Khidmatan Volume 6. Nomor 1. Juni 2026, hal. 12 - 23 ISSN : 2798-8430 . | ISSN : 2809-6908 . https://raja. id/khidmatan Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi Pengrajin Batik dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya Lokal JamahariA. Taufik Ullatif2*. Nur FadilahA. Aribatul Istiqamah2. Erni Septia Ningsih2. Novi Fitria4. Muhammad Khairurrizal2. Saifudin Fauzy5. Risti Ananda Safitri2. Dinda Aulia6. Rusli7. Mubarak6. Nur Azizah2. Nasir2. Umi Latifah7. Atika7. Wahyu Ramadhan4. Nur Saidah Salsabilla7. Abd Khanan Maksum2. ADosen Pembimbing Lapangan. Institut Agama Islam An -Nadwah Kuala Tungkal. Jambi Indonesia AProdi Pendidikan Agama Islam. Fakultas Pendidikan & Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal. Jambi. Indonesia AProdi Manajemen Bisnis Syariah. Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam. Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal. Jambi. Indonesia 4Prodi Komunikasi & Penyiaran Islam. Fakultas Hukum & Komunikasi. Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal. Jambi. Indonesia 5Prodi Hukum Keluarga Islam. Fakultas Hukum & Komunikasi. Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal. Jambi. Indonesia 6Prodi Hukum Tata Negara. Fakultas Hukum & Komunikasi. Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal. Jambi. Indonesia 7Prodi Ekonomi Syariah. Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam. Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal. Jambi. Indonesia *Penulis korespondensi : M. Taufik Ullatif *E-mail : m. taufikullatif@gmail. Diterima: 07 Januari 2. Direvisi: 20 Januari 2. Disetujui: 30 Januari 2026 |A Penulis 2026 Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran pengrajin batik sebagai pelaku ekonomi kreatif dalam upaya pelestarian batik Tanjung Pasir sebagai warisan budaya lokal. Kegiatan dilaksanakan di Desa Tanjung Pasir dengan melibatkan pengrajin batik sebagai mitra utama, serta didukung oleh tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan pelaku UMKM setempat. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari pemetaan kondisi dan potensi, perencanaan aksi, pelaksanaan pendampingan, hingga evaluasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi kegiatan. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan PAR mampu meningkatkan kesadaran dan partisipasi pengrajin batik dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang tercermin dalam proses produksi dan filosofi batik Tanjung Pasir. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Kata kunci: Pengrajin Batik. Ekonomi Kreatif. Pelestarian Budaya Lokal. Participatory Action Research. Desa Tanjung Pasir. Abstract This community service program aims to strengthen the role of batik artisans as creative economy actors in preserving Tanjung Pasir batik as a local cultural heritage. The program was conducted in Tanjung Pasir Village by involving batik artisans as the main partners, supported by community leaders, village government, and local MSME actors. The method applied was Participatory Action Research (PAR), which emphasizes active community involvement throughout all stages of the program, including condition and potential mapping, action planning, mentoring implementation, as well as evaluation and Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and activity The data were analyzed qualitatively through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source and technique triangulation. The results indicate that the PAR approach enhances awareness and participation of batik artisans in preserving local cultural values reflected in the production process and philosophical meaning of Tanjung Pasir This program is expected to contribute to the strengthening of culture-based creative economy Keywords: Batik Artisans. Creative Economy. Local Cultural Preservation. Participatory Action Research. Tanjung Pasir Village. Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ISSN : 2614-5251 . | ISSN : 2614-526X . PENDAHULUAN Batik merupakan salah satu simbol penting kebudayaan Indonesia yang telah diakui secara nasional maupun internasional, sebagaimana penetapannya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada tahun 2009(Aisyah Kharisma Yogi et al. , 2. Keberagaman motif batik di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa batik berkembang melalui interaksi antara masyarakat dan lingkungan sosial-budaya setempat(Aisyah Kharisma Yogi et al. , 2. Berbagai kajian sebelumnya menegaskan bahwa batik tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung makna filosofis yang merepresentasikan identitas dan kearifan lokal suatu komunitas(Kapeanis et al. , 2. Dalam konteks wilayah pesisir, batik sering kali menampilkan motif yang merefleksikan kondisi alam laut, aktivitas masyarakat, serta nilai-nilai kehidupan yang melekat pada budaya bahari(Dewi & Budiwirman, 2. Salah satu daerah yang memiliki potensi batik khas adalah Desa Tanjung Pasir, sebuah desa pesisir yang kaya akan budaya dan sumber daya alam. Batik khas Desa Tanjung Pasir menampilkan motif-motif yang terinspirasi dari alam pesisir seperti gelombang laut, pasir pantai, vegetasi bakau, dan fauna pesisir, yang mencerminkan local wisdom dalam produksi batik tradisional (Istiqomah et al. Selain itu, batik ini juga mengandung filosofi yang mencerminkan karakter masyarakat pesisir yang bersahaja, tangguh, dan memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan alam, yang menjadi ekspresi identitas budaya lokal . irip dengan kajian lokal values dalam motif batik yang memuat simbol dan makna buday. (Purwaningsih et al. , 2. Tradisi membatik yang diwariskan secara turun-temurun menjadikan batik sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Tanjung Pasir. Namun demikian, keberlangsungan batik tradisional menghadapi berbagai tantangan di era Masuknya produk tekstil modern dan batik printing menyebabkan persaingan pasar yang semakin ketat, sementara keterbatasan bahan baku serta rendahnya minat generasi muda dalam melanjutkan tradisi membatik turut mengancam keberlanjutan batik lokal, sebagaimana sejumlah studi menyatakan rendahnya keterlibatan generasi muda dalam usaha batik tulis dan terbatasnya kapasitas produksi pengrajin tradisional (Maulana, 2. Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kurangnya dokumentasi, promosi, dan pendampingan kepada pengrajin menjadi faktor utama melemahnya daya saing batik tradisional di tingkat local (Fajriyansyah, 2. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menawarkan solusi melalui upaya pendokumentasian, penguatan pemahaman nilai filosofis batik, serta pengenalan potensi ekonomi batik khas Desa Tanjung Pasir. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendokumentasikan sejarah, filosofi motif, dan proses produksi Batik Tanjung Pasir, sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal dan mendorong pengembangan batik sebagai bagian dari ekonomi kreatif desa. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Tanjung Pasir dengan melibatkan pengrajin batik sebagai mitra utama, serta didukung oleh tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan pelaku UMKM setempat. Metode yang diterapkan adalah Participatory Action Research (PAR), yaitu pendekatan pengabdian yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, guna memperkuat peran pengrajin batik dalam upaya pelestarian batik Tanjung Pasir sebagai warisan budaya lokal. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pemetaan kondisi, permasalahan, dan potensi masyarakat melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan pengrajin batik serta pihak terkait untuk menggali karakteristik, nilai filosofis, dan proses pembuatan batik Tanjung Pasir. Selanjutnya dilakukan perumusan rencana aksi secara bersama antara tim pengabdian dan mitra guna menentukan langkah-langkah penguatan peran pengrajin batik dalam pelestarian budaya lokal. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan aksi pendampingan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat, yang kemudian diakhiri dengan evaluasi dan refleksi untuk menilai capaian serta dampak kegiatan. Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi Pengrajin Batik dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya Lokal Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jamahari dkk Pengumpulan data dilakukan secara partisipatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi berupa foto kegiatan. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui penerapan triangulasi sumber dan teknik guna memastikan ketepatan dan keandalan informasi yang diperoleh. HASIL DAN PEMBAHASAN Seni Rupa Keindahan Batik Khas Desa Tanjung Pasir Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tanjung Pasir dilakukan melalui beberapa tahapan sebagaimana dirancang dalam metode, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, serta tahap evaluasi dan monitoring. Pada tahap persiapan, tim melakukan koordinasi dengan pengrajin batik, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa untuk menentukan fokus kegiatan, mengidentifikasi potensi serta permasalahan yang dihadapi pengrajin, serta menyusun instrumen observasi dan wawancara. Tahap ini berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari mitra Tahap pelaksanaan kegiatan difokuskan pada observasi langsung proses produksi batik, pendokumentasian motif dan teknik pembuatan, serta wawancara mendalam dengan pengrajin utama. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Batik Tanjung Pasir memiliki kekhasan kuat yang tercermin pada motif-motif pesisir seperti perahu layar, hasil laut, pinang betabur, dan tangga nada, yang masingmasing mengandung nilai filosofis tentang kehidupan masyarakat pesisir. Proses produksi masih mempertahankan teknik tradisional batik cap dengan penggunaan bahan dan peralatan sederhana, meskipun sebagian telah memanfaatkan teknologi pendukung. Dari sisi dampak kegiatan, pengrajin menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap nilai filosofis motif batik serta pentingnya dokumentasi sebagai upaya pelestarian dan pengembangan produk. Tahap evaluasi dan monitoring dilakukan melalui wawancara lanjutan dan observasi hasil Evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif secara kualitatif, berupa meningkatnya kesadaran pengrajin terhadap potensi ekonomi batik, peluang pengembangan UMKM, serta kemungkinan integrasi batik dengan wisata budaya desa. Batik karya pengrajin utama telah diproduksi dan dipasarkan secara berkelanjutan dengan total penjualan mencapai sekitar 2. lembar kain sejak tahun 2021, yang menunjukkan daya saing batik lokal di pasar. Selama pelaksanaan kegiatan, ditemukan beberapa kendala, antara lain keterbatasan bahan baku, persaingan dengan batik printing, minimnya regenerasi pengrajin muda, serta keterbatasan inovasi desain dan pemasaran. Sebagai solusi, diperlukan pendampingan berkelanjutan melalui pelatihan membatik bagi generasi muda, kolaborasi dengan desainer, penguatan branding produk, serta pengembangan wisata edukasi batik berbasis desa. Pada bagian ini dilampirkan dokumentasi kegiatan berupa foto-foto proses observasi, wawancara, dan aktivitas produksi batik sebagai bukti pelaksanaan kegiatan pengabdian. Gambaran Umum Kegiatan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tanjung Pasir dirancang secara sistematis dan berkelanjutan melalui beberapa tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, serta tahap evaluasi dan monitoring. Pola ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis pemberdayaan masyarakat yang menekankan keterlibatan aktif mitra sasaran sejak tahap perencanaan hingga evaluasi kegiatan (Haryono & Inayah, 2. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini mengacu pada Participatory Action Research (PAR), di mana pengrajin batik tidak hanya diposisikan sebagai objek kegiatan, melainkan sebagai subjek utama yang terlibat secara aktif dalam proses penggalian data, refleksi, dan perumusan solusi. Pendekatan ini dianggap relevan karena mampu menggali potensi lokal secara kontekstual serta mendorong rasa kepemilikan masyarakat terhadap hasil kegiatan pengabdian (Khafsoh & Riani, 2. Tahap Persiapan Kegiatan Jurnal Seni Rupa Keindahan Batik Khas Desa Tanjung Pasir Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ISSN : 2614-5251 . | ISSN : 2614-526X . Tahap persiapan merupakan fondasi utama dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pada tahap ini, tim pengabdian melakukan koordinasi awal dengan berbagai pemangku kepentingan, antara lain pengrajin batik, tokoh masyarakat, serta pemerintah Desa Tanjung Pasir. Koordinasi tersebut bertujuan untuk membangun kesepahaman mengenai tujuan kegiatan, ruang lingkup program, serta peran masing-masing pihak yang terlibat (Qomar et al. , 2. Selain koordinasi, tahap persiapan juga difokuskan pada kegiatan identifikasi potensi dan permasalahan yang dihadapi pengrajin batik. Proses identifikasi dilakukan melalui observasi awal dan diskusi informal, sehingga diperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi produksi, pemasaran (Agustian et al. , 2. , serta keberlanjutan usaha batik di Desa Tanjung Pasir. Langkah ini sejalan dengan prinsip analisis kebutuhan . eed assessmen. dalam kegiatan pemberdayaan UMKM . Dalam rangka mendukung pengumpulan data yang sistematis, tim pengabdian menyusun instrumen observasi dan pedoman wawancara yang disesuaikan dengan karakteristik pengrajin batik setempat (Herliza et al. , 2. Instrumen tersebut dirancang untuk menggali informasi terkait proses produksi, nilai filosofis motif batik, serta tantangan yang dihadapi pengrajin dalam mengembangkan Penyusunan instrumen yang terstruktur penting untuk menjaga validitas dan reliabilitas data kualitatif yang diperoleh. Secara umum, tahap persiapan kegiatan berjalan dengan baik dan memperoleh respons positif dari mitra sasaran. Antusiasme pengrajin dan dukungan pemerintah desa menjadi indikator awal bahwa kegiatan pengabdian ini relevan dengan kebutuhan masyarakat dan berpotensi memberikan dampak yang berkelanjutan. Tahap Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat Tahap pelaksanaan kegiatan pengabdian difokuskan pada implementasi program yang telah dirancang pada tahap persiapan. Kegiatan utama pada tahap ini meliputi observasi langsung proses produksi batik, pendokumentasian motif dan teknik pembuatan, serta wawancara mendalam dengan pengrajin utama sebagai informan kunci. Observasi langsung dilakukan untuk memperoleh pemahaman empiris mengenai alur produksi batik, mulai dari persiapan bahan, proses pengecapan, pewarnaan, hingga tahap finishing. Metode observasi partisipatif memungkinkan tim pengabdian untuk melihat secara langsung praktik kerja pengrajin serta interaksi sosial yang terjadi dalam proses produksi (Agustian et al. , 2. Hasil observasi menunjukkan bahwa Batik Tanjung Pasir memiliki kekhasan yang kuat, terutama pada motif-motif yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat pesisir. Motif perahu layar, hasil laut, pinang betabur, dan tangga nada tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang merefleksikan identitas budaya lokal. Motif-motif tersebut merepresentasikan semangat kerja keras, ketergantungan pada alam, serta harmoni sosial masyarakat Dari sisi teknik produksi, pengrajin Batik Tanjung Pasir masih mempertahankan teknik tradisional batik cap dengan penggunaan bahan dan peralatan sederhana. Meskipun demikian, terdapat upaya adaptasi terhadap perkembangan teknologi, seperti penggunaan alat bantu modern untuk efisiensi waktu produksi. Kondisi ini mencerminkan dinamika antara pelestarian tradisi dan tuntutan efisiensi dalam ekonomi kreatif (Rahayu, 2. Dampak Kegiatan Pelaksanaan Terhadap Pengrajin Pelaksanaan kegiatan pengabdian memberikan dampak positif secara kualitatif terhadap pengrajin batik di Desa Tanjung Pasir. Salah satu dampak yang paling menonjol adalah meningkatnya pemahaman pengrajin terhadap nilai filosofis motif batik yang mereka hasilkan. Pemahaman ini penting karena nilai budaya yang melekat pada produk batik dapat menjadi keunggulan kompetitif dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis lokal (Kapeanis et al. , 2. Selain itu, pengrajin juga mulai menyadari pentingnya dokumentasi motif dan proses produksi sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya. Dokumentasi yang baik tidak hanya berfungsi sebagai arsip budaya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media promosi dan edukasi bagi masyarakat luas (Adi, 2. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi Pengrajin Batik dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya Lokal Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jamahari dkk valuasi pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan tahapan penting untuk menilai tingkat ketercapaian tujuan program serta efektivitas metode yang diterapkan. Evaluasi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pengrajin batik sebagai mitra utama, sehingga hasil evaluasi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga reflektif dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan masyarakat sasaran. Pendekatan evaluasi partisipatif ini sejalan dengan prinsip Participatory Action Research (PAR) yang menekankan proses refleksi bersama sebagai dasar perbaikan berkelanjutan program pengabdian (Qomar et al. , 2. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan yang direncanakan telah terlaksana dengan baik, khususnya pada aspek pendampingan produksi dan dokumentasi motif batik. Keterlibatan aktif pengrajin dalam setiap tahapan kegiatan menjadi faktor pendukung utama keberhasilan program. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis partisipasi mampu meningkatkan rasa memiliki . ense of ownershi. masyarakat terhadap program pengabdian (Sufaidah et al. , 2. Penguatan Pengrajin Batik Sebagai Pelaku UMKM Pengrajin batik di Desa Tanjung Pasir pada dasarnya merupakan bagian dari pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian Melalui kegiatan pengabdian ini, pengrajin tidak hanya diposisikan sebagai produsen, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi kreatif yang memiliki potensi untuk mengembangkan nilai tambah produk berbasis budaya lokal. Penguatan peran pengrajin sebagai pelaku UMKM dilakukan melalui pendampingan nonformal, seperti diskusi terkait keberlanjutan usaha, pemahaman pasar, dan pentingnya inovasi tanpa meninggalkan nilai tradisional batik. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pemberdayaan UMKM yang menekankan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai kunci keberhasilan usaha. Pendampingan yang dilakukan juga mendorong pengrajin untuk memahami bahwa kekhasan motif dan cerita budaya yang melekat pada batik dapat menjadi identitas produk sekaligus strategi diferensiasi di tengah persaingan pasar. Dengan demikian, batik tidak hanya dipandang sebagai produk sandang, tetapi sebagai karya ekonomi kreatif yang memiliki nilai budaya dan ekonomi secara bersamaan (Agustian et al. , 2. Batik Sebagai Produk Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Batik Tanjung Pasir memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Ekonomi kreatif menempatkan ide, kreativitas, dan nilai budaya sebagai sumber utama penciptaan nilai ekonomi. Dalam konteks ini, motif batik yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat pesisir menjadi kekuatan utama dalam membangun identitas produk yang unik dan berdaya saing. Pengembangan batik sebagai produk ekonomi kreatif tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga pada penguatan narasi budaya yang menyertai setiap motif. Narasi tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, terutama dalam pasar yang menghargai keaslian dan nilai budaya lokal. Ekonomi kreatif berbasis budaya juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi Dengan menjadikan budaya sebagai sumber ekonomi, masyarakat terdorong untuk terus melestarikan tradisi tersebut karena memiliki nilai manfaat secara langsung bagi kehidupan mereka. Dokumentasi Batik Sebagai Strategi Pelestarian Dan Promosi Budaya Salah satu hasil penting dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatnya kesadaran pengrajin terhadap pentingnya dokumentasi motif dan proses produksi batik. Dokumentasi tidak hanya berfungsi sebagai arsip budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran dan promosi yang dapat memperluas jangkauan pengenalan batik Tanjung Pasir kepada masyarakat luas. Dokumentasi yang sistematis, baik dalam bentuk foto, catatan motif, maupun deskripsi proses produksi, berperan penting dalam upaya pelestarian warisan budaya tak benda. Selain itu, dokumentasi juga dapat dimanfaatkan Jurnal Seni Rupa Keindahan Batik Khas Desa Tanjung Pasir Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ISSN : 2614-5251 . | ISSN : 2614-526X . sebagai bahan pendukung promosi melalui media digital dan kegiatan pameran budaya (Kapeanis et , 2. Dengan adanya dokumentasi yang baik, batik Tanjung Pasir memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya lokal. Hal ini membuka peluang baru bagi pengrajin untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas (Sapna. , & Astuti, 2. Evaluasi dan Monitoring Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi dan monitoring merupakan komponen penting dari setiap kegiatan pengabdian kepada masyarakat karena berfungsi untuk memeriksa kesesuaian pelaksanaan program terhadap tujuan awal, mengidentifikasi hambatan yang muncul di lapangan, serta merumuskan strategi Dalam konteks Program Pengabdian di Desa Tanjung Pasir, evaluasi dilakukan secara bertahap mulai dari umpan balik langsung pengrajin batik, observasi lapangan, hingga pembahasan kelompok kecil dengan tokoh masyarakat sehingga semua aspek kegiatan dipantau secara sistematis. Kegiatan evaluasi yang bersifat partisipatif ini sesuai dengan prinsip Participatory Monitoring and Evaluation (PM&E), yakni melibatkan langsung mitra program dalam menilai outcome yang telah dicapai dan hambatan yang dihadapi selama proses pelaksanaan kegiatan. Sedangkan monitoring merupakan proses berkelanjutan yang dilakukan untuk melihat dinamika perubahan dalam kemampuan pengrajin, penguasaan proses produksi, dan dokumentasi batik yang terus dilakukan secara sistematis. Dalam kegiatan pengabdian, monitoring dipadukan dengan refleksi tim dan pengrajin untuk memetakan indikator pencapaian seperti pemahaman nilai budaya, peningkatan kapasitas produksi, serta kemandirian pemasaran produk batik. Hal ini sejalan dengan pendekatan evaluasi PKM yang menekankan pengukuran capaian proses serta dampak yang dihasilkan secara berkelanjutan. Evaluasi Dampak Terhadap Kapasitas UMKM Batik Tanjung Pasir Evaluasi dampak ditujukan untuk melihat perubahan signifikan yang dialami oleh pelaku UMKM batik sebagai akibat dari pelaksanaan kegiatan pengabdian. Secara kualitatif, evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman pengrajin terhadap nilai filosofis motif batik meningkat dengan adanya refleksi bersama sebagai bagian dari monitoring kegiatan. Pengetahuan ini berperan penting dalam memposisikan batik Tanjung Pasir lebih kuat sebagai produk ekonomi kreatif yang tidak hanya berorientasi pada aspek komoditas, tetapi juga memperkuat identitas budaya local (Putra et al. , 2. Tidak hanya dari sisi budaya, evaluasi juga mencatat bahwa dokumentasi yang dilakukan tim pengabdian memberikan pengrajin wawasan baru tentang pentingnya catatan visual dan deskriptif dalam proses produksi batik. Dokumentasi ini menjadi bukti autentik pelaksanaan program sekaligus sebagai alat untuk menyusun strategi pemasaran dan edukasi kepada konsumen lebih luas. Dengan demikian, evaluasi membantu para pengrajin menyusun rencana tindak lanjut untuk meningkatkan daya saing produk batik di pasar lokal maupun nasional (Putra et al. , 2. Rekomendasi Pengembangan Program Berkelanjutan Berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring, disusun rekomendasi untuk memperkuat dampak program secara jangka panjang. Pertama, peningkatan kapasitas pengrajin batik melalui pelatihan lanjutan yang fokus pada pengembangan desain motif, manajemen usaha, serta strategi pemasaran Pelatihan ini penting untuk memperkuat posisinya dalam pasar ekonomi kreatif dan menghadapi tantangan kompetitif. Kedua, perlu adanya pengembangan kolaborasi antara pengrajin dengan pihak akademik, pemerintah desa, dan pelaku industri kreatif untuk membuka jaringan pemasaran yang lebih luas, termasuk partisipasi dalam pameran budaya dan promosi budaya batik. Kolaborasi ini dapat mensinergikan kegiatan pemberdayaan dengan penguatan jejaring pemasaran, yang secara teoritis dan empiris terbukti meningkatkan keberlanjutan usaha UMKM (Sufaidah et al. , 2. Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi Pengrajin Batik dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya Lokal Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jamahari dkk Selain itu, rekomendasi lain yang penting adalah memanfaatkan hasil dokumentasi untuk membangun portofolio produk batik yang dapat diakses secara digital, termasuk katalog online, media promosi digital, dan materi edukasi untuk wisata budaya. Pendekatan ini tidak hanya memperluas jangkauan pasar, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya batik melalui penyebaran informasi yang lebih luas kepada masyarakat umum (Hapsari et al. , 2. Penguatan Keberlanjutan Kegiatan Pengabdian dan Implikasinya Keberlanjutan kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan agar dampak program tidak bersifat sementara. Dalam konteks Batik Tanjung Pasir, keberlanjutan tidak hanya diukur dari berjalannya proses produksi, tetapi juga dari kemampuan pengrajin dalam mempertahankan nilai budaya sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika pasar. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian yang dilakukan perlu diposisikan sebagai proses pembelajaran berkelanjutan yang mendorong kemandirian pengrajin dalam mengelola usaha batik secara adaptif dan Pendekatan Participatory Action Research (PAR) memberikan ruang bagi pengrajin untuk melakukan refleksi kritis terhadap praktik produksi yang selama ini dijalankan. Melalui proses refleksi tersebut, pengrajin dapat mengidentifikasi peluang pengembangan produk tanpa harus meninggalkan karakteristik lokal yang menjadi ciri khas Batik Tanjung Pasir. Hal ini sejalan dengan prinsip ekonomi kreatif yang menekankan pemanfaatan kreativitas, pengetahuan, dan budaya lokal sebagai sumber utama penciptaan nilai tambah ekonomi. Selain itu, keberadaan dukungan dari pemerintah desa dan pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor pendukung dalam menjaga kesinambungan kegiatan pengabdian. Sinergi antara pengrajin, pemerintah desa, dan institusi pendidikan diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan batik sebagai produk unggulan desa. Dengan demikian. Batik Tanjung Pasir tidak hanya berfungsi sebagai simbol identitas budaya lokal, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Penguatan peran pengrajin batik dalam pengembangan ekonomi kreatif Pengrajin batik di Desa Tanjung Pasir memainkan peran strategis sebagai pelaku utama dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga dengan kemampuan untuk menerjemahkan nilai budaya ke dalam produk yang memiliki nilai tambah ekonomi. Kegiatan pengabdian yang mengadopsi pendekatan partisipatif telah mendorong pengrajin untuk lebih peka terhadap berbagai peluang pasar serta tantangan persaingan produk kain modern, sehingga mereka mampu memadukan kekhasan budaya dengan strategi pemasaran yang relevan dengan kebutuhan pasar kontemporer. Pendekatan seperti ini juga telah dibuktikan mampu meningkatkan penetrasi pasar UMKM batik melalui strategi pemasaran yang melibatkan media digital dan pameran kreatif sebagai sarana promosi sekaligus edukasi budaya (Izzuddin & Halim, 2. Pemberdayaan UMKM Batik Sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Lokal Pemberdayaan UMKM batik merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi berbasis Kegiatan pendampingan yang dilakukan dalam pengabdian ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis produksi, tetapi juga memperkuat kemampuan manajerial pengrajin untuk mengelola usaha mereka secara berkelanjutan. Hal ini mencakup pemahaman terhadap perencanaan produksi, tata niaga, serta pemasaran yang lebih efisien. Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan, pendampingan juga diarahkan pada literasi digital dan pemasaran online agar produk batik lokal dapat diakses oleh pasar yang lebih luas, termasuk calon pembeli nasional dan internasional. Pendekatan integratif ini sejalan dengan upaya transformasi ekonomi komunitas dalam pengembangan usaha kreatif berbasis budaya local (Utama & Hamid, 2. Pelestarian Budaya Lokal melalui Edukasi dan Dokumentasi Jurnal Seni Rupa Keindahan Batik Khas Desa Tanjung Pasir Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ISSN : 2614-5251 . | ISSN : 2614-526X . Pelestarian budaya lokal merupakan tujuan utama dari pengabdian ini, yang mengintegrasikan nilai budaya ke dalam aktivitas ekonomi produktif. Pendokumentasian motif batik dan proses pembuatannya menjadi langkah strategis untuk menjaga kesinambungan tradisi dan transfer pengetahuan antar generasi. Dokumentasi ini berfungsi sebagai sumber pembelajaran yang dapat digunakan tidak hanya oleh generasi sekarang tetapi juga generasi berikutnya, sehingga warisan budaya tidak hilang akibat perubahan sosial dan ekonomi. Selain itu, integrasi batik ke dalam program edukasi budaya, seperti kegiatan sosialisasi, workshop, dan pameran batik, dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya melestarikan seni batik sebagai kekayaan budaya Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan edukatif ini mampu memperkuat rasa identitas budaya sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi (Siswati et al. , 2. Sinergi Pemangku Kepentingan Untuk Keberlanjutan Pemberdayaan Batik Keberhasilan kegiatan pengabdian tidak lepas dari kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan seperti pengrajin, pemerintah desa, akademisi, dan pelaku industri kreatif. Sinergi lintas sektor ini penting untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi lokal. Pemerintah desa dapat memberikan dukungan kebijakan serta fasilitas promotif, sementara akademisi berperan dalam menyediakan basis pengetahuan dan fasilitasi riset untuk peningkatan kualitas produk batik. Kolaborasi yang demikian menciptakan jaringan yang lebih kuat untuk memasarkan produk batik ke pasar yang lebih luas dan membuka peluang kerja baru di sektor pariwisata budaya. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa keterlibatan serta dukungan berbagai pihak dapat membawa dampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya dalam jangka Panjang. Penguatan Evaluasi. Pengembangan UMKM, dan Implikasi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Proses evaluasi dilakukan secara partisipatif melalui diskusi reflektif bersama pengrajin batik dan tokoh masyarakat setempat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam menilai keberhasilan kegiatan Melalui diskusi tersebut, pengrajin diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, kendala, serta manfaat yang dirasakan selama kegiatan berlangsung. Pendekatan reflektif ini memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dua arah antara tim pengabdian dan mitra, sehingga hasil evaluasi tidak bersifat sepihak, melainkan dibangun secara kolektif. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kesadaran pengrajin terhadap pentingnya nilai filosofis motif batik yang mereka Pengrajin mulai memahami bahwa motif batik tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi juga mengandung makna budaya yang merepresentasikan identitas masyarakat pesisir. Pemahaman ini menjadi modal penting dalam pengembangan batik sebagai produk unggulan desa, karena nilai budaya yang kuat dapat menjadi keunggulan kompetitif dalam menghadapi persaingan pasar. Temuan ini sejalan dengan pandangan bahwa produk berbasis budaya memiliki daya tarik tersendiri apabila dikembangkan dengan mempertahankan keaslian dan kearifan lokal (Sedyawati, 2. Dalam perspektif pengembangan UMKM. Batik Tanjung Pasir dapat dikategorikan sebagai usaha berbasis budaya yang memiliki potensi besar dalam mendorong perekonomian lokal. Kegiatan pengabdian berperan sebagai sarana pendampingan yang membantu pengrajin memahami aspek manajerial usaha, seperti pengelolaan produksi, efisiensi waktu, serta pentingnya pencatatan Penguatan kapasitas pengrajin sebagai pelaku UMKM dinilai penting karena sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam keberhasilan dan keberlanjutan usaha kecil (Suryana, 2. Selain aspek manajerial, kegiatan pengabdian juga mendorong pengrajin untuk mulai memandang usaha batik mereka sebagai bagian dari ekosistem UMKM yang lebih luas. Kesadaran ini penting agar pengrajin mampu menyesuaikan diri dengan dinamika pasar tanpa harus meninggalkan karakteristik lokal yang menjadi ciri khas produk batik. Pengembangan UMKM berbasis budaya dinilai strategis karena mampu mengintegrasikan tujuan ekonomi dengan upaya pelestarian budaya secara Meningkatkan Kesadaran dan Partisipasi Pengrajin Batik dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya Lokal Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jamahari dkk simultan (Tambunan, 2. Lebih lanjut. Batik Tanjung Pasir memiliki relevansi yang kuat dengan konsep ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Ekonomi kreatif menempatkan kreativitas, pengetahuan, dan budaya sebagai sumber utama penciptaan nilai tambah ekonomi. Dalam konteks ini, motif, teknik, dan filosofi batik merupakan aset kreatif yang bernilai tinggi. Kegiatan pengabdian membantu pengrajin memahami potensi tersebut, sehingga mereka tidak hanya berorientasi pada kuantitas produksi, tetapi juga pada kualitas dan nilai budaya produk yang dihasilkan (Howkins, 2. Pemahaman terhadap ekonomi kreatif mendorong pengrajin untuk lebih selektif dalam melakukan inovasi produk. Inovasi yang dilakukan tidak dimaknai sebagai perubahan total terhadap motif atau teknik tradisional, melainkan sebagai upaya penyesuaian yang tetap mempertahankan identitas lokal. Pendekatan ini penting agar batik tidak kehilangan makna budayanya akibat tuntutan Hal ini sejalan dengan kebijakan pengembangan ekonomi kreatif yang menekankan keseimbangan antara inovasi dan pelestarian budaya (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Implikasi lain dari kegiatan pengabdian adalah meningkatnya kesadaran pengrajin terhadap pentingnya dokumentasi motif dan proses produksi batik. Dokumentasi dipahami tidak hanya sebagai arsip, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan promosi budaya. Melalui dokumentasi yang baik, pengetahuan tradisional mengenai batik dapat diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga keberlanjutan budaya tetap terjaga. Upaya pelestarian budaya melalui dokumentasi dinilai penting untuk mencegah hilangnya pengetahuan lokal akibat perubahan sosial dan ekonomi (Rohidi, 2. Secara keseluruhan, penggabungan antara evaluasi kegiatan, pengembangan UMKM, dan pendekatan ekonomi kreatif menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tanjung Pasir tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas pengrajin, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya lokal. Batik Tanjung Pasir tidak lagi dipahami semata sebagai produk ekonomi, melainkan sebagai simbol identitas budaya yang memiliki nilai strategis dalam pembangunan ekonomi berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini dapat dipandang sebagai langkah awal dalam membangun ekosistem batik yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di Desa Tanjung Pasir, dapat disimpulkan bahwa pendekatan Participatory Action Research (PAR) terbukti efektif dalam memperkuat peran pengrajin batik sebagai pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Pendekatan ini memungkinkan keterlibatan aktif pengrajin sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan, sehingga program pengabdian tidak hanya bersifat top-down, tetapi berorientasi pada kebutuhan dan potensi masyarakat setempat. Kegiatan pendampingan yang dilaksanakan berhasil meningkatkan pemahaman pengrajin terhadap nilai filosofis motif Batik Tanjung Pasir. Selain penguatan aspek budaya, kegiatan pengabdian ini juga memberikan dampak positif terhadap kesadaran ekonomi pengrajin. Batik Tanjung Pasir semakin dipahami sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah tinggi apabila dikembangkan dengan mempertahankan keunikan motif dan cerita budaya yang menyertainya. Dokumentasi proses produksi dan motif batik yang dilakukan dalam kegiatan ini turut berperan sebagai strategi penguatan identitas produk, sekaligus sebagai sarana promosi dan edukasi budaya kepada masyarakat luas. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendokumentasian batik memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pelestarian warisan budaya tak benda. Dokumentasi tidak hanya berfungsi sebagai arsip budaya, tetapi juga membuka peluang pengembangan batik sebagai bagian dari wisata budaya desa. Dengan adanya dokumentasi yang sistematis, pengetahuan tentang batik Tanjung Pasir dapat diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga keberlanjutan tradisi membatik tetap terjaga di tengah dinamika perubahan sosial dan ekonomi. Dari perspektif pemberdayaan UMKM, kegiatan pengabdian ini mendorong pengrajin untuk memandang usahanya secara lebih strategis dan Pengrajin mulai memahami pentingnya inovasi, manajemen usaha sederhana, serta pemanfaatan peluang pasar tanpa harus menghilangkan karakteristik tradisional batik. Hal ini Jurnal Seni Rupa Keindahan Batik Khas Desa Tanjung Pasir Khidmatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ISSN : 2614-5251 . | ISSN : 2614-526X . menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi lokal dapat berjalan secara sinergis apabila didukung oleh pendampingan yang tepat dan berkelanjutan. Meskipun demikian, kegiatan pengabdian ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan bahan baku, persaingan dengan batik printing, minimnya regenerasi pengrajin muda, serta keterbatasan inovasi desain dan pemasaran. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan peran pengrajin batik memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah desa, institusi pendidikan, dan pelaku industri kreatif. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tanjung Pasir memberikan gambaran bahwa pengrajin batik memiliki peran strategis tidak hanya sebagai produsen kain batik, tetapi juga sebagai penjaga dan pelestari nilai budaya lokal. Melalui pendekatan partisipatif, pengrajin didorong untuk menjadi subjek utama dalam pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif desa. Dengan demikian. Batik Tanjung Pasir berpotensi berkembang sebagai produk unggulan berbasis kearifan lokal yang berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan budaya UCAPAN TERIMAKASIH