Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 PENGARUH APLIKASI TEH KOMPOS GUANO DAN JENIS KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI CAISIM (Brassica juncea L. ) DI LAHAN KERING Maria Ernaldis Bano Nahak. Deseriana Bria. Meri Helsiana Mata. Hyldegardis Naisali. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Sains Dan Kesehatan. Universitas Timor. Kefamenanu. Indonesia *corresponding author : deserianabria@gmail. *Received for review January 8, 2026 Accepted for publication February 20, 2026 Abstract This research was carried out in September-November 2025 in the Greenhouse and continued at the Laboratory of the Faculty of Agriculture. Science and Health. University of Timor. Sasi Village. Kota Kefamenanu District. North Central Timor Regency. East Nusa Tenggara Province. The most dominant problems in dry land areas include lack of water, acidic soil reaction, lack of nutrients, cation exchange capacity and shallow soil solum. This study aims to examine the effect of providing guano compost tea and types of compost on the growth and yield of caisim mustard greens in dry land. Data analysis using the SAS 1 program. The findings showed that the interaction between guano compost tea and the type of compost had a significant effect on plant height at 7 days after planting, observations of the number of leaves at 14 and 21 days after planting and the total fresh weight of the plants. A single treatment of compost tea had a significant effect on plant height at 21 and 28 HST, shoot fresh weight, root fresh weight, root length and root dry weight with the best treatment being 300 ml of guano compost tea. The single treatment of compost type had a significant effect on the observation of plant height at 7, 14, 21, 28 HST, observation of the number of leaves at 14, 21, 28 HST, fresh weight of the crown, fresh weight of the root, root volume, dry weight of the crown, dry weight of the root and harvest index with the best treatment at K1: 1. 5 kg of soil 5 kg of biochar compost. Keywords: Crop yield. Compost types. Dry land. Mustard greens. Guano compost tea. Mustard greens Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-November 2025 di Greenhouse dan dilanjutkan di Laboratorium Fakultas Pertanian. Sains dan Kesehatan Universitas Timor Kelurahan Sasi. Kecamatan Kota Kefamenanu. Kabupaten Timor Tengah Utara. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Permasalahan yang paling dominan di kawasan lahan kering seperti kekurangan air, reaksi tanah yang masam, kekurangan unsur hara, kapasitas tukar kation dan solum tanah dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian teh kompos guano dan jenis kompos terhadap pertumbuhan dan hasil sawi caisim di lahan kering. Analisis data menggunakan program SAS 9. Temuan menunjukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dan jenis kompos berpengaruh nyata pada tinggi tanaman umur 7 HST, pengamatan jumlah daun umur 14 dan 21 HST dan berat segar total tanaman. Perlakuan tunggal teh kompos berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 21 dan 28 HST, berat segar tajuk, berat segar akar, panjang akar, dan berat kering akar dengan perlakuan terbaik 300 ml teh kompos guano. Perlakuan tunggal jenis kompos berpengaruh signifikan pada pengamatan tinggi tanaman umur 7, 14, 21, 28 HST, pengamatan jumlah daun umur 14, 21, 28 HST, berat segar tajuk, berat segar akar, volume akar, berat kering tajuk, berat kering akar dan indeks panen dengan perlakuan terbaik pada K1 : 1,5 kg tanah 1,5 kg kompos biochar. Kata kunci: Hasil tanaman. Jenis kompos. Sawi. Teh kompos guano. Lahan kering Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 Copyright A 2026 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Tanaman sawi caisim (Brassica juncea L. ) termasuk salah satu jenis sayuran yang banyak diminati oleh masyarakat luas dan tergolong tanaman hortikultura jenis olerikultura atau jenis Nutrisi yang terkandung dalam sawi caisim dan dibutuhkan oleh tubuh, seperti vitamin A, protein, lemak, energi, karbohidrat, serat, fosfor, besi, natrium, kalium (Munthe et al. , 2. Disamping itu, pada tanaman sawi caisim mempunyai mineral dalam jumlah yang besar (Khotimah et al. , 2. Selain mengandung gizi yang berlimpah, sayuran ini banyak dibudidayakan oleh para petani. Produksi sawi caisim (Brassica juncea L. ) di lahan kering sering mengalami penurunan pertumbuhan dan hasil akibat rendahnya kesuburan tanah, terutama kandungan bahan organik dan unsur hara esensial. Tanah lahan kering umumnya memiliki struktur yang kurang baik dan kemampuan menyimpan air yang rendah sehingga tidak mampu mendukung pertumbuhan optimal tanaman sayuran berumur pendek seperti caisim. Kondisi ini menyebabkan serapan hara oleh tanaman menjadi terbatas dan pertumbuhan vegetatif tidak maksimal. Menurut Suryana et al. rendahnya ketersediaan unsur hara pada lahan kering merupakan faktor utama yang membatasi produktivitas tanaman sawi, sehingga diperlukan alternatif pemupukan yang mampu memperbaiki sifat tanah secara berkelanjutan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, . dilaporkan bahwa produksi sawi caisim di Timor Tengah Utara (TTU) sebanyak 467 ton, dan pada tahun 2022 sebanyak 592 ton. Hal ini menunjukan bahwa produksi sawi caisim meningkat sebesar hingga 125 ton dalam kurung waktu satu tahun. Namun pertambahan tersebut belum menjawab kebutuhan masyarakat dengan bertambahnya jumlah penduduk di (TTU) yang menghasilkan 268. 0670 ribu jiwa di tahun 2022 (BPS. TTU). Selain itu, budidaya tanaman sawi caisim dapat dimaksimalkan agar kebutuhan masyarakat terwujud. Menurut Fatman et al. persoalan utama penanaman caisim di lahan kering yaitu pemanfaatan pupuk. Lahan kering memiliki berbagai kendala utama dalam produksi pertanian, antara lain keterbatasan air, rendahnya bahan organik tanah, serta tingginya risiko stres cekaman kekeringan pada tanaman. Curah hujan yang tidak merata menyebabkan tanaman sering mengalami defisit air, yang berdampak langsung pada penurunan proses fotosintesis dan pertumbuhan biomassa. Selain itu, tanah lahan kering cenderung mengalami degradasi fisik dan biologi, sehingga kemampuan akar tanaman dalam menyerap air dan hara menjadi terbatas. Abuk . menyatakan bahwa kondisi lahan kering tanpa pengelolaan bahan organik yang baik dapat menurunkan hasil caisim secara signifikan, sehingga diperlukan inovasi pemupukan yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan hara. Pulau Timor beriklim tropis semi-arid yang ditandai oleh bulan kering yang panjang bulan basah yang pendek, sehingga tanah di daerah ini sebagian termasuk dalam lahan kering. Permasalahan lahan kering pada wilayah tropika basah ialah keterbatasan air ketika musim kemarau, pH tanah masam, miskin unsur hara, kejenuhan basah dan kapasitas tukar kation rendah, serta kondisi tanah yang rentan erosi ialah kendala utama di daerah lahan kering (Sanchez, 2. Salah satu karakteristik utama dari lahan kering yakni intesitas curah hujan yang rendah (Winazira et al. , 2. Kondisi tersebut berpengaruh pada produktivitas lahan dan tanaman Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 yang rendah. Didapatkan pada kondisi demikian, penggunaan teh kompos guano, kompos biochar dan kompos kotoran ayam, dapat meningkatkan kesuburan tanah, menigkatkan retensi air dan memperbaiki struktur tanah, yang pada akhirnya membantu pertumbuhan tanaman. Pemberian biochar digabungkan dengan teh kompos secara nyata memperbaiki kadar lengas tanah, suhu tanah, berat volume tanah, dan mengoptimalkan daya hantar listrik (DHL) tanah vertisol di lahan kering semi-arid (Pant et al. , 2. Teh kompos adalah larutan hasil ekstraksi kompos dengan menggunakan air sebagai medium pengekstrak (Berek, 2. Teh kompos merupakan cairan hasil ekstraksi dari kompos padat yang digunakan untuk mendukung dan meningkatkan praktik pertanian organik. Cairan ini mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman sekaligus berfungsi sebagai agen biokontrol untuk menekan hama dan penyakit. Pant et al. menunjukkan teh kompos yang diaplikasikan pada tanaman mampu meningkatkan kandungan bahan organik tanah, hormon tumbuhan, enzim dan zat organik lainya di dalam tanah. Walaupun memiliki kelebihan teh kompos diberikan pada tanah dan tanaman efeknya akan berbeda-beda tergantung mutu asalnya serta cara pembuatan tehnya, dan tanaman yang akan diberikan teh kompos, cara pemberian serta konsentrasi teh kompos (Bria, 2. Pemberian teh kompos dapat memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman, meningkatkan struktur tanah, dan memperbaiki aktivitas mikroorganisme tanah (Curadelli et al. Aplikasi teh kompos memungkinkan nutrisi diserap lebih cepat dibandingkan pupuk organik padat, serta mampu meningkatkan aktivitas mikroba tanah yang berperan dalam mineralisasi hara. Penggunaan teh kompos juga dapat memperbaiki kesehatan tanah dan meningkatkan efisiensi pemupukan, khususnya pada lahan kering. Penelitian Gottfried et al. menunjukkan bahwa aplikasi teh kompos secara signifikan meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan hasil tanaman sayuran melalui peningkatan ketersediaan nutrien dan aktivitas biologis tanah. Kompos biochar berasal dari hasil pirolisis biomassa dalam kondisi temperatur tinggi dengan oksigen terbatas, memiliki matriks berpori dengan kapasitas absorbsi air dan hara yang tinggi, serta mempertahankan aktivitas mikroorganisme tanah. Kompos biochar juga mempunyai beberapa kelebihan seperti mengoptimalkan kapasitas tukar kation, reaksi tanah dan menyusun kembali jaringan makanan dalam tanah serta memenuhi unsur hara bagi tanaman (Ekebafe et al. , 2015 Evizal et al. , 2023. Sahala et al. , 2. Kompos biochar efisien dalam mempertahankan kesuburan tanah, meningkatkan kelembaban, dan menurunkan emisi karbon (Manuputty et al. , 2012 : Musnoi et al. , 2. Kompos kotoran ayam sebagai pupuk organik bagi tanah guna untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Penggunaan kompos kotoran ayam berpengaruh nyata pada pertumbuhan dan hasil produksi tanaman sawi caisim (Krisna, 2. Penambahan kompos kotoran ayam juga berpengaruh nyata pada komposisi media tanam (Susilawati et al. , 2. Kandungan hara pada kompos kotoran ayam yaitu N sebesar 1,7%. P sebesar 1,9% dan K sebesar 1,5%. Kompos kotoran ayam memiliki unsur P lebih tinggi memberikan hasil yang baik karena mudah terdekomposisi dan kandungan hara lebih baik (Febriani et al. , 2. Kompos kotoran ayam secara fisik dapat meningkatkan porositas tanah, secara biologis meningkatkan aktivitas organisme dalam tanah dan menyediakan unsur hara bagi tanaman (Mapegau et al. , 2. Meskipun penelitian mengenai penggunaan pupuk guano dan kompos pada tanaman sawi telah banyak dilakukan, sebagian besar penelitian masih berfokus pada aplikasi pupuk organik padat dan belum mengkaji secara mendalam penggunaan teh kompos guano, terutama dalam kombinasi dengan Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 berbagai jenis kompos di lahan kering. Selain itu, informasi mengenai interaksi antara jenis kompos dan bentuk aplikasi pupuk cair terhadap pertumbuhan dan hasil caisim masih terbatas. Abuk . & Suryana et al. menekankan bahwa perbedaan jenis bahan organik dan metode aplikasi dapat menghasilkan respons tanaman yang berbeda, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mengisi kekosongan informasi tersebut. Berdasarkan urain diatas penelitian ini bertujuan, untuk mengetahui pengaruh teh kompos guano dan jenis kompos terhadap pertumbuhan dan hasil sawi caisim (Brassica juncea L. ) di lahan kering, serta memberikan pemahaman mengenai penggunaan teh konpos dan jenis kompos dalam budidaya tanaman sawi caisim di lahan kering. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-November 2025 di Greenhouse dan dilanjutkan di Laboratorium Fakultas Pertanian. Sains dan Kesehatan Universitas Timor Kelurahan Sasi. Kecamatan Kota Kefamenanu. Kabupaten Timor Tengah Utara. Provinsi Nusa Tenggara Timur. 1 Alat dan Bahan Alat yang dimanfaatkan dalam penelitian ini yaitu skop, karung bekas, ember, gembor, parang, corong, korek api, kain kasa, gelas ukur ukuran 1000 ml . , aerator (Wp-. , saringan, meter, linggis, paku, palu, kayu, paranet, besi kawat, plastik UV, slot, pengayak tanah, terpal, timbangan duduk ukuran 10 kg, polybag ukuran 25 cm x 30 cm, kertas label, spidol snowman, gunting, buku tulis, pulpen, kamera, penggaris, plastik klip, gardus, botol aqua 600 ml, amplop cokelat, plastik, timbangan anlitik, oven, pinset, gelas ukur 10 ml, gelas ukur 25 ml, gelas ukur 50 ml, gelas ukur 100 ml, gelas kimia 500 ml, pipet tetes, meteran, pisau, tissue, dan alumunium foil. Bahan penelitian yang digunakan yakni kotoran kelelawar . , kotoran ayam, cirit sapi, sekam padi, dedak, hijaun . aun gama. EM4, air, gula pasir, gula merah, tanah dan benih sawi caisim varietas sinta. 2 Rancangan Penelitian Rancangan yang digunakan pada penelitian ini ialah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama teh kompos guano (G) terdiri dari 3 aras yaitu T0 : 0 ml/L air. T : 150 ml/L air. T2 : 300 ml/L air. Faktor kedua adalah jenis kompos (K) terdiri dari 3 aras yaitu K1 : 1,5 kg tanah 1,5 kg kompos biochar. K2 : 1,5 kg tanah 1,5 kg kompos kotoran ayam. K3 : 1 kg tanah 1 kg kompos biochar 1 kg kompos kotoran ayam. Kombinasi 9 perlakuan adalah : T0K1. T0K2. T0K3. T1K1. T1K2. T1K3. T2K1. T2K2. T2K3. Diulang sebanyak 3 kali sehingga terdpat 27 unit percobaan. 4 Analisis Data Data dianalisis melalui teknik analisis varians (ANOVA) untuk mengetahui adanya berbedanyata sehingga diteruskan dengan hasil uji Duncen Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 5% untuk mengetahui beda antara perlakuan (Gomez & Gomez, 2. Data disajikan dalsam bentuk tabel dan analisis data menggunakan program SAS 9. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 1 memperlihatkan adanya pengaruh nyata antara teh kompos guano dengan jenis kompos pada umur 7 HST berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Namun tidak berpengaruh nyata pada umur 14, 21, dan 28 HST. Perlakuan tunggal teh kompos guano pada umur 21 dan 28 HST berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Perlakuan tunggal jenis kompos berpengaruh nyata pada umur 7, 14, 21 dan 28 HST. Hal ini mengindikasikan bahwa efektivitas teh kompos guano sangat ditentukan oleh media tumbuh yang digunakan. Pada fase awal pertumbuhan 7 HST, tanaman masih berada pada fase adaptasi fisiologis terhadap lingkungan baru, sehingga ketersediaan unsur hara yang cepat tersedia dari teh kompos guano, mampu merangsang pemanjangan sel batang secara awal. Namun, respon ini belum berlanjut secara konsisten pada umur 14 dan 21 HST karena peningkatan kebutuhan hara pada fase vegetatif aktif belum sepenuhnya terpenuhi oleh unsur hara yang tersedia, sehingga laju pertumbuhan tinggi tanaman cenderung melambat. Kondisi ini sejalan dengan temuan (Holisa et al. yang menyatakan bahwa rendahnya ketersediaan unsur hara membatasi penyerapan oleh akar dan berdampak langsung pada terhambatnya pertumbuhan tinggi tanaman. Perlakuan tunggal teh kompos guano menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 21 dan 28 HST, dengan konsentrasi terbaik 300 ml/L air. Konsentrasi ini diduga mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah optimal tanpa menimbulkan cekaman osmotik pada akar, sehingga mendukung pembelahan dan pemanjangan sel secara berkelanjutan. Tabel 1. Tinggi Tanaman . Umur Perlakuan Rataan 11,00a 5,66b 10,66a 9,11 7 HST 10,33a 10,00a 8,66a 9,66 11,33a 9,33a 11,00a 10,55 Rataan 10,88a 8,33b 10,11a ( ) 22,00 12,66 17,00 17,22 14 HST 19,00 16,66 16,66 17,44 21,00 16,00 1 17,66 18,22 Rataan 20,66a 15,11b 17,11b (-) 28,00 18,00 21,33 22,44b 21 HST 29,33 18,66 22,00 23,33b 30,00 22,66 26,66 26,44a Rataan 29,11a 19,77c 23,33b (-) 36,00 21,00 29,00 28,66b 28 HST 38,33 23,66 29,66 30,55b 37,66 31,00 35,33 34,66a Rataan 37,33a 25,22c 31,33b (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata pada taraf signifikansi 5 % (). ( ) menunjukkan adanya interaksi, () menunjukkan tidak adanya interaksi Temuan ini memperkuat hasil penelitian Bria, . yang melaporkan bahwa konsentrasi teh kompos guano 25% memberikan pertumbuhan vegetatif terbaik pada tanaman bayam merah, serta Raharjo et al. yang menyatakan bahwa aplikasi teh kompos guano mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi lingkungan tertentu. Sebaliknya, pada umur 28 HST, pertumbuhan tinggi tanaman tidak lagi meningkat secara nyata karena tanaman telah Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 memasuki fase generatif awal atau mencapai batas maksimum pertumbuhan vegetatif, sehingga alokasi fotosintat lebih diarahkan pada pembentukan biomassa tajuk. Perlakuan tunggal jenis kompos memberikan pengaruh nyata pada seluruh parameter pertumbuhan vegetatif, dengan perlakuan terbaik K1 1,5 kg tanah 1,5 kg kompos biochar. Keunggulan biochar sebagai amelioran tanah terletak pada kemampuannya meningkatkan kapasitas tukar kation, retensi air, serta ketersediaan unsur hara secara bertahap, sehingga menciptakan lingkungan perakaran yang lebih Hal ini sejalan dengan Surjaningsih, . yang melaporkan bahwa pemberian biochar 6% mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman. 2 Jumlah Daun Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 2 memperlihatkan adanya pengaruh yang nyata antara teh kompos guano dengan jenis kompos pada umur 14 dan 21 HST berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, sedangkan pada umur 7 dan 28 HST tidak berpengaruh nyata. Perlakuan tunggal teh kompos guano tidak berpengaruh nyata, namun pada perlakuan tunggal jenis kompos berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 14, 21, dan 28 HST. Tabel 2. Jumlah Daun . Umur Perlakuan Rataan 5,66 4,66 5,33 5,22 7 HST 5,33 5,33 5,00 5,22 4,66 5,66 5,66 5,33 Rataan 5,22 5,22 5,333 (-) 7,66ab 7,00bc 7,33abc 7,33 14 HST 7,33abc 6,66bc 6,33bc 6,77 7,33abc 6,00c 8,33a 7,22 Rataan 7,44a 6,55b 7,33a ( ) 9,33ab 8,33abc 8,66ab 8,77 21HST 10,00a 7,00c 9,00ab 8,66 8,33abc 8,00bc 9,66ab 8,66 Rataan 9,22a 7,77b 9,11a ( ) 13,00 10,00 11,00 11,33 28 HST 13,33 9,66 12,00 11,66 11,00 10,66 13,66 11,77 Rataan 12,44a 10,11b 12,22a (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata pada taraf signifikansi 5 % (). ( ) menunjukkan adanya interaksi, () menunjukkan tidak adanya interaksi Penelitian Bria et al. , yang menemukan bahwa kombinasi biochar dan tanah 1:1 secara nyata meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah daun pada tanaman pakcoy. Tidak terjadinya interaksi terhadap jumlah daun pada umur 7 HST menunjukkan bahwa pada fase ini tanaman masih memprioritaskan pertumbuhan sistem perakaran dan pemanjangan batang dibandingkan pembentukan daun. Hal ini didukung oleh Holisa et al. yang menyatakan bahwa minggu pertama setelah pindah tanam merupakan fase adaptasi lingkungan sehingga respon pertumbuhan daun belum optimal. Sebaliknya, pada umur 14 dan 21 HST, interaksi perlakuan mulai terlihat karena tanaman memasuki fase vegetatif aktif, ditandai dengan meningkatnya laju fotosintesis dan pembentukan daun. Kombinasi teh kompos guano dan biochar pada fase ini diduga mampu menyediakan unsur hara makro, terutama nitrogen, secara lebih efisien sehingga mendorong pembentukan daun yang lebih cepat dan optimal. Peningkatan jumlah daun dan berat segar tajuk tanaman juga berkaitan erat dengan peran nitrogen dalam pembentukan protein dan jaringan Iswiyanto et al. menyatakan bahwa nitrogen yang diserap tanaman Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 dimanfaatkan untuk sintesis protein yang berperan dalam pembentukan organ vegetatif seperti daun dan batang. Selain itu, kombinasi teh kompos guano dan biochar terbukti mampu meningkatkan jumlah daun, panjang akar, berat total tanaman, dan berat akar pada tanaman selada darat (Berek et al. , 2. , yang menunjukkan adanya sinergi antara sumber hara cair dan media tumbuh berbasis biochar dalam meningkatkan pertumbuhan dan biomassa tanaman secara menyeluruh. 3 Berat Segar Tajuk Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 3 menunjukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dan jenis kompos berpengaruh nyata pada berat segar tajuk. Sedangkan perlakuan tunggal teh kompos guano berpengaruh nyata terhadap berat segar tajuk, dimana perlakuan T2 menunjukkan perlakuan dengan hasil terbaik dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan tunggal jenis kompos menunjukkan pengaruh nyata, dimana perlakuan K1 dan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2. Tabel 3. Berat Segar Tajuk . Perlakuan Rataan 121,21ab 36,15e 71,83cde 76,40b 142,60a 30,67e 85,61bcd 86,29ab 111,79abc 53,81de 151,44a 105,68a Rataan 125,20a 40,21b 102,96a ( ) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan beda pada tingkat nyata () pada taraf 5 %. ( ) menunjukkan adanya interaksi Teh kompos guano berperan sebagai sumber unsur hara makro dan mikro yang mudah diserap tanaman, sehingga langsung mendukung pembentukan jaringan vegetatif. Sementara itu, kompos biochar meningkatkan kapasitas tukar kation, porositas, dan kemampuan menahan air, sehingga efisiensi serapan hara menjadi lebih tinggi. Kondisi ini menjelaskan mengapa kombinasi perlakuan mampu meningkatkan berat segar tajuk secara signifikan dibandingkan perlakuan Pengaruh nyata perlakuan tunggal teh kompos guano terhadap berat segar tajuk, berat segar akar, panjang akar, dan berat kering akar dengan dosis optimal 300 ml/L air bahwa ketersediaan hara dalam jumlah seimbang lebih menentukan dari pada peningkatan dosis Pada dosis ini, tanaman mampu mengoptimalkan pertumbuhan sistem perakaran, yang selanjutnya meningkatkan kemampuan eksplorasi hara dan air. Temuan ini sejalan dengan laporan Berek et al. dan Raharjo et al. yang menunjukkan bahwa aplikasi teh kompos guano pada dosis tertentu mampu meningkatkan biomassa tanaman melalui peningkatan aktivitas fisiologis dan metabolisme tanaman. Perlakuan tunggal jenis kompos, khususnya kombinasi 1,5 kg tanah 1,5 kg kompos biochar K1, berpengaruh nyata terhadap hampir seluruh parameter pertumbuhan dan hasil, termasuk indeks panen. Hal ini menunjukkan bahwa biochar tidak hanya mendukung pertumbuhan vegetatif, tetapi juga meningkatkan efisiensi alokasi biomassa ke bagian ekonomis tanaman. Kondisi ini memperkuat pernyataan Satria et al, . Sukasana et al. Rianti et al. bahwa ketersediaan unsur hara yang optimal mempercepat pembelahan dan pemanjangan sel, yang pada akhirnya meningkatkan bobot segar dan bobot kering tanaman. 4 Berat Segar Akar Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 4 menunjukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dan jenis kompos tidak berpengaruh nyata terhadap berat segar akar. Sedangkan pada perlakuan tunggal teh kompos guano berpengaruh nyata terhadap berat segar akar, dimana perlakuan T2 memberikan hasil terbaik pada berat segar akar dan Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 berbeda nyata terhadap perlakuan lainya. Pada perlakuan tunggal jenis kompos memberikan pengaruh nyata terhadap berat segar akar, dimana perlakuan K2 berbeda nyata dengan perlakuan K1 dan K3. Media yang remah menyebabkan akar terus melakukan kegiatan secara positif, baik dalam hal penyerapan unsur hara maupun perpanjangan akar sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas (Ahmad, 2. Tabel 4. Berat Segar Akar . Perlakuan Rataan 7,33 2,22 4,24 4,60b 7,88 2,75 7,85 4,26 5,62 9,51 Rataan 7,68a 3,08b 6,46a 5,42b 7,21a (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak berbeda pada tingkat nyata () pada taraf 5 %. () menunjukkan tidak terjadi interaksi 5 Panjang Akar Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 5 menunjukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dan jenis kompos tidak berpengaruh terhadap panjang akar. Perlakuan tunggal teh kompos guano berpengaruh nyata terhadap panjang akar dimana T2 memberikan hasil terbaik dengan perlakuan lainya, namun pada perlakuan tunggal jenis kompos tidak berbeda nyata terhadap panjang akar. Pemberian teh kompos 1:5 memiliki akar terpendek dikarenakan kondisi lingkungan tumbuh mampu mendukung unsur hara tersedia dibanding 1:10 dan kontrol (Neonbeni & Seran, 2. Sedangkan pada perlakuan tunggal jenis kompos tidak berbeda nyata terhadap panjang akar. Shafira et al. menyatakan bahwa pemberian arang sekam padi berdampak pada kondisi fisik media tanam menjadi poros dan mempunyai sirkulasi udara yang Tabel 5. Panjang Akar . Perlakuan Rataan 19,00 20,66 20,66 20,11ab 16,66 17,33 18,66 17,55b 19,66 24,00 25,33 23,00a Rataan 18,44 20,66 21,55 (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak berbeda pada tingkat nyata () pada taraf 5 %. () menunjukkan tidak terjadi interaksi 6 Volume Akar Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 6 menunjukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dan jenis kompos tidak berpengaruh nyata terhadap volume akar. Perlakuan tunggal teh kompos guano tidak berpengaruh nyata terhadap volume akar, sedangkan pada perlakuan tunggal jenis kompos menunjukkan pengaruh nyata, dimana perlakuan K1 dan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2. Komposisi media tanam tanah : memberikan hasil terbaik pada pengamatan volume akar tanaman pakcoy (Sabuna et , 2. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 Tabel 6. Volume Akar . Perlakuan Rataan 8,00 3,00 5,00 5,33 8,00 3,00 6,33 5,77 8,66 4,00 9,33 7,33 Rataan 8,22a 3,33b 6,88a (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak berbeda pada tingkat nyata () pada taraf 5 %. () menunjukkan tidak terjadi interaksi 7 Berat Kering Tajuk Berdasarkan hasil analisis sidik ragam anova pada Tabel 7 menunjukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dengan jenis kompos tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk. Perlakuan tunggal teh kompos guano tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk, sedangkan pada perlakuan tunggal jenis kompos berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk, dimana perlakuan K1 dan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2. Perbedaan antara bobot segar dan bobot kering mencerminkan efisiensi pembentukan bahan kering tanaman, sebagaimana dijelaskan oleh Neonbeni & Kornelia . , bahwa bobot kering merupakan indikator akumulasi hasil fotosintesis yang sesungguhnya. Tabel 7. Berat Kering Tajuk . Perlakuan Rataan 10,38 5,94 6,95 7,75 10,41 4,99 8,78 8,06 11,08 4,05 11,81 8,98 Rataan 10,62a 4,99b 9,18a (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak berbeda pada tingkat nyata () pada taraf 5 %. () menunjukkan tidak terjadi interaksi 8 Berat Kering Akar Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 8 menujukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dengan jenis kompos tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering akar. Sedangkan perlakuan tunggal teh kompos guano berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk, dimana perlakuan T2 memberikan perlakuan dengan hasil terbaik dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan tunggal jenis kompos memberikan pengaruh nyata, dimana perlakuan K1 dan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2. Menurut hasil penelitian Baskoro & Purwoko . memperlihatkan bahwa perlakuan pupuk organik memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah dan lebar daun, bobot basah dan bobot kering akar, bobot basah dan bobot kering batang, bobot basah dan bobot kering total tanaman, dan bobot basah daun pada tanaman binahong. Hal ini sejalan dengan (Yanti, 2. bahwa pengaplikasian pupuk sangat penting pada masa pertumbuhan vegetatif dan generatif. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 Tabel 8. Berat Kering Akar . Perlakuan Rataan 0,79 0,35 0,68 0,60b 1,03 0,41 0,78 0,74b 1,18 0,62 1,48 1,04a Rataan 1,00a 0,92a (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak berbeda pada tingkat nyata () pada taraf 5 %. () menunjukkan tidak terjadi interaksi 9 Indeks Panen Berdasarkan hasil sidik ragam anova pada Tabel 9 menunjukkan bahwa interaksi antara teh kompos guano dengan jenis kompos tidak berpengaruh nyata terhadap indeks panen. Dan pada perlakuan tunggal teh kompos guano tidak berpengaruh nyata terhadap indeks panen, namun pada perlakuan tunggal jenis kompos berpengaruh nyata terhadap indeks panen, dimana perlakuan K1 dan K3 berbeda nyata dengan perlakuan K2. Menurut Bria et al. pemberian biochar 7% mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis berlangsung dengan baik serta berdampak pada indeks panen tanaman sawi. Hal ini didukung oleh temuan Siagian et al. & Reis . bahwa penggabungan biochar dan teh kompos guano mampu meningkatkan bobot segar, bobot kering, serta indeks panen tanaman secara lebih efektif dibandingkan aplikasi tunggal. Tabel 9. Indeks Panen (%) Perlakuan Rataan 94,31 94,11 94,56 94,33 94,44 91,77 93,88 93,36 93,53 92,27 94,02 93,28 Rataan 94,09a 92,72b 94,15a (-) Keterangan : Angka pada baris dan kolom yang memiliki huruf sama menunjukkan tidak berbeda pada tingkat nyata () pada taraf 5 %. () menunjukkan tidak terjadi interaksi SIMPULAN Interaksi antara teh kompos guano dengan jenis kompos berpengaruh nyata terhadap pengamatan tinggi tanaman umur 7 HST, pengamatan jumlah daun umur 14 dan 21 HST dan berat segar total tanaman. Perlakuan tunggal teh kompos guano berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 21 dan 28 HST, berat segar tajuk, berat segar akar, panjang akar, dan berat kering akar tanaman. Pada perlakuan terbaik 300 ml teh kompos guano. Perlakuan tunggal jenis kompos berpengaruh nyata pada pengamatan tinggi tanaman umur 7, 14, 21 dan 28 HST, pengamatan jumlah daun umur 14, 21, dan 28 HST, berat segar tajuk, berat segar akar, volume akar, berat kering tajuk, berat kering akar dan indeks panen. Dengan perlakuan terbaik pada K1 : 1,5 kg tanah 1,5 kg kompos biochar. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Nahak et al, 2026 DAFTAR PUSTAKA