Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 PERAN EKOSISTEM KEWIRAUSAHAAN DALAM MEMBENTUK INTENSI BERWIRAUSAHA MAHASISWA Nurlaila1*. Albrian Fiky Prakoso2 Universitas Negeri Surabaya 21032@mhs. id, 2albrianprakoso@unesa. Abstrak: Rendahnya tingkat kewirausahaan di Indonesia, yang masih berada di bawah rata-rata negara tetangga, menunjukkan perlunya strategi peningkatan intensi berwirausaha di kalangan generasi muda, khususnya Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ekosistem kewirausahaan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi dari angkatan 2021 dan 2022 di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya. Sampel penelitian ini diperoleh melalui teknik simple random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 125 orang. Instrumen pengumpulan data berupa angket, sedangkan analisis dilakukan melalui Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan perangkat lunak WarpPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses terhadap pendanaan, program dan dukungan pemerintah, infrastruktur fisik, serta pendidikan dan pelatihan kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengambil kebijakan dan lembaga pendidikan tinggi untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan yang mendukung pengembangan usaha mandiri di kalangan mahasiswa. Kata kunci: Ekosistem Kewirausahaan. Intensi Berwirausaha. Akses Pendanaan. Dukungan Pemerintah. Pendidikan Kewirausahaan PENDAHULUAN Kewirausahaan telah menjadi perhatian utama Indonesia, terutama karena perannya yang krusial dalam memacu pertumbuhan ekonomi (Andriyati et al. , 2023. Nursanti et al. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap kewirausahaan di Indonesia semakin meningkat, mencerminkan pemahaman tentang pentingnya kewirausahaan untuk kemajuan ekonomi. Sebagian besar ahli di bidang ini beranggapan bahwa kewirausahaan adalah kunci untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan dengan cara Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 menciptakan lebih banyak peluang kerja (Endris & Kassegn, 2022. Opute et al. , 2. Meskipun kewirausahaan menjadi fokus utama dalam pengembangan ekonomi Indonesia, angka kewirausahaan di Indonesia masih tergolong rendah. Pada Oktober 2024, hanya sekitar 3,35 persen dari total angkatan kerja yang terlibat dalam kewirausahaan. Capaian ini masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti negara Malaysia sebanyak 4,74 persen terlibat dalam kegiatan kewirausahaan. Singapura sebesar 8,76 persen, dan Amerika Serikat yang mencapai 12 persen (Purwantono, 2. Pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai inisiatif untuk mendorong kewirausahaan, salah satunya dengan fokus pada kampus dan juga mahasiswa sebagai sasaran potensial yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan (Soehadi et al. , 2. Program seperti Program Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (PKMI) yang diadakan oleh Direktorat Belmawa merupakan salah satu inisiatif penting dalam mendorong pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Program ini menyediakan pembelajaran kewirausahaan yang komprehensif serta memberikan bantuan modal bagi mahasiswa yang memenuhi syarat (Sukino et al. , 2. Tetapi, intensi berwirausaha mahasiswa menjadi suatu hal yang memang harus ditingkatkan untuk mendukung kewirausahaan di Indonesia. Mahasiswa sering kali menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan intensi berwirausaha mereka (Sahban, 2. Beberapa alasan di antaranya adalah terbatasnya akses terhadap pendanaan, kurangnya pengetahuan dan keterampilan bisnis, serta kurangnya infrastruktur dan teknologi yang mendukung (Arianto & Masnawati, 2. Meningkatkan intensi berwirausaha di kalangan mahasiswa merupakan langkah awal yang krusial dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan (Breznitz & Zhang, 2. Intensi ini dapat dijelaskan melalui konsep niat kewirausahaan, yang mencerminkan konstruksi intensi dari Theory of Planned Behavior (TPB) oleh Ajzen . Menurut TPB, intensi berwirausaha dipengaruhi oleh sikap terhadap kewirausahaan, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan, semuanya dapat diperkuat dalam ekosistem kewirausahaan yang mendukung. Namun demikian, untuk meningkatkan kewirausahaan di kalangan mahasiswa, penting untuk memperhatikan berbagai faktor yang memengaruhi intensi berwirausaha. Menurut Lu et al. ekosistem kewirausahaan dapat dibentuk melalui dukungan pemerintah, pendanaan, pendidikan kewirausahaan, dan lingkungan Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 perguruan tinggi. Salah satu faktor yang memengaruhi intensi berwirausaha adalah akses ke pendanaan (Azis et al. , 2. Sumber pendanaan yang memadai sangat berpengaruh terhadap keputusan individu untuk memulai usaha. Individu yang memiliki akses lebih baik terhadap pendanaan, baik dari lembaga keuangan formal maupun informal, cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih besar menjadi pendorong dalam mengambil langkah awal membangun bisnis (Indarto & Santoso, 2. Tanpa adanya akses yang cukup terhadap modal, banyak ide bisnis yang berpotensi tidak dapat terwujud (Ratnawati, 2. Program dan dukungan pemerintah juga memainkan peran krusial dalam mendorong Pemerintah dapat memberikan dukungan melalui kebijakan yang menguntungkan, pelatihan, serta program inkubasi yang dirancang untuk membantu wirausahawan baru (Hisyam et al. , 2. Penelitian yang dikemukakan oleh Wang & Zhang . mengungkapkan bahwa peran kecerdasan buatan generatif (GAI) dalam meningkatkan kewirausahaan ramah lingkungan, dimana dukungan pemerintah memainkan peran penting dalam memperkuat dampak ini. Melalui program-program tersebut, pemerintah dapat menyokong dengan pelatihan dan sarana yang memadai bagi individu untuk merintis usaha mereka. Akses ke infrastruktur fisik menjadi variabel lain yang tak kalah penting. Infrastruktur yang baik, seperti jalan, transportasi, dan teknologi informasi, menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan usaha (Prus & Sikora, 2. Misalnya, ketersediaan jaringan internet yang stabil dan aksesibilitas transportasi yang baik dapat memperlancar operasional bisnis, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan efisiensi. Penelitian dari Venyncio . menunjukkan bahwa infrastruktur fisik, seperti infrastruktur transaksi, pemenuhan kebutuhan, dan akses internet, berperan penting dalam mempercepat pertumbuhan startup menuju valuasi perusahaan yang sangat tinggi. Menurut Kaggwa . infrastruktur penting bagi keberhasilan Technology Incubation Center (TIC) dalam mendukung kewirausahaan dan pertumbuhan start-up. Tanpa infrastruktur yang memadai, intensi untuk memulai bisnis baru bisa terhambat, karena adanya keterbatasan dalam hal akses ke pasar dan sumber daya. Faktor pendidikan dan pelatihan memainkan peran yang signifikan dalam membentuk intensi berwirausaha di kalangan mahasiswa (Al-Tekreeti et al. , 2024. Singh et al. , 2024. Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 Yusuf et al. , 2. Pendidikan kewirausahaan yang baik memberikan individu keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjalankan usaha. Pelatihan yang relevan juga membantu calon wirausaha memahami risiko dan tantangan yang mungkin mereka hadapi serta cara mengatasinya (Aboobaker & D. , 2. Dengan adanya pendidikan yang berkualitas, individu akan lebih siap dan percaya diri untuk berwirausaha. Penelitian oleh Rocha . Rabelo Neto . dan Chaudhary . menunjukkan bahwa ekosistem kewirausahaan, yang mencakup jaringan rumit elemen-elemen terkait yang semuanya mempengaruhi dan membentuk kewirausahaan dalam suatu wilayah atau industri tertentu, mengandalkan kolaborasi beberapa pemangku kepentingan, mulai dari pengusaha dan investor hingga lembaga pendidikan dan badan pemerintah. Sinergi kolaboratif ini menciptakan lingkungan berwirausaha yang dapat dengan mudah mengakses sumber daya penting, bimbingan, dan pendanaan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Bardales-Cyrdenas . Ajayi-Nifise . Widiastuti . dan Hassan . memaparkan bahwa akses ke pendanaan, pendidikan dan pelatihan, infrastruktur, serta kebijakan pemerintah yang mendukung bisnis berperan penting dalam mendorong pertumbuhan perusahaan dan kewirausahaan. Faktor-faktor ini mempengaruhi inovasi, efisiensi operasional, daya saing, dan pembangunan ekonomi lokal, serta dapat mempercepat atau menghambat perkembangan kewirausahaan di suatu wilayah. Literatur yang tersedia sampai saat ini menunjukkan minimnya studi yang secara spesifik mengeksplorasi bagaimana ekosistem kewirausahaan bagi calon guru ekonomi yang dalam konteks ini adalah para mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Ekonomi sebagai pihak yang berkontribusi terhadap intensi berwirausaha. Penelitian ini fokus pada bagaimana intensi berwirausaha mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dipengaruhi oleh ekosistem Selain itu. UNESA juga memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan kewirausahaan, baik di kalangan mahasiswa maupun dalam konteks pendidikan. Perguruan tinggi ini merupakan pusat pendidikan dan memiliki potensi untuk dapat mengembangkan kewirausahaan mahasiswa. Penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan memfokuskan pada mahasiswa Pendidikan Ekonomi di UNESA, yang belum banyak dieksplorasi dalam studi kewirausahaan. Selain itu, penelitian ini mengintegrasikan variabel kebijakan pendidikan yang mendukung Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 kewirausahaan, serta faktor-faktor spesifik terkait dengan program pendidikan kewirausahaan di UNESA, yang diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang hambatan dan peluang yang dihadapi mahasiswa dalam mengakses sumber daya METODE PENELITIAN Penelitian ini memanfaatkan pendekatan kuantitatif guna meneliti pengaruh faktorfaktor dalam ekosistem kewirausahaan terhadap intensi mahasiswa untuk berwirausaha. Penelitian ini bersifat asosiatif, yaitu menguji hubungan dan pengaruh antara variabelvariabel eksogen dan endogen yang telah ditentukan. Penelitian mengambil sampel dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi angkatan 2021 dan 2022, dengan jumlah populasi sebanyak 183 mahasiswa. Pemilihan sampel dilakukan secara acak menggunakan prosedur simple random sampling dalam penelitian ini, dengan total sebanyak 125 Sampel tersebut terdiri dari 73 mahasiswa angkatan 2021 dan 52 mahasiswa Untuk pengumpulan data, kuesioner disebarkan secara daring menggunakan platform online, dengan penelitian yang berlangsung pada bulan April hingga Mei 2025. Pengujian validitas dan reliabilitas telah dilakukan terhadap instrumen kuesioner yang digunakan sebelum dianalisis lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan variabel eksogen yang meliputi Akses Pendanaan (AP). Program dan Dukungan Pemerintah (PDP). Akses Infrastruktur Fisik (AIF), serta Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan (PPK). Variabelvariabel tersebut diukur menggunakan indikator yang mengacu pada elemen-elemen dalam Global Entrepreneurship Monitor (GEM, 2. AP mengacu pada GEM . dan Rusu et . , diukur melalui ketersediaan pembiayaan, dana pribadi, dan pendanaan dari PDP mencakup ketersediaan dan kualitas program pemerintah, subsidi atau insentif, bantuan administratif, serta dukungan dari pemerintah daerah. AIF meliputi akses komunikasi, ketersediaan utilitas dan ruang usaha, kualitas serta harga infrastruktur fisik. PPK diukur berdasarkan pendidikan kewirausahaan di tingkat dasar hingga tinggi, program pelatihan, pendekatan berbasis pengalaman, dan kolaborasi universitas dengan dunia usaha. Pengukuran intensi berwirausaha mengadaptasi instrumen dari penelitian Linan dan Chen . , dengan indikator seperti komitmen, tujuan, kesiapan, usaha konkret, dan niat kuat Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 untuk memulai bisnis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Square (SEM-PLS) untuk menguji model pengaruh antarvariabel yang telah ditetapkan dengan bantuan perangkat lunak WarpPLS 7. Penelitian memanfaatkan Partial Least Squares Structural Equation Modeling sebagai teknik analisis data untuk mengakomodasi model dengan hubungan variabel yang kompleks, serta jumlah sampel yang relatif kecil. Proses analisis mengikuti tahapan yang dijelaskan oleh Hair et al. , yaitu: pertama, spesifikasi model, yang mencakup perancangan model struktural dan model pengukuran, serta penentuan arah hubungan antar konstruk dan jenis pengukuran . eflektif atau formati. kedua, evaluasi model pengukuran, yang bertujuan untuk menilai validitas dan reliabilitas konstruk melalui indikator seperti nilai loading, composite reliability, dan average variance extracted (AVE). dan ketiga, evaluasi model struktural, yang digunakan untuk mengukur kekuatan serta signifikansi hubungan antar konstruk dalam model dengan nilai koefisien jalur . ath coefficien. , nilai RA, dan uji signifikansi melalui teknik bootstrapping. HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Model Pengukuran Uji Validitas Tabel 1. Hasil uji loading factor Indikator Loading factor Indikator Loading factor AP1 AP2 AP3 PDP1 PDP2 PDP3 PDP4 PDP5 AIF1 AIF2 AIF3 AIF4 AIF5 PPK1 PPK2 PPK3 PPK4 PPK5 IB1 IB2 IB3 IB4 IB5 IB6 Tabel di atas mengonfirmasi bahwa seluruh indikator pada variabel terkait telah sesuai dengan kriteria validitas konvergen dengan nilai loading faktor di atas 0,60, menandakan Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 bahwa setiap indikator secara signifikan merepresentasikan konstruk yang diukur. Untuk variabel Akses Pendanaan (AP), nilai loading terendah terdapat pada indikator AP1 sebesar 0,754 dan tertinggi pada AP3 sebesar 0,823. Variabel Program dan Dukungan Pemerintah (PDP) memiliki indikator dengan nilai loading terendah PDP5 . dan tertinggi PDP3 . Pada variabel Akses Infrastruktur Fisik (AIF), nilai loading terendah adalah AIF4 . dan tertinggi AIF1 . Variabel Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan (PPK) memiliki indikator PPK1 dengan nilai loading terendah 0,689 dan PPK3 tertinggi 0,765. Sedangkan pada variabel Intensi Berwirausaha (IB), indikator IB1 memiliki nilai loading terendah 0,789 dan IB5 tertinggi 0,880. Dengan demikian, seluruh indikator pada kelima variabel yang digunakan dalam penelitian ini telah lulus uji validitas konvergen dan dapat dikategorikan valid untuk digunakan dalam analisis selanjutnya. Tabel 2. Hasil uji AVE Variabel Akses Pendanaan (AP) Program dan Dukungan Pemerintah (PDP) Akses Infrastruktur Fisik (AIF) Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Intensi Berwirausaha (IB) Average Variance Extracted (AVE) Setelah melakukan uji loading factor untuk mengukur kontribusi masing-masing indikator terhadap konstruk, tahap selanjutnya adalah melakukan uji Average Variance Extracted (AVE). Menurut Hair et al. , suatu konstruk dinyatakan memiliki validitas konvergen yang baik apabila nilai AVE-nya melebihi 0,60. Uji Reliabilitas Tabel 3. Hasil uji composite reliability Variabel Akses Pendanaan (AP) Program dan Dukungan Pemerintah (PDP) Akses Infrastruktur Fisik (AIF) Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Intensi Berwirausaha (IB) Composite Reliability Hasil composite reliability menandakan bahwa setiap variabel mencapai nilai koefisien di atas 0,60, memenuhi persyaratan reliabilitas yang berlaku. Hal tersebut mengimplikasikan Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 bahwa setiap variabel memiliki tingkat konsistensi pengukuran yang baik dan dapat dipercaya untuk mewakili konstruk yang diukur dalam penelitian ini. Tabel 4. Hasil uji cronbachAos alpha Variabel CronbachAos Alpha Akses Pendanaan (AP) Program dan Dukungan Pemerintah (PDP) Akses Infrastruktur Fisik (AIF) Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Intensi Berwirausaha (IB) Berdasarkan hasil pengujian cronbachAos alpha yang ditampilkan pada tabel di atas, seluruh variabel penelitian ini memperlihatkan bahwa nilai yang dicapai melampaui standar minimum yang disyaratkan, yaitu di atas 0,60. Hal ini mengindikasikan bahwa Setiap konstruk memperlihatkan konsistensi internal dengan tingkat yang memadai dalam mengukur konsep yang dimaksud. Nilai CronbachAos Alpha yang memenuhi ambang batas reliabilitas menunjukkan bahwa konstruk-konstruk penelitian ini telah memenuhi ketentuan validitas dan reliabilitas. Evaluasi Model Struktural Koefisien Determinasi Tabel 5. Uji koefisien determinasi PDP R-Squared AIF PPK R-Squared (RA) tercatat sebesar 0,576 atau 57,6%, yang mengimplikasikan bahwa variabel Intensi Berwirausaha (IB) dapat dijelaskan oleh variabel Akses Pendanaan (AP). Program dan Dukungan Pemerintah (PDP). Akses Infrastruktur Fisik (AIF), serta Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan (PPK). Persentase 42,4% sisanya dipengaruhi oleh faktorfaktor eksternal yang tidak terakomodasi dalam model. Berdasarkan kriteria dari Hair et al. , model dengan nilai RA 0,576 masuk ke dalam kategori sedang, yang menandakan kemampuan prediktif yang cukup memuaskan. Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 Uji Hipotesis Tabel 6. Uji hipotesis Hubungan antar Variabel (Variabel Eksogen Ie Variabel Endoge. PDP AIF PPK Koefisien Jalur . ath p-value Keterangan <0. Diterima Diterima Diterima Diterima Variabel akses pendanaan terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha, selaras dengan hipotesis yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil pengujian menggunakan WarpPLS 7. 0, koefisien jalur . ath coefficien. yang tercatat mencapai 0,188 dengan nilai p-value 0,015, yang nilainya lebih kecil dari ambang signifikansi 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh akses pendanaan terhadap intensi berwirausaha adalah signifikan secara statistik. Selain itu, nilai koefisien jalur yang positif mengindikasikan bahwa peningkatan akses pendanaan akan berkontribusi secara positif terhadap peningkatan intensi berwirausaha pada mahasiswa. Dengan demikian, hipotesis pertama (H. dinyatakan Variabel program dan dukungan pemerintah terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha, sesuai dengan hipotesis yang diajukan sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan nilai path coefficient sebesar 0,171 dan p-value 0,024, yang berada di bawah ambang signifikansi 0,05. Hal ini menandakan bahwa pengaruh program dan dukungan pemerintah terhadap intensi berwirausaha signifikan secara statistik. Selain itu, nilai koefisien jalur yang positif menunjukkan bahwa semakin besar program dan dukungan pemerintah yang diterima, semakin tinggi intensi berwirausaha mahasiswa. Dengan demikian, hipotesis kedua (H. dapat diterima. Hipotesis yang menyatakan bahwa akses infrastruktur fisik berpengaruh terhadap intensi berwirausaha mendapatkan dukungan dari hasil pengujian. Nilai koefisien jalur . ath coefficien. sebesar 0,217 dengan p-value 0,006, yang berada di bawah batas signifikansi 0,05. Hasil tersebut mengisyaratkan bahwa ketersediaan infrastruktur fisik memiliki dampak signifikan terhadap niat seseorang untuk berwirausaha. Selain itu, nilai koefisien jalur yang positif menunjukkan bahwa semakin baik akses terhadap infrastruktur fisik, maka Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 intensi berwirausaha juga akan meningkat. Oleh karena itu, hipotesis ketiga (H. dapat Berdasarkan hipotesis yang diajukan, pendidikan dan pelatihan kewirausahaan diduga berpengaruh terhadap intensi berwirausaha. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa koefisien jalur . ath coefficien. sebesar 0,356 dengan p-value kurang dari 0,001, yang jauh lebih kecil dari batas signifikansi 0,05. Bukti ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan kewirausahaan secara signifikan memengaruhi intensi untuk berwirausaha. Selain itu, nilai koefisien jalur yang positif mengindikasikan bahwa peningkatan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan akan berdampak positif terhadap peningkatan intensi berwirausaha mahasiswa. Oleh karena itu, hipotesis keempat (H. dapat diterima. Pembahasan Akses pendanaan terbukti berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa, sejalan dengan konsep Perceived Behavioral Control (PBC) dalam Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1. , yang menekankan pentingnya persepsi ketersediaan sumber daya finansial untuk meningkatkan keyakinan dalam berwirausaha. Penelitian Svotwa et al. Pohwani et al. serta Ahmad & Naveed . mendukung bahwa kemudahan memperoleh dana dapat langsung maupun tidak langsung melalui sikap dan efikasi diri, mendorong niat berwirausaha. Peran pemerintah dalam memberikan dukungan yang signifikan juga sangat penting dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang mendukung. Program dan kebijakan pemerintah dapat meningkatkan PBC dengan mengurangi hambatan yang dirasakan oleh calon wirausahawan. Penelitian oleh Zhang et al. dan Prasannath et al. menunjukkan bahwa dukungan ini berkontribusi pada peningkatan efikasi diri dan orientasi kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Ketersediaan infrastruktur fisik turut menjadi faktor penunjang kesiapan mahasiswa dalam menjalankan usaha, khususnya di era digital. Infrastruktur seperti akses internet dan fasilitas usaha dapat meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas operasional. Dalam kerangka TPB, akses terhadap infrastruktur fisik merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi perceived behavioral control. Beberapa penelitian (Chen et al. , 2023. Fahrati et al. , 2024. Rasvanis & Tselios, 2. menemukan pengaruh positif infrastruktur terhadap Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 intensi berwirausaha. Namun, temuan lain (Queissner et al. , 2025. Virasa et al. , 2. menunjukkan bahwa akses infrastruktur fisik kadang tidak berpengaruh signifikan bahkan dianggap sebagai kendala di beberapa negara ASEAN. Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan merupakan faktor utama yang memperkuat intensi berwirausaha dengan meningkatkan PBC dan sikap positif. Menurut Yan et al. dan Hong-xin Zhang & Chen . pendidikan kewirausahaan meningkatkan keterampilan, pengetahuan, serta kepercayaan diri mahasiswa. Meskipun demikian. Alakaleek et al. melaporkan bahwa walaupun pengetahuan dan perilaku kewirausahaan meningkat, intensi dan keterampilan tidak mengalami peningkatan yang signifikan SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Merujuk pada hasil analisis serta uji hipotesis, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel dalam ekosistem kewirausahaan, yaitu akses pendanaan, program dan dukungan pemerintah, akses infrastruktur fisik, serta pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi UNESA. Akses pendanaan yang memadai, terutama dari keluarga, terbukti mendorong keinginan mahasiswa untuk memulai usaha. Dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi dan program kewirausahaan turut memperkuat intensi tersebut. Ketersediaan infrastruktur fisik, khususnya fasilitas komunikasi, juga memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dan menjalankan aktivitas usaha. Sementara itu, pendidikan dan pelatihan kewirausahaan memiliki pengaruh paling kuat, karena secara langsung meningkatkan keterampilan, pengalaman praktis, serta kepercayaan diri mahasiswa dalam merintis usaha. Penguatan ekosistem kewirausahaan perlu dilanjutkan dengan memperluas akses pendanaan internal serta mengoptimalkan implementasi kurikulum berbasis praktik yang telah berjalan. Pemanfaatan infrastruktur pendukung seperti ruang kreatif dan fasilitas digital juga perlu ditingkatkan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah juga perlu ditingkatkan guna menciptakan program kewirausahaan yang lebih sinergis dan Dengan demikian, ekosistem kewirausahaan yang kondusif secara keseluruhan terbukti memainkan peran penting dalam membentuk dan meningkatkan niat Journal of Education and Research (JEDARR) http://jurnal. id/index. php/jedarr Vol. 4 No 2 Desember 2025 e-ISSN 2830-7798 p-ISSN 2962-2794 berwirausaha mahasiswa. Saran Diharapkan institusi pendidikan tinggi dapat melakukan evaluasi dan penguatan terhadap program dan fasilitas kewirausahaan yang telah tersedia. Penguatan dapat dilakukan melalui perluasan jejaring kerja sama dengan mitra eksternal, peningkatan kapasitas dosen pembina kewirausahaan, serta penyusunan strategi pembelajaran berbasis praktik yang lebih intensif. Pemerintah juga diharapkan memperkuat efektivitas program yang telah berjalan melalui penyederhanaan birokrasi, peningkatan keterjangkauan bantuan, dan perluasan akses informasi bagi mahasiswa. Penelitian mendatang diharapkan melibatkan sampel lebih luas lintas program studi dan perguruan tinggi agar hasil lebih Penggunaan metode campuran dengan pendekatan kualitatif juga penting untuk menggali konteks dan pengalaman mahasiswa secara mendalam. Integrasi teori yang mencakup faktor eksternal seperti ekonomi, budaya, dan ekosistem kewirausahaan perlu dipertimbangkan untuk memperkaya analisis. Selain itu, studi longitudinal dianjurkan guna menangkap dinamika intensi berwirausaha seiring perubahan kondisi eksternal. DAFTAR PUSTAKA