Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. : April Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim SOSOK GURU IDEAL MENURUT AL-GHAZALI DAN ZAKIAH DARADJAT: STUDI KOMPARATIF KEPUSTAKAAN Choirul Anam Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Pacitan. Indonesia Email: anamgudel. ca@gmail. Received: 03-03-2025 DOI: Accepted: 15-04-2025 Published: 30-04-2025 Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konseptualisasi guru ideal menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat, membandingkan persamaan serta perbedaannya, dan merumuskan bentuk ideal guru yang paling sesuai untuk konteks pendidikan Indonesia saat ini. Studi ini merupakan penelitian pustaka . ibrary researc. dengan penyajian kualitatif-deskriptif dan menggunakan pendekatan komparatif melalui lensa historis dan filosofis. Sumber data primer meliputi karya Al-Ghazali, terutama IhyaAo AoUlum al-Din, serta karya-karya Zakiah Daradjat seperti Kepribadian Guru dan Ilmu Pendidikan Islam. Analisis dilakukan melalui prosedur induktif, deduktif, komparatif, dan deskriptif sebagaimana kerangka analisis penelitian kualitatif dalam naskah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ghazali memandang guru sebagai figur yang bertanggung jawab menyempurnakan, mensucikan, dan membimbing peserta didik untuk mendekatkan diri kepada Allah. guru diposisikan sebagai ahli ilmu sekaligus teladan moralspiritual, serta menolak orientasi mengajar demi imbalan material. Sebaliknya. Zakiah Daradjat menekankan guru sebagai pendidik yang memikul sebagian tanggung jawab orang tua, bersikap terbuka dan demokratis, memiliki kualifikasi/ijazah sebagai legitimasi akademik, serta mengarahkan idealitas guru pada kepribadian dan penguasaan materi. penerimaan gaji dipandang sah dalam profesi keguruan. Implikasi bagi Indonesia menuntut model integratif: etika dan keteladanan moral Al-Ghazali perlu dipadukan dengan tuntutan kualifikasi serta kompetensi profesional sebagaimana ditekankan Zakiah Daradjat agar relevan dengan kebutuhan pendidikan kontemporer. Kata kunci: Al-Ghazali. Zakiah Daradjat. guru ideal. pendidikan Islam. studi komparatif. PENDAHULUAN Perkembangan masyarakat modern menuntut pendidikan berlangsung secara lebih terstruktur dan tidak lagi semata bertumpu pada transfer keterampilan melalui pengalaman keluarga, sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memperluas kompleksitas pengetahuan yang harus diwariskan secara sistematis. Dalam kerangka ini, guru diposisikan sebagai aktor sentral yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran serta ikut bertanggung jawab dalam mendidik dan mengajar peserta didik menuju kedewasaan (Daradjat, 1978. Nata, 1. Pemahaman masyarakat tentang guru juga tidak terbatas pada lembaga formal, melainkan mencakup ruang-ruang pendidikan keagamaan dan sosial yang lebih luas, sehingga citra guru kerap dilekatkan pada otoritas moral sekaligus otoritas pengetahuan (Nata, 1997, 2. Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. : April Choirul Anam. Sosok Guru Ideal Menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat: Studi Komparatif Kepustakaan Namun, pengaruh guru terhadap peserta didik tidak hanya ditentukan oleh kepandaian atau penguasaan ilmu, melainkan sangat kuat dipengaruhi oleh kepribadian, gaya interaksi, dan penampilan moralnya. Dalam fase perkembangan anak dan remajaAikhususnya jenjang dasar dan menengahAi kepribadian guru dapat menjadi faktor yang lebih dominan daripada aspek kognitif belaka, karena peserta didik berada dalam tahap pembentukan karakter yang intens (Daradjat, 1. Di titik ini, konsep klasik Auguru yang digugu dan ditiruAy berfungsi sebagai ideal normatif yang mengandaikan keteladanan. namun penelitian menekankan bahwa idealitas tersebut perlu disikapi kritis dan realistis karena guru tetap manusia yang tidak bebas dari kekurangan, sehingga ukuran keutamaan guru dapat ditautkan pada kesungguhan upaya menyempurnakan diri dan karyanya (Nata, 2. Kesadaran akan tuntutan profesionalisme juga menguat: tugas keguruan tidak dapat diserahkan kepada sembarang orang, melainkan meniscayakan kompetensi tertentu agar guru mampu membina peserta didik sesuai nilai-nilai kehidupan yang luhur, termasuk nilai agama (Nata, 2. Dalam perspektif pendidikan Islam yang dipakai penelitian, tugas guru mencakup pembimbingan peserta didik mengenali potensi . akat, minat, kemampua. sekaligus penciptaan situasi pendidikan yang memungkinkan tindakan pendidikan berlangsung efektif (Daradjat, 1. Dengan demikian, pembahasan mengenai Auguru idealAy harus memadukan dimensi etika-kepribadian dan dimensi kompetensi profesional secara proporsional. Dalam tradisi pemikiran Islam, pembahasan guru ideal memiliki spektrum Penelitian menampilkan Al-Ghazali sebagai tokoh yang menekankan moralitas dan orientasi transendental pendidikan, termasuk dorongan kuat agar aktivitas mengajar tidak ditundukkan oleh motivasi material, melainkan diarahkan pada keridaan Allah dan kedekatan kepada-Nya (Al-Ghazali, 1979. Sulaiman, 1993. Di sisi lain. Zakiah DaradjatAisebagai pemikir pendidikan Islam Indonesia dengan latar psikologi dan pendidikanAimenekankan bahwa guru yang baik harus memenuhi tanggung jawab pedagogis sekaligus memerlukan prasyarat akademik . dan kecintaan terhadap profesi. orientasi material yang dominan justru berpotensi mengganggu kestabilan sikap guru dan merusak nilai pendidikan yang diterima peserta didik (Daradjat, 1996. Perbedaan aksentuasi ini membuat studi komparatif menjadi relevan: AlGhazali dan Zakiah Daradjat sama-sama berbicara tentang idealitas guru, tetapi bergerak dari horizon epistemik dan konteks sosial yang berbeda, sehingga berpotensi melahirkan kombinasi nilai yang lebih operasional bagi konteks Indonesia. Karena itu, penelitian ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan berikut dalam alur naratif pendahuluan ini: RQ1 Bagaimana guru ideal dikonsepsikan oleh Al-Ghazali? RQ2 Bagaimana guru ideal dikonsepsikan oleh Zakiah Daradjat? RQ3 Apa persamaan dan perbedaan pandangan keduanya tentang guru ideal? RQ4 Konsep guru ideal manakah yang paling sesuai bagi Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Choirul Anam. Sosok Guru Ideal Menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat: Studi Komparatif Kepustakaan konteks pendidikan Indonesia kontemporer? Fokusnya bukan menambah data di luar penelitian, melainkan menegaskan kembali temuan penelitian dalam format artikel ilmiah yang ringkas dan koheren. Lebih jauh, urgensi kontekstualnya terkait dengan kerangka regulasi nasional yang menempatkan pendidik sebagai tenaga profesional yang memiliki kewajiban merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih, serta menjaga komitmen peningkatan mutu pendidikan (Republik Indonesia, 2. Penguatan standar kompetensi pendidik juga ditegaskan melalui kebijakan yang mensyaratkan kualifikasi akademik dan kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial (Pemerintah Republik Indonesia, 2. Dengan demikian, rumusan Auguru idealAy yang ditarik dari dua tokoh ini perlu diuji relevansinya dengan kebutuhan profesionalisme guru dalam konteks pendidikan Indonesia kontemporer. METODE Penelitian ini merupakan penelitian pustaka . ibrary researc. dengan objek utama berupa karya-karya tertulis yang relevan, sebagaimana ditegaskan dalam penelitian bahwa data dicari dan ditemukan melalui kajian buku-buku yang terkait langsung dengan pokok bahasan (Moleong, 2. Karakter penelitiannya adalah kualitatif dengan penyajian deskriptif, yakni bertujuan memperoleh gambaran utuh dan jelas tentang sosok guru menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat (Moleong, 2. Pendekatan yang digunakan adalah studi komparatif dengan dua lensa utama: . pendekatan historis untuk mengkaji biografi dan konteks karya kedua dan . pendekatan filosofis untuk mengkaji gagasan keduanya secara kritis, evaluatif, dan reflektif, sehingga sekalipun pemikiran mereka berlainan, dapat ditelusuri Aubenang merahAy konseptualnya sebagaimana tujuan komparasi dalam penelitian (Suryabrata, 1991. Hadi, 1. Sumber data primer meliputi karya Al-Ghazali, khususnya IhyaAo AoUlum alDin (Al-Ghazali, 1. , dan karya-karya Zakiah Daradjat yang disebut eksplisit dalam penelitian: Kepribadian Guru. Ilmu Pendidikan Islam. Metodologi Pengajaran Agama Islam, dan Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Daradjat, 1978, 1996. Daradjat et al. , 2001. Daradjat, 1. Sumber data sekunder adalah literatur pendukung yang masih relevan dengan pokok masalah, termasuk karya yang membahas pola relasi guru-murid dan profesionalisme guru sebagaimana disebut dalam penelitian (Nata, 2001. Usman, 2. Analisis data mengikuti kerangka yang dinyatakan dalam penelitian, yakni analisis kualitatif berbasis tema . ukan angk. melalui prosedur: induktif . enarik generalisasi dari kesamaan unsu. , deduktif . enguatkan pengertian umum melalui dat. , komparatif . emetakan persamaan-perbedaan dua sistem pemikira. , dan deskriptif . emaparkan secara sistematis, faktual, dan akurat aspek yang diselidik. (Hadi, 1987. Suryabrata, 1. Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Choirul Anam. Sosok Guru Ideal Menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat: Studi Komparatif Kepustakaan HASIL Hasil penelitian disajikan sesuai empat fokus pertanyaan penelitian: konseptualisasi guru ideal menurut Al-Ghazali, konseptualisasi guru ideal menurut Zakiah Daradjat, persamaan-perbedaan, serta relevansinya bagi Indonesia. Pertama. Al-Ghazali memosisikan guru sebagai figur yang bertanggung jawab atas pendidikan dan pengajaran dengan misi penyempurnaan, pensucian, penjernihan, dan pembimbingan peserta didik agar mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kesimpulan penelitian, peran guru diarahkan pada pembinaan manusia secara utuh sehingga mampu menjalankan fungsi sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi (Al-Ghazali, 1979. Sulaiman, 1993. Orientasi ini menempatkan pengajaran sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat, bukan semata pencapaian duniawi, sehingga guru ideal adalah ahli pengetahuan sekaligus model nyata pribadi ideal (Al-Ghazali, 1979. Asari, 1. Pada tataran tugas dan kewajiban, penelitian merinci beberapa prinsip utama dalam pemikiran Al-Ghazali: guru ideal mengikuti jejak Rasul dalam mengajar, tidak menjadikan pengajaran sebagai sarana mencari upah, menunjukkan kasih sayang kepada peserta didik, menjadi teladan, menjaga etika profesi . isalnya tidak merendahkan disiplin ilmu lai. , serta membimbing peserta didik belajar secara bertahap dan tetap mengingatkan tujuan pengajaran agar tidak tergelincir pada ambisi status duniawi (Al-Ghazali, 1979. Zainuddin et al. , 1991. Sulaiman, 1993. Dengan demikian, bobot moral-kepribadian menjadi pusat, sementara aspek teknis-profesional cenderung tampil sebagai konsekuensi dari integritas moral itu. Kedua. Zakiah Daradjat memandang guru sebagai sosok yang Aumerelakan diri memikul sebagian tanggung jawab orang tuaAy dan karenanya dituntut menggali potensi peserta didik, bersikap terbuka dan demokratis dalam menghargai pendapat peserta didik, serta mampu membangun relasi pendidikan yang sehat secara psikologis (Daradjat, 1978, 1. Penelitian menekankan bahwa guru yang baik menurut Zakiah tidak hanya memerlukan kualitas religius . , kesehatan jasmani, akhlak baik, dan jiwa sosial, tetapi juga berilmu yang dibuktikan dengan ijazah sebagai tanda kecakapan profesional, serta kecintaan terhadap profesi agar tidak menilai pekerjaan guru semata dari sisi material (Daradjat, 1. Dalam rincian tugas. Zakiah Daradjat menempatkan guru dalam spektrum peran yang luas: sebagai pewaris kebudayaan, pembentuk kepribadian anak sesuai dasar negara, perantara belajar, pembimbing menuju kedewasaan, penghubung sekolah-masyarakat, penegak disiplin, administrator dan manajer, perencana kurikulum, pemimpin bimbingan, serta sponsor kegiatan peserta didik (Daradjat, 1978. Daradjat, 1. Penelitian juga menautkan efektivitas guru dengan kompetensi keguruan, termasuk kompetensi kepribadian, penguasaan bahan pengajaran, dan keterampilan mengajar, yang harus terus dikembangkan agar tujuan pendidikan tercapai secara optimal (Daradjat et al. Daradjat, 1. Ketiga, pada dimensi persamaan, penelitian memperlihatkan titik temu kedua tokoh pada penekanan kepribadian dan keteladanan: guru ideal harus Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Choirul Anam. Sosok Guru Ideal Menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat: Studi Komparatif Kepustakaan memiliki kualitas personal yang dapat dicontoh, bekerja dengan tanggung jawab moral terhadap pembentukan jiwa dan watak peserta didik, serta menjalankan peran membimbing (Al-Ghazali, 1979. Daradjat, 1. Keduanya sama-sama menolak praktik pendidikan yang merusak nilai-nilai luhur, meski argumentasi dan kerangka tekanannya berbeda. Keempat, pada dimensi perbedaan, penelitian menegaskan bahwa AlGhazaliAidilihat dari perspektif guru sebagai profesiAilebih menonjolkan aspek moral dan kepribadian, sementara aspek penguasaan materi, metode, dan profesionalisasi tidak menjadi fokus utama. hal ini dipahami sebagai konsekuensi paradigma tasawuf yang menempatkan guru sebagai figur sentral dengan bobot spiritual yang besar bagi peserta didik (Al-Ghazali, 1979. Sulaiman, 1993. Sebaliknya. Zakiah Daradjat mengarahkan guru sebagai profesi pada aspek kepribadian sekaligus keahlian dan penguasaan materi, dengan penekanan bahwa kesiapan akademik dan profesional mempengaruhi ketenangan guru di kelas dan berdampak pada kualitas pembelajaran. kerangka ini, penerimaan gaji dipandang sah sepanjang tidak menggeser orientasi pendidikan menjadi semata material (Daradjat, 1996. Daradjat et al. Kelima, untuk konteks Indonesia, penelitian menautkan kebutuhan guru ideal dengan peraturan perundangan yang menegaskan pendidik sebagai tenaga profesional yang memiliki kewajiban pedagogis dan tuntutan kualifikasi serta sertifikasi, serta kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial (Pemerintah Republik Indonesia, 2005. Republik Indonesia, 2. Pada titik ini, simpulan penelitian mengarah pada formulasi integratif: model Al-Ghazali yang sarat norma akhlak tetap relevan, namun tidak cukup jika berdiri sendiri. ia perlu dilengkapi dengan persyaratan akademis dan profesional sebagaimana ditekankan Zakiah Daradjat agar sesuai dengan kebutuhan pendidikan Indonesia kontemporer (Daradjat, 1996. Al-Ghazali, 1. PEMBAHASAN Temuan penelitian memperlihatkan bahwa idealitas guru menurut AlGhazali dibangun dari horizon etika-spiritual yang kuat: guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pembina manusia menuju kebahagiaan akhirat dan kedekatan kepada Allah. Karena orientasi ini, keikhlasan, kasih sayang, keteladanan, dan kemurnian niat mengajar menjadi fondasi konseptual yang menentukan (Al-Ghazali, 1979. Zainuddin et al. , 1. Dalam konteks pendidikan modern, kekuatan model ini terletak pada kemampuan membentengi pendidikan dari reduksi instrumental: pendidikan tidak semata mengejar keterampilan pasar, tetapi membangun integritas moral dan arah hidup peserta didik. Namun, penelitian juga mengakui keterbatasan model Al-Ghazali bila ditempatkan dalam kerangka profesionalisme guru kontemporer. Ketika guru tidak lagi menjadi satu-satunya agen informasi karena kemajuan teknologi dan akses pengetahuan yang meluas, aspek kompetensi pedagogik, penguasaan materi, perencanaan pembelajaran, dan pengelolaan kelas menjadi kian penting. Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Choirul Anam. Sosok Guru Ideal Menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat: Studi Komparatif Kepustakaan Karena itu, apabila Al-Ghazali menempatkan guru sebagai figur sentral yang kuat secara spiritual, penelitian menilai hal ini Aumungkin kurang sejalanAy bila dipahami sebagai satu-satunya model untuk masyarakat modern (Al-Ghazali. Asari, 1. Di sisi lain, model Zakiah Daradjat membawa pembacaan profesi keguruan yang lebih kompatibel dengan tuntutan institusional modern. Penekanan pada ijazah, kompetensi, serta keluasan peran guruAitermasuk administrasi, kurikulum, hubungan sekolah-masyarakat, dan bimbinganAimembuat konsep guru idealnya lebih operasional untuk sistem pendidikan formal yang kompleks (Daradjat, 1978, 1996. Daradjat et al. , 2. Selain itu, analisis penelitian menunjukkan bahwa orientasi material yang dominan dapat menimbulkan kegoncangan psikologis guru dan berdampak pada sikap terhadap peserta didik. karena itu, pengakuan gaji tidak identik dengan materialisme, melainkan dapat dibaca sebagai penguatan profesionalisme sepanjang tetap dijaga integritas niat dan etika kerja pendidikan (Daradjat, 1. Ketegangan utama antara dua tokoh dapat dibaca sebagai ketegangan antara Auprimasi moral-spiritualAy dan Auprimasi profesional-institusionalAy. AlGhazali menolak orientasi upah sebagai motif awal mengajar dan menempatkan pengajaran sebagai pengabdian transendental (Al-Ghazali, 1. , sedangkan Zakiah Daradjat meletakkan pengakuan profesi dan kompetensi sebagai syarat agar guru mampu bertindak efektif sekaligus stabil secara psikologis dalam pembelajaran (Daradjat, 1996. Daradjat et al. , 2. Dalam kerangka penelitian, perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan secara dikotomis, melainkan untuk dibaca sebagai peluang integrasi nilai: moralitas tanpa kompetensi dapat membuat pendidikan tidak efektif, sedangkan kompetensi tanpa moralitas dapat membuat pendidikan kehilangan arah nilai. Implikasi paling langsung terlihat pada RQ4. Penelitian menegaskan bahwa konteks Indonesia tidak dapat dilepaskan dari regulasi yang menempatkan pendidik sebagai tenaga profesional serta mensyaratkan kualifikasi, sertifikasi, dan kompetensi sebagai agen pembelajaran (Pemerintah Republik Indonesia, 2005. Republik Indonesia, 2. Karena itu, model guru ideal yang paling sesuai adalah model yang menggabungkan kekuatan etikaakhlak dan keteladanan Al-Ghazali dengan kekuatan prasyarat akademik dan kompetensi profesi yang ditekankan Zakiah Daradjat. Dengan kata lain, guru ideal di Indonesia kontemporer adalah guru yang berkepribadian kuat dan ikhlas dalam orientasi nilai, sekaligus memenuhi kompetensi pedagogikprofesional yang dibutuhkan sistem pendidikan modern (Al-Ghazali, 1979. Daradjat, 1. KESIMPULAN Sesuai fokus penelitian, artikel ini menegaskan empat jawaban utama. Pertama (RQ. , guru ideal menurut Al-Ghazali adalah pendidik yang bertugas menyempurnakan, mensucikan, dan membimbing peserta didik agar mendekatkan diri kepada Allah. guru berperan sebagai ahli ilmu sekaligus Al-TaAolim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. : April ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal. id/index. php/altalim Choirul Anam. Sosok Guru Ideal Menurut Al-Ghazali dan Zakiah Daradjat: Studi Komparatif Kepustakaan model pribadi ideal, dengan penekanan kuat pada keikhlasan, kasih sayang, keteladanan, dan sikap kritis terhadap orientasi material dalam mengajar (AlGhazali, 1979. Sulaiman, 1993b. Zainuddin et al. , 1. Kedua (RQ. , guru ideal menurut Zakiah Daradjat adalah pendidik profesional yang memikul sebagian tanggung jawab orang tua, dituntut memiliki kualitas religius dan sosial serta kualifikasi akademik . , mencintai profesi, dan memiliki kompetensi kepribadian, penguasaan materi, serta keterampilan mengajar. menjalankan peran yang luas termasuk bimbingan, administrasi, dan perencanaan kurikulum (Daradjat, 1978, 1996. Daradjat et al. , 2001. Daradjat. Ketiga (RQ. , persamaan keduanya terletak pada penekanan kepribadian dan keteladanan guru sebagai faktor kunci pembentukan peserta didik, sedangkan perbedaannya terletak pada titik berat konseptual: Al-Ghazali lebih moral-spiritual . dan keras mengkritik orientasi upah, sementara Zakiah Daradjat lebih profesional-institusional dan menegaskan pentingnya kompetensi serta legitimasi pengupahan sepanjang tidak merusak etos pendidikan (AlGhazali, 1979. Daradjat, 1. Keempat (RQ. , berdasarkan simpulan penelitian dan kerangka regulasi pendidikan Indonesia, model guru ideal yang paling sesuai bagi Indonesia kontemporer adalah model integratif: akhlak dan keteladanan Al-Ghazali tetap relevan, namun harus dilengkapi persyaratan akademik dan profesional sebagaimana ditekankan Zakiah Daradjat agar selaras dengan tuntutan kualifikasi dan kompetensi pendidik (Pemerintah Republik Indonesia, 2005. Republik Indonesia, 2003. Daradjat, 1. Keterbatasan penelitian ini melekat pada sifatnya sebagai penelitian pustaka: kesimpulan dibangun dari analisis teks sumber primer dan literatur pendukung sebagaimana tersedia dalam penelitian, tanpa pengujian lapangan terhadap praktik keguruan kontemporer. Oleh karena itu, riset lanjutan dapat menguji operasionalisasi model integratif ini pada konteks sekolah/madrasah dengan pendekatan empiris yang tetap konsisten dengan kerangka konseptual DAFTAR PUSTAKA