, analisis data keaktifan belajar awal menunjukkan ratarata 150,44 untuk kelas kontrol dan 150,56 untuk kelas eksperimen. Kedua nilai ini mengindikasikan kesetaraan keaktifan belajar ekonomi siswa sebelum perlakuan, dengan selisih yang tidak signifikan. Setelah diberi perlakuan melalui penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), terjadi peningkatan keaktifan belajar siswa. Hal ini terlihat dari perbedaan rata-rata nilai antara kelas eksperimen sebesar 164,72 dan kelas kontrol sebesar 152,68, yang menunjukkan selisih yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran keaktifan belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Ekonomi. Tabel 2: Analisis Deskriptif Soal Pre-test dan Post-test Variabel Hasil Belajar awal kelas Hasil Belajar akhir kelas Hasil Belajar awal kelas Hasil Belajar akhir kelas Sumber: data olahan. Range Min. Max. Mean Std. Deviation Berdasarkan Tabel 2, skor pre-test menunjukkan rata-rata prestasi ekonomi siswa kelas X sebesar 43,84 . dan 42,8 . Kedua kelompok belum mencapai KKTP 75. Setelah penerapan model TSTS, nilai post-test naik signifikan: 59,00 . dan 82,20 . , membuktikan TSTS lebih efektif dibanding metode konvensional dalam meningkatkan hasil belajar Ekonomi siswa kelas X. This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 601 | : Lutfi Delfian. Sri Arita. Pengaruh Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Terhadap Keaktifan Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 2 Sungai Tarab Langkah mengecek normalitas dan homogenitas sebagai tahap pembuka sebelum melangkah ke pengujian hipotesis. Uji normalitas dilakukan guna memastikan bahwa sampel dari kedua kelompok memenuhi asumsi distribusi normal. Dalam proses ini, peneliti Shapiro-Wilk melalui perangkat lunak SPSS, karena jumlah responden berada di bawah angka Tolok ukur pengambilan keputusan dalam uji ini merujuk pada nilai signifikansi Ou 0,05, yang mengindikasikan bahwa data memiliki pola distribusi yang wajar atau normal. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada uji normalitas untuk instrumen angket berada di atas 0,05, yaitu sebesar 0,239 untuk pretest kelas kontrol, 0,858 untuk pretest kelas eksperimen, 0,452 untuk posttest kelas kontrol, dan 0,990 untuk posttest kelas eksperimen. Sementara itu, hasil uji normalitas terhadap instrumen tes menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,467 untuk pretest kelas kontrol, 0,713 untuk pretest kelas eksperimen, 0,066 untuk posttest kelas kontrol, dan 0,198 untuk posttest kelas eksperimen. Dengan demikian, seluruh data baik dari angket maupun tes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki nilai signifikansi di atas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Selanjutnya, dilakukan untuk memastikan kesamaan variasi antar kelompok sebagai prasyarat keabsahan uji hipotesis. Varians antara kelas kontrol dan eksperimen diuji dengan metode Levene yang juga dijalankan melalui SPSS. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada uji homogenitas untuk instrumen angket keaktifan belajar berada di atas 0,05, yaitu nilai signifikansi sebesar 0,060 pada Based on Mean, 0,096 pada Based on Median, 0,097 pada Based on Median with adjusted df dan 0,066 pada Based on Trimmed Mean. Sementara itu, hasil uji homogenitas terhadap instrumen tes hasil belajar menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,214 pada Based on Mean, 0,310 pada Based on Median, 0,311 pada Based on Median with adjusted df dan 0,245 pada Based on Trimmed Mean. Hal ini menunjukkan bahwa varians data antar Kesimpulannya, karakteristik data di kelas eksperimen dan kontrol dalam riset ini konsisten dan memenuhi syarat yang Selanjutnya, studi ini menguji hipotesis menggunakan uji Independent Sample T-Test untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) terhadap keaktifan partisipatif siswa. Uji ini digunakan guna membandingkan rerata dua kelompok yang Analisis membutuhkan terpenuhinya kondisi asumsi keseragaman varians antar kelompok. Temuan uji memperlihatkan bahwa kedua syarat tersebut telah terpenuhi dalam kajian Dalam studi ini, digunakan uji Independent Sample T-test sebagai alat untuk mengungkap adanya disparitas signifikan antara derajat keterlibatan belajar serta pencapaian akademik ekonomi pada siswa yang dibimbing melalui model Two Stay Two Stray (TSTS) dibandingkan dengan mereka yang menempuh jalur pembelajaran konvensional di SMA Negeri 2 Sungai Tarab. Proses analisis berfokus 602 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE pada perbandingan skor post-test kedua kelompok, yang kemudian dipresentasikan dalam tabel berikut sebagai gambaran Tabel 3: Hasil Uji Independent Samples T-test Keaktifan Belajar t-test for Equality of Means LeveneAos Test for Equality Variances Sig. Std. Mean Error Sig. Differenc Differenc Equal Equal Sumber: data olahan. Analisis statistik pada Tabel 3 mengungkapkan perbedaan signifikan . = 0,000 < 0,. dalam keaktifan belajar antara kelompok eksperimen (TSTS) dan kontrol . Temuan ini Confidence Interval of the Difference Lowe Uppe membuktikan keefektifan model TSTS sebagai inovasi pedagogis yang secara bermakna meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Tabel 4: Hasil Uji Independent Samples T-test Hasil Belajar t-test for Equality of Means LeveneAos Test for Equality Variances Sig. Std. Mean Error Sig. Differenc Differenc Equal Equal Sumber: data olahan. This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Confidence Interval of the Difference Lowe Uppe Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 603 | : Lutfi Delfian. Sri Arita. Pengaruh Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Terhadap Keaktifan Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 2 Sungai Tarab Berdasarkan output statistik pada Tabel 4, diperoleh nilai p 0. 000 < 0. 05 yang menunjukkan perbedaan bermakna pada hasil belajar antara kelompok eksperimen (TSTS) embelajaran konvensiona. Hasil ini membuktikan keunggulan model TSTS dalam meningkatkan pencapaian akademik peserta didik dibandingkan pendekatan Studi ini menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok dalam tingkat partisipasi aktif serta pencapaian belajar antara peserta didik yang diterapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dan mereka yang masih mengikuti Perbedaan tersebut tampak nyata melalui hasil analisis angket dan evaluasi, yang mengindikasikan peningkatan signifikan pasca implementasi metode kolaboratif Model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang hidup, interaktif, dan menekankan kerja sama antar peserta. Pendekatan bertransformasi menjadi pelaku aktif di setiap tahap proses belajar. Dengan menerapkan strategi TSTS, setiap peserta mendapatkan peluang untuk berpartisipasi secara intens dalam diskusi, saling bertukar pemikiran, serta menyampaikan ide-ide kreatif secara langsung. Pendekatan ini turut mendongkrak tingkat sketerlibatan dan keaktifan peserta dalam aktivitas (Alfiqri dan Indayani, 2. Model TSTS telah terbukti ampuh dalam meningkatkan keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran. Dalam model ini, setiap peserta didik memegang dua peran sekaligus, yakni sebagai pengirim dan penerima informasi secara peningkatan partisipasi yang signifikan dalam kegiatan belajar (Agustina et al. Model TSTS beroperasi dengan cara mempertahankan dua peserta didik di kelompok aslinya, sementara dua peserta lainnya berpindah ke kelompok berbeda untuk berbagi informasi. Pendekatan ini memfasilitasi pertukaran gagasan yang keterlibatan intelektual dan interaksi sosial antar anggota. Selain itu, model ini juga mengembangkan semangat kerjasama serta tanggung jawab kolektif dalam mencapai tujuan pembelajaran bersama. Model TSTS menghadirkan suasana kelas yang lebih hidup dan partisipatif. Pendekatan ini mengajak siswa untuk secara aktif ikut serta dalam proses belajar melalui diskusi serta pertukaran ide antar Keaktifan siswa dalam kegiatan tersebut turut memperdalam pemahaman materi sekaligus mendongkrak prestasi Sebagai sebuah model pembelajaran kooperatif. TSTS mampu menjangkau kebutuhan belajar siswa secara komprehensif, mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dalam mata pelajaran ekonomi. Tiga ranah tersebut dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Pada penelitian ini menggunakan satu ranah yaitu ranah kognitif yang dapat diketahui setiap saat untuk mengukur tingkat pencapaian hasil belajar siswa. Dengan interaksi dan kerja sama yang intens, siswa didorong untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, 604 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE memperluas wawasan konsep, serta meningkatkan pencapaian belajar secara berkelanjutan (Bunga et al. , 2. Proses pembelajaran dalam kelas eksperimen diawali dengan pengenalan model TSTS yang langsung dipandu oleh Pada tahap pembuka, peneliti mengenai prosedur pelaksanaan TSTS, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, serta pembagian peran spesifik bagi setiap anggota kelompok selama kegiatan Setelah itu, siswa dibagi menjadi beberapa tim kecil yang terdiri dari empat anggota. Peneliti memastikan bahwa seluruh peserta memahami dengan baik peran serta tanggung jawab masing-masing dalam mekanisme pembelajaran yang telah Berikutnya, tema diskusi khusus yang akan diangkat oleh tiap kelompok diumumkan secara terbuka. Setelah sesi diskusi kelompok berakhir, dua delegasi dari setiap tim dipindahkan ke kelompok lain guna memaparkan hasil diskusi, sementara dua anggota lainnya tetap berada di kelompok asal untuk menerima dan berdialog dengan tamu yang datang. Kegiatan ini berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dan diawasi oleh peneliti keseimbangan proses pembelajaran. Model TSTS mendorong setiap siswa untuk aktif bertukar pikiran, berpartisipasi dalam diskusi yang interaktif, serta memperdalam pemahaman materi melalui komunikasi dua arah. Keterlibatan penuh peserta didik dalam setiap tahapan pembelajaran menjadikan proses belajar lebih bermakna. Peningkatan partisipasi dalam diskusi dan kerja sama kelompok turut berkontribusi terhadap pencapaian hasil belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, model TSTS dapat dijadikan sebagai pendekatan pembelajaran yang adaptif, dinamis, serta mendorong kolaborasi dan pembelajaran (Faqihah et al. , 2. Suasana pembelajaran yang kondusif dan ekosistem belajar yang positif, yang pada peningkatan hasil belajar peserta didik (Arianti et al, 2. Sementara itu, di kelas kontrol, proses pembelajaran dilaksanakan dengan Peneliti menggunakan metode tanya jawab setelah peserta didik diberikan tugas mandiri untuk mempelajari isi buku pelajaran. Namun, dalam pelaksanaannya, hanya sebagian kecil siswa yang berpartisipasi dalam sesi tanya jawab, bahkan sering kali tidak ada respons sama sekali. Kondisi ini mendorong peneliti untuk memberikan penjelasan materi secara langsung melalui Pola pembelajaran yang bersifat satu arah dan berlangsung secara berulang dinilai dapat menimbulkan kejenuhan, serta kurang mendukung pengembangan daya pikir kritis dan partisipasi aktif peserta didik selama proses pembelajaran (Triana Dewi, 2. Dalam proses pembelajaran, peserta didik sering menghadapi hambatan berupa kejenuhan yang muncul di tengah aktivitas Kondisi ini umumnya disebabkan oleh metode pengajaran yang monoton dan kurang menarik dalam penyampaian Kejenuhan tersebut berdampak pada menurunnya motivasi dan partisipasi aktif peserta didik, yang pada akhirnya memengaruhi pencapaian hasil belajar. Dari sudut pandang psikologis, kejenuhan belajar merupakan kondisi mental ketika siswa merasa lelah secara emosional dan This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright A2025. The Author. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 605 | : Lutfi Delfian. Sri Arita. Pengaruh Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Terhadap Keaktifan Belajar Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 2 Sungai Tarab pembelajaran menjadi kurang optimal dan (Mutafaridho Purwowidodo 2. Sebagai solusi terhadap kondisi ini, peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS), yang dirancang untuk mengaktifkan partisipasi siswa secara menyeluruh melalui diskusi kelompok dan pertukaran ide antar kelompok. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mencegah kejenuhan melalui interaksi yang dinamis antar peserta didik. Kejenuhan yang dialami peserta didik dapat menurunkan efektivitas proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap pencapaian hasil belajar mereka (Rosmaidah et al. , 2. Dalam konteks pendidikan, strategi pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) merupakan salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan konsentrasi belajar peserta didik serta menciptakan suasana kelas yang interaktif dan dinamis. Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif siswa dalam setiap tahap pembelajaran, yang secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar mereka. Temuan riset ini sejalan dengan hasil yang diungkap oleh Mesah, et al peningkatan yang signifikan dalam persentase keberhasilan belajar siswa serta meningkatnya partisipasi aktif selama diskusi kelompok setelah diterapkannya strategi pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). Temuan serupa juga dilaporkan dalam studi yang dilakukan oleh Siregar . , yang menegaskan bahwa model Two Stay Two Stray (TSTS) memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan akademis siswa, khususnya di bidang Berdasarkan informasi di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran TSTS telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keterlibatan dan pembelajaran siswa di SMA Negeri 2 Sungai Tarab. Temuan studi menunjukkan bahwa model TSTS mampu ekonomi yang lebih dinamis dibandingkan Efektivitas model ini ditunjukkan dengan meningkatnya aktivitas siswa dan hasil belajar pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Oleh karena itu, model TSTS layak dipertimbangkan sebagai alternatif inovatif dalam perancangan pembelajaran yang lebih partisipatif dan bermakna. Penerapan model ini juga berpotensi mengurangi kejenuhan belajar, memperkaya teknik keterlibatan dan pencapaian belajar secara PENUTUP Studi ini mengungkap bahwa model pembelajaran TSTS berperan signifikan dalam meningkatkan keaktfian belajar dan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Ekonomi. Siswa yang terlibat TSTS menunjukkan dinamika interaksi yang lebih hidup dibandingkan dengan metode konvensional, terbukti dari skor aktivitas belajar yang lebih tinggi. Peningkatan juga terlihat pada aspek kognitif, di mana nilai post-test kelompok eksperimen melampaui batas kelulusan dan unggul secara mencolok dari kelompok kontrol. Temuan ini menegaskan bahwa TSTS merupakan 606 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10. Nomor 2, 2025 http://jurnal. id/jurnal/index. php/JPE pendekatan kooperatif yang efektif dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif sekaligus memperkuat pemahaman konsep. Keterbatasan pada studi ini adalah ruang lingkup masih terbatas pada satu sekolah, yakni SMA Negeri 2 Sungai Tarab, dengan subjek siswa kelas X. Kondisi ini membatasi generalisasi hasil, terutama untuk konteks sekolah lain yang memiliki perbedaan dalam hal fasilitas, budaya belajar, maupun implementasi kurikulum. Selain itu, penelitian belum mengeksplorasi variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap efektivitas model TSTS, seperti motivasi belajar, gaya belajar siswa, atau keterampilan sosial. Oleh sebab itu, riset memperluas jangkauan penerapan TSTS, baik pada mata pelajaran berbeda maupun pada jenjang pendidikan lain. Studi mendatang juga disarankan menggali variabel tambahan yang berpotensi memengaruhi keaktifan dan hasil belajar pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). DAFTAR PUSTAKA