Volume 3 Nomor 1 . Pages 1 Ae 10 EduBase : Journal of Basic Education Email Journal : edubase. bbc@gmail. Web Journal : http://journal. id/index. php/edubase Efektifitas Model Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Amirudin 1A . Laela Yohana Kurniasih 2. IAI Bunga Bangsa Cirebon Email : amirudin. 8477@gmail. com1, laelayuhana09@gmail. Received: 2022-01-12. Accepted: 2022-02-27. Published: 2022-02-28 Abstrak Penelitian ini membahas efektivitas model pembelajaran talking stick dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas 2B di MI Al Washliyah Perbutulan. Kajiannya dilatar belakangi oleh rendahnya hasil belajar bahasa Indonesia di kelas tersebut, model pembelajaran yang kurang inovasi sehingga menimbulkan siswa kurang semangat dalam Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya efektivitas model pembelajaran talking stick dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas 2B di MI Al Washliyah Perbutulan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara. Sumber data dalam penelitian ini meliputi data primer yaitu guru walikelas 2B dan data sekundernya yaitu hasil belajar mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas 2B. Hasil data dianalisis menggunakan model analisis, dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan sebelum menggunakan model pembelajaran talking stick dalam kegiatan belajar mengajarnya guru menggunakan berbagai model pembelajaran akan tetapi pada mata pelajran bahasa Indonesia mengalami kendala yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor internal yakni faktor dalam diri siswa itu sendiri, terkait dengan minat dan motovasi belajar siswa untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Faktor eksternal yaitu penggunaan model pembelajaran yang tidak sesuai dengan materi yang di sampaikan. Selanjutnya, setelah penerapan model pembelajaran talking stick terhadap kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan terdapat perubahan yang pasti dibandingkan dengan tidak menggunakan model pembelajaran talking stick. Hal ini dapat terlihat dari jumlah siswa yang mencapai nilai di atas KKM dari jumlah 27 siswa hanya 2 siswa saja yang belum mencapai nilai di atas KKM. Kata Kunci: pembelajaran, model, talking-stick, bahasa-indonesia Abstract This study discusses the effectiveness of the talking stick learning model in learning Indonesian class 2B at MI Al Washliyah Perbutulan. The study was motivated by the low learning outcomes of Indonesian in the class, the learning model that lacks innovation, causing students to be less enthusiastic in learning. This study aims to determine the effectiveness of the talking stick learning model in learning Indonesian class 2B at MI Al Washliyah Perbutulan. The research method used is qualitative research. Data collection techniques using the interview Sources of data in this study include primary data, namely the homeroom teacher of class 2B and secondary data, namely learning outcomes of Indonesian language subjects for grade 2B students. The results of the data were analyzed using an analytical model, from data reduction, data presentation, and drawing conclusions and verification. The results showed that the application of learning for class 2B students at MI Al Washliyah Perbutulan before using the talking stick learning model in teaching and learning activities the teacher used various learning models, but in the Indonesian language subject there were obstacles caused by several factors, namely internal factors, namely factors within students. itself, is related to the interest and motivation of students to Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 2 | Efektifitas Model Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia participate in learning activities at school. External factors are the use of learning models that are not in accordance with the material presented. Furthermore, after the application of the talking stick learning model to class 2B MI Al Washliyah Perbutulan there was a definite change compared to not using the talking stick learning model. This can be seen from the number of students who achieved a score above the KKM from a total of 27 students, only 2 students who had not achieved a score above the KKM. Keywords: learning, model, talking-stick. Indonesian-language Copyright A 2022. Author. This is an open-access article under the CC BY-NC-SA 4. DOI: https://doi. org/10. 47453/edubase. How to Cite : Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 3 PENDAHULUAN Mutu pendidikan merupakan fokus perhatian dalam rangka memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat diantaranya dilakukannya upaya-upaya inovasi dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pendidikan adalah suatu tanggung jawab bagi semua pihak terutama guru dan orang Pendidikan merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh lingkungan kepada individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan-kebiasaan, pemikiran, sikap dan tingkah lakunya. Pendidikan nasioanal yang mempunyai fungsi dan tujuan telah direncanakan pemerintah dan dituangkan kedalam AyPendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawabAy, menurut Pasal 3 UU tersebut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pemerintah telah menetapkan standar nasional pendidikan yang digunakan sebagai rekomendasi dalam penetapan kurikulum sekolah dalam rangka memenuhi tujuan pendidikan Kurikulum adalah seperangkat pedoman dan peraturan yang mengatur tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta teknik pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pendidikan memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan mesyarakat, baik dalam kehidupan mereka sendiri maupun dalam kehidupan keluarga, bangsa, dan negara. Aspek guru atau pendidik sangat penting dalam upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, karena guru bertugas membangun manusia itu sendiri. Akibatnya, seorang pendidik membutuhkan keterampilan tersendidri dalam melaksanakan tugas mendidik siswa, keahlian saat menyelesaikan tugas ini, itulah yang disebut sebagai kompetensi. Kompetensi adalah keterampilan atau kemampuan yang digunakan dan menghasilkan hasil yang menguntungkan. Individu dilahirkan dengan keterampilan ini. (Suparman, 2012, (Pendidikan et al. , 2. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut: . kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pebelajar, . respon si pebelajar, dan . konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman. (Mudjiono & Dimyati, 2. Sedangkan menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari . stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan . proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. (Mudjiono & Dimyati, 2. Semua penjelasan di atas penulis dapat menyimpulkan, belajar adalah proses yang terus menerus dalam menerima pengetahuan baru dengan stimulant yang berpotensi untuk dapat Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 4 | Efektifitas Model Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia merangsang agar terjadi sikap pembelajar telah bergeser kea rah yang lebih positif. Belajar adalah proses mengubah tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman tertentu. Belajar merupakan peristiwa sehari-hari disekolah. Belajar merupakan hal yang Kerumitan dapat di lihat dari dua mata pelajaran, khususnya dari siswa dan dari Menurut sudut pandang siswa, belajar mampu sebagai suatu siklus. Menurut perspektif instruktur, siklus belajar muncul sebagai perilaku belajar tentang sesuatu. Betapapun lama manusia hidup di dunia ini, harus menerima instruksi. Sekolah menghabiskan sebagian besar hari yang disebut Life Long Education atau instruksi yang Sejalan dengan perkembangan masyarakat dewasa ini, pendidikan mengalami berbagai tantangan, salah satunya berkenaan dengan mutu pendidikan. Kelas bahasa Indonesia adalah agar siswa memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta dapat melihat nilai dalam bahasa dan tulisan sesuai dengan keadaan dan sasaran bahasa serta tingkat keterlibatan siswa sekolah dasar. (Akhadiah, 2. Lebih jauh lagi, manfaat belajar bahasa secara universal adalah memiliki peran utama dalam pribadi ilmiah, peningkatan social dan semangat siswa dan merupakan sekutu pencapaian dalam mempelajari semua bidang studi. Bahasa Indonesia adalah bahasa solidaritas yang menjadi kepribadian negara Indonesia. Menanamkan bahasa Indonesia sejak awal adalah memberikan persiapan dan pengajaran tentang bahasa Indonesia sejak dini. Pelaksanaan pendidikan bahasa Indonesia pada anak-anak harus dimungkinkan melalui pengajaran yang tepat, pelatihan santai, dan pengajaran non-formal. Sekolah diselesaikan oleh keluarga di rumah ketika anak itu di rumah bersama keluarganya. Sementara sekolah formal diselesaikan di lembaga pendidikan sejati mulai dari organisasi dasar hingga perguruan tinggi. Sementara pengajaran non-formal diselesaikan di luar rumah dan sekolah, itu cenderung melalui kursus, pelatihan, dan lainnya. Di lembaga formal, pengajaran bahasa Indonesia dimulai di sekolah dasar. Karena bahasa Indonesia memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari, itu adalah salah satu materi terpenting yang diajarkan di SD/MI. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang telah dijelaskan di atas, jelas tergambar bahwa fungsi pengajaran di sekolah dasar, bahasa Indonesia berfungsi sebagai wadah bagi siswa untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam menggunakan bahasa sesuai dengan kurikulum nasional, fungsinya bahasa itu, terutama sebagai alat komunikasi. Sangat penting untuk memperhatikan pelestarian dan pertumbuhan nilai-nilai luhur bangsa, serta peningkatan rasa persatuan nasional, ketika belajar bahasa Indonesia. (Ferdian, 2. Salah satu komponen terpenting dalam proses belajar mengajar adalah guru. Dengan adanya perkembangan IPTEK sekarang ini yang semakin bertambah maju dan modern. Sebagai seorang guru, maka dapat memanfaatkan perkembangan tersebut dalam pembelajaran. Namun, tidak semua guru memanfaatkan itu karena ada guru yang masih menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang mengacu pada zaman dahulu. (Shoimin, 2. Guru dan siswa merupakan dua pelaku yang melakukan kegiatan pembelajaran. Perilaku siswa adalah belajar, dan perilaku guru adalah mengajar. Belajar adalah suatu system yang terdiri dari banyak komponen yang semuanya saling terkait satu sama lain. Tujuan, bahan, prosedur, dan penilaian adalah beberapa dari komponen ini. Dalam memilih dan menentukan model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, pengajar harus mengkaji keempat komponen pembelajaran tersebut. (Rusman, 2. Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 5 Guru sangat menginginkan keberhasilan belajar mengajar dalam melaksanakan tugasnya, namun guru bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan Menurut Syaiful Bahri Djamarah, berbagai unsur mempengaruhi prestasi belajar, antara lain Aufaktor objektif, guru, siswa, kegiatan pendidikan, alat evaluasi, dan teman evaluasiAy. (Mustolih, 2. Cara guru dalam mengajar memang sangat berpengaruh terhadap gaya siswa dalam proses pembelajaran dan keberhasilan seorang guru dalam mengajar dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Naik turunnya kualitas hasil pendidikan salah satunya sangat ditentukan oleh pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Untuk mendapat hasil yang optimal dalam proses belajar mengajar dikelas perlu diperhatikan tiga komponen utama yaitu strategi, metode mengajar, dan media pembelajaran dan tidak lupa juga model pembelajaran. Ketiga komponen itu sangat berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Guru merupakan pihak yang paling banyak berhubungan dengan proses mengajar di Guru merupakan unsur terpenting dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Guru sangat menentukan bagi keberhasilan proses belajar mengajar dalam sebuah aktifitas Guru sangat dituntut untuk selalu berinovasi dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa agar siswa mudah memahami materi yang telah disampaikan oleh guru. Selain itu, masih ada guru yang belum memanfaatkan metode atau model-model pembelajaran yang inovatif, sehingga mengakibatkan siswa mengalami kejenuhan ketika belajar di dalam kelas. Sangat diperlukan pembelajaran yang benar-benar kondusif bagi pengembangan kepribadian dan hasil belajar siswa, karena inti dari pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang mengacu pada sikap, perilaku, pengetahuan dan keterampilan. Dalam membentuk pembelajaran yang kondusif memang dipengaruhi banyak faktor, salah satunya ditentukan oleh model pembelajaran yang digunakan guru serta kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran tersebut. Model pembelajaran talking stick merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh guru. Model pembelajaran talking stick termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif. Strategi pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah peserta didik mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran talking stick sangat cocok diterapkan bagi peserta didik SD. SMP, dan SMA/SMK. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat peserta didik aktif. (Shoimin, 2. Talking stick atau tongkat bicara adalah metode pengajaran untuk mengembangkan rasa percaya diri siswa dalam menjawab pertanyaan dan berbicara dengan orang lain. Sedangkan penggunaan tongkat secara bergiliran sebagai media untuk merangsang siswa bertindak cepat dan tepat sekaligus untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi . (Riadi, 2. Berdasarkan penjelasan di atas, sehinnga mendorong peneliti untuk menggunakan dan mengaplikasikan model pembelajaran talking stick agar proses pembelajaran akan lebih menarik sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran bahasa Indonesia sehingga meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 6 | Efektifitas Model Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Merujuk hal tersebut, akan dilakukan penelitian yang berjudul AuEfektifitas Model Pembelajaran Talking Stick Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas II MI Al Washliyah PerbutulanAy. METODOLOGI PENELITIAN Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat, mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta situasi-situasi tertentu termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, serta prosesproses yang sedang berlangsung dan pengaruh dari suatu fenomena. Jenis data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder yang akan dijelaskan sebagai berikut : Data Primer, yakni data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan dari sumber asli oleh orang yang melakukan penelitian. Data primer dalam penelitian ini adalah guru walikelas kelas 2B di MI Al Washliyah Perbutulan. Data Sekunder, data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian ini adalah hasil belajar mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan. Sumber Data Penelitian: Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil wawancara mendalam terhadap guru walikelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan yang berupa kata-kata dan tindakan sebagai sumber utama. Sedangkan foto dan sumber data tertulis sebagai data tambahan. Teknik pengumpulan data yang kerap kali digunakan dalam penelitian kualitatif adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN MI Al Washliyah Perbutulan menerapkan konsep belajar mudah dan menyenangkan. Inovasi ini terlihat di dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru di MI Al Washliyah Perbutulan dengan mengutamakan anak senang terlebih dahulu sehingga siswa tidak terasa bosan dan mudah dalam memahami pembelajaran di sekolah. Madrasah ini memiliki lingkungan yang cukup kondusif karena letaknya yang strategis dan menguntungkan dalam lingkungan pendidikan. Di samping itu, gedung MI Al Washliyah Perbutulan sangat menunjang dan memadai untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Lingkungan sekolah sekitarnya turut mendukung dan membantu kelancaran aktivitas sekolah. Berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenaik model pembelajaran Talking Stick terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Perencanaan pembelajaran model talking stick terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan Penerapan pembelajaran di kelas 2B menggunakan berbagai model dan metode pembelajaran, dalam pembelajaran bahasa Indonesia selalu mengupayakan menggunakan model pembelajaran yang inovatif agar siswa mempunyai semangat dalam belajar dan tercapainya tujuan pembelajaran. Akan tetapi, pada pembelajaran bahasa Indonesia materi kalimat permintaan tolong, siswa mengalami kesulitan dalam memahami materinya. Sehingga guru harus mulai berinisiatif untuk menggunakan model pembelajaran yang lainnya agar siswa mulai memahami materi pembelajarannya. Berdasarkan temuan hasil wawancara dengan guru walikelas 2B di MI Al Washliyah Perbutulan, guru selalu menyiapkan perencanaan pembelajaran sebelum melaksanakan Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 7 proses belajar di dalam kelas. Dengan berbagai macam model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan di pelajari sehingga akan berpengaruh terhadap hasil belajar Menurut Hamalik hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya dan yang tidak tahu menjadi tahu. (Hamalik, 2. Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik yang terjadi setelah mengikuti pembelajaran. Perubahan tersebut meliputi aspek kognitif . emampuan hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluas. , afektif . enerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi, dan karakterisas. dan psikomotorik . ersepsi, kesiapan, dan Hasilnya dituangkan dalam bentuk angka atau nilai. Definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah prestasi hasil belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Untuk menyatakan bahwa suatu proses balajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai. (Mulyana, 2. Hasil belajar ini belum menunjukkan perubahan tingkah laku dari siswa tersebut dikarenakan penerapan model pembelajaran yang belum maksimal dilaksanakan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Perubahan tingkah laku akan terlihat ketika siswa dan guru terdapat proses timbal balik dalam proses belajar. Penerapan model pembelajaran juga sangat berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku siswa dari berbagai aspek. Maka dari itu, sebelum menggunakan model pembelajaran yang cocok alangkah lebih baiknya disesuaikan terlebih dahulu dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa, agar siswa dapat menerima materi pelajaran dengan baik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang terdahulu dari Penelitian yang disusun oleh Syahid Galih Rakasiwi. Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung, yang mengatakan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran talking stick terhadap motivasi siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IV MI MathalaAoul Anwar Bandar Lampung. Penelitian yang dilakukan oleh penulis menunjukkan tidak ada perubahan dalam diri siswa dikarenakan dalam proses pembelajaran tidak menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa. Berdasarkan data yang disajikan pada bagian di atas mengenai hasil belajar, hal ini sesuai berdasarkan konsep atau teori yang di kemukakan oleh ( Hamalik,2. bahwa hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya dan yang tidak tahu menjadi tahu. Hal ini juga hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Syahid Galih Rakasiwi. Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung, yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran talking stick terhadap motivasi Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 8 | Efektifitas Model Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IV MI MathalaAoul Anwar Bandar Lampung. Berdasarkan beberapa hal di atas, penulis menyimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran model talking stick terhadap hasil belajar siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan, guru selalu menyiapkan perencanaan pembelajan sebelum melaksanakan proses belajar mengajar di dalam kelas, agar materi yang disampaikan oleh guru dapat dipahami oleh siswa. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran model talking stick terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan Berdasarkan hasil wawancara dari guru kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan, menyatakan bahwa siswa terlihat mulai aktif dan mulai menunjukkan peningkatan konsentrasi, hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya pemahaman siswa. Dapat di lihat dari sebelum menerapkan model talking stick pada pembelajaran bahasa Indonesia, masih ada siswa yang belum mencapai nilai di atas KKM. Setelah menerapkan model pembelajaran talking stick hasil belajar siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan terdapat perubahan atau peningkatan baik dari aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hal ini sesuai dengan konsep atau teori yang dikemukakan oleh Agus Suprijono dalam Aris Shoimin mengatakan bahwa AuPembelajaran talking stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat. Strategi ini diawali dengan penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Kemudian dengan bantuan stick . yang bergulir peserta didik dituntun untuk merefleksikan atau mengulang kembali materi yang sudah dipelajari dengan cara menjawab pertanyaan dari guru. Siapa yang memegang tongkat, dialah yang wajib menjawab pertanyaan . (Shoimin, 2014. Talking stick merupakan sebuah model pembelajaran yang berguna untuk melatih keberanian siswa dalam menjawab dan berbicara kepada orang lain. Sedangkan penggunaan tongkat secara bergiliran sebagai media untuk merangsang siswa bertindak cepat dan tepat sekaligus untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang terdahulu yang relevan, yakni dari Penelitian yang disusun oleh Nadia Nur Fadhilah, mahasiswa IAIN Metro Lampung, mengatakan bahwa model pembelajaran talking stick berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik, karena saat proses pembelajaran unsur permainan dan kerja kelompok antar peserta didik, sehingga dapat menumbuhkan rasa persaingan antar peserta didik dan pembelajaran dikelas dapat lebih menarik. Berdasarkan beberapa hal di atas, penulis menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran siswa kelas 2B di MI Al Washliyah Perbutulan setelah diterapkannya model pembelajaran talking stick dalam pembelajaran bahasa Indonesia tersebut bahwa model pembelajaran talking stick sangat berpengaruh terhadap bukan saja pada hasil belajar siswa melainkan dari segi sikap sosial, kognitif dan psikomotor. Sikap sosial siswa dapat di lihat adanya perubahan setelah diterapkannya model pembelajaran talking stick yakni siswa dapat bekerjasama menyesuaikan diri di dalam kelompoknya, dan sekaligus menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri. Dari aspek psikomotor, siswa mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru sekaligus mempresentasikan hasil dari materi pembelajaran yang dipelajari menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 EduBase : Journal of Basic Education. Volume 3 . Tahun 2022 | E-ISSN : 2722-1520 | 9 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran model talking stick siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan Berdasarkan hasil wawancara guru walikelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pembelajaran model talking stick yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berasal dari diri siswa, seperti kesehatan siswa, bakat, dan intelegensi siswa, minat dan motivasi siswa, serta cara belajar siswa. Faktor eksternal yang berasal dari luar individu, seperti faktor sekolah, keluarga, dan masyarakat. Hal ini sesuai berdasarkan konsep atau teori yang dikemukakan oleh (Slameto, 2010:. menerangkan bahwa faktor-faltor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor intern dan ekstern. Di mana faktor intern faktor yang berasal dari diri siswa seperti yaitu faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Faktor ekstern yang berasal dari faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang relevan, yakni dari Penelitian Dina Apriani Tambunan, mahasiswa dari UIN Sumatra Utara Medan, mengatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran talking stick pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terdapat pengaruh yang signifikan dibanding dengan hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dari rata-rata hasil belajar siswa dengan model pembelajaran talking stick yaitu 80 sedangkan untuk pembelajaran konvensional yaitu 64,16. Terdapat pengaruh yang positif dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Berdasarkan beberapa hal di atas, penulis menyimpulkan bahwa terdapat faktorfaktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran model talking stick siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari diri siswa sendiri, sperti kesehatan, minat, dan motivasi siswa. Sedangkan faktor ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar individu, seperti faktor sekolah, faktor keluarga, dan faktor masyarakat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dari pembahasan yang telah dipaparkan pada bab IV, dapat hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran model talking stick terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan, sebelum kegiatan belajar mengajar guru selalu membuat perencanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan materi yang akan dipelajari oleh Guru memilih model pembelajaran yang cocok untuk proses belajar mengajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam hal ini guru walikelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan memilih menggunakan model talking stick untuk pembelajaran bahasa Indonesia dan diharapkan siswa dapat memahami materi pelajaran bahasa Indonesia materi permintaan Kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran model talking stick terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas 2B MIAl Washliyah Perbutulan, terlihat siswa mulai aktif dan mulai menunjukkan peningkatan konsentrasi, hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya pemahaman siswa dan peningkatan hasil belajar pada Available at : http://journal. id/index. php/edubase/article/view/427 10 | Efektifitas Model Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia pembelajaran bahasa Indonesia. Juga terlihat peningkatan dari berbagai aspek yaitu dari aspek kognitif, aspek sosial dan aspek psikomotor. Ketiga, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pembelajaran model talking stick siswa kelas 2B MI Al Washliyah Perbutulan yaitu terdapat faktor internal berasal dari diri siswa sendiri seperti kesehatan, motivasi siswa dan minat siswa dan faktor eksternal yang berasal dari faktor sekolah, faktor keluarga dan faktor masyarakat DAFTAR PUSTAKA