Faktor Risiko Mortalitas pada Pasien Anak dengan Sepsis di Rumah Sakit Ngoerah Denpasar Tahun 2023 Berdasarkan Skor PELOD-2 dan Skor Vasoaktif Inotropik Joy Aprianis Haning,1 I Nyoman Budi Hartawan,2 Komang Ayu Witarini,2 I Gusti Ngurah Made Suwarba,2 I Gusti Ngurah Sanjaya Putra,2 Dyah Kanya Wati2 Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Ngoerah Denpasar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Ngoerah. Denpasar Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak yang dirawat di ruang intensif. Identifikasi faktor risiko kematian pada pasien anak dengan sepsis penting untuk menunjang deteksi dini dan pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat guna menurunkan angka kematian. Namun, penelitian mengenai faktor risiko mortalitas anak dengan sepsis di Indonesia, khususnya yang memanfaatkan skor prognostik seperti PELOD-2 dan Vasoactive-Inotropic Score (VIS), masih sangat terbatas sehingga diperlukan data lokal untuk memperkuat bukti klinis. Tujuan. Mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan mortalitas pada pasien anak dengan sepsis yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. G Ngoerah Denpasar. Metode. Penelitian ini menggunakan desain case-control retrospektif dengan data diambil dari rekam medis pasien anak usia satu bulan hingga 18 tahun yang dirawat karena sepsis selama periode Januari hingga Desember 2023. Subjek dibagi menjadi kelompok kasus . dan kontrol . Variabel yang diteliti meliputi usia, status gizi, penggunaan ventilator, skor PELOD-2, skor vasoaktifinotropik, mikroorganisme penyebab, dan lama rawat. Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-square dan regresi logistik multivariat. Hasil. Sebanyak 62 pasien sepsis memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari 31 pasien meninggal dan 31 pasien hidup. Analisis bivariat menunjukkan bahwa penggunaan ventilator, skor PELOD-2 Ou7, skor vasoaktif-inotropik Ou20, dan lama rawat O12 hari berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko mortalitas. Kesimpulan. Penggunaan ventilator, skor PELOD-2 tinggi, skor vasoaktif-inotropik tinggi, dan lama rawat yang singkat merupakan faktor risiko utama mortalitas pada pasien anak dengan sepsis. Penilaian dini terhadap faktor-faktor ini dapat meningkatkan efektivitas intervensi dan perbaikan luaran klinis. Sari Pediatri 2025. :166-72 Kata kunci: sepsis, anak, mortalitas, ventilator. PELOD-2, vasoaktif-inotropik Mortality Risk Factors in Pediatric Patients with Sepsis at Ngoerah Hospital Denpasar in 2023 Based on PELOD-2 and Vasoactive-Inotropic Score Joy Aprianis Haning,1 I Nyoman Budi Hartawan,2 Komang Ayu Witarini,2 I Gusti Ngurah Made Suwarba,2 I Gusti Ngurah Sanjaya Putra,2 Dyah Kanya Wati2 Background. Sepsis is one of the leading causes of morbidity and mortality among pediatric patients admitted to intensive care units. Identifying risk factors for mortality in pediatric sepsis is essential for early detection and timely clinical intervention to reduce fatal However, studies on the risk factors for mortality in pediatric sepsis in Indonesia, particularly those utilizing prognostic scores such as PELOD-2 and the Vasoactive-Inotropic Score (VIS), remain very limited. therefore, local data are needed to strengthen the clinical Objective. To identify risk factors associated with mortality in pediatric patients with sepsis admitted to RSUP Prof. Dr. G Ngoerah Denpasar. Methods. This was a retrospective case-control study using medical record data of pediatric patients aged 1 month to 18 years diagnosed with sepsis and hospitalized between January and December 2023. Subjects were divided into a case group . and a control group . Variables assessed included age, nutritional status, ventilator use. PELOD-2 score, vasoactive-inotropic score, causative microorganisms, and length of stay. Data were analyzed using chi-square tests and multivariate logistic regression. Results. A total of 62 patients met the inclusion criteria, with 31 in the deceased group and 31 in the survived group. Bivariate analysis revealed that ventilator use. PELOD-2 score Ou7, vasoactive-inotropic score Ou20, and length of stay O12 days were significantly associated with increased mortality risk. Conclusion. Ventilator use, high PELOD-2 score, high vasoactive-inotropic score, and shorter hospital stay were identified as key mortality risk factors in pediatric sepsis. Early recognition of these factors may facilitate timely interventions and improve clinical Sari Pediatri 2025. :166-72 Keywords: pediatric sepsis, mortality, ventilator. PELOD-2, vasoactive-inotropic Alamat korespondensi: Joy Aprianis Haning. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Prof. Dr. Ngoerah. Jl. Diponegoro. Denpasar. Bali 80113. Email: joy. haning@yahoo. Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Joy Aprianis Haning dkk: Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 dan vasoaktif inotropik epsis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di unit perawatan intensif anak (Pediatric Intensive Care Unit/PICU). Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan pada organ yang dapat mengancam jiwa sebagai respons imun yang tidak terkontrol terhadap infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit. Kegagalan sistem imun dalam mengeliminasi patogen akan memicu respons inflamasi berlebihan yang menyebabkan kerusakan multiorgan. Secara global, diperkirakan terdapat 22 kasus sepsis pediatrik per 000 anak setiap tahunnya, dengan angka kematian yang bervariasi antara 10% hingga 48%. 1 Data lokal dari Unit Pelayanan Intensif Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah tahun 2018, memperlihatkan gambaran yang serius, dengan 28 kasus sepsis pediatrik dalam satu tahun. Sebanyak 57,1% pasien berasal dari kelompok usia <2 tahun, 60,7% mengalami syok sepsis, dan 39,3% di antaranya meninggal dunia. Beberapa faktor telah diidentifikasi berperan dalam meningkatkan risiko mortalitas pada sepsis anak, seperti usia muda, status gizi buruk, penggunaan ventilator, kondisi syok sepsis, keterlibatan multiorgan (MODS), dan tingginya skor penilaian organ seperti PELOD-2 (Pediatric Logistic Organ Dysfunctio. maupun skor vasoaktif-inotropik (VIS). 3 Jenis mikroorganisme penyebab, baik bakteri Gram-negatif maupun Grampositif, serta jamur dan virus, juga dapat memengaruhi luaran klinis. Meskipun penggunaan ventilator dan obat vasoaktif . isalnya dopamin, dobutamin, dan epinefri. merupakan tatalaksana penunjang yang vital, kebutuhan akan terapi ini justru dapat menjadi penanda prognostik buruk, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi atau jangka panjang. Sebaliknya, lama rawat yang singkat seringkali mencerminkan kematian dini akibat kondisi klinis yang berat saat masuk rumah sakit. Meskipun berbagai penelitian, domestik maupun internasional, telah mengkaji faktor risiko mortalitas sepsis pada anak, temuannya masih beragam. Kesenjangan pengetahuan khususnya terdapat pada analisis faktor VIS dan PELOD-2 di rumah sakit tersier di Bali. Untuk itu, eksplorasi terhadap faktor risiko yang relevan secara lokal sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis di RSUP Prof. Dr. Ngoerah Denpasar, yang mencakup usia, status gizi, penggunaan ventilator, skor PELOD-2, skor vasoaktif-inotropik, mikroorganisme penyebab, dan lama rawat. Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Metode Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain case-control retrospektif. Penelitian dilaksanakan di ruang rawat inap anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. G Ngoerah. Denpasar. Bali, selama periode Januari hingga Desember 2023. Populasi target adalah seluruh pasien anak berusia 1 bulan hingga 18 tahun yang dirawat dengan diagnosis sepsis. Diagnosis sepsis ditegakkan oleh dokter penanggung jawab pasien (DPJP) berdasarkan kriteria Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS). Subjek penelitian dipilih dari populasi terjangkau, yaitu pasien anak yang dirawat di ruang rawat inap anak RSUP Prof. Dr. G Ngoerah dengan diagnosis sepsis selama periode tersebut. Sampel terdiri dari dua kelompok, kelompok kasus yang terdiri dari pasien anak dengan sepsis yang meninggal, dan kelompok kontrol yang terdiri dari pasien anak dengan sepsis yang selamat setelah perawatan. Kriteria inklusi adalah anak berusia 1 bulan hingga 18 tahun yang didiagnosis sepsis dan memiliki rekam medis lengkap. Pasien dengan kondisi perawatan paliatif dan rekam medis tidak lengkap dikeluarkan dari penelitian . riteria eksklus. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode consecutive Semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan secara berurutan hingga mencapai jumlah minimal 60 subjek, dengan 30 pasien di masing-masing Penelitian ini tidak menggunakan randomisasi atau penyamaran . karena data diambil dari rekam medis yang sudah ada . etrospektif ). Penelitian tidak melibatkan intervensi langsung, sehingga tidak digunakan obat, alat, atau produk khusus. Seluruh variabel diukur berdasarkan catatan medis yang terdokumentasi. Variabel utama adalah mortalitas pasien anak dengan sepsis. Variabel yang dianalisis meliputi faktor risiko mencakup usia, status gizi, penggunaan ventilator, skor PELOD-2, skor vasoaktif-inotropik, jenis mikroorganisme penyebab, dan lama rawat inap. Mortalitas ditentukan berdasarkan status hidup atau meninggal dalam 30 hari perawatan di PICU. Usia dihitung sejak tanggal lahir hingga waktu penelitian dan dikelompokkan menjadi <1 tahun, 1-5 tahun, dan >5 tahun. Status gizi dinilai menggunakan standar antropometri dengan z-score, yang dikategorikan menjadi gizi baik (> -2 SD), gizi kurang (-3 sampai -2 SD), dan gizi buruk (< -3 SD). Skor PELOD-2 diperoleh melalui penilaian enam sistem organ utama . eurologis, kardiovaskular, respirasi. Joy Aprianis Haning dkk: Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 dan vasoaktif inotropik hematologi, ginjal, dan hat. Setiap parameter klinis maupun laboratorium diberikan skor tertentu kemudian skor tersebut dikelompokkan menjadi <7 dan Ou7. Penggunaan ventilator didefinisikan sebagai pemakaian ventilator mekanik pada pasien dengan gagal Lama rawat dihitung sejak tanggal masuk hingga tanggal keluar rumah sakit atau meninggal, kemudian dikelompokkan menjadi O12 hari dan >12 hari. Skor vasoaktif-inotropik (VIS) dihitung berdasarkan dosis obat inotropik dan vasopresor yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rumus: VIS = Dopamin (AAg/ kg/meni. Dobutamin (AAg/kg/meni. 100 y Epinefrin (AAg/kg/meni. 100 y Norepinefrin (AAg/kg/meni. 10 y Milrinon (AAg/kg/meni. 000 y Vasopresin (U/ kg/meni. 100 y Fenilefrin (AAg/kg/meni. Nilai VIS kemudian dikelompokkan menjadi <20 dan Ou20. Data dikumpulkan menggunakan lembar pengumpulan data yang distandarisasi dan dimasukkan ke dalam basis data elektronik. Manajemen data dilakukan melalui validasi ganda oleh dua peneliti independen untuk memastikan akurasi. Analisis statistik dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 26. Uji chi-square digunakan untuk analisis bivariat terhadap hubungan antara faktor risiko dan mortalitas. Selanjutnya, uji regresi logistik multivariat untuk identifikasi faktor risiko independen yang berhubungan dengan mortalitas. Nilai p<0,05 dianggap bermakna secara statistik, dan ditampilkan odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan 95% (IK95%). Persetujuan etik diperoleh dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan Nomor: 0305/UN14. VII. 14/LT/2024. dan mendapatkan Izin penelitian dari RSUP Prof. Dr. G Ngoerah dengan Nomor: DP. 03/D. XVII. 2/63234/2024. Karena bersifat retrospektif dan tidak melibatkan intervensi langsung, persetujuan setelah penjelasan . nformed consen. tidak diperlukan dari subjek atau keluarganya. Hasil Sebanyak 64 pasien anak dengan diagnosis sepsis diidentifikasi di RS Ngoerah pada periode penelitian melalui rekam medis. Namun, dua subjek dieksklusi karena data rekam medis yang tidak lengkap, sehingga tersisa 62 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Dari 62 subjek tersebut, terdapat 31 anak yang meninggal dan 31 anak yang hidup. Karakteristik subjek penelitian berdasarkan mortalitas tertera pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian (N=. Karakteristik Meninggal Hidup Jenis kelamin, n (%) Laki-laki 23 . Perempuan 8 . Usia, rerata A SD 8,96A5,93 5,58A 5,45 Kelompok usia, n (%) <1 tahun 1-5 tahun 10 . >5 tahun 21 . Status gizi, n (%) Baik 19 . Kurang 4 . Buruk Penggunaan ventilator, n (%) 29 . Tidak 2 . Skor PELOD-2, rerata ASD 8,38 A 4,29 3,96A2,31 Skor PELOD-2, n (%) Ou7 Skor vasoaktif-inotropik, 18,77A20,2 3,41A10,46 rerata ASD Skor vasoaktif-inotropik Ou20 <20 Mikroorganisme penyebab Jamur Bakteri Gram positif Bakteri Gram negatif No growth Lama rawat, rerata ASD 11,5A13,03 18,19A9,18 Lama rawat >12 hari 8 . O12 hari 23 . Keganasan, n (%) 2 . Tidak 29 . Infeksi HIV, n (%) Tidak 31 . Diabetes mellitus, n (%) 0 . Tidak 31 . Ginjal kronis, n (%) 2 . Tidak 29 . Sirosis hepatitis, n (%) Tidak 31 . Penyakit autoimun, n (%) 5 . Tidak 26 . Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Joy Aprianis Haning dkk: Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 dan vasoaktif inotropik Karakteristik Penyakit jantung, n (%) Tidak Infeksi SSP, n (%) Tidak Kumpulan penyakit n (%) Autoimun Endokrin Gastrointestinal Hemato-onkologi Nefrologi Penyakit jantung Respiratori SSP Meninggal Hidup Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis tertera pada Tabel 2. Penggunaan ventilator secara signifikan meningkatkan risiko mortalitas (OR 10,47. IK95: 2,11Ae51,9. p=0,. Skor PELOD-2 Ou7 merupakan faktor risiko untuk mortalitas (OR 22,81. IK95%: 5,5Ae94,4. p<0,. , begitu juga skor vasoaktifinotropik Ou20 (OR 11,94. IK95%: 2,41Ae59,0. p<0,. Lama rawat >12 hari merupakan faktor protektif terhadap mortalitas (OR 0,22. IK95%: 0,07Ae0,64. p=0,. Analisis faktor perancu terhadap mortalitas pada pasien anak dengan sepsis tertera pada Tabel 3. Beberapa kondisi komorbid kronis, seperti HIV dan sirosis hepatis, tidak muncul di kedua kelompok, sehingga tidak dapat dianalisis lebih lanjut. Penyakit jantung Tabel 2. Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis Faktor risiko Luaran Meninggal . Hidup . Kelompok usia 1-<5 tahun 5-13 tahun 10 . >13 tahun 11 . Status gizi Baik 19 . Kurang 4 . Buruk Penggunaan ventilator 29 . Tidak 2 . Skor PELOD-2 Ou7 Lama rawat >12 hari 8 . O12 hari 23 . Skor vasoaktif-inotropik Ou20 <20 Mikroorganisme penyebab Jamur Bakteri Gram positif Bakteri Gram negatif No growth Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 IK95% 0,25 0,57 Ref 0,07Ae0,94 0,14Ae2,32 0,093 0,95 0,30 Ref 0,27Ae3,34 0,06Ae1,44 0,189 10,47 2,11-51,9 0,001 22,81 5,5-94,4 0,000 0,22 0,07-0,64 0,005 11,94 2,41-59,0 0,000 0,950 Joy Aprianis Haning dkk: Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 dan vasoaktif inotropik memiliki hubungan signifikan dengan mortalitas (OR 5,04. IK95%: 0,97-26,1. p=0,. Analisis multivariat faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis tertera pada Tabel 4. Hanya variabel dengan nilai p<0,25 dari uji chi-square yang dimasukkan dalam model analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Tabel 3. Faktor perancu mortalitas pada pasien anak dengan sepsis Faktor risiko Luaran Meninggal . Hidup . Keganasan 2 . Tidak 29 . Infeksi HIV Tidak 31 . Diabetes mellitus 0 . Tidak 31 . Penyakit ginjal kronis 2 . Tidak 29 . Sirosis hepatis 0 . Tidak 31 . Penyakit autoimun Tidak 26 . Penyakit jantung Tidak 23 . Infeksi SSP Tidak 23 . IK95% 0,151 0,313 2,06 0,17-24,0 0,554 5,76 0,63-52,6 0,086 5,04 0,97-26,1 0,038 3,24 0,77-13,66 0,096 Tabel 4. Analisis multivariat faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis Variabel IK95% Lower Upper Usia 0,757 0,609 0,942 0,013 Status gizi 1,900 0,547 6,597 0,312 Penggunaan Ventilator 125,188 3,934 0,006 Skor PELOD-2 Ou7 33,468 3,183 351,869 0,003 Lama rawat >12 hari 0,026 0,002 0,371 0,007 Skor vasoaktif-inotropik Ou20 4,914 0,172 140,165 0,352 Penyakit autoimun 1,868 0,032 09,772 0,764 Penyakit jantung 3,519 0,300 41,251 0,317 Infeksi SSP 2,604 0,163 41,494 0,498 Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 Joy Aprianis Haning dkk: Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 dan vasoaktif inotropik Pembahasan Penelitian ini menemukan empat faktor utama yang signifikan terkait dengan peningkatan risiko kematian pada anak dengan sepsis. Faktor-faktor tersebut adalah penggunaan ventilator, skor PELOD-2 Ou7, skor vasoaktif-inotropik Ou20, dan lama rawat inap O12 hari. Sementara itu, faktor lain seperti usia, status gizi, dan jenis mikroorganisme penyebab tidak menunjukkan hubungan yang berarti dalam analisis bivariat. Temuan ini menunjukkan bahwa indikator klinis yang mencerminkan keparahan kondisi fisiologis anak selama perawatan lebih berpengaruh dalam menilai risiko kematian dibandingkan dengan faktor demografis atau mikrobiologis. Skor PELOD-2 yang tinggi diidentifikasi sebagai prediktor kematian yang paling kuat. PELOD-2 adalah sistem penilaian yang mengevaluasi fungsi lima organ utama: neurologi, kardiovaskular, respirasi, ginjal, dan hematologi, sehingga menunjukkan tingkat disfungsi organ multipel (MODS) yang terjadi. Anak dengan skor PELOD-2 Ou7 memiliki risiko 22 kali lebih besar untuk meninggal dibandingkan anak dengan skor yang lebih rendah. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Rusmawatiningtyas dkk4 dan Schlapbach dkk8 yang menekankan pentingnya skor PELOD-2 dalam memprediksi hasil sepsis pada anak. Penggunaan ventilator berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko kematian. Namun, interval kepercayaan yang lebar menunjukkan bahwa estimasi ini kurang tepat. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh jumlah sampel yang terbatas dan distribusi data yang tidak merata, di mana banyak pasien yang menggunakan ventilator mengalami kematian, sehingga ada bias karena pemisahan data yang hampir sempurna. Selain itu, penggunaan ventilator juga berkaitan erat dengan tingkat keparahan penyakit yang diukur dengan skor PELOD-2 dan skor vasoaktif-inotropik. Hal ini dapat menyebabkan kolinearitas dengan variabel-variabel tersebut, yang berkontribusi pada ketidakstabilan Meskipun demikian, hubungan yang konsisten menunjukkan bahwa ventilasi mekanik adalah indikator penting keparahan klinis dan prediktor kuat mortalitas, meskipun interpretasi risiko harus dilakukan dengan hati-hati. Penelitian oleh Zampieri dkk11 dan Rusmawatiningtyas dkk4 mendukung temuan ini. Skor vasoaktif-inotropik Ou20 juga menunjukkan hubungan signifikan dengan tingkat kematian. Skor ini Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025 mencerminkan kebutuhan untuk menggunakan obatobatan seperti dopamin, norepinefrin, atau epinefrin agar tekanan darah dan aliran darah ke jaringan tetap 12 Semakin tinggi skor ini, semakin berat masalah sirkulasi yang dialami pasien, sehingga risiko kematian juga semakin tinggi. McIntosh dkk13 menunjukkan bahwa peningkatan skor ini dalam 12-48 jam pertama perawatan berhubungan dengan peningkatan risiko henti jantung dan kematian. Lama rawat inap yang lebih singkat (<12 har. ternyata berhubungan dengan peningkatan kematian, meskipun terlihat bertentangan. Hal ini dapat dijelaskan karena kematian akibat sepsis berat sering kali terjadi dalam 48-72 jam pertama perawatan. Dengan demikian, anak yang bertahan hidup umumnya memiliki waktu rawat lebih lama untuk menjalani stabilisasi dan pemulihan organ. Temuan ini konsisten dengan laporan Souza dkk14 dan Rusmawatiningtyas dkk4 yang menemukan bahwa pasien yang meninggal memiliki lama rawat lebih pendek dibandingkan yang hidup. Dalam penelitian ini, faktor-faktor seperti usia, status gizi, dan jenis mikroorganisme tidak menunjukkan hubungan bermakna. Hasil ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Saraswati dkk3 melaporkan bahwa anak usia di bawah lima tahun dan status gizi buruk merupakan prediktor kematian. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh heterogenitas populasi pasien, metode pengukuran, atau jumlah sampel yang lebih kecil dalam studi ini. Selain itu, jenis mikroorganisme penyebab juga tidak berhubungan bermakna, meskipun patogen seperti Pseudomonas aeruginosa atau Candida memiliki virulensi tinggi. 18-20 Hal ini mungkin terkait dengan pengambilan sampel kultur setelah pemberian antibiotik, yang dapat menyebabkan banyak patogen tidak terdeteksi pada pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam pengelolaan sepsis pada anak, indikator klinis yang objektif, seperti tanda-tanda kegagalan multiorgan dan kebutuhan untuk intervensi agresif, lebih penting untuk memprediksi hasil dibandingkan dengan data demografis atau penyebab mikrobiologis. Penilaian awal yang cepat serta penggunaan skoring seperti PELOD-2 dan VIS harus dilakukan secara sistematis di ruang perawatan intensif. Namun, penelitian ini memiliki beberapa Pertama, karena bersifat retrospektif dan terbatas pada rekam medis, ada kemungkinan terjadi bias Kedua, bias seleksi tidak dapat sepenuhnya dihindari karena pemilihan subjek berdasarkan data dari Joy Aprianis Haning dkk: Faktor risiko mortalitas pada pasien anak dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 dan vasoaktif inotropik satu rumah sakit rujukan tersier. Ketiga, beberapa hasil analisis multivariat menunjukkan interval kepercayaan yang sangat lebar, yang mencerminkan variabilitas tinggi dan dapat memengaruhi akurasi estimasi risiko. Keempat, banyak hasil kultur menunjukkan tidak ada pertumbuhan, yang mungkin disebabkan oleh pengambilan kultur setelah pemberian terapi antibiotik. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan ventilator, skor PELOD-2 tinggi, skor vasoaktifinotropik tinggi, serta lama rawat yang singkat merupakan faktor risiko utama yang berhubungan dengan peningkatan mortalitas pada pasien anak dengan sepsis. Temuan ini menjawab tujuan penelitian untuk mengidentifikasi determinan klinis yang memengaruhi luaran pasien sepsis anak secara objektif di rumah sakit rujukan tersier. Indikator-indikator tersebut mencerminkan derajat keparahan penyakit, terutama disfungsi organ multipel dan gangguan sirkulasi sistemik, yang menuntut intervensi agresif dan dukungan hidup lanjutan. Oleh karena itu, penilaian awal menggunakan parameter tersebut harus diintegrasikan dalam tata laksana awal sepsis anak untuk meningkatkan pengenalan dini dan peluang intervensi yang tepat waktu. Daftar pustaka Zhang Y. Cao B. Cao W. Miao H. Wu L. Clinical characteristics and death risk factors of severe sepsis in children. Comput Math Methods Med 2022. 2022:1-7. Wati DK. Hartawan INB. Suparyatha IBG. Mahalini DS. Pratiwi IGAPE. Utama IMGDL. Profil sepsis anak di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar - Bali. Sari Pediatri 2019. 21:152-8. Saraswati DD. Pudjiadi AH. Djer MM. Supriyatno B. Syarif DR. Kurniati N. Faktor risiko yang berperan pada mortalitas Sari Pediatri 2014. 15:281-8. Rusmawatiningtyas D. Rahmawati A. Makrufardi F. Mardhiah N. Murni IK. Factors associated with mortality of pediatric sepsis patients at the pediatric intensive care unit in a lowresource setting. BMC Pediatr 2021. 21:471. Franco MC. Nino-Serna LF. Rendon M, dkk. Characterization and prognostic factors of children with sepsis in a high complexity hospital. Andes Pediatr 2023. 94:297-306. Kennedy UK. Moulin J. Byhrer L, dkk. Sex differences in pediatric sepsis mortality: a systematic review and metaanalysis. Crit Care Explor 2025. 7:e1226. Baloch SH. Shaikh I. Gowa MA. Lohano PD. Ibrahim MN. Comparison of Pediatric Sequential Organ Failure Assessment and Pediatric Risk of Mortality i score as mortality prediction in pediatric intensive care unit. Cureus 2022. 14:e21055. Schlapbach LJ. Straney L. Bellomo R. Maclaren G. Pilcher D. Prognostic accuracy of age-adapted SOFA. SIRS. PELOD-2, and qSOFA for in-hospital mortality among children with suspected infection admitted to the intensive care unit. Intensive Care Med 2018. 44:179-88. Lu F. Qin H. Li AM. The correlation between mechanical ventilation duration. Pediatric Sequential Organ Failure Assessment score, and blood lactate level in children in pediatric intensive care. Front Pediatr 2022. 10:852208. Nguyen-Huu CD. Nguyen VT. Main clinical and laboratory features of children with sepsis: a single-center prospective study in central Vietnam. J Med Pharm Chem Res 6:1708-15. Zampieri FG. Mazza B. Mechanical ventilation in sepsis: a Shock 2017. 47:41-6. Suari NMR. Latief A. Pudjiadi AH. New PELOD-2 cut-off score for predicting death in children with sepsis. Paediatr Indones 2021. 61:39-45. McIntosh AM. Tong S. Deakyne SJ, dkk. Validation of the Vasoactive Inotropic Score in pediatric sepsis. Pediatr Crit Care Med 2017. 18:750-7. Souza DC. Barreira ER. Shieh HH, dkk. Prevalence and outcomes of sepsis in children admitted to public and private hospitals in Latin America: a multicenter observational study. Rev Bras Ter Intensiva 2021. 33:231-42. Suprayogi E. Harijanto E. Sepsis dengan disfungsi multi organ. Anesth Crit Care 2018. 36:9-18. Wen B. Njunge JM. Bourdon C. Gonzales GB. Gichuki BBM. Systemic inflammation and metabolic disturbances underlie inpatient mortality among ill children with severe Sci Adv 2022. 8:eabj6779. Dauhan AC. Lubis AD. Lubis M. Vasoactive-inotropic score for early detection and mortality prediction of sepsis in Indones Biomed J 2021. 13:34-9. Bulatova YY. Maltabarova NA. Zhumabayev MB. Li TA. Ivanova MP. Modern diagnostics of sepsis and septic shock in children. Electron J Gen Med 2020. 17:em215. Alkhalaf HA. Alhamied NA. Alqahtani AM, dkk. The association of corticosteroid therapy with mortality and length of stay among children with septic shock: a retrospective cohort Cureus 2023. 15:e33267. Aulia M. Triratna S. Iriani Y. Bakri A. Saputra I. Pediatric SOFA score for detecting sepsis in children. Paediatr Indones 61:1-7. Sari Pediatri. Vol. No. Oktober 2025