PREVALENSI PERSISTENSI GIGI SULUNG PADA ANAK USIA 512 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDIRI II TABANAN *Chandra Iswari Dewi. Ni Putu Idaryati. I Nyoman Panji Triadnya Palgunadi. Pradnya Pramudya Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar *Email Korespondensi: gungchandra1227@unmas. ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut anak dalam usia tumbuh kembang dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesadaran orang tua mengenai perawatan gigi sulung karena anak belum mampu mengidentifikasi kelainan pada gigi mereka. Periode gigi campuran adalah masa yang sangat kritis dimana periode gigi susu akan digantikan oleh gigi permanen. Persistensi gigi sulung merupakan salah satu permasalahan dalam rongga mulut apabila gigi sulung yang menjadi panduan tumbuhnya gigi permanen tidak tanggal sesuai waktunya, sedangkan gigi penggantinya telah Persistensi gigi dapat menyebabkan maloklusi dan permasalahan gigi lainnya yang memerlukan waktu dan biaya yang cukup besar untuk memperbaikinya. Akibat dari persistensi gigi sulung akan berpengaruh terhadap pembangunan kepercayaan diri anak sehingga peran penting orang tua dibutuhkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi persistensi gigi sulung berdasarkan usia di wilayah kerja Puskesmas Kediri II Tabanan. Metode: Rancangan penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan jenis penelitian Crosectional. Data diambil dari laporan kasus epidemiologi persistensi gigi sulung selama 3 bulan dari bulan Januari-Maret 2024, dengan menggunakan data sekunder yaitu registrasi pemeriksaan pasien di Poli Gigi Puskesmas Kediri II Tabanan. Data yang telah didapat disajikan dalam bentuk Hasil: Prevalensi persistensi gigi sulung di wilayah kerja Puskesmas Kediri II Tabanan pada bulan Januari paling banyak pada usia 5-8 tahun dengan prevalensi sebesar 19,04%. Pada bulan Februari prevalensi persistensi paling banyak pada usia 5 tahun yaitu 25% dan pada bulan maret prevalensi persistensi paling banyak pada usia 6 tahun yaitu 28,57%. Simpulan: Prevalensi persistensi gigi sulung berdasarkan usia di wilayah kerja Puskesmas Kediri II Tabanan pada bulan Januari-Maret 2024 paling banyak ditemukan pada usia 5-8 tahun yang disebut sebagai masa kritis yaitu transisi dari gigi susu digantikan oleh gigi permanen. Kata kunci : Anak, gigi sulung, persistensi, puskesmas, usia Pendahuluan Kesehatan gigi dan mulut anak dalam usia tumbuh kembang dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesadaran orang tua mengenai perawatan gigi sulung karena anak belum mampu mengidentifikasi kelainan pada gigi mereka. Periode gigi campuran adalah masa yang sangat kritis dimana periode gigi susu akan digantikan oleh gigi Tingkat pengetahuan ibu mengenai erupsi gigi adalah faktor yang penting dalam mempengaruhi kesadaran kesehatan gigi anak, terutama dalam mencegah terjadinya persistensi gigi. Anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit gigi dan mulut karena pada masa ini, gigi susu mulai tanggal satu persatu dan digantikan oleh gigi permanen. Kondisi ini disebut dengan masa gigi campuran pada anak yang ditandai dengan adanya variasi gigi susu dan gigi permanen di dalam mulut seorang anak1. Persistensi merupakan kondisi dimana gigi sulung sulung belum tanggal walaupun waktunya sudah tiba2. Persistensi gigi merupakan penyebab terjadinya maloklusi dan permasalahan orthodontik lainnya. Maloklusi dan permasalah orthodontik yang diakibatkan oleh persistensi gigi akan sangat berpengaruh terhadap pembangunan kepercayaan diri anak3. Tanggalnya gigi sulung selama ini sering diabaikan dengan anggapan akan digantikan dengan gigi permanen. Pendapat ini keliru karena tanggalnya gigi secara prematur dapat mempengaruhi tumbuh kembang gigi Sebaliknya, gigi sulung yang bertahan lebih lama dari yang seharusnya juga menyebabkan gangguan pada erupsi atau tumbuhnya gigi permanen. Hal ini mengakibatkan gigi permanen erupsi pada tempat yang tidak seharusnya, yaitu lebih maju atau lebih mundur sehingga menyebabkan gigi bertumpuk. Hal ini sering terjadi apabila benih gigi permanen tidak berada tepat dibawah gigi sulung. Prevalensi adalah jumlah orang dalam populasi yang mengalami penyakit, gangguan atau kondisi tertentu pada suatu tempoh waktu dihubungkan dengan besar populasi dari mana kasus itu berasal. Prevalensi sepadan dengan insidensi dan tanpa insidensi penyakit maka tidak akan ada prevalensi Insidensi merupakan jumlah kasus baru suatu penyakit yang muncul dalam satu periode waktu dibandingkan dengan unit populasi tertentu dalam periode tertentu. Insidensi memberitahukan tentang kejadian kasus baru. Prevalensi memberitahukan tentang derajat penyakit yang berlangsung dalam populasi pada satu titik waktu5 Puskemas Kediri II merupakan salah satu puskesmas yang terletak di Kecamatan Kediri. Kabupaten Tabanan. Puskesmas Kediri II adalah puskesmas yang sudah terakreditasi paripurna pada bulan Oktober 2023. Puskesmas Kediri II melakukan pelayanan poli umum dan poli gigi. Berdasarkan data kunjungan pasien di poli gigi bulan Januari-Maret 2024 banyak pasien yang datang dengan keluhan gigi Persistensi gigi merupakan 2 kasus tertinggi yang ada di Poli Gigi setelah Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Prevalensi Persistensi Gigi Pengunjung Poli Gigi di Puskesmas Kediri II bulan Januari-Maret 2024. Metode: Rancangan penelitian ini adalah observasional deskriptif, dengan jenis penelitian Cross-sectional. Penelitian ini merupakan laporan kasus epidemiologi persistensi gigi selama 3 bulan dari bulan Januari-Maret 2024 menggunakan data sekunder yaitu registrasi pemeriksaan pasien di Poli Gigi Puskesmas Kediri II Tabanan. Waktu pelaksanaan penelitian ini dimulai dari bulan Januari-Maret 2024. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pengunjung yang memeriksakan giginya di poli gigi pada bulan Januari-Maret 2024 berjumlah 261 orang. Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu pasien persistensi yang berjumlah 55 orang pada bulan JanuariMaret 2024. Instrumen penelitian yang digunakan adalah data registrasi dari kunjungan pasien di Poli Gigi Puskesmas Kediri II Tabanan pada bulan Januari-Maret 2024. Data yang di peroleh di narasikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi relative disertai dengan penjelasan rumus sebagai berikut: ycE= Keterangan: = Angka Prevalensi = Jumlah total kasus penyakit pada waktu tertentu = Total populasi yang beresiko pada waktu tertentu Hasil Tabel 1. Data kunjungan pasien di Poli Gigi dengan persistensi dengan tindakan pencabutan di Puskesmas Kediri II bulan Janurari-Maret. Bulan Total Persistensi Kunjun Persentase Januari 56,76% Februari 77 25,97% Maret 19,17% Sumber : Laporan Harian Pelayanan Pasien Poli Gigi Puskesmas Kediri II bulan Januari- Maret 2024 Tabel 1 menunjukan jumlah kunjungan pasien persistensi dengan pencabutan pada bulan JanuariMaret 2024 di Puskesmas Kediri II Tabanan. Pada bulan Januari total kunjungan pasien sebanyak 111 orang, dengan pasien persistensi sebanyak 21 orang. Pada bulan Februari total kunjungan pasien sebanyak 77 orang dengan pasien persistensi sebanyak 20 orang. Pada bulan maret total kunjungan pasien sebanyak 73 pasien dengan pasien persistensi sebanyak 14 orang. Tabel 2. Distribusi frekuensi persistensi gigi sulung berdasarkan usia di Puskesmas Kediri II Tabanan pada bulan Januari-Maret 2024. Bulan Usia pasien 5 tahun 6 tahun 7 tahun 8 tahun 9 tahun 10 tahun 11 tahun Januari Total Februari Jumlah 5 tahun 6 tahun 7 tahun 8 tahun 10 tahun 11 tahun Total Maret 6 tahun 7 Tahun 8 tahun 9 tahun 11 tahun 12 tahun Total Persentase 19,04% 9,52% 19,04% 19,04% 14,28% 14,28% 4,76% 28,57% 14,28 % 14,28% 7,14% 21,42% 14,28% Sumber : Laporan Harian Pelayanan Pasien Poli Gigi Puskesmas Kediri II bulan Januari- Maret 2024. Tabel 2 menunjukan frekuensi pasien persistensi gigi sulung berdasarkan usia di Puskesmas Kediri II Tabanan pada bulan Januari paling banyak pada usia 5 tahun, 7 tahun dan 8 tahun. Pada bulan Februari paling banyak pada usia 5 tahun dan bulan Maret paling banyak pada usia 6 tahun. Berdasarkan perhitungan prevalensi persistensi gigi sulung pada bulan Januari-Maret 2024 didapatkan hasil : 261y 100 = 21,07% Pembahasan Persistensi gigi sulung merupakan kasus tertinggi ke dua di wilayah kerja Puskesmas Kediri II Tabanan setelah periodontitis. Persistensi gigi sulung di wilayah kerja Puskesmas Kediri II Tabanan paling banyak ditemukan pada anak usia 5-8 tahun. Hal tersebut disebabkan karena usia tersebut merupakan masa transisi dari gigi sulung ke gigi permanen yang disebut sebagai masa kritis7. Dibutuhkan peran orang tua untuk memberikan pengertian, memberikan bimbingan, mengingatkan, dan menyiapkan fasilitas bagi anak agar anak dapat ikut menyadari dan menjaga kesehatan gigi dan Menurut hasil penelitian Supartini . , menunjukkan bahwa kasus persistensi yang banyak ditemukan di Balai Pengobatan Gigi Puskesmas Cisarua Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, sangat berhubungan sekali dengan pengetahuan orang tua. Hasil penelitian tersebut menyatakan Bahwa hanya 3% dari 81 orang tua yang memiliki pengetahuan baik tentang kasus persistensi gigi. Usia anak merupakan salah satu faktor terjadinya persistensi, anak yang berusia 6 tahun mempunyai peluang lebih besar mengalami persistensi dibandingkan dengan usia yang lain9. Hal ini sejalan dengan penelitian Affiati . jika berdasarkan kelompok umur, maka pasien anak umur 5-9 tahun memiliki jumlah gigi persistensi paling banyak. Hal ini ditunjang dengan penelitian Oktafiani . yang menyatakan bahwa gigi perisistensi paling banyak terjadi pada anak usia 7 tahun dan ditemukan paling banyak pada gigi insisivus sentral rahang atas. Persistensi pada pasien anak perempuan lebih banyak terjadi pada rahang bawah sedangkan pada pasien anak lakilaki lebih banyak terjadi pada rahang atas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatemeh . bahwa prevalensi tertinggi persistensi terjadi pada rahang bawah yaitu sebesar 66,23%. Pada periode gigi bercampur biasanya paling sering ditemukan gigi persistensi pada rahang bawah khususnya gigi insisivus dalam hal ini dapat menyebabkan gigi berjejal11. Simpulan Prevalensi persistensi gigi sulung Puskesmas Kediri II pada bulan JanuariMaret 2024 paling banyak pada usia 5-8 tahun dikarenakan pada usia ini anak terjadi masa transisi dari gigi susu ke gigi tetap yang disebut dengan masa kritis. Saran Diharapkan upaya promosi kesehatan gigi serta pencegahan penyakit gigi dan mulut khususnya pada tumbuh kembang gigi anak dilakukan oleh pihak puskesmas secara efektif dan berkesinambungan agar orangtua mengetahui peran penting gigi sulung dan gigi permanen, beberapa kondisi pada rongga mulut anak dan tindakan awal untuk mengatasi kondisi tersebut. Daftar Pustaka