Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Suhadianto. Eko (Prin. April Ariyanto. Yul Arifiana ISSN. 2615-5168Isrida (Onlin. DOI: https://doi. org/10. 30996/persona. Website: http://jurnal. untag-sby. id/index. php/persona Volume 7. No. Desember 2018 Volume 7. No. Desember 2018 Model Pembelajaran Multikultural pada Pesantren Modern sebagai Upaya Mereduksi Paham Radikalisme Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Email: suhadianto@untag-sby. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract More massive radicalism actions are carried out by involving the younger Islamic boarding schools are the oldest educational institutions that have a highly trusted learning model. Islamic boarding schools are expected to be a bulwark against the fundamentalist understanding through applied multicultural learning. This study aims to analyze the practice of multicultural learning in pesantren and its impact on santri. This study uses a qualitative approach by taking a research focus on Darussalam Islamic boarding school. Sengon. Jombang Regency. Data retrieval research is carried out through indepth interviews, involved observation and documentation. The subjects in this study consisted of leaders of Islamic boarding schools (Kya. , religious teachers and santri. The validity of the results of the research is done through data The results of the study show that the Darusalam Jombang Islamic boarding school has applied the principle of multicultural learning which includes: content integration, the knowledge construction process. Equity Pedagogy. Prejudice reduction. Besides that the impact of the learning made the santri able to understand differences, tolerance and diversity so that they were able to fortify themselves from fundamentalism. Keywords: Radicalism. Multicultural Education Abstrak Aksi-aksi radikalisme semakin massif dilakukan dengan melibatkan generasi muda. Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua memiliki model pembelajaran yang sangat dipercaya oleh masyarakat. Pesantren diharapkan dapat menjadi benteng penangkal paham fundamentalis melalui pembelajaran multikultural yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa praktik pembelajaran multikultural di pesantren dan dampaknya pada santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengambil fokus penelitian pada pesantren Darussalam. Sengon Kabupaten Jombang. Pengambilan data penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi terlibat dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari pimpinan pesantren (Kya. , ustadz dan santri. Validitas hasil penelitian dilakukan melalui triangulasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa pesantren Darusalam Jombang telah menerapkan prinsip pembelajaran multikultural yang meliputi: content integration. The knowledge construction process. Equity Pedagogy. Prejudice reduction. Selain itu dampak pembelajaran tersebut membuat santri mampu memahami perbedaan, toleransi, dan keberagaman sehingga mampu membentengi diri dari paham fundamentalis. Kata kunci: Radikalisme. Pendidikan Multikultural Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Persona: Jurnal Psikologi Indonesia E-mail: jurnalpersona@untag-sby. ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Page | 224 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Pendahuluan Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 merupakan tonggak kebebasan bagi setiap orang untuk bersuara dan menyampaikan pendapat. Masyarakat Indonesia secara politik kemudian mendirikan parta-partai politik sebagai wadah penyampaian aspirasi, tercatat sekitar 34 partai politik yang terdaftar dan ikut pemilu pada tahun 1999. Partai politik memiliki landasan yang berbeda-beda untuk menarik masa mulai nasionalisme, syariat islam dan idiologi lain. Tidak hanya partai politik, organisasi masa juga berkembang yang berorientasi pada agama tertentu. Organisasi-organisasi masa ini melihat bahwa terdapat kesenjangan antara realitas kehidupan sebagai dampak pembangunan dengan harapan yang telah digariskan oleh agama. Disisi lain upaya untuk menegakkan dan mengembalikan kehidupan masyarakat sesuai dengan yang mereka harapkan terkendala oleh kultur masyarakat yang beragam. Pada akhirnya dilakukanlah upaya-upaya penegakan norma melalui tindakan-tindakan yang menjurus pada aksi agresif atau kasar. seperti tindakan pengerusakan terhadap tempat-tempat hiburan malam, aksi sweeping, dan gerakan pengerusakan pada hal-hal yang menurut mereka jauh dari kebenaran dan menimbulkan Tindakan-tindakan pengerusakan yang menjurus pada aksi kekerasan inilah yang kemudian dikenal masyarakat sebagai aksi radikal. Aksi-aksi radikalisme tampaknya mulai tumbuh subur di Indonesia sejak terjadinya aksi teror 11 september 2001 di New York Amerika serikat yang menghancurkan gedung kembar World Trade Center. Aksi yang kemudian mengarah pada Al-Qaeda sebagai pelaku teror dan identik dengan gerakan-gerakan islam radikal ini pada akhirnya menyudutkan dan memberikan tekanan yang luar biasa bagi umat muslim di seluruh dunia. Perlawanan umat islam terhadap tekanan-tekanan tersebut diwujudkan dalam bentuk pengerusakan atau AujihatAy dengan bom bunuh diri pada simbol-simbol barat. Bom bali yang terjadi pada 12 Oktober 2002 di Kuta Legian bali adalah bukti nyata gerakan-gerakan radikal sebagai bentuk perlawanan terhadap masyarakat barat dan upaya mengembalikan kehidupan masyarakat sesuai dengan keyakinan yang dianut. Radikalisme keagamaan sebenarnya merupakan fenomena yang biasa muncul pada agama apapun. radikalisme sangat berkaitan dengan fundamentalis yang ditandai Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana | 225 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 oleh kembalinya masyarakat kepada dasar-dasar agama. Fundamentalisme adalah semacam ideologi yang menjadikan agama sebagai pegangan hidup oleh masyarakat maupun individu. Fundamentalisme akan diiringi oleh radikalisme dan kekerasan ketika kebebasan untuk kembali pada agama dihalang-halangi oleh situasi sosial politik yang mengelilingi masyarakat. (Turmudi. Endang, and M. Riza Sihbudi. Ancaman terhadap radikalisme semakin terlihat tatkala aksi-aksi radikalisme telah menjadi satu pola yang dijadikan alat bagi keinginan kelompok-kelompok tertentu untuk kembali pada unsur-unsur yang diyakini. Kelompok-kelompok ini menggunakan dalih AuJihatAy sebagai salah satu upaya mempengaruhi pengikutnya agar bersedia melakukan tindakan radikalisme seperti bom bunuh diri. Aksi-aksi radikalisme terorganisir dan dikendalikan oleh organisasi-organisasi yang memiliki basis di luar Organisasi ini menggunakan jaringan yang tersebar di negara-negara tertentu untuk menguatkan basis dukungan yang menyasar para remaja. Rekrutmen terhadap calon pelaku radikal atau dikenal dengan istilah AupengantinAy dilakukan dengan doktrin-doktrin agama yang menciptakan suatu keyakinan bahwa aksi radikalisme merupakan tindakan AuJihatAy. Sejak aksi radikalisme pertamakali terjadi di tahun 2002 sampai tahun 2016 di plaza sarinah, bisa didapatkan sebuah fakta bahwa pelakunya semakin muda dan menyasar remaja-remaja. Bahkan di akhir tahun 2016 rencana aksi bom bunuh diri yang akan dilakukan di Istana Merdeka Jakarta dilakukan oleh seorang wanita berumur 20 tahun. Fakta adanya pelibatan remaja dan anak-anak dalam aksi terorisme semakin nyata setelah terjadinya bom bunuh diri di 3 . gerja di Surabaya, dimana pelaku bom bunuh diri diketahui merupakan satu keluarga yang terdiri ayah, ibu, 2 . anak remaja dan 2 . anak-anak. Kondisi psikologis remaja yang masih labil menjadi salah satu faktor yang juga sangat mempengaruhi mudahnya remaja terlibat. Remaja cenderung ingin menunjukkan jati dirinya, kebebasan, dan menentang segala sesuatu yang menurutnya jauh dari rasa keadilan. Oleh karena itulah remaja kemudian menjadi sasaran yang sangat mudah dimasuki doktrin-doktrin radikal dan melakukan tindakan Disisi lain, remaja tentunya menjadi aset yang luar biasa bagi bangsa dan negara. Pada remaja inilah masa depan republik ini akan ditentukan, keutuhan, kerukunan, kepedulian, kesadaran akan pluralisme menjadi warisan pendiri republik ini untuk tetap Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 226 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. terus dijaga dan tersosialisasi pada generasi selanjutnya. Aksi-aksi radikalisme yang dibalut dengan isu agama yang bertujuan memecah belah persatuan, mengancam keamanan negara dan tentunya NKRI harus dipandang sebagai masalah serius yang harus dipecahkan. Studi penelitian tentang radikalisme telah cukup banyak dilakukan, salah satunya dilakukan oleh Saifuddin . Dari hasil penelitiannya yang berjudul tentang Radikalisme Islam di Kalangan Mahasiswa diperoleh informasi bahwa adanya radikalisme islam mulai menjangkau kampus khususnya mahasiswa. Kampus menjadi menjadi tempat yang paling potensial dalam berkembangnya aktifitas religius yang cenderung eksklusif dan radikal. Merebaknya upaya radikalisasi di kalangan mahasiswa, dalam bentuk kaderisasi yang memberikan penekanan pada upaya indokrinasi ideologis. Penelitian lain dengan metode kualitatif dilakukan oleh Hasyim, dkk . yang secara khusus mengkaji tentang pola resistensi pesantren terhadap gerakan Diperoleh temuan bahwa upaya yang dilakukan pesantren dalam mengatasi deradicalization, yaitu memelihara nilai-nilai moderatisme sebagai antisipasi terhadap model keislaman garis keras. Selain itu juga diikuti dengan pengembangan kehidupan multikultural, yaitu sebuah kesadaran akan keragaman sehingga dapat menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati. Studi lain yang masih berkorelasi dengan radikalisme dilakukan oleh Ahmad . dalam judul Understanding Religious Violence in Indonesia: Theological. Structural and Cultural Analyses. Adanya tindakan kekerasan agama yang ada di Indonesia sebagai bagian dari proses perubahan dari sejarah manusia. Hal tersebut juga muncul sebagai akibat dari kondisi politik di Indonesia dan respon terhadap ketidakadilan ekonomi. Selain itu, terdapat sebuah studi yang dilakukan oleh Rahimullah, dkk . menyusun kajian umum berkaitan dengan adanya fenomena radikalisme islam. Diperoleh temuan secara ringkas bahwa penelitian pendahulu yang membahas tentang radikalisme dalam muslim secara spesifik belum menjelaskan tahapan dari sebuah proses radikalisme islam, tidak adanya literature akademik yang melakukan investigasi secara khusus pada individu yang penggerak radikalisme dan upaya perbandingan terhadap kondisi radikalisme muslim dengan radikalisme non-muslim. Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 227 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya banyak penelitian sebelumnya yang meneliti tentang gerakan-gerakan radikalisme. Penelitian-penelitian tersebut ada yang berupa ulasan secara umum mengkaji serta membandingkan dari berbagai penelitian tentang radikalisme, radikalisme dengan objek penelitian mahasiswa, serta ada juga yang mengulas dalam perspektif ekonomi misalnya ketika mengaitkan antara aksi-aksi kekerasan dalam islam yang berwujud terorisme yang ada di Indonesia dengan persoalan kesenjangan ekonomi diantara masyarakat. Namun demikian, belum ada yang secara khusus meneliti tentang metode dan implementasi pendidikan multikultural di pesantren. Potensi radikalisem pada remaja harus dipahami dan diantisipasi sejak dini melalui pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural harus segera diterapkan di Indonesia karena Indonesia adalah Bangsa yang plural, multikultur, multietnis, dan multireligius yang bisa menjadi isu krusial. Pendidikan multi kultural merupakan konsep pendidikan yang menekankan pengakuan terhadap adanya keberagaman, perbedaan dan kemajemukan budaya, baik ras, suku, etnis, agama dan lain sebagainya (Mahfud. Wacana pendidikan multikultural sebenarnya sudah mulai digulirkan sejak tahun 2000 melalui berbagai kegiatan diskusi, seminar, workshop dan selanjutnya mulai banyak diusulkan penelitian dan penulisan buku dengan tema pendidikan multi kultural (Aly, 2. Namun demikian belum semua pesantren menerapkan konsep pendidikan Meskipun saat ini telah banyak sekali jurnal, buku dan penelitian-penelitian tentang pendidikan multikultural. Tetapi faktanya penerapan pendidikan multikultural masih sering terkendala dengan problem teologis. Problem teologis yang dimaksud adalah adanya kehawatiran dari lembaga pendidikan atau pesantren akan terjadinya dekonstruksi konsep tauhid, adanya relativisme dalam menentukan kebenaran dan kekhawatiran adanya anti otoritas dalam penafsiran jika para murid mendapatkan pendidikan multikultural (Prihanto, 2. Pendidikan multikultural yang dianggap terlalu memberikan kebebasan dalam berfikir, dikhawatirkan dapat melemahkan pemahaman agama para siswa, sehingga perlu adanya model penerapan dan implementasi pendidikan multikultural yang dapat diterima oleh pesantren. Pendidikan kebergaman dan kebudayaan (Anderson & Cusher, 1. Pendidikan multikultural juga Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 228 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. dapat diartikan sebagai pendidikan yang berupaya mengekplorasi perbedaan sebagai suatu keniscayaan yang harus diterima (Banks, 1. Lebih lanjut Hilda Hernandez mengartikan dalam bukunya Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context. Process and Content menjelaskan bahwa pendidikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial, dan ekonomi yang dialami oleh masingmasing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan baragam secara kultural secara kultur dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, dan gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi dll. Sejalan dengan hal di atas, el-MaAohady . alam Aly, 2. berpendapat, bahwa secara sederhana pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia global secara keseluruhan. Hal senada juga dijelaskan oleh Paulo Freire seorang pakar pendidikan kebebasan yang menyatakan bahwa pendidikan multikultural sebagai solusi untuk mengatasi perilaku sebagian orang terdidik yang menjadikan pendidikan sebagai Aumenara gadingAy yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan multikultural dalam pandangan Bank . memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu sama lain beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya yaitu: a. Content Integration. yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu. The Knowledge construction process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran . An Equity Paedagogy. menyesuaikan metode pengajaran dengan metode pengajaran dengan cara belajar siswa yang beragam, baik dari segi ras, budaya . ataupun sosial. Prejudice reduction. yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka. Adapun pendekatan dalam pendidikan multikultural yang dikembangkan oleh beberapa negara menurut Mahfud . antara lain: . Pendidikan mengenai perbedaan kebudayaan. Pendidikan mengenai perbedaan pemahaman kebudayaan. Pendidikan bagi plularisme kebudayaan. Pendidikan multikultural sebagai pengalaman moral. Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 229 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 Berdasar pada latar belakang sebagaimana telah diuraikan di atas, penelitian ini bertujuan untuk menggali data terkait bagaimana implementasi pembelajaran multikultural dan dampak pembelajaran multikultural pada pesantren Darussalam Sengon Jombang. Metode Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan termasuk dalam jenis penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan terlibat . articipant observatio. , wawancara mendalam . ndept intervie. , dan Pengamatan terlibat digunakan untuk memperoleh data yang terkait dengan kegiatan perencanaan, implementasi, dan evaluasi kurikulum. Wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh data yang terkait dengan sejarah pesantren dan perkembangannya, serta dasar pengembangan kurikulum pesantren, perencanaan, implementasi, dan evaluasinya. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang terkait dengan sejarah pesantren dan perkembangannya, dokumen perencanaan kurikulum, data santri dan guru, buku ajar, dan perangkat kegiatan belajar mengajar yang disusun oleh para guru. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif-interpretatif dan analisis isi. Data kualitatif dalam penelitian ini akan dianalisis melalui beberapa tahapan, yaitu: penyandian terbuka . pen codin. , pada tahap ini peneliti akan melakukan pemeriksaan data dan meringkas menjadi kategori atau kode analisis awal. penyandian aksial . xial codin. , pada tahap ini peneliti menyusun kode, menautkannya dan menemukan kategori analitis utama. penyandian selektif . elective codin. , pada tahap ini peneliti akan memeriksa kode-kode sebelumnya untuk mengidentifikasi dan memilih data yang akan mendukung kategori penyandian konseptual yang telah dikembangkan (Neuman, 2. Validitas dalam pendekatan kualitatif ini akan diperoleh melalui metode validitas deskriptif, validitas interpretif dan validitas teoretis. Penjelasan masing-masing validitas adalah sebagai berikut: . validitas deskriptif terkait dengan keakuratan fenomena yang dideskripsikan oleh peneliti. Validitas ini akan diperoleh melalui triangulasi yang dilakukan peneliti dalam pengumpulan data, analisis data dan interpretasi data . eneliti akan membandingkan temuan pada pengasuh pesantren, ustadz dan santr. Validitas Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 230 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. interpretif berhubungan dengan tingkat akurasi pemahaman peneliti tentang sudut pandang, pemahaman, perasaan, niat dan pengalaman partisipan. Vadilitas ini akan diperoleh melalui umpan balik . eed bac. partisipan terhadap hasil penelitian . eneliti akan meminta subjek penelitian untuk mengkoreksi analisis tema yang telah dilakukan oleh penelit. validitas teoretis adalah tingkat keabsahan teoretis yang dikembangkan dari suatu penelitian yang merujuk pada kesesuaian data penelitian. Validitas ini akan diperoleh dengan cara memperpanjang jangka waktu pengumpulan data (Hanurawan, 2. Hasil Penelitian Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa pesantren Darussalam Sengon Jombang telah mengimplementasikan empat aspek pembelajaran multikultural menurut Bank . ke dalam proses pembelajaran, empat aspek tersebut adalah: . content integration. The knowledge construction process. An Equity Pedagogy dan. Prejudice reduction. Selain mengimplementasikan empat aspek pembelajaran multikultural menurut Bank . , pesantren Darussalam juga menjadikan pendidikan multikultural sebagai pengalaman moral bagi para santri. Pesantren telah membuat peraturan-peraturan dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keberagaman. Pengasuh pesantren dan ustadz atau guru dalam kesehariannya juga selalu menunjukkan pendapat-pendapat atau perilaku-perilaku yang menggambarkan tentang keberagaman. Dampak dari implementasi pendidikan multikultural di dalam proses kegiatan belajar mengajar dan dalam keseharian santri, selanjutnya dapat membentuk pola pikir dan perilaku santri yang menghargai tentang keberagaman. Lebih jelas hasil penelitian akan disajikan pada tabel di bawah ini: Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 231 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 Tabel 1. Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Kegiatan Belajar Mengajar Content integration A A A A A A A A Menerima dari latar belakang NU. Muhammadiyah. HTI, dll. Menerima Wilayah Indonesia. Materi pemikiran Islam Fiqh, dikaitkan dengan Ada pentas seni setiap Sabtu . ebelum KBM) Mendatangkan budayawan (Cak Nu. Mendatangkan Bahasa Inggris Ada Bahasa Arab dan Bahasa Inggris Nilai-nilai toleransi pelajaran tertentu The knowledge construction process A Visi Aumulia dalam budi pekerti dan unggul prestasiAy dengan pelajaran. A Diskusi keberagaman di integrasikan dalam A Kitab kuning yang diajarkan ke santri kewajiban santri sebagai umat islam . kewajiban santri sebagai makhluk A Kyai dan Ustadz / doktrin berdakwah dengan cara yang A Kyai buku berisi ayatayat jihat dengan cara yang santun dan mewajibkan menghafal ayatayat beserta artinya. A Kyai dan Guru melakukan seleksi terhadap ayat-ayat Al-QurAoan / Hadis kepada santri. An Equity Pedagogy A A A A A Menggunakan bahasa Indonesia wajib di pesantren. Meggunakan bahasa Indonesia kegiatan belajar di sekolah dan di Kyai mengajarkan Jawa dan bahasa Indonesia Indonesia Mendatangkan penceramah dari luar pesantren. Medatangkan turis untuk mengajarkan bahasa inggris. Prejudice reduction A A A Mewajibkan santri Memberikan sanksi pada santri yang melakukan Mewajibkan santri untuk mengikuti Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 232 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Tabel 2. Pendidikan Multikultural sebagai Pengalaman Moral Kyai Memadukan sistem salaf Beberapa ustadz diambil dari lulusan Gontor . ikenal sebagai pesantren moder. dan dari lulusan Tebu Ireng . ikenal sebagai pesantren Kyai mewajibkan santri menghargai perbedaan Kyai tidak mengharamkan pancasila dan Kyai mengajarkan kitab kuning dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia Kyai selalu bersikap netral . idak menghakimi agama / kelompok / aliran tertent. Kyai selalu menganjurkan . eperti penentuan awal puasa, dl. Kyai selalu memberikan contoh berjihat dengan cara yang baik. Ustadz / Guru Ustadz / Guru wajib Indoensia. Ustadz / Guru tidak ada Ustadz / Guru selalu pendapat dan perilaku yang menghargai keberagaman. Ustadz / Guru tidak boleh organisasi di pesantren. Ustadz / Guru aktif dalam organisasi Forum Lintas Agama. Santri Santri belajar keberagaman dalam kehidupan sehari-hari sebab santri berasal dari Aceh sampai Papua. Santri wajib menghargai Ada sanki bagi siswa yang Santri wajib mengikuti upacara bendera dan ada sanki bagi yang melanggar. Santri wajib menghafalkan lagu-lagu Nasional. Kegiatan santri sangat beragam mulai olah raga sampai dengan mengaji kitab kuning. Santri harus menampilkan budaya nusantara pada kegiatan pentas seni. Setiap hari minggu santri diajak ke alun-alun kota Jombang untuk berinteraksi dengan masyarakat. Santri diberi tugas untuk berinteraksi dengan non Tabel 3. Dampak Implementasi Pendidikan Multikultural Pada Santri Kognitif Tidak setuju dengan bom bunuh diri di Surabaya Tidak setuju dengan upaya Indoensia sebagai Negara Islam Negara Islam bertentangan budaya Indonesia Jihatnya santri itu mencari ilmu, bukan meledakkan Aksi teror merugikan dan tidak berguna Afektif Tidak senang dengan aksiaksi mengatasnamakan agama. Merasa kasihan dengan korban bom bunuh diri di Surabaya. Menyayangi manusia sebagai makhluq Allah SWT. Perilaku A A A A A A A Menghormati minoritas Menghargai Menghormati agama lain Merayakan hari besar Islam dan Nasional Mengikuti upacara bendera Mau berinteraksi dengan non muslim Menolak aksi-aksi Indonesia sebagai Negara Islam. Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 233 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 Pembahasan Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik dan memiliki jaringan yang sangat luas. Pendidikan pesantren menggabungkan antara pendidikan kurikulum nasional dan pendidikan agama. Artinya bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan kecerdasan intelektual dengan penguasaan ilmu pengetahuan tetapi membekali santri dengan kekuatan iman dan nilai-nilai keislaman. Tujuan didirikan pesantren adalah mengajarkan agama islam kepada para santri, sebagai pegangan dan pedoman hidup santri yang akan dapat diamalkan dalam kehidupan masyarakat, mencetak santri yang saleh tidak hanya dalam bidang agama akan tetapi juga santri yang mampu mengaplikasikan kesalehan sosial, mendidik para santri menjadi santri yang memiliki budi pekerti yang baik sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Mendidik santri yang mampu menebarkan kasih sayang terhadap semua umat, mendidik santri agar menjadi orang yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap umat manusia, mendidik santri menjadi manusia yang memiliki ketajaman hati dan pikiran, sehingga dapat menyelesaikan berbagai permasalahan hidup dengan bijaksana (Jamaluddin, 2. Praktik pembelajaran multikulturalisme yang diterapkan di pesantren umumnya mengarahkan kepada santri untuk mampu bersikap toleran, mandiri, kritis, menjaga kerukunan, dan menghargai perbedaan. Kyai sebagai tokoh sentral di dalam pesantren merupakan panutan dan suri tauladan yang harus diikuti segala tingkah laku dan Melalui tokoh sentral kyai inilah pesantren dapat mengajarkan praktik pembelajaran multikultural dengan lebih maksimal. Praktik-praktik pembelajaran ini dapat terimplementasi tidak hanya dalam kegiatan belajar di kelas namun juga dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan. Salah satu pesantren yang menerapkan prinsip pembelajaran multikultural adalah pesantren Darusalam Sengon. Kabupaten Jombang. Pesantren ini didirikan dengan visi Aumulia dalam budi pekerti dan unggul dalam prestasiAy. Pesantren yang berdiri di tengah-tengah pemukiman penduduk ini didirikan oleh Kyai Haji Ashari Mahfud pada tahun 1993. Saat ini pesantren yang berada dibawah pengelolaan Yayasan Pesantren Darusalam Jombang mengelola pesantren sekaligus sekolah umum setingkat SMP/Madrasah Tsanawiyah dan setingkat SMA/Madrasah Aliyah. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 234 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Santri pesantren ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Aceh. Sumatra Selatan, hingga Papua. Diawal pendiriannya pesantren didirikan untuk membantu anak-anak yang tidak bisa sekolah meskipun pada saat inipun beasiswa bagi santri yang tidak mampu tetap diberikan. Para pengajar di pesantren ini adalah alumni pesantren Gontor Ponorogo dan Tebu Ireng Jombang. Selain menerima santri dari berbagai wilayah dan kondisi sosial ekonomi yang berbeda, pesantren ini berprinsip tidak membeda-bedakan golongan yang ada di Indonesia baik Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah. Keberagaman santri di pesantren Darusalam merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pesantren membuka diri untuk proses pembelajaran yang lebih Pesantren Darusalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang sebenarnya prinsip-prinsip Prinsip pembelajaran multikultural pada pesantren idealnya meliputi 4 hal yaitu: content yaitu memasukan unsur-unsur budaya kedalam teori pelajaran/disiplin ilmu. Sebagai lembaga yang juga menyelenggarakan pendidikan formal idealnya pesantren dapat dengan mudah memasukan nilai-nilai budaya seperti toleransi, kegotong royongan, keberagaman dan nilai-nilai lain pada setiap disiplin keilmuan yang sedang Selain itu melalui contoh-contoh konkrit tentang praktek keberagaman dapat menunjang kemampuan santri memahami kebhinekaan yang ada. The knowledge construction process. yaitu membawa santri untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran . Upaya yang dapat dilakukan oleh pesantren adalah menunjukan kepada santri bentuk-bentuk tindakan atau perilaku yang menyimpang, merusak, intoleran dan jauh dari nilai-nilai keberagaman. Santri diajak untuk mendiskusikan fenomena aktual yang sedang terjadi misalnya isu-isu AuradikalismeAy. Melalui forum-forum diskusi ini, ustadz kemudian mengarahkan pada suatu pendekatan keilmuan baik itu disiplin ilmu umum maupun agama. An Equity Pedagogy. menyesuaikan metode pengajaran dengan metode pengajaran dengan cara belajar siswa yang beragam, baik dari segi ras, budaya . ataupun sosial. Pesantren didorong untuk mengembangkan berbagai metode pembelajaran yang interaktif dan inovatif. Santri tidak hanya diposisikan sebagai individu yang pasif namun lebih aktif untuk menemukan sendiri informasi-informasi Tugas ustadz/guru adalah menjadi mediator bagi terbangunya konsep berpikir Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 235 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 santri yang lebih baik. Pesantren juga harus membuat iklim pesantren yang menghargai perbedaan dan mengarahkan pada upaya tercapainya kesatuan dan kerukunan. Prejudice reduction. yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka. Pesantren melalui metode pembelajaran yang tepat dapat lebih mengoptimalkan tujuan pembelajaran dan menghindarkan pada kesenjangan kemampuan antar santri. Hasil penelitian menunjukkan, pesantren Darussalam Sengon Jombang telah mengimplementasikan pembelajaran multikultural ke dalam empat aspek, yaitu: . content integration. The knowledge construction process. An Equity Pedagogy dan. Prejudice reduction. Secara detail bagaimana implementasi ke-empat aspek tersebut akan dijelaskan di bawah ini: Content integration Prinsip content integration yang diterapkan di pesantren Darusalam ini tercermin pada upaya untuk merangkul semua golongan, latar belakang, maupun budaya yang Masuknya santri dari keluarga NU. Muhammadiyah maupun HTI (Hizbuttahrir Indonesi. atau menerima santri dari seluruh wilayah Indonesia merupakan bukti otentik penerapan prinsip ini. Selain itu, adanya pentas seni yang menampilkan budayabudaya nusantara yang diselenggarakan setahun sekali. Kegiatan ini juga dilaksanakan setiap hari Sabtu sebelum jam pelajaran dimulai, tujuannya adalah mengenalkan berbagai budaya di Indonesia dan mendidik santri untuk bersikap toleran dengan berbagai perbedaan yang dilihatnya. Keberadaan pesantren Darussalam yang mau menerima santri dari berbagai latar belakang budaya (NU. Muhammadiyah. HTI), menjadi bukti nyata bahwa pesantren Darussalam menghargai keberagaman budaya dan siap menerapkan pendidikan Hal ini sejalan dengan pendapat Santrock . yang mengatakan bahwa pendidikan multikultural menghargai perbedaan dan mewadai beragam perspektif dari berbagai kelompok kultural. Dalam hal implementasi keilmuan, santri diajarkan materi pemikiran islam melalui pelajaran Fiqih yang dikaitkan dengan pemahaman tentang keberagaman. Pihak pesantren juga memberikan sanksi kepada santri yang tidak menghargai keberagaman atau melakukan bully terhadap santri lain dari luar daerahnnya. Pendalaman keilmuan Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 236 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. tidak hanya sekedar diperoleh dari para pengajar di dalam pesantren saja, namun pihak pesantren sesekali menghadirkan tokoh-tokoh intelektual muslim untuk memberikan pemahaman dan situasi terkini. Salah satu hal yang dilakukan dengan mendatangkan Emha Ainun Najib (Cak Nu. yang berbicara tentang keberagaman. Selain itu pesantren juga mendatangkan turis asing untuk masuk ke pesantren. Tujuannya selain santri belajar Bahasa Inggris juga menunjukan perbedaan yang ada. The knowledge construction process Prinsip ini diaplikasikan dalam bentuk diskusi-diskusi dikelas, ustadz memberikan contoh persoalan yang muncul kemudian santri memberikan pendapatnya terkait isu tersebut dan tugas ustadz adalah memastikan agar santri mampu berpikir secara sistematis dalam mengkaji isu-isu yang terkait dengan kesetaraan dan keadilan sosial. Menurut Santrock . pendidikan berpusat pada isu merupakan aspek penting dalam pendidikan multikultural. Melalui pengajian yang diselenggarakan secara rutin setiap malam. Pengajian ini memang tidak secara spesifik langsung merujuk pada topik tentang persoalan intoleran namun para pengasuh pesantren lebih mengarahkan pada ajaran tentang kebaikan berkaitan dengan kehidupan sosial. Para kyai ataupun ustadz selalu berpegang pada ayat Al-QurAoan untuk mengajak orang masuk islam dengan cara yang bijaksana dan tutur kata yang baik. Jika memang perlu membantah mereka maka bantahlah dengan cara yang baik dan jangan kasar. Pada saat di kelas para kyai dan ustadz melakukan seleksi terhadap ayat-ayat AlQurAoan yang akan diajarkan. Di kelas 7 dan 8 diajarkan ayat-ayat tentang akhlaq. Siswa di tingkat Aliyah/SMA diarahkan pada ayat-ayat tentang dakwah dan ayat-ayat tentang persoalan pernikahan. Setiap hari pengasuh pesantren menguji hafalan sekaligus pemahaman santri terkait ayat-ayat yang telah diberikan. Mengenai pembelajaran tentang jihad, pengasuh pesantren telah memilih ayat-ayat anjuran jihad yang bisa dipahami oleh santri. Ayat-ayat jihat ini dipilih berdasarkan kebutuhan siswa untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Ayat-ayat jihat yang dipilih adalah ayat-ayat jihat yang mengajarkan jihad dengan cara yang lunak dan baik. Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 237 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 An Equity Pedagogy Prinsip pembelajaran yang diterapkan oleh pesantren Darusalam mendorong santri untuk mendapatkan pengalaman yang sesungguhnya. Contoh konkrit dari hal tersebut seperti mendatangkan turis asing untuk menunjang pembelajaran Bahasa asing, mendatangkan penceramah dari luar pesantren, setiap minggu santri diajak jalanjalan di alun-alun kota atau tempat lainnya untuk berinteraksi dengan masyarakat, siswa juga diberikan tugas mencatat pengalamanya ketika berinteraksi dengan masyarakat non muslim. Keterlibatan masyarakat dalam proses pebelajaran semakin memperkaya pemahaman santri untuk memahami konsep kebhinekaan. Aktivitas-aktivitas di pesantren seperti Khotmil QurAoan bersama di masjid, kajian Hadist, kitap kuning, acara kebahasaan, refresing, dan bertemu masyarakat di luar pesantren. Prejudice reduction Prinsip menghindarkan dari prasangka-prasangka setidaknya telah dilakukan melalui penegakan aturan di pesantren terhadap santri yang tidak bersikap toleran. Bentuk hukuman seperti berlari keliling lapangan, membersihkan kamar mandi atau membersihkan asrama. Hukuman ini menurut santri juga bervariasi tergantung dari berat ringannya kesalahan yang dilakukan. Untuk menghindari prasangka antar santri, pesantren mengharuskan kepada seluruh santri untuk mengikuti berbagai agenda Salah satu kegiatan rutin seperti upacara bendera, kumpul dengan wali kelas, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan peringatan hari besar keagamaan dan kenegaraan. Praktek pembelajaran multikultural tidak terlepas dari konten yang diajarkan kepada santri. Melalui konten-konten pembelajaran yang mengarah pada prinsip-prinsip hidup serta dikuatkan dengan dalil-dalil agama akan mempermudah transformasi konsep multikultural. Secara garis besar konsep multikultural haruslah memuat pemahaman bahwa. Masyarakat adalah kelompok yang dinamis dan selalu berkembang, individu butuh masyarakat untuk mempertahankan hidup dan mencapai tujuan hidupnya. Masyarakat memiliki ketergantungan pada setiap upaya individu untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Individu memiliki system nilai yang menata hubungannya satu dengan yang lain sehingga individu mampu menyelesaikan tantangan social. Setiap masyarakat bertanggung jawab terhadap pola pembentukan tingkah laku individu dan komunitasnya. Pertumbuhan dan Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 238 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. perkembangan individu dalam masyarakatnya adalah untuk memiliki tanggung jawab dalam berperilaku (Mahfud, 2. Pesantren Darussalam tidak hanya memberikan pendidikan multikultural dalam proses kegiatan belajar mengajar, lebih dari itu pesantren Darussalam berupaya menjadikan pendidikan multikultural sebagai pengalaman moral dalam kehidupan Upaya pesantren dalam hal ini dilakukan dengan mewajibkan pada santri untuk belajar dan menghargai budaya lain, memberikan sanksi pada santri yang melakukan tindakan intoleran atau diskriminatif dan memberikan tugas pada santri untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar pesantren . aik muslim maupun non musli. Selain itu Kyai dan Ustadz dalam kehidupan sehari-hari selalu memberikan contohcontoh pendapat dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan . ebih jelas baca tabel . Upaya yang dilakukan pesantren Darussalam ini sesuai dengan pendapat Santrock . , yang mengatakan bahwa pendidikan multikultural harus direfleksikan dimana saja termasuk di majalah dinding sekolah, di ruang makan dan di pertemuanpertemuan. Selain itu pendidikan multikultural juga dapat dilakukan dengan mengajarkan pada murid untuk berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang Dampak pembelajaran multikultural Radikalisme beragama didasari oleh kepentingan sekelompok orang untuk mengembalikan ajaran agama yang dianggapnya benar pada seluruh sendi-sendi Kelompok ini juga melihat bahwa saat ini pola kehidupan yang ada sudah jauh menyimpang dari kebenaran yang sesungguhnya. Disisi yang lain keinginan untuk menggubah kehidupan masyarakat dihalangi oleh kultur maupun kebijakan pemerintah sehingga perlu dilakukan tindakan-tindakan yang menjurus pada aksi kekerasan. Aksi radikalisme inipun pada akhirnya menganggap umat lain yang tidak sejalan dengan keinginanya dianggap sebagai musuh. Kelompok-kelompok radikalisme dalam proses menguatkan jaringan dan eksistensinya melakukan rekrutmen melalui doktrin-doktrin kitap suci. Doktrin ini diarahkan untuk merubah pola keyakinan, sehingga orang-orang atau simpatisan ini mudah diarahkan melakukan aksi radikal seperti penembakan maupun bom bunuh diri. Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 239 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 Santri merupakan subjek yang tampaknya mudah untuk didoktrinasi, ini disebabkan santri mengalami situasi yang kurang matang secara psikologis. Santri masih belum mampu membedakan infomasi-infomasi tertentu serta ada kecenderungan remaja terobsesi untuk melawan suatu ketidakadilan. Berlimpahnya informasi melalui media sosial merupakan media yang efektif untuk menyampaikan ajaran-ajaran radikal pada Oleh karena itu, santri sangat rentan dirasuki ajaran-ajaran ekstrim yang mengarakan pada tindakan radikal. Konsep multikultural yang menjadi basis pengajaran di pesantren Darusallam merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan menangkal isu radikalisme. Kesadaran santri akan keberagaman dan perbedaan haruslah dibangun secara massif. Pergeseran konsep pikir yang dialami oleh santri harus diarahkan pada hal-hal yang positif. Santri diproteksi pemahamannya dari doktrin-doktrin yang radikal dan tidak bertanggung Melalui cara inilah santri dapat dibebaskan dari pemahaman yang dangkal tentang konsep jihad. Kyai, ustad, maupun guru merupakan ujung tombak bagi terintegrasinya nilainilai keberagaman yang akan diinternalisasi oleh santri. Penjelasan konsep yang sederhana, sesuai batas kemampuan pemahaman santri dan upaya membuka paradigma berpikir kebhinekaan harus terus dilakukan. Pemilihan ayat-ayat dengan makna jihad yang sesuai batas telaah santri akan memperkecil peluang kesalah pahaman pemaknaan jihad yang sesungguhnya. Kemampuan yang terbatas dari para santri janganlah kemudian menjadi celah masuknya doktrin ideology yang bertentangan dengan kebhinekaan. Santri pesantren Darussalam menanggapi bahwa aksi-aksi terorisme merupakan bentuk jihad yang salah. Bunuh diri adalah perbuatan yang melanggar ajaran agama apalagi orang harus membunuh orang lain yang tidak bersalah. Santri menilai bahwa Indonesia memberikan kebebasan dan perlindungan terhadap setiap umat beragama. Masing-masing agama harus memiliki sikap saling menghargai sesame pemeluk agama. Menghancurkan tempat-tempat ibadah adalah perbuatan yang tidak perlu dan merusak kerukunan antar umat Bergama sehingga hal tersebut tidak patut dilakukan. Para Santri di pesantren Darusallam menyatakan ketidaksetujuannya dengan pendirian negara Islam. Mereka menganggap dengan berdirinya negara islam akan menghilangkan kebinekaan yang sebenarnya menjadi ciri khas negara Indonesia. Keinginan mendirikan Persona: Jurnal Psikologi Indonesia ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. Page | 240 Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Volume 7. No. Desember 2018 ISSN. 2301-5985 (Prin. , 2615-5168 (Onlin. negara islam maupun perbuatan-perbuatan jihat melalui bom bunuh diri tidak perlu didukung dan harus dihentikan. Simpulan Kesimpulan dari hasil penelitian ini pesantren Darussalam Sengon Jombang telah menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran multikultural. Praktek pembelajaran ini ditransformasikan oleh ustadz maupun pengasuh pesantren melalui aktivitas-aktivitas di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Meskipun pada dasarnya pesantren Darussalam belum memiliki kurikulum yang bernuansa multikultural tetapi kegiatan belajar dan mengajar santri atau siswa telah sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran Ustadz dan pimpinan pesantren membatasi ayat-ayat Al QurAoan yang wajib diajarkan kepada santri terutama yang terkait dengan jihat. Pimpinan pesantren telah memilih ayat-ayat yang disesuaikan dengan pemahaman santri, ayat-ayat ini lebih mendorong santri untuk memahami makna jihat dalam belajar atau menuntut ilmu. Selain itu pada kelas-kelas tertentu pimpinan pesantren mengajarkan santri tentang ayat-ayat yang terkait dengan pernikahan. Pimpinan pesantren mengajarkan langsung ayat-ayat yang wajib diketahui oleh santri. Pemahaman dan hafalan dari santri selalu dinilai dengan rutin untuk mematikan pemahaman dan hafalan telah dilakukan dengan Pembelajaran multikultural yang dilakukan pesantren Darussalam Sengon Jombang, baik melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah formal, melalui kegiatan belajar mengajar di Madrasah Diniyah dan melalui pengajian-pengajian kitab kuning serta melalui contoh tindakan nyata yang dilakukan oleh para guru dan Kyai. Terbukti berhasil menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya menghormati antara umat beragama pada para santri maupun siswa. Para santri dan siswa tidak setuju dengan aksi-aksi radikalisme yang menamakan agama. Model pembelajaran yang diterapkan di pesantren Darussalam Sengon Jombang telah terbukti berhasil memberikan pemahaman kepada santri tentang pentingnya toleransi antar umat beragama. Disarankan agar pesantren yang ada di Indonesia melakukan proses pembelajaran multikultural yang sama. Hal ini penting dilakukan sebagai upaya untuk mencegah radikalisme di kalangan remaja. Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Page I 241 Suhadianto. Eko April Ariyanto. Isrida Yul Arifiana Volume 7. No. Desember 2018 Referensi Aly. Abdul, . Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Banks A. James. Teaching Strategies For The Social Studies. New York: Longman. Cross. Radicalism. dalam Snow. , della Porta. Klandermans. , dan McAdam. The Wiley-Blackwell Encyclopedia of Social and Political Movements. doi: 10. 1002/9781405198431. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia ed. Jakarta: Balai Pustaka