LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Juni 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || KONSEP MORAL DALAM NOVEL AuLEBIH SENYAP DARI BISIKANAy KARYA ANDINA DWIFATMA Nita Novi Kristiyanti 1. Sutardi 2. Ida Sukowati 3 *1-3 Universistas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 nitanovi. k@yahoo. 2 sutardi@unisda. 3 idasukowati@unisda. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: . Mendeskripsikan representasi konsep moral yang terdapat dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Mendeskripsikan klasifikasi emosi tokohtokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. Mendeskripsikan konteks klasifikasi emosi tokoh-tokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. Semua data yang ada digunakan sebagai langkah awal untuk mengeksplorasi konsep moral dalam novel serta merepresentasikan proses internalisasi nilai-nilai moral dalam diri tokoh-tokohnya. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana moralitas dikonstruksi dalam karya sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologis dengan memanfaatkan teori klasifikasi emosi David Krech. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun Data diperoleh dengan teknik baca dan catat. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Keabsahan data diperoleh dengan teknik triangulasi data yang diperoleh dari novel dan teori yang diperoleh dari buku-buku yang relevan dengan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa representasi konsep moral yang terdapat dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan. 6 tanggung jawab, 2 kejujuran, 2 kesabaran, 3 cinta dan kasih saying. 3 empati, 3 keberanian, 5 penerimaan, 4 kebahagiaan. Klasifikasi emosi tokoh-tokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. 3 konsep rasa bersalah, 2 rasa bersalah yang dipendam, 3 menghukum diri sendiri, 2 rasa malu, 5 kesedihan, 2 kebencian, dan 4 cinta. Konteks klasifikasi emosi tokoh-tokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. 8 klasifikasi emosi dasar, 6 klasifikasi emosi yang berhubungan dengan stimulus sensor, 6 klasifikasi emosi yang berhubungan dengan diri sendiri, 6 klasifikasi emosi yang berhubungan dengan orang lain. Kata kunci: Konsep Moral. Klasifikasi Emosi. Psikologi David Krech. ABSTRACT The objectives of this study are: . To describe the representation of moral concepts contained in the novel Lebih Senyap dari Bisikan by Andina Dwifatma. Describing the emotional classification of the characters in the novel Lebih Senyap dari Bisikan by Andina Dwifatma is analyzed based on David Krech's theory of literary psychology. De-researching the context of the emotional classification of the characters in the novel Lebih Senyap dari Bisikan analyzed based on David Krech's theory of literary psychology. All available data is used as a first step to explore the concept of morality in the novel and represent the process of internalizing moral values in the characters. This is expected to provide a clearer picture of how morality is constructed in literary works. This study uses a psychological approach by utilizing David Krech's theory of emotional classification. The source of data in this study is the novel Lebih Senyap dari Bisikan published by Gramedia Pustaka Utama in Data was obtained by reading and recording techniques. The data analysis technique used is qualitative descriptive. The validity of the data was obtained by the triangulation technique of data obtained from novels and theories obtained from books relevant to the research. The results of this study show that the representation of moral concepts contained in the novel Lebih Senyap dari Bisikan is analyzed based on David Krech's theory of literary psychology. 6 responsibilities, 2 honesty, 2 patience, 3 love and love saying. 3 empathy, 3 courage, 5 acceptance, 4 happiness. The emotional classification of the characters in the novel Lebih Senyap dari Bisikan. 3 concepts of guilt, 2 pent-up guilt, 3 self-punishment, 2 shame, 5 sadness, 2 hatred, and 4 love. The context of the emotional https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. classification of the characters in the novel Lebih Senyap dari Bisikan. 8 basic emotional classifications, 6 emotional classifications related to sensory stimuli, 6 classifications of emotions related to oneself, 6 classifications of emotions related to others. Kata Kunci: Moral Concepts. Classification of Emotions. David Krech's Psychology. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Sastra merupakan cerminan kehidupan yang menggambarkan berbagai aspek sosial, budaya, psikologis, dan moral dalam masyarakat. Novel, sebagai salah satu bentuk karya sastra, memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan moral melalui alur cerita, karakter, dan konflik yang dihadirkan. Pemahaman terhadap pesan moral dalam novel dapat memberikan wawasan yang mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan yang relevan bagi Novel ialah karya imajinasi yang menceritakan seluruh cerita kehidupan dengan problematika antara satu orang maupun beberapa orang sebagai tokoh. Maka pengarang harus dengan terarah menuangkan ilustrasi ke dalam novel atas kejadian atau peristiwa nyata agar pengisahan tokoh dalam novel dapat dinikmati oleh pembaca Kosasih (Wijayanty. Murniviyanti, & Barkudin, 2. Andri Wicaksono dalam bukunya yang berjudul Pengkajian Prosa Fiksi menyatakan bahwa moral ialah ketentuan kesusilaan yang mencakup seluruh aturan untuk berperilaku, berbuat dan bertindak baik. Jenis ajaran moral bisa mencangkup persoalan manusia maupun persoalan hartkat dan martabat sebagai manusia dalam kehidupan setiap harinya. Nurgiantoro . alam Pahruroji. Julianto, & Lestari, 2. menjelaskan bahwa dalam karya sastra novel moral ialah suatu makna yang terkandung dalam novel yang merupakan usaha pengarang menyampaikan suatu pesan. Gendro Nurhadi . alam Wicaksono, 2. membagi jenis-jenis nilai moral menjadi 4 aspek yang terdiri dari sebagai berikut . hubungan manusia dengan dirinya mencangkup bentuk mawas diri, mengakui dosa, bekerja keras, percaya diri, pengendalian diri dan bertindak hati- hati. hubungan manusia dengan sesama manusia mencangkup bentuk pertalian persahabatan, tolong menolong, peduli dan berbagi terhadap orang lain . hubungan manusia dengan Tuhannya mencangkup bentuk menerima qadha dan qadar, ikhtiar kepada Tuhan, senantiasa mengingat Tuhan, istiqomah dan yakin kepada Tuhannya . hubungan manusia dengan Alam mencangkup bentuk menjaga dan melestarikan lingkungan serta menjaga kebersihan lingkungam Peneliti memilih judul Konsep Moral dalam Novel Lebih Senyap dari Bisikan karena dianggap menarik karena Dalam novel tersebut menceritakan kehidupan sebuah wanita dari sebelum menikah sampai dengan menikah dengan berbagai cobaan dalam kehidupannya dikemas berdasarkan cerita seperti kehidupan sebenarnya sehingga ini dapat menjadikan sebuah pelajaran berharga baik pembacanya. Konsep moral dalam sastra sering kali dikaitkan dengan kajian psikologi sastra, yang berfokus pada bagaimana aspek psikologis penulis, tokoh, dan pembaca dapat saling berinteraksi melalui karya sastra. Dalam hal ini, pendekatan psikologi sastra David Krech menjadi kerangka teori yang relevan untuk mengidentifikasi dan menganalisis aspek moral dalam novel tersebut. Teori ini menyoroti pentingnya proses kognitif, emosional, dan sosial dalam pembentukan moralitas. Novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwi Fatma adalah salah satu karya sastra Indonesia yang mendapat perhatian luas karena kemampuan pengarangnya dalam mengemas tema-tema kompleks, termasuk tema moral, dengan gaya bahasa yang indah dan narasi yang Novel ini tidak hanya menarik dari segi estetika, tetapi juga memuat refleksi moral yang layak untuk dikaji lebih lanjut. Novel Lebih Senyap dari Bisikan menghadirkan beragam konflik moral yang dihadapi oleh tokoh-tokohnya. Konflik tersebut mencerminkan dilema yang kompleks, seperti pergulatan antara nilai-nilai tradisional dan modernitas, keputusan pribadi dan tanggung jawab sosial, serta perjuangan individu dalam menghadapi trauma. Melalui kajian psikologi sastra, berbagai aspek moral yang tersembunyi dalam novel ini dapat diungkap dengan lebih sistematis. Penelitian ini penting dilakukan karena memahami konsep moral dalam karya sastra dapat menjadi jembatan untuk memahami dinamika moral yang terjadi di masyarakat. Novel sebagai medium naratif tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat pendidikan moral yang efektif (Aisah. Analisis terhadap novel ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam memperkaya kajian moral dalam sastra Indonesia. Sebagai bagian dari masyarakat, pengarang tentunya tidak dapat dipisahkan dari nilainilai moral yang ada di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam karya sastra yang dihasilkan, termasuk dalam Lebih Senyap dari Bisikan. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diketahui sejauh mana pengaruh latar belakang budaya dan pengalaman pribadi pengarang terhadap penggambaran konsep moral dalam karyanya. Kajian psikologi sastra menurut David Krech menawarkan pendekatan multidimensional dalam menganalisis karya sastra (Yuliana. Sri Risma. Teori ini memungkinkan penelitian untuk mengidentifikasi tidak hanya moral yang eksplisit dalam novel, tetapi juga moral yang bersifat implisit, yang sering kali tersembunyi dalam dialog, deskripsi, dan tindakan tokoh. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ariska Arda Jayanti Tahun . dengan judul Nilai Moral dalam Novel Assalamualaikum Beijing Karya Asma Nadia: Kajian Sosiologi Sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tentang nilai moral dalam novel Assalamualaikum Beijing Karya Asma Nadia. Hasil penelitian tersebut membantu dalam penelitian ini dalam hal memberikan refrensi terkait metode penelitian yang digunakan, keabsahan data dalam penelitian dan juga memberikan gambaran tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam novel Assalamualaikum Beijing Karya Asma Nadia adalah nilai moral ketuhanan, nilai moral sosial, dan nilai moral diri sendiri. Novel Assalamualaikum Beijing Karya Asma Nadia mengandung unsur-unsur islami, pesan-pesan moral, dan memaparkan kisah-kisah nyata dalam kehidupan yang dijalani. Novel Lebih Senyap dari Bisikan juga menarik karena penggambaran karakter-karakter yang kompleks dan penuh nuansa. Setiap karakter memiliki pandangan moral yang berbeda, yang dipengaruhi oleh latar belakang psikologis dan pengalaman hidup mereka. Hal ini membuat novel ini menjadi bahan kajian yang kaya untuk memahami dinamika moral dalam kehidupan manusia. Dalam penelitian ini, analisis akan difokuskan pada bagaimana konflik moral dikonstruksi oleh pengarang melalui karakter dan alur cerita. Selain itu, akan dikaji pula bagaimana pembaca dapat menafsirkan pesan moral dalam novel ini berdasarkan perspektif psikologi sastra David Krech. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam kajian sastra Indonesia, khususnya mengenai hubungan antara sastra dan moralitas. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengembangkan pemahaman tentang bagaimana karya sastra dapat menjadi medium yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan moral kepada pembaca. Dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra David Krech, penelitian ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana novel Lebih Senyap dari Bisikan merepresentasikan proses internalisasi nilai-nilai moral dalam diri tokoh-tokohnya. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana moralitas dikonstruksi dalam karya sastra. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini tidak hanya akan mengkaji konsep moral dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan, tetapi juga berkontribusi dalam memperkaya kajian interdisipliner antara sastra dan psikologi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi yang berguna bagi peneliti sastra, psikolog, dan pendidik dalam memahami peran sastra dalam pembentukan moralitas individu dan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah. Mendeskripsikan representasi konsep moral yang terdapat dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Mendeskripsikan klasifikasi emosi tokoh-tokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. Mendeskripsikan konteks klasifikasi emosi tokoh-tokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Silverman . alam Subhan, dkk, 2023: . , penelitian kualitatif bertujuan menghasilkan data deskriptif, yaitu data yang berbentuk kata-kata tertulis atau lisan yang berasal dari individu atau perilaku yang Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berfokus pada elemen-elemen objek penelitian, yang dikenal dengan analisis intrinsik. Penelitian ini mengadopsi pendekatan psikologi dengan menerapkan teori klasifikasi emosi David Krech. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari kejiwaan manusia digunakan untuk menganalisis teks dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma, khususnya terkait dengan emosi yang dialami oleh tokoh tokoh-tokoh serta konsep moral dari cerita yang ditulis penulis dalam novel. Pendekatan psikologi yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan psikoanalisis menurut David Krech. Data dan sumber data dalam penelitian merupakan dua hal pokok yang harus diklarifikasikan dalam penelitian. Yang dimaksud data ialah semua informasi atau bahan mentah yang disediakan alam . alam arti lua. yang harus dicari dan dikumpulkan dengan sengaja oleh peneliti yang sesuai dengan masalah yang diteliti (Edi Subroto, 1992: . Sehingga data itu merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang diteliti. Sumber data merupakan sumber dari mana data dapat diperoleh. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Lebih Senyap Dari Bisikan Karya Andina Dwifatma yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, dengan tebal 164 halaman. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka dan catat, mengumpulkan data-data berupa kutipan-kutipan langsung maupun tidak langsung yang berhubungan dengan kritik sosiologi sastra. Teknik pustaka yaitu pencarian data dengan menggunakan sumber-sumber tertulis yang mencerminkan pemakaian bahasa sinkronis (Edi Subroto, 1992: . Teknik pustaka merupakan pengambilan data dari sumber tertulis oleh peneliti dalam rangka memperoleh data yang mendukung untuk dianalisis. Pengumpulan data melalui teknik pustaka ini dilakukan dengan membaca, mencatat, dan mengumpulkan datadata dari sumber data tertulis. Selanjutnya sumber tertulis itu dilakukan pembacaan dengan seksama lalu dipilih tuturan yang relevan sebagai data yang dianalisis. Setelah itu, data dicatat dalam kartu data. Data-data yang telah dikumpulkan lalu diperikan sesuai dengan rumusan masalah untuk dianalisis. Pengambilan data dilakukan dengan teknik simak dan catat yaitu peneliti sebagai instrumen kunci melakukan penyimakan terhadap data secara cermat. Hal ini dimaksudkan agar peneliti mengetahui wujud data penelitian yang benar-benar diperlukan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan penelitian. Jadi terdapat aspek penyeleksian dalam pengambilan data dari sumber data. Berdasarkan penyimakan secara cermat dan teliti itu kemudian dilakukan pencatatan data. Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri sehingga peneliti harus AudivalidasiAy. Validasi terhadap peneliti, meliputi. metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian Ae baik secara akademik maupun secara logis (Sugiono,2. Peneliti kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiono, 2. Teknik yang digunakan dalam keabsahan data untuk penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data menggunakan triangulasi pengumpulan data. Peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dari novel dan teori yang diperoleh dari buku-buku yang relevan dengan dengan penelitian. Kemudian dilakukan pembacaan dan penandaan pada data dan teori yang Setelah diperoleh data, selanjutnya data dikelompokkan sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian Teknik analisis data yang digunakan deskriptif analitik. Ratna . teknik deskriptif analitik merupakan cara untuk mendapatkan pesan yang terdapat dalam sebuah karya sastra dengan mendeskripsikan fakta-fakta. Bertujuan untuk memperoleh jawaban dari masalah Tahapan-tahapan analisis data pada penelitian ini antara lain. Setelah menemukan data yang telah terkumpul. Dilakukan proses penyusunan secara sistematis sesuai dengan keperluan penelitian. Pada penelitian ini korpus data yang didapatkan berupa kalimat dialog dan paragraf berkaitan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Menganalisis data yang telah terkumpul dilakukan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan Melalui analisis tersebut, diharapkan diperoleh data yang relevan dan mampu menjawab permasalahan yang berkaitan dengan rumusan masalah serta tujuan penelitian. Membuat simpulan berdasarkan pada hasil yang diperoleh oleh peneliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Moral dalam Novel "Lebih Senyap dari Bisikan" Karya Andina Dwifatma. Representasi konsep moral adalah cara suatu masyarakat atau kelompok budaya menggambarkan dan memahami nilai-nilai moral yang mereka anut. Representasi ini bisa berbentuk simbol, cerita, mitos, ritual, atau norma-norma sosial yang mengatur perilaku individu dalam masyarakat (Sudigan, 2023:. Konsep moral sendiri adalah ide-ide tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta kewajiban dan tanggung jawab yang menjadi dasar bagi penilaian moral dan tindakan manusia. Representasi konsep moral ini tidak hanya mencerminkan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat, tetapi juga berperan dalam membentuk dan memperkuat nilai-nilai tersebut melalui proses internalisasi dan Novel "Lebih Senyap Dari Bisikan" karya Andina Dwifatma menyajikan berbagai representasi konsep moral yang tercermin dalam karakter, tindakan, dan dialog tokohtokohnya. Konsep moral yang muncul antara lain: Tanggung Jawab 1 "Setiap pagi aku melumatkan aneka buah sambil berharap nasibku akan sama seperti perempuan itu. Makan siang dan makan malamku kuatur sedemikian rupa. Kalau saat makan siang aku kepengin daging, aku tidak makan nasi. Dan kalau makan malam aku kepengin nasi, aku tidak makan daging. Kuhitung setiap kalori makananku dengan hati - hati. Vitamin asam folat kuminum setiap hari tanpa terlewat, kadang kutambah vitamin E dan zat besi. " (Dwifatma, 2021,p. 9/P. Pada kutipan 4. 1 mencerminkan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya, di mana individu bertanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan fisik dan mentalnya sebagai bagian dari adaptasi sosial. Deskripsi di atas menunjukkan upaya individu untuk menjaga keseimbangan tubuh melalui pola makan yang teratur dan perhatian terhadap kesehatan, yang menggambarkan tanggung jawab pribadi dalam mengelola diri. Krech mengemukakan bahwa individu, meskipun memiliki kebebasan dalam memilih tindakan, tetap dipengaruhi oleh norma sosial dan struktur yang ada di sekitarnya. Dalam konteks ini, individu yang menjaga asupan gizi dengan hati-hati mencerminkan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial tentang kesehatan yang berlaku di masyarakat, serta kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut secara mandiri, meski tanpa paksaan langsung dari lingkungan sosial. Kejujuran "Macan adalah tipe orang yang bisa ngomong apa adanya tanpa peduli apakah perkataannya menyinggung hati orang lain dan / atau sesuai norma kesopanan di Aku menyukai dia karena ini. (Dwifatma, 2021,p. 117/P. Pada kutipan 4. 7 mencerminkan konsistensi antara sikap, nilai, dan perilaku Krech menekankan bahwa individu memiliki kebutuhan untuk menjaga keseimbangan kognitif, di mana keyakinan dan tindakan harus selaras agar tidak menimbulkan ketegangan psikologis. Macan, sebagai tokoh yang berbicara tanpa filter tanpa peduli norma sosial, menunjukkan kejujuran yang tidak terpengaruh oleh tekanan Hal ini mencerminkan bentuk autentisitas diri, di mana ia tidak menyesuaikan sikapnya demi penerimaan sosial, melainkan bertindak sesuai dengan keyakinan Namun, dari sudut pandang Krech, sikap ini juga dapat menciptakan disonansi sosial jika bertentangan dengan norma yang berlaku, sehingga menimbulkan reaksi negatif dari lingkungan. Kesabaran " Dengan sabar kutandai setiap masa subur yang terlewat. Ku tandai juga masa subur di bulan berikutnya". (Dwifatma, 2021,p. 10/P. Sikap sabar dalam kutipan 4. 9 mencerminkan aspek self-regulation dalam psikologi kognitif, di mana individu mampu mengendalikan emosi dan responsnya terhadap situasi yang penuh tantangan. Sabar di sini bukan sekadar menunggu, tetapi juga melibatkan proses berpikir dan mengelola ekspektasi terhadap keinginan yang belum Berdasarkan teori Krech, individu dengan kesabaran tinggi cenderung memiliki kontrol kognitif yang baik terhadap impuls dan mampu menghadapi ketidakpastian dengan pola pikir yang lebih adaptif. Dalam kutipan tersebut, tokoh utama menunjukkan kesabaran dengan menandai setiap masa subur yang terlewat dan tetap berharap pada kesempatan berikutnya, yang mencerminkan proses kognitif dalam mengelola harapan dan ketahanan emosional. Cinta dan Kasih Sayang "Setiap pagi dia membuatkanku sarapan sembari memandangi perutku penuh " (Dwifatma, 2021,p. 45/P. Kasih sayang dapat dipahami sebagai ekspresi emosi yang melibatkan perhatian, kepedulian, dan keterikatan emosional yang mendalam terhadap orang lain. Kutipan 11 mencerminkan kasih sayang melalui tindakan nyata dan ekspresi emosional. Membuatkan sarapan setiap pagi bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk perhatian dan kepedulian yang konsisten, yang menunjukkan bahwa individu tersebut ingin memastikan kenyamanan dan kesejahteraan orang yang dicintainya. Sementara itu, tatapan penuh sayang terhadap perut mengindikasikan adanya keterikatan emosional yang kuat, mencerminkan harapan, kebahagiaan, serta rasa tanggung jawab terhadap kehidupan yang sedang tumbuh. Dalam teori Krech, sikap kasih sayang seperti ini berakar pada faktor psikologis dan sosial yang membentuk hubungan interpersonal yang erat. Empati 14 "Dokter kandungan bilang aku terlalu stres sehingga jadwal mensku mundur hampir dua minggu. Ini hormonal saja. Pak. Entah kenapa dia bicara kepada Baron, bukan kepadaku. Tolong Ibu dijaga agar tidak terlalu tegang. " (Dwifatma, 2021,p. 11/P. Kutipan tersebut mencerminkan sikap empati sebagaimana dijelaskan dalam teori David Krech, yang menyatakan bahwa empati adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain seolah-olah ia berada dalam posisi Dalam kutipan ini, karakter yang berbicara menunjukkan pemahaman terhadap kondisi emosional dan fisik tokoh perempuan yang mengalami stres hingga memengaruhi siklus menstruasinya. Sikap empati terlihat dari perhatian terhadap kondisi hormonalnya serta keinginan untuk menjaga kesejahteraan emosionalnya dengan meminta orang lain, dalam hal ini Baron dan Ibu, agar lebih peduli dan tidak menambah tekanan. Tindakan ini mencerminkan pemahaman yang mendalam terhadap perasaan dan situasi orang lain, yang sejalan dengan konsep empati dalam teori Krech Keberanian " Scroll . rata-rata mendukung ummu_afifah untuk berani menuntut hak reproduksinya pada sang suami. " (Dwifatma, 2021,p. 36/P. Keberanian yang ditunjukkan oleh kutipan 4. 17 dapat dianalisis melalui teori sikap David Krech, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan konatif. Secara kognitif, memiliki pemahaman yang kuat tentang hak reproduksi dan kesetaraan dalam Secara afektif, ia merasakan ketidakadilan dalam relasi dengan suaminya, yang mendorongnya untuk berani menuntut haknya meskipun menghadapi norma sosial yang menekan. Sementara secara konatif, keberaniannya tercermin dalam tindakannya menyuarakan haknya di ruang publik, seperti forum daring, meskipun berisiko menghadapi stigma. Dengan demikian, keberanian Ummu_Afifah bukan sekadar perlawanan, tetapi juga ekspresi sikap yang terbentuk dari pemahaman, emosi, dan tindakan yang selaras, sebagaimana dijelaskan dalam teori sikap David Krech. Penerimaan "Aku mungkin lebih bisa menerima jika ada yang salah dengan kami berdua, atau salah satu dari kami, sehingga kegagalan-kegagalan selama dua tahun terakhir bisa " (Dwifatma, 2021,p. 13/P. Kutipan tersebut mencerminkan sikap "penerimaan" Amara dalam menghadapi kegagalan hubungannya. Ditinjau dari teori sikap oleh David Krech, penerimaan ini dapat dikaji melalui tiga komponen sikap: kognitif, afektif, dan konatif. Secara kognitif. Amara menunjukkan pemahaman bahwa kegagalan hubungan dapat dijelaskan dengan adanya kesalahan pada dirinya atau pasangannya. Secara afektif, ia menunjukkan kesiapan emosional untuk menerima kenyataan, meskipun itu menyakitkan. Sementara secara konatif, penerimaannya tampak dalam cara ia mencoba menalar dan menerima keadaan tanpa menolak atau menyalahkan secara berlebihan. Sikap ini mencerminkan keseimbangan dalam berpikir dan merespons situasi sulit dengan lebih rasional dan Kebahagiaan "Kubayangkan ekspresi bahagia Baron jika suatu saat nanti aku bisa memberinya testpack bergaris dua. Kubayangkan para kenalan memberi kami selamat. Kubayangkan mengundang teman-temanku ke acara baby shower, akikah, dan ulang tahun anakku" (Dwifatma, 2021,p. 15/P. Dalam kutipan tersebut, tokoh Amara menggambarkan kebahagiaan dengan membayangkan masa depan yang penuh harapan dan kebahagiaan, seperti memberi kabar bahagia kepada Baron, menerima ucapan selamat dari kenalan, serta merayakan momen-momen penting bersama teman-temannya. Sikap kebahagiaan Amara ini bisa ditinjau dari teori David Krech, yang menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan respons emosional terhadap pencapaian tujuan pribadi yang dihargai. Amara merasa bahagia karena ia mengidamkan kehamilan sebagai tujuan penting dalam hidupnya, yang menciptakan harapan dan kebahagiaan mendalam yang terwujud dalam gambarangambaran indah masa depan. Kebahagiaan Amara juga mencerminkan keseimbangan antara harapan pribadi dan hubungan sosial yang mendukung, sesuai dengan pandangan Krech tentang pentingnya keterhubungan sosial dalam mempengaruhi perasaan bahagia Klasifikasi Emosi Tokoh-Tokoh dalam Novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Konsep Rasa Bersalah "Baron muncul di rumahku membawa sebuah kotak berisi cincin emas putih. Campuran rasa bersalah, gugup, sedih, senang, menjadikan tampangnya ganjil, seperti tidak pas. " (Dwifatma, 2021,p. 33/P. Dalam kutipan tersebut. Amara merasakan campuran emosi yang kompleks, salah satunya adalah rasa bersalah yang muncul saat Baron datang dengan cincin emas putih. Rasa bersalah ini bisa dilihat melalui teori David Krech tentang emosi, yang menyatakan bahwa perasaan bersalah timbul ketika seseorang merasa telah melakukan sesuatu yang melanggar norma atau ekspektasi sosial. Dalam hal ini. Amara mungkin merasa bertanggung jawab atas situasi yang menciptakan ketegangan antara dirinya dan Baron, yang tercermin pada ekspresi wajah Baron yang tidak sesuai atau ganjil. Rasa bersalah ini mengganggu keseimbangan emosionalnya, membuatnya merasa tertekan dan bingung, serta memperburuk ketegangan dalam hubungan mereka. Rasa Bersalah yang Dipendam. "Aku memandanginya seolah ia bicara dalam bahasa yang tidak dipahami umat Titik air bergelayut di sudut mataku. Dari kejauhan, terdengar sayupsayup suara tangis bayiku yang begitu kencang, terus menerus, seperti menyesal telah dilahirkan. " (Dwifatma, 2021,p. 54/P. Dalam kutipan tersebut. Amara menunjukkan perasaan bersalah yang mendalam melalui penggambaran emosinya yang kompleks. Menurut teori David Krech, perasaan bersalah bisa timbul dari pengalaman yang menghubungkan tindakan seseorang dengan pelanggaran terhadap norma atau nilai yang diyakini. Dalam hal ini. Amara merasa terasing dan terasingkan dari dunia di sekitarnya, seperti mendengar suara tangis bayinya yang melibatkan rasa penyesalan yang kuat. Rasa bersalah yang dipendamnya bisa muncul dari perasaan tidak mampu memenuhi harapan, atau bahkan merasa bahwa kelahirannya sebagai ibu adalah sebuah kesalahan. Perasaan tersebut terwujud dalam cara Amara memandang bayinya, seolah mengaitkan tangisannya dengan penyesalan eksistensial yang dalam. Emosi ini memperlihatkan bagaimana perasaan bersalah bisa mengarah pada perasaan terisolasi dan kesulitan dalam mengatasi realitas yang Menghukum Diri Sendiri. 6" Jangan terlalu menyalahkan dir diri sendiri ya. Mar, "kata Macan. Sekarang dia meremas bahuku. "Ini bisa terjadi pada siapa saja. Kamarku juga sering kemasukan tikus, kok. " (Dwifatma, 2021,p. 138/P. Kutipan 4. 6 mencerminkan emosi menghukum diri sendiri yang dialami oleh tokoh Amara, sebagaimana dapat dianalisis melalui teori emosi dari David Krech. Menurut Krech, emosi tidak hanya merupakan respons fisiologis tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman dan persepsi individu terhadap situasi tertentu. Dalam konteks ini. Amara menunjukkan rasa bersalah dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpanya, meskipun Macan berusaha meyakinkannya bahwa situasi tersebut bukanlah kesalahannya. Respons Amara dapat dikategorikan sebagai emosi negatif yang muncul akibat interpretasi kognitif terhadap suatu peristiwa, di mana ia merasa bertanggung jawab atas sesuatu yang sebenarnya bersifat umum dan tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Hal ini mencerminkan bagaimana individu dengan pola pikir tertentu cenderung mempersepsi situasi secara personal, yang kemudian memperkuat perasaan bersalah dan self-blame dalam dirinya. Rasa Malu. 9 "Aku dan Baron menikah dua kali, secara Islam lalu secara Katolik. Sampai hari ini Mami masih memboikot kami. Tidak ada telepon, tidak ada SMS, dan tidak ada kunjungan selama delapan tahun penuh. Kenyataan bahwa aku diam-diam menikmati situasi ini membuatku terkejut sekaligus malu. " (Dwifatma, 2021,p. 43/P. Dalam teori David Krech, emosi merupakan respons kompleks terhadap suatu situasi yang melibatkan aspek kognitif, fisiologis, dan perilaku. Dalam kutipan 4. Amara mengalami rasa malu yang berakar dari konflik batin antara norma sosial dan perasaannya sendiri. Secara kognitif, ia menyadari bahwa menikmati pemboikotan ibunya adalah hal yang tidak seharusnya dirasakan sebagai seorang anak. Secara fisiologis, kemungkinan besar ia merasakan ketegangan emosional akibat kontradiksi antara harapan sosial dan kepuasan pribadinya. Secara perilaku, ia menunjukkan refleksi diri dengan mengakui keterkejutannya atas perasaan tersebut, yang mengindikasikan kesadaran moral dan nilai yang bertentangan dalam dirinya. Hal ini sejalan dengan pandangan Krech bahwa emosi tidak hanya sekadar reaksi spontan, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman dan keyakinan individu terhadap lingkungannya. Kesedihan. 11 "Dua minggu kemudian, hasil tes keluar. Kami berdua sehat. Sperma Baron tidak terlalu malas berenang dan sel telurku rupanya tidak jual mahal-mereka hanya belum ketemu. Hasil ini membuat Baron bersemangat, tetapi justru membuatku semakin bersedih. " (Dwifatma, 2021,p. 13/P. Dalam kutipan tersebut, kesedihan Amara dapat dianalisis menggunakan teori emosi dari David Krech, yang menyatakan bahwa emosi muncul sebagai respons terhadap situasi yang memengaruhi kebutuhan atau harapan individu. Amara mengalami konflik batin karena meskipun hasil tes menunjukkan bahwa ia dan Baron tidak memiliki masalah kesuburan yang serius, ia justru merasa semakin sedih. Hal ini dapat dijelaskan melalui konsep persepsi dan motivasi dalam teori Krech, di mana harapan Amara tentang kehamilan belum terwujud, sehingga ia mengalami ketidaksesuaian antara realitas dan Rasa sedihnya diperkuat oleh respons emosional yang bertolak belakang dengan Baron, yang justru merasa bersemangat. Perbedaan reaksi ini membuat Amara semakin merasa terisolasi dalam perjuangannya, memperdalam perasaan kecewa dan putus asa. Kebencian. 16 "Baron sering menenangkanku setiap kali aku terbangun geragapan dari mimpi buruk, tapi aku tahu dia punya kecemasannya sendiri. Dia jadi sering termenung dan lebih banyak merokok. Beberapa kali kupergoki dia menggigiti kuku, kebiasaan lama yang amat kubenci. " (Dwifatma, 2021,p. 46/P. Emosi kebencian yang dirasakan Amara terhadap kebiasaan Baron menggigiti kuku dapat dianalisis menggunakan teori emosi David Krech, yang menekankan bahwa emosi muncul sebagai hasil dari interaksi antara pengalaman individu, interpretasi kognitif, dan respons fisiologis. Amara mengalami konflik emosional karena meskipun Baron selalu menenangkannya saat mengalami mimpi buruk, ia tetap merasakan ketidaksukaan yang kuat terhadap kebiasaan lama Baron yang kembali muncul. Kebenciannya terhadap kebiasaan itu bukan hanya sekadar respons spontan, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan persepsi terhadap perubahan perilaku Baron yang menunjukkan kecemasan. Hal ini sesuai dengan teori Krech yang menyatakan bahwa emosi tidak hanya bersifat reaktif tetapi juga dipengaruhi oleh kognisi dan pengalaman yang membentuk makna dari suatu situasi. Cinta. 18 "Selain kecintaan berlebihan pada alkohol, aku tidak menemukan jejak hitam pada catatan Baron. Dia sopan dan nilainya bagus-bagus. " (Dwifatma, 2021,p. 25/P. Cinta yang dirasakan Amara terhadap Baron dapat dianalisis melalui teori emosi David Krech, yang mencakup komponen kognitif, afektif, dan konatif. Dari kutipan yang menyatakan bahwa Amara tidak menemukan "jejak hitam" pada Baron selain kecintaannya pada alkohol, terlihat bahwa secara kognitif. Amara mengakui kekurangan Baron tetapi tetap memandangnya dengan penerimaan. Secara afektif, ia menunjukkan kasih sayang dan penghargaan terhadap sifat sopan dan prestasi akademis Baron, yang menandakan keterikatan emosional yang dalam. Sementara itu, dari segi konatif, perasaan cinta ini mendorong Amara untuk tetap bertahan dalam hubungan mereka meskipun ada kekurangan, mencerminkan adanya dorongan untuk mempertahankan dan membela Baron dalam pikirannya. Konteks Klasifikasi Emosi Tokoh-Tokoh dalam Novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Klasifikasi Emosi Dasar: 1 "Kami juga bisa membelanjakan uang dengan agak ceroboh untuk membeli hal-hal yang tidak penting tapi membuat senang, seperti koleksi mobil-mobilan dan sepatu Baron, atau koleksi tas untukku. " (Dwifatma, 2021,p. 5/P. Kutipan tersebut mencerminkan emosi senang yang diklasifikasikan dalam teori emosi oleh David Krech, yang menyoroti bahwa emosi senang muncul dari pengalaman yang memberikan kepuasan atau pemenuhan kebutuhan individu. Dalam pernyataan Amara, kebahagiaan diwujudkan melalui tindakan konsumtif yang bersifat impulsif, seperti membeli koleksi mobil-mobilan dan sepatu untuk Baron serta tas untuk dirinya Hal ini sesuai dengan teori Krech, yang menjelaskan bahwa perasaan senang dapat muncul dari aktivitas yang memberikan kesenangan sementara atau penghargaan pribadi, meskipun secara rasional tindakan tersebut bisa dianggap kurang bijaksana. Dengan demikian, ekspresi emosi senang dalam kutipan ini mencerminkan bagaimana kepuasan material dapat menjadi sumber kebahagiaan subjektif, meskipun tidak selalu bersifat fungsional atau esensial. Klasifikasi Emosi yang Berhubungan dengan Stimulus Sensor: 9 "Baron meneriaki setiap pengendara motor yang memotong jalan, mengklakson pengemudi mobil yang tampak kurang sigap menekan pedal gas, sementara aku menahan sakit di bangku belakang. " (Dwifatma, 2021,p. 48/P. Dalam kutipan tersebut. Amara menggambarkan perasaan sakit yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Menggunakan teori David Krech yang menekankan pada interaksi antara persepsi individu terhadap stres dan bagaimana individu meresponsnya. Amara tampak berada dalam keadaan tertekan dan tidak nyaman. Sakit yang ia rasakan di bangku belakang mobil menggambarkan ketidakberdayaan dalam menghadapi situasi yang ada, seiring dengan perilaku Baron yang berteriak dan mengganggu suasana. Hal ini menciptakan ketegangan emosional yang memperburuk rasa sakit fisik Amara, yang mungkin mencerminkan konflik internalnya dalam merespons ketidaknyamanan emosional yang diakibatkan oleh keadaan sekitarnya. Klasifikasi Emosi yang Berhubungan dengan Diri Sendiri: 15 "Pada malam pernikahan kami aku menyadari: aku telah memilih pasangan hidupku sendiri, seseorang yang tidak disetujui Mami, dan keberhasilan atau kegagalan pernikahanku kelak adalah hasil keputusanku sendiri. Untuk pertama kalinya aku merasa bebas dan dewasa. " (Dwifatma, 2021,p. 43/P. Emosi yang dirasakan oleh Amara dapat dilihat melalui dua dimensi, yakni sukses dan gagal, yang dapat dianalisis dengan teori David Krech tentang emosi. Emosi sukses muncul ketika Amara merasa bebas dan dewasa, karena ia merasa telah membuat keputusan hidupnya sendiri, tanpa pengaruh atau tekanan dari ibunya (Mam. Hal ini menggambarkan kepuasan emosional dari otonomi dan pemilihan yang mandiri, yang memberi rasa kebanggaan dan kontrol diri. Di sisi lain, ada juga potensi kegagalan yang tersirat, karena Amara menyadari bahwa masa depannya, baik atau buruk, sepenuhnya bergantung pada pilihannya sendiri, yang bisa menumbuhkan kecemasan atau Secara keseluruhan, perasaan ini menggambarkan perasaan campuran antara kebebasan dan tanggung jawab, serta ketegangan antara harapan akan sukses dan ketakutan akan kegagalan. Klasifikasi Emosi yang Berhubungan dengan Orang Lain: 21 "Ada hal yang tidak diberitahukan orang kepadamu tentang menjadi orangtua: kau akan merasakan kegembiraan luar biasa, rasa cinta yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun juga, tapi pada saat yang sama, dirimu menjadi rentan. " (Dwifatma, 2021,p. 58/P. Kutipan yang diungkapkan oleh tokoh Amara mengandung emosi cinta yang kompleks, di mana ia menggambarkan perasaan luar biasa yang datang bersama dengan kerentanan yang mendalam. Dari perspektif teori emosi David Krech, perasaan cinta ini mencerminkan dua komponen utama dalam emosi: intensitas dan polaritas. Cinta yang Amara rasakan adalah perasaan yang kuat dan penuh kebahagiaan, namun bersamaan dengan itu, ia menyadari bahwa emosi tersebut membawa dampak kerentanannya. Dalam teori Krech, emosi ini bisa digambarkan sebagai campuran antara positif . egembiraan dan cint. dan negatif . erentanan terhadap kehilangan atau kesediha. , menciptakan pengalaman emosi yang penuh ketegangan dan kedalaman. SIMPULAN Penelitian ini berhasil mengidentifikasi dan menganalisis konsep moral yang direpresentasikan dalam novel "Lebih Senyap Dari Bisikan" karya Andina Dwifatma melalui pendekatan psikologi sastra David Krech. Hasil penelitian Hasil penelitian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa representasi konsep moral yang terdapat dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma. 6 tanggung jawab, 2 kejujuran, 2 kesabaran, 3 cinta dan kasih 3 empati, 3 keberanian, 5 penerimaan, 4 kebahagiaan. Selain itu, penelitian ini juga berhasil mengklasifikasikan emosi tokoh-tokoh dalam novel berdasarkan teori David Krech. Klasifikasi emosi tokoh-tokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. konsep rasa bersalah, 2 rasa bersalah yang dipendam, 3 menghukum diri sendiri, 2 rasa malu, 5 kesedihan, 2 kebencian, dan 4 cinta. Konteks klasifikasi emosi tokoh-tokoh dalam novel Lebih Senyap Dari Bisikan karya Andina Dwifatma dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra David Krech. 8 klasifikasi emosi dasar, 6 klasifikasi emosi yang berhubungan dengan stimulus sensor, 6 klasifikasi emosi yang berhubungan dengan diri sendiri, 6 klasifikasi emosi yang berhubungan dengan orang lain. DAFTAR PUSTAKA