JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 PESANTREN TERPADU SEBAGAI SOLUSI PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI ERA GLOBALISASI Vialinda Siswati IAI Darullughah WaddaAowah vialindasiswati@gmail. This article discussed about pesantren-based Islamic integrated education with the concept of integrated learning. Pesantren became great expectations of Muslims in the globalization era. Disclosure of pesantren of accepting modernization is regarded as a turning point Muslim recovery from the Pesantren who developed a system of public schools and Madrasah Diniyah as supporting educational institutions, regarded as the right system to develop professionalism, knowledge and noble character. Kata Kunci: pesantren terpadu, problematika PAI, era globalisasi a. Pendahuluan Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang khusus mengkaji ajaran agama Islam. Ajaran agama Islam tentu tidak hanya sebatas pada ritual Pendidikan Islam mempunyai posisi utama dalam kurikulum nasional pendidikan, karena pendidikan agama Islam menjadi ruh semua mata pelajaran yang diajarkan di lembagalembaga pendidikan Islam atau lembaga pendidikan Pendidikan agama Islam merupakan upaya normatif yang harus dijiwai oleh seleruh mata pelajaran yang ada, seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, sains dan lain Oleh karena itu, pendidikan agama Islam merupakan core dari segala nilai-nilai keIslaman dari ajaran fundamental Islam yaitu al-qurAoan dan hadits sebagai way of life guna menciptakan manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia (Tafsir, 2013: Dalam pendidikan agama Islam yang dijalankan di sekolah-sekolah masih dianggap kurang berhasil dalam menggarap sikap dan perilaku keragaman peserta didik serta membangun etika moral dan bangsa. Hal itu dapat dibuktikan dengan rekam jejak tren negatif remaja yang menghiasi berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Tren negative itu ditandai dengan maraknya seks bebas (Fuadz: 2. baik dikalangan anak remaja atau usia dewasa. Remaja korban narkoba di Indonesia 1. 1 juta orang atau 3,9% dari total jumlah korban perederan narkoba, tawuran pelajar. Berdasarkan data pusat pengadilan gangguan sosial DKI Jakarta, pelajar SD. SMP, dan SMA, yang terlibat tawuran mencapai 0,08% atau sekitar 318 siswa dari total 1. 835 siswa di DKI Jakarta, bahkan 26 siswa diantaranya meninggal dunia, dan perederan film Hal itulah yang menjadikan rusaknya moral bangsa ini menjadi akut. (Kesuma, 2011: 2-. Rekam jejak ini mengindikasikan kegagalan pendidikan Vialinda Siswati Ae Pesantren Terpadu di Era Globalisasi terutama kegagalan guru agama yang tidak mampu memberikan atsar atau pengaruh pada siswa untuk mencapai tujuan yang diamanahkan oleh undang-undang yaitu menciptakan insan yang beriman, bertakwa dan berakhlaq mulia (Tafsir, 2013: . Di samping fenomena kerusakan moral bangsa yang semakin akut, semangat keilmuan yang di amanahkan oleh al-qurAoan seperti cinta ilmu pengetahuan, kerja keras, profesional, juga tidak tampak sama sekali pada peserta didik. Stetement kegagalan pendidikan agama Islam tersebut dapat dikuatkan dengan berbagai argumen, antara lain adanya indikator-indikator yang melekat pada pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah, yang dapat diidentifikasi sebagai berikut: PAI kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi makna dan nilai atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik. Hal ini disebabkan karena ajaran agama merupakan hal-hal yang dokmatis yang harus diikuti walaupun tanpa mengerti di balik nilai-nilai keagamaan tersebut. Ditambah lagi dengan budaya taklid buta yang tidak ingin tahu-menahu makna dibalik ajaran PAI kurang berjalan bersama dengan program-program Artinya dikotomi keilmuan dalam pendidikan Islam masih dapat di kategorikan problem utama untuk menjadikan PAI sebagai ruh semua disiplin ilmu. Pendidikan agama Islam (PAI) masih diidentikkan dengan kajian ritual yang harus diikuti dan di yakini kebenarannya tanpa mengetahui makna dibalik ajaran agama itu sendiri . PAI kurang mempunyai relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat atau kurang ilustrasi konteks sosial budaya. Pembelajaran PAI masih statis kontekstual sehingga peserta didik kurang bisa menangkap nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. guru PAI masih dianggap minim strategi, metode, pendekatan dalam mengembangkan Islam (PAI). (Muhaimin, 2009: 30-. Indikator-indikator diatas merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri dan sampai saat ini masih menyelimuti pelaksanaan pendidikan agama Islam di berbagai lembaga pendidikan. Dikotomi sistem pendidikan, merupakan salah satu faktor utama penyumbang kegagalan Islam menanamkan jiwa-jiwa Islami dalam diri peserta didik. Sejak pendidikan di Indonesia sudah mewarisi pendidikan Islam dan pendidikan umum walaupun sejatinya sejarah tidak mencatat adanya ketegangan antara kaum agama dan kaum ilmuan seperti yang terjadi di Eropa sekitar abad 16-17, yang ditandai dengan sikap keras kaum agamawan Eropa . enganut geosentri. kepada penganut holiosentris seperti Copernikus. Bruno. Kepler. Galileo, dan lain-lainnya (Muhaimin, 2012: . Meskipun demikian, pelaksanaan pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih terjadi dualisme sistem pendidikan. Dari dualisme itu berdampak pada dikotomi keilmuan, yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama masih erat dengan sedangkan pendidikan umum banyak dikelola oleh pemerintah dengan tetap memasukkan materi pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran yang wajib diajarkan di semua jenjang pendidikan. Pendidikan agama Islam di pesantrenpesantren berkembang sekian lamanya dengan corak dikotomik. Hal semacam ini telah mengakar kuat sehingga menyisihkan ilmu-ilmu lainnya yang tidak dianggap pendidikan agama. Ilmu al-qurAoan. JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 ilmu hadits, fikih, tauhid, sejarah, dan ilmu gramatika arab merupakan menu wajib yang harus dipahami oleh santri yang sedang belajar di pesantren. Sementara lembaga pendidikan umum yang banyak dikelola oleh pemerintah tetap terfokus pada pendidikan umum seperti fisika, kimia, matematika, biologi dan ilmu umum lainya. Melihat problematika diatas, para pemikir Islam harus berupaya bagaimana mengintegrasikan keduanya menjadi suatu keterpaduan yang saling bersinergi. Sampai saat ini hal itu memang sulit untuk dilakukan karena keduanya sama-sama mempunyai pijakan yang sama-sama kuat. Namun menyatukannya, karena pada hakikatnya ilmu itu hanya satu yang bersumber dari yang maha satu yaitu Allah swt. Melalui dua wahyunya yaitu: Melalui al-qurAoan dengan ayat qouliyah dan kauniyahnya. Melalui fenomena alam yang sudah ada sebelum turunnya beberapa kitab suci Sederhananya permasalahan dikomi sistem diatas adalah bagaimana guru agama yang konsen dalam bidang keagamaan bisa menerima ilmu-ilmu yang dianggap non agama. Upaya yang dilakukan adalah guru agama tidak hanya mendalami ayat-ayat yang bersifat qauliyah yang dimanifestasikan dengan dengan bentuk ritual keagamaan, namun juga mensinergikan dengan fenomena alam sebagai manifestasi ayat-ayat kauniyah. Sementara, guru yang konsentrasi dalam bidang non agama seperti fisika, kimia biologi dan ilmu profan lainnya, harus berupaya relevansinya dengan nilai-nilai fundamental yang ada dalam al-qurAoan dan al-sunnah. Dengan demikian jarak antara pemahaman antara ayat qauliyah yang dimanifestasikan oleh ritual keagamaan, ayat-ayat dimanifestasikan dengan sains, tidak terlalu melebar sebagaimana yang dirasakan umat Islam saat ini. Walaupun pada tahun 1990an pernah dicobakan dan gagal, namun wacara itu harus terus diujicobakan sampai menemukan formulasi yang mapan dalam Usaha untuk menyatukan dua sistem diatas menjadi sangat urgen, mengingat tantangan dunia global yang dinahkodai kaum kapitalis makin terasa dampaknya bagi keberlangsungan pola hidup umat Islam. Dominasi individualistik, materialistik yang serakah dalam harta telah memberikan budaya negatif pada umat Islam di belahan dunia. Menurut Sayyid Husain Nasr, ada beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian umat Islam di era globalisasi ini. Nasr mencatata beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh umat Islam di abad 21 ini. Tantangan-tantangan itu diantaranya adalah: Krisis lingkungan. Tatanan global Post modernism Sekularisasi kehidupan Krisis ilmu pengetahuan dan teknologi Penetrasi nilai-nilai non Islam Citra Islam Sikap terhadap peradaban lain Feminisme Hak asasi manusia Tantangan internal (Muhaimin, 2013: Dari tantangan-tantangan pendidikan agama Islam yang di ungkap oleh Sayyid Husen Nasr diatas, ia ingin memberikan pesan pada umat Islam agar segera bangun dari tidurnya, kemudian membuka mata atas tantangan-tantangan yang ada di Harus ada upaya untuk tantangan-tantangan seblum pada akhirnya umat Islam akan tergilas oleh modernisasi dan sekularisasi. Pendidikan Agama Islam yang lekat dengan pesantren harus segera bangun dari lamunan kejayaan masa lalu yang sudah Pesantren sebagai lembaga tertua di Vialinda Siswati Ae Pesantren Terpadu di Era Globalisasi nusantara ini, diharapkan perannya untuk Masyarakat muslim telah menganggap bahwa pesantren telah berhasil menjadi benteng pertahanan umat Islam dari Namun demikian, pesantren tidak hanya menjadi sekedar benteng yang ditunggangi oleh masyarakat sekuler, tapi pesantren juga mampu memainkan peran Pesantren harus berbenah dari segala tren negatif yang menyertainya untuk kemajuan umat manusia, khususnya umat Islam yang menjadi mayoritas pemeluk agama Islam di Idonesia. Oleh karena itu, dalam membahas problematika dan tantangan umat Islam di era globalisasi, perlu kajian yang mendalam untuk mengurai permasalahan pendidikan agama Islam dan membuat konsep baru untuk menghadapi tantangan global. Sehingga umat Islam mampu perperan aktif dalam menghadapi era globalisasi penuh dengan optimis kemenangan. Dalam artian mampu memberikan nilai-nilai Islami dalam setiap ilmu pengetahuan dan akhirnya berdampak pada tatanan masyarakat sosial yang Islami yang selaras dengan ajaran alqurAoan dan al-sunnah yang mempunyai misi besar rahmatan lil alamin. Konsep Pendidikan Agama Islam (PAI) Sebelum berbicara panjang lebar tentang pendidikan Agama Islam, maka terlebih dahulu harus memahami tentang definisi istilah antara AuPendidikan IslamAy dengan AuPendidikan Agama IslamAy. Mana yang menjadi akar dan mana yang menjadi Hingga saat ini, diantara kalangan akademisi pendidikan masih banyak yang rancu ketika mendefinisikan kedua istilah Banyak yang menganggap bahwa dua istilah tersebut memiliki pengertian yang sama. Sehingga ketika orang membicarakan tentang pendidikan agama Islam hanya terbatas pada pendidikan agama Islam saja atau pendidikan keagamaan yang membahas seputar ritual keagamaan saja seperti shalat, zakat, puasa haji, dan lain sebagainya. Sebaliknya ketika pendidikan agama Islam malah yang dibahas di dalamnya adalah tentang pendidikan Islam. Padahal keduanya (Muhaimun, 2006: 3-. Ahmad Tafsir membedakan antara pendidikan Islam dengan pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam dimaknai sebagai nama kegiatan mendidikkan agama Islam. Dalam lingkup ini. Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi suatu mata Dengan demikian mata pelajaran PAI dalam hal ini sejajar atau sekatagori dengan pendidikan Matematika. Fisika. Kimia dan beberapa mata pelajaran lainnya yang diajarkan di sekolah. Sedangkan pendidikan Islam didefinisikan sebagai sistem, yaitu suatu sistem yang Islami yang teorinya disusun berdasarkan nilai-nilai yang bersumber dari al-QurAoan dan alSunnah. (Muhaimun, 2006: . Pendidikan Islam atau pendidikan yang Islami adalah pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun berdasarkan nilai-nilai fundamental yang bersumber dari al-qurAoan dan al-sunnah. Dalam dibangun berdasarkan kedua sumber tersebut terdapat beberapa perspektif: Pemikiran, penyelenggaraannya melepaskan diri atau kurang memperhatikan situasi masyarakat muslim yang mengitarinya. Pemikiran, mempertimbangkan pengalaman dan khazanah intelektual klasik. Pemikiran. JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 memperhatikan sosio-historis dan kultur melepaskan diri dari khazanah Islam Pemikiran, mempertimbangkan pengalaman dan mencermati sosio-historis dan kultural masyarak modern. Sementara Pendidikan agama Islam ialah upaya mendidikkan agama Islam dan niai-nilai agar menjadi way of life seseorang. Maka dari itu upaya tersebut bisa berwujud segenap kegiatan yang dilakukan seseorang untuk membantu seseorang atau peserta menumbuhkembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya untuk dijadikan sebagai dikembangkan dalam kehidupan seharihari. Segala fenomena atau peristiwa perjumpaan dua orang atau lebih yang dampaknya adalah tertanamnya atau tumbuh kembangnya ajaran Islam dan nilainilainya pada salah satu atau beberapa pihak (Muhaimin, 2006: . Sementara di dalam GBPP PAI di pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan hubungan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (Muhaimin, 2012: 75-. Dengan pembelajaran agama Islam di sekolah tertanam jiwa kesalehan dalam diri siswa, baik kesalehan pribadi ataupun kesalehan sosial. Kesalihan pribadi diartikan siswa mamiliki jiwa spiritual yang tinggi kaitannya hubungan manusia dengan Keimanan dan ketakwaan akan kehidupan sehari-hari. Di samping memiliki kesalehan pribadi yanng tinggi, diharapkan pula siswa memiliki kesalehan sosial, sehingga pendidikan agama Islam benarbenar menciptakan persaudaraan yang kuat, baik persaudaraan antar sesama manusia . kuwwah insaniyah,), sesama agama Islam . kuwwah Islamiya. , dan persaudaraan sesama bangsa . kuwwah watoniyya. Pendidikan Agama Islam di sekolah akan meenjadi pemersatu bangsa Indonesia yang plural yang penuh dengan perbedaan agama, budaya, etnis, tradisi, suku dan Tujuan dan Ruang Lingkup (PAI) Berdasarkan Permendiknas no. tahun 2006 Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang Allah SWT. mewujudkan manusia Indonesia yang taat dan berakhlak mulia beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi . , menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah. Rumusan tujuan pendidikan agama Islam ditas memiliki pengertian bahwa dalam rangka menjadikan umat Islam yang kuat keimanan dan ketakwaannya, maka proses pertamanya adalah tahapan kognisi. Siswa diharapkan benar-benar mengerti dan memahami ajaran-ajaran agama Islam yang termaktub dalam sumber ajaran Islam yaitu al-qurAoan dan hadits. Kebenaran yang hakiki tentang suatu pemahaman akan membawa kepada tahap afeksi, artinya pemahaman agama yang didapat akan memberikan Vialinda Siswati Ae Pesantren Terpadu di Era Globalisasi respon pada hati siswa yang akhirnya nilainilai agama akan berproses dan menjadi penghayatan atas pengetahuan tersebut. Ketika menjadi penghayatan di dalam diri siswa, tahapan selanjutnya adalah siswa akan mengamalkan ajaran agama tersebut sebagai manifestasi dari penghayatan yang terjadi dalam diri siswa (Muhaimin, 2012: Hal ini sangat sesuai dengan konsep al-qurAoan yang menekankan pada ilmu sebagai langkah utama menuju keimanan. Allah berfirman: a A Ao ea eIaa ca e aA aOa eUae a aA a caAOa n a e acA a AaOaA eUa a A a AeaAoean a acA Oua I a A A aa ua a EA a e aa a a e a a A*a asaa A s a A a eoa aoA Dan agar orang-orang yang diberi ilmu meyakini bahwa . l-QurAoa. benar dari Tuhanmu lalu hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh. Allah pemberi petunjuk bagi orangorang yang beriman kepada jalan yang lurus (QS. Al-Haj: . Ayat tersebut memiliki kesesuaian dengan rumusan pendidikan agama Islam yang dimulai dari tahap mengetahui, kemudian menghayati, lalu mengamalkan. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dialami umat Islam sekarang. Keimanan pengetahuan atau ilmu tentang agama Islam. Keimanan mereka dimulai dengan taklid yang kemudian mengamalkannya. Sehingga keberagamaan umat Islam menjadi kropos karena tidak mempunyai akar yang Mungkin ini adalah salah satu faktor mengapa pendidikan agama Islam memiliki atsar . dalam kehidupan seharihari siswa untuk membentuk manusia yang berimana dan beramal saleh serta memiliki ketakwaan yang kuat. Untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam diatas, perlu adanya ruang lingkup materi PAI yang mencakup tujuh unsur pokok sebagaimana yang dirumuskan pada kurikulum 1994 yaitu Al-qurAoanHadits, muamalah, akhlaq, dan tarikh . yang menekankan pada perkembangan politik. Namun pada tahun 1999, unsur pokok itu disederhanakan menjadi lima yaitul alqurAoan-hadits, keimanan, akhlaq fikih dan bimbingan ibadah serta tarikh yang menekankan pada perkembangan agama, ilmu pengetahuan dan budaya. Dilihat dari sistematika ajaran Islam, unsur-unsur pokok pada ajaran tersebut memiliki kaitan yang erat satu sama lain, sebagaimana pada gambar berikut: JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 Gambar 1. Sistematika Ajaran PAI Sistematika tersebut dapat dijelaskan bahwa Al-QurAoan dan Hadits merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti merupakan sumber aqidah, syariah, ibadah dan muamalah. Aqidah merupakan unsur pokok dalam agama. Maka cabang-cabang lain yang ada tidak akan memiliki efek apapun tanpa didasari dengan akidah keIslaman yang kokoh. Oleh karena itu, syariah, ibadah, dan muamalah dan akhlaq merupakan manifestasi sebagai konsekwensi Apabila ditarik kesimpulan tidak dikatakan orang beragama apabila tidak menjalankan ibadah, syariah dan Syariah merupakan sistem norma yang menjadi sistem hubungan antara sesama manusia dengan Allah . dan hubungan sesama manusia . Dalam hubungan dengan Allah maka diatur tata cara shalat, zakat, puasa, haji dan beberapa ajaran agama lainnya. Sementara mencakup seluruh sistem kehidupan yang berlaku di dunia seperti pokitik, ekonomi, kebudayaan, seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lain-lain yang dilandasi dengan akidah yang kokoh. Sedangkan tarikh Islam merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha basyariyah . Dari lingkup ajaran Islam diatas, dirasa tidak ada masalah dan masih sesuai dengan konteks kekinian karena hubungan horisontal antara sesama manusia bersifat dinamis tidak statis. Namun dalam keilmuan sehingga melahirkan dualisme Gen dari dikotomi itu muncul dari cabang ajaran Islam pada aspek Di dalam pendidikan salaf yang merupakan warisan masa lalu yang Vialinda Siswati Ae Pesantren Terpadu di Era Globalisasi berkembang di Indonesia hingga saat ini karena memahami fikih muamalah hanya terbatas pada munakahat, jinayat. Sehingga hal-hal tentang sebagainya tidak dianggap bagian dari ajaran Islam. Persepsi itu muncul karena materi ajaran Islam yang dibawa oleh para pembawa agama Islam, hanya berlandaskan beberapa kitab kuning yang dianggap muAotabarah dan keadaannya tidak bisa dirubah sedikitpun. Apabila hal itu tidak segera diluruskan, maka selamanya pendidikan agama Islam akan berada dipusaran dikotomi keilmuan yang tidak berujung dan berdampak pada kemundurun Islam sebagaimana yang dialami oleh umat Islam Pada hakikatnya. Pndididikan agama Islam mengantarkan peserta didik memiliki . Kemantapan spiritual . Keunggulan akhlaq . Wawasan dan pengembangan dan keluasan iptek, dan . Kematangan profesional. Hingga saat ini Pendidikan Agama Islam masih terfokus pada aspek 1 dan 2. Belum menjadikan aspek yang ke 3 dan ke 4 sebagai perwujudan dari pengalaman keagamaan peserta didik (Muhaimin, 104. Adanya integrasi sistem pendidikan umum dengan pesantren diharapkan mampu merealisasikan tujuan pendidikan agama Islam tidak hanya terbatas pada poin 1 dan 2 saja, namun harus dikembangkan pada poin ke 3 dan 4 yaitu keluasan iptek dan kematangan profesional. Problem dan Tantangan PAI di Era Globalisasi Banyak para tokoh pendidikan atau non pendidikan yang menyoroti berbagai problematika pendidikan agama Islam. Hal itu di karenakan pendidikan agama Islam ketakwaan serta akhlak mulia sebagaimana yang diamanahkan dalam UUD 1945, dalam arti pendidikan agama dianggap gagal membina moral dan akhlak bangsa. Ada dua permasalahan besar yang sedang dihadapi oleh umat beragama yaitu Permasalahan internal yang dihadapi oleh umat beragama, khususnya umat Islam hingga saat ini adalah belum adanya komunikasi yang akrab, kompak, harmonis antar komunitas agama atau antar pemeluk Sedangkan ekonomi, dan hukum sebagai dampak krisis nasional dibidang tersebut. Jika dua persoalan ini tidak terpecahkan, maka akan merambah pada persoalan lain di berbagai sektor kehidupan (Muhaimin: . Masalah masalah klasik kaum agamawan. Sejarah mencatat betapa agama telah menjadi mesin pembenuh manusia, manakala agama dibangun atas trut claim dan hendak menyisihkan orang lain yang tidak seagama. Perang salib adalah sejarah kelam bagi penganut agama Islam dan Kristen. Pertempuran yang berabad-abad lamanya Walaupun peperangan itu sudah tidak nampak lagi, namun kecurigaan masih menyelimuti pemikiran penganut kedua Namun perbedaan antara umat beragama sedikit teratasi dengan pola pikir modern yang inklusif. Adanya forum kerukunan umat beragama adalah salah satu bentuk kedewasaan umat beragama dalam menghadapi perbedaan. Perbedaan itu tidak lagi menjadi sekat pemisah antar umat beragama, namun perbedaan itu dimaknai sebagai dinamika perbedaan hidup yang harus di syukuri sebagai anugrah dari yang JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 Adapun masalah yang kedua adalah akibat dari globalisasi yang telah melanda berbagai kawasan dunia. Globalisasi diakui atau tidak telah memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan umat beragama, baik itu Islam atau non Islam. Globalisasi yang ditunggangi oleh kaum kapitalis telah Ketimpangan merupakan hal yang paling nyata untuk melihat pengaruh negatif globalisasi. Ketamakan kaum kapitalis yang hanya ingin menumpuk harta yang sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan dampak negatifnya, telah menghancurkan sistem alam, sistem sosial dan sistem kehidupan lainnya. Pada satu sisi kemajuan ilmu dan teknologi yang dikembangkan oleh barat telah menjadikan kemudahan dalam berbagai sektor, namun pada sisi yang lain kemajuan ilmu membawa bencana yang tidak kalah Problem PAI di Sekolah Adapun permasalahan pendidikan agama Islam di sekolah yang berlangsung selama ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rosdianah dalam Muhaimin. Ada enam masalah pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diantaranya . Dalam bidang teologi, ada kecenderungan mengarah pada paham fatalistik. dalam bidang akhlak, orientasinya masih pada aspek sopan santun dan belum dipahami sebagai keseluruhan prodi manusia beragama. dalam bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan tidak ditekankan sebagai proses pembentukan kepribadian . dalam bidang hukum . cenderung dipelajari sebagai tata aturan yang tidak akan berubah sepanjang masa, dan kurang memahami dinamika dan jiwa hukum Islam. agama Islam diajarkan cenderung sebagai dogma yang kurang mengembangkan rasionalitas dan kecintaan pada ilmu pengetahuan . al-qurAoan cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman arti dan penggalian makna. Sudah munculnya masalah pendidikan agama Islam diatas karena dikotomi ilmu yang sudah melekat pada mayoritas muslim. Kajian Pendidikan Agama Islam hanya dipandang dari aspek vertikalnya saja dengan mengutamakan ilmu-ilmu yang berkembang dari ayat-ayat qouliyah saja seperti tauhid, fikih, dan tarikh saja. Sementara dikembangkan dari ayat-ayat kauniyah seperti fisika, kimia, biologi, zoologi dianggap bukan bagian dari ajaran agama Islam. Pemahaman pendidikan agama Islam yang utuh menjadi kebutuhan yang urgen untuk memberikan gambaran luas tentang Islam Di samping itu kajian tentang integrasi agama dan sains harus senantiasa dikembangkan untuk menuju kesatuan ilmu dan kesatuan sistem Selama dikotomi ilmu dan dualisme pendidikan ini masih berkembang, maka sangat sulit pendidikan Islam untuk bersaing menghadapi tantangan global. Tantangan Globalisasi Menurut Sayyid Husain Nasr, ada beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian umat Islam di era globalisasi ini. Nasr mencatata beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh umat Islam di abad 21 ini. Tantangan-tantangan itu diantaranya adalah . krisis lingkungan, . Tatanan global . Post modernism . Sekularisasi kehidupan . Krisis ilmu pengetahuan dan teknologi . Penetrasi nilai-nilai non Islam . Citra Islam . Sikap terhadap peradaban lain . Vialinda Siswati Ae Pesantren Terpadu di Era Globalisasi Feminisme . Hak asasi manusia . Tantangan internal. (Muhaimin: . Dari tantangan-tantangan pendidikan agama Islam yang di ungkap oleh Sayyid Husen Nasr diatas, ia ingin memberikan pesan pada umat Islam agar segera bangun dari tidurnya, kemudian membuka mata atas tantangan-tantangan yang ada di Harus ada upaya untuk tantangan-tantangan sebelum pada akhirnya umat Islam akan tergilas oleh modernisasi dan sekularisasi. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menghadapi tantangan pendidikan agama Islam di pesantrenpesantren. Pesantren sebagai lembaga tertua nusantara, memiliki kemampuankemampuan yang tidak di miliki oleh Masyarakat muslim telah menganggap bahwa pesantren telah berhasil menjadi benteng pertahanan umat Islam dari Sampai saat ini pesantren terus berbagai kekurangan yang ada dengan cara melakukan berbagai perubahan. Pesantren di era globalisasi telah memiliki corak yang berbeda dari corak pesantren pada masamasa Walaupun pesantren telah melakukan medernisasimodernisasi demi memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. Masa Depan Pesantren di Era Globalisasi Sebagaimana pesantren menjadi harapan besar atas dikotomi keilmuan yang telah lama berkembang menyelimuti ilmuan-ilmuan muslim di dunia. Kesedian pesantren dalam membuka diri untuk menerima lembagalembaga modern merupakan harapan besar untuk memajukan pendidikan Islam dalam rangka merespon tantangan globalisasi yang dinahkodai oleh kaum sekuler. Kiprah pesantren di era gobalisasi ini menjadi sangat urgen mengingat kegagalan demi kegagalan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga Adanya pendidikan formal di pesantren akan memberikan wawasan yang berbeda bagi dunia pendidikan. Pesantren tidak hanya berbicara profesionalitas dan ilmu saja sebagaimana yang dikembangkan di dalam lembaga-lembaga pendidikan pada Di samping profesionalitas . mal shole. dan ilmu, pesantren juga berbicara tentang akhlak, baik akhlak dengan sang penciptanya . ataupun akhlak sesama manusia . Kegagalan pendidikan di barat dalam membina moral manusia, dikarenakan mereka hanya membicarakan profesional dan ilmu saja. Akibatnya adalah manusiamanusia barat tercipta sebagai sosok yang kepintingan dirinya saja. Kaum kapitalis merupakan cerminan kegagalan pendidikan dibarat sehingga menciptakan berbagai kerusakan alam dan kesenjangan sosial. Jiwa Dampaknya adalah timbulnya berbagai bencana alam yang membunuh manusia itu sendiri. Semua agama sepakat bahwa kaum kapitalis harus dilawan sebelum membuat kerusakan-kerusakan yang lebih besar akibat ketamakannya pada dunia sehingga ingin mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Keberadaan pesantren akan mampu pengetahuan yang ada serta di barengi dengan akhlak mulia yang terpatri di Keterpaduan pengetahuan dan akhlak mulia, akan mengantarkan maunusia pada hakikat manusia yang sesungguhnya yaitu predikat insan kamil atau manusia yang paripurna JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 yang mengungguli ciptaan Allah di alam Pendidikan Agama Islam di Sekolah Berbasis Pesantren Terpadu Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sudah lama berkembang seiring keberadaan umat Islam di bumi nusantara ini. Berbicara tentang latar belakang pesantren, kita akan menemukan sebuah paradoks pada tradisi Pada satu sisi pesantren mempunyai akar yang kuat di Bumi Indonesia, sehingga pesantren dianggap lembaga yang khas Indonesia yang Islam tradisional, namun pada saat yang sama ia menjadikan kota Makah sebagai pusat orientasinya (Van Bruinessen, 2012: 89-. Sistem dikembangkan oleh pesantren, dianggap berhasil mendidik aspek moral bangsa berabad-abad lamanya. Namun, seiring derasnya era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi, pesantren mendapatkan berbagai kritik karena kurang mampu merespon tantangan globalisasi tersebut. Sementara munculnya sistem pendidikan umum, dianggap lebih Namun demikian, pendidikan pemerintah juga memunculkan masalah baru yaitu makin akutnya moral bangsa yang juga akibat dari pengaruh globalisasi. Keterpaduan pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan umum merupakan langkah maju untuk menutupi kelemahan-kelemahan dari dua sistem lembaga pendidikan yang berkembang saat ini. Di samping itu . esantren merupakan langkah strategis bagi dunia pendidikan Islam untuk menghadapi tantangan global. Pesantren bukan hanya sekedar lembaga pendidikan Islam yang hanya mengembangkan pendidikan keagamaan Selain menjadi lembaga pendidikan Islam, pesantren juga mempunyai fungsi sebagai lembaga sosial dan lembaga dakwah (Mastuhu: . Walaupun pada awalnya pesantren keagamaan dengan sistem salafnya yaitu wetonan, bendongan dan sorogan, pesantren di era globalisasi telah mengembangkan . adrasah, sekolah umum, dan perguruan tingg. , dan pendidikan nonformal yang secara khusus mengajarkan agama yang sangat kuat dipengarui oleh pikiran ulamaulama klasik, melalui kitab-kitab: Tauhid tafsir, hadis, fikih, usul fiqih, tasauf, bahasa Arab . ahwu, saraf, balaghoh dan tajwi. , mantek dan akhlak. Selain berbagai lembaga pendidikan formal dan non formal, pesantren juga membuat lembaga pendukung untuk antaranya . Lembaga Pendidikan alQurAoan (LPQ). Lembaga Pendidikan alQurAoan merupakan lembaga yang wajib dalam pesantren untuk mengembangkan kemampuan baca tulis al-QurAoan . Lembaga Kajian Kitab Kuning (L3K), lembaga ini dibuat untuk membekali kemampuan siswa dalam memahami literatur klasik yang menjadi ciri khas pesantren sampai saat ini, . Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA). Bahasa Arab dan Inggris merupakan dua bahasa yang banyak dikembangkan oleh pesantren yang bertujuan untuk merespon tuntutan globalisasi. Dengan dua bahasa tersebut santri akan memeliki wawasan internasional dan mampu berperan di tingkat global, . Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM). Lembaga ini bertujuan Vialinda Siswati Ae Pesantren Terpadu di Era Globalisasi untuk mengembangkan sikap sosial santri dengan terjun langsung ke masyarakat, . Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI). Lembaga ini berusaha untuk mengembangkan jiwa interprenership santri yang di harapkan memiliki kemandirian di Perpadua itulah yang menjadikan pesantren mampu menghadapi berbagai tantangan global yang berkembang sampai saat ini. Dengan pengembangan berbagai skill, lulusan pesantren tidak hanya mapan dalam bidang kognitif saja, tapi juga mapan dalam aspek psikomotorik dan efektifnya Pelaksanaan Pendidikan Islam di sekolah berbasis Pesantren Terpadu Pelaksanaan pendidikan agama di sekolah berbasis pesantren, tidak jauh beda dengan pendidikan agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan umum yaitu dengan tetap memberikan 10% mata pelajaran pendidikan agama Islam dan 90% lainnya adalah mata pelajaran umum. Akan tetapi, nilai plus dari pendidikan agama Islam di pesantren adalah tersedianya menjadikan porsi pendidikan agama Islam memiliki porsi lebih banyak dalam mendalami ajaran agama Islam. Lembaga pendukung tersebut diantaranya adalah madrasah diniyah yang mengajarkan pendidikan agama Islam 100%. Madrasah Diniyah berdiri pada tahun Sebenarnya madrasah diniyah ini pada mulanya memberi pengajian pagi, kemudian awal tahun 1984 namanya diganti menjadi diniyah Madrasah Diniyah memang secara khusus diarahkan untuk mendalami ilmu agama dan mempertinggi kualitas ilmu agama bagi kalangan murid-murid sekolah umum seperti SMP dan SMA ( Nasir, 2005: Selain madrasah diniyah, sistem meninggalkan ciri khas lamanya yaitu tetap memberikan pelajaran agama Islam secaraa klasikal dengan metode wetonon dan sorogan pada santri walalupun dengan berdirinya lembaga-lembaga yang sudah tersistem dalam pesantren seperti pendidikan berbasis sekolah dan madrasah. Perpaduan kelemahan pendidikan agama Islam yang haya diajarkan dua jam dalam kurikulum pendidikan nasional. Kekurangan itu akan tertutupi dengan keberadaan lembaga informal seperti madrasah diniyah dan beberapa kegiatan pengajian di dalam Sehingga mendapatkan porsi yang seimbang antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Suasana mengakar dalam lingkungan santri, akan menjadi poin plus dalam menanamkan nilainilai agama Islam pada santri sebagai way of life, karena pendidikan di pesantren tidak hanya terfokus pada aspek kognitif saja. Lebih dari itu, pendidikan di pesantren juga mengembangkan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup, baik yang bersifat manual . etunjuk prakti. maupun mental, dan sosial (Umiarso & Zazin: . Oleh karena itu, lulusan pesantren yang terpadu dengan sekolah umum, disamping memiliki kematangan relegius, santri juga akan mendapatkan bekal ilmu pengetahuan dan bekal ketrampilan yang sesuai tuntutan zaman. sehingga, dengan sistem seperti ini, lambat-laun dikotomi keilmuan yang selama ini menjadi masalah utama pendidikan agama Islam akan sedikit Dualisme sistem pendidikan yang ada di Indonesia selama ini, juga akan pengetahuan yang yang berkembang. JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Pendekatan Keterpaduan Gagasan keterpaduan ini sebagai respon berbagai kritik atas pelaksanaan pendidikan agama Islam yang orientasinya masih bersifat normative, teoretis dan kognitif, termasuk di dalamnya guru yang masih belum bisa mengaitkan pendidikan agama Islam dengan kehidupan riil. Begitu juga guru PAI belum bisa mengaitkan teori PAI dengan mata pelajaran PAI. Oleh karena itu sampai sekarang mata pelajaran PAI menjadi satu-satunya materi pembelajaran yang sangat abstrak yang tidak bisa Aspek lainnya yang menjadi sorotan adalah kurikulum atau materi agama, sarana dan prasarana pendidikan agama, termasuk di dalamnya buku-buku yang terkait dengan pendidikan agama Islam. Dari permasalahan-permasalahan itu, keterpaduan merupakan salah satu solusi untuk mengatasi dikotomi yang sudah mengakar dalam diri setiap muslim. Selama ini pendidikan Islam hanya dipahami sebatas pendidikan ritual dan akhlak dan tidak ada sangkut paut dengan kehidupan duania riil. Dampaknya masyarakat Islam sangat tertinggal jauh dari pendidikan non muslim yang sangat gigih mengembangkan ilmu pengetahuan. Potret ketertinggalan umat Islam dari peradaban dunia nampak nyata dengan tata social masyarakat modern yang menempatkan masyarakat muslim sebagai kelompok pinggiran. Hal itu tidak dapat dipungkiri karena umat Islam tidak mampu mengembangkan apa-apa dalam bidang ilmu pengetahuan. Model keterpaduan yang ditawarkan dalam buku Nuansa Baru Pendidikan Islam dikembangkan oleh Rubin Forgarty dengan sepuluh model. Model fragmented . , . Model terhubung . , . Model nested (Saran. Model Sequenced . angkaian/uruta. engembangan mempunyai kurikulum silan. Model webbed . model threaded . eperti melihat teropong dimana dimana titik pandang dapat mulai dari jarak terdekat dengan mata sampai titik jauh dari mat. Model integrated . erpadu antara bidang stud. Model immersed . enyaring dari seluruh isi kurikulum dengan menggunakan suatu cara pandang tertent. Model Namun dari sepuluh model keterpaduan yang di paparkan oleh Forgarty tersebut hanya empat yang paling sesuai dengan pengembangan Pendidikan Agama Islam, yaitu: Model Terhubung (Connecte. Dalam model ini, guru pendidikan agama Islam mampu menghubungkan satu topik dengan topik lain dalam satu bidang Suatu contoh ketika guru menjelaskan ayat al-qurAoan tentang penciptaan manusia dalam studi al-qurAoan hadits, maka guru dapat menjelaskan topic penciptaan manusia tersebut dengan aspek keimanan dan akhlak Penjelasan ayat tidak hanya sebatas pada makna ayat namun lebih menyeluaruh terhadap aspek-aspek yang berkaitan secara langsung dalam kehidupan social. Jika digambarkan akan menjadi bentuk seperti Aspek Keimanan Al-qurAoan & Hadits Aspek Akhlak Aspek Fikih Aspek Tarikh Gambar 2. Integreted Menggunakan Cara Connected Vialinda Siswati Ae Pesantren Terpadu di Era Globalisasi Model Sequenced Model Sequenced ini tidak jauh beda dengan teori connected. Yang menjadi perbedaan adalah ketidak dalam model connected tidak ada urutan topic dalam studi PAI, model Sequenced menggunakan urutan sesuai topic yang telah ditentukan dalam mata pelajaran PAI. Semisal guru menjelaskan tentang penciptaan manusia, maka guru akan menjelaskan tentang dihubungkan dengan aspek lainnya seperti keimanan, akhlak, fikih dan sejarah. Jika digambarkan akan menjadi bentuk seperti QS. AlDzariat . 1 ayat tentang tema, langkah selanjutnya adalah mengaitkan dengan keimanan, akhlak, fikih dan sejarah. Mungkin ini yang sedang dikembangkan oleh pendidikan nasional sekarang dengan kurikulum 2013. Jika digambarkan akan menjadi bentuk seperti berikut: Gambar 4. Integreted dengan menggunakan cara Webbed Model Integrated Aspek 2 Keimanan Aspek 3 Akhlaq Aspek 4 Fiqh Aspek 3 Tarikh Gambar 3. Integreted dengan menggunakan cara Sequenced Model Webbed Model ini dikembangkan dengan cara menentukan suatu topic tertentu. Misalnya tentang menjaga lingkungan hidup. Maka langkah pertama yang dilakukan oleh guru adalah mencari ayat yang berkaiatan dengan tema lingkungan hidup. Setelah ditemukan Model ini merupakan pengembangan dari model webbed dengan menggunakan antar bidang studi. Dalam konteks pengembangan ilmu, teori ini biasa disebut multidisipliner atau interdisipliner. Kerja multi disipliner adalah cara bekerja seorang membangun disiplin ilmunya dengan berkonsultasi pada ahli disiplin lain. Semisal guru PAI ingin menjelaskan tentang PAI mengkonsultasikan dengan pakar sosiologi, psikologi, sejarah. Sehingga dari berbagai konsultasi tersebut akan menjadikan suatu kesimpulan tentang pandangan poligami. JPII Volume 2. Nomor 2. April 2018 Gambar 5. Integreted dengan menggunakan cara Interdisipliner Kesimpulan Dari beberapa pemaparan diatas maka pendidikan agama Islam mempunyai Kemajuan sains, teknologi, informasi dan transformasi telah berdampak pada tatanan Pendidikan sebagai gerbang utama dalam membina akhlak manusia mempunyai tugas yang amat berat. Pesantren yang merupakan salah satu pendidikan Islam tertua di nusantara ini juga memiliki tantangan yang berat pula. Oleh karena itu untuk senantiasa tetap eksisis sebagai bangsa yang menjujung nilainilai moral dan kemanusiaan yang tinggi, maka pengembangan pesantren juga harus merespon beberapa kemajuan-kemajuan yang ada dengan cara mengembangkan ilmu-ilmu mempertahankan nilai-nilai lama yang sudah baik. Pengembangan pesantren merupakan harapan besar bagi seluruh masyarakat modern yang sudah geram terhadap perilaku globalisasi yang telah melibas tatanan sosial yang manusiawi. Pendidikan pesantren merupakan jawaban dari segala ketidak puasan masyarakat modern. Dengan pola keterpaduan sistem dan pembelajaran di pesantren, diharapkan mampu mengatasi problematika dikotomi keilmuan selama ini. Mengintegrasikan kembali antara sains dan agama merupakan titik balik kebangkitan umat Islam untuk memainkan perannya sebagai umat yang mempunyai peradaban yang tinggi dalam bidang keilmuan. Daftar Pustaka