Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 INVENTARISASI KERAGAMAN JAMUR PATOGEN BIBIT UMBI KENTANG (Solanum tuberosum L. ) PADA GUDANG PENYIMPANAN TRADISIONAL DI PULAU LOMBOK Musafir*. Muamar Kadafi. Nursamsidar Program Studi Pertanian Berkelanjutan. Fakultas Ilmu dan teknologi Pertanian. Universitas Teknologi Sumbawa. Batu Alang. Moyo Hulu. Kabupaten Sumbawa. Nusa Tenggara Barat. Indonesia *Corresponding author: musafir@uts. * Received for review November 18, 2025 Accepted for publication November 27, 2025 Abstract Post-harvest diseases caused by pathogenic fungi are one of the real threats to the availability and quality of potato seedlings and tubers (Solanum tuberosum L. ), especially in traditional warehouse storage and guidance systems. This descriptive research was carried out using a survey method with the aim of inventorying the diversity of disease-causing fungi, as well as measuring the intensity of infection in potato tuber seedlings in two traditional storage warehouse locations, on Lombok Island. The research series will be carried out from October 2023 to January 2024. Sampling was carried out by purposive sampling. The results of the study showed that the average value of disease intensity in potato tuber seedlings in the traditional storage warehouse of Setiling Village reached 19. 29%, while in the warehouse of Santong Village The results of the identification of pathogenic fungi revealed that there were differences in the distribution of species based on storage locations. In potato tuber seedlings in the nursery warehouse of Setiling Village, a species of fungus Fusarium sp. and Phytophthora infestans. , while in the nursery warehouse of Santong Village, the results of the identification of Rhizoctonia sp. and Fusarium sp. The characteristics of the storage environment are also noted: the average temperature in the warehouse in Setiling ranges from 22Ae29AC with a humidity of 80Ae99%, and in Santong Village, the temperature is 24Ae 30AC with a humidity of 78Ae92%. The results of this study indicate that the environmental conditions in both warehouses have the potential to support the development of certain pathogens. Keywords: Inventory. Patato Seed Bulbs. Pathogenic Fungus Abstrak Penyakit pascapanen yang disebabkan oleh jamur patogen merupakan salah satu ancaman nyata terhadap ketersediaan dan kualitas bibit dan umbi kentang (Solanum tuberosum L. ), terutama dalam sistem penyimpanan dan pembimbitan pada gudang tradisional. Penelitian deskriptif ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survei dengan tujuan menginventarisasi keragaman jamur penyebab penyakit, serta mengukur intensitas infeksi pada bibit umbi kentang di dua lokasi gudang penyimpanan tradisional, di Pulau Lombok. Rangakain penelitian dilaksanakan mulai pada bulan Oktober 2023 hingga Januari 2024. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata intensitas penyakit pada bibit umbi kentang di gudang penyimpanan tradisional Desa Setiling mencapai 19,29%, sedangkan di gudang Desa Santong mencapai 17,79%. Hasil identifikasi jamur patogen mengungkapkan adanya perbedaan sebaran spesies berdasarkan lokasi penyimpanan. Pada bibit umbi kentang di gudang pembibitan Desa Setiling, ditemukan spesies jamur Fusarium sp. dan Phytophthora , sementara di gudang pembibitan Desa Santong diperoleh hasil identifikasi spesies Rhizoctonia dan Fusarium sp. Karakteristik lingkungan penyimpanan juga dicatat: suhu rata-rata pada gudang di Setiling berkisar 22Ae29AC dengan kelembaban 80Ae99%, dan di Desa Santong, suhu 24Ae30AC dengan kelembaban 78Ae92%. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kondisi lingkungan di kedua gudang berpotensi mendukung perkembangan patogen tertentu. Kata kunci: Inventarisasi. Jamur Patogen. Umbi Bibit Kentang Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 Copyright A 2025 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Kentang (Solanum tuberosum L. ) merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia dan dunia yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Umbi kentang mengandung beragam nutrisi yang cukup penting untuk dikonsumsi diantaranya protein, asam amino esensial, elemenelemen mikro, vitamin C . sam askorba. , beberapa vitamin B . iamin, niasin, vitamin B. , mineral P. Mg, dan K (Furrer et al. , 2016. Tolessa, 2. Kentang menjadi salah satu alternatif makanan pokok yang mendapat prioritas dari pemerintah untuk dikembangkan, karena dapat dibuat berbagai jenis makanan baik berupa rebusan maupun dimanfaatkan sebagai bahan olahan kripik atau Dari segi kesahatan, kentang dapat dimanfaatkan sebagai bahan terapi makanan bagi penderita diabetes, mencegah kolesterol, tekanan darah tinggi maupun pengobatan lainnya(Azizaturrahmah dan Rindiani, 2024. Xu et al. , 2. Kentang termasuk komoditas yang mempunyai kontribusi terbesar kedua terhadap produksi sayuran nasional, yaitu sebesar 11,31%. Tahun 2014, produksi komoditas kentang di Indonesia meningkat sekitar 19,88% atau sekitar 223. 533 ton (Mulyono et al. Dalam rentang waktu yang bersamaan, produksi kentang di Pulau Lombok. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 575 ton. Daerah sebagai sentral produksi komoditas kentang terbanyak di Pulau Lombok yaitu Kabupaten Lombok Timur dengan tingkat produksi 33. 575 ton/tahun (Badan Pusat Statistik NTB Usahatani kentang konsumsi di Provinsi Nusa Tenggara Barat telah lama diusahakan oleh petani di beberapa tempat, seperti yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Sembalun. Kabupaten Lombok Timur, khususnya varietas Granola yang banyak dgemari pasar lokal. Daerah ini disamping ketersediaan lahan yang cukup luas, tanahnya masih bebas dari penyakit nematoda sista kuning (NSK) yang merupakan penyakit penting dalam budidaya perbanyakan bibit kentang (Mburu et al. Otieno 2. Ketersediaan bibit kentang yang sehat merupakan kendala utama yang ditemukan dalam memproduksi umbi kentang di NTB. Salah satu penyebabnya adalah penyimpanan bibit pada gudang penyimpanan masih berstandar pada metode tradisional, sehingga mengakibatkan banyak bibit kentang mengalami kerusakan karena infeksi yang dilakukan oleh penyakit paska panen, terutama disebabkan oleh patogen dari kelompok jamur (Rayhan et al. , 2025. Syifa. Fadillah, and Firmansyah 2. Jenis-jenis Jamur penyebab penyakit pada bibit umbi kentang di gudang penyimpanan dan pembimbitan di Pulau Lombok masih belum banyak informasi yang terungkap, sehingga perlu diketahui jenis jamur penyebab penyakit pada bibit kentang di gudang penyimpanan. Informasi mengenai penyakit pada bibit kentang masih sangat terbatas khususnya di daerah kabupaten Lombok Utara dan Lombok Tengah. Oleh sebab itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis jamur penyebab penyakit pada bibit umbi kentang, dan mengetahui intensitas serangan penyakit di dua lokasi gudang penyimpana serta dapat melakukan pengendalian yang tepat pada jamur penyebab penyakit. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 BAHAN DAN METODE Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif yang dilakukan melalui teknik survei. Penentuan lokasi pengambilan sampel dilaksanakan secara purposive sampling, mencakup pengamatan dan koleksi isolat jamur di dua sentra gudang penyimpanan komoditas kentang, yakni Desa Setiling. Kabupaten Lombok Tengah, dan Desa Santong. Kabupaten Lombok Utara. Pelaksanaan penelitian berlangsung sejak Oktober 2023 hingga Januari 2024, diikuti dengan proses isolasi dan identifikasi jamur penyebab penyakit di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian. Universitas Mataram. Pelaksanaan penelitian diawali dengan mengamati dan mengambil umbi kentang yang menunjukan adanya gejala infeksi jamur penyebab penyakit di tiap lokasi gudang penyimpanan. Umbi kentang yang menunjukan adanya gejala inveksi jamur dicatat karakteristiknya berupa warna dan bentuk gejala. Selanjutnya bibit umbi kentang yang menunjukan adanya gejala inveksi jamur patogen didokumentasi, kemudian dimasukan kedalam plastik transparan untuk dilakukan proses isolasi dan identifikasi di Laboratorium. Isolasi jamur patogen diawali dengan membersihkan umbi yang akan diisolasi menggunakan air mengalir. Bagian umbi yang sehat dan terinfeksi dipotong dengan ukuran 1cm x 1cm, dipisahkan dan dilabelin, lalu disterilkan dengan dicelupkan ke dalam beaker glass yang berisi alkohol 70% selama 2 menit untuk menghilangkan kontaminasi. Bagian umbi yang dipotong, dibilas 1 sampai 2 kali dengan air steril kemudian dikering anginkan di atas tisu. Potongan umbi yang telah kering angin dibiakkan dalam media pertumbuhan jamur (Patato Dextrose Aga. diberi label sesuai dengan tempat pengambilan sampel dan diinkubasi selama 5 hari pada suhu 27-28AC. Jamur yang telah ditumbuhkan pada media Patato Dextrose Agar kurang lebih 7 hari dipotong dengan cara membuat plug menggunakan cork borrer aseptis diameter 5 mm, satu potong 5 mm . koloni jamur dipindahkan pada media Patato Dextrose Agar baru di dalam cawan petri dengan menggunakan jarum ent aseptis. Potongan tersebut diletakan di atas media Patato Dextrose Agar dengan cara terbalik, cawan petri yang bersisi plug jamur diinkubasikan di dalam suhu ruangan Pertumbuhan koloni jamur diamati sampai koloni memenuhi cawan petri. Kegiatan identifikasi jamur patogen diawali dengan mengambil miselium jamur pada biakan murni dengan menggunakan jarum ent kemudian diletakkan di atas objek glass yang sebelumnya telah ditetesi methylen blue. Pengambilan miselium dilakukan dengan cara mendekatkan petri biakan ke lampu Bunsen supaya tidak terjadi kontaminasi, kemudian ditutup dengan gelas benda dan diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran yang sesuai dengan hasil yang diperoleh. Karakteristik mikroskopis jamur pathogen yang teridentifikasi difoto dan catat. Foto hasil pengamatan bentuk morfologi jamur yang diamati selanjutnya diidentifikasi dengan cara mencocokan karateristik morfologi secara makroskopis maupun mikroskopis menggunakan buku Barnett dan Hunter. Variabel pengamatan pada penelitian ini diamati secara langsung yaitu dengan mengamati gejala yang timbul akibat serangan jamur penyebab penyakit pada umbi kentang. Variabel yang diamati terdiri dari kondisi gudang penyimpanan, persentase intensitas kejadian penyakit, jenis jamur penyebab penyakit, gejala infeksi pada bibit umbi kentang, serta analisis kualitatif pengaruh suhu dan kelembaban udara pada gudang penyimpanan umbi bibit kentang. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Gudang penyimpanan umbi kentang di Desa Setiling. Kabupaten Lombok Tengah dan Desa Santong Kabupaten Lombok Utara merupakan gudang tradisional berupa bangunan tertutup yang ditemukan cenderung lembab dengan intensitas cahaya dan kebersihan yang kurang memadai. Kondisi inilah yang menyebabkan jamur dapat berkembang baik dan menginfeksi umbi kentang. Disamping itu, serangan jamur pada proses penyimpanan dan pembibitan diperparah dengan adanya infeksi sejak awal yaitu saat sebelum panen dilakukan. Menurut Alijani et al. , . Details, . Xue et al. , . , jamur Alternaria solani dan Fusarium sp. menyerang tanaman kentang saat masih tumbuh sampai panen. Selain itu jamur yang menginfeksi umbi kentang dapat berasal dari tempat gudang penyimpanan itu sendiri. Gudang penyimpanan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memperparah kerusakan umbi kentang karena kelembaban yang tinggi. Salah satu contoh gudang penyimpanan yang sangat sederhana atau tradisional di Desa Setiling dan Desa Santong seperti (Gambar . Gambar 1. Foto gudang Tradisional penyimpanan umbi kentang: kiri. Gudang penyimpan umbi kentang di Desa Setiling. Kabupaten Lombok Tengah. Gudang penyimpan umbi kentang di Desa Santong. Kabupaten Lombok Utara Intensitas infeksi jamur penyebab penyakit pada bibit umbi kentang di dua lokasi gudang penyimpanan ditunjukan dengan adanya pengaruh perlakuan umur simpan umbi terhadap intensitas infeksi jamur penyebab penyakit. Dalam rentan waktu 6 . kali pengambilan sampel selama waktu 12 . ua bela. minggu pengamatan di gudang penyimpanan. Hasil perhitungan jumlah umbi kentang yang terinfeksi oleh jamur penyebab penyakit selama 6 . kali pengamatan dan pengambilan sampel yang dilaksanakan disajikan pada Tabel 1. Tabel 2. Presentase intensitas infeksi pada umbi kentang di tiap Gudang penyimpanan Pengamatan Minggu Ke1 Jumlah Rerata Intensitas Infeksi (%) Setiling Santong 10,58 6,33 12,94 16,92 16,70 20,43 24,72 24,20 30,17 27,81 115,76 106,77 19,29 17,79 Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 Tabel 1 menunjukan presentase intensitas penyakit yang terjadi pada umbi kentang selama dilaksanakan pengamatan. Rata-rata intensitas serangan jamur penyebab penyakit pada bibit umbi kentang yang disimpan pada gudang Desa Setiling diperoleh sebesar 19, 29%. sedangkan rata-rata intensitas penyakit yang terjadi pada umbi yang disimpan pada gudang Santong diperoleh sebesar 17,79%. Hal ini terjadi karena temperatur pada gudang penyimpanan umbi kentang Desa Setiling lebih rendah dibanding dengan temperatur pada gudang penyimpanan Desa Santong, yaitu 22-29AC dan 24-30AC. Faktor lain yang mempengaruhi intensitas infeksi jamur penyebab penyakit pada bibit umbi kentang di gudang penyimpanan yaitu kelemban udara. kelembaban udara pada gudang Desa Setiling diamati lebih tinggi dibandingkan dengan gudang Desa Santong yaitu 80-99% dan 78-92%. Keadaan lingkungan seperti ini sangat mendukung pertumbuhan jamur penyebab penyakit. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Rajan. Nehru, and Vishwa . , suhu optimum untuk pertumbuhan jamur patogen berkisar antara 20-28AC dengan kelembaban udara lebih dari 91%, dan paling baik bila kelembaban udara 100%. Jamur Penyebab Penyakit umbi kentang Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi yang dilakukan pada sampel dari dua gudang penyimpanan, diperoleh 3 . jenis jamur penyebab penyakit yang teridentifikasi pada bibit umbi Jamur patogen tersebut disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Jenis jamur penyebab penyakit yang menginfeksi bibit umbi kentang pada setiap gudang Lokasi Gudang Desa Setiling Desa Santong Jenis Jamur Penyebab Penyakit Fusarium sp. Pyihtopthora infestan. Rhizoctania solani. Fusarium sp. Tabel 2 menunjukkan bahwa Fusarium sp. merupakan jamur yang paling banyak menginfeksi umbi kentang di masing-masing gudang penyimpanan. Hasil identifikasi jamur penyebab penyakit pada umbi kentang di gudang penyimpanan Desa Setiling ditemukan jenis Fusarium sp. dan Phythopthora infestan, sedangkan jamur pada umbi kentang yang disimpan pada gudang Desa Santong diperoleh Fusarium sp. dan Rhizoctania solani (Tabel. temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Xue et al. , . yang mengungkapkan bahwa kerusakan umbi di gudang penyimpanan banyak disebabkan oleh penyakit busuk kering (Fusarium ) dan lainnya adalah penyakit busuk lunak (Erwinia carotovor. serta penyakit busuk mata (Rolstania solanacearu. Adapun jenis jamur lainnya yang ditemukan pada umbi kentang di gudang penyimpanan Desa Setiling adalah jenis Pyithopthora infestan. sedangkan pada umbi kentang di gudang penyimpanan Desa Santong ditemukan Fusarium sp. dan Rhizoctania sp. fakta ini juga sejalan dengan hasil pendapat Demissie, . Tiwari et al. , . Narayanan et al. , . Manathunga et al. , . , yang mengatakan bahwa jamur patogen yang sering menginfeksi tanaman kentang adalah penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Phytopthora infestan, layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium sp. dan penyakit mati tunas umbi yang disebabkan oleh Rhizoctania sp. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 Keadaan lingkungan seperti suhu dan kelembaban udara pada gudang penyimpanan menjadi penyebab tumbuhnya tiga jamur tersebut. Suhu optimum yang mendukung pertumbuhan jamur penyebab penyakit berkisar antara 20-28 AC dengan kelembaban udara lebih dari 91 %, dan paling baik bila kelembaban udara mencapai 100%. Gejala dan karakteristik jamur penyebab penyakit bibit umbi kentang di Desa Setiling . Jamur Fusarium sp. Gejala yang ditimbulkan pada umbi kentang dan pengamatan morfologi jamur Fusarium sp. disajikan pada Gambar 3. Gambar 3. Gejala infeksi pada umbi kentang dan karakteristik jamur Fusarium sp. : A). Gejala pada umbi utuh. B). Gejala pada umbi yang dibelah. C) Karakteristik miselium jamur makroskopis umur 7 hari. D). Krakteristik miselium mikroskopis pada perbesaran 400 Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa gejala infeksi jamur Fusarium pada umbi kentang yang masih utuh (Gambar 3A) terdapat bercak-bercak kering berlekuk dengan warna cokelat tua, bentuknya utuh dan lama kelamaan bercaknya menyebar keseluruh Pada kulit atau permukan umbi ditemukan adanya miselium dengan karakteristik berwarna Gejala yang timbul setelah umbi dibelah (Gambar 3B) terdapat bercak utuh, keras dan Umbi yang terinfeksi jamur penyebab penyakit berwarna cokelat sampai kehitaman, apabila umbi dibiarkan lama-kelamaan akan menyebar keseluruh daging umbi. Shah & Shan, . , mengatakan bahwa infeksi awal Fusarium sp. pada umbi kentang yang disimpan tampak berbentuk becak-becak berlekuk dan berwarna tua, yang makin lama makin meluas. Permukaan umbi yang terserang terdapat miselium yang berbentuk bantal-bantal yang berwarna putih sampai berwarna merah jambu yang membentuk banyak konidium. bagian umbi sakit menjadi kering berkerut dan keras . , sehingga sukar dipotong dengan pisau. Bagian dalam umbi yang sakit berubah menjadi massa bertepung kering. Hasil pengamatan makroskopis Fusarium sp. menunjukan warna koloni jamur yang ditumbuhkan pada media PDA berwarna putih (Gambar 3C). Jamur Fusarium sp. akan memenuhi cawan petri . iameter 9 c. selama 7 . hari setelah pemurnian (HSP). Deskripsi ini sejalan dengan temuan Hafizi et al. , . Lestari et al. , . Harish et al. , . , yang mengungkapkan bahwa secara makroskopis karakteristik Fuarium sp. Ditandai dengan adanya koloni yang tumbuh berwarna putih. Apabila cawan petri dibalik maka koloni jamur tampak berwarna putih. Tipe penyebaran berbentuk bulat dengan sebaran memusat koloni yang timbul. Tekstur permukaan koloni tampak halus dengan kerapatan sedang, dan ketebalan koloni tipis. Pada pengamatan mikroskopis . ambar 3D) terlihat bentuk konidia seperti bulan sabit dan berbentuk selindris. Terdapat mikrokonidia yang tidak memiliki sekat. Aoki et al. , . Mehboob et al. , . menjelaskan bahwa septa yang terdapat pada makrokonidia berjumlah 2-5 septa, namun pada Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 umumnya bersepta 3. Makrokonidia berbentuk fusoid hingga falcate dengan ukuran 0-1 AAm. Ukuran mikrokonidia . ,5-12,5 AA. ,5-5 AA. Jamur Phyhtopthora sp. Gejala yang diakibatkan oleh Phytophthora sp. pada umbi kentang yang masih utuh (Gambar 4A) ditemukan adanya bercak yang mengendap dengan permukaan umbi yang berkerut. Apabila umbi dipotong, daging umbi yang terinfeksi berwarna cokelat sampai hitam. Gejala serupa dilaporkan Hussain & Singh, . Subhani, . Arlene et al. , . , yang melaporkan bahwa gejala pada umbi yang terinfeksi Phytophthora sp. menunjukan bercak yang menempel, berwarna cokelat atau hitam keunguan, panjangnya mencapai 3-6 mm. Hasil pengamatan pada bagian umbi yang dibelah (Gambar 4B) ditemukan bagian yang terinfeksi tidak menunjukan karakteristik pembusukan yang lunak, namun bagian yang busuk kering terdapat bercak-bercak kecil. Jika keadaan lingkungan sesuai dengan perkembangan jamur ini serta ditambah dengan kontaminasi oleh jasad-jasad sekunder, maka proses pembusukan umbi akan menjadi lebih cepat. Gejala pada umbi kentang dan pengamatan morfologi Phytophthora sp. disajikan pada Gambar 4. Gambar 4. Gejala pada umbi kentang dan pengamatan morfologi jamur Phytophthora sp. : A). Gejala pada umbi utuh. B) Gejala pada umbi yang mikroskopis jamur pada perbesaran 400x Hasil pengamatan makroskopis jamur Phytophthora sp. pada media PDA (Gambar 4C) menunjukan adanya miselium berwarna putih dan bentuk hifa yang agak besar dan kasar. Abdilla et al. , . Dian et al. , . , mengatakan secara makroskopis koloni Phytophthora sp. berwarna putih dan tipis, tekstur koloni agak tebal rapat dan kasar. Pada pengamatan mikroskopis (Gambar 4D), terdapat konidiafor tidak bersekat dan di ujung konidiafor terdapat konidia tunggal dengan karakteristik seperti buah lemon. Miselia Phytophthora sp. tumbuh memenuhi cawan petri dengan diameter 9 cm pada umur 8 . elapan har. setelah pemurnian (HSP). sporagium mempunyai ukuran . AAm. Sporagium dapat berkecambah secara tidak langsung membentuk spora kembaran . yang keluar satu persatu dari dalam sporagium. Sporagium juga berkecambah secara langsung dengan membentuk hifa atau pembuluh kecamba. Oleh karena itu sporagium Pyitophthora sp. disebut konidium ( Mouri et al. , 2017. Castillo-gonzylez et al. , 2024. Lypez-gervacio et al. , 2. Gejala dan karakteristik jamur penyebab penyakit bibit umbi kentang di Desa Santong . Rhizoctania solani Berdasarkan pengamatan gejala infeksi yang disebabkann oleh Rhizoctania solani. Pada bibit umbi kentang di gudang penyimpanan (Gambar . , ditemukan adan sklerotium jamur yang pipih. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 berwarna hitam keabu-abuan dengan bentuk yang tidak teratur, dan miselium berbentuk elips pada permukaan umbi (Gambar 5A). Sedangkan gejala yang terlihat pada tunas kentang (Gambar 5B) ditemukan adanya karakteristik berkerut pada mata tunas dengan warna cokelat gelap, lama kelamaan tunas yang terinfeksi tersebut mati. Jika tunas umbi dibelah secara melintang, ditemukan adanya bercak hitam busuk pada bagian jaringan tunas. Gejala tersebut sama dengan yang terjadi pada akar umbi kentang mengungkapkan penetrasi Rhizoctania solani, patogen pada bagian akar umbi kentang melalui celah yang terbentuk pada saat pembentukan percabangan akar (Basu et al. Zhang et al. , 2016. Mubeen, 2023. Yang et al. , 2. Gejala yang ditimbulkan dan pengamatan jamur Rhizoctania solani. pada umbi kentang disajikan pada Gambar 5. Gambar 5. Gejala yang ditimbulkan dan pengamatan jamur Rhizoctania solani. A). Gejala pada umbi utuh. B). Gejala yang ditimbulkan pada tunas dan akar umbi. C) Miselium jamur secara makroskopis umur 8 . D). Bentuk jamur secara mikroskopis pada perbesaran 400x. Hasil pengamatan karakteristik jamur Rhizoctania solani pada media PDA . ambar 5C) menunjukan miselium yang berumur 3 . hari setelah pemurnian berwarna putih bening. Sedangkan pada umur 4 . sampai 7 . hari setelah pemurnian, miselium Rhizoctania berwarna agak kecoklatan, miselium tumbuh agak merata dalam media PDA setelah 7 . hari seteleh pemurnian. Pada pengamatan morfologi jamur Rhizoctania solani. Secara mikroskopis (Gambar 5D) terlihat adanya hifa jamur bersepta, berwarna putih dengan membentuk percabangan yang runcing. Menurut Hatun et al. , . , jamur ini tidak memiliki konidia ataupun spora. Hifa mudah tidak berwarna, namun ketika dewasa hifa berwarna putih sampai coklat kehitaman, panjang hifa 8-12 AAm. lebih lanjut, hifa Rhizoctania solani. biasanya membentuk percabangan dengan sudut 90A. Kumpulan hifa membentuk skelrotia yang mengumpul terpusat pada satu titik dan menyebar Pembentukan sklerotia dirangsang oleh faktor peningkatan suhu. Jamur Fusarium sp. Gejala yang ditimbulkan oleh jamur Fusarium sp. pada umbi kentang disajikan pada Gambar Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 Gambar 6. Hasil pengamatan jamur Fusarium sp. : A). Gejala pada umbi utuh. B). Gejala pada umbi yang dibelah. C). karakteristik miselium jamur secara makroskopis umur 8 . D). Karakteristik jamur secara mikroskopis pada perbesaran 400x. Hasil pengamatan pada Gambar . A), menunjukan gejala infeksi jamur Fusarium sp. umbi kentang yang masih utuh. Karakteristik gejala yang ditemukan pada permukaan kulit umbi ditandai dengan adanya bercak-bercak kering berlekuk dengan warna cokelat tua, bentuknya utuh dan lama kelamaan bercaknya menyebar. Pada kulit atau permukan umbi juga terdapat miselium yang berwarna putih. Sedangkan gejala yang timbul pada setelah umbi dibelah ditemukan adanya bercak utuh, keras dan mengendap. Pada pengamatan bagian umbi yang dibelah (Gambar 6B), menunjukan bagian umbi yang terinfeksi jamur penyebab penyakit berwarna cokelat sampai Apabila umbi dibiarkan, lama-kelamaan infeksi akan menyebar keseluruh daging umbi. Hasil pengamatan karakteristik morfologi Fusarium sp. secara makroskopis diperoleh adanya koloni jamur yang ditumbuhkan pada media PDA berwarna putih (Gambar 6C). Jamur Fusarium sp. tumbuh memenuhi cawan petri . iameter 9 c. sampai 7 . hari setelah pemurnian (HSP). Fenomena ini dilaporkan juga oleh Borthakur & Joshi, . Koper & Zebracki, . Selem et , . Wang et al. , . , yang menyatakan bahwa secara makroskopis jamur ini menujukan karakteristik koloni berwarna putih. Apabila cawan petri dibalik maka koloni jamur tampak berwarna hasil pengamatan karakteristik morfologi jamur Fusarium sp. secara mikroskopis (Gambar 6C), menunjukan bentuk konidia seperti bulan sabit dan berbentuk selindris. Terdapat mikrokonidia yang tidak memiliki sekat. Menurut Mehboob et al. , . , septa yang terdapat pada makrokonidia berjumlah 2-5, namun pada umumnya bersepta 3. Makrokonidia berbentuk fusoid hingga falcate, dengan ukuran 0-1. Ukuran mikrokonidia . ,5-12,5 AA. ,5-5 AA. Suhu Udara Pada Tiap Gudang Penyimpanan Suhu Gudang Pengamatan suhu pada tiap lokasi gudang penyimpanan disajikan pada Gambar 7. Kelembaban Udara Desa Setiling (AC) Kelembaban Udara Desa Santong (AC) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Pengamatan Minggu KeGambar 7. Suhu di dua lokasi gudang penyimpan umbi kentang. Hasil pengamatan terhadap suhu udara di gudang penyimpanan umbi kentang (Gambar . menunjukkan adanya perbedaan antar lokasi, namun keduanya berada pada kisaran yang mendukung aktivititas infeksi jamur penyebab penyakit. Rata-rata suhu di Desa Setiling tercatat berkisar antara 22-29AC yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Desa Santong yang mencapai 24-30AC. Kisaran suhu ini sangat relevan dengan persyaratan tumbuh beberapa pathogen Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 yang telah teridentifikasi. Data ini sejalan dengan temuan Purnomo & Setiawan . dan Kour et , . yang mengungkapkan bahwa suhu optimum yang mendukung pertumbuhan jamur penyebab penyakit berkisar antara 20-28 AC. Kelembaban Udara pada Tiap Gudang Penyimpanan Pengamatan kelembaban udara pada tiap lokasi gudang penyimpanan disajikan pada Gambar % Kelembaban Udara Kelembaban Udara Desa Setiling 9 10 11 12 13 14 Kelembaban Udara Desa Santong Pengamatan Minggu Ke- Gambar 8. Persentase kelembaban udara di dua lokasi gudang penyimpan umbi kentang. Hasil pengamatan kelembaban udara pada gudang penyimpanan umbi kentang (Gambar . menunjukan adanya variasi antar lokasi, namun secara umum, kedua lokasi berada dalam rentang yang sangat mendukung proses infeksi jamur pathogen. Secara spesifik, data kelembaban udara di gudang Desa Setiling teridentifikasi lebih tinggi, yakni berkisar antara 80-99%, dibandingkan dengan Desa Santong yang berada pada rentang 78-92%. Tingginya kelembaban, khususnya di Setiling yang hampir mencapai 100%, menciptakan kondisi mikro-lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan ketiga jenis jamur pathogen yang berhasil diisolasi. Fenomena ini konsisten dengan literatur ilmiah, seperti yang diuraikan oleh Purnomo & Setiawan . Hartina et al. , dan Kour et al. , yang secara kolektif menegaskan bahwa kelembaban udara di atas 91\% merupakan faktor pemicu utama, dan kondisi optimal bagi perkembangan pathogen adalah ketika kelembaban udara mendekati 100%. Dengan demikian, kelembaban yang ekstrem ini menunjukan tinkat kerentanan umbi kentang di kedua gudang penyimpan terhadap infeksi jamur penyebab penyakit yang teridentifikasi. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Intensitas infeksi jamur pathogen pada bibit umbi kentang yang disimpan di Gudang penyimpanan Desa Setiling. Kabupaten Lombok Tengah yaitu sebesar 19. 29%, sedangkan pada gudang penyimpanan Desa Santong. Kabupaten Lombok Utarah yaitu sebesar 17. Hasil dentifikasi jamur pathogen pada bibit umbi kentang di semua gudang penyimpanan diperoleh 3 tiga jenis, diantaranya yaitu Fusarium sp. Phytophtora sp. dan Rhizoctznia solani. Jenis Jamur penyebab penyakit yang menginfeksi umbi kentang pada gudang penyimpanan di Desa Setiling diperoleh Fusarium sp. Agrisaintifika. Vol. No. 3, 2025 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Musafir dkk. , 2025 Phytophtora sp. Sedangkan pada gudang penyimpanan di Desa Santong diperoleh jamur Rhizoctznia solani. dan Fusarium sp. DAFTAR PUSTAKA