Perdagangan Indonesia Menghadapa! Era Informasi Oleli Jiwan Setya sendi Perkembangan teknologi komunikasi yang telah meningkatkan arus informasi, juga memberikan dampak kepada peningkatan mobilitas kapital. Penguasaan terhadap informasi tersebut menjadikan kemampuan kapital berlipat ganda. Kapital berputar ke seluruh penjuru dunia tanpa mengenal batas waktu dan tempat. Kekurangan kapital suatu negara dapat diatasi dengan investasi langsung dari negara yang kelebihan kapital dalam tempo relatif cepat. Pelipatgandaan tersebut memunculkan kekuatan^kekuatan ekonomi baru. Pada akhir abad ke-20 ini Bagi Indonesia ataupun negara> negara berkembang lainnya, kemampuan bersaing dalam perdagangan barang dan jasa masih banyak mengalami kesulitan. Maka, dengan nada khawatir, mungkinkah negaranegara berkembang mampu bersaing dalam perdagangan kapital dan intelekual yang saat ini masih dikuasai oleh negara-negara maju? Kondisi sosial-ekonomi era informasi Apa ciri-ciri dari era informasi tersebut? Menurut Kenichi Ohmae, era informasi ini ditandai oleh semakin menipisnya batas geograhs suatu negara karena empat hal. Pertama^ investasi bergerak secara bebas dan mencari peluang yang paling menguntungkan. Penurunan insentif terhadap kapital mengakibatkan pelarian Al^pital ke telah memunculkan tiga megamarket ekonomi dunia, yaitu Uni Eropa. Amerika Utara. Asia Timur dan Tenggara. Ketiga kawasan ini mendominasi 70% ekspor dunia dan memproduksi 62% produk kepabrikan dunia, serta menjadi sumber investasi sektor lain atau negara lain. Insentif tersebut tidak hanya berupa tingkat bunga yang ditawarkan tetapi juga faktor non-ekonomi. disebabkan oleh ketidakkonsistenan dalam Bagaimana Indonesia persaingan ini? Tulisan ini mencoba melihat "kemampuan" Indonesia persaingan dagang di pasar intemasional pada era informasi ini. Sebagaimana diketahui bahwa perubahan era industri ke era infomiasi, semakin meningkatkan gelombang perdagangan bebas. Pada era penegakan hukum. Kedua, adalah globalisasi Perusahaan multinasional, yang telah informasi ini, peningkatan perdagangan intemasional tidak hanya diramaikan oleh perdagangan barang dan jasa, juga diramaikan oleh perdagangan kapital dan Perbedaan tingl^t bunga yang ditawarkan tidak hanya disebabkan ekonomi biaya tinggi . yang terjadi, tetapi juga memiliki kekuatan keuangan setara dengan negara, semakin terintegrasi dengan ekonomi domestik melalui penanaman- modal dan transfer teknologi. Perusahaan akan memilih pabrik ke negara yang memberikan keuntungan yang tinggi seperti perusahaan elektronika Jepang memindahkan pabrik di ' Adalah Dosentetap Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia dan sedangmenempuh Sj di University of Philipines JCP OQLUmC B fliunii seivR Deuiflnm negara Malaysia dan dipasarkan ke Asia mendapatkan saingan yang semakin ketat. Tenggara. Akibat Yang ketiga adalah globalisasi informasi. Yang ketiga ini berkaitan erat dengan proses globalisasi industri. Kemajuan teknologi telekomunikasi saat ini telah memungkinkan seorang manajer yang berada di negara asal mampu mengendalikan dan memutuskan kebijaksanaan perusahaannya di berbagai domestik yang bertahan adalah industri yang Selain itu, diversifil^i produk dan diskriminasi harga dapat dilakukan untuk masing-masing segmen konsumen karena informasi mengenai perilaku konsumen dan kondisi pasar telah diketahui secara lebih Yang Hal ini ditandai dengan semakin banyak barang konsumsi asing memasuki pasar domestik, seperti ayam goreng Kentucky. Pizza Hut yang terasa tidak asing Minuman ringan yang telah disesuaikan dengan lidah domestik hadir di tengahtengah kehidupan kita yang seakan-akan produk tersebut buatan Indonesia. Demikian pula, semakin banyak orang yang dapat bepergian ke luar negeri dan serbuan media visual telah mempengaruhi pola konsumsi Pada sisi lain, konsumen pun sehingga konsumen dapat memilih barang yang dikehendaki. Dan akhimya, konsumen dapat mencapai tingkat kepuasan yang Keempat proses di atas tergantung pada kemauan politik masing-masing negara membuka diri. Kemudahan dan fasilitas yang ditawarkan kepada penanam modal asing akan mendorong modal asing ke ekonomi Demikian pula penurunan bea masuk dan tarif, arus barang dan jasa akan mengalir secara deras ke dalam negeri. Pada ' lain, memiliki "keunggulan". Perubahan informasi juga merubah tatanan kehidupan Perubahan ditunjukkan oleh tabel 1 Pada tabel tersebut, kekuatan pemerintah digantikan oleh . kapital dan informasi dalam penentuan . alokasi faktor . Hal berupa melemahnya kontrol negara dalam perekonomian dan perubahan tatanan sosialekonomi di masyarakat. Perubahan masyarakat itu sendiri dijelaskan dengan oleh Wilmal Dissanayake A*. Tanah merupakan sumber daya ekonomi yang utama bagi masyarakat pertanian, informasi sangat membutuhkan kapital dan Demikian pula, produk yang dihasilkan berbeda. Pada masyarakat per tanian, produk yang dihasilkan makanan, informasi menghasilkan barang dan jasa Kondisi tersebut memungkinkan perbedaan kebutuhan masing-masing seg men masyarakat. Perbedaan ini bisa menimbulkan kerawanan sosial yang harus Peristiwa penggusuran, demonstrasi contoh-contoh persepsi dan kepentingan dari kondisi atau kebutuhan masyarakat yang berbeda s. Pada masa perubahan ini, peran negara sangat diperlul^n untuk menjembatani dan mensinkronisasi perbedaan kebutuhan dan ^ Ohmae. Kenichi. , 1995,ibid , hal 141-149. * Dissanayake. Wilmal. , "Cultural Intergration in a Global Age", dalam The World and I. Januari -1990, ? Ohmae. Kenichi. , 1995. The End Of The Nation ' Rais. Amien. , 1996. Budaya Bangsa dan Era State: The Rise of Regional Economies. The Free Globalisasi'. Press. New York, hal 1-5. Seminar Bakom BKB-Lemhanas. Jakarta. JCP UOLUinC Pokok-pokok Pikiran. Makalah Tabel 1. Perubahan Era Industri ke Era Informasi Industrial Age Information Age Timing 19-20th century Discription Driven by nation-state 20-21th centur>' Driven by private capital and National sovereignty Citizen sovereignty Strong control by centralized Autonomous networks of interdependent private enterprises Sensitive to borders and regional entities Inherently borders Favors domestic capital and protects domestic companies Welcomes foreign capital and world-class companies/expertise Aims for one-state prosperity through development of export- Aims for harmonious regional creating hlgh-guality jobs A led, manufacturing-driven economic growth Government Initiatives Good government strengthens priority industries Change occurs gradually over Winner Germany Japan/New Japans United Kingdom United State prosperity based on interdependent, network-centric companies creating Entrepreneurial initiatives Good government nurtures regional development, not focused in specific industry Change occurs suddenly in months to years Hong Kong/Shoeshine Singapore/Johor/Batam Taiwan/Fujian Southem China (Pearl River Delt. Southern India (Bangalor. North Mexico/Southwestern US Silicon Valley Lombardia Pacific Northwest of United States Sumber. Ohmae. Kenichi. , 1995. The End OfThe Nation State: The Rise of Regional Economies. The Free Press. New York, hal 143. M UOLUfHC I . U). SETVB DElUflniR kepentingan masyarakal. Sebagaimana telah disadari baHwa Indonesia, sebagaimana negara berkembang yang lain, memilild tiga strata masyarakal tersebut. Secara natural, masing-masing memperjuangkan kepentingan kelompoknya. Jika hal tersebut diserahkan ke "mel^nisme alami" riiaka proses homogenisasi mungkin Dalam proses tersebut, terjadi flattening-out, yang berarti pihak yang kuat mendominasi yang lemah. Negara mempunyai peran untuk melindungi pihak yang lemah, seliingga proses yang berlangsung adalah proses integrasi. Proses integrasi ini hukum-hukum keadilan Selain itu, negara membantu memeratakan kepemilikan faktor produksi melalui program-program yang dirancang dan dilaksanakan, karena mekanisme pasar hanya menjamin alokasi yang efisien dan tidak menjamin terjadi distribusi di antara pelaku ekonomi Bagaimanakah ekonom melihat era informasi ini? Dalam ekonomi mikro mengenal ekonomi informasi. Dalam eko nomi informasi ini terdapat dua masalah yang menjadikan kegagalan pasar. Masalah pertama, adalah yang disebut dengan hidden Fada hidden type, karakteristik pelaku memperhatikan keberadaan si kuat dan si lemah dalam memanfaatkan sumber-sumber ekonomi tidak mudah diketahui apakah kekayaan untuk mencapai kepentingan Kelangsungan hidup bersama lebih diutamakan tanpa mei^urangi kebebasan seseorang mengekspresikan kemampuan diri. Misalkan: pembangunan lapangan golf perlu memperhatikan kepentingan masyarakat masih menjadikan tanah sebagai Sebagai contoh adalah pinjaman bank dan premi asuransi. Orang yang menggunakan dana kredit beresiko tinggi sumber ekonomi utama. Maka, melemahnya peran negara dalam pelaku ekonomi tersebut suka beresiko atau seharusnya dikenai harga yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak suka Juga, premi asuransi mobil pada orang yang suka "ngebut" seharusnya lebih mengendarai mobil secara hati-hati sekali. perekonomian harus diikuti oleh semakin kuathya ,peran negara' dalam menjaga pfinsip-prinsip pertukaran yang. Dalam ekonomi kapitalis sendiri, sebagaimana cita- cita Adam Smith, negara berperan menjaga sistem sosial yang telah disepakati di bawah Smith. Adam. An Inquary into TheNature and The Cause of The Wealth of Nations, disunting oleh Edwin Cannan. New York: The Modem Library, 1985, hal 55. Adam Smith menjelaskan bahwa kalau harga suatu komoditi tertentu tidak lebih atau kurang dari apa yang cukup untuk membayar sewa tanah, upah buruh, dan keuntungan pemilik modal membawanya ke pasar, sesuai dengan larif alamiahnya, maka komoditi itu dijual pada tingkat harga yang disebut sebagai harga alamiah. Dengan dermkiSm, komoditi itu dijual persis sesuai dengan nilainya yang pantas, atau dijual sesuai dengan tingkat biaya yang telah dikeluark^ pembawa ke tPenjelasan mi akan dijelaskan kemudian. Penjelasan inidapat ditelusuri lebih lanjut pada Varian. HalR. Intermediate Microeconomics: A Modem Approach. Second Edition. Norton & Co. New York. JEi> mmz fliunn sem DeuiRnifl Permasalahan action, yaitu tindakan pelaku ekonomi tidak mudah ditebak. Setelah seseorang mendapatkan kredit, orang bersangkutan ada ke- kegiatan-kegiatan beresiko tinggi atau kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana semula. Demikian pula, orang yang telah mem- peroleh jaminan asuransi, mobil misalnya, akan cenderung tidak selalu mengunci mobil atau merawat mobil dengan seksama. Dampak kedua masalah tersebut, harga . isa harga barang atau uan. ditetapkan secara rata-rata. Dengan menetapkan tingkat harga . secara rata-rata ini menjadikan orang yang memiliki resiko rendah enggan mengambil kredit, sedangkan orang yang memiliki resiko tinggi akan mengambil Akibatnya, bank . emberi pinjama. menjadi tempat bagi orang-orang yang Keadaan demikian jelas tidak menguntungkan bagi pihak pemberi pinjaman. Masalah tersebut barang . ang mungkin disembunyikan atau dikaburkan oleh penjua. menjadikan barang bermutu baik kalah bersaing dengan barangbarang yang bermutu jelek. Sementara ini, pemecahan masalah tersebut adalah dengan jaminan dan insentif. Sebagai misal adalah jaminan bank, jaminan puma jual, bonus dan hadiah, ataupun promosi jabatan. Namun hal ini masih juga menemui kegagalan karena dua hal A. Yang pertama, adalah participation constraint . ndividual rationalit. Hambatan tersebut disebabkan karena pelaku ekonomi memiliki kesempatan atau pilihan yang lebih banyak dari pada pemberi jaminan atau insentif. Dalam era informasi ini, kondisi ini A Varian. Hal R. Microeconcmic Analysis. Third Edition. Norton & Company. New York, hal 411-470. mengakses informasi ataupun memiliki ketrampilan dan intelektual yang semakin Yang kedua adalah incentive compa Pelaku ekonomi akan memilih pilihan yang terbaik . yang diberikan oleh pemberi insentif, dan pelaku ekonomi akan bekeija sesuai dengan insentif yang Dalam hal ini, pemberi insentif tidak dapat memilihkan pilihan yang diinginkan kepada pelaku ekonomi. Dalam era informasi ini, aturan main . referred rulS) yang digunakan adalah participatory Maka, negara, yang dalam hal ini pemerintahan, tidak lagi dapat mensamarkan informasi kepada masyarakat, karena masyarakat dapat memperoleh informasi dari sumber lain yang mungkin juga tidak bertanggung jawab. Hal tersebut justru semakin merepotkan pemerintah dalam menjamin kelangsungan pembangunan. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah yang bersih diperlukan untuk menjamin pedagangan yangfair dalam era infomiasi. Penilaian keunggulan komparatif Pada saat ini, kemampuan kompetitif industri Indonesia masih menjadi bahan Pada satu kubu merasa optimis terhadap kemampuan kompetitif industri Indonesia, sedangkan kubu lainnya merasa Mengapa hal tersebut menjadi bahan perdebatan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perdebatan model-model perdagangan itu sendiri masih menjadi polemik. Dalam model perdagangan dan pembangunan dapat dibagi menjadi dua model besar, yaitu model ' Dewanta. Awan Setya dan kawan-kawan. Monograji Demokrasi. PPSK. Yogyakarta. jcp uoKime flUlflO SCTim DEtUflTfl perdagangan simetris dan asimetris 'o. Pada model perdagangan simetris dikenal dua teori dasar perdagangan yaitu teori perdagangan Ricardo dan Heckscer-Ohlin (H-. Model Ricardo produktivitas tenaga kerja atau teknologi. Dengan asumsi mobilitas faktor produksi tenaga kerja dalam perekonomian domestik dan immobilitas dalam perekonomian antar negara, perdagangan intemasional akan memberil^n keuntungan kepada negara yang melakukan spesialiasi produk sesuai komparatif yang Dalam arti sempit adalah produktifitas tenaga keija menentukan keunggulan komparatif yang dimilikinya. Suatu negara X memiliki keunggulan relatif terhadap produktifitas pada industri pakaian, maka negara X tersebut akan mendapatkan international dengan mengekspor pakaian dan mengimpor non-pakaian. Kondisi di atas akan teijadi apabila biaya transportasi adalah nol. Apabila biaya transportasi menjadi signifil^n terhadap harga barang, maka negara yang lebih dekat pasar akan komparatif meskipun negara tersebut hanya memiliki tingkat produktifitas yang sama dengan negara lain. Negara Korea akan dibandingkan dengan Malaysia untuk mensuplai barang-barang yang diperlukan oleh Jepang, meskipun kedua negara tersebut mempunyai produktifitas yang sama. Ini berarti dapat disimpulkan bahwa negara yang memiliki tingkat produktifitas yang tinggi belum berarti memiliki keunggulan komparatif apabila tidak didukung oleh biaya transportasi yang efisien. Secara umum dapat dikatakan bahwa tingginya biaya-biaya Gemmell. Norman. (Edito. , 1992. Hmu Ekonomi Pembangunan: Beberapa Survai. LP3ES. Jakarta, hal 11-33. JCP UOLUmE tambahan . ang tidak mempunyai kaitan langsung dengan biaya produks. akan menetralisif keunggulan produktifitas tenagakeija yang dimiliUd. Model H-0 memfokuskan kepada kekhususan faktor produksi yang disebabkan oleh perbedaan faktor intensitas dan kepemilil^n faktor yang melimpah. Negara X akan memperoleh keunggulan komparatif terhadap faktor yang melimpah tersebut. Ini berarti bahwa negara yang memiliki jumlah faktor tenaga kerja yang melimpah akan mendapatkan keuntungan dalam perda gangan intemasional apabila negara tersebut menggunakan teknologi produksi padat Tetapi, model H-0 kurang didukung oleh bukti-bukti empiris karena sering terjadi faktor "pembalikan". Negara yang dianggap memiliki faktor modal yang melimpah justru mengimpor barang-barang yang bersifat kapital intensif sebagaimana dibuktikan pertama kali oleh hasil penelitian Leontief. Disamping itu, penghilangan hambatanhambatan perdagangan dan investasi serta perkembangan perdagangan intra-industri mengakibatkan peningkatan mobilitas faktor antar sektor ataupun antar negara, sehingga kekhususan faktor melemah atau teijadi pembalikan faktor. Dari model H-O ini dapat disimpulkan bahwa negara yang hanya mengandalkan faktor yang melimpah . ekayaan alam atau jumlah tenaga kerja melimpa. dan intensifitas pada faktor yang melimpah . pah tenaga kerja dan bahan baku domestik yang mura. tidak dapat mempertahankan keunggulan komparatifnya. Industri pakaian yang pernah menjadi primadona ekspor nonmigas Indonesia memperoleh persaingan yang semakin ketat dari negara Vietnam ataupun Cina yang mulai membuka di. Untuk itu, maka intervensi pemerintah perlu ditujukan ke arah sumber distorsi, karena fiuisn seivfl DGUinTR faktor kekhususan tidak berjangka waktu Model pembangunan asimetrik menunjukkan keadaan yang timpang antara negara yang mengadakan perdagangan. Model ini memberikan pengertian bahwa perdagangan kesejahteraan yang seimbang bagi mitra Pendapat yang lebih ekstrim mengatakan bahwa perdagangan . justru membuat sengsara penduduk yang tinggal di negara-negara berkembang. Ketimpangan disebabkan oleh ketimpangan nilai tukar Contoh yang sering dikemukakan adalah ketimpangan nilai tukar antara nilai ekspor negara berkembang . ang masih memfokuskan kepada hasil-hasil pertania. dan nilai impor negara ber kembang . ang merupakan barang-barang Akibatnya, negara berkembang memperoleh imbalan yang lebih kecil dibandingkan imbalan yang diperoleh negara maju. Kondisi tersebut juga telah ditunjukkan oleh teori wclfarc^^x\% kedua Dalam teori tersebut ditunjukkan bahwa permasalahan aldkasi dan distribusi adalah terpisah. Barang dan jasa akan dialokasikan secara efisien . areto optimaD apabila marginal substitusi yang dimiliki konsumen telah sama dengan Keadaan pareto optimal tersebut tidak mempermasalahkan berapa ba,nyak endowment yang dimiliki oleh konsumen pertukaran . Ini berati bahwa konsumen yang membawa endowment yang kecil juga akan memperoleh imbalan yang kecil pula karena pareto optimal orang Bagaimanapun "kemenangan" atau "keberuntungan" tetap berpihak kepada yang kuat. Kondisi ini " Varian. Hal R. , 1990, Intermediate Micro economics: A Modern Approach. Second Edition. Norton & Co. New York, hal 493-497. memberikan pengertian bahwa perdagangan bebas tidak menjamin keuntungan bersama. Disamping ketimpangan nilai tukar, model perdagangan asimetris ini disebabkan oleh kesenjangan teknologi dan dua celah . ualistic mode. Kesenjangan teknologi dan siklus produk timbul sebagai akibat dari tingkat teknologi telah dicapai terlebih dahulu oleh negara maju dibandingkan negara berkembang. Teknologi negara berkembang hanya merupakan alih teknologi internasional yang dilakukan oleh negara maju . egara-negara Barat atau Utar. Hal tersebut dapat diibaratkan sebagai siklus produk yang perlu dilalui oleh masing- masing negara. Pada awal ekonomi Jepang bangkit, industri pakaian . menjadi tulang punggung ekonomi Jepang. Setelah itu, industri pakaian tersebut ditinggalkan oleh Jepang dan dialihkan ke Indonesia, dan kemudian dialihkan lagi ke Vietnam. Model perdagangan dua celah ini berkaitan erat dengan kondisi struktural di negara-negara berkembang. Pada umumnya, negara-negara berkembang memiliki ketim pangan struktural antara sektor tradisional dan modem. Demikian pula,. dengan adanya gap antara kebutuhan investasi dan ketersedian tabungan, gap teknologi, gap kekayaan yang dijumpai di negara-negara negara-negara Dari dua kerangka model perdagangan tersebut menunjukkan bahwa keunggulan komparatif perlu dimiliki oleh suatu bangsa sebagaimana ditulis oleh Michael Porter yang antara lain adalah tenaga kerja terdidik dan menguasai jaringan informasi. Berbagai media dan pusat penelitian mengeluarkan kompetisi suatu negara. Oleh karena ukuran dan standar yang dipergunakan berbeda, " Porter. Michael. , 1990. The Competitive Advantage ofNations. Free Press. New York. JCP uoLumc Gdinn SGTVfl DCQlRniR komposisi penentuan peringkat keunggulan kompetitif pun juga berbeda, mesldpun masing-masing ukuran dan strandar yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam melakukan penelitian terhadap keunggulan komparatif perlu hati-hati. Paul Krugman'3. Dalam melakukan perban- dingan antara keunggulan kompetitif dari sebuah negara tidak dapat serta merta dianalogikan dengan sebuah perusahaan". Fenyederhanaan analogi ini menimbulkan menentukan keunggulan kompetitif dari suatu negara. Bila keunggulan kompetitif sebagaimana dilakukan oleh. Peningkatan ekonomi suatu negara akan meningkatkan ekonomi negara Iain. Dengan kata Iain, permintaan impor suatu negara akan meningkat dengan peningkatan pendapatan negara pengimpor tersebut. Bagi perusahaan, suatu perusahaan yang memperoleh peningkatan pendapatan akan berakibat buruk terhadap perusahaan A4aka, pengukuran keunggulan kompe titif yang dimiliki suatu negara perlu dibedakan dengan pengukuran keunggulan suatu perusahaan. Bila hal tersebut kurang diperhatikan maka hasil observasi yang dilakukan bisa menyesatkan dan justru menimbulkan kesalahan alokasi faktor. diartikan sebagai kemampuan menjual lebih banyak dibandingkan membeli, maka surplus Potensi ekonomi Indonesia neraca pembayaran mungkin suatu pertanda Dengan adanya dua model perdagangan melemahnya- keunggulan komparatif suatu Atersebut, bagaimanakah mengukur potensi Sebagaimana ditunjukkan oleh Mexico mencapai surplus neraca pembayaran yang cukup besar pada tahun 1980-an karena negara tersebut dipaksa untuk membayar menolak memberikan pinjaman baru. Pada tahun 1990-an, neraca pembayaran kembali defisit setelah investor baru memulai memberikan bantuan baru. Kondisi ini pembayaran yang dialami oleh negara jepang. Korea Selatan dan Taiwan, dimana kemampuan melakukan ekspor. Disamping itu, negara tidak melakukan persaingan '^Kaigman. Paul. , 1994, "Competitiveness: A Dangerous Obsession", dalam Foreign Affairs. March/April, hal 28-44. Perusahaan yang tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif dapat segera menutup usaha yang dilakukan dan membuka usaha lain. Negara tidak mungkin menghindari usaha yang dilakukan meskipun usaha tersebut tidak kompetitif. JCP UOLUIDC Indonesia menghadapi perdagangan bebas dalam era informasi ini? Berbagai metode penilaian dan publikasi telah dapat digunakan untuk menilai posisi produk Indonesia' di pasar Dalam penilaian tersebut perlu dilakukan secara hati-hati kai^na penentuan keunggulan komparatif yang keliru dapat menghasilkan kesalahan alokasi faktor. Dengan perdagangan bebas, volume perdagangan menunjukkan peningkatan. Hal tersebut dapat ditunjukkan oleh volume perdagangan baik inter ataupun intra Pada tabel 3, selama 10 tahun . volume perdagangan dunia meningkat dari US$ 4. 057,2 miliar menjadi US$ 6. 976,5 miliar atau sebesar 5,6% per Peningkatan perdagangan ini seringkali diartikan sebagai peningkatan kesejahteraan bersama, sebagaimana harapan pada model perdagangan simetris. Tetapi, hal tersebut mungkin hanya berlaku bagi perdagangan intra-industri antara negara kaya dengan negara kaya atau negara berkembang dengan Table 2. Intergrasi dalam Era Global Categories of Change Agricultural IndustriaLSociety Information Society Society' Product Food Goods Information Factors. Production Land Capital Expertise Production Venue Household Factory Information Utility Farmer/artisa Factory Workers Technicians Information Technology Actors Nature of Technology Tool-oriented Power Technology Methodology Trial and Error Experiment Prerequisites for Speech. Verbal and Print Visual/aural/compu Tradition Literacy Economic Growth tier literacy Codification of Knowledge Success Guiding Factor Preferred Rule Unifying Principle Abstract Theory/Simulation Hirarchial/auth Representative Participatory Democracy Democracy Regionalism Nationalism Giobalism Age", dalam The World and I. Januari 1990, hal 87. Pangsa Perdagangan Dunia Tahun 1980 dan 1990 Miliar Perdagangan Dunia Perdagangan intra-Pasifik Perdagangan intra-Uni-Eropa Perdagangan intra-Amerika Utara Perdagangan intra-Asia Timur Perdagangan intra ASEAN Perdagangan Amerika Utara-Asia us$ A Pangsa (%). 28,0 . 27,0 . Miliar US$ -Pangsa (%). 30,5 . 5,7 . 34,7 . Timur Keterangan. Pangsa pasar terhadap perdagangan dunia. Pangsa pasar terhadap perdagangan intra-Pasifik. Sumber. Anggilo Abimanyu dan Mudrajad Kuncoro, 'Struktur dan KIneria Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan Globalisasi: Sebuah Catalan Empiris", dalafn Arfani. Riza Noer. DemokrasiIndonesia Kontemporer. Rajawali Pers. Jakarta, hal 343. jcp uoiumes fiuinn scTvn umm negara berkembang lainnya. Pada tabel 3 dapat dibandingkan antara perdagangan intra-Pasifik dan intra Uni-Eropa, kedua pertumbuhan yang relatif sama, meskipun pangsa pasar yang dimiliki oleh negaranegara di Pasifik lebih besar. Pertumbuhan perdagangan intra Pasifik sebesar 9,5% per perdagangan intra Uni-Eropa sebesar 9,3%. Pertumbuiian perdagangan yang pesat di negara-negara Pasifik didominasi oleh negara-negara Asia Timur Asia Timur-Amerika Utara. Untuk negara-negara ASEAN, perdagangan antara negara relatif kecil dibandingkan negara Asia Timur dan Amerika Utara (Kawasan Asia - Pasifi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa negara kecil masih menjadi pengikut dalam perdagangan Perdagangan itu sendiri perlu didukung produk domestik ' yang Kehandalan mendapatkan dukungan dari industri yang bcrada di hulu dan di liilir. Dengan dukungan tersebut, produk yang andal akan mendapatkan dukungan yang kuat dari ekonomi domestik, sehingga gejolak ekonomi luar negeri . dapat dihindari. Pada tabel 4 menunjukan bahwa perdagangan Indonesia kurang memiliki kaitan dengan produksi di dalam negeri baik ke depan ataiipun ke belakang. Ha! ini menunjukkan bahwa produksi di dalam negeri secara relatif kurang mendukung perdagangan yang dilakukan oleh Indonesia. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa biaya produksi yang dilakukan tidak hanya disebabkan oleh kondisi dalam negeri tetapi juga oleh kondisi luar negeri Hal berupa biaya produksi di dalam negeri lebih tinggi dibandingkan dengan produksi di luar Berdasarkan perhitungan' Anggito Abimanyu . , rata-rata harga produksi dalam negeri lebih tinggi 22% dibandingkan dengan produksi sejenis di luar negeri. Kondisi ini menjadikan barang dalam negeri tidak mudah dijual di pasar international. Untuk meningkatkan ekspor non-migas, pemerintah telah melakukan berbagai deregulasi untuk memangkas biaya produksi yang tidak perlu dan meningkatkan efisiensi Dalam studi yang dilakukan oleh Anggito Abimanyu . menunjukkan bahwa deregulasi telah meningkatkan nilai Peningkatan tersebut juga meningkatkan nilai tambah yang diperoleh tenaga kerja, dan berarti pula produktifitas tenaga kerja mengalami peningkatan. Tetapi, peningkatan nilai tambah tersebut masih dinikmati oleh perusahaan besar. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh tabel 6. Pada tabel tersebut ditunjukkan bahwa perusahaan besar memiliki tingkat proba- bilitas untuk menjadi besar lebih tinggi dibandingkan perusahaan kecil. Sebaliknya, perusahaan kecil . justru memiliki tingkat probabilitas yang lebih besar untuk Hal ini merupakan ironi dan perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah dan pengambil keputusan. Kondisi ini menun jukkan bahwa, secara rata-rata, deregulasi memberikan keuntungan bagi pengusaha besar atau peluang yang diberikan masih Hal tersebut juga mei"upakan bukti bahwa Indonesia mengalami kesulitan menekan harga barang ekspor karena industri Indonesia masih memiliki tergantungan suplai bahan baku impor dan niengimpor inflasi dari negara pengekspor bahan baku. JCP UOLUme 8 RtinnscivflDeinKi Perdagangan Intra Asia Pasifik dan Dampak Kaitan ke Depan dan ke Belakanc Negara Berkaitan ke Belakang Berkaitan ke Depan 21,75 22,62 21,03 Indonesia Malaysia 21,03 26,82 26,82 22,94 25,06 24,31 26,17 25,43 Thailand China Korea Japan USA 22,81 33,29 30,91 Sumber: Inlernalional Asia Pasific Inpu. t-Outpul. Tabel 5. Perbadingan Harga Komoditi Tekslil Produk Kayu Kertas Pupuk Baja Rata-rata Sumber: Anggilo Abimanyu, 1995. Tabel 6. Tingkal Probaiitilas Transisi Manufactur Indonesia, 1980-1992 Ukuran Probalitas Perusahaan Besar Menjadi Bangkrut Menjadi Kecil 1980/85 1986/92 Kecil Menengah 1 Menengah 2 2,1 A Besar Sangat Besar Probalitas Menjadi. Probalitas 1986/92 1980/85 '14 1980/85 A 1986/92 Keterangan: Klasifikasi ukuran peaisahaan berdasarkan jumlah tenaga kerja, dengan perindan sebagai berikut: perusahaan kedl: 20-49 tenaga kerja perusahaan menengah 1: 50-99 tenaga kerja perusahaan menengah 2:100-499 tenaga kerja perusahaan besar: 500-1000 tenaga kerja perusahaan sangat besar. lebih dari 1000 tenaga kerja Sumber: Anggito Abimanyu dan Mudrajad Kunccro, "Slrukturdan Kinerja industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan Globaiisasi: Sebuah Catalan Empiris", dalam Arfani. Rtza Noer. , 1996. Demokras/ Indonesia Kontemporer. Rajawaii-Pers. Jakarta, ha! 349, label 8. jcp uoiumc I minnseMDouDnm Model Penawaran Ekspor Sektor Pertanlan, 1981-1994 NIlai Paranieter Constanta . Variabel Xi . tidak signifikan Variabel Dummy . D-Wtest tidak berubah tidak berubah Sumber: Dewanta. Awan Setya. , 1996. Effectiveness: Deregulation on Agriculture Sectors in 1987. Paper. UP-Diliman. Konsentrasi dan Orientasi Ekspor Orientasi Ekspor Tinggi Orientasi Ekspor Rendah Bukan Logam Barang dari Logam Logam Dasar Konsentrasi Tinggi Kimla. Kertas. Makanan . Konsentrasi Rehdah Barang dari Kayu Tekstil Sepatu Keterangan: Konsentrasi Tinggi diukur dari konsentrasi subsektor . asio 4 perusahaan terbesar pada tahun 1. lebih tinggi dibandrngkan rata-rata tertimbang industri yang sebesar 47%. Orientasi Ekspor Tinggi diukur dari pangsa total produksi yang ekspor lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri yang sebesar 25% . ada tahun 1. Sumber: Farrukh Iqbal, 1995. JEPUOLUmEl niDon scTVfl DciunnTfl tingkat konsentrasi, maka daya saing industri dalam negeri belum dapat diharapkan. Studi lain yang dilakukan oleh penulis adalah deregulasi pemerintah pada akhir Sebagaimana hasil penelitian Anggito AbimanyUj deregulasi tersebut telah mendorong peningkatan penawaran ekspor sektor pertanian. Peningkatan ekspor di sektor pertanian tersebut ditunjukkan oleh konstanta pada model regresi . ihat tabel . Penutup Dari uraian tulisan ini, dapat disampaikan Indonesia persimpangan jalan yang perlu segera Indonesia pengusaha kecil. Secara teori, dengan dibukanya hambatan ekspor, penawaran ekspor akan memberikan rangsangan . untuk menggunakan teknologi baru dan hadimya perusahaan . baru sebagai konsekuensi dari perubahan rasio haiga domestik dan harga Tetapi peningkatan penawaran ekspor tersebut tidak didukung oleh peningkatan teknologi . dan jumlah perusahaan . Maka, hasil regresi tersebut menunjukan memberikan peluang terhadap perusahaan yang telah ada. Jika struktur industri telah oHgopoli, maka deregulasi ekonomi belum efektif untuk mendobrak struktur industri dalam negeri, meskipun deregulasi tersebut telah berhasil meningkatkan volume ekspor non-migas nasional. Hasil penelitian tersebut bertambah menarik apabila dikaitkan dengan hasil penelitian Farrukh Iqbal yang menunjukan industri dalam negeri masih dapat dikatakan sebagai jago kandang ( tabel 8 ). Semakin tinggi tingkat konsentasi industri berkorelasi kuat dengan rendahnya tingkat orientasi Ini berarti jika deregulasi-deregulasi ekonomi yang ^telah dilakukan 1980-1. eriode Pada akhir tahun 1987. pemerintah niengumumkan tentang paket deregulasi mengenai prosedur perdagangan dan perpajakan untuk mendukung non-migas. Pemerintah mempermudah ijin ekspor dan surat izin usaha menginginkan menjadi sekedar "penggembira" dalam perdagangan intemasional. Pada era informasi ini, dorongan terhadap mobilitas perdagangan dan investasi tidak lagi dapat dibendung. Pengusaan kapital dan informasi menjadi titik sentral masyarakat pasca-industri. Meskipun kondisi Indonesia yang masih memiliki tiga strata masyarakat, persiapan untuk menghadapi perdagangan bebas era informasi perlu segera dilakukan. Langkah yang paling strategis adalah mempersiapkan masyarakat yang tertinggal mengejar ketertinggalannya baik melalui pendidil^n dan bantuan finansial. Kebijakan dan dere gulasi yang dilakukan berorentasi kepada pemberdayaan ekonomi rakyat. Langkahlangkah tersebut antara lain adalah . terhadap ' program- program lama juga dapat dilakukan, seperti pada program bapak angkat. Program bapak angkat ini harus benar-benar rasional membantu ekonomi rakyat melalui usaha keterkaitan industri, pemagangan, alih teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia, . peningkatan partisipasi ekonomi rakyat . operasi dan usaha keci. dengan melakukan pemberdayaan dan kesempatan berintegrasi dalam ekonomi nasional, dan . menghilangkan distorsi ekonomi yang masih menyulitkan usaha berskala kecil, dan . pengusaha sekaliber para konglomerat diwajibkan melakukan pengembangan iptek dan penelitian teknologi terapan untuk mengembangkan teknologi produksi yang dilakukan, dan meningkatl^n peran dan integrasi usaha kecil ke dalam perekonomian nasional. jcp uoiumc fldinn scTvii DcuifinTfl Daftar Pustaka