Ahad: Multidisciplinary Journal of Islamic Studies vol . No. 2025:1-10. ISSN . x-x https://journal. id/index. php/ahad/ DOI: https://doi. org/10. 64131/ahad. Kriteria Guru Ideal Perspektif kitab TaAolim MutaAoallim karya Imam Az-Zarnuji dan Relevansinya dengan Pembelajaran Abad 21 Sholikhul HudaA. Ari Kusuma DewiA. Bakhrudin All Habsyi3 A23Universitas Negeri Surabaya 24011355011@mhs. id, 2arikhusumadewi@unesa. bakhrudinhabsyi@unesa. 24011355011@mhs. Submitted: 31 Mei Accepted: 05 Juni Published: 09 Juni Abstrak Guru merupakan seseorang yang penting didalam dunia pendidikan namun di abad 21 ini banyak sekali kasus-kasus yang melanggar kode etik seorang guru tindakan tersebut dilakukan oleh beberapa guru yang tidak bertanggung jawab sehingga dalam dunia pendidikan mengalami kemunduran beretika. Kitab taAolim mutaAoallim karya Imam Az-Zarnuji menjabarkan tentang kriteria-kriteria guru ideal dan relevansinya dengan pembelajaran diabad 21 ini. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library reseac. data diambil dari berbagai sumber bacaan seperti buku, jurnal dan penelitian sebelumnya. Hasil dari penelitian ini adalah guru idealnya mempunyai 3 karakteristik yaitu: Alim, waraAo dan lebih tua. Kesimpulan dari penelitian ini adalah relevansi antara kandungan yang ada didalam kitab taAolim mutaAoalim dengan karakter guru abad 21 lebih menekankan etika dalam proses pembelajaran sehingga bisa membimbingan anak didik yang bermoral dan memiliki spiritual yang baik. Keywords: guru, taAolim mutaAoalim, pembelajaran abad 21 This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author PENDAHULUAN Manusia senantiasa tumbuh dan berkembang, dan anak usia dini mengalami pertumbuhan serta perkembangan yang jauh lebih cepat dan mendasar di awal kehidupannya. Stimulasi yang diterima anak sejak dini sangat menentukan kualitas perkembangannya di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan berperan sebagai upaya yang terencana dan sadar untuk meningkatkan kualitas hidup manusia (Pratama el al. , 2. guru memegang peran sentral dalam pendidikan, seringkali menjadi fokus utama diskusi karena keterkaitannya dengan semua komponen sistem pendidikan. Di dalam organisasi sekolah, sumber daya pendidik adalah kunci kelangsungan hidup. Ini merujuk pada potensi manusia yang ada di sekolah, yang menjadi modal dasar bagi sekolah untuk mencapai tujuannya (Khulaini et al. , 2. Seorang guru adalah individu yang berdedikasi pada pendidikan, sering kali di luar lingkungan sekolah formal. Guru memiliki kedudukan terhormat dan dihormati karena kewibawaan yang melekat pada mereka. Masyarakat tidak meragukan kapabilitas seorang guru, dengan keyakinan penuh bahwa guru mampu mendidik anak-anak menjadi pribadi yang berakhlak mulia (Roqib & Nurfuadi, 2. Dari perspektif ini, guru dipahami sebagai tenaga pendidik tugas utamanya adalah membimbingan, mengajar, mendidik, mengarahkan dan mengevaluasi pembelajaran peserta didik dari pendidikan usia dini hingga sekolah menengah atas (Dalimunte & Siregar, 2. Guru perlu mendapat perhatian khusus karena posisi dan tanggung Mereka adalah pelaksana utama yang sangat menentukan proses belajar mengajar dan kualitas pendidikan secara keseluruhan (Syukri et al. Hal itu sejalan dengan pendapat Zain et al. , . Guru sebagai pendidik dan pengajar, adalah faktor kunci keberhasilan setiap upaya pendidikan. Oleh karena itu, setiap pembahasan tentang pembaruan kurikulum, pengadaan alat belajar, hingga kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan pendidikan, selalu kembali pada peran guru. Namun belakangan ini, peran guru menjadi perhatian publik. Guru yang seharusnya menjadi teladan dan orang tua bagi siswa di sekolah, justru kerap bertindak semena-mena. Contohnya, kasus pemukulan tiga siswi di Blitar oleh guru mereka hanya karena terlambat. Perlakuan yang dianggap tidak mendidik ini bahkan sampai ditangani oleh pihak kepolisian (Huda. Kasus lain yang terjadi di Jawa Tengah seorang guru SD memukul salah satu muridnya yang baru duduk di kelas IV hingga mengalami cedera (Gani, 2. Berbagai kasus kemerosotan moral di dunia pendidikan, termasuk menggarisbawahi urgensi untuk serius merumuskan kembali konsep guru ideal (Zain et al. , 2. Kemerosotan moral bagi para pendidik dan pencari ilmu yang dirasakan Imam Az Zarnuji pada saat beliau masih ada dulu dan zaman kita sekarang masih dirasakan bahkan jauh mengkhawatirkan (Lindawati et al. , 2. Dalam sejarah Islam. Imam Az-Zarnuji dikenal karena kepeduliannya yang mendalam terhadap proses belajar. Beliau merangkum pengalaman dan pemikirannya mengenai kunci keberhasilan belajar dalam kitab Ta'lim Muta'allim (Lindawati et el. , 2. Dalam kitab taAolim MutaAoalim Imam AzZarnuji mengatakan bahwa, peran guru sangat krusial. Guru bertugas untuk mengarahkan, dan membimbing siswa sehingga siswa mempunyai hati nurani yang senantiasa mendekat kepada Allah dan mencari ridha-Nya. Selain itu, seorang guru wajib menanamkan keterampilan dan pengetahuan kepada Az-Zarnuji juga menekankan bahwa guru memiliki peran dalam memilihkan prioritas ilmu yang harus dipelajari serta menentukan tahapan yang harus ditempuh dalam mempelajarinya (Zain et al. , 2. Kitab taAolim MutaAoalim karya Imam Az Zarnuji sangat layak dikaji karena membahas dan menekankan pentingnya akhlak dalam menuntut ilmu bukan hanya untuk pelajar . melainkan juga untuk pengajar . Mengingat begitu kompleksnya pembahasan tentang guru yang ideal menurut berbagai kajian dan sumber, disini peneliti tertarik untuk membahas Aukriteria guru ideal kitab taAolim MutaAoalim karya Imam Az-Zarnuji dan relevansinya dengan pembelajaran abad 21Ay penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu acuan dalam hal meningkatkan kompetensi guru dalam bidang hal mengajar dan akhlak di era modern seperti ini. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif bentuk data yang diperoleh berupa kalimat atau narasi yang diperoleh melalui tektik pengumpulan data kualitatif (Mappasere & Suyuti. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kajian pustaka (Library Researc. Ini adalah ringkasan atau rangkuman teori yang relevan, diambil dari sumber bacaan . , yang berhubungan dengan tema penelitian yang akan diangkat (Zed, 2. Penelitian study pustaka melibatkan empat tahap: persiapan alat, penyusunan bibliografi kerja, pengaturan waktu, serta membaca dan mencatat materi penelitian. Data dikumpulkan dengan mencari dan mengonstruksi informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan penelitian Bahan pustaka yang terkumpul kemudian dianalisis secara kritis dan mendalam untuk mendukung proposisi dan gagasan penelitian (Akiana. HASIL DAN PEMBAHASAN Kitab TaAolim MutaAoalim karya Imam Az-Zarnuji Naskah kitab Ta'limul Muta'allim pertama kali dicetak di Jerman pada tahun 1709 M oleh Ralandus. Selanjutnya, dicetak ulang di Labstrak/Libsik tahun 1838 M oleh Kapsari dengan tambahan mukadimah dari Plessner. Kitab ini juga dicetak di Marsadabad pada 1265 H, di Qazan pada 1898 M . dan 1901 M . halaman dengan syarah tambaha. , serta di Tunisia pada 1286 H . , 1292 H . , dan 1307 H . Kitab ini juga disebutkan dicetak pada 1311 H (Plessner. X/. (Aisyah et al. , 2. Selain itu dalam kitab TaAolim MutaAoalim ini ada 13 fasal iawali dengan pengertian dan keutamaan ilmu serta fikih, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai niat dalam belajar, pentingnya memilih ilmu, guru, dan teman, serta ketabahan Selanjutnya, kitab ini menguraikan tentang penghormatan terhadap ilmu dan ulama, ketekunan, kontinuitas, dan minat, serta permulaan dan tata tertib belajar. Aspek-aspek lain yang dibahas meliputi tawakal, waktu keberhasilan, kasih sayang, nasihat, istifadah . engambil manfaa. , wara' . ehati-hatia. , penyebab hafal dan lupa, serta sumber dan penghambat rezeki, penambah usia, dan pemotong usia Dalam Ta'limul Muta'allim ini, terdapat tidak kurang dari 21 matan hadis Nabi. Penting untuk dicatat bahwa hadis-hadis tersebut dicantumkan dalam konteks tata krama dan adab, bukan sebagai argumen hukum syariat (Akina. Karakter yang harus dimiliki oleh guru Al AoAlim (Orang Yang Berilm. Menurut Kamus Al Jadid . makna alim adalah orang yang berilmu Menurut kajian Amran Kasimin . , kata alim berasal dari 'ism fa'il' dari 'alima, ya'lamu', yang berarti 'orang yang tahu'. Oleh karena itu. Kasimin berpendapat bahwa makna inti 'alim' dalam Kamus Dewan ke-4 . kurang tepat dari makna aslinya. Pasalnya, 'alim' memiliki arti umum, tidak hanya terbatas pada orang yang mengerti hal Demikian pula, makna kedua dan ketiga dalam kamus tersebut, yaitu 'patuh' dan 'sangat baik akhlaknya', tidak disebutkan dalam ilmu assarf sebagai pengertian dari 'alim' (Jalaluddin et al. , . Dalam kitab TaAolim MutaAoalim Imam Az Zarnuji berkata bahwa seorang guru harus alim atau seseorang yang berilmu dan memiliki nilainilai moral di dalam dirinya. WaraAo (Menjaga Dir. Menurut Syaikh Az-Zarnuji, seorang guru wajib memiliki sifat wara', yang berarti memiliki kepribadian yang luhur dengan cara menjaga diri dari sesuatu yang syubhat dan haram. Guru senantiasa menjaga kehormatannya guna menghindari perilaku rendah dan hina, serta menahan diri dari hal-hal buruk. Ciri-ciri guru yang mempunyai sifat wara' adalah kemampuannya meninggalkan sesuatu yang hanya semata-mata ada keraguan atau syubhat . l Khanzahar, 2. selanjutnya dalam Candra et al. , . orang yang memiliki sifar waraAo ilmunya akan lebih bermanfaat dan belajarnya lebih mudah. Diantara sifat waraAo dijelaskan sebagai berikut : menghindari rasa kenyang yang berlebihan, sedikit tidur, berbicara tentang hal yang bermanfaat saja, menghindari jajanan yang dijual di pasar, karena makanan yang dijual di pasar lebih dekat dengan najis kotor. Ini membuat orang yang memakannya bisa jauh dari mengingat Allah dan bisa membuat orang lalai dalam beribadah. Sebab, ketika orang kafir melihat makanan tersebut tanpa memiliki uang untuk membelinya, mereka akan merasakan sakit karena keinginan yang tidak terpenuhi. Oleh karena itu, makanan pasar hilang Sekanjutnya termasuk sifat waraAo adalah Jauhilah pergaulan dengan orang-orang yang suka berbuat kerusakan, maksiat, dan pemalas, karena interaksi dengan mereka dapat memberikan pengaruh negatif. Lebih Tua/Dewasa Di kutip dari kitab taAolim mutaAoallim imam Az Azrnuji berkata: AuAdapun cara memilih guru atau kyai yang alim, yang bersifat waraAo, dan lebih tua. Sebagaimana. Abu Hanifah memilih kyia Hammad bin Abi Sulaiman, karena Hammad mempunyai sifat-sifat teresbut . lim, waraAo dan lebih tu. Maka Abu Haniofah mengaji ilmu kepada Hammad. Ay (Terjemah TaAolim MutaAoallim, 2. Guru yang dewasa mempunyai perkembangan fisik dan kognitif yang sempurna Sigmund Freud dalam Dariyo . menyatakan bahwa sejak usia remaja sampai dewasa termasuk dewasa muda dan seseorang telah memasuki usia genetical. Lalu menurut Erickson seorang ahli psikoanalisis . alam Tunner & Helms, 1. pada perkembangan dewasa seseorang menjalin persahabatan untuk saling membagi pengalaman maupun gagasan-gagasan kehidupan yang intim, hangat dan menyenangkan. Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Imam Az-Zarnuji merekomendasikan memilih guru yang lebih tua/dewasa karena pada tahap ini seseorang sudah matang secara keilmuan, pengalaman, sosial dan emosional sehingga dapat membimbing perserta didik dengan iklas, ini memungkinkan guru yang lebih tua memungkinkan untuk memberi nasihat yang mendalam tidak hanya asalah ilmu akan tetapi juga bimbingan moral dan spiritual. Relevansi Guru Ideal Menurut Perspektif Kitab TaAolim MutaAoallim dengan Pembelajaran Abad 21 Relavansi guru ideal dalam kitab taAolim mutaAoallim pada pembelajaran abad ke 21 yang pertama adalah alim yang artinya seorang guru harus berilmu yang luas, apalagi di era modern seperti ini seorang guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi yang semakin canggih guna untuk mendukung pembelajaran. Guru yang lebih tua dalam konteks taAolim mutaAoalim adalah guru yang mempunyai kedewasaan sebagai seorang profesional sehingga mampu membimbinga siswa baik secara intelektual, moral dan spiritual. Kedewasaan seorang guru bukan hanya tentang usia melainkan kemauan untuk terus belajar dan berkembang diera informasi seperti ini. KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru menjadi tauladan yang baik murid-muridnya, karena seorang guru adalah faktor kunci keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Dalam kitab taAolim mutaAoalim Imam Az Zarnuji menjelaskan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam membimbing anak didiknya dan ini sebagai acuan kriteria ideal seorang guru yang pertama Al alim . rang yang berilm. yang kedua WaraAo . rang yang menjaga diri/ berhati-hat. dan yang ketiga adalah lebih tua/dewasa. DARTAR PUSTAKA Aisyah. Udin. , & Alfiani. Relevansi Nilai Pendidikan Islam Dalam Kitab TaAoLimul MutaAoAllimterhadap Pendidikan Karakter Anak Usia Madrasah Ibtidaiyah. UNIEDU: Universal Journal of Educational Research, 3. , 208-217. Akina. TaAolim MutaAoalim Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu. Pengertian: Jurnal Pendidikan Indonesia (PJPI), 2. , 145-152. Aljufri. Terjemah TaAolim MutaAoallim. Surabaya : Mutiara Ilmu. Cet. al-Khazandar. Indonesia. Ziyad. , & Rabwah. Sifat WaraAo. Candra. Amda. , & Bariyanto. Peran Guru Dan Akhlak Siswa Dalam Pembelajaran: Perspektif Syekh Az-Zarnuji Kitab TaAolim MutaAoallim. Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam Dan Manajemen Pendidikan Islam, 2. , 262-279. Dalimunthe. , & Siregar. Penerapan isi kandungan kitab taAolim mutaAoallim dalam membentuk akhlak belajar santri di masa Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP), 4. , 208-219. Dariyo. Perencanaan dan Pemilihan Karir Sebagai Seorang Guru/Dosen Pada Dewasa Muda. Jounal Provitae, 200451. Gani. Viral video seorang guru SMA lakukan tindak kekerasan dengan memukul dan tendang muridnya di depan kelas. tvOneNews Huda. Kompetensi kepribadian guru dan motivasi belajar Jurnal penelitian, 11. , 237-266. Jalaluddin. Sarudin. , & Ahmad. Peluasan Makna Alim: Analisis Semantik Kognitif. GEMA Online Journal of Language Studies, 12. Khaulani. Neviyarni. , & Irdamurni. Fase dan tugas perkembangan anak Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 7. , 51-59. Lindawati. Akil. , & Nurlaeli. Analisis Adab Mencari Ilmu dalam Kitab TayCE limul MutayCE allim dan Implikasinya Pendidikan Karakter SMAIT Harapan Umat Karawang. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 6. , 254-264. Mappasere. , & Suyuti. Pengertian penelitian pendekatan Metode Penelitian Sosial, 33. Pratama. Rawati. Fajri. Oktaviany. , & Messy. Dinamika organisasi mahasiswa: Pengembangan, komitmen, dan transformasi di zaman modern. Jurnal Manajemen & Budaya, 4. Roqib. , & Nurfuadi. Kepribadian guru: Upaya mengembangkan kepribadian guru yang sehat di masa depan. Repository IAIN Purwokerto. Syukri. Nuzuar. , & Warsah. Peran Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Etos Kerja Guru. Alignment: Journal of Administration and Educational Management, 2. , 48-60. Zain. Aprison. , & Pratama. Kriteria Guru Ideal Perspektif Imam Burhanuddin Az-Zarnuji dalam Kitab TaAolim MutaAoallim dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam Saat Ini. Education Achievement: Journal of Science and Research, 13791390. Zed. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Cet.