ISSN: 2746-3656 Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas IV SD Wedarijaksa Setiawanda Desy Rahmawati1*. Muhammad Davin Septiyawan2. Khoirunnisa3. Fitriyah Amaliyah4. 1,2,3,4 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Muria Kudus. Kudus, 59327. Indonesia *Corresponding Author: 1202333038@std. Diterima 5 Juli 2025 disetujui untuk publikasi 25 Oktober 2025 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Kecerdasan Emosional (KE) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis (KPMM) siswa kelas IV SD Wedarijaksa. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fakta bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika berjenis pemecahan masalah, terutama dalam memahami konteks soal dan menentukan strategi penyelesaian yang tepat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex-post facto bersifat Instrumen yang digunakan terdiri atas angket KE dan tes KPMM. Angket KE disusun berdasarkan lima indikator Goleman, yakni kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial, dengan total 25 butir pernyataan berskala Likert. Tes KPMM terdiri atas empat soal uraian berbasis langkah pemecahan masalah menurut Polya. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank setelah hasil uji prasyarat menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal. Hasil analisis deskriptif menunjukkan rata-rata skor KE sebesar 72,43 dan KPMM sebesar 40,19. Uji Spearman Rank menghasilkan koefisien korelasi A = -0,199 dengan nilai signifikansi p = 0,386 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara KE dan KPMM siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional tidak secara langsung memengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis, melainkan berperan sebagai faktor pendukung dalam mengelola emosi dan motivasi belajar. Faktor kognitif seperti kemampuan berpikir logis, strategi penyelesaian, dan latihan soal diduga memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kemampuan pemecahan masalah. Oleh karena itu, pembelajaran matematika di sekolah dasar perlu menekankan pengembangan strategi kognitif dan pengelolaan emosi secara terpadu untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa Kata kunci: Kecerdasan Emosional. Pemecahan Masalah Matematis. Matematika. Sekolah Dasar Citation: Rahmawati. Septiyawan. Khoirunnisa, & Amalia. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas IV SD Wedarijaksa. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika: 6. , 29-37. 24114/jfi. memudahkan pemahaman (Zanuba, dkk. , 2. Pendahuluan Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tepat pelajaran Matematika dimuatkan dalam kurikulum agar siswa dapat memahami konsep matematika Indonesia sebagai wadah untuk mengembangkan dengan baik dan membentuk kemampuan berpikir Bukan Menurut Sholihin, dkk. bahwa sistematis, kritis, kreatif (Kusumawati dkk. , 2. Pembelajaran matematika di jenjang ini menjadi Aukecerdasan Emosional (KE) dasar penting untuk pembelajaran selanjutnya (Riswari dkk. , 2. Namun, matematika sering memahami, dan mengelola emosi diri sendiri serta dianggap sulit dan menimbulkan kecemasan bagi Antonopoulou . memuat lima aspek utama, . kesadaran diri. pengendalian diri. lainAy. Sehingga motivasi, . empati, dan . keterampilan sosial. Rahmawati. Septiyawan. Khoirunnisa, & Amalia. Pengaruh Kecerdasan. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 Kelima aspek ini saling berkaitan dan berperan namun pada kenyataannya masih tergolong rendah penting dalam mendukung keberhasilan dalam karena siswa cenderung terbiasa mengerjakan soal proses pembelajaran matematika (Zahroh dkk. rutin dan mengalami kesulitan ketika dihadapkan Dalam konteks pembelajaran abad ke-21, pada soal non-rutin (Zanuba, dkk. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian (Ristanty & Pratama, perhatian yang lebih besar dalam dunia pendidikan 2. bahwa Banyak siswa kesulitan belajar (Mansyur dkk. , 2. KE berperan penting dalam matematika, terutama saat menyelesaikan soal pembelajaran matematika, karena siswa dengan KE cerita yang dianggap lebih sulit daripada soal yang tinggi cenderung lebih tenang, fokus, dan mampu menyelesaikan soal cerita, siswa harus memahami menantang (Pekrun, dkk. , 2. Sebaliknya, siswa informasi yang diketahui dan ditanyakan, lalu dengan KE rendah lebih mudah cemas, panik, dan cepat menyerah ketika dihadapkan pada kesulitan penyelesaian yang tepat (Lasmanawati, 2. (Suhendro & Agustina, 2. angka-angka. Dalam Berdasarkan hasil observasi awal di SD Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa Wedarijaksa, diketahui bahwa banyak siswa kelas siswa dengan KE tinggi cenderung memiliki IV mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal prestasi akademik yang lebih baik karena mampu mengelola stres dan emosi negatif secara efektif. tersebut tampak dari rendahnya penguasaan Mereka dapat tetap fokus dan tenang dalam pemahaman terhadap soal, yang ditunjukkan menghadapi tekanan belajar, beradaptasi terhadap dengan banyaknya siswa yang tidak mampu mengerjakan soal pemecahan masalah dengan baik. ketekunan dan motivasi intrinsik yang tinggi Akibatnya, nilai yang diperoleh siswa belum (Maryani, dkk. , 2. Kemampuan ini membantu siswa mempertahankan performa belajar yang sebagian besar siswa memperoleh nilai di bawah stabil, terutama dalam mata pelajaran yang Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Faktor-faktor menuntut konsentrasi tinggi seperti matematika. Sebaliknya, siswa dengan KE rendah sering kali memahami isi soal, ketidakmampuan merumuskan kesulitan mengatur emosi, mudah putus asa saat strategi penyelesaian yang tepat, proses berhitung Kesulitan tidak akurat, serta daya konsentrasi yang masih rendah (Zanuba, dkk. , 2. pembelajaran (MarfuAoah, 2. Matematis (KPMM) merupakan aspek esensial menghubungkan konsep yang relevan untuk mencerminkan kemampuan berpikir logis dan menyusun model matematika, serta menentukan analitis siswa, serta menjadi dasar bagi penerapan langkah-langkah logis untuk memperoleh solusi. pengetahuan matematika dalam menyelesaikan Misalnya, ketika dihadapkan pada soal seperti: Kemampuan Pemecahan Secara Masalah berbagai persoalan kontekstual di kehidupan Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa KE berperan positif terhadap KPMM. Siswa dengan AuIbu membeli 3 bungkus gula, masing-masing seberat 2 Kemudian, 1 kg gula digunakan untuk membuat kue. Berapa kilogram gula yang masih tersisa?Ay KE yang baik cenderung lebih tenang dan fokus saat mengerjakan soal (Fajriyah, dkk. , 2025. Sebagian besar siswa langsung menjawab Ramadina & Marlina, 2023. Sitorus & Marlina, dengan melakukan operasi penjumlahan 3 2 = 5 tanpa memahami bahwa kalimat Aumasing-masing KPMM merupakan bentuk berpikir tingkat seberat 2 kilogramAy berarti total berat gula harus tinggi yang perlu dikembangkan secara sistematis, diperoleh melalui perkalian 3 y 2 = 6, kemudian Rahmawati. Septiyawan. Khoirunnisa, & Amalia. Pengaruh Kecerdasan. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kemampuan Pemecahan. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 dikurangi 1 kilogram yang digunakan untuk menekankan pada pemahaman konsep dan proses membuat kue. Hal ini menunjukkan bahwa siswa berpikir logis siswa. belum mampu menafsirkan makna kalimat secara konseptual dan mengaitkannya dengan operasi Metode Penelitian matematika yang tepat. Selain itu, dalam soal lain Metode pendekatan kuantitatif dengan desain ex-post facto yang bersifat korelasional. Pendekatan ini dipilih AuSebuah tali sepanjang 120 cm dipotong menjadi beberapa bagian dengan panjang yang sama, masing-masing 15 cm. Berapa banyak potongan tali yang dihasilkan?Ay untuk menguji hipotesis pengaruh KE terhadap KPMM siswa melalui analisis statistic Desain ex-post facto digunakan karena variabel KE merupakan Banyak siswa menjawab dengan operasi karakteristik yang sudah ada pada siswa dan tidak pengurangan berulang . Ae . tanpa memahami dapat dimanipulasi peneliti (Machmud, 2018. bahwa situasi tersebut sebenarnya memerlukan Syahrizal & Jailani, 2. operasi pembagian . y 15 = . Kesalahan seperti Populasi penelitian adalah siswa kelas awal ini menunjukkan bahwa siswa belum memahami di SD 4 Wedarijaksa dengan sampel yang diambil secara acak. Data dikumpulkan menggunakan mengandalkan tebakan terhadap operasi hitung tanpa melalui proses berpikir logis. Contoh-contoh interval, ordinal, atau nominal, kemudian dianalisis tersebut menggambarkan secara autentik bahwa menggunakan regresi untuk mengetahui besarnya pengaruh KE terhadap KPMM siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan dua instrumen kemampuan memahami konteks, menganalisis utama, yaitu kuesioner KE dan tes KPMM untuk informasi penting, dan menerapkan konsep yang kemampuan afektif dan kognitif peserta didik Dari sisi pedagogik merujuk pada teori dalam pembelajaran matematika. Kuesioner KE perkembangan Piaget, masalah ini penting untuk disusun berdasarkan teori Goleman . dengan dikaji pada kelas IV SD karena pada jenjang ini lima indikator, yakni kemampuan mengenali dan siswa mulai beralih dari tahap operasi konkret mengelola emosi diri, memotivasi diri, mengenali menuju tahap operasi formal. Dalam konteks emosi orang lain, serta membina hubungan sosial (Suparwadi, & Sahrandi, 2. Instrumen ini mengembangkan kemampuan berpikir logis dan terdiri atas 25 butir pernyataan berskala Likert sistematis untuk memecahkan masalah kompleks. empat pilihan dengan rentang skor 25Ae100. Hasil Selain itu, kelas IV merupakan tahap dasar bagi penelitian menunjukkan skor KE siswa berkisar pembentukan kemampuan berpikir tingkat tinggi antara 52Ae89 dengan rata-rata 72,43. Berdasarkan (HOTS) yang akan dibutuhkan pada jenjang kategori, 33% siswa termasuk tinggi (Ou . , 48% Jika pada tahap ini siswa belum sedang . Ae. , dan 19% rendah (O . Secara mampu memahami makna soal dan menyusun umum, sebagian besar siswa berada pada kategori strategi pemecahan masalah secara tepat, maka sedang, menunjukkan kemampuan emosional yang akan berdampak pada lemahnya kemampuan cukup baik namun belum stabil dalam situasi matematis di kelas-kelas selanjutnya. pembelajaran yang menuntut konsentrasi tinggi Dengan seperti matematika. pemecahan masalah pada siswa kelas IV SD perlu Instrumen KPMM berdasarkan langkah pemecahan masalah menurut Polya. Instrumen ini terdiri dari empat soal uraian kontekstual maupun strategi pengajaran yang berbentuk soal cerita kontekstual, instrumen ini mengukur empat aspek: memahami masalah. Rahmawati. Septiyawan. Khoirunnisa, & Amalia. Pengaruh Kecerdasan. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: 2746-3656 Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. deskriptif untuk memberikan gambaran umum rencana, dan memeriksa kembali hasil. Setiap soal mengenai data penelitian. Analisis ini bertujuan diberi skor 0Ae25, dengan total maksimum 100. Hasil untuk mengetahui sebaran nilai setiap variabel, menunjukkan nilai KPMM siswa berada pada meliputi jumlah responden, nilai rata-rata, nilai rentang 14Ae97 dengan rata-rata 40,19. Kemampuan minimum, nilai maksimum, dan standar deviasi. siswa dikelompokkan menjadi tiga kategori: tinggi Hasil analisis deskriptif ini memberikan informasi (Ou . , sedang . Ae. , dan rendah (O . Sebagian awal mengenai kecenderungan tingkat kecerdasan besar siswa berada pada kategori rendah hingga emosional serta kemampuan pemecahan masalah sedang, yang mengindikasikan bahwa mereka matematis siswa, yang selanjutnya menjadi dasar masih memerlukan bimbingan dalam menerapkan langkah-langkah pemecahan masalah matematika Ringkasan secara efektif dan sistematis. deskriptif disajikan pada tabel 1. Data Tabel 1. Data Deskriptif KE dan KPMM Analisis Statistik Banyak data . Rata-rata . cuI ) Data Minimun . Data Maksimum . Standar Deviasi . sederhana dengan terlebih dahulu memenuhi uji heteroskedastisitas, dan uji linearitas. Uji memastikan bahwa data residual dalam model regresi berdistribusi normal, karena model regresi yang baik harus memiliki sebaran data yang normal Selanjutnya, heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan variansi residual antar Model dikatakan baik jika memenuhi asumsi homoskedastisitas, yaitu variansi residual Data heteroskedastisitas apabila nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05. Sementara itu, uji linearitas digunakan variabel bebas dan variabel terikat bersifat linear secara signifikan. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka hubungan antarvariabel dapat dijelaskan melalui model regresi linier. Setelah seluruh uji prasyarat terpenuhi, dilakukan uji regresi linier sederhana terhadap KPMM siswa. 72,43 9,71 KPMM 40,19 23,77 Selanjut hasil analisis data penelitian yang dilakukan adalah hasil analisis yang disajikan dengan menggunakan uji normalitas, uji linieritas. Uji Homoskedastisitas dan terakhir uji regresi linier sederhana, berikut data yang di sajikan pada tabel Tabel 2. Hasil uji Normalitas dengan df=21 Variabel KPMM KPMM Statistik 0,259 0,183 0,818 0,907 Sig. 0,01 0,064 0,001 0,047 Metode Kolmogorov Sumirnov Shapiro Wilk Berdasarkan hasil uji normalitas yang dilakukan terhadap dua variabel, yaitu KPMM dan KE, diketahui bahwa nilai signifikansi (Sig. ) pada uji Shapiro-Wilk untuk kedua variabel masingmasing adalah 0,001 dan 0,047. Karena nilai lebih kecil 0,05, maka dapat berdistribusi normal. Uji Shapiro-Wilk dipilih sebagai acuan utama karena jumlah sampel yang digunakan kurang dari 50. Metode ini memang Hasil dan Pembahasan lebih sensitif dalam mendeteksi penyimpangan Sebelum dilakukan analisis korelasi antara distribusi normal pada jumlah sampel kecil KE dan KPMM, terlebih dahulu dilakukan analisis (Ghasemi, & Zahediasl, 2. Selain itu, uji Rahmawati. Septiyawan. Khoirunnisa, & Amalia. Pengaruh Kecerdasan. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kemampuan Pemecahan. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 Kolmogorov-Smirnov model regresi tidak memenuhi asumsi linearitas. serupa pada variabel Kemampuan Pemecahan Berdasarkan hasil uji linearitas, nilai Signifikansi Masalah dengan nilai Sig. 0,001, yang semakin (Sig. F) sebesar 0,949 > 0,05, yang menunjukkan menguatkan kesimpulan bahwa data tersebut tidak tidak ada pelanggaran asumsi linearitas antara KE berdistribusi normal. dan KPMM siswa (Meldi dkk. , 2. Berdasarkan hasil uji prasyarat analisis. Tabel 3. Hasil Uji Heterokedastisitas Model Const. Std. Error Ai diketahui bahwa data KPMM tidak berdistribusi Sig. menggunakan metode regresi dengan variabel (ABS_RES) dependen menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Sig. ) pada variabel KE adalah 0,154. Nilai ini lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara KE dan nilai Dengan Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah varians residual . dari model regresi konstan atau tidak. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa model memenuhi asumsi homoskedastisitas atau tidak terjadi gejala Metode ini didukung oleh literatur (Kumar, 2023. Astivia & Zumbo, 2. yang jelas menjelaskan bahwa apabila variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap Spearman Rank (Sugiyono, 2. Tabel 5. Hasil Uji Rank Sprearmen 1,000 -0,199 KPPM Sig. -Tale. 0,387 Hasil uji korelasi Spearman (Tabel . menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar -0,199 dengan nilai p = 0,386 . > 0,. Hal ini berarti terdapat hubungan negatif yang lemah dan tidak kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dengan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa dalam konteks penelitian ini. Temuan ini sejalan dengan pandangan Goleman . kecerdasan emosional memang berperan penting dalam pengelolaan emosi dan fokus belajar, namun Tabel 4. Hasil Uji linearitas KE dan KPPM Sumber Variasi Between Groups Within Groups Total Kondisi ini menyebabkan syarat uji ditemukan indikasi terjadinya heteroskedastisitas sepenuhnya terpenuhi. Oleh karena itu, analisis Hasil Uji heteroskedastisitas (Tabel . parametrik, yaitu regresi linier sederhana, tidak *Unstandardized Coefficients (B) **Standardized Coefficients (Bet. Sum of Squares Mean Square Sig. Ai Ai lebih dominan dalam memengaruhi hasil belajar Ai Ai Ai seperti pemecahan masalah matematis tidak selalu Faktor lain seperti kemampuan berpikir logis, latihan soal, dan strategi belajar juga dapat Hasil Uji linearitas (Tabel . diiperoleh nilai signifikansi pada kolom Sig. (F) sebesar 0,949. Nilai ini jauh lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak terdapat hubungan yang linier antara variabel KE dan KPMM siswa. Hal ini menunjukkan bahwa Temuan Pertama, menunjukkan bahwa pengaruh KE terhadap prestasi matematika atau pemecahan masalah seringkali bersifat tidak langsung dan dimediasi oleh variabel kognitif seperti metakognisi, strategi Rahmawati. Septiyawan. Khoirunnisa, & Amalia. Pengaruh Kecerdasan. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 pemecahan masalah, dan regulasi diri. Sebagai yang melaporkan bahwa pengaruh KE pada contoh, studi oleh Sharei, dkk. menemukan pemecahan masalah matematika tidak selalu langsung atau kuat . isalnya: Abdullah et al. , 2022 kemampuan pemecahan masalah matematika, menemukan bahwa hubungan antara KE dan prediktor yang lebih kuat adalah kemampuan problem solving tidak signifikan pada sampel metakognitif siswa. Demikian pula, kajian oleh Hoang, . Dari merupakan salah satu kontributor terpenting matematika di kelas IV SD, penguatan strategi terhadap problem solving, yang memperkuat kognitif seperti pemecahan soal cerita, model gagasan bahwa faktor non-kognitif . eperti KE) matematika, serta refleksi proses berpikir harus bekerja bersama dengan struktur kognitif yang menjadi prioritas, dan pengembangan KE cukup dilakukan sebagai dukunganAimisalnya melalui Kedua, dari sudut pedagogis, siswa kelas pengelolaan kecemasan, motivasi siswa, serta IV SD berada dalam tahap transisi dari operasi konkret ke operasi formal . enurut kerangka perkembangan kognitif Piage. Pada tahap ini, pembelajaran berbasis role-playing dan problem- posing terbukti meningkatkan baik KE maupun kapasitas berpikir abstrak dan metakognitif yang kemampuan pemecahan masalah matematika. diperlukan untuk menyelesaikan soal pemecahan ia-education. com Hal ini menunjukkan masalah yang kompleks. Karena itu, walaupun bahwa kombinasi antara aspek kognitif dan afektif siswa mungkin memiliki tingkat KE yang berbeda, cenderung lebih efektif daripada fokus tunggal jika kemampuan dasar seperti identifikasi informasi pada KE saja. soal, pemilihan strategi, dan evaluasi hasil belum Misalnya. Terakhir, berdasarkan temuan Anda dan optimal, maka efek KE terhadap KPMM bisa menjadi minimal atau tidak terdeteksi secara Ketiga, emosi dan motivasi memang mediator atau moderator seperti metakognisi, kecemasan matematika, self-efficacy, atau strategi matematikaAitermasuk sebagai pendahulu atau pemecahan masalah. Dengan demikian, model analisis bisa menangkap jalur pengaruh KE secara pengganti bagi kesiapan kognitif. Sebuah tinjauan lebih lengkap pada KPMM siswa. Selain itu, komprehensif menunjukkan bahwa emosi dan penggunaan teknik analisis yang robust terhadap motivasi dapat berfungsi sebagai prasyarat untuk hasil kognitif, dan bahwa lingkungan pembelajaran parametrik atau SEM) juga disarankan mengingat atau kondisi kontekstual sangat berpengaruh. data Anda tidak berdistribusi normal. kognisiAitetapi . isalnya Keempat, konteks penelitian AndaAiyakni Hasil penelitian ini memberikan implikasi kelas IV SD dengan distribusi data yang tidak penting terhadap praktik pembelajaran matematika di sekolah dasar. Temuan bahwa kecerdasan emosional (KE) tidak berpengaruh signifikan normalitasAidapat mendeteksi hubungan signifikan antara KE dan KPMM. matematis (KPMM) siswa menunjukkan bahwa Ketidaknormalan keberhasilan dalam pemecahan masalah lebih menuntut kehati-hatian dalam interpretasi hasil. banyak ditentukan oleh faktor kognitif, seperti Dengan demikian, hasil penelitian Anda yang kemampuan memahami konsep, merencanakan menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan strategi penyelesaian, dan keterampilan berpikir sebenarnya konsisten dengan beberapa penelitian Meskipun demikian, aspek afektif seperti KE Rahmawati. Septiyawan. Khoirunnisa, & Amalia. Pengaruh Kecerdasan. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kemampuan Pemecahan. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 tetap memiliki peran pendukung yang penting dalam menjaga ketenangan, fokus, dan motivasi mencerminkan kondisi populasi yang lebih luas. belajar siswa. Oleh karena itu, guru perlu Penelitian menyeimbangkan antara penguatan aspek kognitif menggunakan sampel yang lebih besar dan beragam, menggabungkan pendekatan kualitatif Pembelajaran matematika dapat dirancang dengan untuk memahami dinamika emosi siswa secara pendekatan yang menumbuhkan regulasi emosi, kolaborasi, dan refleksi diri siswaAimisalnya penggunaan analisis model struktural (SEM) agar melalui aktivitas diskusi kelompok, pembelajaran hubungan antarvariabel dapat dijelaskan secara lebih komprehensif. role-playing pengendalian emosi saat menghadapi tantangan. Penutup Selain itu, temuan ini menegaskan bahwa Berdasarkan hasil analisis data, dapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang pemberian soal rutin semata, tetapi juga melalui kemampuan pemecahan masalah matematis siswa strategi pembelajaran yang membantu siswa kelas IV SD Wedarijaksa. Nilai koefisien korelasi Spearman sebesar -0,199 dengan signifikansi 0,387 . > 0,. menunjukkan bahwa peningkatan Guru kecerdasan emosional tidak berpengaruh secara berpikir logis dengan pembentukan sikap positif nyata terhadap kemampuan pemecahan masalah terhadap matematika agar siswa tidak hanya mahir Dengan demikian, keberhasilan siswa dalam memecahkan masalah matematika lebih banyak kecemasan dan ketidakpastian dalam menghadapi soal kompleks. ditentukan oleh faktor kognitif daripada afektif. Meskipun demikian, kecerdasan emosional Penelitian tetap berperan penting dalam proses pembelajaran, keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, khususnya dalam membantu siswa mengelola jumlah sampel yang relatif kecil . = . dapat memengaruhi kekuatan statistik dan generalisasi mempertahankan fokus selama belajar matematika. Oleh karena itu, pembelajaran yang ideal sebaiknya berdistribusi normal mengharuskan penggunaan mengintegrasikan pengembangan aspek kognitif uji non-parametrik Spearman Rank, sehingga dan afektif secara seimbang agar siswa tidak hanya interpretasi hasil bersifat korelasional dan tidak mampu berpikir logis dan sistematis, tetapi juga dapat digunakan untuk menarik kesimpulan tangguh secara emosional dalam menghadapi Ketiga, penelitian ini hanya menggunakan tantangan akademik. Kedua, dua variabel utama, yaitu KE dan KPMM, tanpa faktor-faktor strategi belajar, metakognisi, atau kecemasan matematika yang mungkin berperan sebagai Keempat, instrumen pengukuran yang digunakan, terutama angket KE, bersifat self-report Keterbatasan lain terletak pada konteks Daftar Pustaka