PERAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PADA LEMBAGA PENDIDIKAN Fauzan IAI Al-Khairat Pamekasan Email : masfauzan@gmail. Moh. Dannur IAI Al-Khairat Pamekasan Bafat05@gmail. Abstrak Islam adalah agama kaffah yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Agama seharusnya dijadikan kunci dari semua persoalan hidup manusia, karena dengan berpegang teguh kepada konsep agama, akan menjadi solusi dari semua permasalahannya. Peran agama sangat dominan sekali dalam diri manusia, karena manusia sebetulnya sudah diikat dengan sebuah perjanjiann ketika Allah mulai menciptakan manusia dalam bentuk janin, dimana manusia telah mengakui dan bersaksi terhadap Allah. Tulisan ini diharapkan memberikan tuntutan kepada sesiapa yang membaca agar dapat memahami bagaimana dirinya dapat menjalani kehidupan di dunia dengan mengikuti konsep dan petunjuk agama sehingga menjadi peribadi yang berkarakter . baik terhadap Allah, terhadap sesama manusia, dan terhadap Dengan memiliki karakter sebagaimana tuntunan agama, akan menjadikan manusia dapat dengan leluasa menjalani kehidupan di dunia, dan di akhirat akan dimuliakan oleh Allah. Kata kunci: agama, karakter, dunia, akhirat Islam is a perfect religion that governs all of aspects of human life. Religion should be the key of all human life problems , because following to the concept of religion will be the solution to all of the problems. The role of religion is very dominant in humans, because humans have actually been bound by a contract when God began to create humans in the form of a fetus, where humans have acknowledged and testified to God . This paper is expected to provide a demand to anyone who reads in order to understand how they can live in the world by following the concepts and instructions of religion so that they become characterized to thier God, human being, and to thier environment. By having the character as guided by religion, it will make people able to freely life in the world, and in the hereafter will be glorified by God. Keywords: religion, character, world, afterlife FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019. P-ISSN 24412401. e-ISSN 2477-5622 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Pendahuluan Telah kita ketahui bersama bahwa nilai kehidupan manusia senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan itu terutama dipengaruhi oleh kuatnya arus ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi corong perkembangan peradaban mausia. Tren perkembangan peradaban tentunya memberikan dampak luar biasa bagi kehidupan manusia terutama yanb berkaitan dengan tuntutan hidup untuk survive. Disadari atau tidak tren perkembangan tersebut berpotensi melahirkan pengaruh negatif yang dapat menggerogoti jiwa manusia secara perlahan. Pengarush negatif tersebut antara lain menurunnya kesadaran keagamaan, rusaknya moral, dan tindakan-tindakan amoral yang dapat merusak pundi-pundi kehidupan manusia. Pengaruh lainnya adalah tercerabutnya nilai-nilai kehidupan yang disebabkan oleh tindakan-tindakan yang menabrak tata nilai kehidupan sehingga dapat melahirkan sembrautnya nilai-nilai kehidupan manusia yang selanjutnya dapat membentuk karakter negatif individu. Mengantisipasi kekawatiran diatas, maka agama punya peran yang urgen dalam kehidupan manusia. Agama memiliki peran yang sangat dominan dalam pembentukan kepribadian manusia karena agama menjadi sumber pijakan utama dalam dimensi kehidupan manusia dalam membentuk kepribadian manusia, melalui penanaman nilai spritual, nilai akidah, praktek ibadah, sehingga melahirkan pribadi yang taat dan tekun menjalankan nilai agama. Ketaatan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai agama tidak hanya membentuk kepribadian individu, tetapi implikasi dari nlai-nilai kepribadian tersebut dapat menata pola hidupnya sehingga dapat menjalani kehidupan dengan tenang, tertib, dan rapi. Agama menghendaki pemeluknya mengaktualisasikan ajaran dan doktrin yang ajarannya mengatur tentang segala aspek kehidupan manusia menuju keselamatan1. Definisi Agama Agama merupakan sesuatu yang sangat universal dan sakral. Banyak kajian yang membahas tentang agama sebagai konsep universal. Salah satunya adalah kajian tentang rekonstruksi pengertian agma yang dibangun oleh keilmuan dari berbagai lintas Afif Muhammad. Agama & Konflik Sosial, (Bandung : Penerbit Marja, 2. , 17 Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan disiplin ilmu. Setiap disiplin ilmu tertentu mendefinisikan makna agama dengan perspektif ilmu tersebut. Secara etimologis, agama telah diterjemahkan ke dalam berbagai Bahasa, termasuk Indonesia. Agama merupakan sebuah kata yang diambil dari Bahasa sanksekerta, yang artinya AuketeraturanAy. Dimensi keteraturan itu tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga berkaitan dengan kelompok. dimensi keteraturan itu diperuntukkan bagi kehidupan manusia dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Agama mengajarkan bahwa manusia harus mengejar keteraturan hidup setelah berada di Dalam perspektif etimologis agama berasal dari Bahasa Inggris AureligionAy yang diadopsi dari kata Belanda religie. Bahasa inipun berasal dari Bahasa latin AureligioAy yang berarti mengikat. Makna mengikat dalam konteks ini adalah adanya aturan-aturan yang harus dijalankan, ditaati, dan dipatuhi oleh pengikutnya. Menurut Bahasa Arab, agama berasal dari kata Auad-dinAy yang berarti pengabdian, kebiasaan, atau kebijakan. Para ilmuan sosial biasanya menggunakan dua macam definisi agama yaitu definisi substantif dan definisi fungsional. Definisi substantif berusaha menetapkan batas-batas atau kategori-kategori sari sebuah fenomena yang menyebabkannya disebut agama dan membedakannya dari fenomena lain yang bukan agama. Salah satu definisinya sebagaimana yang disampaikan oleh Melfrod Spiro yang mengartikan bahw agama sebagai satu institusi yang terdiri dari interaksi yang terpolakan secara kultural dengan pengandaian akan keberadaan yang suprahuman3. Definisi fungsional menekankan apa yang dibuat oleh agama untuk seorang individu, kelompok, atau masyarakat. Karena itu, agama didefinisikan di dalam istilahistilah fungsi yang harus dijalankan. Salah satu contoh difinisi ini sebagaimana yang diberikan oleh Clifford Greertz. Dia mengartikan agama sebagai simbol yang berfungsi untuk menentramkan hati dan memberikan motivasi yang kuat dan tahan lama di dalam kehidupan manusia dengan menetapkan konsep-konsep atau merumuskan kepercayaankepercayaan tentang tatanan umum eksistensi . anusia dan masyaraka. dan membungkus konsep-konsep ciptaan kepercayaan itu seolah-olah sebagai sesuatu yang Silfia Hanani. Menggali Interelasi Sosiologi dan Agama, (Bandung: Humaniora, 2. , 34-35. Melfrod Spiro. Religion: Problems of Definition and ExplanationAy in M. Banton . Anthropological Approaches to the Study of Religion, (London. Ravistock, 1. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 real atau merupakan fakta sehingga susasana batin dan motivasi yang terciptapun menjadi real4. Agama sebagai kebutuhan manusia Manusia sebagai makhluk sosial perlu memenuhi dua kebutuhan dalam hidupnya yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani . Islam sebagai sebuah agama, telah memberikan petunjuk dan landasan dasar serta arah hidup agar manusia mampu mencapai kesejahteraan dan kedamaian hidupnya. Agama memiliki kedudukan yang amat penting bagi kehidupan manusia karena agama mengatur segala aspek kehidupan manusia. Agama tetap dibutuhkan manusia sepanjang hidup manusia sebagai kebutuhan yang sifatnya primer. Fadholi dkk menjelaskan setidaknya ada 5 alasan utama kenapa manusia membutuhkan agama yaitu . agama sebagai kebutuhan fitrah manusia, . kemerdekaan manusia, . agama sebagai obat kegelisahan hati, . untuk mendapatkan kebahagiaan . idla Alla. , dan . mempertahankan martabat Agama sebagai kebutuhan fitrah manusia Secara naturalisatik manusia membutuhkan Allah sebagai Tuhan atau beragama. Fitrah agama ini menjadi kebutuhan dasar manusia, karena fitrah ini yang membedakan manusia dengan hewan. Agamalah yang telah mencetak manusia menjadi beretika dan berada. Agamalah yang yang telah mendidik manusia menjadi berilmu sehingga meletakkan manusia dalam derajat yang tinggi. Tanpa agama manusia dapat bertindak seperti hewan. Kemerdekaan manusia Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kemerdekaan dalam berinteraksi dalam lingkungannya. Kemerdekaan disini dimaksudkan bahwa manusia memperhatikan kepentingan orang lain, dengan cara megikuti aturan-aturan demi kepentingan bersama. Agama memberikan kebebasan kepada manusia untuk berinteraksi dengan sesama manusia selama tidak melanggar koridor agama. Agama Clifford Greertz. Religion and as a Cultural System in M. Banton . Antropologycal Approaches to the Study of Religion, (London. Ravistock, 1. Fadloli dkk. Penddikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, (Malang: Aditya Media Publishing, 2. , 6 Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan berfungsi sebagai pengendali yang mengarahkan manusia ke arah kebaikan. Adanya peraturan yang tertuang dalam bingkai agama bukan mempersempit ruang gerak manusia, tetapi untuk memudahkan langkah manusia dalam langkahnya. Agama sebagai obat kegelisahan hati Manusia senantiasa bergejolak dengan perkembangan zaman yang menuntut banyak hal dalam hidupnya. Gejolak hidup itu dirangsang oleh kekuatan hawa nafsu dengan pelbagai keinginan yang ingin dicapai secara logika. Kekuatan hawa nafsu dapat mengantarkan manusia pada dataran kebimbangan yang memungkinkan manusia mengambil jalan pintas ketika dihadapkan dengan persoalan hidup. Nah, agama dapat menjadi piranti kekuatan yang dapat membendung manusia dalam situasi kegelisahan seperti ini. Untuk mendapatkan kebahagiaan . idla Alla. Orientasi hidup manusia pasti menuju kepada kebahagiaan. Kebagaiaan itu tidak memiliki standar tertentu karena substansi kebahagiaan dapat melahirkan makna yang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Ada yang beranggapan bahwa materi menjadi salah satu standar kebahagian hidup. Ada pula yang dapat menikamati hidup dengan penuh tenang, damai dan sejahtera walau hidup dalam keterbatasan karena mereka yang hidup dalam kondisi demikian dapat menikmati keterbasan tersebut sebagai sebuah nikmat. Sementara ada pihak lain yang tidak mendapat kebahagiaan walaupun bergelimang materi karena materi tidak dapat memberikan jaminan kesenagan hidup. Agama memberikan ruang tersendiri bagi semua pihak untuk meraih kebahagiaan baik yang miskin, yang kaya, yang berpangkat, atau lainnya karena agma memberikan etika untuk menjalani hidup ini dengan penuh tanggung Mematuhi koridor agama pastinya akan memberikan kebahagian dalam diri Mempertahankan martabat manusia Manusia adalah makhluk cipataan Allah yang paling sempurna. Salah satu keistimewaan manusia adalah dengan dianugerahi akal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Tanpa agama, manusia akan terjerembab ke dalam jurang kenistaan, karena manusia akan mudah terpengaruh oleh kekuatan hawa nafsu yang senantiasa mengajaknya ke lorong kehinaan. Agama yang membekali manusia FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 dengan kekuatan iman dan amal shaleh dapat mengangkat martabat manusia mejadi pribadi yang dihormati dan dimulyakan baik oleh sesama maupun oleh Allah. Hakikat karakter Menurut ajaran Islam, hakikat pendididikan adalah mengembalikan nilai-nilai ilahiyah pada manusia . dengan bimbingan Al-QurAoan an As Sunnah . sehingga menjadi manusia yang berakhlak mulia . nsan kami. Dengan kata lain pendidikan dengan sendirinya berorientasi kepada pembentukan karakter manusia karena pada hakikatnya makna akhlak dekat dengan karakter. Marzuki dalam bukunya yang berjudul AuPendidikan Karakter IslamAy menyatakan bahwa karakter identik denga akhlak sehingga karakter merupakan nilainilai perilaku manusia yang universal yang meliputi segala aktifitas manusia- baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan-yang terwujud dalam sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat7. Terbentuknya karakter tentu tidak datang dengan sendirinya, sudah barang tentu melalui proses-proses terntentu. Nah, pendidikan punya peran yang dominan dalam pembentukan karakter manusia baik pendidikan formal maupun non formal. Karena pentingnya pendidikan. Islam memerintah pemeluknya untk menuntut ilmu. Kewajiban menuntut ilmu tidak dibatasi oleh ruang gerak dan waktu, karena kewajiban menuntut ilmu dalam Islam berlangsung sejak manusia lahir hingga mati, sebagaimana hadits yang berbunyi : A EOEEI II IEN uOE EENAartinya tuntutlah ilmu sejak lahir hingga ke liang lahad . Tuntutan menuntut ilmu yang bersumber dari hadits ini memberikan makna kewajiban belajar sepanjang hayat . ong live educatio. melalui pendidikan di keluarga, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di masyarakat. Impikasi pendidikan baik yang terjadi di keluarga, sekolah maupun masyarakat pada hakikatnya berorientasi kepada terbentuknya pribadi yang berkaraker. Hal ini dapat dilihat dari kontens pendidikan yang salah satu muatannya terbentuknya karakter peserta didik. Dengan demikian, makna pendidikan karakter itu sendiri secara implisit telah termaktub dalam definisi pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari makna pendidikan Anas Salahuddin dan Irwanto Alkrienciehie. Pendidikan Karakter-Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2. , 49 Marzuki. Pendidikan Karakter Islam. Penerbit Amzah. Jakarta, 2015, 21 Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan yang sedemikian luasnya karena pendidikan tidak hanya sebatas pada penanaman materi pelajaran dalam proses belajar mengajar, tetapi juga penanaman karakter-karakter pada diri peserta didik yang menjadi tujuan pendidikan. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan tentang makna pendidikan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara8. Tujuan pendidikan dalam undang-undang tersebut di atas secara lugas mengemukakan tujuan pendidikan untuk membentuk peserta didik agar memiliki karakter-karakter baik sebagaimana tersebut di atas. Maka pelaksanaan pendidikan diharapkan mampu mengakomodir tujuan pendidikan di atas sehingga dapat melahirkan output yang berkarakter dengan pelbagai kemampuan yang dimiliki. Memaknai karakter dari perspektif agama, makna karakter dekat dengan makna Karakter berkatan dengan kekuatan moral yang berkonotasi positif. Jad orang yang berkatrakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral . yang positif. Hal ini selaras dengan pendapat Lickona yang menekankan tiga komponen karakter yang baik, yaitu moral knowing . engetahuan tentang mora. , moral feeling . erasaan tentang mora. , dan moral action . erbuatan mora. Dengan demikian pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau karakter yang didasari atau berkaitan dengan moral positif atau yang baik, dan bukan yang negatif dan buruk. Membanguna karakter manusia dapat dilakukan memlui proses pendidikan. Menurut Masnur Muslich pada dasarnya pendidikan merupakan internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi Jadi, pendidikan merupakan sarana strategis dalam pembentukan karakter 10. Abdul Kadir dkk. Dasar-Dasar Pendidikan. Kencana Prenadamedia Group. Jakarta, 2014, 62. Thomas Lickona. Character development in the Family, dalam K Ryan, dan GF Mclean. Character Development in Schools and Beyound,( New York: Praeger, 1. Mansur Muslich. Pendidikan Karakter-Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2. ,75 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Untuk memahami pendidikan karakter itu sendiri, kita perlu memamahi struktur antropologis yang ada dalam manusia11. Struktur antropologis manusia terdiri dari jasad, ruh, dan akal. makna ini selaras dengan pendapat Lickona sebagaimana yang disebutkan di atas bahwa pendidikan karakter harus melibatkan tiga komponen utama karakter yaitu pengetahuan, perasaan, dan perbuatan, yang diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan. Istilah lainnya adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk itu pendidikan karakter harus mencakup semua struktur antropologis manusia tersebut. Lahirnya pendidikan karakter utamanya di Indonesia memiliki landasan historis yang hampir sama dengan diutusnya Nabi Muhammad, dimana Nabi Muhammad diutus ketika Bangsa Arab berada dalam masa jahiliyah yang ditandai dengan rusaknya moral masyarakat pada masa itu. Semetara lahirnya pendidikan karakter merupakan salah satu bentuk upaya prefentif dari degradasi moral yang melanda bangsa ini yang terjadi hampir di semua lini. Pendidika karakter diharapkan mampu mengembalikan nilai-nilai kehidupan manusia menuju kehidupan yang bermartabat dengan berlandaskan kepada niali-nilai keimanan dan ketakwaan yang tangguh. Untuk mewujudkan terbentuknya karakter yang berlandaskan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, agama punya peran yang amat kuat. Agama memang mengutamakan terbentuknya karakter atau akhlak umat islam sebagaimana sabda Nabi Muhammad: AuII EII IEI EECA, artinya sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak. Berbicara masalah akhlak, maka cakupunnya sangatlah luas karena akhlak berkaitan dengan manusia, lingkungan, dan Allah. Implementasi pendidikan karakter berbasis agama Menurut Anas Salahudin dan Irwanto Alkriechie, implementasi pendidikan karakter berbasis agma dapat dilakukan melalui tiga hal yaitu: Kegiatan akademik Kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler Doni Koesoema A. Pendidikan Karakter : Strategi mendidikan Anak di Zaman Modern, (Jakarta : PT Grasindo, 2. , 80. Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan Penguatan di rumah dan masyarakat12. Kegiatan akademik sejatinya telah mengandung pendidikan karakter karena dalam implementasinya, pelaksanaan pendidikan tidak lepas dari filosofis pendidikan dimana pijakan dasar pendidikan di Indonesia adalah Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidkan Nasional (Sisdikna. yaitu Au Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawabAy13. Tujuan pendidikan di atas dengan jelas memaparkan karakter-karakter yang diharapkan dari pelaksanaan pendidikan yang sarat dengan kontens keagamaan. Untuk itu kegiatan pendidikan di sekolah seharusnya memuat pembentukan karakter peserta Disinilah pendidik perlu memahami substansi pendidikan karakter terutama yanb nilai-nilai mentransformasikan nilai tersebut pada peserta didik. Implementasi pendidikan karakter kegiatan ekstrakurikuler lingkungan sekolah dapat diaktualisasikan dalam bentuk-bentuk kegiatan berikut: Tadarus Al-QurAoan setiap pagi 5-10 menit Khataman AL-QurAoan Mengembangkan tilawatil Quran Penulisan kaliqrafi Al-QurAoan dan hadist Bimbingan wudhu dan shalat yang benar Melaksanakan shalat wajib berjamaah Shalat jumat di sekolah atau di madjid terdekat Shalat dhuha Peringatan hari besar Islam Penigkatan imtak pada bulan Ramadlan Infak dan sedekah pada hari Jumat Anas Salahudin dan Irwanto Alkriencehie. Pendidikan Karakter-Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa, 249-253 Fauzan. AuPendidikan Karakter dalam Perspektif Al-QurAoanAy. Jurnal Pendidikan Islam Volume Vi. STIT Muhammadiyah Bangil. Pasuruan, 2016, 31 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Pengumpulan zakat fitrah pada hari raya Idul Fitri Renungan tentang alam semesta dan penciptaan serta kebesaran Allah Melaksanakan sujud syukur Berdoa sebelum dan sesudah proses pembelajaran Membiasakan pengucapan Asmaul Husna dan kalimat thayyibah lainnya Berbusana muslim/muslimah Mengucapkan dan menjawab salam Saling berjabat tangan Gerakan Jumat/operasi thaharah Silaturahmi dengan warga sekitar14 Untuk lebih efektifnya terbentuknya karakter berbasis agama di lingkungan sekolah, maka mau tidak mau muatan agama harus dibudayakan di sekolah. pembudayaan agama di lingkungan sekolah. menurut Anas Salahuddin dan Irwanto Alkrienciehie, implementasi pembudayaan agama di lingkungan sekolah dapat di lakukan melalui kegiatan berikut: Membaca Al-QurAoan Tadarus Al-QurAoan Khataman Al-QurAoan Mengembangkan tilawatil QurAoan Penulisan kaligrafi Al-QurAoan dan hadits bermakna ketauhidan, akhlak mulia, dan lain-lain. Pemantapan akidah . Renungan tentang alam semesta dan penciptaan serta kebesaran Allah SWT. Melaksanakan sujud syukur atas keberhasilan tertentu, misalnya setelah lulus Ujian Nasional atau ujian sekolah. Mengucapkan dua kalimat syahadat dan doa setiap memulai dan mengakhiri Membiasakan pengucapan Asmaul Husna pada saat yang relevan Penguatan fiqh/ibadah Bimbingan wudlu dan shalat yang benar Anas Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie. Pendidikan Karakter-Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa, 251-252 Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan Melaksanakan shalat wajib berjamaah Shalat jumat di sekolah atau di masjid terdekat Shalat dhuha Doa setelah shalat Latihan berkurban dan kepedulian sosial Peningkatan keimana dan takwa melalui kegiatan pondok Ramadlan pada bulan Ramadlan atau situasi yang tepat di sekolah Infak dan sedekah pada hari Jumat Mengumpulkan zakat fitrah . ika sesuai waktuny. Penguatan tarikh dan peradaban Islam Kunjungan ke masjid besar dan tempat bersejarah saat tertentu Peringatan hari besar Islam (PHBI) Diskusi analisis nilai dan morma serta keorganisasian pada bacaan-bacaan penting tentang keislaman Pesantren kilat Peningkatan iman dan takwa pada bulan Ramadlan, misalnya kajian tentang peristiwa-peristiwa penting pada bulan Ramadlan Pencantuman gambar atau foto pejuang Islam lokal, nasional, dan internasional Pemantapan akhlak mulia Berbusana muslim Memberi dan mengucapkan salam Gerakan Jumat bersih Forum silaturahmi antarsiswa muslim dan nonmuslim, guru agama dengan guru lainnya, kepala sekolah dengan civitas pendidikan Silaturahmi siswa dengan warga sekitar sekolah disertai kenang-kenangan atau bantuan patut sekedarnya. Peran Agama dalam pembentukan karakter manusia Tidak dapat dipungkiri bahwa agama mempunyai peran yang sangat dominan dalam kehidupan manusia, karena agama mengatur segaala aspek kehidupan manusia. Peran agama dalam pembentukan karakter manusia antara lain yaitu: Agama sebagai pedoman hidup manusia FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Agama adalah pandangan hidup manusia dan menjadi tolak ukur dalam segala aspek kehiduan manusia. Kehadiran manusia ke dunia membawa ikatan kontrak dengan Tuhannya, bahkan sejak manusia berbentuk janin telah berjanji untuk patuh dan menjalankan perintahNya. Kontrak antara manusia dengan Tuhannya termaktub dalam surat Al-AAoraf ayat 172. a AE aII aaIA u A a aE eI n CaEaO aEa O u a aN e aaIA a a e a ca a aA a A aI I eI a aNOaN eI a aOaca aN eI aOa e aN a aN eI aEa O aIe aA aN eI aEa eA a AOua e A aa a a AOA a Aa eI a aCOEaO Oa eOaI EeCOa aI ua acaI aEIac a eI aN a aAEA Dan . , ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka . eraya berfirma. "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kam. , kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian it. agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami . ani Ada. adalah orang-orang yang lengah terhadap ini . eesaan Tuha. Ayat tersebut di atas memberikan pemahaman bahwa manusia telah mengakui Tuhan sejak dalam kandungan, yang berarti bahwa manusia akan mematuhinya ketika sudah lahir ke dunia. Sudah barang tentu Allah tidak sekedar hanya membuat perjanjian dengan manusia, tetapi melengkapinya dengan konsep bagaimana manusia menjalani kehidupan di dunia. Oleh karena itu, melalui Al-QurAoan dan Hadits yang menjadi pendoman manusia. Allah mengatur kehidupan manusia sejak lahir hingga wafatnya mulai hal-hal yang spele hingga yang besar. Agama mengatur segala aspek kehidupan manusia dalam bentuk perintahnya baik yang bersifat sunnah, mubah, maupun wajib. Dengan mematuhi kehendak Allah melalui konsep agama, sudah bisa dipastikan manusia akan menjadi pribadi yang berkarakter, karena agama mengatur segala aspek kehidupan manusia. Agama mengatur kehidupan manusia mulai dari kehidupan di keluarga, di sekolah, di masyrakat, dan lainnya. Dengan mematuhi konsep agama, sudah bisa dipastikan manusia akan menjadi berkarakter agamis yang mengantar manusia akan dapat menjalani kehidupan dengan baik karena dalam konsep tersebut sudah diatur secara lengkap. Sebagai contoh misalnya agama mendukung nilai-nilai luhur yang menyeru kepada prinsip kebaikan, seperti keadilan, kejujuran, toleransi, dan tolong menolong. Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan Agama Membentuk manusia berakhlak Allah telah berkehendak bahwa akhlak dalam Islam memiliki karasteristik yang berbeda dan unik . dari agama Yahudi. Nasrani ataupun keduanya, yaitu dengan karakteristik yang menjadikannya sesuai untuk setiap individu, kelas sosial, ras lingkungan, masa dan segala kondisi. Islam sebagai sebuah agma membawa misi utama penyempurnaan Akhlak sebagaimana sabda Nabi Muhammad Ausesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlakAy15. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari. Pada dasarnya akhlak yang baik adalah akumulasi dari aqidah dan syariat yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Aqidah telah mendorong pelaksanaan syariat yang selanjutnya akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan wujud yang tampak apabila syariat Islam telah dilaksanakan berdasarkan Menurut objek atau sasarannya, akhlak terbagi kepada akhlak terhadap Allah, akhlak kepada manusia, dan akhlak kepada lingkungan. Akhlak kepada Allah Akhlak kepada Allah dilakukan melalui media komunikasi yang telah ditentukan dalam agama untuk patuh terhadap perintah dan menjauhi larangan_Nya. Salah satu perintahNya yaitu ibadah Shalat. Puasa di bulan Ramadlan, membaya zakat, dan melaksanakan ibadah haji. Disamping ibadah yang hukumnya wajib, perlu diimbangi dengan ibadah-ibadah lain yang hukumnya Sunnah seperti sholat Sunnah rawatib, sholat Sunnah dhuha, sholat Sunnah tahajjud, dan sebagainya. Ibadah ini mempekuat komuniikasi manusia dengan Allah. Komunikasi manusia dengan Allah juga dapat dilakukan dengan memperbanya berzikir kepada Allah, yaitu dengan mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Fadloli dkk. Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, (Malang :Aditya Media Publishin. , 2014,105 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Berdizikir diungkapkan dalam firman Allah surat Ar-RaAod 13:28 : Ingatlah, dengan zikir kepada Allah akan menenteramkan hati. Disamping memperbanyak zikir, komunikasi kepada Allah juga harus dilakukan manusia melalui banyak berdoa kepada Allah dan sikap-sikap baik kepada Allah. Doa merupakan inti ibadah, karena doa terdapat dalam setiap Doa ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan atas kemahakuasaan Allah. Adapun sikap-sikap yang harus ditunjukkan manusia kepada Allah antara lain tawakkal dan tawaduk kepada Allah. Tawakal yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah menunggu hasilnya setelah melalui proses usaha keras. Tawaduk yaitu rendah hati di hadapan Allah dengan mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah. Oleh karena itu tidak layak manusia hidup dengan sifat angkuh dan sombong. Akhlak kepada manusia Islam mengatur hubungan sesama manusia dalam berbagai sektor kehidupannya agar dapat hidup dan menjalani kehidupan secara baik. Manusia sebagai makhluk sosial akan senantiasa berhubungan dengan komunitasnya baik di keluarga, di organisasi, maupun di masyarakat sebagai bagian yang tidak Sebagai manuisa, ia dituntut untuk menjadi pribadi yang baik dengan karakter yang mulia agar mampu berkomunikasi dengan baik dengan sesama Komunikasi itu akan bisa berlangsung dengan baik pula, kalau seseorang memiliki akhlak yang baik. Implmentasi akhlak seharusnya dibangun dari lingkungan terdekat, yaitu lingkungan keluarga yang dimulai dengan berbakti kepad kedua orang tua, dilanjutkan terhadap lingkungan masyarakat tanpa harus memperhatikan perbedaan agama, etnis, atau bahasa. Agama mengatur entitas komunikasi manusia sesama maunia secara kaffah baik secara individu maupun berkelompok dengan berpegang teguh pada prinsip keimanan dan ketakwaan. Akhlak sesama manusia terdiri dari : Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan Akhlak terhadap diri sendiri, yaitu bagaimana seseorang bersikap dan berbuat yang dirinya sendiri, yang selanjutnya dapat menentukan sikap dan perbuatannya yang terbaik untuk orang lain, sebagaimana yang dipesankan Nabi, bahwa mulailah sesuatu itu dari diri sendri . bdaAobinafsi. Begitu juga ayat dalam Al-QurAoan, yang telah memerintahkan untuk memperhatikan diri terlebih dahulu baru orang lain. AuHai orang-orang ang beriman peliharalah dirimu dan kluargamu dari api nerakaAy, (Q. AlTahrim: . Bentuk aktualisasi akhlak manusia terhadap diri sendiri berdasarkan sumber ajaran Islam adalah menjaga harga diri, menjaga makanan dan minuman dari hal-hal yang diharamkan dm seksual, mengembangkan sikap berani dalam kebenaran serta bijaksana. Akhlak dalam keluarga. Akhlak dalam keluarga terbagi kepada beberapa bentuk yaitu akhlak kepada orang tua, akhlak kepada anak sebagai keturunan dari orang tua. Islam mengatur hubungan antara anak terhadap orang tua, dimana anak wajib taat dan patuh terhadap orang tua. Bahkan sekalipun berbeda keyakinanpun, anak tetap wajib menghormatinya. Akhlak kepada orang lain, yaitu akhlak terhadap komunitas di luar keluarga seperti tetangga baik yang seagama atau beda agama, termasuk komunitas sosial lainnya seperti terhadap pemerintah. Akhlak kepada lingkungan Lingkungan atau alam merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, karena lingkungan atau alam merupakan tempat berpijak dan ladang maunisa untuk melangsungkan kehidupannya. Untuk itu manusia harus menjaga lingkungan atau alam agar ia mampu menjalani kehidupannya dengan baik. Manusia wajib menjaga dan melestarikan lingkungan, karena melestarikan lingkungan berarti menjaga kelangsungan hidup manusia. Jadi kelestariaan lingkungan adalah tanggung jawab manusia. Oleh karenanya Islam melarang berbuat kerusakan di muka bumi. Segala bentuk kerusakan di muka bumi adalah Kasmuri. Selamat, dkk. Akhlak Tasawuf. Upaya Meraih Kehalusan Budi dan Kedekatan Ilahi. (Jakarta: Kalam Mulia, 2. , 73-76. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 ulah manusia (QS. Ar Rum 30:. Agama mengatur secara lugas bagaiman cara manusia menjaga lingkungannya. Agama mengatur konsekuensi hidup manusia Ketika manusia bersyahadat atau bersaksi akan adanya Allah dan Rasulnya, berarti ia sudah berjanji untuk konsisten untuk mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya. Syahadat itu akan ditindak lanjuti dalam bentuk iman yang direfleksikan dalam keyakinan, ucapan dan amal perbuatan sehari-hari. Konsistensi kepatuhan terhadap Allah harus diperjuangkan sekuat tenaga, karena tidak berarti bahwa setelah manusia berjanji kepada kepada Allah akan terbebas dari godaan. Godaan inilah yang akan mempertaruhkan kepatuhan manusia terhadap Tuhannya. Untuk menguatkan keyakinan manusia dari berbagai godaan ini. Allah mengatur konsekuensi hidup manusia. Ada dua ibarat konsekuensi yang ditunjukkan oleh Allah melalui rasulNya yaitu berita menggembirakan . dan peringatan . Menurut Prof. Dr. Muhamad Zaki Khidlr akar kata basyran dengan segala derivasinya dalam al-QurAoAn terulang sebanyak 123 kali. Sedangkan jumlah kosa kata yang diderivasikan dari akar nadzr terulang sebanyak 130 kali. Mayoritas atau bahkan hampir keseluruhan kosa kata tersebut terkait dengan makna pemberian kabar gembira dan pemberian peringatan17. a a aAOI IaaE EeIEA AA aEaeO aN eI aOacE aN eI eaOaIaO aIA U aEa a Aa aE a eOA a a ea a e aa e AOI n Aa aI eI aI aI aOA a AOI aOaIeI aA a AO uacE aIa aA Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Al-AnAoam . Segala bentuk intensitas kehidupan manusia senantiasa dihadapkan dengan konsekuensi baik di dunia, terlebih lagi di akhirat. Berita gembira akan menjadi motivasi bagi manusia agar lebih semangat dalam beraktifitas, sedangkan peringatan menjadi sarana agar manusia lebih berhati-hati dalam bertindak. https://ikatmakna. com/2009/03/19/konsep-basyir-dan-nadzir-dalam-al-quran/ Fauzan Peran Agama dalam Pembentukan Karakter Manusia pada Lembaga Pendidikan Penutup Islam sebagai agama universal mengatur semua aspek kehidupan manusia mulai hubungan sesama manusia . ablun minan na. hingga hubungan manusia dengan Allah . ablun minalla. Konsesus agama memberikan arah bagi manusia agar dapat merefleksikan kedua hubungan di atas dengan benar sehingga menjadi insan kamil. Dengan mengikuti koridor agama secara kaffah, akan menjadi manusia berakhlak . sebagaimana Nabi Muhammad SAW. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Agama Islam memiliki kontens akhlak yang begitu sempurna karena Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia baik hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia sesama manusia, dan akhlak manusia dengan lingkungan. Maka, dengan menjadi seorang muslim yang kaffa tentunya menjadi pribadi yang berakhlak . sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Daftar pustaka Muhammad. Afif. Agama & Konflik Sosial. Bandung : Penerbit Marja, 2013 Salahuddin. Anas dan Alkrienciehie. Irwanto. Pendidikan Karakter-Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa. Bandung : CV Pustaka Setia, 2013. Greertz. Clifford. Religion and as a Cultural System in M. Banton . Antropologycal Approaches to the Study of Religion. London: Ravistock, 1966. Koesoema A. Doni. Pendidikan Karakter : Strategi mendidikan Anak di Zaman Modern. Jakarta: PT Grasindo, 2007, 80. Fadloli dkk. Penddikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum. Malang : Aditya Media Publishing, 2014 Fauzan. AuPendidikan Karakter dalam Perspektif Al-QurAoanAy. Jurnal Pendidikan Islam Volume Vi. STIT Muhammadiyah Bangil. Pasuruan, 2016 Fadloli dkk. Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum. Malang :Aditya Media Publishing, 2014 https://ikatmakna. com/2009/03/19/konsep-basyir-dan-nadzir-dalam-al-quran/ Kasmuri. Selamat, dkk. Akhlak Tasawuf. Upaya Meraih Kehalusan Budi dan Kedekatan IlahiI. Jakarta: Kalam Mulia, 2012 Silfia Hanani. Menggali Interelasi Sosiologi dan Agama. Bandung : Humanior, 2011 Melfrod Spiro. Religion: Problems of Definition and ExplanationAy in M. Banton . Anthropological Approaches to the Study of Religion. London: Ravistock. Marzuki. Pendidikan Karakter Islam. Penerbit Amzah. Jakarta, 2015 Kadir. Abdul dkk. Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenadamedia Group. Lickona. Thomas. Character development in the Family, dalam K Ryan, dan GF Mclean. Character Development in Schools and Beyound. New York : Praeger, 1987. Muslich. Mansur. Pendidikan Karakter-Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2001