Journal of Nursing Science Research E-ISSN : 3062-8865 Volume 1 Nomor 1 Juni 2024 Hal : 49-55 GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENCEGAHAN STUNTING PADA ANAK BALITA Anindia Gita1*. Firman Sekozen Sihombing2. Ripandi Siregar3. Haryanti Sibuea4. Khairun Nisa Putri5. Muhammad Naufal Arif Lubis6. Regina Oktavia7 1,2,3,4,5,6,7 Fakultas Keperawatan. Universitas Sumatera Utara. Indonesia Email : threepel40@gmail. ABSTRAK Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang menjadi fokus program pembangunan kesehatan pemerintah Indonesia periode 2015-2019, selain penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta pengendalian penyakit menular dan tidak menular. Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis yang dialami anak sejak dalam kandungan hingga awal masa pertumbuhan, mengakibatkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting pada anak balita di kota medan. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Analisa dilakukan dengan meneybarkan kuisioner yang diberikan kepada ibu yang memiliki anak balita. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan pencegahan stunting responden Baik yaitu 28 orang . ,3%), pengetahuan Kurang sebanyak . ,7%) atau sebanyak 2 orang responden, dan pada pengetahuan responden klasifikasi Cukup tidak ada . %). Kata Kunci: Pengetahuan Ibu. Stunting. Balita ABSTRACT Stunting is one of the major health problems that has been the focus of the Indonesian government's health development programme for the period 2015-2019, in addition to the reduction in maternal and infant mortality rates, as well as the control of infectious and noncommunicable diseases. Stunting is a chronic malnutrition condition that a child experiences from the womb to early growth, resulting in a child's height falling below the age standard. The aim of this study is to find out what mother knows about stunting prevention in young children in the city field. The design of the study uses a descriptive method with a cross sectional approach with a sample of as many as 30 respondents. The analysis was done by spreading the questionnaire given to the mother who had a baby. The results of this study showed that the knowledge of stunting prevention respondents Good is 28 people . 3%), knowledge Less as much . 7%) or as much as 2 respondents, and on knowledge of respondents classification Quite none . %). Keywords : MotherAos Knowledge. Stunting. Toddler Page | 49 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 1 Juni 2024 PENDAHULUAN Balita yaitu periode keemasaan . olden ag. merupakan masa-masa penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Stunting adalah masalah gizi/kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dibandingkan dengan anak Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stunting salah satunya yaitu pengetahuan ibu tentang stunting karena kurangnya pengetahuan tentang stunting bagi seorang ibu menyebabkan anak berisiko mengalami Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, saat ini telah terjadi penurunan prevalensi stunting dari 30,8% pada tahun 2018 (Riskesdas 2. Menjadi 27,67% tahun 2019 atau turun sekitar 3,13%. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4% selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2% . menjadi 30,8% . Sedangkan untuk balita berstatus normal terjadi peningkatan dari 48,6% . menjadi 57,8% . Adapun sisanya mengalami masalah gizi Di Sumatera Utara (Sumu. , kasus stunting jumlahnya tinggi. Pada 2019, prevalensinya mencapai 30,11 persen, hanya berkurang 2,3 persen disbanding tahun Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. Tahun 2018, prevalensi stunting di Sumut ditemukan 32,4 % balita stunting. Sedangkan tahun 2019, prevalensi di Sumut 30,11 %. Adapun, 15 kabupaten/kota lokus pencegahan stunting di Sumut yakni Nias. Nias Selatan. Padang Lawas Utara. Mandailing Natal. Simalungun. Dairi. Nias Barat. Deliserdang. Padang Lawas. Pak pak Bharat. Tapanuli Tengah. Medan. Langkat. Gunung sitoli dan Nias Utara. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Medan. Angka stunting di Kota Medan yaitu sebesar 491 dengan persentase 17,4% pada tahun 2019. Sedangkan angka stunting di Kota Medan pada tahun 2020 yaitu sebesar 393 dengan persentase 0,71%. 491 kasus balita stunting yang tersebar di 25 Kecamatan dan 104 Kasus tertinggi, berada di Kecamatan Medan Deli yakni sebanyak 101 kasus dan Kelurahan Titi Papan merupakan kelurahan dengan kasus tertinggi sebanyak 82 kasus. Kasus stunting pada anak dapat dijadikan prediktor rendahnya kualitas sumber daya manusia suatu negara. Stunting kognitif, rendahnya produktivitas, serta mengakibatkan kerugian jangka panjang bagi ekonomi Indonesia (Trihono. Atmarita. Tjandrarini DH. Irawati A. Utami NH. Tejayanti, et al, 2. Pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor latar belakang, termasuk tingkat penidikan, pengetahuan, status sosial ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan, dan budaya serta kebiasaan masyarakat di tempat Dampak buruk yang ditimbulkan anak stunting, dalam jangka pendek adalah kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme tubuh, dan kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit disabilitas pada usai tua (Kementrian Kesehatan RI, 2. METODE Desain penelitian ini ialah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Crosectional adalah metode penelitian yang diterapkan untuk mengumpulkan data dari beberapa individu atau grup pada satu titik waktu tertentu. Rancangan penelitian yang Page | 50 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 1 Juni 2024 digunakan yaitu non eksperimen. Populasi dari penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak balita khususnya anak usia 1-3 tahun di sekitar Kota Medan dan sampel yang digunakan adalah ibu yang memiliki anak balita di Kota Medan bulan April-Mei 2024 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sekitar 30 orang. HASIL Penelitian ini menggunakan 30 Karakteristik responden yaitu menguraikan deskripsi identitas responden menurut sampel penelitian yang telah Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Dalam penelitian sampel, karakteristik responden pendidikan, usia, pekerjaan, pengetahuan. Untuk memperjelas karakteristik responden yang dimaksud, maka disajikan tabel berikut Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografis Responden No Item Usia <20 >30 Pendidikan SMP SMA/SMK Sarjana/Diploma Pekerjaan Tidak Bekerja Petani Wiraswasta PNS Asisten RT Perawat Guru Pedagang Buruh Berdasararkan karakteristik usia pada responden yang kami peroleh. Mayoritas responden berusia 20-30 tahun . %) atau sebanyak 15 orang responden. Kemudian diikuti dengan responden yang berusia >30 tahun . ,7%) atau sebanyak 14 orang responden. Dan yang terakhir responden dengan usia <20 tahun . ,3%) terdapat 1 orang Berdasarkan kategori sebaran responden tingkat pendidikannya. Mayoritas responden . 7%) yakni 17 responden mempunyai tingkat pendidikan S1 dan selanjutnya sekolah menengah atas atau sekolah (SMA/SMK) . 0%) atau 12 orang yang tingkat pendidikanya sampai SMA, diikuti oleh responden yang memiliki tingkat pendidikan SMP responden yang terdapat persentase paling kecil yaittu . ,3%) atau sebanyak 1 orang. Berdasarkan jenis pekerjaan yang dimiliki para responden ada pekerjaan yang beragam di kalangan Sebagian besar . %) atau sebanyak 9 orang responden tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga. Kemudian diikuti oleh responden yang bekerja sebagai Guru . ,0%), atau sebanyak 6 orang. Persentase responden yang bekerja sebagai Wiraswasta . ,8%) atau sebanyak 5 orang, selanjutnya PNS dan Buruh Pabrik yang memiliki jumlah yang sama yaitu . %) atau sebanyak 3 orang responden. Kemudian yang terakhir ada Petani. Asisten Rumah Tangga. Perawat dan Pedagang yang memiliki presentase yang sama yaitu sebesar . ,3%) atau sebanyak 1 orang responden. Page | 51 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 1 Juni 2024 Tabel 2. Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Item Baik Cukup Kurang Pengetahuan Berdasarkan tabel 2 hasil responden mayoritas pengetahuan responden Baik yaitu 28 orang . ,3%), pengetahuan Kurang sebanyak . ,7%) atau sebanyak 2 orang responden, dan pada pengetahuan responden klasifikasi Cukup tidak ada . %). PEMBAHASAN Penelitian ini melibatkan 30 responden ibu balita di kota Medan. Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuan tingkat pengetahuan ibu yang memiliki balita mengenai stunting di Wilayah Kerja kota Medan tahun 2024. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Berdasarkan responden mayoritas S1 yaitu sebanyak 17 orang . ,8%). Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk- bentuk tingkah laku manusia didalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial, yakin orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial, dan kemampuan individu yang optimal (Munib, 2. Sesuai berasumsi. Orang tua yang mempunyai pendidikan yang tinggi maka mengolah informasi yang bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya, yang berkaitan dengan cara mengasuh anak, menjaga kesehatan anak, pendidikan serata yang lainnya. Dalam hal konsumsi makanan juga demikian. Dengan ayah dan ibu yang berpendidikan yang tinggi, akan mampu mendidik anak-anaknya agar berperilaku makan dengan baik. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Usia Berdasarkan mayoritas umur responden 20-30 tahun yaitu sebanyak 15 orang . %). Menurut teori, umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan dan umur mempengaruhi terhadap pengetahuan. Semakin tinggi umur seseorang, semakin bertambah pula ilmu dan pengetahuan yang Kita akan semakin mampu mengambil keputusan, semakin bijaksana, semakin mampu berfikir secara rasional, mengendalikan emosi dan toleran terhadap pendapat orang lain ( Sani, 2. Secara kognitif, kebiasaan berfikir rasional meningkat pada usia dewasa awal dan tengah. Notoadmodjo menyatakan bahwa usia akan mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehinnga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Hurlock . juga menyatakan bahwa umur pengetahuan, semakin lanjut umur seseorang maka kemungkinan semakin meningkat pengetahuan dengan pengalaman yang Sesuai teori tersebut peneliti berasumsi, umur 20-30 tahun merupakan umur dimana seseorang dianggap kurang matur, baik secara fisiologis, psikologis dan Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Berdasarkan mayoritas responden bekerja sebagai IRT atau tidak bekerja yaitu sebanyak 9 orang . %). Hasil ini sesuai dengan teori Notoatmodjo . , yang mengatakan Page | 52 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 1 Juni 2024 bahwa seseorang yang bekerja akan memiliki pengetahuan yang lebih luas dari pada yang tidak bekerja karena dengan bekerja seseorang akan banyak mendapatkan informasi dan pengalaman. Perbedaan antara hasil penelitian dengan teori kemungkinan disebabkan karena ibu rumah tangga memiliki waktu yang lebih banyak di rumah dan memiliki aktivitas sosial yang lebih tinggi serta lebih cenderung mengikuti penyuluhan atau promosi kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Dalam keluarga peran ibu sangatlah penting yaitu sebagai pengasuh anak dan keluarga, juga berperan dalam usaha perbaikan gizi keluarga terutama untuk meningkatkan status gizi bayi dan anak. Pengaruh ibu yang bekerja terhadap hubungan antara ibu dan anaknya sebagian besar sangat bergantung pada usia anak dan waktu ibu kapan mulai bekerja. Ibu-ibu yang bekerja dari pagi hingga sore tidak memiliki waktu yang cukup bagi anak-anak dan keluarga (Suyadi, 2. Perhatian terhadap pemberian makan pada anak yang kurang dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi, selanjutnya berpengaruh buruk terhadap tumbuh kembang anak dan perkembangan otak Beban kerja yang berat pada ibu yang melakukan peran ganda dan beragam akan dapat mempengaruhi status kesehatan ibu dan status gizi balitanya (Mulyati, 2. Hal ini menyebabkan asupan gizi pada balitanya menjadi buruk dan bisa berdampak pada status gizi balita tersebut. Gambaran pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting Berdasarkan responden mayoritas adalah pengetahuan Baik yaitu sebanyak 28 orang . ,3%). Pengetahuan pendidikan, hal ini bisa diasumsikan bahwa seseorang memiliki pendidikan tinggi semakin luas pengetahuan yang dimiliki. Pemahaman ibu hal utama dalam manajemen rumah tangga, hal ini akan memberi pengaruh sikapnseseorang ibu pada saat memilih bahan makanan yang hendak di santap oleh keluarganya. Seseorang ibu dengan wawasan mengenai gizi yang baik lebih mengerti betapa esensialnya status gizi yang baik untuk kesehatan keluarga dan kesejahteraan keluarga. Ibu yang memiliki kemampuan dalam dirinya sendiri akan meningkatkan pengetahuan yang baik maupun cukup untuk mengatasi upaya pencegahan stunting (Arsyati, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Rahmandiani et al. , 2. orang tua yang telah mendapatkan informasi tentang stunting tentunya memahami, menafsirkan dan mengingat pesan yang tersampaikan dari informasi yang didapat sehingga membentuk pengetahuan yang baik. Sedangkan Ibu yang tidak pernah memperoleh infomasi wawasan tentang stunting cenderung memiliki pengetahuan kurang dibanding ibu yang mempeleh wawasan tentang stunting baik melalui media sosial maupun yang penyuluhan kader posyandu. Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wulandari et al. , 2. yang menyatakan bahwa ibu dengan pengetahuan yang kurang baik beresiko memiliki balita 1,644 dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan baik. Tingkat pengetahuan ibu dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya, ibu dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah menerima informasi mengenai stunting dibandingkan ibu dengan tingkat pendidikan yang kurang. Ketika tingkat pengetahuan ibu baik tentang kesehatan khususnya gizi pada anak balita, dapat memberikan pencegahan sejak dini dengan mencari informasi mengenai pola hidup yang baik, pola makan serta nutrisi bergizi seimbang untuk anak balita agar tidak terjadinya masalah gizi pada anak Selain itu dengan tingkat pengetahuan Page | 53 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 1 Juni 2024 ibu yang baik juga dapat memeriksakan anaknya ke Pusat Kesehatan Masyarayat (Puskesma. perkembangan status gizi balita secara rutin agar ibu dapat mengetahui perkembangan kebutuhan gizi seimbang (Yuhansyah & Mira, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai gambaran pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting pada anak balita di Kota Medan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu memiliki pengetahuan yang cukup tentang stunting, termasuk definisi, penyebab, dan Namun, masih ada sebagian kecil ibu yang belum mengetahui secara lengkap tentang stunting, terutama mengenai dampak jangka panjangnya. Ibu umumnya mengetahui tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif. MPASI yang bergizi, dan pemantauan pertumbuhan anak untuk mencegah stunting. Namun, masih ada sebagian ibu yang belum mengetahui secara lengkap tentang praktik pencegahan stunting yang tepat, seperti pemberian suplemen zat besi dan vitamin. Faktor-faktor pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting termasuk tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, dan tingkat pengetahuan. DAFTAR PUSTAKA