Review Strategi komunikasi pada pasien paliatif: Literature Review Hayatus SaAoadah Ayu Lestari1*. Fitrian Rahimi1. Karina Nor Izati Rifdah1. Syifa Darmayanti1. Fatimah Az Zahra1. Wahyu Novita Anggraini1. Rieska Fibrianti. Dwi Lestari1. Eva Anastasia Within1. Toni Wenda1. Imran Pashar1 Program Studi Keperawatan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Lambung Mangkurat Jurnal Kesehatan e-ISSN: 2502-0439 Informasi artikel Diterima : 29 Mei 2025 Revisi : 12 Juli 2025 Diterbitkan : 31 Juli 2025 Korespondensi nama penulis: Hayatus SaAoadah Ayu Lestari afiliasi: Universitas Lambung Mangkurat email: ayulestari@ulm. *diisi editor Sitasi: Lestari. Rahimi. Rifdah. Darmayanti. Zahra. Anggraini. Fibrianti. Lestari. Within. Wenda. Pashar. Strategi komunikasi pada pasien paliatif: Literature Review. Jurnal Kesehatan. ABSTRAK Peningkatan jumlah pasien paliatif menuntut komunikasi yang lebih efektif. Komunikasi menjadi kunci dalam mendukung kualitas hidup pasien. Artikel ini bertujuan untuk menelaah strategi komunikasi melalui literature Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review menggunakan pencarian literatur melalui Scopus. PubMed dan Science Direct. Pencarian artikel mempergunakan kata kunci ("communication" OR "dialogue" OR "interaction" OR "discourse") AND ("palliative care" OR "end-of-life care" OR "hospice care" OR "supportive care") AND ("strategies" OR "approaches" OR "methods" OR "techniques"). Kriteria inklusi yang menjadi bahan literature review ini, yaitu: . Artikel dengan tahun terbit 2020-2025, . Original Artikel, . Tersedia full text . Artikel berbahasa Inggris . Studi Kuantitatif. Tinjauan pustaka ini dilakukan sesuai dengan pedoman PRISMA. Penelusuran literatur menghasilkan 10 artikel yang sesuai untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil sintesa didapatkan bahwa strategi komunikasi yang dapat pada pasien paliatif adalah komunikasi yang berpusat pada pasien, empati dan dukungan emosional, komunikasi kesehatan digital, melibatkan keluarga, dan strategi komunikasi verbal dan non-verbal. Strategi komunikasi tersebut dapat diimplementasikan dalam perawatan paliatif Kata kunci: Komunikasi paliatif. Pasien paliatif. Perawatan paliatif ABSTRACT The increasing number of palliative patients necessitates more effective communication strategies. Communication plays a crucial role in supporting patients' quality of life. This article explores communication strategies in palliative care through a literature review. The method used is a literature review based on searches conducted in Scopus. PubMed, and ScienceDirect. Articles were identified using the keywords: ("communication" OR "dialogue" OR "interaction" OR "discourse") AND ("palliative care" OR "end-of-life care" OR "hospice care" OR "supportive care") AND ("strategy" OR "approach" OR "method" OR "technique"). The inclusion criteria for this review were: . Articles published between 2020 and 2025. Original research articles. Full-text availability. Articles written in English. Quantitative studies. This literature review was conducted in accordance with the PRISMA guidelines, resulting in 10 eligible articles. The synthesis revealed that effective communication strategies in palliative care include patient-centered communication, empathy and emotional support, digital health communication, family involvement, and verbal and nonverbal communication techniques. These strategies can be effectively implemented to enhance the quality of palliative care. Keywords: Palliative communication. Palliative patients. Palliative care Pendahuluan Komunikasi yang membutuhkan pelayanan paliatif di dunia dengan paliatif memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien Sedangkan yang menghadapi penyakit terminal. Indonesia. Pasien paliatif sebesar 0,35 % (Global Atlas of Palliative Care, 2. Komunikasi komunikasi yang terapeutik, empatik, paliatif memiliki peran krusial dalam dan personal. Strategi komunikasi ini meningkatkan kualitas hidup pasien harus mencakup dukungan psikologis, pendekatan yang terapeutik, empatik, peningkatan kualitas hidup melalui dan personal (Lopera, 2. Pasien kelompok, dan edukasi keluarga. Selain itu, komunikasi yang jelas dan sensitif juga diperlukan dalam pengambilan keputusan medis agar pasien merasa dihargai dan mendapatkan perawatan sesuai keinginannya. diskusi kelompok dan edukasi keluarga Saat (Yilmaz et al. , 2021. Midtbust et al. paliatif secara global menunjukkan Bla et al. , 2. Namun, peningkatan signifikan setiap tahunnya. Tercatat lebih dari 56,8 juta orang yang hambatan, termasuk kesulitan dalam membutuhkaan perawatan paliatif di menghadapi keluarga yang marah. Prevalensi pasien yang membutuhkan pelayanan emosional yang tinggi, yang dapat paliatif adalah pada usia tua atau lebih menyebabkan perasaan sedih, tidak dari 70 tahun, yaitu sekitar 40%. Hal ini berdaya, dan cemas (Banu & Kav, sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup di dunia. Kawasan asia keterampilan komunikasi juga menjadi tenggara mencatat sekitar 17,1% dari tantangan, seperti kebingungan dalam Selain penggunaan terminologi yang mudah komunikasi yang lebih efektif dalam perawatan paliatif. Hasil dari penelitian menyampaikan kondisi pasien secara jelas (Hill et al. , 2018. Robertsen & wawasan yang lebih mendalam bagi Skyr, 2. Hambatan lain yang sering perawat dalam menghadapi tantangan muncul adalah kurangnya rasa percaya komunikasi dengan pasien paliatif serta berita buruk, termasuk pembicaraan hayat, prognosis penyakit, serta pilihan Metode do not resuscitate (DNR) saat pasien Artikel mengalami henti jantung (Chan et al. mempergunakan pendekatan literature Ducharlet et al. , 2021. Chen et Sebuah pencarian literatur , 2. melalui Scopus. PubMed dan Science Penelitian ini merupakan literature Direct. Pencarian review yang bertujuan mengeksplorasi strategi komunikasi dalam perawatan ("communication" OR "dialogue" OR Fokus utama tinjauan ini adalah "interaction" untuk memahami strategi komunikasi ("palliative care" OR "end-of-life care" yang digunakan pada pasien paliatif OR "hospice care" OR "supportive AND diterapkan dalam praktik keperawatan. "approaches" Selain itu, penelitian ini juga bertujuan "techniques") . untuk mengembangkan pedoman yang "discourse") ("strategies" "methods" AND Kriteria inklusi yang menjadi bahan literature review ini, yaitu: . Artikel dengan tahun terbit 2020-2025, . Dengan demikian, penelitian ini Original Artikel, . Tersedia full text . Artikel berbahasa Inggris . Studi pembaruan dari studi sebelumnya. Kuantitatif. Kriteria eksklusi dalam studi tetapi juga memberikan kontribusi baru ini mencakup: . Artikel yang dibawah tahun 2020, . Artikel tidak lengkap, . Artikel yang menggunakan studi kualitatif. Proses PRISMA artikel yang sesuai untuk dianalisis lebih Penelusuran literatur menghasilkan 10 Identification Records identified from Scopus: . = 2. PubMed: . = . Science Direct: =6. Duplicate Record removed: . = 2. Screening Records screened: =6. Records excluded based on title: . = 3. Report assessed for eligibility: . = 3. Reports excluded Excluded based on abstract . = 2. Excluded based on the design . = . Included Studies included in review . = . Gambar 1. Flow Diagram Tabel 1. Sintesis artikel Nama dan tahun Yusuke Hiratsuka. Takayuki Oishi. Mitsunori Miyashita. Tatsuya Morita. Jennifer W. Mack. Masahiro Takahashi. Hidekazu Shirota. Kazunori Otsuka. Chikashi Ishioka. Akira Inoue . Rebecca Otte. Ruud Roodbeen. Gudule Boland. Janneke Noordman. Sandra van Dulmen . Strategi Komunikasi yang berpusat pada pasien Komunikasi yang berpusat pada pasien Hasil Pasien memiliki pemahaman yang sesuai dengan penjelasan tenaga kesehatan. Sebagian besar pasien menunjukkan pemahaman yang lebih optimis, baik mengenai keberadaan perawatan paliatif maupun kondisi kesehatannya sendiri. Artinya, banyak pasien masih memiliki harapan akan kesembuhan atau kesehatan yang lebih baik meskipun penjelasan medis menyatakan sebaliknya. Komunikasi afektif antara tenaga kesehatan dan pasien dengan literasi kesehatan terbatas yang berada dalam fase paliatif penyakit paru seperti COPD atau kanker paru. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien sering mengungkapkan isyarat atau kekhawatiran emosional, namun respons tenaga mengeksplorasi sisi emosional tersebut. Komunikasi afektif No Nama dan tahun Strategi Eunhye Jeong & Young Han . Komunikasi yang berpusat pada pasien Katharine L. Cheung. Jane O. Schell. Alan Rubin. Jacqueline Hoops. Bette Gilmartin. Robert Cohen . Komunikasi yang berpusat pada pasien Natylia Ubisse Schmauch. Emilia Pinto. Francisca Rego. Luysa Castro. Jahit Sacarlal. Guilhermina Rego Empati Emily L. Mroz. PhD Meghan McDarby. MA Robert M. Arnold. MD Carma L. Bylund. PhD. FACH Jean S. Kutner. MD. MSPH Kathryn I. Pollak. PhD Empati Rebecca Stanley. Joanne Bayly. Tessa Morgan. Lesley Dunleavy. Fliss E. Murtagh. Katherine E. Sleeman . Jin-Sun Park. KyoungWoo Seo. Jung Eun Lee. Kyoung-Hwa Kim. Komunikasi Komunikasi yang berpusat Hasil yang efektif dianggap penting untuk membantu pasien mengungkapkan perasaannya, meningkatkan pemahaman informasi, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih Komunikasi yang efektif dalam perawatan pasien akhir hayat sangat dipengaruhi oleh berbagai perspektif dan pendekatan yang dimiliki oleh perawat. Dengan mengidentifikasi empat tipe utamaAisincere listener, family centered caregiver, resource utilization facilitator, dan sufficient time devoterAi penelitian menegaskan pentingnya pemahaman terhadap pengembangan strategi komunikasi, pelatihan, dan dukungan Pendekatan yang disesuaikan dengan perspektif memperbaiki pengalaman pasien dan keluarga, serta memastikan perawatan yang berorientasi pada kebutuhan pasien di akhir hayat. Pelatihan keterampilan komunikasi yang dirancang secara terstruktur dan berbasis praktik terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan serta kepercayaan diri anggota tim nefrologi, seperti perawat dan pekerja sosial, dalam pengambilan keputusan bersama, serta topik-topik sensitif lainnya yang berkaitan dengan pasien penyakit ginjal kronis stadium lanjut. Pendekatan pelatihan ini mencakup metode pembelajaran yang menyeluruh, yaitu melalui penyampaian materi . , demonstrasi langsung, serta simulasi peran . ole pla. yang disertai umpan balik segera. Hal ini mengembangkan keterampilan komunikasi yang esensial dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dan berpusat pada nilai-nilai pasien. Sebagian besar tenaga kesehatan di Mozambik menunjukkan kemampuan yang cukup hingga baik dalam menyampaikan kabar buruk kepada pasien. Meskipun demikian, secara emosional mereka sering merasakan kesedihan dan kekhawatiran terhadap kemungkinan reaksi dari pasien. Pertemuan dalam layanan paliatif spesialistik menyimpan berbagai peluang untuk menunjukkan respons empatik terhadap pasien. Namun, dalam praktiknya, tenaga klinis cenderung lebih responsif secara empatik terhadap ekspresi positif yang disampaikan pasien, seperti kemajuan dalam kondisi kesehatan. Sebaliknya, ketika pasien menyampaikan ekspresi yang mencerminkan tantangan atau kesulitan, respons empatik dari tenaga kesehatan justru sering kali lebih Hal ini kemungkinan disebabkan oleh anggapan bahwa ekspresi negatif dapat mengganggu alur atau fokus diskusi klinis. Teknologi meningkatkan komunikasi profesional dan akses pendidikan, serta membantu interaksi pasien-keluarga selama Namun, kendala teknis, isolasi sosial, dan keterbatasan efektivitas juga teridentifikasi. Pendekatan blended learning dan hybrid care direkomendasikan. Pasien lebih membutuhkan komunikasi tentang perangkat medis, sementara tenaga kesehatan lebih fokus pada aspek kehidupan sehari-hari penderita gagal jantung. Komunikasi No Nama dan tahun Jeong-Ah Ahn . Strategi Emily L. Mroz. Meghan McDarby. Jean S. Kutner. Robert M. Arnold. Carma L. Bylund. Kathryn I. Pollak . Empati, emosional dan Cytia Dias1. Inys Tello Rodrigues. Hernyni Gonyalves, and Ivone Duarte . Strategi non-verbal Hasil tentang perawatan akhir hayat masih menjadi prioritas rendah di kedua kelompok. Dibutuhkan strategi komunikasi berpusat pada pasien dengan dukungan edukasi, perilaku mandiri, dan pelibatan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa pasien lebih sering menyampaikan tantangan. Semakin banyak care partners, semakin banyak kebutuhan empatik yang muncul. Respons empatik klinisi lebih baik saat lebih banyak klinisi hadir. Temuan ini menekankan pentingnya komunikasi empatik untuk mendukung kebutuhan emosional pasien dalam perawatan paliatif. Penelitian menunjukkan bahwa strategi verbal dan nonverbal, seperti penyesuaian bahasa dan kontak mata, paling dihargai oleh terapis wicara. Tidak ada perbedaan signifikan antara terapis dengan dan tanpa pengalaman paliatif, meskipun yang berpengalaman cenderung lebih menekankan komunikasi lisan. Strategi komunikasi adaptif dinilai penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pembahasan nilai-nilai Berdasarkan hasil dari sintesa 10 artikel literasi kesehatan yang beragam, didapatkan bahwa strategi komunikasi yang dapat pada pasien paliatif adalah komunikasi yang berpusat pada pasien, respons terhadap informasi yang diberikan (Roodbeen et al. , 2. Oleh karena itu, pengenalan secara komprehensif terhadap kebutuhan komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi pada pasien Komunikasi Penyesuaian seperti penggunaan bahasa yang menyesuaikan cara penyampaian yang sesuai, serta pemberian ruang informasi dengan kebutuhan dan bagi pasien untuk terlibat aktif karakteristik pasien. Setiap individu memiliki karakteristik yang unik. Keputusan termasuk latar belakang budaya, (Noordman Dengan pendekatan individual, perawatan paliatif dapat dilaksanakan secara lebih holistik, bermakna, dan selaras dengan prinsip-prinsip Dengan terhadap martabat dan otonomi perawatan paliatif menjadi lebih Hiratsuka et al. , 2021. Id et al. Jeong, 2023. Park et al. menyeluruh (Mroz et al. , 2022, Schmauch et al. , 2. (Cheung Empati Sejak Mendengarkan dengan penuh Komunikasi Kesehatan digital pemanfaatan alat kesehatan digital pertanyaan terbuka sangat penting untuk memahami apa yang benar- Tenaga kesehatan mulai benar dibutuhkan dan dirasakan oleh pasien (Engel et al. , 2. platform digital untuk mendukung Cara kesehatan mendapatkan gambaran perawatan, dan tim lintas profesi. kekhawatiran dan harapan pasien. Perubahan serta membangun hubungan yang memungkinkan kontinuitas layanan di tengah keterbatasan interaksi (Lelorain. Selain memahami dan merespons kondisi memperkenalkan pendekatan baru emosional pasien dengan cara yang dalam praktik kerja dan proses Tanggapan yang hangat dan penuh perhatian, baik melalui kata-kata aplikasi manajemen gejala, dan yang meyakinkan maupun melalui sistem dokumentasi daring telah Penggunaan memberikan beban psikologis dan sosial yang mungkin dirasakan. Langkah ini pengambilan keputusan bersama, membantu memperkuat dukungan serta pemantauan kondisi pasien secara menyeluruh dan fokus pada secara real-time. Dengan demikian, peningkatan kualitas hidup pasien adopsi teknologi digital menjadi (Mroz et al. , 2024. Park et al. salah satu langkah strategis dalam Strategi komunikasi verbal perawatan paliatif yang adaptif dan Tenaga Kesehatan tanggung jawab penting dalam zaman (Stanley et al. , 2. Melibatkan keluarga Interaksi ini berkontribusi terdekat dalam kehidupan pasien yang sangat berpengaruh terhadap Keterlibatan meningkatkan pemahaman pasien peran yang sangat penting, karena terhadap proses perawatan yang keluarga tidak hanya memberikan Komunikasi yang akurat dukungan emosional dan bantuan sehari-hari, tetapi juga berperan kepercayaan diri kepada pasien, melalui komunikasi verbal yang Keluarga merupakan Untuk mendukung peran keluarga, pertemuan keluarga secara teratur bersama tenaga kesehatan sangat berdampak negatif terhadap hasil disarankan (Glajchen et al. , 2. pengobatan (M. Arayjo & Pertemuan ini bertujuan untuk Silva, 2. Selain memberikan informasi secara jelas, serta mengenali dan mengurangi merupakan aspek esensial dalam tidak terungkap melalui pertanyaan tertutup (De Arayjo & Silva, 2. Praktik Di samping itu, penegasan mendengarkan aktif mencerminkan verbal terhadap rencana perawatan perhatian serta empati terhadap dan dukungan emosional sangat kekhawatiran pasien, baik yang bersifat fisik maupun emosional. hubungan yang kuat antara pasien Ketika pasien merasa didengarkan, dan tenaga kesehatan. Ucapan pasien cenderung lebih terbuka yang memberikan dorongan atau penguatan seperti "Kami di sini untuk membantu Anda" atau "Anda gilirannya memungkinkan tenaga tidak sendirian" bisa memberikan Ini komprehensif dan sesuai dengan kesehatan tidak hanya fokus pada kebutuhan pasien (De Arayjo & Silva, 2011. Datta-Barua & Hauser, psikologis pasien. Penggunaan Secara komunikasi yang efektif. Dengan kesehatan merupakan fondasi dari mengajukan pertanyaan yang tidak hubungan yang saling percaya hanya menuntut jawaban AuyaAy atau antara pasien dan tenaga medis. Autidak,Ay pasien diberi ruang untuk Dari menjawab pertanyaan secara menggambarkan kondisi mereka Hal memahami aspek emosional dan menenangkan, semua elemen ini dialami pasien, yang seringkali perawatan yang lebih manusiawi dan empatik bagi pasien (De Arayjo dan didengarkan, pasien akan lebih & Silva, 2. Strategi Dalam praktik keperawatan. Senyum sentuhan afektif seperti memegang ekspresi sederhana namun memiliki tangan atau menepuk bahu pasien dampak besar dalam menciptakan secara lembut merupakan bentuk suasana yang positif di lingkungan komunikasi non-verbal yang efektif untuk menyampaikan empati dan sedang mengalami tekanan fisik dukungan emosional. Sentuhan ini maupun emosional, senyum dari dapat memberikan rasa nyaman perawat dapat menjadi sumber dan menenangkan bagi pasien, ketenangan dan harapan. Dalam terutama dalam situasi cemas atau konteks keperawatan, senyum juga Perawat mencerminkan kesiapan perawat untuk memberikan pelayanan yang Bagi sentuhan secara tepat dan sensitif kepedulian yang nyata terhadap Datta-Barua pasien (Dias et al. , 2. kondisi pasien (De Arayjo & Silva. Kehadiran perawat yang dekat Hauser, secara fisik dengan pasien, seperti duduk di samping tempat tidur saat Kontak mata yang dibangun berkomunikasi, dapat memberikan secara tulus antara perawat dan pasien menjadi salah satu cara untuk menunjukkan perhatian dan memperlihatkan bahwa perawat Kedekatan sebagai individu. Dalam interaksi merespons kebutuhan pasien, baik keperawatan, kontak mata dapat secara fisik maupun psikologis. meningkatkan rasa percaya diri Dalam pasien dan memperkuat hubungan kehadiran fisik yang hangat dan Dengan merasa dilihat penuh perhatian menjadi bagian penting berpusat pada pasien (De Arayjo & komunikasi digital, pelibatan keluarga. Silva, 2. serta penggunaan strategi verbal dan Bahasa non-verbal. Setiap termasuk postur tubuh, ekspresi hubungan terapeutik yang lebih kuat, memainkan peran penting dalam menyampaikan sikap empati dan dan meningkatkan keterlibatan pasien Bahasa tubuh yang positif dapat memperkuat pesan pengambilan keputusan klinis. Penerapan membantu menciptakan hubungan responsif terhadap kebutuhan individu, yang lebih hangat antara perawat didukung oleh sensitivitas emosional Oleh meningkatkan kenyamanan pasien dan penggunaan bahasa tubuh yang memperkuat otonomi mereka. Selain itu, integrasi antara komunikasi verbal komunikasi non-verbal yang perlu dan non-verbal memperkuat kehadiran perawat secara empatik, menciptakan keperawatan sehari-hari (Sernbo et interaksi yang lebih bermakna dan , 2. Oleh karena itu, penguatan kompetensi komunikasi dalam praktik Kesimpulan keperawatan paliatif menjadi hal yang Komunikasi yang efektif dalam konteks perawatan paliatif merupakan keterampilan teknis, tetapi sebagai aspek fundamental yang mendukung bagian dari pendekatan holistik yang kualitas layanan dan kesejahteraan menghargai martabat pasien di akhir Berdasarkan sintesis literatur, enam Saran