JESE Journal of Elementary School Education Volume 1. Nomor 1. Juni 2024. Hal. PENYEBAB RENDAHNYA MINAT PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN BAHASA JAWA DI SEKOLAH DASAR Aditiya Fajar Ichsani1. Hizbullah2 Universitas Negeri Malang. Indonesia e-mail: fajarichsani123@gmail. Universitas Negeri Malang. Indonesia e-mail: hizbullahsmulla@gmail. ABSTRACT This study was conducted at SD Negeri Karangbesuki 1 with the aim of identifying the factors of low interest in learning and describing the teacher's efforts in fostering interest in learning Javanese language in class IV. Based on observations in class IV, it was found that students' interest in learning Javanese language was very low. This research used descriptive qualitative method with data collection techniques through observation, interview, and documentation. The research involved three main sources, namely teachers, students, and parents. The results show that low interest in learning is influenced by physical and psychological factors such as intelligence, attention, and interest. External factors that play a role include monotonous teacher teaching methods, lack of parental support, and an unconducive learning environment. Efforts made by teachers to increase interest in learning include the application of peer tutor methods, ice breaking, and a cooperative attitude in teaching. This research is expected to have a positive impact on students, teachers, and parents, and encourage more attention to increasing students' interest in learning Javanese. Keywords: Elementary School. Javanese Language Learning. Students' ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Karangbesuki 1 dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor rendahnya minat belajar peserta didik dan mendeskripsikan upaya guru dalam menumbuhkan minat belajar pada pembelajaran Bahasa Jawa di kelas IV. Berdasarkan observasi di kelas IV, ditemukan bahwa minat belajar peserta didik terhadap Bahasa Jawa sangat rendah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif JESE: Journal of Elementary School Education dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan Penelitian melibatkan tiga sumber utama yaitu guru, peserta didik, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat belajar dipengaruhi oleh faktor jasmaniah dan psikologis seperti kecerdasan, perhatian, dan minat. Faktor eksternal yang berperan meliputi metode pengajaran guru yang monoton, kurangnya dukungan orang tua, dan lingkungan belajar yang tidak kondusif. Upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan minat belajar meliputi penerapan metode tutor sebaya, ice breaking, dan sikap kooperatif dalam mengajar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi peserta didik, guru, dan orang tua, serta mendorong perhatian lebih terhadap peningkatan minat belajar peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Kata Kunci: Sekolah Dasar. Pembelajaran Bahasa Jawa. Minat Peserta PENDAHULUAN Pembelajaran di sekolah dasar tidak hanya mengajar kemampuan dasar seperti menulis, membaca, dan berhitung, tetapi juga mengajar, membimbing, dan melatih siswa untuk mengembangkan keterampilan intelektual dan sosial yang dasar. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dasar dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan kondusif bagi siswa agar mereka tetap senang bermain dan belajar. Anak-anak sedang mengembangkan kemampuan kognitif seperti imajinasi dan kreatif selama masa sekolah dasar (Jadmiko, 2. Akibatnya, pembelajaran dilakukan tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar kelas. bahasa Jawa adalah mata pelajaran muatan lokal. Menyimak, berbicara, membaca, dan menulis adalah empat keterampilan dasar yang termasuk dalam muatan lokal Bahasa Jawa(Nurcahyo & Jadmiko, 2. Bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa setiap hari untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain(Joeniarni & Mulyoto, 2. Oleh karena itu, penggunaan Bahasa Jawa sangat penting untuk bersosialisasi di masyarakat Jawa, terutama di Tanah Jawa. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Jawa dalam pendidikan memiliki peran penting dalam mengembangkan masyarakat Jawa secara keseluruhan. Pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar memerlukan perhatian khusus karena ini merupakan titik awal di mana orang belajar tentang konsep Bahasa Jawa untuk menjadi landasan untuk pendidikan lanjutan(Kusumodestoni et al. , 2. Vol. No. Juni 2024. Hal. Ichsani dan Hizbullah. Rendahnya Minat Peserta didik pada A Pembelajaran Bahasa Jawa bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik, terutama Bahasa Jawa, menurut (Ulinnuha Arifin Febrianti et al. , 2. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Jawa atau muatan lokal di sekolah dasar sangat penting untuk meningkatkan wawasan berbahasa dan memahami budaya local. Minat peserta didik dapat diamati dari berbagai aspek, seperti cara mereka mengikuti pembelajaran, perhatian yang diberikan selama pembelajaran, dan kelengkapan catatan yang mereka buat(Mahardika & Setyaningrum, 2. Minat adalah salah satu faktor penting yang dapat mendorong keberhasilan dalam Proses belajar sendiri adalah upaya untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang pada akhirnya mengubah perilaku peserta didik. Dengan minat belajar yang tinggi, peserta didik cenderung memperhatikan dan mengikuti materi pembelajaran dengan lebih baik. Perhatian yang diberikan peserta didik selama pembelajaran membantu mereka lebih mudah memahami konsep yang diajarkan, termasuk dalam pembelajaran Bahasa Jawa(Ramatika et al. , 2. Oleh karena itu, jika proses pembelajaran tidak sesuai dengan minat peserta didik, kemungkinan besar hal ini akan berdampak negatif pada hasil belajar mereka. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas IV SDN Karangbesuki 1, ditemukan beberapa masalah dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Beberapa peserta didik tidak memperhatikan guru saat pembelajaran berlangsung, kurang merespon ketika diberi pertanyaan, dan menunjukkan kurangnya antusiasme dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Selain itu, beberapa peserta didik terlihat kelelahan dan mengantuk selama proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penuturan guru kelas IV yang menyatakan bahwa beberapa peserta didik mengerjakan tugas dengan kurang antusias dan memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya. Kurangnya perhatian peserta didik terhadap pembelajaran Bahasa Jawa juga terlihat dari beberapa anak yang asyik bermain sendiri sehingga mengganggu teman-temannya. Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas IV, dapat disimpulkan bahwa ketertarikan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Jawa masih cukup rendah, karena banyak peserta didik yang tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan Permasalahan serupa telah dikaji oleh (Maya et al. , 2. melalui observasi di kelas IV SD Negeri Mirit Kebumen. Mereka menemukan bahwa faktor penghambat yang mempengaruhi hasil belajar menulis aksara Jawa adalah kesulitan siswa dalam mempelajari materi aksara Jawa dan pembelajaran yang dianggap membosankan. Permasalahan serupa juga diteliti oleh (Azizah & Subrata, 2. yang menemukan JESE: Journal of Elementary School Education beberapa faktor penyebab kurangnya minat peserta didik terhadap mata pelajaran Bahasa Jawa. Faktor utama yang mendominasi adalah perbedaan antara Bahasa Jawa yang diajarkan di sekolah dengan yang digunakan sehari-hari, sehingga peserta didik kesulitan memahaminya. Minat dalam proses pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya dipengaruhi oleh peserta didik, tetapi juga oleh faktor guru, kurikulum, dan Meskipun banyak penelitian telah dilakukan mengenai pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar, sebagian besar fokus pada kendala dalam mengajarkan aksara Jawa dan ketidakcocokan antara bahasa yang diajarkan di sekolah dan bahasa yang digunakan sehari-hari. Namun, ada kekurangan dalam pemahaman mendalam tentang faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi minat belajar peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Jawa, khususnya di SDN Karangbesuki 1. Penelitian sebelumnya belum cukup mengeksplorasi aspek-aspek motivasi dan strategi pengajaran yang dapat meningkatkan minat belajar Bahasa Jawa di kalangan siswa. Selain itu, masih terbatasnya studi yang mendeskripsikan upaya guru dalam mengatasi rendahnya minat belajar ini menunjukkan perlunya investigasi lebih lanjut dalam konteks yang lebih spesifik dan praktis. Penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan fokus pada analisis mendalam mengenai faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat belajar peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Jawa di kelas IV SDN Karangbesuki 1. Dengan menggabungkan observasi langsung dan wawancara dengan guru, penelitian ini tidak mendeskripsikan upaya konkret yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi masalah Selain itu, penelitian ini akan mengembangkan strategi praktis yang dapat diterapkan dalam konteks lokal untuk meningkatkan minat belajar siswa, yang sebelumnya kurang terjelaskan dalam literatur. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan solusi praktis yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat belajar peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Jawa, sehingga penelitian ini berjudul "Analisis Minat Belajar Peserta Didik pada Pembelajaran Bahasa Jawa Kelas IV di SDN Karangbesuki 1. " Adapun tujuan penelitian ini adalah: . Mengetahui penyebab rendahnya minat belajar peserta didik Bahasa Vol. No. Juni 2024. Hal. Jawa Kelas SDN Karangbesuki Ichsani dan Hizbullah. Rendahnya Minat Peserta didik pada A Mendeskripsikan upaya guru dalam mengatasi rendahnya minat belajar peserta didik pada pembelajaran Bahasa Jawa Kelas IV di SDN Karangbesuki 1. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis deskriptif tanpa menggunakan analisis statistik atau kuantifikasi lainnya (Ramadhan & Usriyah, 2. Penelitian kualitatif deskriptif menghasilkan data berupa kalimat atau kata-kata berdasarkan fenomena yang diamati. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan studi kasus, yaitu uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek individu, kelompok, organisasi, program, atau situasi sosial (Sugiyono, 2. Dalam studi kasus, peneliti mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang subjek yang diteliti menggunakan metode wawancara, observasi, dan penelaahan dokumen. Metode penelitian ini dipilih untuk mengkaji faktor rendahnya minat belajar peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Jawa di SDN Karangbesuki 1. Penelitian ini memerlukan data asli dari lapangan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai masalah yang terjadi. Oleh karena itu, peneliti melakukan observasi langsung dan analisis deskriptif, bukan analisis statistik. Sumber data diperoleh menggunakan teknik snowball sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang awalnya sedikit dan kemudian berkembang menjadi lebih Teknik ini dipilih karena memungkinkan peneliti mencari sumber data tambahan jika data awal dirasa kurang lengkap(Sugiyono, 2. Sumber data utama adalah peserta didik kelas IV, guru kelas IV, dan orang tua kelas IV SDN Karangbesuki 1. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles and Huberman, yang dilakukan secara interaktif dan terus-menerus sampai data jenuh(Sugiyono, 2. Tahapan analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Memuat hasil temuan penelitian di mana hasil dan pembahasan tidak dilakukan Harapannya dalam pembahasan ini penulis mengkaji hasil temuannya dan dikaitkan dengan sumber rujukan yang relevan, yang ditulis dengan sistematis, analisis yang kritis dan informatif. Pembahasan hasil penelitian bersifat argumentatif JESE: Journal of Elementary School Education menyangkut relevansi antara hasil temuan/fakta empiris yang ditemukan, teori pendukung, hasil penelitian terdahulu serta menunjukkan kebaruan temuan. Penelitian yang berlangsung selama 1 bulan dari tanggal 25 Februari hingga 21 Maret 2024 di Sdn Karangbesuki 1 ini mengkaji rendahnya minat belajar peserta didik terhadap mata pelajaran Bahasa Jawa di kelas IV. dalam penelitian ini berfokus pada hasil penelitian dan pembahasannya yang mencakup faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat belajar serta upaya yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan minat tersebut. Data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi menunjukkan beberapa temuan penting mengenai faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi minat belajar siswa. Faktor internal yang mempengaruhi minat belajar meliputi aspek fisiologis dan Aspek fisiologis berhubungan dengan kondisi kesehatan dan fisik siswa. Misalnya, ditemukan bahwa seorang siswa kelas IV tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan maksimal karena masih dalam masa pengobatan penyakit ginjal. Kondisi kesehatan yang buruk seperti ini dapat mengurangi semangat dan intensitas siswa dalam belajar, sehingga berpengaruh negatif pada hasil belajarnya. Selain itu, faktor psikologis yang mencakup kondisi mental dan emosional siswa juga memainkan peran penting. Siswa yang memiliki sikap mental positif, seperti ketekunan dan kegigihan dalam belajar, lebih cenderung menunjukkan minat yang lebih tinggi dalam pembelajaran. Namun, penelitian ini menemukan bahwa banyak siswa di kelas IV kurang menyukai pelajaran Bahasa Jawa, yang ditunjukkan dengan kurangnya semangat dan partisipasi aktif selama proses pembelajaran. Beberapa siswa menganggap Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga sikap mereka terhadap pembelajaran menjadi negatif. Hal ini diperkuat oleh temuan peneliti yang mengamati bahwa beberapa siswa sering bermain dan tidak memperhatikan guru selama pelajaran berlangsung, serta tidak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap mata pelajaran tersebut. Rendahnya minat belajar juga tercermin dari faktor-faktor eksternal yang tidak dibahas secara rinci dalam temuan ini, namun dapat mencakup lingkungan belajar, metode pengajaran, serta dukungan dari orang tua dan masyarakat. Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan pentingnya memperhatikan kondisi kesehatan dan psikologis siswa serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung untuk meningkatkan minat belajar mereka terhadap mata pelajaran Bahasa Jawa. Upayaupaya yang dilakukan oleh guru untuk menumbuhkan minat belajar, meskipun tidak Vol. No. Juni 2024. Hal. Ichsani dan Hizbullah. Rendahnya Minat Peserta didik pada A dijelaskan secara spesifik dalam paragraf ini, merupakan aspek penting yang perlu dikembangkan lebih lanjut berdasarkan temuan-temuan ini. Faktor eksternal merupakan elemen penting yang dapat mempengaruhi minat belajar peserta didik, seperti yang diungkapkan oleh (Linggar Yuli Mayangtias. Sri Buyartati, 2. Faktor-faktor eksternal ini meliputi peran guru, keterlibatan orang tua, dan kondisi lingkungan belajar. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa guru jarang menggunakan media dalam menyampaikan materi pembelajaran, lebih sering mengandalkan metode ceramah dan tanya jawab, serta sesekali menggunakan audio hanya pada materi tertentu. Pendekatan yang monoton ini membuat siswa kurang tertarik dan berakibat pada rendahnya minat belajar mereka. Selain itu, keterlibatan orang tua juga sangat minim. mereka jarang mendampingi anak-anak mereka saat belajar di rumah dan kurang berkomunikasi dengan guru mengenai perkembangan anak-anak mereka di sekolah. Sikap ini menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap proses belajar anak, yang pada gilirannya membuat anak-anak terbiasa tidak belajar dan kehilangan minat. Lingkungan belajar juga memiliki peran signifikan dalam mempengaruhi minat Berdasarkan wawancara dan observasi, lingkungan sekitar siswa tidak mendukung pembelajaran Bahasa Jawa dengan baik. Kurangnya dorongan dari lingkungan sekitar membuat siswa merasa tidak terbiasa dengan bahasa ini dan akhirnya tidak tertarik untuk belajar. Pendapat (Kartikasari & Rahmawati, 2. mendukung temuan ini dengan menyatakan bahwa lingkungan yang baik dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar dan meningkatkan minat mereka. Untuk meningkatkan minat belajar siswa, guru memainkan peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang menarik. Menurut (Latifah, 2. , guru perlu melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Salah satu upaya tersebut adalah menggunakan metode pembelajaran kelompok tutor sebaya, di mana siswa dikelompokkan dan didorong untuk belajar serta mempresentasikan hasil kelompok di depan kelas. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan minat belajar tetapi juga mendorong kerjasama dan komunikasi antar siswa. Selain itu, guru juga menggunakan teknik ice breaking untuk mengatasi kebosanan siswa selama proses belajar. Ice breaking membantu menyegarkan suasana kelas dan membuat siswa lebih tertarik dan bersemangat dalam mengikuti Guru juga menunjukkan sikap kooperatif dengan bersabar dalam mengajari siswa yang lamban dalam menangkap materi. Sikap ini membantu menciptakan JESE: Journal of Elementary School Education hubungan yang lebih dekat antara guru dan siswa, sehingga siswa merasa lebih dihargai dan lebih termotivasi untuk belajar. Dengan mendengarkan ide-ide siswa, guru juga mendorong partisipasi aktif mereka dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, upaya-upaya ini menunjukkan bahwa peran guru, keterlibatan orang tua, dan dukungan lingkungan belajar sangat penting dalam menumbuhkan minat belajar siswa. Kombinasi dari pendekatan pembelajaran yang inovatif, dukungan dari orang tua, dan lingkungan yang kondusif dapat membantu meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Jawa di SDN Karangbesuki 1. Pembahasan Faktor internal yang mempengaruhi minat belajar meliputi aspek fisiologis dan Aspek fisiologis berkaitan dengan kondisi kesehatan dan fisik siswa, yang secara langsung mempengaruhi semangat dan intensitas belajar mereka. Misalnya, ditemukan bahwa seorang siswa kelas IV tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan maksimal karena masih dalam masa pengobatan penyakit ginjal. Kondisi kesehatan yang buruk seperti ini dapat mengurangi semangat dan intensitas siswa dalam belajar, sehingga berdampak negatif pada hasil belajarnya. Selain itu, faktor psikologis juga memainkan peran penting. Faktor ini mencakup kondisi mental dan emosional siswa, yang sangat berpengaruh terhadap minat belajar mereka. Siswa yang memiliki sikap mental positif, seperti ketekunan dan kegigihan dalam belajar, cenderung menunjukkan minat yang lebih tinggi dalam pembelajaran. Namun, penelitian ini menemukan bahwa banyak siswa di kelas IV kurang menyukai pelajaran Bahasa Jawa, yang ditunjukkan dengan kurangnya semangat dan partisipasi aktif selama proses pembelajaran. Beberapa siswa menganggap Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga sikap mereka terhadap pembelajaran menjadi negatif. Hal ini diperkuat oleh temuan peneliti yang mengamati bahwa beberapa siswa sering bermain dan tidak memperhatikan guru selama pelajaran berlangsung, serta tidak menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap mata pelajaran tersebut. Rendahnya minat belajar juga tercermin dari faktor-faktor eksternal yang meliputi lingkungan belajar, metode pengajaran, serta dukungan dari orang tua dan Lingkungan belajar yang tidak mendukung dapat menjadi penghalang bagi siswa untuk tertarik belajar Bahasa Jawa. Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa lingkungan sekitar siswa tidak mendukung pembelajaran Bahasa Vol. No. Juni 2024. Hal. Ichsani dan Hizbullah. Rendahnya Minat Peserta didik pada A Jawa dengan baik. Kurangnya dorongan dari lingkungan sekitar membuat siswa merasa tidak terbiasa dengan bahasa ini dan akhirnya tidak tertarik untuk belajar. Pendapat (Nadhiroh, 2. mendukung temuan ini dengan menyatakan bahwa lingkungan yang baik dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar dan meningkatkan minat mereka. Selain itu, metode pengajaran yang digunakan oleh guru juga berpengaruh Guru yang jarang menggunakan media pembelajaran dan lebih sering mengandalkan metode ceramah dan tanya jawab membuat siswa cepat bosan dan kurang tertarik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan yang monoton ini membuat siswa kurang tertarik dan berakibat pada rendahnya minat belajar mereka. Keterlibatan orang tua juga sangat minim. mereka jarang mendampingi anak-anak mereka saat belajar di rumah dan kurang berkomunikasi dengan guru mengenai perkembangan anak-anak mereka di sekolah. Sikap ini menunjukkan kurangnya kepedulian terhadap proses belajar anak, yang pada gilirannya membuat anak-anak terbiasa tidak belajar dan kehilangan minat. Untuk meningkatkan minat belajar siswa, guru memainkan peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang menarik. Menurut (Kusumodestoni et al. , 2. , guru perlu melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Salah satu upaya tersebut adalah menggunakan metode pembelajaran kelompok tutor sebaya, di mana siswa dikelompokkan dan didorong untuk belajar serta mempresentasikan hasil kelompok di depan kelas. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan minat belajar tetapi juga mendorong kerjasama dan komunikasi antar siswa. Selain itu, guru juga menggunakan teknik ice breaking untuk mengatasi kebosanan siswa selama proses belajar. Ice breaking membantu menyegarkan suasana kelas dan membuat siswa lebih tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Guru juga menunjukkan sikap kooperatif dengan bersabar dalam mengajari siswa yang lamban dalam menangkap materi. Sikap ini membantu menciptakan hubungan yang lebih dekat antara guru dan siswa, sehingga siswa merasa lebih dihargai dan lebih termotivasi untuk belajar. Dengan mendengarkan ide-ide siswa, guru juga mendorong partisipasi aktif mereka dalam Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa peran guru, keterlibatan orang tua, dan dukungan lingkungan belajar sangat penting dalam menumbuhkan minat belajar siswa. Kombinasi dari pendekatan pembelajaran yang inovatif, dukungan dari orang tua, dan lingkungan yang kondusif dapat membantu meningkatkan minat belajar siswa terhadap JESE: Journal of Elementary School Education mata pelajaran Bahasa Jawa di SDN Karangbesuki 1. Penelitian ini menekankan pentingnya memperhatikan kondisi kesehatan dan psikologis siswa serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung untuk meningkatkan minat belajar mereka terhadap mata pelajaran Bahasa Jawa. Upaya-upaya yang dilakukan oleh guru untuk menumbuhkan minat belajar, meskipun tidak dijelaskan secara spesifik dalam paragraf ini, merupakan aspek penting yang perlu dikembangkan lebih lanjut berdasarkan temuan-temuan ini. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelas IV SDN Karangbesuki 1, dapat disimpulkan bahwa minat belajar peserta didik terhadap pembelajaran Bahasa Jawa masih rendah. Hal ini terlihat dari sikap dan pernyataan peserta didik yang tidak menyukai mata pelajaran Bahasa Jawa, serta anggapan mereka bahwa pembelajaran ini sulit. Selama pelajaran berlangsung, perhatian peserta didik sangat kurang, terlihat dari kebiasaan mereka yang masih senang mengobrol dan bermain sendiri saat guru menjelaskan materi. Rendahnya minat belajar ini disebabkan oleh faktor internal dan Untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran Bahasa Jawa, penelitian ini memberikan beberapa saran. Pertama, guru sebaiknya menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi dan menciptakan kesan awal yang baik dan menyenangkan agar siswa lebih bersemangat. Kedua, siswa sebaiknya berusaha menghilangkan anggapan bahwa Bahasa Jawa itu sulit dan berusaha lebih dekat serta menyukai pembelajaran ini. Ketiga, orang tua perlu memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan belajar anak, memberikan dorongan semangat, dan memberikan arahan dengan cara yang baik tanpa perlu memarahi terlebih dahulu. Dengan demikian, kombinasi dari metode pembelajaran yang inovatif, dukungan dari orang tua, dan lingkungan belajar yang kondusif diharapkan dapat meningkatkan minat belajar peserta didik terhadap Bahasa Jawa di SDN Karangbesuki 1. DAFTAR PUSTAKA