Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume 3. Nomor 3. Juni 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat Suaidi Suaidi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Indonesia Korespondensi penulis : suaidi@untirta. Abstract: This study aims to provide an understanding of the religion of Muslims in using mosques as a means of community development. Mosques are not just a means of routine worship such as the five daily prayers, but mosques should be used as centers for community activities that are humanitarian in nature, both social and increasing competence in terms of understanding religious teachings, so that from the mosque a generation of Muslims who have adequate competence in terms of understanding religious texts grow and develop, so that religion is used as a guideline for life in living life in the world. Mosques are also a place for developing the economic empowerment of the community, so that the practice of Islamic law related to financial obligations such as zakat and the hajj can be carried out by the community who can use and utilize the mosque as a means of Keywords: Function of Mosques. Islamic Law. Welfare. Abstrak : Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman keagamaan ummat Islam dalam menggunakan masjid sebagai sarana pembinaan ummat. Masjid bukan hanya sekedar sarana peribadatan rutin seperti sholat lima waktu, akan tetapi masjid hendaknya dijadikan pusat kegiatan ummat yang bersifat kemanusiaan, baik yang bersifat sosial maupun peningkatan kompetensi dalam soal pemahaman ajaran agama, sehingga dari masjid tumbuh dan berkembang generasi muslim yang memiliki kopetensi memadai dalam soal pemahaman teks-teks keagamaan, sehingga agama dijadikan sebagai rambu kehidupan dalam menjalkani kehidupan di dunia. Masjid juga sebagai tempat pengembangan pemberdayaan ekonomi ummat, sehingga pengamalan syariat Islam yang terkait dengan kewajiban finansial seperti zakat dan ibadah haji dapat dilaksanakan olah ummat yang dapat menggunakan dan memanfaatkan masjid sebagai sarana pembinaan. Kata Kunci: Fungsi Masjid. Sejahteraan. Syariat Islam. LATAR BELAKANG Masjid sebagai salah satu pusat pelaksanaan ibadah yang terkoneksi langsung kepada Allah. SWT seperti sholat lima waktu yang telah menjadi budaya bagi sebagian kalangan ummat Islam, sebagai wujud dari pengamalan Sunnah Rasulullah mengintruksikan dalam sebuah hadistnya bahwa melaksanakan sholat berjamaah di masjid akan mendapatkan pahala dua puluh tujuh derajat bila dibandingkan dengan sholat di tempat lain . elain masji. Bahkan dalam al-quran Allah. SWT berfirman bahwa dapat diketahui indikasi kuatnya iman seseorang diukur dengan seberapa banyak dia menggunakan masjid sebagai sarana ibadah terutama sholat lima waktu. Dalam hadist lainnya Nabi Muhammad. SAW menjelaskan bahwa orang yang hatinya selalu tertambat dengan masjid akan terlindungi dari teriknya sinar mata hari di padang mahsyar. Amidan . menjelaskan bahwa fungsi masjid sebagai sarana pelaksanaan pendidikan seumur hidup, sebagaimana dikenal di masyarakat modern bahwa pendidikan seumur hidup telah masuk dalam kategori kebutuhan, sebagaimana dikenal dengan istilah Long Life Education, pendidikan seumur hidup tidak seluruhnya dapat dilaksanakan di Received: Mei 11, 2025. Revised: Mei 25, 2025. Accepted: Juni 08, 2025. Published: Juni 10, 2025 Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat sekolah, bahkan sebahagian besar dilakukan di luar sekolah, melalui berbagai media. Tempat yang paling strategis adalah dilakukan melalui perpustakaan masjid. Fungsi utama masjid adalah sebagai tempat ibadah, tempat sujud dan munajat kepada Allah, bahkan komunikasi yang epektif antara seorang hamba dengan Allah. SWT dilakukan di dalam A,M. Romly . 0:vi. menjelaskan bahwa peran masjid dilihat dari perkembangan sampai dengan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat lima waktu, akan tetapi lebih luas lagi bahwa fungsi masjid sebagai tempat peningkatan kompetensi dalam pemahaman syariat Islam, juga sebagai sarana pengembangnan kreativitas ummat Islam dalam rangka mengembangkan potensi dan bakat yang ada pada masing-masing ummat, sehingga masjid bisa digunakan pengembangan sosial, seperti pendidikan, pengembangnan bisnis dan jenis pelatihan lainnya yang mendudukung terhadap setiap manusia untuk berkembang dan taat beribadah. Namun demikian, diberbagai tempat fungsi masjid baru sebatas diposisikan sebagai tempat ibadah mahdhoh, maka dari itu masjid dianggap sebagai tempat suci, harus steril dari bebagai najis, bahkan sebagian pendapat jika tidak beraqidah Islam dilarang masuk masjid karena hukumnya najis, walaupun pendapat tersebut belum didukung dengan argumentasi yang valid. Begitulah posisi masjid bagi kalangan ummat Islam, dipandang suci dan harus tetap steril dari bebagai kemungkinan terkena najis. Berdasarkan sejarah Islam bahwa masjid memainkan peranan penting dalam pembinaan ummat Islam. Masjid yang didirikan selalu disiapkan dengan perangkat perpustakaan . alaupun sederhan. dan dilengkapi dengan disediakannya guru atau ustad sebagai tenaga sukarela untuk menghabiskan umurnya dalam penngelolaan masjid, baik Imarah. Idaroh maupun Riayah. Dalam sejarahnya pengelolaan masjid sangat sederhana, karena dikelola oleh orang-orang yang siap mewakafkan umurnya untuk masjid, meraka tidak digajih, bahkan masjid tidak memiliki anggaran secara khusus, sementara untuk kebutuhan renovasi masjid hanya mengandalkan partisipasi masyarakat untuk iuran atau sumbangan seikhlasnya tidak ada target apapun. Masjid adalah milik dan dibutuhkan oleh masyarakat dibangun dan didanai oleh keikhlashan masyarakat dengan pengerjaannya secara gotong Dalam perkembangan awalnya masjid sebagai balai pertemuan untuk membicarakan soal-soal ekonomi, sampai dengan pembicaraan politik dan pengaturan strategi peperangan langsung dipimpin oleh Rasulullah Muhammad. SAW. Karena dominannya fungsi masjid maka diharapkan generasi yang terbina dari masjid akan menjadi pioner-pioner sejati yang memegang teguh prinsip kebenaran dan komitmen terhadap pengamalan ajaran agama yang didapat dari masjid. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Menyikapi perkembangan pembangunan saat ini, dimana pemerintah sedang pembangunan spritualisme, dalam upaya agar manusia mengingat dan mengetahui ekistensi dirinya yang sepenuhnya akan dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT sang pencipta sekalian alam termasuk manusia, tidak diciptakan gratis tanpa pertanggung jawaban Ilahy. Maka, masjid sebagai sarana efektif untuk dijadikan tempat pembinaan ummat dan praktek bagaimana seharusnya manusia mengabdi kepada Allah. SWT. Dengan kesadaran manusia secara kolektif akan ekestinesi dirinya, akan turut andil dalam memberikan kontribusi yang besar terhadap penciptaan manusia yang bermoral secara Dengan demikian, cita-cita pembangunan inprasturktur yang dicanangkan oleh pemerintah bisa berjalan dengan baik sesuai rencana, karena bertumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat yang memiliki moral yang baik hasil pembinaan yang dilaksanakan dalam masjid. Dengan demikian, masjid secara kolektif akan berfungsi sebagai pusat pembinaan ummat, khususnya ummat Islam, jika ummat Islam telah terbina kemudian munculnya ummat yang bermoral dan tingginya kesadaran beragama, maka akan mampu mewakili ummat lainnya dalam mewujudkan pergaulan yang harmonis, sebagai modal terwujudnya pembangunan disegala bidang. Dengan demikian, bahwa fungsi masjid dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Tempat Ibadah, fungsi utama masjid adalah sebagai tempat ibadah khususnya sholat baik sholat lima waktu maupun sholat jumat. Ummat Islam berkeyakinan bahwa sholat sebagai indikator baik buruknya prilaku seorang muslim, jika sholatnya baik maka baik pula prilaku ummat manusia. Untuk menyiapkan manusia yang memiliki prilaku baik, dilakukan melalui perbaikan sholatnya, melalui pengkajian syariat Islam yang dilakukan di masjid. Oleh karenanya, fungsi masjid disamping sebagai sarana pokoknya untuk melaksanakan sholat lima waktu dan sholat jumat, juga digunakan untuk pengkajian yang berkaitan dengan persoalan kemasyarakatan baik menyangkut persoalan ibadah dan berbagai prosedur pelaksanaan ibadah, maupun yang berkaitan dengan persoalan sosial kemasyarakatan. Dalam perkembangannya, tidak menutup kemungkinan masjid juga digunakan sebagai lembaga pendidikan baik tingkat dasar . Pusat Pendidikan dan Dakwah, di masjid juga dalam perkembangannya secara umum dapat dilihat bahwa pengkajian dan pengajian selalu dilakukan di masjid-masjid. Masjid dapat dijadikan sebagai tempat meningkatkan kompetensi keagamaan juga dapat dijadikan sarana untuk menebarkan ilmu pengetahuan. Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat baik pengetahuan tentang keislaman maupun ilmu pengetahuan sosial kemasyarakatan bisa dilakukan kajiannya di masjid. Pusat kegiatan sosial, secara alamiah dan berdasarkan adat istiadat yang telah menjadi budaya bahwa kegiatan sosial kemasyarakatan selalu dimulai dari masjid, seperti gotong royong, atau kegiatan sosial lainnya seperti pemotongan hewan kurban yang silaksanakan setiap hari raya AoIdhul Adha. Masjid dijadikan sebagai symbol pemersatu ummat, untuk mengukur tingkat keimanan suatu anggota masyarakat dapat dilakukan dari tampilan profil masjidnya, jika masjid tertata dan terkelola denngan baik, maka dapat dipastikan bahwa tingkat keimanan masyarakat tersebut baik, demikian pula sebaliknya, jika masjidnya kumuh dan tidak tertata dengan baik, maka tingkat keimanan masyarakat tersebut juga lemah. Karena masjid dianggap sebagai symbol pemersatu ummat, maka dalam perkembangannya ada ketentuan radiusasi letak masjid, tidak boleh membangun masjid terlalu dekat jaraknya antara satu masjid dengan masjid lainnya, bahkan kearifan lokal dalam ketentuan pembangunan masjid selama masih kuat ditempuh dengan berjalan kaki maka itulah jarak pembanguan masjid yang satu dengan masjid lainnya, kebijakan ini diambil berdasarkan kesepakatan antar warga masyarakat demi terwujudnya harmoniasi pergaulan antar anggota masyarakat, sehingga konflik yang sering terjadi akibat berdekatannya antara masjid yang satu dengan masjid lainnya, akan memunculkan persaingan dan demonstrasi pelaksanaan semaraknya ibadah bisa menjadi pemicu terjadinya konflik. Kebijakan ini dilakukan, karena adanya semangat persatuan ummat jangan sampai ummat terpecah, terutama dalam pelaksanaan sholat jumat diharapkan berpusat dalam satu masjid, sesuai radius yang telah disepakati. Namun demikian. Muchtar Jarkasyi . menjelaskan bahwa sampai saat ini fungsi masjid masih terbatas sebagai tempat dan pusat ibadah, sementara fungsi-sungfi lainnya seperti pembinaan dan pemberdayaan ummat masih menggunakan sarana di luar masjid. Dengan perkembangan masjid yang terus berkembang dari tahun ke tahun, akan berdampak besar dan siginifkan terhadap pola pembinaan ummat melalui masjid. Maka, jika masjid dimenigerial dengan baik akan memunculkan potensi ummat yang luar biasa tidak terbatas hanya pada pembinaan ummat dalam soal spiritual akan tetapi bisa berkembang kepada peningkatan ekonomi ummat. Penelitian ini sebagai sumbangsih sekapur sirih dalam upaya peningkatan pemberdayaan ummat melalui pemberdayaan masjid, sehingga masjid bukan hanya sekedar berfungsi sebagai tempat ibadah pokok melainkan juga sebagai tempat pengembangan kompetensi ummat dalam pemahaman JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. terhadap ajaran agama, termasuk sebagai tempat pemberdayaan dan peningkatan ekonomi LANDASAN TEORI Landasan pengelolaan masjid adalah firman Allah. SWT dalam surah Attaubah ayat 18 sebagai berikut. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut . epada siapapu. selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q. Attaubah:. Memposisikan masjid sebagai sarana pembinaan ummat memiliki pengaruh positif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat termasuk kualitas hidup warga negara. Oleh karenanya, setiap muslim berkewajiban untuk terlibat aktif dalam pengelolaan masjid agar masjid lebih berdaya guna, bukan sekedar tempat ibadah pokok seperti solat lima waktu, akan tetapi kehdiran masjid harus dijadikan kebutuhan bagi masyarakat. Andi Lolo Tonang . menjelaskan hendaknya masjid berfungsi sebagai penyejuk bagi kehidupan masyarakat, karena dari masjid terdengar sejuknya suara yang membawa pesan moral, kemudian menumbuhkan aroma interkasi sosial yang damai dan harmonis. Masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam yang digunakan untuk melaksanakan salat dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Definisi Masjid diambil dari kata . ahasa Arab: A ) aI aeAsecara harfiah berarti "tempat sujud". Hal ini menunjukan ketika zaman Rasulullah SAW, bahwa setiap perjalanan firkoh beliau dalam peristirahatan kemudian meletakkan batu-batu dan melaksanakan solat disitu dan itu bisa disebut masjid. Dengan demikian, yang dinamakan masjid itu bukan bangunan tinggi lengkap dengan indahnya bangunan menara sebagai ciri khas bangunan masjid. Akan tetapi masjid itu secara etimologi berarti hamparan tanah yang dipakai tempat sujud. Ini adalah bangunan yang disiapkan khusus untuk melaksanakan salat lima waktu dan kegiatan keagamaan lainnya. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat komunitas, pendidikan, dan kegiatan sosial bagi umat Islam, kehadiran masjid telah menjadi kebutuhan bagi komunitas ummat Islam, bahkan dalam kondisi tertentu masjid dapat dijadikan sebagai simbol pemersatu ummat, sehingga dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa serta stabilitas dan ketahanan nasional, maka kehidupan beragama perlu dibina dan diarahkan guna memantapkan kerukunan hidup intren ummat beragama, kerukunan hidup antar ummat beragama dan kerukunan hidup antara ummat beragama Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat dengan pemerintah. Dan, pembinaan ummat yang bertujuan untuk amenumbuh kembangkan kesadaran dilakukan di masjid. Pembinaan ummat yang dilakukan di masjid akan lebih efektif dan mempercepat tumbuhnya kesadaran akan pentingnya memahami tuntunan yang diajarkan agama, sampai tumbuhnya kesadaran bahwa melakukan penghambaan kepada Tuhan sebagai tujuan hidup, dan berbuat baik kepada sesama suatu hal yang dibutuhkan dan harus diciptakan, sebagaimana Nabi Muahmmad SAW bersabda. Aorang yang beriman kepada Allah. SWT dan hari kiamat ialah yang mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (H. Bukhori Musli. Diharapkan dari ummat yang menjadikan masjid sebagai pusat penghambaan kepada Allah. SWT, akan melahirkan ummat yang memiliki prilaku humanis, menghormati dan menghargai terhadap ummat lainnya. Kesadaran inilah yang dijadikan prioritas pembangunan manusia seutuhnya. Sebab, program kesejahteraan yang disajikan kepada masyarakat yang moralnya tidak baik, tidak akan memberikan dampak yang Masjid adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam. Disebabkan masjid memiliki beberapa fungsi strategis dalam upaya meningkatan berbagai kompetensi ummat maka keberadaan masjid pada suatu masyarakat sangatlah urgen. Ummat muslim menjadikan masjid sebagai kebutuhan bukan hanya sebagai bangunan yang dijadikan identias suatu masyarakat muslim. Generasi yang terdidik dari masjid akan tumbuh dan berkembang di masyarakat menjadi generasi yang jujur dan memiliki kompetensi pemahaman agama yang baik. Sebab, masjid dijadikan sebagai pusat kajian syariat Islam. Dan, tidak menutup kemungkinan bahwa generasi muda yang terdidik dari masjid akan tumbuh berkembang di masyarakat sebagai generasi yang memiliki kemampuan untuk berbisnis sebab masjid juga dijadikan tempat pelatihan pengembangan Dengan demikian, generasi yang hidupnya digunakan untuk berkreasi dan aktif di masjid akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang cerdas, inovatif dan berakhlakul karimah. Generasi muda yang memiliki akhlak dan kecerdasan yang maksimal saat ini telah tergerus oleh pesatnya perkembangan modernisasi, sehingga nyaris melupakan bahwa masjid sebagai saran pembinaan ummat. Dalam rangka menyelamatkan para generasi muda yang dipersiapkan untuk meneruskan estafeta kepemimpinan, seharusnya steril dari pengaruh budaya yang cenderung merusak pola pikir anak-anak muda, maka masjid berperan penting untuk difungsikan sebagai sarana untuk menampung kegiatan keagamaan dan kegiatan lainnya yang bermanfaat untuk membekali anak-anak muda untuk menyongsong masa depannya. Maka, masjid harus terkelola denngan baik, oleh orang-orang yang memiliki keahlian JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. manejerial dan administrasi yang memadai. Jadi pengurus masjid tidak lagi sambilan melainkan harus fokus, sehingga kehadiran masjid sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Misi dakwah Rasulullah Muhammad SAW diawali dari masjid, sehingga lahir orangorang yang handal pada bidangnya, baik itu ahli dalam bisnis maupun ahli dalam strategi Namun demikian, sampai saat ini masyarakat belum menyadari sepenuhnya akan ekistensi masjid dalam upaya turut andil untuk memberikan konstribusi dalam mengantarkan pembangunan generasi muda khususnya dan pada umumnya untuk memberikan kontribusi terhadap kaum muslimin dalam upaya meningkatkan kualitas ibadah melalui pembinaan dan pengajian yang diselenggarakan di masjid. Masjid yang saat ini tumbuh berkembang, hanya sebatas kegemaran masyarakat untuk membangunnya, karena adanya pengaruh doktrin agama yang mengajarkan, barangsiapa membangun masjid di dunia imbalannya akan dibangunkan sebuah istana di Oleh karenanya, dengan ilmu pegetahuan masyarakat yang terbatas, mereka baru sebatas semangat dan senang membangun masjid dan turut andil dalam menyukseskan dibangunnya sebuah masjid, sementara penggunaan setelah dibangun bagaimana seharusnya masjid bisa berfungsi di tengah-tengah masyarakat juga memberikan konstribusi dalam pengembangan kualitas ibadah belum terpikirkan. Sehingga akibatnya, bangunan masjid yang terkesan mewah, tidak dibarengi dengan kualitas pengelolaannya, akan berdampak pada perkembangan masjid itu sendiri. Dan, bangunan masjid yang tidak dibarengi dengan pemanfatannya sebagai sarana pengembangan kualitas jamaah masjid. Maka, tidak berbanding lurus antara bangunan masjid yang mewah dengan peningkatan kualitas pemahaman jamaah terhadap syariat Islam. METODE PENELITIAN Dalam menggunakan bahan yang diperlukan dalam peneliatian ini, penulis menggunakan metode diskriptif dengan beberapa tahapan untuk memperoleh kesimpulan hasil penelitian yang obyektif diantaranya sebagai berikut. Pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan melalui bahan telaAoahan . ibrari reaseac. dengan mengumpulkan bahan, mengidentifikasi dan mengklasifikasi sesuai dengan obyek penelitian yang dilakukan. Tahapan pengolahan data. Untuk mengolah data yang telah penulis inventarisir, penulis menggunakan teknik sebagai berikut. Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat Induktif, menghubungkan dengan satuan klasifikasi kemudian menentukan kesimpulan secara generalisasi. Deduktif, yaitu memegang kaidah . yang bersifat umum, penulis mengambil suatu pengertian untuk diterapkan pada hal-hal yang bersifat khusus. Komperatif, yaitu membandingkan landasan teoritis tentang ekistensi masjid kemudian dihubungkan dengan realitas kehidupan masyarakat di tengah-tengah kegemaran membangun masjid. Dari teori-teori itulah penulis dapat mengambil kesimpulan, seberapa dominan masjid memberikan konstribusi dalam pengembangan kualitas ibadah ummat, dan seberapa besar kontirbusi masjid memberikan andil dalam pengembangan sumber daya manusia, yang terbina dan terdidik dari masjid. Dari analisis itulah penulis dapat mengambil kesimpulan, bahwa kontribusi masjid terhadap pembangunan manusia seutuhkan sangatlah besar. Sehingga dengan optimalisasi fungsi masjid, melahirkan generasi muda yang handal baik dalam beribadah maupun mengembangkan potensi dirinya yang dihasilkan dari pendidikan yang dilakukan dalam masjid, sehingga kehadiran masjid di tengah-tengah masyarakat merupakan kebutuhan tidak hanya sekedar simbol dari keberadaan ummat Islam. Sementara fungsinya tidak dirasakan secara maksimal oleh masarakat Islam sendiri. Penelitian ini akan memberikan tambahan literasi sejauhmana fungsi masjid memberikan konstribusi dalam peningkatan kualitas ibadah ummat atau jamaah masjid. PEMBAHASAN DAN HASIL Sampai saat ini bahwa masjid baru sebatas bangunan yang dipersiapkan husus untuk melaksanakan ibdah sholat lima waktu dan sholat jumat, sementara kegiatan keagamaan yang lainnya seperti pendidikan agama, kajian dan pengembangan sosial ekonomi cenderung dilaksanakan diluar masjid. Walaupun ada bangunan masjid yang digunakan untuk kegiatan selain ibadah sholat lima waktu dan sholat jumat, jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah masjid yang ada. Artinya, masjid yang dikelola secara professional dan dijadikan tempat untuk meningkatkan kompetensi ummat, baik kompetensi kajian keilmuaan tentang keagamaan maupun kegiatan sosial lainnya, jumlahnya masih kecil sekali. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Jumlah masjid yang begitu banyak dan bangunan yang begitu mewah bila fungsinya dimaksimalkan, akan memiliki manfaat sangat besar dalam rangka meningkatakan kualitas ummat hususnya bangsa Indonesia. Tidak hanya terbatas pada peningkatan kualitas iman dan takwa saja, akan tetapi juga peningkatan kualitas kehidupan, yang meliputi kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi ummat, gotong royong dan ibadah sosial lainnya. Beradasarkan buku tuntunan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama . bahwa untuk memfungsikan masjid pola pembinaannya terbagi kepada tiga bagian yaitu . Idaroh, kegiatan yang menyangkut perencanaan, pengorganisasian pengendalian, pengadministrasian dan pengawasan, . Imaroh, kegiatan memakmurkan masjid seperti kegiatan peribadahan, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan peringatan hari berar Islam, . RiAoayah, kegiatan pemeliharaan bangunan, peralatan, lingkungan, kebersihan, dan keindahan masjid termasuk penentuan arah kiblat. Sedangnkan dalam operasional pengelolaan dijelaskan dalam buku panduan masjid . ialah meliputi. Perencanaan. Pengurus masjid dalam jabatan apapun hendaknya memiliki keahlian memimpin. Dengan demikian, bagi orang yang hendak menjadi pengurus masjid harus memahami segala permasalahan dalam bidangnya. Salah satu bentuk kegiatan dalam pengelolaan masjid adalah perencanaan. Semua unit kepengurusan harus memiliki rencana yang kongkrit dalam bidangnya. Oragnisasi Masjid harus memiliki kepengurusan akan tetapi jumlah kepengurusan masjid disesuaikan dengan kebutuhan, tentang jumlah pengurus tidak ada ketentuan yang baku, akan tetapi ketentuan pokoknya sebagaimana tersebut dalam struktur kepengurusan di bawah, untuk bidang-bidang dikordinatori seorang dan jumlah anggota disesuaikan dengan kebutuhan dan kategori masjid sesuai dengan ketentuan Kementerian Agama. Ketua Sekretaris Bidang Idaroh Bidang Imaroh Bendahara Bidang Ri'ayah Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat Dari struktur sebagaimana tersebut di atas jika dinarasikan, bahwa susunan pengurus masjid sekurang-kurangnya terdiri atas. Seorang Ketua, . Seorang Sekretaris, . Seorang Bendahara, . Seorang Ketua Bidang Imaroh ditambah dengan anggota yang berjumlah disesuaikan dengan kebutuhan, . Seorang Ketua Bidang RiAoayah ditambah dengan anggota yang berjumlah disesuaikan dengan kebutuhan, . Seorang Ketua Bidang Idaroh ditambah dengan anggota yang berjumlah disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam rangka meningkatkan kemakmuran masjid sebagai tempat ibadah, pembinaan ummat dan peningkatan kesejahteraan ummat. Dalam upaya memaksimalkan fungsi masjid, maka pengurus masjid berkewajiban untuk melaksanakan pembinaan kepada jamaah, agar jamaah masjid ketakwaan dan pemahaman keagamaannya terus meningkat, sehingga jamaah dan masyarakat di sekitar masjid menjadi masyarakat yang memiliki ketakwaan yang berkualitas. Dari pemahaman agama yang baik akan lahirlah ummat muslim yang bermartabat dan bermoral baik, sehingga memberikan dampak kepada pergaulan di masyarakat menjadi harmonis dan damai. Dengan demikian, masjid yang dikelola dengan baik akan memberikan konstribusi menumbuhkan pergaulan yang harmonis dalam suasana damai, tenteram. Rasulullah SAW dalam sebuah hadistnya bersabda sebagai A. Ada tujuh macam orang yang Allah SWT telah berjanji akan melindungi mereka di bawah lindungannya, pada saat tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah. SWT . i Padang Mahsya. Imam (Pemimpi. yang adil, . Pemuda yang semenjak kecil sampai besarnya taat beribadah kepada Allah. SWT, . Seorang yang hatinya terpaut dengan masjid, sehingga apabila ia keluar dari masjid ia ingin kembali ke masjid, . Dua orang yang berkasih sayang karena Allah. SWT, mereka bertemu dan bercerai hanya karena Allah. SWT, . Seorang yang ingat kepada Allah. SWT, lalu meneteskan air matanya padahal ia sendirian, . Seorang laki-laki yang diajak oleh perempuan yang mempunyai pangkat dan cantik untuk berzina, lalu laki-laki itu berkata AuAku takut kepada Allah. SWTAy . Seorang yang mendermakan suatu sedekah, maka ia sembunyikan sedekahnya itu, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang keluar dari tangan kanannya (H. Bukhori Musli. Hadits tersebut memberikan pendidikan kepada ummat manusia, bahwa urgensi masjid sangat besar bagi kehidupan manusia, sekaligus mengantarkan manusia pada keselamatan dunia dan akhirat. Setiap ummat Islam pastinya mengakui bahwa setelah kehidupan dunia akan ada kehidupan akhirat bahkan kehidupan yang langgeng, dalam rangka mempertanggung jawabkan kehidupan di dunia maka hanya jejak ibadah yang JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. diridhoi Allah. SWT yang mampu memberikan perlindungan dari ancaman dan siksa yang akan diterima sebagai konsekwensi perbuatannya saat di dunia, dan masjid merupakan salah satu yang mampu memberikan konstribusi untuk memberikan pembelaan dan kesaksian di hadapan Allah. SWT bahwa manusia tersebut telah membangun dan mengunakan fasilitas masjid sebagai tempat pembinaan ummat, dalam rangka meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah. SWT. Dalam panduan perpustakaan masjid . dijelaskan bahwa dalam masa pembangunan seperti sekarang seluruh masyarakat diharapkan berperan aktif dalam upaya mengoptimalkan peran masjid dan perpustakaan masjid memberikan sumbangsih untuk meningkatkan kualitas pengetahuan ummat, sehingga pola pikir ummat sejalan dengan arah pembangunan yang digagas oleh pemerintah. Pembangunan imprastruktur yang tidak diimbangi dengan pembangunan kualitas manusianya kegagalan itu dapat dipastikan. Apabila dilihat secara obyektif keadaan ummat Islam masa kini mesti diakui secara jujur, bahwa ummat Islam masa kini, belum menunjukkan kesempurnaannya. Sidi Gazalba . menjelaskan bahwa keadaan ummat masa kini merupakan akibat dari keadaan masa lalu dan masa lalu itu diliputi dengan sejarah, untuk mengetahui keadaan ummat masa kini harus mengerti keadaan ummat masa lalu, dan masa lalu itu ditentukan oleh sejarah perjalannya. Pertumbuhan Islam yang digerakkan oleh Nabi Muhammad. SAW terdiri dari dua kurun yaitu . Kurun pertama disebut dengan kurun Makkah dimana Nabi Muhmmad SAW mengajar tentang keimanan, . Kurun kedua disebut dengan kurun Madinah pada kurun Madinah konsentrasi Nabi Muhammad. SAW mengajarkan tentang SyariAoat dan Akhlak. Kurun Makkah berujung dengan dilakukannya hijrah Nabi dengan shahabatnya ke Madinah, pada saat tiba di Madinah dengan sebutan kota Yasrib pada saat itu Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muhajirin dan kaum Anshor beliau bergotong royong untuk mendirikan Masjid yang pertama. Dari perjalanan sejarah dapat diketahui bahwa pembinaan ummat untuk mengenal dan melaksanakan perintah Tuhannya diawali dari Masjid. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa masjid berperan untuk. Masjid dijadikan sebagai tempat pengajaran dan pendidikan Islam . ewarisan agama dan kebudayaa. Masjid dijadikan sebagai pusat perpustakaan, sebagai himpunan khazanah ilmu . Masjid dijadikan sebagai pusat pengadilan dalam rangka memberikan pertimbangan hukum untuk menyelesaikan persengketaan antar ummat, dan tempat pelayanan keadilan bila ummat meminta untuk diperlakukan secara adil. Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat . Masjid juga dijadikan tempat merawat prajurit yang terluka dan sakit akibat . Masjid juga dapat dijadikan sebagai tempat menginap bagi para musafir yang sedang melakukan perjalanan. Para sahabat dalam memberikan pembalaan terhadap Nabi Muhmmad SAW diungkapkan dan dideklarasikan di Masjid. Masjid dijadikan tempat mengatur administrasi kenegaraan, dan sekaligus masjid dijadikan sebagai sekretarit negara. Masjid dijadikan sebagai tempat untuk mengembil keputusan strategis yang diambil untuk menentukan arah kebijakan negara. Masjid dijadikan untuk musyawarah pengambilan keputusan dalam rangka menentukan arah kebijakan kesejahteraan ummat. Masjid dijadikan sebagai tempat pemungutan suara dalam menentukan dan melaksanakan pemilihan pemimpin. Dari hal-hal yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad. SAW bersama sahabat beliau untuk memfungsikan masjid sebagaimana tersebut di atas, menunjukan bahwa masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah mahdhoh melainkan fungsi masjid sebagai tempat berbagai kegiatan kemasyarakatan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ummat. Pembinaan yang dilakkan di masjid terdiri dari . Pembinaan kehidupan suatu bangsa, pembinaan kebudayaan atau pembinaan muamalah, pembinaan sosial umpamanya, dengan menumbuhkan kaidah-kaidah sosial atau norma sosial baru. Dalam ekonomi, dengan mengugbah dan meningkatkan produksi, memperluas perdagangan dan meningkatkan pendapatan perkapita. Dalam bidang politik dengan menyusun Undang-undang baru yang pro ummat, mengubah organisasi sosial, meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, demikian pula pembinaan dalam bidang kehidupan lainnya. Sidi Gazalba . 5: . Menjeklaskan bahwa pembinaan yang dilaksanakan di Masjid didasarkan kepada kehidupan nyata, pembinaan itu akan tercapai dengan proses pendidikan yang dituntun oleh pemerintah. Pembinaan individu juga melalui pendidikan yang meliputi . Pendidikan rumah tangga, . Pendidikan sekolah, dan . Pendidikan masyarakat. Tujuan dari pendidikan yang dilakukan di masjid yaitu memberikan penjelasan kepada masyarakat untuk senantiasa meningkatkan pemahaman terhadap agama. Sebab, agama sebagai pedoman hidup untuk terus dipelajari dan diamalkan, pengkajian ilmu-ilmu kkeagamaan tidak akan pernah habis karena agama harus diamalkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian selama JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. manusia belum punah yang ditandai dengan datangnya hari kiamat, maka selama itu pula ilmu-ilmu keagamaan tidak akan terhenti, dan selalu membutuhkan kajian relevansinya dengan porkembangan zaman. Secara singkat dikatakan bahwa tujuan pendidikan yang digariskan oleh pemerintah secara nasional yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, dengan ciri-ciri manusia yang utuh dan cerdas itu ialah. Beriman dan bertkwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berbudi pekerti Memiliki pengetahuan dan keterampilan. Sehat jasmani dan rohani. Kepribadian yang mantap dan mandiri. Bertanggung-jawab terhadap masyarakat dan Perasan dari ke-enam tujuan pokok tersebut bahwa tujuan pendidikan menjadikan manusia yang unggul baik secara intlektual maupun spritualnya, untuk menyiapkan manusia yang unggul dengan kedua sisi tersebut tidak mudah, melainkan harus dirancang dari sejak dini. Maka dengan demikian keterlibatan orang tua sangat dominan untuk mempersiapkan manusia yang unggul dimaksud dan masjid sebagai sarana utama yang tembuh berkembang di masyarakat. Masjid telah menjadi budaya di masyarakat dijadikan simbol ketaatan anggota masyarakat kepada Tuhannya. Oleh karenanya, pembangunan masjid selalu melibatkan anggota masyarakat, dibangun dengan suka cita keterlibatan masyarakat, mereka rela menyumbangkan apa yang mereka miliki, yang memiliki kemampuan keuangan mereka dengan suka rela menyumbangkan uangnya, yang hanya memiliki tenaga juga mereka rela melaksanakan gotong royong. Keberadaan masjid di tengah-tengah masyarakat dijadikan kebutuhan pokok spiritual, setiap muslim dapat dipastikan pernah dan mengenal masjid sebagai sarana yang sengaja dan direncakan dibangun karena kebutuhan masyarakat. Jadi, bangunan masjid adalah selalu identik dengan perkembangan kualitas iman anggota masyarakat yang bersangkutan, semakin berkualits iman anggota suatu masyarakat, akan menunjukkan berkualitasnya pengelolaan masjid, demikian pula sebaliknya. Oleh karenanya, masjid dijadikan sebagai pusat pembinaan umat dalam berbagai aspek kehidupan. Jika masjid dijadikan indikator peningkatan kualitas iman anggota masyarakat. Maka, korelasinya semakin jelas jika keberadaan masjid tidak difungsikan sebagai sentral pembinaan ummat berakibat kepada beberapa hal sebagai berikut. o Menurunkan tingkat keasadaran keagamaan, tanpa kegiatan yang dipusatkan di masjid maka beresiko kepada masyarakat tersumbatnya akses pendidikan keagamaan, sehingga berakibat terhadap pemahaman keagamaan kurang optimal. Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat o Menurunnya solidaritas sosial, masjid keberadaannya sebagai pusat pertemuan anggota masyarakat, jika tidak digunakan sebagai pusat pertemuan anggota masyarakat, maka akan berakibat menurunkan tingkat kesadaran dalam memupuk persaudaraan dan kepedulian sosial, yang berakibat bermunculannya gaya hidup o Menurunnya bimbingan etika, jika masjid tidak digunakan sebagai sarana pembinaan moral, maka beresiko munculnya berabagai tindakan amoral yang diteruskan dengan tindakan-tindakan pelanggaran dan kejahatan lainnya. Sebab, keringnya moral anggota masyarakat dari siraman rohani akan akan berdampak pada hilangnya rasa malu, yang diteruskan dengan tindakan amoral lainnya. o Terkikisnya identitas keagamaan, sebagaimana telah disinggung di atas bahwa masjid sebagai simbol dan status keagamaan, ketika urgensi masjid diabaikan maka nilainilai keagamaan akan semakin larut dalam kepunahan. o Kesempatan dan peluang masuknya paham dan gaya hidup negatif semakin terbuka, jika pembinaan keagamaan melalui masjid sudah diabaikan, anggota masyarakat akan lebih mudah terpengaruh oleh gaya hidup yang terlepas dari etika dan moral, maka krisis moral akan bermunculan di masyarakat. Akibatnya, pergaulan bebas Solusi yang ditawarkan untuk mengantisipasi perbuatan yang tidak berbasis moral, maka masjid harus difungsikan sebabagi pusat pembinaan moral. Berbicara tentang pendidikan. Dahlan AS . menjelaskan bahwa dalam kehidupan di dunia ini hanya ada dua yaitu Khalik dan Makhluk. Khalik sebagai pencipta yaitu Allah. SWT yang memiliki kekuasaan tertinggi yang maha mengatur segala makhluk ciptannya, keberadaan Allah. SWT tidak diawali dengan tiada dan tidak diakhiri dengan tiada karena sifatnya abadi tanpa awal dan tanpa akhir, sedangkan Makhluk diciptakan melalui proses bergantung pada ruang dan waktu. Oleh karenanya makhluk tidak bersifat Dan, ternyata bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk Allah. SWT yang memiliki kesempurnaan dan keistimewaan dibandingkan dengan makhluk lainnya hal ini dikemukakan oleh Dahlan . keistimewaan manusia dapat dilihat dari berbagai . Manusia Lahir dengan fitrah, hal ini menggambarkan bahwa kelahiran manusia di dunia dalam keadaan fitrah yaitu suci tanpa beban dan dosa, kemudian manusia dibebaskan untuk menentukan jalan hidupnya. Sementara Allah sebagai penciptanya memberikan pilihan dimana setiap pilihan menimbulkan akibat atau konsekwensi, jika pilihannya sejalan dengan kehendak Allah maka dia akan menerima imbalan pahala JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. sedangkan jika pilihannya tidak sesuai dengan kehendak Allah maka manusia akan menerima akibatnya merupakan pembalasan dengan siksaan. Manusia diciptakan dalam keadaan sempurna, kesempurnaan manusia dapat dilihat dan sekaligus sebagai pembeda dengan makhluk lainnya . Bentuk tubuhnya yang bagus dan sempurna, . Indranya yang lengkap, semua indra itu berfungsi sesuai dengan forosnya sekaligus mampu berkomunikasi, . dianugerahi nafsu sekaligus dilengkapi dengan anugrah akal sebagai penyeimbang. Manusia diciptakan dengan kemulyaan, hanya manusia yang diberikan anugrah kemulyaan dengan kriteria sebagai berikut . Bentuk kemulyaan yang diberikan Allah tidak diminta oleh manusia sebagaimana tertuang dalam firman-Nya Dan . ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis. ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Q. Al-Baqoroh . Setelah Adam dipersatukan dengan Waha dalam hubungan suami isteri diperintahka langsung Oleh Allah untuk tinggal di syurga sebagaimana tertuang dalam firman-Nya. Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orangorang yang zalim. (Q. Albaqoroh . : . Manusia dipilih untuk menjadi khallifah di muka bumi, bumi adalah salah satu planet yang diciptakan Allah. SWT, dan sebagai penanggung jawabnya adalah manusia sekaligus sebagai pilihan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia dianugerahi Islam. Allah. SWT ternyata bertanggung jawab atas perintah-Nya menetapkan manusia sebagai khalifah-Nya. Untuk itulah lalu Allah. SWT menurunkan Islam di muka bumi ini yang dialamatkan kepada khalifah-Nya . Islam diturunkan kedunia sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia dalam Sehingga kehidupannya menjadi tertata dengan baik karena agama sebagai pedoman utama dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, pelaksanaan agama yang baik bila dilengkapi dengan ilmu pengetahuan yang baik sarana yang epekltif untuk melaksanaan pembinaan dalam pemahaman keagamaan adalah masjid. Karenanya, masjid dapat mengantarkan manusia untuk mengamalkan ajaran agama secara baik. Jika masjid dijadikan sarana pembinaan ummat dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupannya, maka masjid memberikan kontribusi besar terhadap perubahan pola kehidupan manusia menuju Eksistensi Masjid sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pemahaman Syariat Islam dan Peningkatan Kesejahteraan Ummat kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera juga diriudloi Allah. SWT sebagai puncak citacita sebagai ummat muslim. KESIMPULAN Masjid sebagai symbol kesucian bagi ummat Islam, perannya sangat strategis dalam rangka mengisi dan meningkatkan kualitas ummat manusia, baik kualitas spiritual maupun kualitas sosial ekonomi. Masjid tidak hanya dijadikan sebagai sarana pelaksanaan ibadah rutinitas seperti solat lima waktu dan solat jumat, akan tetapi masjid harus dijadikan sebagai sarana multifungsi, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sejarah perkembangan Islam. Masjid sebagai sarana pencetak kualitas ummat, dari masjid akan tumbuh dan berkembang generasi manusia yang memiliki kualittas spiritual dan kesejahteraan yang baik. Islam yang dikembangkan melalui masjid akan mampu melahirkan ummat yang humanis, dan toleran. Sebab. Islam hadir membawa pesan kedamaian, keharmonisan dan teleran terhadap ummat yang berbeda keyakinan . Kaitannya dengan urgensi masjid. Masjid harus dijadikan sebagai pembinaan ummat yang sesuai dengan sumber aslinya yaitu al-Quran dan al-Hadits, sehingga ummat tidak keliru dalam memahami ajaran dan syariat Islam, sebab jika pemahaman ajaran agam keliru akan berdampak kepada tindakan yang keliru. Maka, masjid akan mampu melahirkan umat yang humanis dan toleran. DAFTAR PUSTAKA