AL-HUDA JURNAL PENDIDIKAN DASAR Penerbit: Prodi Pendidikan Guru MI STAI Miftahul Huda Subang Jl. Raya Rancasari Dalam No. B33. Rancasari. Kec. Pamanukan. Kabupaten Subang. Jawa Barat 41254 E-ISSN: P-ISSN: https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/alhuda/index PERAN GURU KELAS DALAM MENCEGAH TERJADINYA BULLYING 1Yudi Hadiansyah, 2Nurul Fadila, 3Taufik Firdaus, 4Miptah Parid 1,2,3,4STAI Miftahul Huda Subang. Email: iduywe@gmail. com, nurulfadila1231@gmail. ARTICLE HISTORY Received: Juni 2025 Revised: Agustus 2025 Accepted: September 2025 Abstract: Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya permasalahan bullying di kalangan siswa semakin mengkhawatirkan. Bullying dapat berdampak buruk pada kesejahteraan siswa, seperti menurunkan rasa percaya diri, meningkatkan tingkat kecemasan dan depresi, serta menurunkan prestasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakan guru kelas dalam mencegah terjadinya bullying, hambatanhambatan dalam mencegah terjadinya bullying serta upaya dalam pencegahan bullying di kelas VI. Karena pada tingkat sekolah dasar, yang menjadi komponen penting dalam melaksanakan Pendidikan adalah guru Guru kelas tentunya memiliki tugas utama yang salah satunya adalah melakukan bimbingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Adapun teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data antara lain dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada tahap selanjutnya, hasil dari wawancara kepada guru lalu diinterpretasi, dideskripsi dan dianalisis. Khusus untuk hasil observasi, wawancara dan dokumentasi pada siswa dianalisis berdasarkan indikator mengenai peran guru kelas dalam mencegah terjadinya bullying. Setelah analisis data dilakukan, peneliti mengecek keabsahan data dengan menggunakan ketekunan pengamatan dan triangulasi. Kemudian menyusun laporan dan melaporkan hasil penelitian. Hasil dari penelitian ini mengungkap berbagai strategi yang dapat diterapkan guru kelas, mulai dari membangun hubungan yang kuat dengan siswa, mengajarkan keterampilan sosial, menegakkan aturan sekolah, . pengembangan program anti-bullying, hingga penanganan kasus bullying secara efektif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan program pencegahan bullying di sekolah dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi semua siswa. Keywords: Bullying. Guru Kelas. Pencegahan. Sekolah Dasar. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 112 A. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan kebutuhan setiap diri manusia, dimana terjadi timbal balik antara guru dan peserta didik. Pendidikan memegang peranan penting dalam membekali setiap jati diri manusia agar menjadi pribadi yang terpelajar dan berwawasan luas. Sekolah merupakan salah satu lembaga yang menjadi penggerak dalam mencapai keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan dari pendidikan Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab (UU No. 20 tahun 2003: Pasal . Untuk menyiapkan pendidikan yang diharapkan maka perlulah peran seorang pengajar yang menjadi jembatan bagi generasi muda untuk membekali dirinya di masa depan. Oleh karena itu peran guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Seorang guru harus mampu mengarahkan dan membimbing peserta didik dari satu tahap ke tahap perkembangannya hingga mencapai kemampuan yang maksimal. Menjadikan siswa memiliki akhlak mulia, budi pekerti luhur, menaati peraturan dan norma yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat. Dalam lingkungan sekolah, terdapat beberapa jenis perilaku siswa, misalnya berupa perilaku positif atau negatif. Contoh perilaku negatif adalah bullying yang sering terjadi di sekolah. Bullying dapat menyinggung atau menyakiti perasaan Bullying adalah sebuah situasi di mana terjadi nya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik dan atau Jika tindakan bullying ini terus dibiarkan, maka besar kemungkinan tujuan pendidikan yang tertera di Undang-Undang Republik Indonesia akan sangat sulit dicapai, maka untuk itu dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk memberantas atau mencegah tindakan bullying seperti pemerintah, masyarakat, pihak sekolah, orangtua, dan siswa. Salah satu pihak sekolah yang sangat berperan dalam mencegah dan mengentaskan tindakan bullying yaitu guru kelas. Guru sebagai konselor harus sensitif dalam mengobservasi tingkah laku siswa. Mereka harus mencoba merespon secara konstruktif ketika emosi siswa jika akan mulai mengganggu belajar. Di Indonesia, isu bullying juga menjadi perhatian banyak pihak, termasuk para ahli pendidikan, psikologi, dan sosial. Walau literatur dari Indonesia mungkin tidak sebanyak dari negara-negara Barat, definisi bullying dari para ahli Indonesia pada dasarnya memiliki kesamaan dengan definisi internasional namun disesuaikan dengan konteks sosial budaya di Indonesia. Bullying merupakan kekerasaan yang melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan dengan tujuan membuat orang lain merasa tidak dilakukan atas dasar perbedaan pada penampilan, budaya, agama dan lain-lain. Bullying yang terjadi mulai dari lingkungan pergaulan hingga di lingkungan sekolah sangat beragam dapat berupa verbal maupun fisik. Peran guru terhadap bullying pada siswa yaitu sebagai orang yang membimbing atau yang memberi nasehat dan mengarahkan serta membina siswa sehingga dapat mengatasi kasus atau masalah yang terjadi mengenai bullying dan agar dapat meminimalisir bullying yang terjadi di sekolah, sehingga siswa bisa menjadi lebih baik. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 113 Indikator bullying yang dapat ditemui di lingkungan sekolah adalah bullying dalam bentuk non-fisik, yang terbagi menjadi dua bagian yaitu bullying verbal dan non-verbal. Bullying verbal meliputi memaki, menghina, meledek, mencela menebar gossip, menjuluki dan sebagainya. Bullying non verbal berupa menghasut teman, ekspresi mengancam, menatap, mengasingkan dan sebagainya. Banyaknya kasus kekerasan dan bullying yang terjadi di sekolah memperlihatkan bahwa sekolah belum dapat menciptakan suasana aman dan nyaman bagi anak. Kasus bullying terjadi di berbagai lembaga formal di Indonesia, mulai dari SD. SMP. SMA/SMK hingga perguruan tinggi. Di Indonesia kasus bullying masih marak terjadi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan, terdapat 4. 124 aduan kasus perlindungan anak sepanjang periode Januari-November 2022. Jumlah tersebut turun 30,7% dibandingkan sepanjang tahun 2021 yang sebanyak 5. 953 aduan. Sebanyak 2. 222 kasus pengaduan yang diterima KPAI dalam 11 bulan tahun ini terkait pemenuhan hak anak. Jumlahnya turun 25,2% dibandingkan pada 2021 yang sebanyak 2. 971 aduan. Jumlah kasus perundungan anak yang dilaporkan ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Jawa Barat meningkat signifikan tahun ini. Semua pihak diminta berperan aktif mencegah kasus perundungan anak, termasuk yang terjadi di sekolah. Hingga November 2023, jumlah kasus perundungan anak yang dilaporkan ke UPTD PPA pada tahun ini mencapai 10 kasus. Jumlah tersebut naik signifikan bila dibandingkan kondisi tahun 2022 yang hanya terdapat satu laporan. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan. Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat. Siska Gerfianti, menyatakan perundungan yang dilaporkan itu berbentuk kekerasan fisik dan verbal. Perundungan yang terjadi di sekolah berdasarkan penelitian akademis berkembang sebagai perilaku agresif antara individu maupun kelompok yang memiliki perbedaan tingkat kekuatan. Walaupun begitu, dikatakan bahasanya definisi ini masih kurang mampu menangkap perilaku bullying yang sebenarnya terjadi di sekolah. Namun, dominasi kekuasaan, dan kekuatan tetap menjadi faktor penting yang menjadi pemicu terjadinya tindak bullying di sekolah. Sekolah yang mampu mengatasi bullying dapat menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan sehingga, anak enggan melakukan kekerasan sosial seperti bullying. Peran guru kelas yang memberikan bimbingan dan pengarahan dalam mencegah terjadinya bullying dapat dilakukan dengan membimbing dan menasehati siswa, menumbuhkan empati antar siswa, mengajari siswa untuk beritikad baik yang dimulai dari dalam kelas. Berdasarkan permasalahan yang ditemui terkait fenomena bullying yang marak terjadi di sekolah, maka perlu diadakan sebuah pencegahan dari pihak sekolah melalui kemampuan guru kelas, dan apabila fenomena bullying telah terjadi maka perlu segera dilakukan penanggulangan agar bullying tersebut tidak lebih menyebar. Pada Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, dijelaskan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan Priansa . juga menyatakan bahwa guru memiliki tugas AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 114 merencanakan, melaksanakan, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih siswa. Pada tingkat sekolah dasar, yang menjadi komponen penting dalam melaksanakan Pendidikan adalah guru kelas. Guru kelas tentunya memiliki tugas utama yang salah satunya adalah melakukan bimbingan. (Mudjito Widada, 2. menjelaskan bahwa guru kelas mempunyai tanggung jawab dan peranan sepenuhnya dalam melakukan bimbingan pada siswa. Keseluruhan peranan itu dapat dilakukan dalam bentuk tindakan-tindakan yang dapat membantu siswa mengatasi persoalan hidupnya. Adapun tindakan tersebut yaitu: . memberikan pengarahan atau orientasi dalam rangka belajar yang efektif. mempelajari dan menelaah siswa untuk menemukan kekuatan, kelemahan, kebiasaan dan kesulitan yang dihadapinya. Konsultasi kepada siswa yang menghadapi kesulitan tertentu. mendorong dan meningkatkan pertumbuhan pribadi dan pertumbuhan sosial. Melakukan pelayanan rujukan . memperlakukan siswa sebagai individu yang mempunyai harga diri, dengan memahami kekurangan, kelebihan dan masalah-masalahnya. bekerja sama dengan konselor dan tenaga kependidikan lainnya. memahami dan melaksanakan kebijaksanaan dan prosedur bimbingan yang berlaku di sekolah. membina hubungan baik dengan siswa. Menurut Sardiman . Seorang guru memiliki peran untuk dapat mencegah perilaku bullying siswa dengan . menjadi motivator yang menanamkan nilai-nilai sosial pada siswa dan juga memberi pemahaman dampak buruk dari perilaku bullying apabila dilakukan. menjadi fasilitator dengan memberikan fasilitas untuk menyelesaikan konflik antar siswa melalui sikap membuka diri bagi siswa yang hendak menceritakan permasalahan pertemanannya dan memberikan stimulus kepada siswa untuk menyibukkan diri dengan hal-hal positif. menjadi mediator melalui peran sebagai penengah bagi siswa yang terlibat perilaku bullying dengan menumbuhkan hubungan positif antara pelaku dan korban bullying serta orang tua dari keduanya. Guru berperan penting dalam mengatasi perilaku Hal ini dikarenakan siswa di sekolah lebih dekat dengan guru dan siswa lebih terbuka dengan guru. Guru yang pertama kali bertanggung jawab atas semua peristiwa yang terjadi di sekolah. Guru harus dapat memberikan nasehat dan bimbingan kepada siswa yang membutuhkan, terutama dalam mengatasi kasus bullying yang terjadi di sekolah. Guru yang baik akan menekankan kepada siswanya dengan mencontohkan perilaku yang baik dan mulia dengan tutur kata dan perilaku yang santun, sehingga siswa dapat meniru perilaku yang baik tersebut. Dengan memberikan sanksi berupa hukuman dan teguran bagi siswa yang melakukan tindakan bullying. Maka dari itulah peran guru atau pendidik lainnya di sekolah sangat dibutuhkan, selain mengajar dan mendidik, mereka juga harus melakukan tindakan preventif terhadap masalah yang diakibatkan oleh bullying tersebut. Seperti yang dinyatakan di atas, guru kelas tidak hanya bertanggung jawab untuk mengajar tetapi juga memberikan bimbingan kepada semua siswa di kelas setiap hari. Guru kelas juga lebih sering bertemu dengan siswa dibandingkan dengan guru mata pelajaran, sehingga mereka lebih memahami perkembangan siswa. METODE PENELITIAN AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 115 Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mengungkap fenomena tentang peran guru kelas dalam mencegah terjadinya bullying di sekolah. Oleh karena itu, pendekatan yang cocok untuk mendefinisikan dan menganalisa hal tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Peneliti menggunakan Pendekatan studi kasus agar mendapatkan informasi yang luas dan mendalam mengenai Peran Guru Kelas dalam Mencegah Terjadinya Bullying di Kelas VI MI Insan Cita Istiqomah Wates. Penelitian kualitatif, dengan jenis penelitiannya adalah penelitian deskriptif. Menurut Sugiyono . 7: . , metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan datanya dilakukan secara triangulasi . , analisis data bersifat induktif dan hasil dari penelitian kualitatif sendiri lebih menekankan makna daripada generalisasi. Kata kualitatif merupakan turunan dari kualitas, sering dipahami oleh masyarakat sebagai lawan dari kuantitas yang menunjukan jumlah . atau banyaknya suatu objek tertentu seperti kuantitas air, kuantitas penduduk dan Penelitian kualitatif lebih melihat pada kualitas objek pnelitian misalnya nilai, makna, emosi manusia, penghayatan keberagaman, keindahan karya seni, nilai sejarah dan lain-lain. Metode penelitian kualitatif sering disebut juga metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah . atural settin. , disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya, disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiyono, 2. Alasan peneliti menggunakan metode kualitatif karena metode ini menyajikan secara lansung hubungan antara penelitian dan responden, metode ini juga dapat dimengerti maknanya secara baik apabila dilakukan interaksi dengan objek melalui wawancara mendalam. Oleh karena itu wawancara dalam penelitian ini merupakan teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data. Alasan penliti menggunakan pendekatan studi kasus dalam judul penelitian, karena yang menjadi tujuan dalam penelitian ialah untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu peristiwa, perilaku atau keadaan tertentu secara rinci dan mendalam tentang kesesuaian peran guru kelas dalam mencegah terjadinya bullying di MI Insan Cita Istiqomah Wates. HASIL DAN PEMBAHASAN Sikap Guru Kelas Dalam Mencegah Terjadinya Bullying Sikap guru kelas dalam mencegah bullying sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Beberapa sikap dan tindakan yang dapat diambil oleh guru kelas untuk mencegah dan menangani tindakan bullying: Kewaspadaan dan Kepekaan Guru harus selalu waspada terhadap tanda-tanda bullying dan kepekaan terhadap perubahan perilaku siswa. Ini melibatkan memperhatikan interaksi antara siswa dan mendengarkan dengan AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 116 seksama keluhan atau kekhawatiran yang mungkin diungkapkan oleh Menegakkan Aturan yang Telah di Tetapkan Sekolah Sekolah harus menegakan aturan tentang bullying di sekolah dan mensosialisasikannya kepada siswa dan juga kepada seluruh warga Untuk itu, guru kelas pun harus mmemberikan pemahaman kepada siswa terkait aturan tersebut. Adapun aturannya saling menghargai sesama siswa, tidak ada unjuk rasa senioritas, tidak membentuk genk atau kelompok tertentu, tidak melakukan tindakan asusila, dan tidak saling menghina atau mengejek teman. Siswa yang sedang diberi sanksi berupa menulis basmallah sebanyak 10 baris, dikarenakan mereka telah melanggar aturan yaitu mengejek temannya. Sanksi/hukuman yang diberikan oleh guru kelas merupakan bentuk ketegasan ketika ada siswa yang bertindak kurang Sanksi ini diterapkan dengan pertimbangan agar tetap ringan dan tidak memberikan dampak yang memberatkan bagi siswa, sambil tetap memastikan adanya efek jera yang positif. Membangun Hubungan Positif Menciptakan hubungan yang kuat dan positif dengan siswa. Ketika siswa merasa dihargai dan didukung oleh guru, mereka lebih cenderung untuk melaporkan bullying dan merasa aman di lingkungan Bekerjasama dengan Orang Tua Berkomunikasi secara teratur dengan orang tua tentang perilaku anak mereka dan kebijakan anti-bullying. Kerjasama antara sekolah dan rumah sangat penting untuk mengatasi dan mencegah bullying. Hambatan Guru Kelas Dalam Mencegah Tindakan Bullying Di Kelas VI MI Insan Cita Istiqomah Wates Faktor Keluarga Berdasarkan temuan lapangan, peneliti mendapatkan informasi bahwa keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang tidak utuh . eninggal atau bercera. , aturan yang terlalu ketat di rumah dapat mengakibatkan siswa berperilaku bullying. Hal ini sesuai dengan teori Hamzah . dalam penelitiannya memaparkan salah satu faktor penyebab terjadinya bullying ialah faktor Berdasarkan temuan lapangan, peneliti mendapatkan informasi bahwa keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang tidak utuh . eninggal atau bercera. , aturan yang terlalu ketat di rumah dapat mengakibatkan siswa berperilaku bullying. Pelaku bullying berasal dari keluarga yang tidak utuh, keluarga yang tidak harmonis, dan anak-anak yang kurang mendapat perhatian orang tua. Sementara anak korban bullying adalah mereka yang benar-benar mendapatkan perhatian dari orang tuanya banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan membina komunikasi antara orang tua dan anak. Faktor Teman Sebaya AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 117 Teman sebaya memang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter siswa. Jika ia berteman dengan siswa yang baik dan rajin, maka siswa tersebut akan terbawa baik dan rajin. Namun sebaliknya, jika siswa bergaul dengan teman yang nakal dan sering melakukan tindakan bullying, maka ia akan terbawa-bawa seperti itu. Penelitian di atas sesuai dengan pernyataan (Firdaus, 2. teman sebaya . yang memiliki masalah di sekolah berdampak negatif terhadap teman lainnya, seperti beberapa anak terkadang membully hanya untuk menunjukkan kepada teman sebayanya bahwa mereka diterima dalam kelompok, meskipun mereka merasa tidak nyaman. Faktor Media Sosial Media sosial yang diganrungi anak-anak saat ini adalah internet dan media sosial. Media sosial menghilangkan batasan sosial. Tidak dapat disangkal bahwa media sosial memiliki dampak besar pada kehidupan kita. Meskipun awalnya kecil, kemudian bisa tumbuh besar di media sosial dan Media sosial sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter Jika siswa yang mudah terpengaruh oleh hal negatif, maka siswa tersebut dapat berperilaku menadi negatif pula. Seperti berkata kasar, meghina teman, dll. Upaya Pencegahan Tindakan Bullying Di Kelas VI MI Insan Cita Istiqomah Wates Program kerja kepala sekolah terkait pencegahan terjadinya Bullying . Penerapan Hadist Saling menyayangi Menurut Katyana Wardhana . alam Buku panduan Melawan Bullyin. Sekolah merupakan tempat yang rentan terhadap bullying. Oleh karenanya, pendidik harus bisa berperan untuk mencegah bullying, dengan: Pembentukan Nilai-Nilai Persahabatan Pembentukan nilai-nilai persahabatan sangat penting dilakukan di lingkungan sekolah agar tercipta hubungan pertemanan yang saling menghargai diantara murid-murid di sekolah, serta menjauhkan mereka dari kekerasan. Pemasangan Poster Anti Bullying Poster-poster ini dapat menjadi sarana visual yang kuat dalam menyebarkan pesan-pesan anti-bullying ke seluruh Pesan-pesan ini dapat mencakup slogan-slogan seperti AuStop bullyingAy atau AuBersatu melawan ullying. Ay Dengan demikian, pesan anti-Bullying akan menjadi lebih mencolok dan mudah diingat oleh siswa. Upaya Guru kelas Dalam Upaya Mencegah Bullying Upaya yang dilakukan guru kelas dalam mencegah dan mengatasi perilaku bullying di MI Insan Cita Istiqomah dengan adanya pengontrolan dan pengawasan siswa didalam maupun diluar kelas. Dalam pengontrolan tersebut guru kelas dapat mengetahui AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 118 anak yang melakukan praktek perilaku bullying dan agar dapat mencegah terjadinya praktek perilaku bullying di dalam suatu kelas maupun di luar kelas. Penelitian diatas sesuai dengan pernyataan Amiirohana Mayasari . Guru berusaha memberikan pendekatan kepada siswa, baik yang menjadi pelaku perundungan maupun korban Guru meminta siswa untuk menceritakan secara jujur tindak perundungan yang telah terjadi. Guru berbicara baik-baik kepada siswa yang melakukan tindak perundungan maupun siswa yang menjadi objek perundungan. Guru menasehati siswa yang melakukan tindak perundungan agar tidak mengulangi perbuatannya Guru memberikan nasehat kepada siswa tentang bagaimana bersikap yang baik dalam berteman. Guru memanggil siswa yang melakukan tindak perundungan dan siswa yang menjadi objek Kemudian dengan adanya pencegahan secara dini yaitu guru kelas memberikan penjelasan dan sosialisasi kepada anak dengan menasehati apa yang tidak boleh dilakukan terhadap teman sendiri. Maka, dengan menerapkan pembelajaran ramah tamah dan penanaman nilai moral kepada anak, guru kelas di MI Insan Cita Istiqomah dapat mencegah adanya perilaku bullying yang dapat . Hasil angket siswa tentang upaya sekolah dalam mencegah Angket merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur tanggapan siswa terhadap pemelajaran. Pada penelitian ini saya menggunakan angket yang disebar ke siswa setelah Angket digunakan sebagai alat ukur apakah peran guru kelas dapat berpengaruh dakam proses pencegahan bullying. Tabel 1. Angket Siswa Tentang Upaya Sekolah Dalam Mencegah Bullying No. Deskripsi Setuju Tidak Setuju Bullying terjadi di sekolah. Bullying dapat mengganggu fokus Saya pernah mengalami tindakan bullying/perundungan. Tindakan bullying dapat membuat saya malas belajar. Saya bullying di sekolah. Saya melaporkan bullying kepada guru. Saya pernah ditegur oleh guru ketika melakukan tindak bullying. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 119 Saya pernah dinasehati oleh guru ketika melakukan bullying. Saya diri agar terhindardari bullying/perundungan. Saya selalu melaporkan kepada guru ketika ada siswa yang melakukan Pada poin di atas dijelaskan bahwasanya di sekolah tersebut sering terjadi tindakan bullying. Tindakan bullying yang terjadi yakni bullying verbal seperti mengejek nama orangtua, dll. Tindakan bullying ini dapat mengganggu fokus belajar siswa. Namun, seringkali bullying terjadi ketika jam istirahat dan ketika di luar kelas. Untuk itu, perlu adnya peran guru kelas dalam mencegah terjadinya bullying. Karena guru kelas yang lebih memahami siswasiswanya. Seorang guru bukan hanya berperan sebagai pengajar, motivator, namun juga memberikan jaminan kepada siswa rasa nyaman dan aman ketika proses pembelajaran berlangsung. Pada penelitian ini, peneliti melihat bahwa peran guru kelas VI MI Insan Cita Istiqomah Wates sudah menyentuh segala aspek, baik sebagai pengajar, motivator, pembimbing maupun penasehat dalam menjamin kenyamanan peserta didiknya. Hal ini dapat dilihat dari sikap perubahan yang terjadi dari pelaku bullying dan korban Adanya dampak positif yang terlihat dari korban Bullying yaitu terlihat sudah berdamai dengan pelaku bullying dan tidak ada menyimpan dendam terhadap pelaku. Kemudian pelaku bullying juga sudah terlihat perubahannya dengan tidak mengulangi kesalahannya lagi baik kepada korbannya maupun kepada teman Perubahan ini terjadi karena peran seorang guru yang tegas dan professional dalam mengatasi masalahmasalah yang terjadi pada siswanya. Itu artinya peran guru kelas sangat berpengaruh dalam pencegahan terjadinya bullying. Hal ini dilihat dari hasil pengisian angket siswa. KESIMPULAN Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian yang didapat dari observasi, wawancara dan dokumentasi mengenai peran guru kelas dalam mencegah terjadinya bullying di kelas VI MI Insan Cita Istiqomah Wates diperoleh Pertama, tindakan guru kelas dalam mencegah terjadinya Bullying di kelas VI MI Insan Cita Istiqomah yaitu: . Kewaspadaan dan kepekaan, . Menegakkan aturan yang telah ditetapkan oleh sekolah, . membangun hubungan positif, . Bekerjasama dengan orangtua. Kedua, hambatan guru kelas dalam mencegah terjadinya Bullying di MI Insan Cita Istiqomah yaitu: . Faktor keluarga, . Faktor teman sebaya. Ketiga, upaya pencegahan tindakan bullying di kelas VI AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 120 MI Insan Cita Istiqomah yaitu: . Penerapan hadist saling menyayangi, . Pemasangan poster anti-bullying. REFERENSI