EDUSCOPE. Januari, 2024. Vol. 09 No. 02 p-ISSN :2460Ae4844 e-ISSN : 2502 Ae 3985 Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan Perspektif Imam AlGhozali untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah Machnunah Ani Zulfah1. Muhamad Khoirirur Roziqin2. Alfi inayatul masluqi3 Universitas KH. Wahab Hasbullah e-mail korenpondensi: : machnunah313@unwaha. ABSTRACT The purpose of this study is to be able to describe the implementation strategy of instilling exemplary values in the inclusion class Imam Al-Ghozali's perspective to determine supporting and inhibiting factors. The approach used by researchers is a qualitative approach. The data presented in this study contains various educational and learning activities, problems in instilling moral values and solutions in overcoming the problem of instilling moral values in children with special needs from the perspective of Imam Al-Ghozali at MA Darun Najah Malang. The presence of researchers is very important, therefore researchers go directly into the field to observe and collect the data needed. Primary data sources are obtained directly from research subjects using data collection tools directly on the subject as a source of information sought. The secondary data in this study are written data sources, namely books, journals. The interviews used in this study were structured interviews. The results obtained can be concluded as follows: The strategy of instilling exemplary values in the inclusion class at MA Darun Najah Malang is implemented through the instillation of moral values in students in the inclusion class . hrough example, habituation, advice, reprimands and punishment. KEYWORDS: strategy, planting, exemplary and Al-Ghozali. ABSTRAK Tujuan penelitian ini Agar dapat mendeskripsiskan strategi pelaksanaan penanaman nilai nilai keteladanan pada kelas inklusi Prespektif imam Al-Ghozali untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat. Pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan kualitatif. Data yang di sajikan dalam penelitian ini berisi berbagai kegiatan pendidikan dan pembelajaran, problematika penanaman nilai-nilai akhlak dan solusi dalam mengatasi problematika penanaman nilai-nilai akhlak pada anak berkebutuhan khusus perspektif imam Al-Ghozali di MA Darun Najah Malang. Kehadiran peneliti sangatlah penting, oleh karena itu peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mengamati dan mengumpulkan data yang dibutuhkan. Sumber data dalam penelitian ini sebagai berikut:Sumber data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Adapun data sekunder dalam penelitian ini adalah sumber data tertulis yaitu buku, journal. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur. Hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan sebagai berikut: Strategi penanaman nilai-nilai keteladanan pada kelas inklusi di MA Darun Najah Malang dilaksanakan 88 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah melalui penanaman nilai-nilai akhlakul karimah pada peserta didik di kelas inklusi . elalui keteladanan, pembiasaan, nasehat, teguran dan hukuma. KATA KUNCI: strategi, penanaman, keteladanan dan Al-Ghozali. Article History Received: 12 Juli 2023 Revised: 10 Juli 2024 Accepted: 20 Juli 2024 PENDAHULUAN Pembentukan manusia yang berakhlakul karimah adalah melalui proses pembentukan kepribadian, yang tidak dapat tumbuh secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang menanamkan nilai-nilai moral. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penanaman nilai-nilai keteladanan merupakan cara atau proses menanamkan perilaku pada anak yang harus selalu dijaga agar melahirkan nilai-nilai yang sesuai pada tempatnya yang Oleh karena itu, perlu ditanami nilai-nilai keteladanan. Menanam adalah proses, cara, tindakan penanaman. Pendidikan moral ditanamkan sejak dini, agar anak mampu membentengi diri dari penyimpangan moral (Pusat bahasa, 2. AauIca aI a aea aEa a caaI aIA ACA a A aIEAberarti. Sesungguhnya saya diutus untuk menjadi rasul tidak lain adalah a Aa aI eaE a eaEA untuk menyempurnakan akhlak yang benar (Rokhim, 2. Dari kutipan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa pentingnya penanaman moral agar dapat membentuk karakteristik kepribadian atau akhlak mulia pada anak. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Realita yang terjadi saat ini adalah bangsa Indonesia dihadapkan pada krisis moral yang sangat memprihatinkan. Jika diabaikan tanpa solusi perbaikan, maka akan menghancurkan masa depan bangsa Indonesia. Masalah ini dapat terjadi karena kurangnya fondasi yang kuat untuk membentuk amal. Orang tua umumnya mengutamakan perkembangan intelektual dan mengesampingkan nilai-nilai moral dan Namun di zaman yang semakin maju, bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan pendidikan intelektual, atau pengetahuan yang berpengetahuan, tetapi harus ditanamkan pendidikan moral. Serta adanya metode dalam pembentukan akhlak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Nilai-nilai keteladanan harus ditanamkan pada semua anak, baik normal maupun mereka yang berkebutuhan khusus. Karena secara psikologis sikap anak dengan gangguan kurang baik sehingga perlu diupayakan agar mereka memiliki sikap yang baik (Efendi, 2. Anak penyandang disabilitas dapat didik bersama dengan anak normal dalam satu kelas di sekolah melalui kelas inklusi. Ruang kelas adalah tingkat atau ruang belajar di sekolah (Pusat bahasa, 2. Inklusi EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 89 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah adalah pendidikan yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan teman sebayanya di sekolah umum (Bandi, 2. Jadi kelas inklusi adalah ruang tempat belajar siswa yang di dalamnya terdapat anak berkebutuhan khusus dengan anak normal seusianya. Pendidikan inklusif berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 2 huruf a Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas dan Memiliki Kecerdasan Khusus dan/atau Potensi Bakat ("Permendiknas 70/2009") menyatakan: Pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan kesempatan seluasluasnya kepada seluruh peserta didik yang memiliki fisik, gangguan emosi, mental dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat khusus untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Oleh karena itu, anak penyandang disabilitas perlu diberikan kesempatan dan kesempatan yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan layanan pendidikan di sekolah Pendidikan inklusi diharapkan dapat menyelesaikan salah satu permasalahan dalam penanganan pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas selama ini. Karena tidak mungkin membangun sekolah luar biasa di setiap kecamatan atau desa karena membutuhkan waktu dan biaya yang lama. METODE Pendekatan yang digunakan peneliti dalam tesis ini adalah pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti penanaman nilai-nilai moral pada anak berkebutuhan khusus dari perspektif Imam Al-Ghozali di MA Darun Najah Malang. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan penulis, peneliti menggunakan studi kasus. Studi kasus yang dimaksud adalah mengkaji secara mendalam objek penelitian, ditinjau dari individu, kelompok atau organisasi, dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memperoleh gambaran yang lengkap dan mendalam . aleh, 2. Data yang disajikan dalam penelitian ini berisi berbagai kegiatan pendidikan dan pembelajaran, permasalahan dalam menanamkan nilai-nilai moral dan solusi dalam mengatasi masalah penanaman nilai-nilai moral pada anak berkebutuhan khusus dari perspektif Imam Al-Ghozali di MA Darun Najah Malang. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah MA Darun Najah yang berlokasi di Jl Manyar 51 Ngijo Kecamatan Karangploso Malang. Peneliti memilih lokasi penelitian di MA Darun Najah karena merupakan satu-satunya sekolah negeri yang menerima anak berkebutuhan Dalam prosedur pengumpulan data, peneliti ingin mendapatkan data sebanyak mungkin dan mendalam, oleh karena itu upaya dilakukan melalui. Observasi tentang EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 90 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah penanaman nilai-nilai moral pada kelas inklusi di MA Darun Najah Malang, mengetahui langsung proses pembelajaran di kelas inklusi di MA Darun Najah Malang, permasalahan dan solusi dalam proses penanaman nilai, akhlak bagi anak berkebutuhan khusus di MA Darun Najah Malang serta letak geografis dan sarana dan prasarana di MA Darun Najah Malang, . Wawancara Wawancara terstruktur untuk menemukan masalah secara lebih terbuka, di mana orang yang diwawancarai dimintai pendapat, dan gagasan mereka dan . Dokumentasi adalah metode pengumpulan data. Data dapat diperoleh dengan melihat catatan, transkrip, buku, koran, atau dokumen lain yang berkaitan dengan masalah penelitian (Arikunto, 2. HASIL dan PEMBAHASAN Pelaksanaan penanaman nilai-nilai moral dilakukan secara terpadu pada setiap mata pelajaran berdasarkan RPP yang disesuaikan dengan nilai-nilai yang perlu dikembangkan pada mata pelajaran tersebut, sehingga harapan sekolah setiap tahunnya siswa dapat lebih matang untuk belajar dan menerapkan penanaman nilai-nilai keteladanan karena penanaman nilai-nilai keteladanan dilakukan secara berkelanjutan. Menanamkan nilai-nilai keteladanan merupakan prioritas utama selain mewujudkan peserta didik yang unggul dan berprestasi di lembaga pendidikan juga menjadi harapan terbesar bagi peserta didik sebagai penerus bangsa Islam. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan di MA Darun Najah Malang melalui wawancara dengan guru-guru PAI yang mengajar di kelas inklusi, dapat disimpulkan bahwa implementasi pembinaan moral siswa di MA Darun Najah Malang dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, nasihat, teguran dan hukuman. Program yang dilakukan sekolah dalam menanamkan nilai-nilai moral di kelas inklusi harus memiliki faktor penghambat di dalamnya. Dalam upaya mengatasi kendala yang terjadi dalam proses penanaman nilai-nilai moral karimah di kelas inklusi. Salah satu solusinya adalah guru melakukan pendekatan yang baik terhadap kelas inklusi sehingga mau berubah menjadi lebih baik. Selain itu, kerjasama antara guru atau sekolah dengan orang tua siswa juga sangat diperlukan agar permasalahan yang berkaitan dengan perkembangan moral siswa dapat diatasi bersama. Sesuai dengan pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan peneliti di kelas 10 PAI MA Darun Najah sejak 4 Juni 2022 sampai dengan 14 Juni 2022. Selama penelitian, dalam waktu 10 hari, peneliti mencari informasi tentang strategi pembelajaran di kelas inklusi di MA Darun Najah. Beberapa hal yang ditemukan dalam strategi menanamkan nilai-nilai moral dalam perspektif kelas inklusi Imam Al-Ghozali di MA Darun Najah, antara lain sebagai berikut: Merencanakan kegiatan pembelajaran EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 91 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah Sebelum melaksanakan pembelajaran, guru MA Darun Najah membuat rencana seperti menyusun RPP yang dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, dimulai dengan RPP RPP yang disusun guru berisi penanaman nilai-nilai moral yang akan ditanamkan guru pada siswa melalui proses pembelajaran. Penyusunan RPP yang akan ditanamkan guru pada siswa melalui proses pembelajaran dengan menanamkan nilainilai keteladanan di kelas inklusi dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran Berdasarkan RPP yang telah dibuat oleh guru MA Darun Najah Malang, tentunya RPP tersebut digunakan sebagai pedoman guru dalam pelaksanaan Jika dalam RPP ada rencana untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik, tentu pelaksanaannya juga akan berjalan dengan baik. Pelaksanaan ini akan berjalan dengan baik jika guru melakukan penanaman nilai-nilai moral berdasarkan RPP yang dibuat. Dalam RPP, guru telah mencoba mengintegrasikan nilai-nilai keteladanan yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran di kelas inklusif. Mulai dari tahap penyisihan, inti, dan penutupan. Tahap awal guru melakukan hal-hal yang mampu menyisipkan nilai-nilai keteladanan pada setiap tahap, dimulai dengan kegiatan pendahuluan seperti guru mempersiapkan situasi kelas sebelum pembelajaran dimulai. Pembelajaran terbuka dengan berdoa sebelum proses belajar mengajar dimulai, mengucapkan salam, . ada jam pertama pembelajara. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan, guru selalu melakukan kegiatan spontan seperti mengingatkan siswa saat berdoa agar berperilaku baik, mengingatkan kegiatan piket kelas, menjaga kebersihan, berpakaian rapi dan menjaga sopan santun. Evaluasi kegiatan pembelajaran Evaluasi atau penilaian adalah bagian yang sangat penting dari proses Dalam penanaman nilai-nilai keteladanan, penilaian harus dilakukan dengan baik dan benar. Penilaian tidak hanya menyangkut prestasi kognitif peserta didik, tetapi juga prestasi afektif dan psikomorfotik mereka. Penanaman nilai-nilai moral lebih mementingkan prestasi afektif dan psikomotorik siswa di kelas inklusi daripada prestasi kognitif mereka. Penilaian aspek kognitif dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: tugas terstruktur, tugas mandiri, posting tanya jawab dan segera. Penilaian aspek afektif dilakukan dengan mengamati perilaku atau sikap siswa saat pembelajaran berlangsung, sedangkan psikomotor pengamatan langsung dan penilaian perilaku siswa saat pembelajaran berlangsung. Seperti yang dikatakan oleh guru MA Darun Najah Malang tentang latar belakang penanaman nilai-nilai teladan di kelas inklusi. Informan mengatakan: EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 92 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah Membentuk etika yang luhur, meliputi perilaku dan sopan santun serta kebiasaan baik yang dapat menjadi refleksi pada peserta didik dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk anak berkebutuhan khusus. Tujuannya untuk membentuk karakter mahasiswa dan alumni agar dapat bermanfaat dan menjadi contoh bagi masyarakat dan lingkungan sekitar (Fauzi, 2. Untuk membentuk siswa yang memiliki akhlak yang baik, tentunya setiap sekolah memiliki program yang dijalankan di sekolah tersebut dan berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral di kelas inklusi. Program-program yang dilaksanakan di MA Darun Najah terkait penanaman nilai-nilai teladan di kelas inklusi adalah sebagaimana diungkapkan oleh guru MA Darun Najah Malang: Pertama, perencanaan harus dilakukan melalui musyawarah antar guru untuk membahas program yang akan dilaksanakan terkait pembentukan akhlakul karimah di kelas inklusi. Kemudian dilaksanakan program yang disepakati bersama, serta contoh, pembiasaan, nasihat, teguran, dan hukuman. Hal-hal tersebut kemudian diterapkan oleh guru terkait perkembangan moral siswa. Organisasi di sekolah seperti OSIS. UKS dan Pramuka juga secara tidak langsung memasukkan program guru dalam pembentukan moral siswa karena dalam organisasi tersebut siswa yang terlibat di dalamnya juga dilatih untuk memiliki akhlak yang baik karena menjadi contoh atau contoh bagi temantemannya, termasuk anak berkebutuhan khusus di kelas inklusi (Fauzi, 2. Yang menjadi faktor penghambat strategi penanaman nilai-nilai moral di kelas inklusi di MA Darun Najah adalah kurangnya kesadaran pada siswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bapak Ahmad Fauzi dalam wawancara, bahwa: Tidak semua siswa mampu mengatur waktu tfrrheir dengan baik. Masih ada siswa yang tidak bersemangat untuk mengikuti instruksi dan arahan tentang etika, terutama untuk anak-anak berkebutuhan khusus di kelas inklusi. Selain itu, ada juga beberapa siswa yang membawa pengaruh buruk bagi teman-temannya. Masih ada siswa yang melakukan pelanggaran, seperti terlambat dan bolos kelas saat belajar Faktor penghambat lainnya juga antara lain orang tua, seperti tidak semua orang tua siswa mengikuti program yang dilaksanakan guru terkait penanaman nilai-nilai moral di kelas inklusi, misalnya masih ada orang tua yang tidak datang saat diundang guru. Siswa yang merupakan anak berkebutuhan khusus lebih cenderung emosional sehingga terkadang arahan yang diberikan tidak mampu diterapkan. Masih ada beberapa orang tua yang tidak peduli dengan siswa. Sebagian orang tua menyerahkan tanggung jawab penuh kepada guru dalam menanamkan nilai-nilai moral anaknya (Fauzi, 2. Pendidikan merupakan salah satu hal penting bagi seseorang untuk menjalani kehidupan sekaligus pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pendidikan inklusi EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 93 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah sangat berguna untuk membantu anak menjadi mandiri dalam menjalani kebutuhan Pendidikan ABK sangat bermanfaat bagi anak agar tidak selalu bergantung pada orang lain . rang tu. sehingga berdasarkan pendidikan tersebut anak mampu mengatur perilakunya sendiri dalam berbagai situasi dan anak dapat berfungsi sendiri agar dapat memberikan peran yang diinginkan oleh masyarakat (Fauzi, 2. Pendidikan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan kita, ini berarti bahwa setiap manusia berhak untuk mendapatkan dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan serta ABK juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan teman sebayanya. Dengan adanya kelas inklusi di MA Darun Najah, membantu ABK tidak merasa dikucilkan dan dapat berkumpul serta berinteraksi dengan teman sebayanya. Pendidikan inklusi ini tentunya memberikan berbagai manfaat bagi kita, terutama mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat multikultural. Berikut beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari upaya menerapkan sikap inklusif dalam kehidupan sehari-hari: Mengurangi adanya sikap diskriminatif, karena pada dasarnya semua manusia memiliki kedudukan yang sama dan tidak boleh dibeda-bedakan. Dapat menghargai diri sendiri maupun orang lain yang memiliki perbedaan dengan kita. Berkontribusi dalam mengembangkan masyarakat dengan pola pikir terbuka dan Mengembangkan produktivitas untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Mengetahui bahwa ada hambatan untuk masalah sosial. Sebagai sikap menghargai perbedaan budaya dan tradisi yang ada di lingkungan Menanamkan nilai-nilai teladan di kelas inklusi harus mengarahkan siswa pada pengenalan nilai kognitif, apresiasi nilai afektif, dan akhirnya ke praktik nilai nyata. Ini adalah rencana untuk menanamkan nilai-nilai moral di kelas inklusi. Oleh karena itu, semua subjek harus mengandung penanaman nilai-nilai teladan yang dapat membawanya menjadi manusia dengan moral yang baik. Salah satunya adalah mengintegrasikan penanaman nilai-nilai teladan dalam semua mata pelajaran. Evaluasi pembinaan pendidikan karakter yang dilakukan di MA Darun Najah Malang adalah dengan melihat pola kebiasaan siswa di kelas inklusi yang harus selalu diawasi oleh sekolah agar sekolah dapat mengetahui perkembangan siswanya. Seperti dapat dilihat dari kebiasaan siswa yang dilakukan sehari-hari seperti, berdoa sebelum memulai pelajaran, disiplin masuk kelas, membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 94 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah kata-kata yang baik, bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, menghargai perbedaan antara orang lain. Jika hal-hal tersebut telah dilakukan dengan baik dan menjadi kebiasaan siswa, maka dapat dikatakan bahwa penanaman nilai-nilai keteladanan pada siswa di kelas inklusi dilakukan dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru-guru PAI di MA Darun Najah Malang, strategi yang dilakukan dalam menanamkan nilai-nilai keteladanan di kelas inklusi Teladan Keteladanan guru adalah sesuatu yang harus dicontoh oleh siswa yang ada di dalam guru, sehingga menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan. Oleh karena itu, guru harus menunjukkan contoh yang baik bagi Hal ini sejalan dengan ungkapan Bapak Ahmad Fauzi bahwa: Guru selalu memberikan contoh yang baik kepada siswanya, karena guru adalah Salah satu bentuk contoh yang diterapkan, seperti berpakaian rapi dan disiplin waktu, ikut shalat berjamaah, dan selalu mengucapkan kata-kata yang baik (Fauzi, 2. Pembiasaan Imam Al-Gazali mengatakan bahwa kepribadian manusia pada dasarnya dapat menerima setiap upaya pembentukan melalui pembiasaan. Jika manusia terbiasa melakukan perbuatan jahat, maka dia akan menjadi orang jahat. Jika seseorang ingin bermurah hati, maka ia harus terbiasa melakukan perbuatan baik hingga menjadi bi'atnya yang mendarah daging (Nata, 2. Pembiasaan yang selalu dilakukan berkaitan dengan penanaman nilai-nilai aklhlakul karimah di kelas inklusi yaitu seperti yang disampaikan oleh Bapak Ahmad Fauzi: Tadarrus, shalat berjamaah, shalat duha setiap hari, dan dzikir bersama setelah shalat berjamaah. Selain itu, mahasiswa juga diajarkan untuk selalu menerapkan budaya 5S . enyum, sapaan, sapaan, salim, sopa. (Fauzi, 2. Nasihat Nasihat berperan penting dalam menjelaskan kepada pelajar tentang semua hal penting, menghiasinya dengan moral yang mulia, dan mengajarinya tentang prinsip-prinsip Islam. Jadi tidak aneh untuk menemukan Al-Qur'an menggunakan metode ini dan berbicara kepada jiwa dengan nasihat. Salah satu cara untuk menanamkan akhlak yang baik pada siswa adalah melalui nasehat yang diberikan ketika melakukan kesalahan. Memberi nasihat, tentu saja, harus menggunakan bahasa yang bijak dan disertai dengan contoh yang baik. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Ahmad Fauzi bahwa: Setiap upacara pada Senin pagi EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 95 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah atau kegiatan pondok khitobaah pada Senin malam diberikan arahan/nasehat terkait pembentukan moral siswa. Pada saat penyampaian aliran sesat saat pengajian rutin pada Jumat malam juga secara tidak langsung merupakan nasehat atau arahan bagi mahasiswa . auzi, 2. Bagi siswa yang melakukan moral buruk, guru memberikan teguran dan jika tindakan tersebut berulang kali dilakukan, guru kemudian memberikan Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Pak Fauzi. Informan mengatakan: yang tidak baik. Misalnya, seorang mahasiswa melakukan kesalahan seperti melanggar aturan tata tertib atau melakukan tindakan seperti tidak melaksanakan shalat berjamaah, maka ia harus langsung ditegur. Hukuman ringan adalah pembacaan / menghafal. Sedangkan yang berat diselesaikan oleh guru. Jika siswa tidak mau berubah dan menerima teguran untuk ketiga kalinya, guru akan memberikan hukuman yang lebih berat. Faktor pendukung dan faktor penghambat penanaman akhlakul karimah di kelas Dalam pelaksanaan strategi penanaman nilai-nilai moral di kelas inklusi di MA Darun Najah, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, baik faktor penghambat maupun faktor pendukung pelaksanaan pembangunan moral. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di MA. Darun Najah menyatakan bahwa dalam penanaman nilai-nilai moral di kelas inklusi, terdapat beberapa faktor, antara lain: Faktor Penghambat Faktor penghambat dalam implementasi pembinaan moral mahasiswa di MA Darun Najah adalah: Masih ada siswa yang tidak memiliki tingkat kesadaran . Lingkungan sosial sebelumnya tidak baik . Perkembangan teknologi . Kurangnya perhatian orang tua Faktor pendukung Faktor pendukung dalam menanamkan nilai-nilai moral di kelas inklusi adalah "guru dapat menjadi panutan bagi siswanya. Mahasiswa yang tergabung dalam OSIS. UKS dan Pramuka juga bisa menjadi panutan bagi mahasiswa lain, termasuk yang berada di kelas inklusi. Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung dalam penanaman nilai-nilai moral di kelas inklusi, yaitu: Kerja sama yang baik antara kepala sekolah, guru dan orang tua siswa EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 96 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah . Sarana dan prasarana yang memadai . Ada perintah yang harus dipatuhi . Ada kesadaran pada siswa untuk mengubah moral mereka. KESIMPULAN dan SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terkait penanaman nilai-nilai moral pada kelas inklusi di MA Darun Najah, beberapa hal dapat disimpulkan sebagai Strategi penanaman nilai-nilai moral di kelas inklusi di MA Darun Najah Malang diimplementasikan melalui penanaman nilai-nilai moral pada siswa di kelas Berangsur-angsur melalui contoh, dari guru menjadi contoh yang baik bagi Menanam melalui pembiasaan, seperti apel pagi untuk melatih kedisiplinan siswa tepat waktu, tadarrus sebelum mulai belajar, shalat duha dan shalat fardhu berjamaah, dzikir bersama setiap selesai shalat fardhu, dan menerapkan budaya 5S . enyum, salam, salam, salim, santu. Kultivasi melalui nasihat, seperti selalu memberikan nasihat atau arahan kepada siswa di kelas inklusi yang berkaitan dengan kultivasi moral. Berangsur-angsur melalui teguran dan hukuman, seperti menegur siswa yang memiliki moral buruk dan menghukum mereka yang selalu melakukan kesalahan berulang kali. Faktor penghambat dan pendukung dalam strategi penanaman nilai-nilai moral pada kelas inklusi di MA Darun Najah Malang, yaitu: Faktor penghambat, yaitu masih ada siswa yang tidak memiliki tingkat kesadaran, emosi yang tidak stabil, perkembangan teknologi dan kurangnya perhatian orang tua. Faktor pendukung, yaitu kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru dan orang tua siswa, sarana dan prasarana yang memadai, aturan yang harus dipatuhi dan kesadaran pada siswa untuk mengubah akhlaknya. Kepada para guru di MA Darun Najah Malang, diharapkan agar selalu memperhatikan dan meningkatkan pengawasan terhadap peserta didik dalam upaya meningkatkan pelaksanaan penanaman nilai-nilai akhlakul karimah pada kelas inklusi di MA Darun Najah, karena mereka merupakan harapan terbesar sebagai penerus bangsa yang Islami. Bagi peserta didik di MA Darun Najah Malang. EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024 97 Machnunah. Muhamad. Alfi : Strategi Penanaman Nilai-Nilai Keteladanan A untuk Kelas Inklusi di MA Darun Najah agar selalu patuh pada aturan sekolah dan yakin bahwa semua yang dilakukan oleh guru semata-mata demi kebaikan mereka sendiri. DAFTAR RUJUKAN Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia (Jakarta. Rajawali Pers, 2. , h. Ali Mahdi Khan. Dasar-Dasar Filsafat Islam (Pengantar Ke Gerbang Pemikira. , (Bandung: Nuansa, 2. Hlm. Ary Antony Putra. Konsep Pendidikan Agama Islam Perspektif Imam Al-Ghazali, (Pekanbaru: Universitas Islam Riau, 2. Vol. No. Hal 51. Bandi Delphie. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi, (Yogyakarta: PT. Intan Sejati Klaten, 2. , hlm. Bandi Delphie. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi. Beni Ahmad Saebani,Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia,2. ,h. Haidar Putra Dauly. Pendidikan Islam dalam Persefektif Filsafat (Jakarta: Pramedia Group, 2. , h. https://kbbi. id/kelas, (Diakses pada 6 Agustus 2022, pukul 14:. Ibid. ,h. Joko Subagyo, . Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2. ,h. Khoirul Saleh. AuImplementasi Metode Penelitian Kualitatif dalam Bidang PendidikanAy. Jurnal Studi Islam dan Sosial. Vol. No. , h. Lexy J. Moelong. Metodologi. Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1. Lexy J. Moelong. Metodologi. Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1. Mawardi Lubis. Evaluasi Pendidikan Nilai, hlm. Meishanti. Diseminasi Uno Stacko Sebagai Games Based Tajwid Learning Pondok Pesantren Hidayatul QurAoan Desa Sentul. UN PENMAS Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume https://jurnal. id/index. php/un-penmas/article/view/2164/1720 Mohammad Efendi. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , hlm. Nur Rokhim. Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibn Maskawaih, (Surakarta : 2. Hlm. Pusat Bahasa ,Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2. , hlm. EDUSCOPE Vol. 9 No. 02 Januari 2024