p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 4 No. 04 April 2023 PENERAPAN PENDEKATAN GROUP PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII B SEMESTER 1 SMP NEGERI 1 SEMARAPURA TAHUN PELAJARAN 2022/2023 Ni Komang Taman SMP Negeri 1 Semarapura. Indonesia komangtaman89@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRAK Diterima : 29-03-2023 Direvisi : 09-04-2023 Disetuji : 10-04-2023 Kata kunci: pendekatan. group problem solving, masalah matematika siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura tahun pelajaran 2022/2023 dengan penerapan pendekatan group problem solving. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura tahun ajaran 2022/2023 sebanyak 39 orang. Data tentang hasil belajar matematika siswa dikumpulkan melalui tes berbentuk pilihan ganda. data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan group problem solving, dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura, yaitu dari nilai rata-rata sebesar 78,38 dengan daya serap 78,38% dan ketuntasan klasikal 76,92% pada siklus I dan rata-rata nilai menjadi 84,59, dengan daya serap 84,59 dan ketuntasan klasikal 92,31% pada siklus II dan berada pada kualifikasi Selain itu, respon belajar siswa terhadap pembelajaran matematika yang diterapkan tergolong tinggi. ABSTRACT Keywords: approach. problem solving, students' math problem solving skills. This study aims to improve the learning outcomes of mathematics students in class VII B SMP Negeri 1 Semarapura in the 2022/2023 academic year by applying the group problem solving approach. This type of research is a class action research which was conducted in two Each cycle consists of planning, action implementation, observation/evaluation, and reflection. The subjects of this study were students of class VII B SMP Negeri 1 Semarapura in the 2022/2023 school year as many as 39 people. Data on students' mathematics learning outcomes were collected through multiple choice tests. data collected were analyzed using descriptive analysis. The results showed that the application of group problem solving approach could improve the mathematics learning outcomes of students of class VII B SMP Negeri 1 Semarapura, namely from the average score of 78. with absorption rate of 78. 38% and classical completeness of 76. in cycle I and the average score became 84. 59, with absorption rate of 59 and classical completeness of 92. 31% in cycle II and was in good In addition, students' learning response to the applied mathematics learning was high. *Author: Ni Komang Taman Email : komangtaman89@gmail. Pendahuluan Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, diharapkan mampu menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan daya nalar siswa dan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengaplikasikan Doi : 10. 59141/japendi. Ni Komang Taman matematika menghadapi tantangan hidup dalam memecahkan masalah. Matematika merupakan mata pelajaran yang dipelajari oleh semua siswa dari sekolah dasar bahkan sampai ke pendidikan tinggi (Abidin et al. , 2. mengatakan ada banyak alasan tentang perlunya siswa mempelajari matematika, antara lain: . merupakan sarana berpikir yang jelas dan logis, . sarana memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, . sarana mengenal pola hubungan dan generalisasi pengalaman, . sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan . sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya (Husna & Burais, 2. Dengan banyaknya manfaat yang diperoleh dari pembelajaran matematika, seyogyanya matematika merupakan salah satu pelajaran yang digemari oleh siswa, tetapi pada kenyataannya keluhan dan kekecewaan terhadap hasil yang diperoleh siswa dalam matematika hingga kini masih sering dilontarkan. Umumnya siswa mengatakan matematika merupakan pelajaran yang sulit, tidak menarik dan membosankan, penuh misteri, bahkan dianggap tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Banyak juga orang yang tidak mengetahui manfaat matematika dan banyak pula orang yang berpendapat bahwa matematika itu tidak menarik. Hal ini juga dipertegas oleh (Mawa et , 2. yang menyatakan bahwa banyak orang yang telah mengetahui dan mengakui manfaat dan bantuan matematika kepada bidang studi lain dan kehidupan, namun tidak sedikit pula yang memandang bahwa matematika itu tidak menarik dan kurang berguna. Demikian juga yang terjadi pada siswa, pada umumnya banyak siswa yang tidak menyenangi pelajaran matematika. Hasil belajar matematika siswa di SMP Negeri 1 Semarapura belum optimal dan belum mengalami peningkatan yang berarti dan bahkan dalam tiga tugas terakhir belum mencapai ketuntasan yang diharapkan. Keadaan dapat dilihat dari prestasi belajar matematika siswa pada tiga tahun terakhir belum mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Hal ini dapat dilihat dari ratarata skor siswa, ketuntasan belajar dan daya serap siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura, yang dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Data Hasil Belajar Siswa Kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura Ketuntasan Tahun Pelajaran Rata-rata Belajarnya Daya Serap 2019/2020 2020/2021 2021/2022 Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman Sumber data: SMP Negeri 1 Semarapura Belum optimalnya hasil belajar matematika siswa disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah persepsi pandangan siswa bahwa matematika sulit, dan tidak menarik karena tidak bermakna. Hal ini diduga akibat dari kualitas proses pembelajaran yang belum memadai sehingga dewasa ini proses pembelajaran di kelas sering menjadi sorotan. Selama ini proses pembelajaran di kelas lebih sering berorientasi pada kuantitas materi pembelajaran, dimana guru berpandangan bahwa tugas utamanya adalah menyelesaikan bahan pembelajaran yang termuat dalan buku ajar (Sukanadi. Disini guru sering beranggapan bahwa yang menjadi penyebab kesulitan belajar matematika siswa adalah bersumber dari diri siswa, seolaholah tidak ada penyebab kesulitan yang bersumber dari luar diri siswa. Padahal mutu pendidikan sebagian besar ditentukan oleh mutu pembelajaran, seperti strategi yang digunakan dalam menyajikan materi pelajaran atau suasana pembelajaran yang dilaksanakan (Saputra & Akmal, 2. (Mulhamah & Putrawangsa, 2. menyatakan bahwa pembelajaran dengan memanfaatkan masalah sebagai sumber belajar bersandar pada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan sematamata proses menghapal sejumlah fakta tetapi merupakan suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungan. Melalui proses ini siswa akan berkembang secara utuh dimana siswa tidak hanya berkembang pada aspek kognitif saja tetapi juga berkembang pada aspek afektif maupun psikomotor melalui penghayatan internal akan problema yang dihadapi. Untuk mngurangi beban masalah siswa dalam pembelajaran maka proses pembelajaran yang mnggunakan masalah sebagai kuncinya perlu dilakukan secara berkelompok. Pemecahan masalah dapat dilakukan secara berkelompok . roup problem solvin. Dalam group problem solving, siswa bekerjasama dengan anggota kelompoknya dalam memecahkan masalah dan membagi pengetahuan konsep dan pengetahuan prosedural mereka masing-masing untuk memecahkan masalah (Hasanah & Himami, 2. (Mariyaningsih & Hidayati, 2. menyatakan bahwa dalam group problem solving di mana group yang dimaksud adalah cooperative group . elompok kooperati. , menuntut adanya kerjasama antar anggota kelompok, terjadinya tukar pendapat, serta saling melengkapi dan mengkoreksi solusi. Selama proses membangun sebuah solusi tersebut berlangsung, setiap anggota kelompok dapat meminta penjelasan dan pertimbangan satu dengan yang lainnya dalam kelompok tersebut. Group problem solving disusun dan diatur untuk memaksimalkan keaktifan dan partisipasi yang sesuai pada semua siswa dalam kelompok. Dilihat dari aspek filosofi tentang fungsi sekolah sebagai wadah untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyarakat. Group problem Solving merupakan model pembelajaran yang penting untuk diterapkan. Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman karena pada kenyataannya setiap manusia hidup akan selalu dihadapkan pada masalah, baik dari masalah paling sederhana sampai dengan masalah yang sangat rumit. Melalui penerapan model pembelajaran dengan memanfaatkan masalah sebagai sumber belajar diharapkan dapat memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat memecahkan permasalahan yang Dalam konteks perbaikan kualitas hasil pendidikan, pembelajaran dengan memanfaatkan masalah sebagai sumber belajar merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem Proses pembelajaran Group problem Solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara alamiah sehingga dalam proses pembelajaran siswa harus aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk penyelesaian masalah, dan masalah dijadikan kunci dalam proses pembelajaran, artinya tanpa masalah tidak akan terjadi proses pembelajaran. Melalui Group problem Solving siswa juga akan belajar bagaimana menggunakan suatu proses interaktif dalam mengevaluasi apa yang mereka ketahui, mengidentifikasi apa yang perlu mereka ketahui, mengumpulkan informasi, dan berkolaborasi dalam mengevaluasi suatu hipotesis berdasarkan data yang telah mereka kumpulkan. Sehingga siswa akan terlatih untuk menggunakan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan masalah secara Dengan demikian pembelajaran akan terasa lebih bermakna. Kebermaknaan dalam belajar akan berdampak pada daya ingat dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang lebih kuat sehingga akan tersimpan dalam memori jangka panjang yang tentunya akan berdampak positif terhadap hasil belajar. Hakikat Pembelajaran Matematika Berbicara mengenai matematika tidak terlepas dari hakikat matematika itu Matematika adalah ilmu universal yang berhubungan dengan penelaahan bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan di antara hal-hal tersebut (Darmadi, 2. Sebagai ilmu yang universal, dalam matematika kita belajar tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, serta konsep yang berhubungan dengan jumlah, yang terbagi menjadi tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Matematika juga merupakan pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis, serta merupakan bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, dan representasinya menggunakan simbul yang padat (Rahmah, 2. Matematika dikenal juga sebagai ilmu terstruktur dan sistematis yang dimulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling Konsep-konsep dalam matematika teratur dimulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, kemudian menjadi unsur yang didefinisikan, lalu ke aksioma atau postulat, dan akhirnya pada teorema (Rohmah, 2. Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman Matematika sebagai ilmu deduktif memberi arti bahwa proses pengerjaan matematika harus deduktif. Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan . tetapi harus berdasarkan pembuktian Meskipun demikian, mencari kebenaran dalam matematika bisa dimulai dengan cara induktif tetapi untuk generalisasi ke semua keadaan harus bisa dibuktikan secara deduktif. Pemecahan Masalah Dalam Pembelajaran Matematika Menurut Dewey (Sunendar, 2. , masalah adalah sesuatu yang diragukan atau sesuatu yang belum pasti. Pendapat lain menyatakan bahwa masalah adalah ketidaksamaan antara dua pernyataan atau lebih yang disampaikan kepada siswa pada waktu proses belajar mengajar berlangsung. Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya, akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Jika suatu masalah diberikan kepada seseorang siswa dan siswa tersebut langsung mengetahui cara menyelesaikannya dengan benar, maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. Untuk memperoleh kemampuan dalam memecahkan masalah, seseorang harus memiliki banyak pengalaman dalam memecahkan berbagai masalah (Azzahra, 2. Siswa yang sering latihan memecahkan masalah akan memiliki kemampuan yang lebih dan akan berguna untuk memecahkan masalah selanjutnya. Suatu pertanyaan merupakan masalah bergantung kepada individunya dan waktu. Suatu pertanyaan merupakan masalah bagi siswa tetapi belum tentu pertanyaan tersebut merupakan masalah bagi siswa lain. Demikian juga suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi seorang siswa pada suatu saat, tetapi bukan merupakan suatu masalah ketika siswa sudah mengetahui cara/proses mendapatkan penyelesaian masalah Group Problem Solving Pemecahan masalah dapat dilakukan secara berkelompok . roup problem Dalam group problem solving, siswa bekerjasama dengan anggota kelompoknya dalam memecahkan masalah dan membagi pengetahuan konsep dan pengetahuan prosedural mereka masing-masing untuk memecahkan masalah (Tristiyanti & Afriansyah, 2. Tujuan penelitian ini di lakukan yaitu untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dengan penerapan pendekatan Group Problem Solving pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura, menganalisis dan mendeskripsikan tingkat respon siswa dengan penerapan pendekatan Group Problem Solving pada siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura. Metode Penelitian Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. Tindakan yang dilakukan adalah menerapkan Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman pendekatan group problem solving untuk meningkatkan hasil belajar Tempat dan Subyek Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Semarapura dengan melibatkan siswa kelas VII B tahun pelajaran 2022/2023. Dipilihnya kelas VII B sebagai subyek penelitian karena di kelas tersebut ditemukan permasalahan-permasalahan seperti yang telah diuraikan pada latar belakang. Obyek Penelitian Obyek yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa dengan penerapan pendekatan Group Problem Solving. Observasi dan evaluasi Selama pelaksanaan tindakan, dilakukan observasi terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung. Observasi terhadap pelaksanaan tindakan yaitu: mencatat kejadian yang berkaitan dengan proses pembelajaran serta menemukan kelemahan-kelemahan yang dihadapi selama proses Evaluasi kemampuan pemecahan masalah siswa dilakukan dengan memberikan tes pemecahan masalah berupa soal uraian. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan instrumen yaitu tes, untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. Jenis instrumen dan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Tabel 1 Jenis Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data Jenis Data Teknik Instrumen Waktu Tes Hasil Belajar Tes Soal-soal Diakhir setiap siklus Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Data mengenai kemampuan pemecahan masalah matematika dapat diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematika yang dilakukan pada setiap akhir siklus bertujuan mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Tes yang diberikan berupa soal uraian karena dalam menjawab soal-soal uraian siswa dituntut untuk mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki. Teknik penskoran dalam penelitian ini disesuaikan dengan langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya dan langkah-langkah tersebut Teknik penskoran yang dimaksud disajikan dalam tabel 3. Tabel 2 Rentangan Skor Indikator Pemecahan Masalah Indikator Rentangan Skor Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman Pemahaman terhadap masalah Perencanaan penyelesaian masalah Pelaksanaan penyelesaian masalah Membuat simpulan Rentangan Skor Total Satu Soal Hasil Dan Pembahasan Seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. yang dilaksanakn dlam tiga siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura pada tahun 2022/2023 sebanyak 39 orang. Penelitian ini juga melibatkan seorang guru kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura selaku praktisi. Data yang dicari berupa data hasil belajar siswa terhadap pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran group problem solving. Selanjutnya data-data tersebut dianalisis dengan cara-cara yang telah Data skor tes siswa pada siklus I disajikan pada lampiran. Berdasarkan data tersebut diperoleh bahwa : Rata-rata skor = X = 6,88 sehingga pedoman konversi menjadi : 8,15 O X 7,30 O X A 8,15 6,45 O X A 7,30 5,60 O X A 6,45 X A 5,60 sangat baik cukup baik sangat kurang Berdasarkan pedoman tersebut maka diperoleh tingkat pemecahan masalah matematika masing-masing siswa seperti pada lampiran. Banyak siswa yang tergolong pada tingkat sangat baik, baik, cukup baik, kurang dan sangat kurang disajikan dalam tabel 4 Tabel 1 Persentase Hasil Tes Matematika Siklus I Sangat Baik Cukup Kurang Banyak Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Sangat Ni Komang Taman Persentase 7,69 % 43,59 % 25,64 % 15,39 % 7,69 % Dari tabel 1 terlihat bahwa 76,92 % siswa tergolong memiliki kemampuan minimal cukup baik. Data Hasil Belajar Matematika Data skor tes siswa pada siklus II disajikan pada lampiran Berdasarkan data tersebut diperoleh bahwa : rata-rata skor = x = 7, 28 sehingga pedoman konversi menjadi : 8,43 O X 7,66 O X A 8,43 6,89 O X A 7,66 6,13 O X A 6,89 X A 6,13 sangat baik cukup baik sangat kurang Berdasarkan pedoman tersebut maka diperoleh hasil belajar matematika masing-masing tertera pada lampiran. Banyak siswa yang tergolong pada tingkat sangat baik, baik, cukup baik, kurang dan sangat kurang disajikan dalam tabel. Tabel 2 Persentase Hasil Tes Matematika Banyak Persentase Sangat Sangat baik Baik Cukup Kurang 23,08 % 41,03 % 28,20 % 7,69 % 0,0 % Dari tabel 2 terlihat bahwa 92,31% siswa tergolong memiliki kemampuan minimal cukup baik. Pada saat observasi awal sebelum pelaksanaan tindakan diketahui bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura masih kurang. Pada awal siklus I, kelas yang terdiri dari 39 orang siswa dibagi menjadi 8 kelompok yang heterogen baik dari segi kemampuan akademis maupun jenis kelaminnya. Pada siklus I, rata-rata hasil belajar 78,38, daya serap 78,38% dan ketuntasan klasikalnya 76,92 %. Rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada siklus I berada pada kategori Aucukup baikAy. Dengan demikian secara klasikal rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman matematika siswa pada siklus I masih kecil. Kenyataan ini disebabkan oleh pelaksanaan pembelajaran di siklus I yang masih mengalami beberapa Kekurangan-kekurangan yang teridentifikasi pada pelaksanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: Komunikasi dan kerja sama antar anggota kelompok terlihat masih Dalam diskusi kelompok masih terlihat adanya siswa yang enggan untuk berdiskusi dengan teman sekelompoknya saat menjawab permasalahan yang ada dalam LDS. Adanya ketidakcocokan dalam kelompok menyebabkan siswa tidak mau mengerjakan LDS yang diberikan, sehingga suasana kelas menjadi ribut. Masih rendahnya minat siswa untuk memecahkan masalah dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah yang dikemukakan oleh polya. Jawaban yang diberikan siswa masih kurang terstruktur, dimana banyak siswa yang belum terbiasa untuk menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal. Siswa juga belum terbiasa menuliskan rencana penyelesaian soal. Pada saat siswa berdiskusi dengan kelompoknya untuk memecahkan permasalahan yang diberikan, nampak beberapa siswa kesulitan dalam menjawab permasalahan tersebut. Hal ini disebabkan karena mereka belum menguasai materi yang diajarkan dan kurangnya persiapan dalam mempelajari materi tersebut. Sebagian besar siswa masih takut bertanya dan mengungkapkan pendapat ketika presentasi maupun tanya jawab berlangsung. Hanya beberapa siswa yang berkemampuan lebih saja yang bersedia bertanya dan mengemukakan pendapat. Bertolak dari kekurangan-kekurangan yang hadapi pada siklus I, peneliti bersama dengan guru mendiskusikan perbaikan tindakan untuk selanjutnya diterapkan pada siklus II. Perbaikan tindakan yang dilakukan adalah sebagai Guru . memberikan bimbingan kepada siswa agar mereka mulai membiasakan diri berdiskusi dengan teman satu kelompok dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, guru juga mendatangi setiap kelompok sesering mungkin untuk mengawasi diskusi kelompok yang sedang berlangsung. Memberikan cara-cara yang memudahkan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan seperti membuat gambar, mencari pola, dan sebagainya. Untuk menanggulangi siswa tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan adalah dengan menuntun dan membiasakan siswa untuk menuliskan semua informasi yang ada pada soal agar pola pemecahan lebih terstruktur. Guru memberikan penjelasan secukupnya, dan guru meminta siswa untuk mempelajari materi yang akan dibahas. Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman Guru secara acak menunjuk salah satu perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Guru juga mengarahkan siswa untuk bergiliran dalam mempresentasikan hasil kerja kelompok didepan kelas sehingga presentasi tidak hanya dominasi oleh siswa pintar Hal ini bertujuan agar setiap siswa dalam kelompok benar-benar termotivasi untuk selalu mengerjakan dan mengerti langkah-langkah pemecahan masalah hasil diskusi kelompoknya. Ketika proses pembelajaran siklus II dilaksanakan, siswa mulai terbiasa dengan pembelajaran matematika yang diterapkan guru . Hal ini terlihat dari keantusiasan siswa dalam mengikuti pembelajaran, misalnya siswa langsung berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing ketika guru menyuruh mengerjakan LDS yang diberikan. Pada saat guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya didepan kelas, banyak siswa yang terlihat antusias untuk menjelaskan hasil diskusi kelompoknya. Selain itu siswa mulai terbiasa dalam menerapkan langkah-langkah pemecahan masalah yang dihadapi. Secara umum suasana pembelajaran sudah terlihat kondusif, walaupun agak sedikit gaduh, akan tetapi tetap dalam konteks belajar. Berdasarkan perbaikan tindakan yang dilakukan pada siklus II terlihat bahwa terjadi peningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata hasil belajar matematika siswa sebesar 84,59, daya serap 84,59%, dan ketuntasan klasikalnya 92,31%. Hasil dari pelaksanaan siklus II sudah memberikan hasil yang maksimal. Dari paparan di atas, penelitian ini secara umum telah mampu menjawab rumusan masalah sekaligus telah mampu memecahkan permasalahan rendahnya kemampuan pemecahan masalah yang ditemui di kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura. Hal ini juga didukung oleh tingginya motivasi belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura dalam pembelajaran. Dengan kata lain penelitian tindakan kelas yang dilakukan sudah berhasil. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, diperoleh suatu simpulan yaitu penerapan pendekatan group problem solving mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar matematika siswa siklus I sebesar 78,38, daya serap 78,38% . ategori cukup bai. dan ketuntasan klasikalnya 76,92%. Pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa sebesar 84,59, daya serap 84,59% dan ketuntasan klasikalnya 92,31% . ategori bai. Siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Semarapura memiliki semangat belajar matematika yang tinggi dalam pembelajaran dengan pendekatan group problem solving. Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman Bibliografi Abidin. Mulyati. , & Yunansah. Pembelajaran literasi: Strategi meningkatkan kemampuan literasi matematika, sains, membaca, dan Bumi Aksara. Azzahra. Perbedaan Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Materi Termokimia Melalui Pembelajaran Group dan Individual Problem Solving. Jurnal Dinamika Pendidikan, 9. , 99Ae108. https://doi. org/10. 51212/jdp. Darmadi. UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KEPALA BERNOMOR STRUKTUR. Jurnal Ilmiah Pro Guru, 3. , 301Ae310. Hasanah. , & Himami. Model pembelajaran kooperatif dalam menumbuhkan keaktifan belajar siswa. Irsyaduna: Jurnal Studi Kemahasiswan, 1. , 1Ae13. https://doi. org/10. 54437/irsyaduna. Husna. , & Burais. Penerapan pendekatan problem solving untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan level siswa. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, 11. , 82Ae95. https://doi. org/10. 35445/alishlah. Mariyaningsih. , & Hidayati. Bukan Kelas Biasa: Teori dan Praktik Berbagai Model dan Metode Pembelajaran menerapkan inovasi pembelajaran di kelas-kelas inspiratif. CV Kekata Group. Mawa. CANDIASA. Komp. AGUSTINI. , & Si. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Media Geogebra terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika pada Siswa Kelas Vi SMP Negeri 1 Abang. Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia, 8. https://doi. org/10. 23887/jtpi. Mulhamah. , & Putrawangsa. Penerapan pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika. Jurnal Pendidikan Matematika Sriwijaya, 10. , 58Ae80. Rahmah. Hakikat pendidikan matematika. Al-Khwarizmi: Jurnal Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 1. , 1Ae10. Rohmah. Strategi Pembelajaran Matematika. UAD PRESS. Saputra. , & Akmal. Penerapan Pendekatan Creative Problem Solving untuk meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa. Symmetry: Pasundan Journal of Research in Mathematics Learning and Education, 3. , 137Ae144. Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023 Ni Komang Taman Sukanadi. ANALISIS RESPON MAHASISWA TERHADAP PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM LESSON STUDY. Wacana Saraswati Majalah Ilmiah Tentang Bahasa Sastra Dan Pembelajarannya, 19. , https://doi. org/10. 46444/wacanasaraswati. Sunendar. Pembelajaran matematika dengan pemecahan masalah. Jurnal THEOREMS (The Original Research of Mathematic. , 2. https://doi. org/10. 31949/th. Tristiyanti. , & Afriansyah. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Diskursus Multi Representasi Dan Reciprocal Learning. Jurnal Silogisme: Kajian Ilmu Matematika Dan Pembelajarannya, 1. , 4Ae14. https://doi. org/10. 24269/js. A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). Jurnal Pendidikan Indonesia (Japend. Vol. 4 No. 04 April 2023