Redaktur PUTIH Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Ijin terbit Sk. Mudir MaAohad Aly No. 18/May-PAF/II/2018/SK Reviewers Abdul Kadir Riyadi Husein Aziz Mukhammad Zamzami Chafid Wahyudi Muhammad Kudhori Abdul Mukti Bisri Muhammad Faiq Editor-in-Chief Mochamad Abduloh Managing Editors Ainul Yaqin Editorial Board Imam Bashori Fathur Rozi Ahmad Syathori Mustaqim Nashiruddin Fathul Harits Abdul Hadi Abdullah Imam Nuddin Alamat Penyunting dan Surat Menyurat: Jl. Kedinding Lor 99 Surabaya P-ISSN: 2598-7607 E-ISSN: 2622-223X Diterbitkan: MAAoHAD ALY PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL FITHRAH Surabaya Daftar Isi C Daftar Isi C DIMENSI SPIRITUAL DALAM PROSES PENCIPTAAN DAN PERKEMBANGAN MANUSIA: STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR F Z}ILAL AL-QURAoAN KARYA SAYYID QUTB} Mailani Ulfah. Ahmad Zakiy . C KRITERIA MUJTAHID PERSPEKTIF IBNU ARABI (Studi Komparasi Ijtihad Ibnu Arabi dan Para Ulam. Ulil Abshor . C PENGARUH HISTORISITAS TERHADAP PERKEBADAN KAJIAN AL-QURAoAN BARAT DAN TIMUR (Studi Analisis Histori. Abdul Qudus Al Faruq. Muhammad Azhar Fuadi. NafiAo Mubarok . C TELAAH PEMIKIRAN ABDUL DAEM AL-KAHELL TENTANG DZIKIR DALAM AL-QURAoAN Muh. Makhrus Ali Ridho. Deki Ridho Adi Anggara. Ahmad Fadly Rahman Akbar. Nehayatul Rohmania . C PERAN PONDOK PESANTREN DALAM MENGENTASKAN KENAKALAN SANTRI (Studi Kasus Pondok Pesantren Al-Ikhlas Al-Islamy Kaliaji Desa Mongga. Zihniyatul Ulya. Mujahidin Abubakar. Lalu Diraja Hidayatullah . C TAAoARUDH MAFSADATAIN DALAM TINJAUAN TASAWUF (Pemikiran Abdul Wahab al-SyaAorani Tentang Mujahadat al-Naf. Yunita Hikmatul Karimah. Ainul Yaqin . Putih: Jurnal Pengetahuan Ilmu dan Hikmah Ae ISSN: 2598-7607 (P). 2622-223X (E) Vol. IX. No. II (September 2. , 1-20. DIMENSI SPIRITUAL DALAM PROSES PENCIPTAAN DAN PERKEMBANGAN MANUSIA: STUDI ANALISIS ATAS TAFSIR F Z}ILAL AL-QURAoAN KARYA SAYYID QUTB} Mailani Ulfah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ulfee2013@gmail. Ahmad Zakiy Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ahmadzakiy84@gmail. Abstract The study of the relationship between science and the QurAoan gave birth to new developments in the world of QurAoanic interpretation. This was marked by the rise of several interpretations of scholars who tried to adjust scientific discoveries with the information of the QurAoan. But in the midst of the development of these studies, there are some scholars who are reluctant to link scientific issues with the description of the content of the QurAoan. One of them is Sayyid Qu. This study aims to examine Sayyid Qu. bAos interpretation of QS. al-MuAominn . :12-14 which contains a description of the process of creation and human development. The type of research used is a type of literature study research with an analytical descriptive research model. The results of this study show, first. Qu. bAos initial discussion of this verse provides information that the regularity of the process of creation and human growth shows evidence of a deliberate creation, so that the information of some scientists of the absence of a creator is very Secondly, in the explanation of verse 12 there is a tendency of Qu. b not to link the QurAoanic information with scientific theories. Third, the sentence AuWe will make him a different creatureAy in verse 14 indicates a hint of the spirit that makes humans a creature that has distinctive character that is very much different from other creatures such as animals. In the end. QubAos descriptions in his tafsir look thick with spiritual and theological nuances. Although this verse basically contains kawniyyah signs. Qu. b seems to lead it to spiritual aspects to provide awareness of AllahAos omnipotence in the aspect of human creation. Keywords: F Z}ilAl Al-QurAoAn. Creation. Growth. Soul. Sayyid Qu. Abstrak Kajian tentang relasi sains dan al-QurAoan melahirkan perkembangan baru dalam dunia tafsir alQurAoan. Hal tersebut ditandai dengan maraknya beberapa penafsiran ulama yang berusaha menyesuaikan penemuan-penemuan ilmiah dengan keterangan-keterangan al-QurAoan. Namun di tengah-tengah berkembangnya kajian tersebut, terdapat beberapa ulama yang enggan mengaitkan persoalan ilmu pengetahuan dengan uraian kandungan al-QurAoan. Salah seorang di antaranya ialah Sayyid Qu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran Sayyid Qu. b terhadap QS. alMuAominn . :12-14 yang mengandung uraian tentang proses penciptaan dan perkembangan Jenis dari penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian studi kepustakaan dengan model penelitian deskriptif analitis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, pertama. Pembahasan awal Qu. b mengenai ayat ini memberikan keterangan bahwa keteraturan dari proses penciptaan dan pertumbuhan manusia menunjukkan bukti adanya suatu kesengajaan penciptaan, sehingga keterangan sebagian ilmuwan ketiadaan pencipta amat tidak berdasar. Kedua. Dalam penjelasan ayat 12 terdapat kecenderungan Qu. b untuk tidak mengaitkan keterangan al-QurAoan dengan teori-teori ilmiah. Ketiga, keterangan kalimat AuKami akan menjadikannya makhluk yang berbedaAy pada Putih: Jurnal tentang Pengetahuan Ilmu dan Hikmah, published by MaAohad Aly Al Fithrah Surabaya. Takhassus. Tasawwuf wa Thoriqotuhu. Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. ayat 14 mengindikasikan adanya isyarat peniupan roh yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki karakter khas yang amat jauh berbeda dengan makhluk yang lain seperti binatang. Pada akhirnya, uraian-uraian Qu. b dalam tafsirnya terlihat kental dengan nuansa spiritual dan Walaupun ayat ini pada dasarnya berisi tentang isyarat-isyarat kawniyyah, tetapi Qu. b terlihat menggiringnya kepada aspek-aspek spiritual untuk memberikan kesadaran akan kemahakuasaan Allah dalam aspek penciptaan manusia. Kata kunci: F Z}ilAl Al-QurAoAn. Penciptaan. Pertumbuhan. Roh. Sayyid Qu. Pendahuluan Al-QurAoan adalah salah satu di antara banyak kitab suci agama-agama di dunia yang uraian-uraiannya dinilai paling relevan dan paling banyak menyinggung aspek-aspek ilmu pengetahuan . baik berupa ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial. Hal tersebut juga menjadikan al-QurAoan dinilai sebagai mukjizat rasional yang senantiasa bisa dirasakan seluruh manusia dari masa ke masa. 1 Aspek-aspek ilmu pengetahuan dalam al-QurAoan dapat dilihat dari ayat-ayat seperti QS. al-Baqarah . :164 yang membahas tentang penciptaan langit dan bumi. QS. al-AnbiyAAo . :33 tentang pergerakan matahari dan bulan. QS. al-Naml . :88 tentang gunung dan pergerakan lempeng bumi. QS. al-Rm . :48 tentang siklus hujan, dan ayat-ayat lainnya. Salah satu ayat al-QurAoan yang selalu hangat dikaji sampai sekarang karena kesesuaiannya dengan fakta ilmiah adalah QS. MuAominn . :12-14. Ketertarikan para ilmuwan untuk mengkaji ayat tersebut dikarenakan pembahasannya yang cukup mendetail dalam membahas tentang proses penciptaan dan perkembangan manusia sejak bertemunya sel sperma dan sel telur, kemudian berproses sedemikian rupa hingga dalam waktu tertentu, sempurna menjadi manusia seutuhnya. Pembahasan saintifik QS. al-MuAominn . :12-14 juga menarik minat banyak mufasir modern2 untuk berusaha direinterpretasi dan disesuaikan dengan perkembangan sains yang membahas perkembangan dan pertumbuhan manusia. Namun di tengah-tengah berkembangnya kajian tersebut, terdapat beberapa ulama yang enggan mengaitkan persoalan ilmu pengetahuan dengan uraian kandungan al-QurAoan. 3 Salah seorang mufasir yang tidak setuju dengan pengaitan uraian kandungan al-QurAoan dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan adalah Sayyid Qu. 4 Sehingga demikian, bagaimanakah sebenarnya tokoh-tokoh seperti Sayyid Qu. b menafsirkan ayat-ayat yang bermuatan sains seperti QS. al-MuAominn . :12-14? Apakah terdapat sisi-sisi lain yang 1 M. Quraish Shihab. Kaidah Tafsir (Tangerang: Lentera Hati, 2. 2 Beberapa mufasir yang setuju menggunakan pendekatan Aoilmi . dalam penafsiran al-QurAoan adalah al-Ghazali, al-Razi. Thanthawi Jawhari. Zaghlul al-Najjar, dan lain-lain. 3 Beberapa ulama yang enggan menggunakan pendekatan Aoilmi . seperti Mahmud Syalthut dan al-Syathibi. 4 Abu Bakar Adanan Siregar. AuAnalisis Kritis Terhadap Tafsir Fi Zilal Al-QurAoan Karya Sayyid Qutb,Ay ITTIHAD 1, 2 . Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. ditekankan Sayyid Qu. b dalam pembahasan perkembangan dan pertumbuhan manusia dalam QS. al-MuAominn . :12-14? Hal inilah yang hendak ditempuh penelitian ini. Aneka studi yang ada tentang QS. al-MuAominn . :12-14 memuat beberapa kecenderungan penelitian. Akan tetapi belum ada di antara penelitian-penelitian tersebut yang fokus mengkaji penafsiran Sayyid Qu. Beberapa kecenderungan penelitian terdahulu antara lain, pertama, penelitian yang mengangkat kajian tentang relevansi ayat tersebut dengan fakta-fakta sains tentang penciptaan manusia, reproduksi, embriologi, dan lain sebagainya seperti penelitian Citra Harun,5 Siti Halimatur Rosidah,6 Desty Putri Hanifah,7 Intan Suryani,8 dan Ahmad Syahrudin Asis. 9 Kedua, penelitian yang fokus mengkaji aspek linguistik ayat tersebut seperti penelitian Najwa Zalfa Zuhri10 dan Aminah Tahta Alfina. 11 Ketiga, kecenderungan penelitian yang fokus mengkaji pemikiran atau penafsiran tokoh tertentu seperti T}an. awi Jawhari, al-RAz, alAls. Quraish Shihab, dan Hamka sebagaimana penelitian yang dilakukan Yuyun Affandi, dkk,12 Subhan Abdullah Acim,13 Widia Lestari Putri,14 Andressa MuthiAo Latansa,15 Wan Helmy Shahriman Wan Ahmad,16 Alfi Nurlaela Comariah,17 Sri Wulandari Saputri,18 dan Haikal 5 Citra Harun. AuReproduksi Manusia Ditinjau Dari Al-QurAoan Surat Al-MuAominun Ayat 12-14 Dan Ilmu SainsAy (IAIN Ambon, 2. 6 Siti Halimatur Rosidah. AuKonsep Embrio Dalam Perspektif Al-QurAoan Dan Sains Berdasarkan QS. Al-MuAominun Ayat 12-14 (Kajian Tafsir Al-Misbah Dan Relevansinya Dengan Ilmu Sain. Ay (UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, 2. 7 Desty Putri Hanifah. AuMenumbuhkan Sikap Ilmiah Melalui Kajian Tematik Sains QS. Al-MuAominun Ayat 12-14 Menggunakan Teknik QurAoan Jurnal,Ay Spektra: Jurnal Kajian Pendidikan Sains 6, no. 8 Intan Suryani and Suryanti. AuStudi Literatur: Konsep Pembentukan Janin Dalam Perspektif Al-QurAoan Dan Sains,Ay Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar 7, no. 9 Ahmad Syahrudin Asis. AuProses Penciptaan Manusia Dalam QS. Al-MuAominun/ 23: 12-14 (Kajian Tahlili Dengan Pendekatan Ilmu Kedoktera. Ay (UIN Alauddin Makassar, 2. 10 Najwa Zalfa Zuhri. AuIAorab Dan Tafsir Al-QurAoan: Fase Penciptaan Manusia Dalam Perspektif QS. Al-MuAominun Ayat 12-14,Ay Hamalatul QurAoan: Jurnal Ilmu Ilmu AlqurAoan 4, no. 11 Aminah Tahta Alfina. AuPola Sinonim Kata Khlaqa. JaAoala Dan AnsyaAoa Dalam QS. Al-MuAominun Ayat 12, 13, 14. Dan Relasinya Dengan Konsep Penciptaan Manusia (Kajian Semantik Laksika. Ay (UIN K. Abdurrahman Wahid Pekalongan, 2. 12 Yuyun Affandi et al. AuThe Process of Human Creation in the View of HAMKA with the Nazhariyyat Al-Siyaq Approach (Analysis of the Book of Al-Azha. ,Ay International Journal IhyaAo AoUlum Al-Din 25, no. 13 Subhan Abdullah Acim. AuThe Concept of Human Creation in the Perspective of Al-QurAoan (An Analytical Study of Buya HamkaAos Interpretation of QS. Al-MuAominun . : 12-14 in the Book of Tafsir Al-Azha. ,Ay El-Umdah 6, no. 14 Widia Lestari Putri. AuProses Penciptaan Manusia Dalam Qs. Al-MuAominun Ayat 12-14 (Studi Komparatif Penafsiran Ar-Razi Dan Hamk. Ay (Universitas Islam Negeri Mataram, 2. 15 Andressa MuthiAo Latansa. AuPenciptaan Manusia Dalam Surat Al-MuAominun Ayat 12,13 Dan 14,Ay TaAowiluna 3, no. 16 Wan Helmy Shahriman Wan Ahmad and Azarudin Awang. AuPendekatan Tafsir Al-Ilmi Hamka Terhadap AyatAyat Al-Kawniyyah (Embriolog. ,Ay KQT EJurnal 2, no. 17 Alfi Nurlaela Comariah. AuPenciptaan Manusia Perspektif Ulama Nusantara (Kajian Tafsir An-Nur. Tafsir AlAzhar Dan Tafsir Al-Mishba. Ay (Institut Ilmu Al-QurAoan Jakarta, 2. 18 Sri Wulandari Saputri. AuProses Penciptaan Manusia Pada QS. Al-MuAominun Ayat 12-14 Dalam Tafsir Al-Jawahir Fi Tafsir Al-QurAoan Al-Karim Karya Tantawi JawhariAy (Universitas Islam Negeri Mataram, 2. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Mustafti. 19 Dari aneka penelitian terdahulu tentang QS. al-MuAominn . :12-14 dapat dilihat bahwa sebagian penelitian terdahulu khususnya yang mengkaji penafsiran tokoh, belum ada yang menyentuh penafsiran Sayyid Qu. Dengan demikian penelitian ini akan mengisi kekosongan tersebut dengan fokus mengetengahkan penafsiran Sayyid Qu. b terhadap QS. al-MuAominn . :12-14. Berangkat dari latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran Sayyid Qu. b terhadap QS. al-MuAominn . :12-14 yang mengandung uraian tentang proses penciptaan dan perkembangan manusia. Objek yang menjadi fokus penelitian ini adalah kitab tafsir F Z}ilAl Al-QurAoAn karya Sayyid Qu. Urgensi dari diangkatnya penafsiran Qu. b bukan hanya karena ia adalah salah seorang dari kelompok mufasir yang tidak menyetujui dikaitkannya penemuan ilmiah dengan uraian-uraian al-QurAoan, tetapi juga karena kebanyakan kajian terdahulu berkenaan dengan tokoh ini lebih cenderung mengkaji sisi-sisi ideologi, konsep masyarakat dan Sehingga aspek-aspek lain dari pemikiran Sayyid Qu. b menjadi terabaikan. Dengan demikian, aspek yang menjadi kajian penelitian ini diharapkan mampu memberikan insight baru bagi perkembangan terkini dalam kajian ilmu tafsir. Metode Penelitian Jenis dari penelitian ini adalah jenis penelitian studi kepustakaan dengan model penelitian deskriptif analitis. Sumber data primer yang digunakan adalah kitab tafsir F Z}ilAl Al-QurAoAn karya Sayyid Qu. Sedangkan data sekundernya diperoleh dari hasil penelitian, artikel jurnal, buku, dan jenis literatur lainnya yang berkenaan dengan pembahasan penelitian ini. Pengumpulan data merujuk kepada Penafsiran Sayyid Qu. b terhadap QS. al-MuAominn . :12-14. Dalam proses penampilan data, penulis mereduksi data yang dengan cara content analysis sebagai proses display data yang langsung berhubungan dengan tujuan penelitian ini. Sedang dalam proses analisis data, penulis menghadirkan komparasi dengan penafsiran ayat tersebut pada umumnya sehingga akan terlihat distingsi dari penafsiran Sayyid Qu. b terhadap penafsiran ayat tersebut. Proses Kejadian Manusia Perspektif Sains dan Spiritualisme Cara ilmu pengetahuan . dalam mengungkapkan proses kejadian manusia, murni berasal dari temuan-temuan empirik di laboratorium. Tidak sebagaimana al-QurAoan yang memulai keterangannya dengan berbicara mengenai bahan dasar penciptaan manusia berupa tanah sembari menggambarkan kehebatan penciptaan, proses kejadian manusia perspektif sains atau ilmu pengetahuan dimulai dengan terjadinya pembuahan . Fertilisasi adalah proses 19 Haikal Mustafti. AuAl-Ittijah Al-AoIlmy Fi Tafsir Al-Imam Al-Alusi Ruh Al-MaAoany,Ay Studi Quranika: Jurnal Studi Quran 2, no. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. bertemunya sel telur dengan sel sperma. Proses ini diawali dengan pengerubunan sel spermatozoa terhadap sel telur dan satu dari spermatozoa masuk ke dalam inti telur yang berakhir pada peleburan. Fertilisasi terjadi pada tuba falopi yang kemudian menghasilkan zigot. Dalam ilmu genetika. Sel sperma mengandung kromosom X dan Y, sedangkan sel telur hanya mengandung kromosom X saja. Ketika X bertemu dengan Y, maka akan terbentuk jenis kelamin laki-laki (XY), sedangkan jika X bertemu dengan X maka akan menghasilkan jenis kelamin wanita (XX). Zigot yang terbentuk melalui proses fertilisasi kemudian membelah membentuk embrio dan mengalami beberapa kali pembelahan. Untuk tumbuh menjadi embrio, dibutuhkan waktu kurang lebih 30 jam setelah ovulasi. Sel-sel tersebut terus berkembang dan bergerak menuruni tuba falopi menuju rongga uterus atau rahim. Di dalam rahim inilah embrio berkembang menjadi janin. Sel-sel tersebut terus membelah hingga menghasilkan banyak sel dengan ukuran semakin kecil yang disebut blastomer, sehingga terus mengalami perkembangan membentuk morula kira-kira 60 jam setelah ovulasi. Morula yang mirip dengan buah murbei ini akan bergerak secara perlahan menuju dinding rahim untuk melakukan penempelan . Implantasi terjadi secara alami dan tidak ditolak oleh tubuh ibu kerena adanya enzim-enzim khusus yeng dikeluarkan oleh Pada usia kehamilan minggu ke-6, 7, hingga ke-8, jantung, otak, hingga paru-paru sudah mulai berfungsi dan berdetak. Bahkan pada umur kehamilan 10 minggu, detak jantung sudah berdetak lebih cepat dari biasanya yaitu sekitar 180 kali setiap menit. Setelah organ vitalnya mulai berfungsi, pada usia kehamilan ke-11 minggu, tubuh janin sudah nampak seperti manusia biasanya berupa ukuran kepala yang sudah seperti ukuran badannya, pembuluh darahnya mulai terbentuk, hingga mulut dan hidungnya. Kemudian pada usia kehamilan minggu ke-12, tulang dan otot sudah mulai berkembang, kelopak matanya mulai terbentuk, hingga tempat tumbuhnya Pada usia kehamilan minggu ke-13 hingga minggu ke-19, organ-organ tubuh terus mengalami penyempurnaan mulai dari tulang hingga sumsum tulang. Selanjutnya pada usia kehamilan minggu ke-20 kulit bayi mulai dilapisi oleh dermis, epidermis, hingga subkutan. Berbeda dengan teori kejadian manusia perspektif sains yang menjelaskan proses kejadian manusia berdasarkan temuan-temuan ilmiah di laboratorium, perspektif spiritual dalam membahas kejadian manusia lebih menekankan makna, perenungan, penyucian jiwa, serta pengetahuan tentang tujuan hidup. Temuan-temuan ilmiah terkait kejadian manusia tidak sekadar 20 D. Peter Snustad and Michael J. Simmons. Principles of Genetics (USA: Library of Congress CIP Data, 2. , 31. 21 Richard E. Jones and Kristin H. Lopes. Human Reproductive Biology (England: British Library CIP Data, 2. , 150. 22 Lalu Riastata Almujaddi and M. Nurwathani Janhari. AuProses Penciptaan Manusia Dalam Perspektif Al-QurAoan Dan Ilmu Pengetahuan (Analisis Intertekstualitas Julia Kristev. ,Ay Jurnal Ilmiah Al-Jauhari 9, no. : 8. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. dijadikan sebuah informasi ilmiah, melainkan sebagai sebuah perenungan pendalam yang sarat nilai dan makna. Dalam perspektif spiritual, konteks kejadian manusia tidak hanya menjawab tertanyaan tentang AomengapaAo manusia diciptakan, tetapi juga AobagaimanaAo penciptaan itu memberi arah dan makna terhadap kehidupan manusia secara keseluruhan. Dengan demikian, proses kejadian manusia adalah langkah awal yang disadari dalam meniti langkah selanjutnya yaitu untuk mengetahui tujuan eksistensi manusia. Pengetahuan tentang proses kejadian manusia yang mengalami tahap demi tahap dianggap sebuah proses teratur yang menakjubkan dan memberi kesadaran tentang adanya Kesadaran mendalam tentang adanya penciptaan mendorong pengetahuan tentang Allah . Dalam perspektif spiritual, perjalanan kehidupan diandaikan sebagai perjalanan rohani setiap induvidu dalam rangka membersihkan hati dan jiwa dari segala macam pengaruh negatif agar bisa menghasilkan kehadiran Ilahi dalam dirinya. 24 Sehingga informasi tentang kejadian manusia tidak hanya memberi nilai dan makana pada tujuan eksistensi manusia tetapi juga sebagai gambaran perjalanan menakjubkan manusia yang mengantar menuju pembersihan jiwa, dan realisasi kehadiran Ilahi. Para spiritualis percaya bahwa setiap jiwa diciptakan dengan fitrah . aluri murn. yang memiliki kecenderungan alami untuk kembali kepada Allah sebagai sumber eksistensinya. Beberapa keterangan al-QurAoan tentang kejadian manusia senantiasa ditutup dengan pernyataan AuAku tiupkan ruh-KuAy. Hal ini yang menjelaskan bahwa eksistensi kehidupan manusia tidak sama dengan organisme lain. Dalam diri manusia terdapat manifestasi dari ruh-Nya. Ruh tersebut yang memberikan potensi menakjubkan pada manusia untuk memiliki kesadaran tingkat tinggi dalam merenungkan realitas baik di luar maupun dalam dirinya, yang mana kemampuan tersebut hanya khas manusia. 25 perspektif spiritual ini lah yang membedakannya dengan perspekstif sain dalam membicarakan proses kejadian manusia. Sains menjelaskan apa saja dalam batasan penemuan empirik di laboratorium tanpa sedikitpun menyinggung nilai dan makna dibalik proses-proses itu. Sedangkan perspektif spiritual menjadikannya sebagai informasi yang sarat akan nilai dan makna. Namun begitu, masing-masing perspektif ini tentunya memiliki kelebihan maupun kekurangan. Penemuan ilmiah tentang proses kejadian manusia, memberi jalan bagi para ilmuan untuk terus mencari kebenaran ilmiah yang belum diketahuinya dari proses kejadian manusia, sedangkan sentuhan spiritual berimplikasi pada pembentukan karakter dan jiwa yang mencerminkan kesadaran diri sedemikian rupa untuk memfasilitasi moral dan intelektual manusia secara holistik. 23 Simon Runtung. AuHakikat Teologi Penciptaan Manusia Dan Implikasinya,Ay Jurnal Ilmiah Mara Christy 11, no. : 12. 24 Ali Daud Hasibuan and Hadis Purba. AuTujuan Penciptaan Manusia: Perspektif Ilmu Kalam. Tasawuf. Filsafat. Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam,Ay ALACRITY 4, no. : 334. 25 Hasibuan and Purba, 335. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Biografi Sayyid Qu. b dan Tafsir F eilAl Al-QurAoAn Sayyid Qu. b adalah seorang intelektual dan revolusioner Mesir yang lahir di Mausyah, provinsi Asyuth Mesir pada tanggal 19 Oktober 1906. 26 Nama lengkapnya ialah Sayyid Qu. b IbrAhm Husayn SyAdhil. Ia lahir dari pasangan al-Haj Qu. b Ibn IbrAhm dengan Sayyidah Nafa. Qu. Ayahnya merupakan seorang petani yang menjadi anggota komisaris partai nasional di Rumahnya dijadikan markas bagi kegiatan politik dan juga dijadikan sebagai pusat informasi yang selalu didatangi oleh orang-orang yang ingin mengikuti berita-berita nasional dan internasional dengan diskusi-diskusi para aktivis yang sering berkumpul di rumahnya atau tempat membaca koran. Ayahnya meninggal di masa-masa Sayyid Qu. b sedang kuliah. Kesedihan yang mendalam sepeninggal ayahnya menjadikannya mampu melahirkan karya-karya tulis yang puitis. Pada masa kanak-kanak. Qu. b belajar di kuttab desanya, dan pada umur 10 tahun ia telah hafal al-QurAoan dan diberi gelar hafizh. Pada tahun 1925 di umurnya yang ke 13. Qu. b pindah ke Kairo untuk melanjutkan sekolahnya. Pada 1928-1933, ia melanjutkan pendidikannya di Dar alAoUlum sampai memperoleh gelar sarjana. 28 Selama beberapa tahun. Qu. b pernah bekerja di Kementerian Pendidikan dan mengajar di beberapa sekolah. Sekitar tahun 1930-1940-an. Qu. b banyak menulis esai-esai dan kritik sastra dalam banyak surat kabar dan jurnal Mesir. menerbitkan karyanya untuk pertama kali pada 1945 yang bertajuk al-Ta. awwur al-Fanni f alQurAoAn. Dalam karyanya tersebut. Qu. b memberikan ekspresi sastra atas kekagumannya terhadap stilistika atau gaya bahasa al-QurAoan. 29 Buku tersebut adalah salah satu karya awal Qu. b yang akan membawanya untuk turut menghasilkan karya-karya lain dalam bidang al-QurAoan. Sayyid Qu. b adalah salah seorang tokoh sentral dalam organisasi Ikhwan Al-Muslimin. Namun keterlibatannya dalam organisasi pergerakan tersebut membuatnya sering keluar masuk Qu. b ditahan dan dipenjara pertama kali pada tahun 1954. Ia dikurung selama 10 tahun. Menariknya. Qu. b justru semakin lebih produktif dalam bidang literasi ketika berada di penjara. Ia dikenal telah menghabiskan lebih dari separuh usianya dalam bacaan dan penelaahannya yang mendalam terhadap hasil-hasil intelektual masa lalu dalam berbagai bidang pengkajian dan teoriteori dari berbagai aliran pemikiran dan juga dikenal menekuni bermacam kajian mengenai Husein Alawi Mehr. An Introduction to the History of Tafsir and Comentators of The QurAoan (Qum: Al-Mustafa International Publication and Translation Center, 2. 27 Fitri Hayati Nasution. AuMemahami Istidraj Di Era Kontemporer (Studi Tafsir Fi Zhilalil QurAoan Karya Sayyid Quth. ,Ay Cendekiawan: Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman 1, no. 28 Amaliah Farhan. AuMasyarakat Madani Dalam Kitab Nahwa Al-Mujtama Islami Karya Sayyid Quthb,Ay TARBAWI 11, no. 29 Sayyid Quthb. Al-Tashwir Al-Fanni Fi Al-QurAoan (Beirut: Dar al-Syuruq, 2. 30 Arsyad Sobby Kesuma. AuRe-Interpretasi Pemikiran Ukhuwah Sayyid Quthb,Ay MIQOT 42, no. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. perspektif agama lain. 31 Lebih dari 20 karya yang dihasilkan Qu. b ketika berada di penjara. Karya monumentalnya yang berjudul al-AoAdAlah al-IjtimAAoiyyah f al-IslAm (Keadilan Sosial dalam Isla. rampung pada tahun 1948,33 kemudian diikuti dengan karya monumentalnya yang lain yakni F Z}ilAl Al-QurAoAn yang juga diselesaikannya dalam penjara. Di antara karya-karya Sayyid Qu. b yang telah dipublikasikan ialah al-Ta. wir al-Fanni f alQurAoAn (Kairo. Dar al-MaAoarif, 1. MashAhid al-QiyAmah f al-QurAoAn (Kairo. Dar al-MaAoarif, al-AoAdAlah al-IjtimAAoiyyah f al-IslAm (Kairo. Dar al- Kitab, 1. F Z}ilAl Al-QurAoAn (Beirut. Dar al-Syuruq, 1. al-SalAm al-Alamiy wa al-IslAm (Kairo. Dar al-Kitab Al-AoArabi, 1. alMustaqbal li HAdha al-Dn (Kairo. Maktabah Wahba. HAdha ad-Dn (Kairo. Dar al-Qala. alIslAm wa MushkilAt al- H}a. arah (Kairo. Dar al-Ihya al-Kutub al-AoArabiyyah, 1. Kha. A`i. atTa. awwur al-IslAmiy wa Muqawwimatuhu (Kairo. Dar IhyaAo al-Kutub al-AoArabiyyah, 1. MaAoAlim f al-T}arq (Kairo. Maktabah Wahbah, 1. Marakatuna MaAoa al-Yahd (Beirut. Dar al-Syuruq. DirAsat IslAmiyyah (Kairo. Maktabah Lajnatisy Syabab al-Muslim, 1. al-Naqd al-Adabiy: uluh wa ManAhijuh (Kairo. Dar al-Fikr Al-AoArab. Marakat al-IslAm wa al-Rasumaliyah (Kairo. Dar al-Kitab al-AoArabi, 1. F al-TArikh: Fikrah wa ManAhij (Beirut. Dar al-Syuruq, 1. MuhimmAt al-ShAAoir f al- . ayAh (Kairo. Lajnah al-Nasyr li al-JamiAoiyyi. Naqd KitAb Mustaqbal al-ThaqAfah f Misr (Jeddah, al-Dar al-SuAoudiyya. T}ifl min al-Qaryah (Kairo. Lajnah al-Nasyr lil JamiAoiyyin, 1. al-AshwAk (Kairo: Dar al-SaAod Misr bil Fujalah, 1. Adapun magnum opus-nya dalam bidang tafsir adalah F Z}ilAl Al-QurAoAn. Buku ini adalah karya Sayyid Qu. b yang ditulis dengan bersandarkan kepada kajian-kajian mendalam yang ditimba secara langsung dari al-QurAoan dan al-sunnah di samping bersumber dari kitab-kitab tafsir yang Qu. b memulai penulisan tafsirnya setelah aneka pengalaman kajian dan keilmuan baik dari segi wawasan keislaman, bidang penulisan, keguruan, pendidikan, wawasan sosial dan politiknya telah mapan. Bahkan menurutnya, uraian-uraian buku MaAoAlim f al-T}arq dan al-AoAdAlah al-IjtimAAoiyyah f al-IslAm dapat ditemukan dalam karya tafsirnya. 35 Sebelum masuk dalam penulisan karya tafsir. Qu. b telah mengarang beberapa kajian yang mendalam selama beberapa tahun untuk mencari rahasia-rahasia struktur pengungkapan al-QurAoan dan ushlub penyampaiannya yang indah dan penuh mukjizat. 31 Siregar. AuAnalisis Kritis Terhadap Tafsir Fi Zilal Al-QurAoan Karya Sayyid Qutb. Ay 32 M Maskun Hadi. Muhajirin, and Kusnadi. AuMakna Hijrah Dalam Tafsir Fi Zhilal Al-QurAoan Karya Sayyid Quthb,Ay Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Quran Dan Tafsir 1, no. : 161Ae73, https://doi. org/10. 19109/jsq. 33 K. Salim Bahnasawi. Butir-Butir Pemikiran Sayyid Quthb: Menuju Pembaruan Gerakan Islam (Jakarta: Gema Insani, 34 Ahmad Nur Fathoni and Dewi Murni. AuSayyid Quthb Dan Al-Tashwir Al-Fanni Di Al-QurAoan (Penggambaran Artistik Dalam Al-QurAoa. ,Ay Jurnal Syahadah 10, no. 35 Mukhlis Yusuf Arbi. AuKritik Nalar Terorisme. Studis Kritis Penalaran Ayat Qital Sayyid Quthb,Ay Al-Mada: Jurnal Agama. Sosial Dan Budaya 6, no. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Nama dari F Z}ilAl Al-QurAoAn memiliki arti AoDi Bawah Naungan Al-QurAoanAo. Dengan nama itu. Sayyid Qu. b ingin menyampaikan bahwa umat Islam harus tunduk dan berlindung di bawah naungan al-QurAoan. Pada bagian mukadimah tafsirnya. Qu. b menjelaskan bahwa di era modern umat Islam semakin jauh dari jalan Allah yang cenderung tunduk pada paham materialisme dan teknologi yang terus berkembang. Sehingga melupakan nilai-nilai ketuhanan dan kecemasannya akan adanya potensi kekosongan pada aspek spiritualitas. 36 Dengan demikian, menurut Qu. b, sudah saatnya umat muslim kembali kepada jalan benar melalui al-QurAoan. Adapun terkait dengan cara kembali kepada pemahaman al-QurAoan. Qu. b cenderung berbeda dengan pandangan kebanyakan mufasir. Qu. b tidak terlalu mengindahkan metodemetode ketat yang dirumuskan oleh ulama terdahulu. 38 Menurutnya, pada abad pertengahan telah terjadi permasalahan autentisitas atas instrumen-instrumen yang digunakan dalam menafsirkan alQurAoan sebab ada percampuran antara tradisi Islam dengan tradisi asing seperti filsafat Yunani. Persia. Romawi, dan juga israAoiliyyat. Hal ini terjadi dalam berbagai macam bidang ilmu keislaman seperti ushul fiqh, ilmu kalam, kaidah fikih, tasawuf, dan sebagainya (MaAoAlim al-. Sehingga sumber tafsir yang paling otoritatif bagi Qu. b adalah al-sunnah, dan athar . iwayat sahabat dan Selebihnya Qu. b mengutip pendapat para tokoh yang sesuai dan menggunakan wawasan ilmu sastra dalam menafsirkan al-QurAoan. Sisi lain dari penafsiran Sayyid Qu. b ialah bahwa ia mengkrtitik beberapa pihak yang hanya menjadikan al-QurAoan sebagai kajian akademik saja. Dengan kata lain, al-QurAoan hanya ditelaah atas kepentingan kompetisi intelektual dan hanya bertahan pada ranah wacana saja. Menurut Qu. b, seharusnya al-QurAoan dikaji untuk meraih petunjuk dan shariAoah Allah, kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh dari itu, bahwa menurut Qu. b, di dalam alQurAoan sebenarnya juga terkandung motivasi ajaran ke arah pergerakan Islam, terutama gerakan dakwah dalam rangka membumikan ajaran Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Adapun metode penafsiran F Z}ilAl Al-QurAoAn dapat dirangkum ke dalam beberapa hal. Pertama, menetapkan dan membandingkan surah Makkiyyah dan Madaniyah yang hendak ditafsirkan dilihat dari segi topik yang akan dibahas serta karakteristiknya. Kedua, menjelaskan munAsabah atau keterkaitan antara ayat dengan ayat, surah dengan surah. Ketiga, pada permulaan setiap surah menjelaskan aspek tentang pengertian surah untuk mengenal tema mendasar pada 36 Sayyid Quthb. Fi Zhilal Al-QurAoan (Beirut: Dar al-Syuruq, 1. 37 Sayyid Quthb. MaAoalim Fi Al-Thariq (Beirut: Dar al-Syuruq, 1. , vol. 1, 11. Mutia Lestari and Susanti Vera. AuMetodologi Tafsir Fi Zilal Al-QurAoan Sayyid Qutb,Ay Jurnal Iman Dan Spiritual 1, no. : 48. 38 Syarat-syarat tersebut dapat dilihat dalam. Jalal al-Din Al-Suyuti. Al-Itqan Fi Ulum Al-QurAoan (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2. 39 Quthb. Fi Zhilal Al-QurAoan, vol. 1, 15. 40 Sayyid Quthb. Al-AoAdalah Al-IjtimaAoiyyah Fi Al-Islam (Beirut: Dar al-Syuruq, 1. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. surah tersebut. Keempat, menerangkan asbAb al-nuzl suatu ayat jika ada. Kelima, menjelaskan makna yang terkandung atau menjelaskan secara fasih maksud dari ayat tersebut secara umum. Keenam, waspada dan selektif terhadap cerita-cerita israiliyyat dan menjauhkan penafsiran dari perdebatan aspek fikih, serta cenderung fokus terhadap pembahasan kalam, filsafat, linguistik. Corak tafsir F Z}ilAl Al-QurAoAn dapat dimasukkan dalam kategori al-AdAb al-AoIjtimAAoi yaitu jenis penafsiran al-QurAoan yang menerangkan secara cermat dengan mengutamakan tujuan diturunkannya al-QurAoan serta penerapannya kepada masyarakat sebagai solusi atas aneka problematika kehidupan yang sedang dihadapi. Dalam corak penafsirannya. Qu. b menggunakan beberapa pendekatan. Adapun pendekatan tersebut dibagi atas beberapa manhaj, yaitu . l-manhaj al-jamal. keindahan bahasa, . l-manhaj al-fik. pemikiran, dan . l-manhaj al- . Adapun dalam aspek keindahan bahasa. Sayyid Qu. b memang dikenal piawai dalam hal ini. Wa. fi AoAshr Ab Zayd42 memberikan keterangan bahwa kelebihan Sayyid Qu. b dibandingkan dengan mufasir lain, bahwa ia amat piawai menggambarkan sisi-sisi keindahan al-QurAoan dari segi Penafsiran Sayyid Qu. b terhadap QS. al-MuAominn . :12-14 Penjelasan QS. al-MuAominn . :12-14 adalah salah satu ayat dari sekian banyak ayat alQurAoan yang menyinggung aspek ilmu pengetahuan . yat kawniyya. Uraiannya membahas seputar aspek penciptaan dan proses perkembangan manusia. Detail dari ayat tersebut yang menjelaskan aneka proses pembentukan manusia dalam rahim dinilai relevan dengan fakta ilmiah yang menjelaskan hal tersebut, terutama dalam bidang embriologi. Beberapa ulama menjelaskan bahwa tujuan dari ayat-ayat semacam ini sebagai mukjizat uraian-uraian al-QurAoan sekaligus memberikan stimulus ruhani manusia untuk merenungi keagungan Allah dibaliknya. Adapun penafsiran umum QS. al-MuAominn . :12-14 berkisar pada tiga pembahasan umum, pertama, variasi pemaknaan tentang terminologi al-insAn pada ayat 12. Kedua, penjelasan tentang transisi penciptaan manusia dari materi yang paling sederhana sampai kepada materi yang paling Ketiga, isyarat al-QurAoan terhadap kalimat thumma anshaAonAhu khalqan Akhar. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa sebelum masuk kepada pembahasan proses penciptaan manusia, kebanyakan mufasir telah berbeda pendapat dalam memaknai kata al-insAn pada ayat 12 surah ini. Mayoritas mufasir klasik seperti MuqAtil Ibn SulaymAn43, al-Qur. ub44, al41 Aneu Nadya Indayanti. AuImplementasi Sumber. Pendekatan. Corak Dan Kaidah Tahsir Karya Sayyid Quthb Dalam Kitab Tafsir Fi Zhilalil QurAoan Jilid 3,Ay Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 7, no. 42 Wasfi AoAsyur Abu Zayd. Metode Tafsir Maqasidi: Memahami Pendekatan Baru Penafsiran Al-QurAoan (Jakarta: Qaf Media Kreativa, 2. 43 Muqatil Ibn Sulaiman. Tafsir Muqatil Ibn Sulaiman (Beirut: MuAoassasah al-Tarikh al-Arabi, 2. , vol. 3, 153. 44 Abu Bakr Al-Qurthubi. Al-JamiAo Li Ahkam Al-QurAoan (Beirut: MuAoassasah al-Risalah, 2. , vol. 15, 17. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Suy. Ibn Kathr46 memahaminya bahwa kata yang dimaksud adalah Adam as. Pendapat tersebut didasari atas beberapa alasan, pertama, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa makna kata al-insAn pada ayat tersebut adalah Adam as. kedua, mereka memahami bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kata . n dan nu. fah yang menjadikan mereka berkesimpulan bahwa Adam as. tercipta dari tanah sedangkan semua manusia tercipta dari nu. fah atau air mani. ketiga, terdapat beberapa penjelasan yang mengaitkan ayat 12 dengan ayat-ayat yang lain dalam al-QurAoan tentang penciptaan Adam, yang mana unsur pembentuknya adalah saripati 47 Sedangkan mufasir lain seperti al-ShawkAn mengangkat sebuah pendapat bahwa makna kata tersebut adalah semua manusia, karena kata al-insAn pada ayat itu dipahami sebagai jenis . i aljin. 48 Walaupun demikian, di antara mereka ada yang mengompromikan pemaknaan tersebut dengan berkesimpulan bahwa kata al-insAn yang dimaksud adalah Adam as. beserta anak-cucunya seperti yang dikemukakan oleh al-T}abar49 yang kemudian diikuti oleh al-RAz. T}abA. abAAo dan Wahbah Zu. Proses transisi perkembangan manusia dalam janin adalah inti dari pembahasan ayat ini. Ayat tersebut menjelaskan bahwa nu. yang berada dalam qarAr makn . pada tahap selanjutnya berubah menjadi Aoalaqah . egumpal dara. , kemudian berubah menjadi mu. egumpal dagin. , kemudian menjadi tulang-belulang yang dibungkus dengan daging, dan pada tahap terakir dijadikannya sebagai makhluk yang berbeda. Hampir semua para mufasir klasik tidak memiliki perbedaan penjelasan yang signifikan tentang ayat ini. Beberapa dari mereka menambahkan keterangan mengenai kata qarAr makn yang bermakna rahim51 dan kata Aoalaqah yang bermakna darah yang kental sebagaimana pendapat al-Suy. 52 Adapun al-T}abar memahami ayat 13 sebagai proses bertemunya antara sel air mani dengan rahim perempuan. Beberapa mufasir lain mengungkapkan bahwa proses transisi perkembangan manusia yang dijelaskan oleh ayat ini menunjukkan kemahakuasaan Allah swt. serta kesengajaan-Nya yang tidak sia-sia tanpa tujuan. Wahbah Zu. ayl menjelaskan bahwa proses penciptaan manusia 45 Jalal al-Din Al-Mahalli and Jalal al-Din Al-Suyuti. Tafsir Al-Jalalayn (Riyadh: Dar al-Wathan li al-Nasyr, 2. Jalal al-Din Al-Suyuti. Al-Dur Al-Mantsur Fi Tafsir Bi Al-MaAotsur (Kairo: Markaz Hajr li al-Buhuts wa al-Dirasat alArabiyah wa al-Islamiyah, 2. , vol. 10, 571. 46 Ibn Katsir. Tafsir Al-QurAoan Al-AoAdzim (Riyadh: Dar al-Tayyibah, 1. , vol. 5, 465. 47 Beberapa mufasir mengaitkan kata nutfah dengan QS. al-Sajadah . :7-8, yang semakin memperkuat perbedaan substansi antara kata thin dan nuthfah pada ayat tersebut. 48 Muhammad Al-Syaukani. Fath Al-Qadir (Kairo: Dar al-Wafa, n. ), vol. 3, 649. 49 Ibn Jarir Al-Tabari. JamiAo Al-Bayan AoAn TaAoWil Al-Ayi Al-QurAoan (Kairo: Markaz al-Buhuts wa al-Dirasat alArabiyah wa al-Islamiyah, 2. , vol. 17, 18Ae19. 50 Fakhr al-Din Al-Razi. Mafatih Al-Ghayb (Beirut: Dar al-Fikr, 1. , vol. 23, 85. Muhammad Husain ThabathabaAoi. Al-Mizan Fi Tafsir Al-QurAoan (Beirut: Muassasah al-AAolamy li al-MathbuAoat, 1. , vol. 15, 19. Wahbah Zuhaili. AlTafsir Al-Munir Fi Al-Aqidah Wa Al-SyariAoah Wa Al-Manhaj (Damaskus: Dar al-Fikr, 2. , vol. 9, 338Ae39. 51 Sulaiman. Tafsir Muqatil Ibn Sulaiman, vol. 3, 153. Ibn Umar Al-Zamakhsyari. Tafsir Al-Kasysyaf (Riyadh: Maktabah al-AoAbikan, 1. , vol. 4, 221. Al-Razi. Mafatih Al-Ghayb, vol. 23, 85. Al-Syaukani. Fath Al-Qadir, vol. 3, 649. 52 Al-Mahalli and Al-Suyuti. Tafsir Al-Jalalayn. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. beserta beberapa fase yang dilaluinya merupakan bukti nyata akan wujud Allah swt. , keesaan-Nya, dan kuasa-Nya yang paling agung. 53 Sedangkan T}abA. abAAo menerangkan bahwa kesemua fase proses penciptaan manusia yang dijelaskan ayat ini, tidak pernah ada yang saling mendahului. Sebuah bentuk keteraturan ini adalah kuasa Allah yang paling nyata sekaligus menjadi perenungan bagi orang-orang yang berpikir. 54 Bukti kuasa Allah swt. dari proses penciptaan manusia dikuatkan dengan akhiran ayat ini yang berbunyi fa tabArakallAh ahsan al-khAliqn, artinya AuMaka Maha Suci Allah. Pencipta yang paling baikAy. Salah satu isyarat dari kekuasaan Allah swt. yang paling banyak dibahas oleh para mufasir dalam ayat ini yaitu terletak pada lafaz thumma anshaAonAhu khalqan Akhar. Hal tersebut dikarenakan terdapat penekanan yang berbeda dari kalimat tersebut dibandingkan dengan kalimat-kalimat sebelumnya pada ayat ini yang menggambarkan proses penciptaan manusia. Al-ShawkAn menyabutkan bahwa penekanan tersebut dapat dilihat dari huruf Aoa. af yang digunakan yaitu 55 Berbeda dengan beberapa kalimat sebelumnya yang menggunakan huruf fa sebagai T}abA. abAAo melihat unsur penekanan pada lafaz anshaAonAhu. Ia memahaminya bahwa lafaz ini mengandung arti sesuatu yang sebelumnya mati, kemudian Allah yang menjadikannya hidup, berkekuatan, dan memiliki pengetahuan. 56 Pandangan ini memiliki keselarasan dengan pemaknaan para pakar bahasa mengenai kata nashaAoa. Raghb al-A. fahAn . mengartikannya sebagai mencipta sesuatu dan memberinya pengajaran. 57 Ibn FAris . mengartikannya sebagai pengangkatan. 58 sedangkan Ibn Man. mengartikannya sebagai memulai penciptaan. 59 Dengan demikian, terdapat kedalaman makna yang dikandung oleh kata ansyaAoa yang menjadikan kalimat ini berbeda dengan kalimat sebelumnya. Akan tetapi banyak mufasir memiliki pemaknaan yang lebih spesifik tentang kalimat Al-T}abar,60 al-Suy. ,61 dan al-ShawkAn62 mengangkat sekian riwayat tentang Beberapa riwayat tersebut menyebut thumma anshaAonAhu khalqan Akhar bermakna, tumbuhnya rambut saja, tumbuhnya rambut dan gigi, terbentuknya kelamin laki-laki dan perempuan, sempurnanya potensi yang dimiliki manusia. Tetapi mayoritas mufasir mengartikannya sebagai peniupan roh pada manusia. Beberapa mufasir lain memahami bahwa 53 Zuhaili. Al-Tafsir Al-Munir Fi Al-Aqidah Wa Al-SyariAoah Wa Al-Manhaj, vol. 9, 341. 54 ThabathabaAoi. Al-Mizan Fi Tafsir Al-QurAoan, vol. 15, 21. 55 Al-Syaukani. Fath Al-Qadir, vol. 3, 649. 56 ThabathabaAoi, vol. 15, 21. 57 Al-Raghib Al-Ashfahani. Al-Mufradat Fi Gharib Al-QurAoan (Riyadh: Maktabah Nazar Al-Mustafa Al-Baz, n. 58 Ibnu Faris Ibn Zakariyya. MuAojam Maqayis Al-Lughah (Kairo: Dar Ibn al-Jauzi, 2. 59 Ibnu Manzur. Lisan Al-AoArab (Kairo: Dar al-MaAoarif, n. 60 Al-Tabari. JamiAo Al-Bayan AoAn TaAoWil Al-Ayi Al-QurAoan, vol. 17, 21Ae23. 61 Al-Suyuti. Al-Dur Al-Mantsur Fi Tafsir Bi Al-MaAotsur, vol. 10, 574Ae75. 62 Al-Syaukani. Fath Al-Qadir, vol. 3, 649. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. terdapat hubungan sebab akibat antara ditiupkannya roh dengan dengan timbulnya daya hidup manusia seperti kemampuan mendengar, melihat, merasakan, dan berfikir, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Ibn Kathr, al-Zamakhshar, al-Qur. ub dan Wahbah Zu. 63 Dari uraian para mufasir di atas maka terlihat bahwa unsur peniupan roh yang menjadikan timbulnya daya hidup manusia berefek pada signifikansi pemaknaan ayat ini. Adapun Sayyid Qu. b memulai pembahasan ini QS. al-MuAominn . :12-14 dengan menjelaskan munAsabah . antara ayat ini dengan ayat sebelumnya. Qu. b menjelaskan bahwa ayat-ayat sebelumnya membahas tentang sifat-sifat orang-orang beriman, kemudian disusul dengan ayat ini yang membahas tanda-tanda iman dalam bentuk periode-periode kehidupan dan pertumbuhan manusia. Aspek yang hendak ditekankan oleh Sayyid Qu. b terhadap ayat ini adalah adanya pengelolan yang struktur, teratur, dan rapi dalam tahap-tahap pertumbuhan yang dialami oleh manusia. Pengelolaan sistem yang teratur terhadap proses perkembangan dan pertumbuhan manusia merupakan bukti nyata adanya AopenciptaanAo dan AokesengajaanAo dari sang Pencipta atas manusia. 64 Sayyid Qu. b menjelaskan bahwa tidak mungkin sesuatu yang rapi dan teratur datang dengan sendirinya tanpa kesengajaan dan pengelolaan. Terlebih lagi dalam proses fase-fase kejadian manusia, tidak ada dari salah satunya yang mendahului dan terdahului. Semua berjalan dengan tertib dan teratur sesuai dengan urutan dan waktunya masing-masing. Memasuki penafsiran ayat 12. Sayyid Qu. b memberikan perspektif yang berbeda dengan beberapa ulama lainnya. Sebagaimana pembahasan sebelumnya, yang mana pada ayat ini banyak mufasir yang jauh mendiskusikan persoalan terminologi al-insAn. Sayyid Qu. b cenderung menghindari perbincangan tersebut dan lebih menekankan aspek asal mula manusia yang berasal dari tanah, hingga dalam prosesnya yang panjang sampai kepada tahap penyempurnaannya. Dalam hal ini Qu. b memberikan keterangan tentang sebab ketidakjelasan al-QurAoan dalam menyebutkan proses tersebut. Menurutnya, ayat ini hanya menerangkan bahwa tanah sebagai fase pertama dan manusia merupakan fase akhir. Ini adalah hakikat yang dapat diketahui dari alQurAoan dan tidak perlu mencari-cari teori-teori ilmah yang membahas tentang pertumbuhan manusia dan makhluk hidup untuk memperjelas keterangan ayat ini. Karena menurut Qu. b, menjelaskan rincian dari fase-fase tersebut bukan merupakan target al-QurAoan. Tujuan al-QurAoan dalam menerangkan keterangan-keterangan ini adalah sebagai bahan perenungan tentang ciptaan Allah dan sebagai bahan pemikiran tentang peralihan yang panjang dan kompleks, sehingga 63 Katsir. Tafsir Al-QurAoan Al-AoAdzim, vol. 5, 466. Al-Zamakhsyari. Tafsir Al-Kasysyaf, vol. 4, 221. Al-Qurthubi. Al- JamiAo Li Ahkam Al-QurAoan, vol. 15, 19. Zuhaili. Al-Tafsir Al-Munir Fi Al-Aqidah Wa Al-SyariAoah Wa Al-Manhaj, vol. 64 Quthb. Fi Zhilal Al-QurAoan. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Mailani Ulfah et. dengan demikian manusia dapat merasakan keagungan Allah dan semakin meningkat Selain sebab tujuan al-QurAoan, terdapat alasan logis yang lain mengapa Qu. b tidak setuju mengaitkan keterangan al-QurAoan dengan teori-teori ilmiah. Qu. b menjelaskan bahwa teori-teori jenjang-jenjang menghubungkan proses penciptaan dari tanah hingga menjadi manusia. Padahal teori-teori tersebut kadang benar namun juga kadang salah dalam usaha menjelaskan suatu hakikat, dimana al-QurAoan tidak menjelaskannya secara terperinci. Sifat kebenaran dari teori-teori ilmiah amat berbeda dengan uraian al-QurAoan, yang mana pada aspek teori ilmiah, perkembangan senantiasa Seringkali sebuah teori yang ditetapkan hari ini dibantah dan dibatalkan dengan teori yang Setiap terjadi kemajuan dalam metode-metode pembahasan di kalangan ilmuwan, maka usaha-usaha ilmiah akan berubah. 66 Dari sini maka dapat disimpulkan bahwa ketidaksetujuan Sayyid Qu. b mengaitkan penjelasan al-QurAoan dengan teori-teori ilmu pengetahuan disebabkan terdapat perbedaan kontras megenai tujuan serta metode yang dimiliki al-QurAoan maupun ilmu Penafsiran Sayyid Qu. b pada ayat 13 dan 14 yang menjelaskan transisi perkembangan kejadian manusia, tidak jauh berbeda dengan penjelasan mufasir-mufasir yang lain. Namun yang agak membedakan, penjelasan Qu. b amat kental dengan aspek teologis yang menggambarkan keagungan serta kesempurnaan Tuhan dalam proses penciptaannya. Setelah penjelasan tentang asal mula manusia yang berasal dari tanah, perkembangan selanjutnya, dijadikan sari pati tanah tersebut menjadi air mani yang kemudian menetap di dinding rahim yang terjaga di antara tulang tulang yang terhimpun. Proses pertumbuhan dari setetes air mani membentuk segumpal darah menuju fase segumpal daging yang terus-menerus kian membesar dari waktu ke waktu. Fase selanjutnya, tiba pada fase pembungkusan tulang dengan daging. Qu. b menjelaskan, di sini manusia dibuat terpana dengan uraian al-QurAoan tentang hakikat penciptaan janin, yang sebelumnya belum diketahui secara jelas melainkan setelah perkembangan ilmu pengetahuan telah mapan dengan penemuan sinar X dan pembedahan. Hasil dari penemuan tersebut menetapkan bahwa sel-sel tulang berbeda dengan sel daging. Dan menariknya bahwa sel-sel tulang lebih awal terbentuk dalam janin ketimbang sel-sel daging. Menurut Qu. b, hal ini amat bersesuaian dengan keterangan al-QurAoan yang menyebutkan tulang-tulang terlebih dahulu, baru kemudian pembungkusan daging dalam proses terbentuknya janin. 65 Quthb. 66 Quthb. 67 Quthb. 68 Quthb. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Fase terakhir diisyaratkan dengan kalimat thumma anshaAonAhu khalqan Akhar yang berarti AuKemudian kami jadikan dia makhluk yang . Ay Sayyid Qu. b memiliki pandangan yang khas terhadap bagian ini. Bagi Qu. b, fase ini adalah dimana manusia memiliki karakter-karakter yang istimewa yang menjadikannya ia berbeda dengan hewan. Jika dilihat dari struktur fisiknya, janin manusia mirip dengan janin hewan. Namun, janin manusia dijadikan Aomakhluk yang berbentuk lainAo. Sedangkan janin hewan tetap berada pada tingkat hewan, yang kosong dari karakter-karakter kesempurnaan dan pertumbuhan yang dimiliki oleh janin manusia. Proses perkembangan manusia sehingga ia diciptakan sebagai Aomakhluk yang berbedaAo, yakni makhluk yang memiliki karakter-karakter istimewa, disebabkan karena pemberian roh kepada manusia. Qu. b menjelaskan, manusia dan hewan adalah dua hakikat yang sangat berbeda. Perbedaan keduanya disebabkan oleh roh yang ditiupkan oleh Allah yang menyebabkan saripati dari tanah itu menjadi manusia serta membawanya menjadi makhluk yang khas, sempurna, dan Hal ini yang diisyaratkan oleh ayat. AuKemudian Kami jadikan dia makhluk yang . Ay70 Keterangan ini juga sekaligus memperkuat argumen Qu. b bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh al-QurAoan berbeda dengan ilmu pengetahuan. Adapun ilmu tujuan dari ilmu pengetahuan hendak menjelaskan realitas yang benar-benar terjadi secara empiris, sedangkan tujuan al-QurAoan untuk memberikan perenungan kepada setiap pribadi manusia akan posisinya dihadapan Tuhan. Lafaz a. sana pada akhir ayat 14 menurut Qu. b bukan menunjukkan ism taf. , melainkan sebagai bentuk kemutlakan dari sempurnanya penciptaan Allah swt. Hal tersebut tergambar dari fase penciptaan, pertumbuhan, perkembangan, hingga karakter-karakter khas manusia yang menggambarkan puncak kesempurnaan, yang padahal semula hanya berasal dari setetes air mani. Dan fase-fase perkembangan tersebut senantiasa sesuai dengan sunnah-Nya . etentuan-Ny. yang tidak akan berubah, tidak akan bergeser, dan tidak akan menjadi lambat, hingga tercapai segala yang telah ditentukan atas manusia. Uraian-uraian Qu. b dalam tafsirnya terlihat kental dengan nuansa spiritual dan teologis. Walaupun ayat ini pada dasarnya mengandung uraian-uraian tentang isyarat-isyarat kawniyyah, tetapi Qu. b terlihat menggiringnya kepada aspek-aspek spiritual untuk memberikan kesadaran akan kemahakuasaan Allah dalam aspek penciptaan manusia. Hal tersebut sesuai dengan asumsi dasarnya bahwa aneka keterangan al-QurAoan yang bermuatan ilmiah pada dasarnya bukan bertujuan untuk mengungkapkan sebenar-benarnya realitas empiris yang ada sebagaimana ilmu 69 Quthb. 70 Quthb. 71 Quthb. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Mailani Ulfah et. Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Akan tetapi ia bertujuan untuk menjadi bahan pemikiran dan perenungan bagi orang-orang yang hendak menghayati keagungan Allah sehingga keimanan dan ketaatannya semakin meningkat. Kesimpulan Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Sayyid Qu. b memiliki penekanan dalam menafsirkan QS. al-MuAominn . :12-14. Pertama, pembahasan awal Qu. b mengenai ayat ini memberikan keterangan bahwa keteraturan dari proses penciptaan dan pertumbuhan manusia menunjukkan bukti adanya suatu kesengajaan penciptaan, sehingga keterangan sebagian ilmuwan ketiadaan pencipta amat tidak berdasar. Kedua. Dalam penjelasan ayat 12 terdapat kecenderungan Qu. b untuk tidak mengaitkan keterangan al-QurAoan dengan teori-teori ilmiah. Hal tersebut dikarenakan teori ilmiah senantiasa mengalami perkembangan terus-menerus seiring munculnya metode yang lebih mutakhir dapat membantah atau membatalkan teori yang dianggap mapan Ketiga, keterangan kalimat AuKami akan menjadikannya makhluk yang berbedaAy pada ayat 14 mengindikasikan adanya isyarat peniupan roh yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki karakter khas yang amat jauh berbeda dengan makhluk yang lain seperti binatang. Pada akhirnya, uraian-uraian Qu. b dalam tafsirnya terlihat kental dengan nuansa spiritual dan teologis. Walaupun ayat ini pada dasarnya berisi tentang penjelasan kawniyyah, tetapi Qu. b terlihat menggiringnya kepada aspek-aspek spiritual untuk memberikan kesadaran akan kemahakuasaan Allah dalam aspek penciptaan manusia. Penelitian yang mengkaji QS. al-MuAominn . :12-14 ini memperlihatkan bahwa ayatayat yang mengandung pembahasan ilmu pengetahuan, ternyata di tangan seorang mufasir tertentu, dapat menghasilkan nuansa teologis dan spiritual yang kental. Namun demikian, boleh jadi juga terdapat rahasia-rahasia lain dari ayat-ayat semacam itu jika ditinjau dengan pendekatan Dengan demikian, ini menjadi peluang pagi para peniliti yang hendak mengkaji ayat-ayat bermuatan sains. Jurnal Putih. Vol. No. 2, 2024 Dimensi Spiritual dalam Proses PenciptaanA. Mailani Ulfah et. Daftar Pustaka