PROGRAM INTERVENSI KOGNITIF-PERILAKU DALAM MENURUNKAN KECEMASAN SOSIAL DI LINGKUNGAN AKADEMIK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Aristya Puspita Adi Wardhani aristyapuspita7@gmail. Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia Puji Lestari Suharso prianto@gmail. Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia *Penulis Korespondensi: puji. prianto@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari intervensi kognitif-perilaku dalam menurunkan kecemasan sosial di lingkungan akademik pada siswa SMA. Intervensi ini disusun berdasarkan tiga level tujuan intervensi kognitif-perilaku yang dikemukakan oleh Stallard . Desain penelitian ini merupakan single subject design dengan ABA design, yaitu dengan mengidentifikasi efektivitas dari treatment yang diberikan terkait permasalahan perilaku pada subyek, dengan membandingkan hasil sebelum dan setelah treatment diberikan. Subyek penelitian adalah seorang siswa SMA yang memiliki masalah kecemasan sosial di lingkungan akademik. Tingkat kecemasan subyek diukur melalui Social Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A) yang telah diadaptasi oleh Oktarani . ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap subjek, guru dan teman dengan berpedoman pada tiga subskala kecemasan sosial dari La Greca dan Lopez . Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi kognitif-perilaku ini efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan sosial subjek di lingkungan akademik. Hasil ini juga diperkuat dari hasil peninjauan kembali yang dilakukan dua minggu setelah treatment, dengan mewawancarai subyek, guru dan teman. Kata kunci: intervensi kognitif-perilaku. kecemasan sosial. lingkungan akademik. SMA ABSTRACT This study aims to determine the effectiveness of cognitive-behavioral intervention to reduce social anxiety in the academic environment for high school student. The intervention program based on three levels of cognitive-behavioral intervention objectives defined by Stallard . The design in this study was single subject design with ABA design, was to identify the effectiveness of the treatment that given to participant by comparing the results before and after the cognitive-behavioral intervention is given. The participant in this study was a high school student who has social anxiety problems in academic environment. The subject's level of anxiety was measured through the Social Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A) which was adapted by Oktarani . and translated in Indonesian language. Interviews were also conducted to participant, teachers and schoolmates based on the three social anxiety subscales of La Greca and Lopez . The results of the study indicated that Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah cognitive-behavioral intervention is effective in reducing the level of social anxiety of the participant in the academic environment. The results also supported from the follow up treatment that conducted two weeks after the treatment by interviewing participant, teachers and shoolmates. Keyword: Cognitive-behavioral intervention. Social anxiety. Academic environment. High school student PENDAHULUAN adalah kecemasan sosial. Lebih lanjut Sekolah APA . menjelaskan kecemasan Indonesia sosial biasanya ditandai adanya rasa untuk dapat mengaktualisasikan potensi takut atau cemas pada situasi sosial yang membuatnya merasa dievaluasi oleh kompetensi yang optimal (Muhammad, orang lain saat menjalin interaksi sosial. Akan tetapi, sekolah memiliki melakukan suatu kegiatan, bahkan saat banyak tuntutan yang harus dipenuhi menunjukkan kemampuan di depan orang lain. Individu tersebut cemas akan maupun prestasi akademik (Barseli & Ifdil, 2. Ragam tuntutan tersebut akademik. Hofmann dan kawan-kawan seringkali dirasakan oleh siswa sebagai . alam Fisher. Warner & Klein, 2. suatu tekanan yang menimbulkan rasa menjelaskan umumnya kecemasan sosial cemas (Nicolson & Ayers, 2. muncul ketika siswa merasa takut yang Melihat Pada American Psychiatric Association atau menuntut seseorang untuk menunjukkan APA . mendefinisikan kecemasan kemampuannya di depan publik, seperti disertai simtom fisik dan emosional pada kemampuannya di depan kelas. Menurut Adelman & Taylor . rasa Menurut Watson Friend Lopez, . alam menjadi masalah yang menghambat. menyebutkan bahwa kecemasan sosial APA terbagi atas dua subskala, yaitu Fear of Negative Evaluation (FNE) dan Social kedalam beberapa jenis, salah satunya Avoidance cemas dapat menjadi bermanfaat atau . LaGreca Distress (SAD). FNE Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah merupakan rasa takut yang dialami atau mendapat penolakan (Hudson dkk individu akan penilaian negatif dari dalam Niekerk. Klein. Dam. Hudson, orang lain. SAD merupakan perilaku Rinck. Hutschemaekers & Becker, 2. menghindar individu terhadap suatu Kondisi ini membuat seseorang menjadi situasi sosial tertentu. Lebih lanjut, cemas ketika melakukan kegiatan di LaGreca dan Stone . membagi Social Avoidance Distress (SAD) menjadi berbicara di depan kelas. lebih spesifik ke dalam dua bagian, yaitu Social Avoidance Distress-New Kecemasan sosial yang dialami (SAD- remaja dalam lingkungan akademiknya Ne. dan Social Avoidance Distress- akan berdampak pada beberapa keadaan General SAD-New yang bisa menyulitkannya. Kecemasan mengacu pada situasi sosial yang belum sosial yang dirasakan oleh individu pernah dialami atau orang lain yang tidak familiar sebelumnya, sedangkan menurunnya keterlibatan siswa dalam SAD-General mengacu pada situasi sosial proses belajar mengajar di sekolah yang sudah pernah dialami atau terhadap ditandai dengan perilaku menghindar dari situasi sosial (Wells dkk, dalam (SAD-Genera. sebelumnya (La Greca & Lopez, 1. Kecemasan Niekerk dkk, 2. Perilaku menghindar tersebut memiliki konsekuensi jangka disebabkan adanya faktor genetik, pola panjang terhadap kemampuan individu asuh orang tua, dan ekspektasi pikiran untuk bersosialisasi dan membangun Schneier . menyebutkan bahwa adanya perkembangan remaja (Fisher. Warner, merupakan bawaan sejak kecil serta kecemasan sosial juga dapat berdampak Klein. Tidak kecemasan sosial pada anak. Schneier penyalahgunaan obat terlarang, dan juga menjelaskan bahwa orangtua yang terlalu mengekang membuat anak rentan remaja (Biedel, dalam Fisher. Warner, & mengalami kecemasan sosial. Sedangkan. Klein, 2. Kecemasan sosial yang ekspektasi pikiran mengenai ancaman dialami remaja dapat berperan dalam sosial tampak dari prediksi bahwa perkembangan sosial yang maladaptif individu akan memperoleh perundungan (LaGreca Stone. Individu INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 lanjut agar dapat dikembangkan cara- cara yang dapat mengurangi kecemasan lingkungan pertemanan atau kesulitan sosialnya di sekolah. Hal ini akan dapat dengan teman sebaya. berpartisipasi di kelas dan bersosialisasi Di Indonesia, belum ada data menunjukkan performa yang optimal departemen kesehatan. Akan tetapi, dari sesuai dengan kemampuan potensi yang penelitian yang dilakukan oleh Vriends . alam Amalia, 15,8% Berdasarkan pendekatan kognitif. Indonesia kecemasan muncul akibat keyakinan mengalami kasus yang berkaitan dengan individu dan lingkungan sosial yang kecemasan sosial. Hasil wawancara dari menimbulkan perasaan cemas. Oleh Widyaastuti . juga menemukan individu tentang dirinya sendiri dan bahwa 10 siswa atau 43,47% dari 23 hubungan sosialnya merupakan bentuk penanganan yang lebih sesuai. Terapi menggambarkan pengalaman kecemasan kognitif-perilaku merupakan intervensi sebagai akibat dari situasi sosial yang dinilai oleh orang lain. Pada penelitian mengurangi stres psikologis dan perilaku ini, peneliti juga menemukan fenomena siswa SMA yang mengalami kecemasan Kecemasan ini ditandai oleh (Stallard, 2. Intervensi ini berfokus pada pemahaman mengenai bagaimana penilaian negatif dari guru dan teman- suatu kejadian dan pengalaman tersebut Kondisi ini membuat siswa tersebut kesulitan untuk menunjukkan mengidentifikasi dan mengubah distorsi performa yang optimal di sekolah serta Dari beberapa penelitian, berdampak pada nilai-nilai akademiknya ditunjukkan bahwa intervensi kognitif- yang cenderung dibawah standar nilai perilaku berhasil digunakan pada anak- ketuntasan belajar. anak hingga remaja untuk mengatasi Berdasarkan ditimbulkan dari kecemasan sosial yang kecemasan (Stallard, 2. Efektivitas dialami siswa, maka penting untuk intervensi kognitif-perilaku ini pernah mengidentifikasi dan menangani lebih diuji juga oleh Wong. Kwok. Low. Man. Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah . menunjukkan pengaruh yang positif. Berdasarkan Data kognitif-perilaku untuk melihat perubahan perilaku yang sebelumnya, peneliti menduga bahwa diukur melalui observasi dan wawancara intervensi kognitif-perilaku juga dapat terhadap subjek mengenai karakteristik menurunkan kecemasan sosial pada yang menggambarkan kecemasan sosial siswa di latar budaya Indonesia. Oleh saat sebelum dan sesudah diberikan karena itu, penelitian ini bermaksud intervensi, pada setiap sesi dan pada sesi mencari tahu apakah program intervensi peninjauan kembali . ollow u. kognitif-perilaku Partisipan adalah siswa remaja perempuan berusia akademik pada siswa SMA. Diharapkan, 16 tahun 5 bulan dan berada di kelas 2 dari hasil penelitian ini dapat menjadi SMA. Ia memiliki potensi kemampuan reverensi bagi penanganan kasus lainnya yang baik untuk dapat memahami materi yang serupa dan menambah khazanah pelajaran dan berprestasi di sekolah, yaitu IQ yang berada pada kategori di atas rata-rata . kor IQ=119 berdasarkan Wechsle. Akan METODE PENELITIAN Desain penelitian ini menggunakan performanya, siswa tersebut cenderung dan nilai-nilai akademiknya yang tidak memfokuskan pada data individu sebagai memenuhi standar kelulusan. Penyebab Desain diketahui karena dari hasil pemeriksaan penelitian yang digunakan adalah desain psikologisnya diperoleh bahwa adanya A-B-A, yang disusun atas dasar logika kecemasan yang ia rasakan pada situasi- baseline, yaitu pengukuran perilaku pada Kecemasan ini disebabkan oleh adanya intervensi (B) serta pengulangan baseline pandangan atau pemikiran negatif yang (A. (A) Pengumpulan pasif, sulit diajak berpartisipasi di kelas, secara kuantitatif dan kualitatif. Data sosial di lingkungan akademik, sehingga secara kuantitatif diperoleh dari Social ia tidak berani bertanya, presentasi di Anxiety Scale-Adolescent (SAS-A), dengan depan kelas ketika pelajaran. Kondisi ini INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 berdampak pada prestasi akademiknya studi literatur, penyusunan masalah, yang tidak tampil maksimal. perancangan program, penyusunan alat Instrumen yang digunakan dalam ukur, dan penentuan baseline. Pada penelitian ini terdiri dari pengukuran tahap pelaksanaan intervensi dilakukan Secara kognitif-perilaku kuantitatif, instrumen pengukuran yang selama lima sesi pertemuan dengan akan digunakan adalah alat ukur Social durasi tiap pertemuannya sekira 65-110 Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A) yang Lima sesi pertemuan ini terdiri telah diadaptasi oleh Oktarani . Alat ukur ini digunakan untuk mengukur identifikasi disfungsi pikiran . ua ses. , tahap mengelola Sedangkan pengukuran secara kualitatif akan menggunakan metode wawancara dan observasi. Panduan wawancara yang intervensi ini dilaksanakan di sekolah setelah partisipan mengikuti kegiatan berdasarkan subskala kecemasan sosial yang dikemukakan LaGreca dan Lopez . Wawancara Seluruh Setelah Pada tahap evaluasi dilakukan kualitatif dan akan dipergunakan pada pengukuran kembali kecemasan sosial intervensi dan pada saat peninjauan kuesioner SAS-A. minggu setelah intervensi Data Panduan observasi disusun oleh penelitian kemudian dianalisis. Analisis keberhasilan pada setiap sesi intervensi. membandingkan hasil kuesioner SAS-A Observasi pada tiap sesi dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat data Selain itu, analisis kualitatif dan melakukan pengecekan terhadap dilakukan dengan melihat perubahan ketercapaian tujuan pada tiap sesi perubahan respon jawaban partisipan Prosedur penelitian ini terdiri dari pada saat sebelum dan setelah intervensi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan serta observasi perilaku pada tiap sesi intervensi, dan evaluasi. Pada tahap persiapan dilakukan analisis kebutuhan. Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah HASIL DAN PEMBAHASAN Diketahui bahwa partisipan sudah tidak Dari hasil pengukuran kecemasan merasa khawatir terhadap apa yang yang dialami partisipan menggunakan orang lain pikirkan mengenai dirinya dan SAS-A, dipermalukan seperti diejek, atau tidak kecemasan setelah mengikuti intervensi disukai pada saat peninjauan ulang. dan saat peninjauan kembali. Hanya sedikit kekhawatiran yang timbul. Berdasarkan Tabel 1, penurunan lebih banyak terjadi pada subskala FNE. yakni takut tidak disukai bila bertengkar dengan orang lain. Tabel 1 Hasil Pengukuran Kuesioner SAS-A pada Pretest. Post-test, dan Peninjauan Kembali Subskala Item Fear Negative Evaluation (FNE) Social Avoidance Distress in New Situation (SAD Ne. Social Avoidance Pernyataan Saya khawatir akan diledek oleh orang Saya teman-teman sepengetahuan saya. Saya merasa khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan mengenai saya Saya takut orang lain tidak akan menyukai saya Saya merasa khawatir tentang apa yang orang lain katakan mengenai saya. Saya khawatir orang-orang tidak menyukai saya Saya khawatir menjadi bahan ejekan orang lain Jika saya bertengkar dengan seseorang, saya khawatir orang itu tidak akan menyukai saya. Saya merasa khawatir ketika melakukan hal baru di depan banyak orang Saya merasa malu berada di sekitar orang yang tidak saya kenal Saya hanya berbicara pada orang-orang yang saya kenal baik Saya merasa gugup ketika bertemu orang baru Saya merasa gugup ketika berada di sekitar orang-orang tertentu Saya merasa gugup ketika berbicara dengan teman sebaya yang tidak terlalu Skor Pretest Skor Post Test Skor Peninjauan Kembali Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Subskala Item Pernyataan Skor Pretest Skor Post Test Skor Peninjauan Kembali Distress in General Situation (SAD Genera. saya kenal Saya takut orang lain akan menolak ketika saya mengajaknya melakukan sesuatu bersama-sama Saya bahkan merasa malu pada teman sebaya yang saya kenal baik Sulit bagi saya untuk mengajak orang lain beraktivitas bersama saya Total Skor Sumber: Wardhani & Suharso . Pada SAD-New Berdasarkan pada saat peninjauan kembali seperti kecemasan, terutama saat berada pada yang ditampilkan pada Tabel 2, diketahui situasi yang tidak terlalu partisipan kenal atau bertemu dengan orang baru. Ia juga berpartisipasi di kelas sudah berkurang. tidak terlalu menunjukkan kecemasan Saat ini ia merasa dirinya lebih aktif ketika berbicara dengan orang yang dibandingkan sebelum intervensi. tidak dikenalnya. Pada subskala SAD-Gen, diketahui berkurang jauh walaupun sebetulnya partisipan juga tidak terlalu cemas bila perasaan tersebut masih ada. Terkadang, diminta untuk berbicara dengan teman ia merasa takut akan penilaian buruk sebaya yang tidak terlalu ia kenali. dari orang lain, namun perasaan tersebut juga tidak merasa malu dengan teman yang sudah dikenalinya. Hanya saja, apabila ia diminta untuk mengajak orang pertanyaan guru. Ia lebih terfokus pada lain beraktivitas bersama, ia masih menunjukkan kecemasan walaupun ada Ia juga sudah tidak menganggap ketakutan akan ditolak oleh orang lain dirinya sulit menjelaskan di depan jika dirinya mengajak untuk melakukan Ia merasa asalkan ia sesuatu bersama-sama. mengendalikan dirinya dan memahami materinya dengan baik, maka ia bisa INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 Hingga Selain partisipan tidak menolak dan berani partisipan, juga dilakukan wawancara pada guru dan teman sekelasnya. Guru- memintanya untuk melakukan sesuatu guru menjelaskan bahwa sudah tampak yang belum pernah ia lakukan. perubahan yang jauh berbeda pada Dalam kegiatan berkelompok, ia dirinya di kelas. Jika sebelumnya ia masih berusaha untuk memilih anggota sangat pemalu dan pasif di kelas, saat ini yang sudah ia kenal dekat. Akan tetapi ia dapat berpartisipasi dan mau jika saat ini, ia juga merasa bisa bekerja diminta guru menjawab pertanyaan. dengan kelompok lain yang tidak terlalu cenderung lebih aktif di kelas. Tidak ia kenal. Hanya saja ia terkadang ia masih merasa kesal bila mendapatkan Ia juga terlihat lebih pandai bekerjasama karena ia harus bekerja dari sebelumnya, jika sebelumnya ia lebih keras bila ingin hasilnya tetap baik. selalu menolak dan tidak bisa, saat ini ia Reaksi fisik seperti deg-degan sebelum tampil di depan umum hingga menjawab persoalan yang diberikan. saat ini juga masih ia rasakan, hanya saja Guru-guru hal tersebut mampu ia kendalikan. Ia jug perubahan yang terjadi padanya. masih menggunakan teknik relaksasi Lebih khusus melalui guru BK. Mengatur Nafas setiap kali ia merasa saat ini ia sudah mau duduk di depan dan cemas untuk tampil. Ia juga berusaha meja nomor 1 . erhadapan langsung untuk memunculkan hal positif yang bisa dengan meja gur. Sebelumnya ia harus digunakannya untuk tampil. dipaksa untuk pindah, dan selalu kembali Keadaannya lagi ke meja sebelumnya, saat ini ia sudah memilih sendiri duduk di depan. teman satu kelasnya. Hal ini karena ia juga duduk bersebelahan dengan anak menganggap bahwa saat ini ia lebih yang cukup pintar di kelas sehingga guru sering diajak berpartisipasi bersama BK merasa bahwa akademiknya terbantu dalam kelompok. Meskipun demikian, dengan teman di sebelahnya karena bisa berdiskusi dengan teman tersebut. Ini merasa bahwa ia sulit untuk meminta teman sekelas berkegiatan bersama. Hal mengikuti pelajaran. ini karena ia masih merasa takut ditolak oleh temannya. Berdasarkan pandangan teman satu kelasnya, saat ini perilaku partisipan Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah sudah berbeda jauh dengan sebelumnya. strategi utama dalam terapi kognitif- Ia lebih aktif dan dan mau berbincang. perilaku adalah mengubah keyakinan Partisipan yang dulunya sangat mudah panik, saat ini ia tidak terlalu panik dan keyakinan yang lebih rasional dan positif. lebih mudah berbaur dengan teman- Pada teman lainnya. Walaupun terkadang partisipan memiliki suatu keyakinan masih terlihat hati-hati, namun ia tetap irasional yang perlu diubah. Partisipan berani bicara di kelas. Hal yang paling terasa adalah mendapat penilaian negatif dari orang kemampuannya untuk ini tampak pada penyelesaian tugas Saat ini partisipan lebih bahwa ia akan mengalami kegagalan jika berani berpendapat di kelas, partisipan menunjukkan dirinya di depan publik, lebih banyak terlibat mengikuti jalannya kegiatan kelompok dengan memberi ide- dilakukan kelompok terhadap tugas yang menyampaikan ide pada orang lain, hal Selain Keyakinannya diberikan guru, lebih aktif menjadi penyaji materi, ia juga mau membuat keyaknian yang lebih rasional dan positif. tayangan PPT. Hal ini terlihat dari adanya kesadaran Penelitian ini menunjukkan bahwa kognitif-perilaku pada diri partisipan bahwa ternyata ia bisa mengekspresikan dirinya secara verbal di depan umum serta adanya kecemasan sosial siswa remaja dalam pemikiran bahwa dirinya tidak seburuk lingkungan akademik. Hal ini sejalan yang ia prasangkai selama ini. Hal dengan penelitian yang dilakukan juga oleh Asrori . terkait terapi kognitif- perubahan pemikiran pada partisipan. Keadaan ini selaras dengan pendapat tingkat kecemasan sosial subjek pada Stallard . yang mengungkapkan Penelitian kognitif-perilaku pada pengubahan pola pikir. Antony dan Swinson . , menyebutkan bahwa kognitif-perilaku merupakan intervensi psikoterapi yang bertujuan untuk menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pola pikir. INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 Pada penelitian ini, terdapat halhal Faktor kesadaran dari subjek penelitian akan Partisipan mengungkapkan bahwa salah mengikuti intervensi ini adalah karena mengganggu performa partisipan di Hal ini seiring dengan penjelasan Stallard . , bahwa salah satu hal antara lain kesiapan, motivasi, dan memiliki tujuan yang ingin diraih. Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Tabel 2 Hasil Wawancara Saat Pretest. Post-test, dan Peninjauan Kembali Dimensi Kecemasan Sosial Fear Negative Evaluation (FNE) Indikator Kecemasa n Sosial Interpretasi Verbatim Subjek Sebelum Intervensi Interpretasi Verbatim Subjek Setelah Intervensi Perasaan ditertawakan masih ia rasakan, akan tetapi ia menyadari jika ia tidak memulai untuk berani, maka tidak akan bisa lebih baik. P masih belum nyaman situasi-situasi dirinya tampil di depan banyak orang. Akan tetapi ia merasa lebih berani untuk ikut aktif di kelas. Merasa orang lain P takut apabila mendapat respon negatif dari temantemannya saat menunjukkan seperti ditertawakan, diejek, atau dianggap tidak jelas. Meskipun ketakutan tersebut masih sulit ia kendalikan. Merasa buruk oleh orang lain apabila ia pasi aktif di sekolah P serng terbayang dengan pendapat negatif orang lain. Ia takut dikomentari hal yang buruk, atau dianggap mencari Ketakutannya olokan teman yang menyoraki siswa lain saat berada didepan Pemikiran untuk takut dirasakan oleh P. takut dengan anggapan pertanyaan yang ia lontarkan tidak tepat. Memandan P menganggap dirinya tidak percaya diri untuk bisa aktif di P merasa takut salah dalam menjawab. Ia juga Interpretasi Verbatim Subjek Peninjauan Kembali Rasa malu dan takut ditertawakan saat tampil masih ia rasakan. Akan tetapi hal tersebut tidak di dramatisir. Ia merasa lebih percaya diri untuk tampil di kelas. Pikiran takut dinilai negatif oleh guru atau teman masih ada, namun berlebihan seperti dulu. P lebih memilih fokus Saat gilirannya berbicara, ia akan berbicara dan tidak pernah menolak seperti P merasa tidak ada lagi pikiran bahwa dirinya tidak percaya diri dan Kesimpulan P masih memiliki perasaan takut ditertawakan dan malu ketika tampil di kelas. Akan tetapi hal itu tidak didramatisir dan tidak menghambatnya untuk tampil. Ada perubahan dimana P merasa lebih percaya diri untuk tampil saat dilakukan follow-up. Walaupun memiliki rasa takut dinilai negatif, namun perasaan tersebut tidak berlebihan. Saat ini ia mampu mengendalikan perasaan-perasaan tersebut dan lebih berfokus pada materi. Jika sebelumnya P menganggap dirinya tidak percaya diri, berbelit-belit Dimensi Kecemasan Sosial SAD-New INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 Indikator Kecemasa n Sosial atau tidak yang baik di depan Menghinda ri kegiatan dari orang lain pada Interpretasi Verbatim Subjek Sebelum Intervensi P merasa tidak bisa berbicara di depan kelas. Ia merasa sering blank dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan di depan kelas saat diminta tampil. P merasa berbelit-belit saat berbicara di depan orang Hal ini sudah ia rasakan sejak lama. perintah guru dengan cara menolak dan memohon agar digantikan siswa lain untuk UUD. Membacakan UUD merupakan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. karena dipaksa akhirnya ia Hal tersebut makan hingga ia tampil. Interpretasi Verbatim Subjek Setelah Intervensi seperti detak jantung cepat, akan tetapi ia berusaha mengelola hal tersebut dengan teknik relaksasi yang sudah Hal tersebut kecemasannya sehingga pertanyaan guru. Setelah pelatihan. P merasa pola pikirnya berubah. merasa bahwa ternyata dirinya bisa menguasai diri, bisa berbicara di Ia merasa bahwa terlalu penakut. Adanya keinginan untuk orang lain bahwa P berani dan tidak pasif seperti anggapan orang selama ini. Interpretasi Verbatim Subjek Peninjauan Kembali tidak mampu berbicara karena berbelit-belit. menjawab atau bertanya pada guru mengenai suatu hal di kelas. Saat ini P tidak pernah pada hal-hal yang belum Karena hal tersebut, ia menjadi lebih dekat dengan gurunya. Saat ini ia juga berani melakukan hal-hal baru sendiri tanpa ditemani Kesimpulan mengungkapkan suatu hal, saat in ia tidak lagi memiliki pikiran mengenai hal tersebut. berpartisipasi di kelas atau bertanya pada guru mengenai pelajaran yang tidak ia mengerti. Jika sebelumnya P selalu menolak dan meminta ditemani oleh sahabat dalam melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, namun saat ini P sudah berani melakukan hal yang seorang diri tanpa ditemani. Karena ia selalu membantu guru, ia menjadi lebih dekat dengan guru tersebut. Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Dimensi Kecemasan Sosial Indikator Kecemasa n Sosial Kesulitan n di depan orang lain Hanya mau Interpretasi Verbatim Subjek Sebelum Intervensi Dalam kegiatan diskusi ataupun presentasi, ia tetap merasa ide-idenya, baik didepan orangorang yang sudah ia tahu maupun orang yang belum ia Pada orang yang belum ia kenal. P merasa lebih sulit dibanding dengan orang yang sudah ia ketahui sebelumnya. Walaupun takut. P lebih nyaman tampil di depan orang yang sudah dikenali. Akan tetapi jika orang yang dikenal tersebut merupakan orang yang senang berkomentar negatif. P akan merasa tidak nyaman untuk tampil. P merasa tidak bisa ceplas ceplos . mengungkapkan apa yang dipikirkannya saat di depan umum. Akan tetapi dengan sahabat dekatnya, ia mengekspresikan ide-idenya. P biasanya mengutamakan bekerjasama dengan sahabat Ia merasa lebih Interpretasi Verbatim Subjek Setelah Intervensi P merasa lebih nyaman dengan teman yang sudah ia kenal ketika mengekspresikan diri di Tetapi saat ini ia untuk mencoba berani berpartisipasi di kelas. Saat ini ia masih membaur dengan teman Interpretasi Verbatim Subjek Peninjauan Kembali temannya seperti dulu. Rasa cemas masih muncul saat P harus melakukan kegiatan terutama pada hal Akan tetapi ia teknik-teknik yang pernah diajarkan dan mencoba melihat dari sisi lain untuk Saat ini, jika ia bisa akrabnya. P akan lebih Kesimpulan P merasa lebih cemas ketika harus tampil di depan orangorang yang belum dikenalnya dibandingkan dengan orang yang sudah ia kenali karakternya. Akan tetapi saat ini ia tahu cara mengurangi kecemasaannya dan sering menggunakan teknikteknik yang ia pelajari saat Ia juga lebih mudah memperkuat pikiran positfnya dengan melihat dari sisi lain. Hal sedang ia hadapi. Hingga saat ini. P akan merasa Dimensi Kecemasan Sosial SAD-Gen INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 Indikator Kecemasa n Sosial ma rekan Merasa resikan ide di depan Interpretasi Verbatim Subjek Sebelum Intervensi mengenali karakter dan bisa bekerjasama dengan baik Bila guru menyuruh untuk bekerjasama dengan siswa lain. P ingin memilih siswa yang baik dan menghindari siswa anggota gank di kelas tersebut. Namun ia sulit meminta untuk bergabung bersama. Pada teman akrab, ia mudah pikirannyanya, namun bila sudah dilihat oleh teman satu kelas, ia akan merasa cemas pikirannya tersebut P tidak berani mencoba berpendapat di kelas. P sering merasa dirinya mengerti jawaban yang harus diutarakan, namun pada saat kesulitan dan tidak tahu harus Ditambah adanya anggapan bahwa ia berbelit-belit dalam menjelaskan sesatu, sehingga membuatnya enggan untuk aktif menjawab karena merasa orang lain tidak akan mengerti hal yang ia sampaikan. Interpretasi Verbatim Subjek Setelah Intervensi yang tidak terlalu akrab saat kegiatan kelompok. Kesulitan mengekspresikan ide di kelas masih ia rasakan, terutama dengan denyut jantung yang berdetak Tetapi saat ini ia kecemasannya tersebut Interpretasi Verbatim Subjek Peninjauan Kembali Akan tetapi jika ia bergabung dengan kelompok lain. P merasa tidak pendiam seperti memberikan ide. Saat ini P merasa tidak lagi merasa kesulitan ketika harus menjawab. Rasa cemasnya dirasa P sudah seperti dulu. Ia akan kesulitan bila materinya tidak ia kuasai, sehingga P lebih memilih untuk memahami materi. Kesimpulan Akan tetapi sekarang ia bisa lebih nyaman saat berkegiatan dengan kelompok lain diluar sahabatnya. Ia sudah bisa lebih mudah menyampaikan ide-idenya pada kelompok. Sebelumnya ia merasa sulit mengungkapkan pendapat dan merasa berbelit-belit. Hal ini membuatnya memilih pasif dan enggan mengungkapkan ide pikirannya di depan umum. Akan tetapi saat ini ia lebih nyaman untuk aktif, mengungakpkan idenya di depan umum. Ia lebih befokus pada memahami materi yang akan disampaikannya. Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Dimensi Kecemasan Sosial Indikator Kecemasa n Sosial Bersikap dari orang . jawab dl. Merasa yang tidak n bersama Interpretasi Verbatim Subjek Sebelum Intervensi kesempatan atau memberikan jawaban pada orang lain saat ada sesi tanya jawab di kelas Jika bekerja kelompok dengan siswa lain di kelas, ia memilih mengikuti kemauan kelompok. Akan tetapi yang ia tidak suka adalah P sering mendapatkan tugas yang lebih banyak sehingga seringkali P merasa P cenderung menurut jika ia ditempatkan dengan anggota kelompok yang tidak terlalu ia Akan tetapi disisi lain. P juga cenderung kesulitan untuk kelompok tersebut. Sehingga ia keputusan dalam kelompok terkait tugas yang harus ia Interpretasi Verbatim Subjek Setelah Intervensi P merasa ada perbedaan sebelum dan setelah ia Jika sebelumnya ia sulit kondisi kaku atau ingin cepat selesai, saat ini ia bisa lebih mengontrol respon tubuhnya P merasa bahwa ia masih sulit meminta teman lain yang tidak terlalu akrab untuk menjadi kelompoknya. sering merasa tidak cocok dengan kelompok diperlakukan tidak baik oleh anggota kelompok Interpretasi Verbatim Subjek Peninjauan Kembali Ia merasa tidak pasif seperti dulu. Ia sengaja menghindari tugas yang berada di balik layar dan memilih untuk lebih banyak tampil. Hal ini merupakan salah satu cara yang P lakukan untuk lebih aktif di kelas. Ia masih cenderung sulit untuk meminta berkelompok dengan Akan tetapi saat ini keadaannya lebih baik karena P lebih sering diajak oleh berpartisipasi bersama. Ia merasa teman-teman Kesimpulan Jika sebelumnya Am selalu memilih tugas-tugas yang tidak menuntutnya tampil di depan umum, saat ini P justru menghindari tugas tersebut dan lebih banyak mengambil peran untuk menjelaskan di depan Hal ini sengaja ia lakukan untuk melatih dirinya agar lebih Awal-awalnya ia gugup, namun ia mencoba untuk memperkuat pikiran positifnya dan mengurangi rasa cemasnya dengan relaksasi. Semakin lama ia merasa semakin bisa berbicara di depan umum. Hingga saat ini P masih sulit untuk meminta orang lain berkelompok atau melakukan Hal ini karena ia masih takut dengan penolakan. Akan tetapi saat ini ia lebih sering berkelompok bersama. Ia juga merasa lebih banyak teman dibandingkan dulu. Meskipun INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 Dimensi Kecemasan Sosial Indikator Kecemasa n Sosial Interpretasi Verbatim Subjek Sebelum Intervensi meminta orang lain yang tidak walaupun sama-sama berada dalam satu kelas. Sumber: Wardhani & Suharso . Interpretasi Verbatim Subjek Setelah Intervensi mengerjakan porsi tugas yang lebih banyak. Interpretasi Verbatim Subjek Peninjauan Kembali dikelasnya saat ini lebih bisa menerima diri P. Kesimpulan berkelompok dengan siapapun, maka P akan tetap memilih bersama sahabatnya karena merasa lebih nyaman dan sudah mengenali karakter sahabatnya. Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Faktor Faktor keberhasilan yang ketiga hubungan baik yang terjalin antara adalah kemampuan partisipan dalam partisipan dengan peneliti. Hubungan merefleksikan pikiran dan menemukan baik ini meningkatkan kerjasama yang baik pula antara peneliti dengan subjek dijelaskan oleh Shirk . alam Stallard. Menurut Belsher dan Wikes 2. bahwa kemampuan partisipan . 4, dalam merefleksikan pikirannya menjadi hal yang diperlukan untuk mencapai Stallard. Seperti kerjasama dengan remaja menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Proses kognitif-perilaku. kerjasama ini akan mendorong remaja dapat menemukan pemahaman terkait permasalahan dan kemungkinan jalan kegiatan yang sedang dilakukannya pada keluar dari permasalahannya tersebut. tiap-tiap Tidak hanya itu, hubungan yang terjalin pemahaman bahwa pikiran partisipan baik ini juga juga meningkatkan ikatan yang mempengaruhi perasaan, reaksi fisik dan perilaku partisipan dalam mengahadapi situasi yang menekan atau membangun komunikasi yang efektif. menemukan pemahaman bahwa dirinya Komunikasi efektif ini menjadi hal yang tidak seburuk prasangka yang selama ini penting dalam mengarahkan rangsangan sebagai suatu proses pendidikan. Hal ini Bender Dengan Respon positif dari teman saat tampil di depan kelas pada sesi simulasi . yang mengemukakan bahwa menjalankan suatu proses pendidikan memengaruhi subjek penelitian secara komunikasi yang terjalin antara pendidik Biasanya, pada individu yang memiliki kecemasan sosial cenderung memiliki perasaan takut akan penilaian efektif membutuhkan sebuah ikatan negatif dari lingkungan sosialnya. Seperti Heimberg . alam Niekerk dkk, 2. mengekspresikan dirinya. Rape bahwa individu dengan kecemasan sosial seringkali terlalu fokus pada penilaian INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 1 Juli 2022, hlm 1-21 negatif yang akan diberikan orang lain ataupun orangtua dalam membangun dan merasa orang lain selalu bersikap keyakinan positif pada partisipan. Ada kriits padanya. Dalam penelitian ini, penilaian negatif terhadap partisipan partisipan akan menjadi bukti untuk yang bisa membentuk keyakinan yang memperlemah keyakinannya yang salah salah pada diri partisipan. dalam menghadapi situasi sosial yang Selain didukung oleh faktor-faktor yang menyebabkan penelitian ini dapat memperkuat pikiran positif yang sedang menurunkan tingkat kecemasan sosial dibangun terkait presentasi di depan siswa remaja, terdapat pula faktor lain yang menjadi tantangan keberhasilan Pada penelitian selanjutnya PENUTUP Berdasarkan Pertama, membangun kedekatan dengan yang sudah dipaparkan, disimpulkan siswa yang mengalami kecemasan agar terbentuk rasa kepercayaan sehingga siswa tersebut dapat membuka diri tingkat kecemasan sosial siswa remaja. dengan nyaman dan aman. Selain itu, ada Efektivitas ini tampak dari baiknya lebih memerhatikan persiapan penurunan skor kecemasan sosial ketika teknis lainya, seperti ketersediaan diberikan alat ukur SAS-A serta adanya ruangan, kesediaan pihak lain yang perubahan jawaban partisipan ketika mendukung jalannya intervensi. Kedua, dilakukan wawancara dan observasi pada saat sebelum pemberian intervensi, setelah pemberian intervensi dan juga membutuhkan keterlibatan orang lain pada saat peninjauan kembali. agar penelitian dapat berjalan sesuai Bila level kecemasan partisipan mengalami penurunan, maka dibutuhkan dukungan sosial dari berbagai pihak, seperti guru pengajar, guru BK, psikolog rancangan yang telah dibuat. Wardhani. Suharso. Program Intervensi Kognitif-Perilaku Dalam Menurunkan Kecemasan Sosial Di Lingkungan Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah PUSTAKA ACUAN