Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies Volume 1. Nomor 1. April . Hal: 192-210 http://jebmes. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM (Pembangkit Listrik Mini Hidr. di Indonesia Hanif Ramdhani Rachmadi Sapphiro Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia ramdhani97@gmail. Made Arya Nugraha* Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia nugraha014@gmail. Alain Widjanarka Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia alainwidjanarka@gmail. Jeffrey Kurniawan Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia kurniawan@gmail. *Corresponding Author Diterima: 26-04-2021 Disetujui: 27-04-2021 Dipublikasi: 30-4-2021 ABSTRAK Penelitian ini membahas rancangan strategi penanganan risiko pada proyek PLTM di Indonesia. PLTM merupakan pembangkit yang menggunakan tenaga air untuk memutar turbin dalam menghasilkan listrik. Proyek PLTM melibatkan investasi besar dengan jangka waktu kontruksi yang lama. Panjangnya waktu konstruksi, menimbulkan faktor ketidakpastian yang berdampak pada tiga aspek sasaran proyek. Ketiga aspek tersebut adalah biaya, mutu, dan waktu. Beberapa proyek PLTM di Indonesia mengalami kinerja yang kurang baik seperti penundaan waktu penyelesaian dan pembengkakan biaya. Proses manajemen risiko, yang terdiri dari identifikasi risiko, penilaian risiko, rumusan penanganan risiko dan pengendalian risiko, menjadi dasar kerja penelitian. Peneliti mengidentifikasi 23 risiko pada proyek PLTM di Indonesia. Lima belas diantaranya memiliki dampak dengan kategori tinggi pada dua aspek dan tiga risiko berdampak dengan kategori tinggi pada tiga aspek sasaran Hasil dari penelitian ini dapat menjadi panduan penanganan risiko pada proyek PLTM di Indonesia. Rancangan strategi ini diharapkan juga dapat membantu proyek untuk mencapai sasarannya. Lebih jauh lagi hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan pembelajaran dalam merencanakan pembangunan PLTM ke depan. Kata Kunci: Strategi. Manajemen Proyek. Risiko Konstruksi di PLTM (Pembangkit Listrik Mini Hidr. ABSTRACT This research discusses the design of risk management strategies in MHP projects in Indonesia. MHP is a type of power plant that uses hydropower to turn turbines for generate an electricity. The MHP project involves a large investment with a long construction period. The length of the construction time, creates an uncertainty factor that impacts on three aspects of the project objectives. The objective aspects of the project are cost, quality, and time. Several MHP projects in Indonesia have underperformed, such as delays in completion time and cost overruns. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 The risk management process, which consists of risk identification, risk assessment, risk management formulation and risk control, forms the basis of research work. In this study, 23 risks were identified in the MHP project. Fifteen of them have high impact on two aspects and three have high impact on three aspects of project objectives. The results of this study can be used as a guide for risk management in MHP projects in Indonesia. The results of this study can be used as a guide for risk management in MHP projects in Indonesia. It is hoped that the design of this strategy will also help the project to achieve its goals. Furthermore, the results of this research can be used as learning materials in planning the development of MHP in the future. Keywords: Strategy. Project Management. Risk Construction of Mini Hydro Power Plant. Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. PENDAHULUAN Pada tahun 2015, pemerintah berkomitmen untuk merealisasikan penyediaan listrik sebesar 000 MW yang prosesnya terus berlanjut hingga periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kementrian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, dalam siaran persnya, menyatakan akan mengoptimalkan penggunaan sumber-sumber energi terbarukan (EBT) sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik mencapai 27,28 GW dalam lima tahun kedepan atau ditahun 2024 mencapai 96,98 MW dimana 33%nya dihasilkan oleh Pembangkit EBT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) berkomitmen mencapai target bauran energi dengan mengganti listrik berbasis fosil dengan energi baru (EBT). Energi listrik EBT diyakini berfungsi untuk menekan biaya kelistrikan di wilayah terpencil dan terpelosok yang saat ini cukup tinggi. Saat ini proyek Pembangkit Listrik Mini Hidro (PLTM) telah tersebar di daerah terpencil dan terpelosok. Beberapa diantaranya sudah selesai pembangunannya meskipun dengan beberapa kendala. Hardjomulyadi dan Sudirman . mengatakan bahwa Pembangkit listrik memiliki struktur yang kompleks dan melibatkan modal dalam jumlah besar dengan jangka waktu konstruksi yang lama. Situasi ini menimbulkan faktor ketidakpastian dengan risiko yang cukup tinggi. Fase konstruksi diidentifikasi sebagai fase kritis dalam proyek di mana banyak faktor yang tidak terduga. Manajemen risiko dapat menangani risiko baik sebelum proyek berjalan atau ketika risiko Manajemen risiko dapat meminimalkan biaya, penundaan, tekanan, dan ketidaktahuan suatu proyek sehingga akan menjamin proyek berjalan sesuai dengan yang diharapkan atau memenuhi spesifikasi tertentu (Prapti, 2. Oleh karena itu mempelajari proyek terdahulu dapat membantu dalam mengatasi beberapa tantangan tentang analisis risiko, mengubah cara pengelolaan risiko, dan meningkatkan manfaat manajemen risiko (Dikmen et al. , 2. Repositori data risiko yang tersedia dari proyek-proyek masa lalu sangat penting untuk memperkirakan kondisi proyek yang akan dijalankan (Roger Atkinson et al. , . Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi penanganan risiko sebagai antisipasi terjadinya peristiwa berdampak negatif pada proyek seperti biaya dan jadwal. Penelitian in menggunakan data historikal proyek terdahulu sebagai acuan pembelajaran dan pengambilan Sehingga perusahaan mempunyai gambaran besar mengenai risiko yang akan dihadapi pada pembangunan proyek PLTM serta mitigasinya. Penelitian ini dibuat berdasarkan proses manajemen risiko yang terdapat pada buku project management: the managerial process (Larson & Gray, 2. Terdapat 4 tahapan pada proses manajemen risiko yaitu risk identification, risk assesment, risk response development, dan risk response Identifikasi risiko dilakukan berdasarkan tahapan proyek. Proses identifikasi risiko dilakukan dengan mengumpulkan risiko-risiko yang terdapat pada data historis proyek-proyek yang ada. Selain melihat data historis proyek identifikasi risiko juga bisa didapatkan melalui wawancara dengan pihak Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 yang terlibat di lapangan. Risk Assesment dilakukan untuk menilai kemungkinan terjadinya risiko dan dampak dari risiko yang terjadi. Risk assessment juga bertujuan untuk menentukan prioritas dari risiko yang ada didalam proyek. Strategi penanganan risiko didapatkan bedasarkan hasil wawancara dan studi dokumen dari historis proyek sebelumnya. Rancangan strategi penanganan dilakukan untuk mendapatkan cara penanganan yang efektif terhadap risiko tersebut. METODE RISET Penelitian ini merupakan penelitian aplikasi model . pplied researc. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Terdapat dua jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder. Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diambil dari 4 objek studi kasus pembangunan PLTM di Indonesia. Keempat objek studi kasus tersebut adalah PLTM Tomata. PLTM Krueng Isep. PLTM Gumati 3 dan PLTM Tanjung Tirta. Proses identifikasi risiko dilakukan dengan mengumpulkan risiko, permasalahan, dan strategi penanganan yang terdapat pada data historis proyek-proyek yang ada. Selain melihat data historis proyek identifikasi risiko juga bisa didapatkan melalui wawancara dengan pihak yang terlibat di Pada proses risk assessment dilakukan dengan cara membuat kuesioner penilaian risiko yang disebarkan kepada perwakilan proyek. Pada Penelitian ini data didapatkan dari dua puluh satu . responden yang dimana target pengisian kuesioner diberikan kepada beberapa perwakilan dari setiap proyek yang dijadikan studi kasus, dan yang dirasa memiliki kapasitas dalam menilai suatu risiko proyek PLTM dengan batuan dari narasumber yang sebelumnya diwawancara HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Identifikasi Risiko Dan Analisis Gap Daftar risiko diperoleh dengan meminta resume terkait potensi masalah atau isu yang terjadi dilapangan pada saat pembangunan PLTM dari keempat objek studi kasus. Identifikasi risiko dilakukan untuk mendapatkan risiko-risiko yang terjadi pada pelaksanaan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga minihidro. Analisis Gap dilakukan untuk mendalami kesenjangan-kesenjangan yang terjadi di dalam pembangunan PLTM. Selain itu analisis gap dilakukan untuk memperdalam potensi masalah yang dilakukan diidentifikasi risiko. Analisis gap pada penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara kepada perwakilan proyek yang dijadikan studi kasus. Hal ini dikarena terdapat kendala berupa sulitnya mendapatkan data - data historis terkait pembangunan PLTM yang dijadikan objek studi Hasil dari identifikasi risiko dan analisis gap menjadi Risk Breakdown Structure (RBS) tiap Selanjutnya peneliti menggabungkan untuk melihat adanya kesamaan risiko seperti ditunjukan dalam Tabel 1. Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. PLTM Kerung Isep - Engineer kurang A A A A - Kemampuan surveyor - Kondisi alam - Perubahan kondisi alam yang tidak menentu A - Penerimaan masyarakat terhadap keberadaan - Jalan masyarakat mengalami kerusakan A - Lahan diakui/diclaim - Pemebebasan lahan yang tidak ada titik terang - Adanya peraturan adat terkait lahan yang - Lokasi yang menyulitkan pekerjaan proyek - Topografi dan geologi tanah yang menyulitkan PLTM Gumati 3 - Data yang dimiliki instansi tidak lengkap - Kualitas data tergantung manajemen instansi PLTM Tomata PLTM Tanjung Tirta External dan kondisi site - Data yang tersebar diberbagai instansi Data yang dibutuhkan sulit didapatkan A PE2 Data tidak lengkap atau tidak akurat PT1 Kurangnya kapisatas/kemampuan A PT2 Ketidak akuratan data asil Surve. KE 1 Terhambatnya pekerjaan akibat kondisi cuaca Terdapatnya konflik KE3 Terjadinya sengketa KE4 Lokasi proyek yang sulit dikerjakan dari segi topografi maupun struktur tanah KE5 Infrastruktur penunjang proyek yang tidak KE6 Teknikal dan Konstruksi PE1 KE2 PLTM Project risk Risiko Teknis Ekonomi Finansial Penyebab Kode Faktor External Perencanaan/Planing (DED) Fase Tabel 1 RBS Gabungan KF1 KF2 KT1 - Memerlukan pelabuhan dengan peralatan yang baik - Akses jalan yang tidak Keterbatasan melakukan kegiatan Kenaikan harga - Pandemi covid-19 - Fluktuasi harga material Kenaikan harga upah - Kenaikan upah buruh kasar akibat kondisi kerja A - Asumsi yang digunakan diperencanaan tidak seusai dengan aktual - Tidak sesuainya shopdrawing dengan kondisi dilapangan Perubahan design dan A A A Manajerial Ket: PLTM Tanjung Tirta PLTM Kerung Isep Material yang sulit PLTM Gumati 3 KT2 Risiko PLTM Tomata Kode Faktor Fase Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 Penyebab A A A A - Material didatangkan dari luar daerah - Mutu/kualitas material tidak sesuai - Kualitas pengerjaan yang tidak baik - Keterbatasan alat kerja - Kurangnya pengawasan Longsor akibat: - Kurang landainya galian - Cuaca - Lokasi yang berada - Karakteristik tanah KT3 Kualitas yang tidak sesuai dengan A A A A KT4 Adanya bencana akibat pekerjaan proyek KT5 Terjadinya kecelakaan A A A A KT6 Ketidak sempurnaan/ tidak maksimalnya metode konstruksi (Bangunan sementar. A A A KT7 Penambahan volume A A A A KT8 Perubahan metode A A KT9 Penambahan item KT10 Keterbatasan alat KT11 Kesulitan pengadaan dan pemasangan mesin KM1 Masalah terkait ketersedian resources A A A A - Minimnya ketersediaan SDM berpengalaman didaerah proyek - Ketersediaan alat KM2 Kehilangan material dan alat - Pewawasan yang kurang Terjadi diproyek/kemungkinan besar terjadi Tidak terjadi diproyek Narasumber tidak mengetahui/tidak menjawab - Terjadinya bencana akibat pekerjaan proyek - Pengerjaan yang kurang - Kurang mengantisipasi debit air - Penyelidikan data perencanaan yang tidak - Metode yang digunakan diawal tidak sesuai dengan kondisi lapangan - Munculnya item pekerjaan baru setelah pembukaan lahan - Pembetulan fasilitas yang rusak akibat proyek - Ketidak-adaan spare part - Ukuran alat yang terbatas - Mesin import - Memerlukan teknisi ahli Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. Risiko yang hanya terjadi di satu proyek tidak digunakan untuk proses selanjutnya. Risiko yang dieliminasi adalah keterbatasan melakukan kegiatan dan kenaikan harga upah. Keterbatasan melakukan kegiatan (KE. merupakan kejadian khusus akibat pandemi Covid-19 dan kemungkinan tidak terjadi lagi di masa depan. Sedangkan kenaikan harga upah (KF. juga dipandang sebagai kejadian khusus di PLTM Krueng Isep karena umumnya didalam proyek harga upah telah disepakati oleh pemberi pekerjaan dan pekerja yang tuangkan didalam kontrak kerja. Kriteria Dampak Dampak yang mungkin dari risiko dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu, dampak berdasarkan waktu, dampak berdasarkan biaya, dan dampak berdasarkan kualitas. Hasil perumusan kriteria dampak dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Kriteria Dampak Kriteria Penilaian Poin Penilaian . Very low Low Moderate . High Very High Kemungkinan kecil terjadi di proyek PLTM Sesekali terjadi di PLTM Mungkin terjadi di proyek PLTM Sering terjadi di proyek PLTM Sangat sering terjadi di proyek PLTM Biaya biaya <10% biaya 10-20% biaya 20-25% kenaikan biaya proyek secara Waktu 3 bulan 3-6 bulan >6bulan >15 bulan Quality kualitas tidak Pekerjaan masih bisa Perbaikan sponsor/owner kwalitas tidak bisa diterima sponsor/owner hasil pekerjaan sama sekali tidak berguna Perumusan dampak kriteria tersebut adalah sebagai berikut: Dampak berdasarkan waktu Dampak berdasarkan waktu, ditentukan berdasarkan hasil wawancara kepada narasumber dan juga mencari referensi terkait dengan dampak bersarkan waktu. Hasil wawancara yang dilakukan tidak semua narasumber bisa memberikan besaran nilai yang pasti, berikut ini merupakan poin-poin dari wawancara masing-masing narasumber yang memberikan besaran nilai mengenai dampak berdasarkan . Narasumber 1: Pada wawancara beliau menyampaikan bahwa besaran kenaikan terhadap waktu . yang dapat diterima/ditoleransi oleh proyek yaitu dibawah <15%, dan kenaikan terhadap waktu . yang tidak dapat lagi diterima/dianggap berbahaya untuk kelangsungan proyek yaitu diatas 15%. Beliau menyampaikan bahwa Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 umumnya konstruksi proyek PLTM umumnya berlangsung sekitar 2 tahun namun ada juga yang sekitar 1,5 tahun. Sehingga 15% tersebut sekitar 2,7 sampai 3. 6 bulan . Narasumber 2: Serupa dengan narasumber 1, narasumber 2 menyampaikan bahwa besaran kenaikan terhadap waktu . yang dapat diterima/ditoleransi oleh proyek yaitu dibawah <15%, dan kenaikan terhadap waktu . yang tidak dapat lagi diterima/dianggap berbahaya untuk kelangsungan proyek yaitu maksimal 15%. Selain dari wawancara tersebut juga terdapat referensi yang bisa digunakan dalam menetapkan nilai katagori dampak yaitu sanksi FIT (Feed in Tari. yang diatur dalam PPA (Purchasing Power Agreemen. jika construction milestone tidak terpenuhi, sanksi tersebut sebagai berikut (United States Agency International Development & Otoritas Jasa Keuangan, 2. 3 bulan keterlambatan = 1% pengurangan dari harga . 3-6 bulan keterlambatan = 2% pengurangan dari harga . >6 bulan keterlambatan = 3% pengurangan dari harga . >15 bulan keterlambatan maka IUPTL (Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listri. dicabut dan kehilangan 100% deposit. Dampak berdasarkan biaya Dampak berdasarkan biaya, ditentukan berdasarkan hasil wawancara kepada narasumber. Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa besar kenaikan terhadap biaya yang dapat diterima/ditoleransi oleh proyek yaitu sebesar 10%. Sehingga disimpulkan untuk kenaikan biaya yang masih dibawah 10% masih dianggap sebagai katagori rendah . Untuk batas atas ditetapkan sebesar 25% . sesuai dengan hasil wawancara ke pada narsumber 1, mengingat beliau terlibat dikeempat proyek yang dijadikan studi kasus. Untuk katagori very high, kami mengambil dampak terburuk yang biasa terjadi dilapangan yaitu kenaikan biaya telah menyebabkan kegagalan proyek secara keseluruhan. Pada katagori dampak moderate maka ditetapkan dengan besaran 10%-20%. Dampak berdasarkan kualitas Dampak berdasarkan kualitas pada buku karanganan Larson dan Gray yang terdapat pada sudah cukup tepat untuk mewakilkan kondisi pada proyek konstruksi. Kriteria tersebut juga sejalan dengan pendapat yang diutarakan oleh narasumber sewaktu kami meminta pendapat beliau mengenai kriteria dari dampak kualitas. Risk Assesment Pengukuran Risiko Dalam pengukuran risiko digunakan nilai rata-rata dari hasil kuesioner, sehingga diperlukan asumsi untuk membulatkan rata-rata yang yang digunakan, untuk mempermudah pemetaan risiko. Tabel 3 menunjukan pendekatan yang digunakan untuk membulatkan nilai rata Ae rata. Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. Nilai rata-rata Nilai Pembulatan Tabel 3 Pembulatan Rata-Rata 1Ox<1,5 1,5Ox<2,5 2,5Ox3,5 3,5Ox<4,5 Sumber: Hasil Olah Data Penulis 4,5Ox<5 Pemetaan Risiko Pada pemetaan risiko dilakukan dengan cara memetakan risiko yang ada pada risk severity matriks untuk mengetahui risiko mana saja yang dijadikan prioritas. Pada penelitian ini menggunakan matrik yang terdapat pada AS/NZS 4360:2004. Untuk matriks tersebut bisa dilihat pada tabel 4. Tabel 4 Risk Saverity Matriks Insignificant Minor Moderate Major Catastrophic Moderate High High Extreme Extreme Moderate Low Moderate Moderate High High High High Extreme High Low Low Moderate Moderate High Low Low Moderate Moderate Sumber: (Standards Australia & Standards New Zealand, 2. High Likelihood Tabel 5 menunjukan hasil analisis level risiko yang diperoleh dari kuesioner. Notasi [P] merupakan nilai kemungkinan terjadinya risiko, [C] merupakan nilai dampak dari segi biaya, [T] merupakan nilai dampak dari segi waktu, dan [Q] merupakan nilai dampak dari segi kualitas. Risiko risiko yang masuk kedalam katagori high, merupakan risiko yang dijadikan prioritas dalam penanganan. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 Tabel 5 Tabel risk mapping Level Risiko [R] Rata-Rata Risiko Kesulitan dalam memperoleh data yang dibutuhkan untuk pembuatan Detail Enginering Design(DED) Data dari pihak luar yang digunakan untuk pembuatan DED tidak akurat atau tidak lengkap Kurangnya kapisatas/kemampuan engineer dalam membuat DED Tidak akuratnya datadata teknis yang didapatkan dari hasil survey saat pembuatan DED Terhambatnya pekerjaan akibat Terjadinya konflik Masalah pembebasan Lahan Lokasi proyek yang sulit dikerjakan dari segi topografi maupun struktur Pembulatan Rata-Rata Keterangan [P] [C] [T] [Q] [P] [C] [T] [Q] Terhadap [C] [P] x [C] Moderate High Moderate Moderate High Moderate High High High High High High High High High High High Moderate High High Moderate High High Moderate Terhadap [T] [P] x [T] Terhadap [Q] [P] x [Q] Terhadap Segi [C] Terhadap Segi [T] Terhadap Segi [Q] Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. Infrastruktur penunjang proyek yang tidak mendukung proyek Adanya pembengkakan biaya akibat kenaikan harga Adanya pembengkakan biaya akibat kenaikan harga Adanya Perubahan design dan spesifikasi baik dari onwer atau mengikuti situasi Ketersediaan material proyek yang sulit Terdapatnya kualitas dari hasil proyek yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah dibuat Terjadinya bencana akibat pekerjaan Terjadinya kecelakaan kerja Adanya ketidak sempurnaan/ tidak maksimalnya metode konstruksi yang Terjadinya penambahan volume High High Moderate High Moderate Moderate High Moderate Moderate High High Moderate High High Moderate High Moderate High High High Moderate Low Low Low High High Moderate High High Moderate Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 Adanya perubahan metode konstruksi Adanya penambahan item pekerjaan Keterbatasan alat yang digunakan Adanya kesulitan pengadaan dan pemasangan mesin Adanya masalah terkait ketersedian Adanya kehilangan material dan alat saat pelaksaanaan proyek High High Moderate High High Moderate High High Moderate High High Moderate High High Moderate High Moderate Moderate Sumber: Hasil Olah Data Penulis Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. Strategi Penanganan Risiko Strategi penanganan dibuat untuk risiko yang dijadikan prioritas. Tabel 6 menunjukan strategi untuk masing Ae masing risiko prioritas. Nama Risiko -Ketidak akuratan data teknis . asil Surve. -Kurangnya kapisatas/kemampuan -Data yang dibutuhkan sulit -Data tidak lengkap atau tidak akurat Terhambatnya pekerjaan akibat Terdapatnya konflik sosial . asyarakat tidak terima dengan proyek PLTM, adanya sekelompok warga yang merasa dirugian dengan adanya Terjadinya Sengketa Lahan Tabel 6 Strategi Penanganan Risiko Kode No. Strategi Risiko Strategi PT 1 PT 2 PE 1 PE 2 KE 1 KE 2 KE 3 Melakukan review design serta menyediakan atau menugaskan engineer yang berpengalaman dalam melakukan review design pasca tender Memaksimalkan kegiatan konstruksi pada musim kemarau dengan cara menyesuaikan jadwal pekerjaan yang sensitif terhadap cuaca dengan musim penghujan dan memastikan pekerjaan dimusim kemarau tidak terlambat Melakukan rekayasa atau modifikasi pada pekerjaan yang terpengaruh dengan Jenis Strategi Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Melakukan sosialisasi dengan aparat desa atau perwakilan dari masyarakat Mitigate: Risk Prevention Mengutamakan perdayakan masyarakat disekitar lokasi konstruksi Mitigate: Risk Prevention Mengkordinasikan permasalahan sengketa lahan kepada owner Mitigate: Loss Reduction Melakukan pengawasan terkait patok atau batas lahan proyek Mitigate: Risk Prevention Mengajukan addendum proyek bila kondisi cuaca menyebabkan keterlambatan yang berlarut-larut Menghentikan pekerjaan yang sensitif terhadap perubahan cuaca, untuk meminalisir timbulnya risiko lain atau dampak yang disebabkan oleh cuaca Menyiapkan anggaran untuk melakukan perbaikan fasilitas maupun ganti rugi atas kerusakan yang dialami warga Melakukan pematokan dan pengukuran pada lokasi proyek dengan didampingi pemilik proyek, perwakilan masyarakat, dan pemilik lahan sebelumnya Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Loss Reduction Mitigate: Loss Reduction Accept Mitigate: Risk Prevention Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 Nama Risiko Lokasi proyek yang sulit dikerjakan dari segi topografi maupun struktur tanah truktur tanah yang mudah lepas, lokasi proyek di tebing yang Kode Risiko KE 4 No. Strategi Infrastruktur penunjang proyek yang tidak mendukung . kses jalan yang rusak/tidak ada, tidak adanya pelabuhan yang layak untuk pengiriman mesin, jalan akses ke proyek yang keci. -Adanya perubahan design dan spesifikasi baik dari onwer atau mengikuti situasi -Terjadinya penambahan volume -Perubahaan metode -Penembahan item Material yang sulit didapat . arga material yang tidak sesuai, tidak tersediaanya material disekitar lokasi, spesifikasi material yang tidak sesua. 6 B1 KE 5 KT 1 KT 7 KT 8 KT 9 6 B2 KT 2 Strategi Jenis Strategi Melakukan geotechnical investigation kembali untuk mengetahui struktur tanah lebih detail atau melakukan survei lapangan kembali dan mengkaji kembali metode konstruksi dan metode kerja Mitigate: Risk Prevention Membuat rencana pengiriman berikut dengan detail rute jalur darat yang Menyewa lahan untuk digunakan untuk memperluas jalan yang ada, bisa dijadikan solusi untuk mengatasi jalan yang sempit Memecah pengiriman logitik . ouble handlin. dengan menggunakan truk dengan dimensi yang lebih kecil Menyiapkan anggaran untuk melakukan perbaikan jalan tersebut dan menyediakan alat berat yang disiagakan dilokasi untuk melakukan perbaikan, maupun untuk melakukan evakuasi kendaraan yang terjebak Berkoordinasi kepada owner mengenai kondisi yang terjadi dilapangan, sehingga bisa mengambil keputusan bersama dan membuat CCO . ontract change orde. Memiliki engineer yang memiliki pengalaman yang banyak dan memiliki keilmuan yang luas juga menjadi nilai lebih dari perusahaan kontraktor ketika risiko ini terjadi, salah satu caranya adalah dengan cara mengirimkan engineer untuk pelatihan secara berkala dengan harapan menambah pengetahuan engineer dan mengupdate pengetahuan yang dimiliki engineer Risiko KT8 dan KT9 juga dapat ditangani dengan cara menunjuk sub kontraktor yang memiliki keahlian didalam bidang yang diperlukan Perlu memerlukan survei untuk memastikan ketersediaan material di sekitar lokasi proyek, serta melakukan perjanjian dengan supplier tentang ketersediaan material dengan jumlah, harga dan spesifikasi yang telah disepakati untuk proses konstruksi Mencari quari atau sumber material . yang sesuai dengan spesifikasi dari luar lokasi proyek Mitigate: Risk Prevention Maka dapat mencari alternatif material konstruksi yang terdapat disekitar lokasi Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Accept Mitigate: Loss Reduction Mitigate: Risk Prevention Transfer Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. Nama Risiko Kualitas yang tidak sesuai dengan Adanya bencana akibat pekerjaan proyek . erjadinya Ketidak sempurnaan/ tidak maksimalnya metode konstruksi . angunan sementar. Keterbatasan alat . etidak tersediaan alat, alat tidak sesuai Kode Risiko No. Strategi KT 3 KT 4 KT 6 KT 10 Strategi Melakukan quality control terhadap material yang diterima dari supplier dan material yang difabrikasi didalam proyek, serta memastikan material telah sesuai dengan spesifikasi sebelum pelaksanaan perkerjaan Pengawas lapangan harus memiliki pengalaman dan keilmuan yang cukup untuk mengawasi pekerjaan konstruksi baik dari segi metode, prosedur, dan spesifikasi material yang digunakan Mengadakan pengarahan bersama pelaksana lapangan, pengawas lapangan dan konsultan pengawas setiap sebelum memulai kegiatan konstruksi untuk memastikan pelaksanan dilapangan memahami prosedur, metode, dan spesifikasi material yang digunakan Melakukan pengecekan kualitas kembali setelah pekerjaan selesai, dan segera melakukan perbaikan pekerjaan ketika hasil pengukuran kualitas tidak memenuhi standar yang ada Sebisa mungkin mendaur ulang atau menggunakan kembali sisa bongkaran dari hasil pekerjaan yang tidak memenuhi standar Melakukan analisa stabilitas lereng sebelum memulai pekerjaan, untuk memetakan lokasi rawana longsor, serta melakukan rekayasa konstruksi untuk perkuatan lereng galian pada lokasilokasi yang berpotensi terjadi longsor Melakukan perbaikan bila dimungkinkan ketika muncul tanda-tanda akan terjadinya longsor Melakukan penyesuaian perhitungan desain bangunan penahan air dengan memperhitungkan data-data dilapangan Perkuatan struktur penahan air dan menyediakan pompa untuk melakukan dewatering area kerja Menyewa alat konstruksi berikut dengan operatornya dengan spesifikasi yang dapat masuk kedalam lokasi proyek dengan jumlah tertentu sehingga dapat memenuhi produktifitas yang sama dengan peralatan konstruksi yang digantikan, sehingga kontraktor dapat mengalihkan risiko ini kepihak lain. Menjalin kerja sama dengan pihak ketiga untuk melakukan maintenance alat konstruksi dan pengadaan sparepart Membuat sistem manajemen asset. Jenis Strategi Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Loss Reduction Mitigate: Loss Reduction Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Accept Transfer Transfer Mitigate: Risk Prevention Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 Nama Risiko Kesulitan pengadaan dan pemasangan Masalah terkait ketersedian resources . ekurangan tenaga kerja lokal yang ahl. Kenaikan harga Kehilangan material dan alat Kode Risiko KT 11 No. Strategi KM 2 Memaksimalkan tenaga ahli yang terdapat didalam negeri dengan tetap melakukan komunikasi dengan pihak Membentuk kelompok pekerja dengan gabungan antara tenaga kerja setempat dengan tenaga kerja dari luar yang lebih ahli yang diketuai oleh tenaga kerja dengan keahlian dan kempemimpinan yang baik Menempatkan pengawas lapangan yang memiliki pengalaman dan keilmuan yang Melakukan pengarahan sebelum memulai suatu pekerjaan, berikut dengan penjelasan mengenai metode, prosedur, dan uraian tugas untuk masing kelompok Jenis Strategi Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Melakukan perjanjian atau kerja sama dengan pihak supplier material. Mitigate: Risk Prevention Memprioritaskan pemesanan material dengan harga yang berfluktuasi tinggi dengan mempertimbangkan kapasiatas inventori material yang dimiliki, waktu, dan kondisi harga dari material. Mitigate: Risk Prevention Mencari subtitusi material, dengan tetap mempertahankan kualitas yang ada Mitigate: Risk Prevention KM 1 KF 1 Strategi Membuat lokasi penyimpanan pada lokasi yang aman serta membatasi akses ke tempat penyimpanan inventori, sehingga tidak semua pekerja, atau orang dapat memasuki area penyimpanan Menerapkan prosedur bagi pekerja yang membutuhkan material atau menggunakan peralatan yang dapat mencegah kehilangan material pada inventori maupun penyimpanan peralatan konstruksi dilapangan Mengaudit inventori secara berkala untuk meminimalisir kesalahan data Bekerja sama dengan pihak penyedia jasa penyewaan alat berat, sehingga dapat berbagi risiko dan pengawasan terhadap pengunaan alat berat KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Mitigate: Risk Prevention Transfer Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. Dari hasil identifikasi risiko berdasarkan keempat proyek pada objek studi kasus proyek PLTM, terdapat 25 risiko yang terjadi pada pembangunan proyek PLTM di Indonesia pada tahapan perencanaan (DED) dan konstruksi. Pada 25 risiko yang teridentifikasi terdapat 2 risiko yang dianggap sebagai anomali pada proyek konstruksi yaitu, risiko keterbatasan melakukan kegiatan (KE. , dan kenaikan harga upah (KF. Sehingga total risiko yang teridentifikasi sebanyak 23 risiko. Dari hasil identifikasi diketahui risiko terbanyak terdapat pada fase konstruksi, dengan faktor eksternal dan kondisi site sebanyak 5 dari 23 risiko dan faktor teknikal dan pelaksanaan sebanyak 11 dari 23 risiko, dimana 5 dari 11 risiko disebabkan oleh kurang akuratnya data perencanaan pada saat penyusunan DED. Cuaca yang tidak mendukung dalam pengerjaan proyek merupakan risiko tertinggi yang berdampak dari aspek biaya, waktu dan kualitas. Faktor cuaca juga harus menjadi pertimbangan penting pada perencanaan penjadwalan proyek PLTM. Pada penelitian ini, strategi penangan risiko yang dapat dilakukan oleh kontraktor sebagai pelaksana proyek terbagi menjadi tiga jenis yaitu, accept sejumlah 3 strategi, transfer sejumlah 4 strategi, dan mitigate sejumlah 38 strategi. Pada strategi mitigate, strategi disusun berdasarkan dua kondisi yaitu mitigasi sebelum risiko terjadi . isk preventio. sejumlah 32 strategi dan mitigasi bila risiko terjadi sebagai upaya mengurangan dampak dari risiko . oss reduction/contingency pla. sejumlah 6 strategi. Pada penelitian ini, rancangan strategi pengananan risiko terdiri dari beberapa kelompok strategi untuk memaksimalkan penanganan risiko tersebut. Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini risiko yang difokuskan adalah risiko yang bersifat negatif. Studi kasus dilakukan pada 4 proyek pembangunan PLTM di beberapa daerah di Indonesia dikarenakan keterbatasan akses data historis dari setiap proyek yang dimiliki oleh penulis. Adanya keterbatsasan akses yang dimiliki penulis menjadikan data atau informasi yang dimiliki penulis didapatkan hanya melalui wawancara, kuesioner dan dokumen resume. Analisis dilakukan pada sebagian tahapan planning dan executing didalam project life cycle. Analisis dilakukan pada tahapan proyek dari pembuatan Detail Engineering Design hingga PHO (Provisional Hand Over atau serah terima pertam. Saran Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai faktor Ae faktor yang dapat menyebabkan risiko . khususnya di proyek pembangunan PLTM di daerah Ae daerah lain, mulai dari tahap prakontruksi, konstruksi dan pascakonstruksi. Strategi penanganan yang ada perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi dilapangan oleh kontraktor atau pelaksana proyek. Sehingga perlu adanya studi lebih lanjut untuk dapat digunakan pada proyek-proyek lainnya. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 192-210 Rancangan strategi yang terdapat dalam penenelitian ini dapat menjadi acuan dalam merencanakan pembangunan PLTM lainnya. Selain itu, rancangan strategi yang ada dapat dikembangkan menjadi model manajemen risiko pada proyek PLTM. Sapphiro, et. Rancangan Strategi Penanganan Risiko pada Proyek PLTM A. DAFTAR PUSTAKA