JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1254-1266 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah UPAYA GURU DALAM MENGATASI KESULITAN MEMBACA SISWA DI SD NEGERI 41 KARANG TANGAH Vindia Sevildia1. Ari Aprillia Dwiana2 1,2 Universitas Rokania. Indonesia Email: vindiasevildia@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 10 September 2025 Final Revised: 15 September 2025 Accepted: 19 September 2025 Published: 29 September 2025 Keywords: Reading Difficulties Elementary School Education Student Literacy ABSTRAK In facing the challenges students face in reading, teachers need to be proactive in providing guidance to help them overcome obstacles that hinder the learning process. This research aims to explain the reading problems faced by students and the teachers' efforts to solve them in class I-VI of SDN 41 Karang Tangah. The method applied in this research is a qualitative approach. Researchers used various data collection techniques including observation, interviews and document analysis involving research subjects consisting of class I-VI homeroom teachers and class I-VI students at SDN 41 Karang Tangah. The research results showed that there were class I-VI students who experienced difficulties in reading, such as lack of reading fluency, frequent mistakes, difficulty in distinguishing similar letters, and errors in pronouncing words or sound symbols. The efforts taken by teachers to overcome the reading difficulties of class I-VI students at SDN 41 Karang Tangah, have been quite Teachers use interesting and interactive learning methods, such as picture letter books, and strengthen students' self-confidence and motivation through praise. In addition, teachers do not blame students and provide special remedial programs to improve their reading skills. ABSTRAK Dalam menghadapi tantangan yang dihadapi siswa dalam membaca, guru perlu proaktif memberikan bimbingan untuk membantu mereka mengatasi kendala yang menghambat proses Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan permasalahan membaca yang dihadapi siswa dan upaya guru untuk menyelesaikannya. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data antara lain observasi, wawancara dan analisis dokumen dengan melibatkan subjek penelitian yang terdiri dari wali kelas I-VI di SDN 41 Karang Tangah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat siswa kelas I-VI yang mengalami kesulitan dalam membaca, seperti kurangnya kelancaran dalam membaca, sering melakukan kesalahan, kesulitan dalam membedakan huruf yang mirip, serta kesalahan dalam melafalkan kata atau simbol bunyi. Upaya yang diambil oleh guru untuk mengatasi kesulitan membaca siswa kelas I-VI di SD Negeri 41 Karang Tangah, telah cukup Guru menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan interaktif, seperti buku huruf bergambar, serta memperkuat rasa percaya diri dan motivasi siswa melalui pujian. Selain itu, guru tidak menyalahkan siswa dan menyediakan program remedial khusus untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. Kata Kunci: Kesulitan Membaca. Sekolah Dasar. Pendidikan. Literasi Siswa Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah PENDAHULUAN Guru memegang peran utama dalam memajukan peradaban bangsa. Diharapkan guru mampu membentuk kepribadian, karakter, moral, dan intelektual generasi muda. Melalui seorang guru, murid dapat mengenal ilmu, nilai, moral, etika, semangat, dan dunia luar (Hidayati, . Menurut Setyastuti et al. , . Guru adalah sosok yang memiliki otoritas dan tanggung jawab untuk membimbing serta mendidik siswa, baik secara individu maupun dalam kelompok, di lingkungan sekolah maupun di luarnya. Selain itu, pendidik atau guru berfungsi sebagai pemimpin dan perancang yang membentuk kepribadian serta karakter siswa. Dalam proses pembelajaran, guru sering menghadapi berbagai masalah terkait siswa, perilaku mereka, hasil belajar, dan aspek lainnya. Guru perlu menjalankan peran yang kompleks untuk menangani berbagai tantangan yang dihadapi oleh siswa maupun diri mereka sendiri. Pada jenjang pendidikan dasar, guru kelas bertanggung jawab atas kegiatan bimbingan dan konseling bagi siswanya. Oleh karena itu, guru diharapkan memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing siswa agar dapat mengatasi kesulitan belajar yang mereka hadapi. Di lingkungan sekolah, guru berupaya sebaik mungkin dalam memberikan bimbingan, arahan, dan prioritas utama kepada peserta didik dalam menghadapi kesulitan belajar, khususnya kesulitan membaca (Juhaeni et al. , 2. Menurut Ariyani et al. , . Membaca dimulai di kelas rendah dengan memperkenalkan hurufhuruf alfabet dan membaca kata-kata sederhana. Kemampuan membaca siswa dianggap sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan mereka dalam proses belajar di Menurut Syahrani & Basuki, . Kemampuan membaca memfasilitasi siswa dalam memahami informasi atau teks yang terdapat dalam buku atau sumber belajar lainnya yang menggunakan tulisan. Di jenjang Sekolah Dasar (SD), proses ini dimulai dari kelas 1 hingga kelas 6, di mana siswa menggunakan buku sebagai sumber belajar utama, meskipun terdapat materi tambahan dari sumber belajar lainnya. Buku tetap menjadi sumber belajar yang konsisten selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, potensi membaca sangat diperlukan bagi peserta didik untuk memudahkan proses pembelajaran mereka. Kesulitan membaca pada dasarnya terlihat dalam berbagai perilaku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di antara semua tantangan dalam proses belajar, kesulitan membaca merupakan yang paling mendasar dibandingkan dengan tantangan belajar lainnya (Khusnia et al. , 2. Menurut Ariyati . alam Rafika et al. , 2. , kemampuan membaca yang rendah pada siswa dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan prestasi akademis mereka. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam membaca, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri mereka dan mengganggu semangat belajar. Berdasarkan wawancara awal dengan guru wali kelas II SDN 002 Bagan Besar, masih terdapat masalah terkait kesulitan membaca. Terdapat lima siswa yang mengalami kesulitan tersebut, terdiri dari tiga siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Permasalahan yang dihadapi meliputi kesulitan mengenali huruf, kesulitan mengeja abjad untuk membentuk kalimat, serta kesalahan dalam mengidentifikasi huruf, seperti membedakan b dengan p, d dengan g atau q, dan w dengan m atau n. Siswa juga mengalami kesulitan mengeja katakata, kesulitan membaca dengan terbata-bata dan memahami teks yang dibaca, serta tiga huruf seperti nya, nyi, nga, dan ngi. Kondisi ini menjadi perhatian utama bagi guru saat mencari solusi, karena jika tidak diatasi dengan benar, kesulitan ini dapat berlanjut dan menimbulkan masalah belajar yang lebih besar di masa depan. Kesulitan membaca sering diartikan sebagai tantangan dalam memahami komponen kata, yang dapat menghambat pemahaman pesan. Kesulitan ini muncul ketika seseorang menghadapi hambatan dalam proses membaca, terutama pada tingkat sekolah dasar, di mana siswa diharapkan memiliki keterampilan membaca dasar. Kesulitan membaca juga sering dijelaskan sebagai kesulitan dalam menginterpretasikan elemen kata dan kalimat, yang memerlukan upaya tambahan untuk diatasi. Sejalan dengan pendapat Wulandari . alam Septianingsih et al. , 2. , siswa yang mengalami kesulitan membaca sering kali tidak mampu mengidentifikasi kata dengan baik. Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah sehingga pemahaman mereka terhadap bacaan menjadi rendah. Jika masalah membaca ini tidak segera diatasi, hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan kemampuan membaca Oleh karena itu, penting bagi guru yang terlibat langsung dengan siswa untuk memberikan bantuan dan dukungan yang diperlukan, agar peserta didik yang menghadapi kendala dalam membaca dapat segera memperoleh intervensi yang memadai. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Apriliyani et al. , . kesulitan membaca yang dialami oleh peserta didik dapat mempengaruhi keberhasilan belajar individu serta peserta didik lainnya. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam mendukung peserta didik dalam mempelajari cara membaca dengan metode yang umum digunakan selama proses belajar mengajar. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Idayanti et al. , bahwa guru perlu mengetahui siswa mana yang mengalami kesulitan dalam membaca serta memahami alasan alasannya. Dengan pemahaman yang memadai, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai untuk membantu siswa mengatasi kesulitan mereka. Menurut penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa guru memiliki peran penting dalam mengatasi masalah membaca siswa kelas II di sekolah dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan kesulitan membaca siswa kelas II di SDN 002 Bagan Besar. Kota Dumai, serta strategi yang digunakan oleh guru untuk mengatasinya. Oleh karena itu, alasan peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai kesulitan membaca, dengan demikian, guru dapat mengambil langkah yang sesuai untuk mengatasi masalah kesulitan membaca yang dialami siswa. Diharapkan bahwa ini dapat berkontribusi pada peningkatan kemampuan membaca, pemahaman, dan semangat belajar mereka. Penelitian ini mengandung keterbaruhan dari penelitian sebelumnya yang mengatasi kesulitan membaca dengan menghadirkan media pembelajaran yang menarik yakni berupa buku huruf bergambar. Dengan adanya buku huruf bergambar tersebut, siswa lebih tertarik karna adanya gambar berwarna didalam buku tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan membaca yang dihadapi siswa kelas II SD Negeri 41 Karang Tangah Bagan Besar Kota Dumai, serta upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi masalah tersebut. Berdasarkan temuan dari penelitian yang dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi siswa dalam membaca, serta beberapa langkah yang dapat diambil oleh guru untuk mengatasinya. Kesulitan Membaca Siswa Tidak Lancar Dalam Membaca Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru serta siswa di SD Negeri 41 Karang Tangah, diketahui bahwa masih ada siswa yang tidak lancar dalam membaca dan terbata-bata. Beberapa siswa masih mengeja dan lambat dalam Contohnya, ada siswa yang membaca dengan sangat lambat, sering berhenti di tengah kalimat, atau mengulangi kata-kata. Misalnya, ketika membaca kalimat "Ular itu melilit di pagar," mereka membaca "Ular. Selain itu, beberapa siswa juga ditemukan membaca dengan mengeja kata AumejaAy menjadi Aum-e-j a,Ay memisahkan setiap huruf dengan suara yang nyaring. Siswa tidak mampu mengucapkan kata-kata dengan lancar, sehingga menimbulkan kesulitan dalam memahami keseluruhan kalimat. Di samping itu, siswa juga menghadapi kesulitan dalam memahami cara menggunakan tanda baca, seperti titik (. ) dan koma (,) dalam teks yang singkat. Hal ini menunjukkan bahwa guru perlu memberikan waktu tambahan kepada siswa agar mereka dapat lebih memahami teks. Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah Banyak Kesalahan Dalam Membaca Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru serta siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, ditemukan bahwa banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam membaca. Kesalahan yang umum terjadi meliputi pemenggalan kata yang tidak tepat dan ketidakpahaman terhadap tanda baca, sehingga isi cerita atau teks menjadi sulit dimengerti. Dalam penelitian ini, terungkap bahwa siswa menghadapi tantangan dalam membaca yang berkaitan dengan pemenggalan kata yang salah. Sebagai contoh, saat membaca kata "buku," seorang siswa mungkin memisahkannya menjadi "bu-ku" dengan jeda yang terlalu panjang, sehingga terdengar terputus-putus dan mengganggu aliran kalimat. Demikian pula, kata dibaca sebagai mengakibatkan hilangnya makna dalam konteks. Kesalahan pemenggalan juga terlihat pada kata "kucing," yang mungkin dibaca sebagai "kucing," atau "teman" yang menjadi "te-man," sehingga pemahaman terhadap teks semakin sulit. Selain itu, kata "perahu" dapat dibaca sebagai "pe-ra-hu," dan "kereta" sebagai "ke-re-ta," yang menyebabkan kebingungan dalam mengikuti alur cerita. Kesulitan ini menunjukkan pentingnya pengajaran yang menekankan pengenalan pola suku kata dan latihan membaca yang lancar, agar siswa dapat memahami teks dengan lebih baik. Selain itu, ditemukan bahwa siswa kelas II mengalami kesulitan membaca akibat kurangnya pemahaman tentang tanda baca. Misalnya, saat membaca kalimat "Mari kita pergi ke taman, kita bisa bermain di sana," siswa sering melewatkan koma dan membacanya sebagai satu kalimat panjang, yang menyulitkan mereka untuk memahami pemisahan antara dua ide. Dalam kalimat seperti "Dia bertanya, 'Apa kamu sudah siap?'" siswa mungkin tidak menyadari pentingnya tanda kutip, sehingga mereka membaca tanpa intonasi yang tepat, membuat kalimat terasa datar dan kurang bermakna. Selain itu, dalam kalimat yang memiliki titik, seperti "Hari ini cerah. Kita akan bersepeda," siswa mungkin terbiasa membaca tanpa jeda yang diperlukan, sehingga kehilangan makna bahwa itu adalah dua pernyataan Kesulitan dalam memahami tanda baca ini dapat menghambat pemahaman keseluruhan teks dan menyebabkan kebingungan saat membaca. Oleh karena itu, pengajaran yang menekankan pentingnya tanda baca dan memberikan latihan membaca dengan berbagai jenis teks sangat penting untuk membantu siswa mengatasi kesulitan ini. Sulit Membedakan Huruf Yang Hampir Sama Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru serta siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam membaca akibat kebingungan dalam mengenali huruf-huruf yang mirip atau terbalik. Misalnya, siswa sering membolak-balik huruf "b" dan sehingga ketika membaca kata "buku," mereka membacanya sebagai "duku". Hal serupa juga terjadi pada huruf "p" dan "q," di mana kata "pintu" dapat dibaca sebagai "qintu. " Selain itu, siswa kesulitan membedakan huruf "m" dan "n," sehingga saat membaca kata "manis," mereka bisa salah membaca menjadi "nanis. " Begitu pula dengan huruf "w," yang kadang-kadang terbalik menjadi "m," sehingga kata "waktu" bisa terdengar seperti "maktu. " Kesulitan ini dapat mengganggu pemahaman bacaan secara keseluruhan dan membuat siswa merasa frustrasi. Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk menggunakan latihan yang fokus pada pengenalan huruf, serta permainan visual dan auditori yang membantu siswa membedakan antara huruf-huruf yang serupa. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan membaca mereka. Kesalahan Dalam Pelafalan Kata/Symbol Bunyi Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru serta siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam pelafalan kata, simbol, dan bunyi. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika siswa membaca kata "kuda" seorang siswa membacanya sebagai "daku" atau "uda. " Begitu pula dengan kata "lupa," yang dapat salah dibaca sebagai "palu. Kesalahan lainnya terjadi saat membaca kata "rusa," yang keliru dibaca menjadi "sura", dan kata dapat terbaca sebagai "salu. " Siswa juga mengalami kesulitan dengan kata "batu," yang terkadang dibaca sebagai "butu. " Kesalahan ini mungkin disebabkan oleh kesulitan dalam mengenali bentuk huruf dan pola suara, yang mengakibatkan pemahaman terhadap teks menjadi sulit. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan frustrasi bagi siswa. Untuk mengatasi masalah ini, sangat penting untuk memberikan latihan yang berfokus pada pengenalan kata, pengulangan, dan permainan yang menyenangkan, sehingga siswa dapat meningkatkan keterampilan membaca mereka dengan lebih baik. Selain itu, siswa juga mengalami kesulitan dalam melafalkan huruf diftong . i, au, o. Misalnya, ketika membaca kata "sai" . eperti dalam "sai ikan"), siswa mungkin melafalkannya sebagai "si" atau "sa," yang mengubah arti kata tersebut. Contoh kesalahan lain terjadi ketika siswa membaca kata "laut" mereka mungkin mengucapkannya sebagai "lat" atau "lut" tanpa mengaitkan dengan suara diftong yang benar. Begitu pula dengan kata "boi," yang sering dibaca salah menjadi "bo" atau "bui," sehingga makna kalimat dapat hilang. Kesulitan ini sering disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang cara pengucapan diftong yang tepat, yang membuat pengucapan mereka terdengar tidak Untuk membantu siswa mengatasi kesulitan ini, penting untuk memberikan latihan yang fokus pada pengenalan dan pengucapan diftong, menggunakan metode yang interaktif dan menyenangkan agar mereka dapat lebih memahami dan melafalkan kata-kata dengan benar. Kesalahan pelafalan juga teridentifikasi selama wawancara dan observasi dengan guru serta siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah. Terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam melafalkan gabungan huruf konsonan seperti "ny," "ng," "kh," dan "syAy, saat membaca kata "nyamuk," seorang siswa mungkin melafalkannya sebagai "yamuk" atau "nyamu," yang mengakibatkan pengucapan yang tidak tepat. Begitu pula dengan kata siswa kesulitan dan membacanya sebagai "omong" atau "ngomong" dengan bunyi yang tidak jelas, sehingga kehilangan makna aslinya. Kata "khaki" dapat dibaca salah sebagai "haki" atau "kaki," dan kata "syrup" mungkin diucapkan sebagai "sirup" tanpa menekankan gabungan konsonan yang benar. Kesulitan ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengalaman mendengar dan melafalkan suarasuara tersebut, yang dapat mempengaruhi pemahaman mereka terhadap teks. Untuk membantu siswa mengatasi kesulitan ini, penting untuk memberikan latihan yang fokus pada pengenalan dan pengucapan gabungan konsonan, serta melaksanakan kegiatan interaktif agar mereka lebih percaya diri dalam melafalkan kata-kata dengan benar. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru wali kelas, kesulitan yang dihadapi oleh siswa tentunya memerlukan upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Menggunakan Media Pembelajaran Dari pengamatan dan wawancara dengan guru dan siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, guru menggunakan media pembelajaran yang menarik dan efektif. Guru menggunakan buku belajar membaca bergambar sebagai media untuk membantu siswa mengatasi kesulitan membaca. Penggunaan buku huruf bergambar Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah merupakan upaya efektif yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengatasi kesulitan membaca siswa. Buku ini membantu memperkenalkan huruf dan kata-kata baru dengan cara yang menyenangkan, di mana guru dapat meminta siswa untuk mengidentifikasi huruf pada setiap halaman dan mengaitkannya dengan gambar yang relevan. Gambar-gambar yang menyertai huruf atau kata membantu siswa memahami arti dan konteksnya, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik. Selama sesi membaca bersama, siswa dapat melatih pelafalan dan intonasi sambil mengikuti gambar, yang juga meningkatkan keterlibatan mereka. Setelah membaca, guru dapat mengajak siswa untuk melakukan kegiatan kreatif, seperti menggambar atau mewarnai huruf yang telah dipelajari, guna memperkuat daya ingat mereka. Dengan mengadakan sesi membaca secara rutin, siswa akan lebih terbiasa dengan huruf dan kata, serta membangun kebiasaan baik dalam membaca. Selain itu, menyediakan variasi buku bergambar dengan tema yang berbeda dapat menjaga minat siswa. Melalui pendekatan ini, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendukung perkembangan keterampilan membaca siswa. Meningkatkan Rasa Percaya Diri Dan Memberikan Motivasi Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru serta siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, upaya guru dalam meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan motivasi kepada siswa yang mengalami kesulitan membaca sangat penting untuk membantu mereka mengatasi tantangan ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pujian dan pengakuan atas usaha yang dilakukan siswa, bukan hanya pada hasil akhirnya. Misalnya, ketika siswa berhasil membaca satu kata dengan baik, guru dapat memberikan pujian yang spesifik, seperti, "Bagus, kamu membaca dengan benar!" Pujian ini dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Guru juga dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan positif, sehingga siswa merasa nyaman untuk mencoba hal baru dan melakukan kesalahan tanpa merasa takut akan penilaian. Mengadakan sesi membaca di depan teman-teman sekelas, dengan cara yang menyenangkan seperti membaca bersama atau berpasangan, dapat membantu siswa merasa lebih nyaman dan berani. Guru juga menggunakan berbagai teknik motivasi, seperti menetapkan tujuan kecil yang realistis dan memberikan penghargaan ketika siswa mencapai target tersebut. Kegiatan yang interaktif dan menyenangkan, seperti permainan membaca atau kompetisi membaca, juga dapat memicu semangat siswa untuk belajar. Dengan memberikan dukungan emosional dan motivasi yang tepat, guru dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan membaca mereka sambil meningkatkan rasa percaya diri dalam kemampuan mereka. Tidak Menyalahkan Siswa Atas Kondisi yang Dialaminya Usaha guru untuk membantu siswa mengatasi kesulitan membaca tanpa menyalahkan mereka atas keadaan yang dialami sangat krusial dalam menciptakan suasana belajar yang positif dan mendukung. Guru perlu menyadari bahwa setiap siswa memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda. Oleh karena itu, alih-alih menyalahkan siswa ketika mereka mengalami kesulitan, guru sebaiknya mendekati situasi dengan empati dan pengertian. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru serta siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, bahwa ketika seorang siswa mengalami kesulitan dalam membaca, guru mengajukan pertanyaan untuk memahami lebih dalam mengenai penyebab kesulitan tersebut. Pertanyaan yang diajukan, seperti "Apa yang kamu rasakan saat membaca kata ini?" atau "Apakah ada bagian yang membingungkan?" membuat siswa merasa didengar dan dihargai, yang Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah pada gilirannya dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Selain itu, guru juga memberikan dukungan tambahan melalui bimbingan pribadi tanpa membuat siswa merasa tertekan seperti mendorong siswa untuk berbagi pengalaman mereka dan saling mendukung di dalam kelas juga dapat membantu menciptakan suasana yang Dengan menghindari sikap menyalahkan, guru dapat membantu siswa merasa lebih nyaman dalam belajar, sehingga mereka lebih termotivasi untuk berusaha memperbaiki keterampilan membaca mereka. Memberikan Program Khusus Membaca Remedia Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru serta Di SD Negeri 41 Karang Tangah, dapat disimpulkan bahwa upaya guru dalam mengatasi kesulitan membaca melalui program khusus remedial sangat efektif dalam membantu siswa yang menghadapi tantangan dalam membaca. Program remedial ini dirancang untuk memberikan perhatian tambahan kepada siswa yang membutuhkan, dengan fokus pada penguatan keterampilan membaca dasar. Guru memberikan sesi remedial dengan memanggil siswa yang mengalami kesulitan membaca untuk berlatih di depan bersama dengan guru. Selama sesi remedial, guru menggunakan bahan ajar yang interaktif, seperti permainan membaca, buku bergambar, dan aktivitas kelompok kecil, untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan. Selain itu, dengan memberikan latihan yang berulang dan umpan balik yang konstruktif, siswa dapat merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk belajar. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian dari observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti, dapat ditemukan berbagai permasalahan yang dihadapi guru dalam kegiatan membaca siswa. Adapun beberapa permasalahan yang ditemui pada saat penelitian ialah: Pertama, ditemui bahwa terdapat siswa yang tidak lancar dalam membaca. Beberapa siswa masih mengeja dan lambat dalam membaca. Selain itu, beberapa siswa juga ditemukan membaca dengan mengeja kata AumejaAy menjadi Aume-j-a,Ay memisahkan setiap huruf dengan suara yang nyaring. Siswa tidak mampu mengucapkan kata-kata dengan lancar, sehingga menimbulkan kesulitan dalam memahami keseluruhan kalimat. Di samping itu, siswa juga menghadapi kesulitan dalam memahami cara menggunakan tanda baca, seperti titik (. ) dan koma (,) dalam teks yang singkat. Sejalan dengan yang disampaikan oleh Sapari & Elhawwa . , tanda baca sangat penting dalam penulisan, karena membantu untuk memahami makna tulisan tersebut. Oleh karena itu, tanda baca sangat penting agar kalimat dalam suatu paragraf mudah dipahami sehingga tidak terjadi kesalahan makna. Kedua, ditemukan bahwa banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam membaca. Kesalahan yang umum terjadi meliputi pemenggalan kata yang tidak tepat dan ketidakpahaman terhadap tanda baca, sehingga isi cerita atau teks menjadi sulit dimengerti. Dalam penelitian ini, terungkap bahwa siswa menghadapi tantangan dalam membaca yang berkaitan dengan pemenggalan kata yang salah. Sebagai contoh, saat membaca kata "buku," seorang siswa mungkin memisahkannya menjadi "bu-ku" dengan jeda yang terlalu panjang, sehingga terdengar terputus-putus dan mengganggu aliran kalimat. Ketiga, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam membaca akibat kebingungan dalam mengenali huruf-huruf yang mirip atau terbalik. Misalnya, siswa sering membolak-balik huruf "b" dan sehingga ketika membaca kata "buku," mereka membacanya sebagai "duku". Hal serupa juga terjadi pada huruf "p" dan "q," di mana kata "pintu" dapat dibaca sebagai "qintu. " Selain itu, siswa kesulitan membedakan huruf "m" dan "n," sehingga saat membaca kata "manis," mereka bisa salah membaca menjadi "nanis. " Begitu pula dengan huruf "w," yang kadang-kadang terbalik menjadi "m," sehingga kata "waktu" bisa terdengar Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah seperti "maktuAy. Sejalan dengan Rahma & Dafit, . , yang dikemukakan adalah memberikan solusi bagi siswa yang kesulitan mengenali huruf. Abjad dijadikan materi untuk lagu. Memperlihatkan huruf dan menjelaskan ciri-ciri khusus dari huruf-huruf yang memiliki bentuk serupa . ontohnya, p, b, dan . Menggunakan teks dengan tingkat kesulitan yang rendah. Para murid diminta untuk menulis kalimat dan membacanya dengan suara keras. Seperti yang diungkapkan oleh Hendri . , guru sering membahas kesulitan peserta didik yang tidak dapat mengenali huruf-huruf. Masalah tersebut mencakup kesulitan dalam memahami huruf besar dan kecil oleh peserta didik. Kesulitan dalam melafalkan huruf sering terjadi pada peserta didik, terutama untuk huruf . , . , . , . , dan . Keempat, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam pelafalan kata, simbol, dan bunyi. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika siswa membaca kata "kuda" seorang siswa membacanya sebagai "daku" atau "uda. " Begitu pula dengan kata "lupa," yang dapat salah dibaca sebagai "palu. " Kesalahan lainnya terjadi saat membaca kata "rusa," yang keliru dibaca menjadi "sura", dan kata dapat terbaca sebagai "salu. " Siswa juga mengalami kesulitan dengan kata "batu," yang terkadang dibaca sebagai "butu. " Kesalahan ini mungkin disebabkan oleh kesulitan dalam mengenali bentuk huruf dan pola suara, yang mengakibatkan pemahaman terhadap teks menjadi sulit. Selain itu, siswa juga mengalami kesulitan dalam melafalkan huruf diftong . i, au, o. Misalnya, ketika membaca kata "sai" . eperti dalam "sai ikan"), siswa mungkin melafalkannya sebagai "si" atau "sa," yang mengubah arti kata tersebut. Contoh kesalahan lain terjadi ketika siswa membaca kata "laut" mereka mungkin mengucapkannya sebagai "lat" atau "lut" tanpa mengaitkan dengan suara diftong yang benar. Begitu pula dengan kata "boi," yang sering dibaca salah menjadi "bo" atau "bui," sehingga makna kalimat dapat hilang. Kesalahan pelafalan juga teridentifikasi selama wawancara dan observasi dengan guru serta siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, erdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam melafalkan gabungan huruf konsonan seperti "ny," "ng," "kh," dan "syAy, saat membaca kata "nyamuk," seorang siswa mungkin melafalkannya sebagai "yamuk" atau "nyamu," yang mengakibatkan pengucapan yang tidak Begitu pula dengan kata siswa kesulitan dan membacanya sebagai "omong" atau "ngomong" dengan bunyi yang tidak jelas, sehingga kehilangan makna aslinya. Kata "khaki" dapat dibaca salah sebagai "haki" atau "kaki," dan kata "syrup" mungkin diucapkan sebagai "sirup" tanpa menekankan gabungan konsonan yang benar. Berdasarkan permasalahan yang ditemui dilapangan pada saat penelitian, peneliti menemukan beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam mengatasi kesulitan membaca tersebut, seperti: penggunaan buku huruf bergambar merupakan upaya efektif yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengatasi kesulitan membaca siswa. Buku ini membantu memperkenalkan huruf dan kata-kata baru dengan cara yang menyenangkan, di mana guru dapat meminta siswa untuk mengidentifikasi huruf pada setiap halaman dan mengaitkannya dengan gambar yang relevan. Berdasarkan pendapat yang mendukung upaya ini disampaikan oleh Elsa & Dafit, . bahwa penggunaan media pembelajaran sangat signifikan dalam pembelajaran membaca awal. Pemanfaatan media yang sesuai dapat membangun lingkungan belajar yang menarik, mendorong siswa agar belajar membaca dengan lebih efisien. Upaya guru dalam meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan motivasi kepada siswa yang mengalami kesulitan membaca sangat penting untuk membantu mereka mengatasi tantangan ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pujian dan pengakuan atas usaha yang dilakukan siswa, bukan hanya pada hasil akhirnya. Guru juga dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan positif, sehingga Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah siswa merasa nyaman untuk mencoba hal baru dan melakukan kesalahan tanpa merasa takut akan penilaian. Mengadakan sesi membaca di depan teman-teman sekelas, dengan cara yang menyenangkan seperti membaca bersama atau berpasangan, dapat membantu siswa merasa lebih nyaman dan berani. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan membaca permulaan pada siswa meliputi faktor psikologis, yaitu motivasi, karena motivasi memberikan semangat bagi siswa dalam belajar membaca permulaan (Ariyanto et al. , 2. Siswa membutuhkan motivasi untuk belajar karena mendorong semangat mereka untuk Tanpa motivasi, belajar akan melemah (Hidayah et al. , 2. Semangat membaca sangat penting bagi anak-anak untuk membantu mereka menjadi pembelajar seumur hidup, karena buku adalah sarana untuk mengakses pengetahuan dan pengalaman yang luas. Dukungan orang tua dalam menyediakan buku berkualitas sangat diperlukan untuk meningkatkan minat baca anak di rumah (Saugadi et al. , 2. Upaya guru untuk membantu siswa mengatasi kesulitan membaca adalah tanpa menyalahkan mereka atas keadaan yang dialami sangat krusial dalam menciptakan suasana belajar yang positif dan mendukung. Guru perlu menyadari bahwa setiap siswa memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda. Selain itu, guru juga memberikan dukungan tambahan melalui bimbingan pribadi tanpa membuat siswa merasa tertekan seperti endorong siswa untuk berbagi pengalaman mereka dan saling mendukung di dalam kelas juga dapat membantu menciptakan suasana yang inklusif. Selain itu, adapun upaya yang dapat diberikan oleh guru adalah menyediakan program khusus remedial yang sangat efektif dalam membantu siswa yang menghadapi tantangan dalam membaca. Guru memberikan sesi remedial dengan memanggil siswa yang mengalami kesulitan membaca untuk berlatih di depan bersama dengan guru. Selama sesi remedial, guru menggunakan bahan ajar yang interaktif, seperti permainan membaca, buku bergambar, dan aktivitas kelompok kecil, untuk membuat proses belajar lebih Sejalan dengan itu, menurut Akda & Dafit . , guru juga dapat melibatkan orang tua dalam program ini dengan memberikan saran tentang cara mendukung pembelajaran membaca di rumah. Dengan pendekatan yang terstruktur dan dukungan yang konsisten, program remedial dapat membantu siswa mengatasi kesulitan membaca mereka serta meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri secara Pembelajaran remedial diberikan kepada siswa yang memerlukan peningkatan prestasi belajar hingga mencapai standar ketuntasan, sedangkan siswa yang telah mencapai standar tersebut akan mendapatkan pengayaan pemahaman konsep. Menurut Perwitasari et al. , . , masalah yang sering dihadapi dalam dunia pendidikan adalah kesulitan belajar membaca, sehingga diperlukan bimbingan yang sesuai untuk mengatasi masalah tersebut dan mengembangkan potensi, kecerdasan, dan Mengenali kesulitan membaca pada kalangan siswa dapat dilakukan dengan mengamati perilaku-perilaku yang sering dianggap sepele dalam proses pembelajaran, seperti: respon lambat atau gagap saat membaca, menggunakan alat bantu jari untuk mengeja kata satu per satu, intonasi suara yang tidak jelas saat membaca, sering membaca, dan sering membaca. kesalahan dalam penulisan. Sejalan dengan hal ini. Husain & Salim, . mengungkapkan bahwa dalam mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan siswa dilakukan dengan upaya- upaya seperti: Kebiasaan membaca. Pendidik menyediakan materi bacaan untuk kegiatan membiasakan membaca, seperti buku cerita dan buku dengan ilustrasi. Memberikan inspirasi dan semangat kepada murid-murid. Pengajar memberikan dukungan dan dorongan kepada siswa yang menghadapi kesulitan dalam membaca, serta membimbing mereka untuk meningkatkan minat baca guna mencapai Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah perkembangan yang lebih baik. Selain memberikan motivasi. Selain itu, guru memberikan perhatian khusus kepada siswa yang menghadapi kesulitan dalam pembelajaran membaca. Menggunakan waktu luang untuk mengikuti program bimbingan membaca Pemberian tambahan jam bimbingan belajar yang menggunakan berbagai metode dalam pengajaran membaca permulaan dapat berkontribusi pada peningkatan motivasi siswa dalam mengembangkan keterampilan membaca mereka. Mengeja, fonetik, suku kata, kata, dan metode global adalah beberapa metode yang digunakan oleh guru untuk mengajar siswa. Orang tua diundang untuk hadir pada saat pembagian rapor dan saat penjemputan anak di sekolah sebagai upaya untuk mempererat hubungan antara orang tua dan institusi pendidikan. Berdasarkan yang disampaikan oleh Sari et al. , . , kemahiran asas yang penting dalam pendidikan kanak-kanak adalah kebolehan membaca. Kemampuan untuk membaca merupakan hal yang esensial dan krusial dalam budaya pembelajaran dan keilmuan. Membaca adalah keterampilan dasar yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar (SD). Oleh karena itu, untuk dapat berkomunikasi dengan baik, setiap anak harus memiliki keterampilan dasar membaca. Pembelajaran membaca akan membantu anak berhubungan dengan teman-temannya. Tidak hanya guru tetapi juga orang tua bertanggung jawab untuk memperkenalkan bahasa dan mengajarkan membaca yang baik. Tidak semua anak mahir Ada beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan siswa dalam membaca. Faktor-faktor yang memengaruhi pembacaan awal siswa antara lain (Astuti, 2. Faktor-faktor fisiologis, seperti kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin, memainkan peran penting dalam perkembangan kemampuan membaca Beberapa ahli berpendapat bahwa adanya keterbatasan neurologis, yang merujuk pada kelainan pada otak, serta keterlambatan dalam perkembangan fisik, dapat menjadi hambatan bagi anak dalam meningkatkan kemampuan pemahaman membaca mereka. Masalah pada indera bicara, pendengaran, dan penglihatan dapat menghambat perkembangan kemampuan membaca anak. Anak-anak di bagian depan kelas dapat melihat tulisan guru dengan jelas, tetapi beberapa siswa mengakui kesulitan dalam mengingat materi. Sementara itu, orang tua mengakui bahwa anak mereka mengalami kesulitan belajar akibat gangguan khusus yang disebabkan oleh faktor penyakit tertentu. Faktor intelektual adalah faktor kecerdasan yang mencakup kemampuan individu untuk bertindak sesuai dengan tujuan, berpikir secara rasional, dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan. Secara umum, terdapat korelasi positif antara tingkat kecerdasan yang tercermin dalam IQ dan peningkatan rata-rata dalam pembelajaran remedial membaca. Faktor lingkungan mencakup konteks dan pengalaman individu di dalam rumah, serta kondisi ekonomi keluarga. Lingkungan dapat membentuk kepribadian, perilaku, nilai, dan keterampilan bahasa anak. Keadaan di rumah berpengaruh pada karakter dan adaptasi anak dalam lingkungan sosial. Faktor sosial ekonomi. Terdapat kecenderungan di kalangan orang tua kelas menengah ke atas untuk merasa bahwa anak-anak mereka lebih siap memulai membaca lebih awal, yang dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi. Faktor motivasi. Guru dapat memberikan model dan contoh untuk menginspirasi siswa dalam meningkatkan hasil belajar mereka. Meskipun seharusnya siswa Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah mendapatkan motivasi dari guru, terkadang mereka masih kurang mendapatkan dukungan dari ibu, orang tua, atau orang-orang di sekitarnya, yang dapat menyebabkan mereka merasa malas untuk belajar. Faktor minat baca adalah dorongan kuat untuk membaca yang didukung oleh usaha Seseorang yang memiliki minat membaca tinggi akan menunjukkan ketertarikan tersebut dengan cara mencari bahan bacaan dan membacanya secara Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kurangnya minat baca pada siswa merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kesulitan dalam membaca. Jika siswa semakin bersemangat dalam belajar membaca, kemampuan membaca mereka akan semakin baik. Sebaliknya, jika minat siswa dalam membaca menurun, kesulitan membaca akan semakin terasa. Ditambah dengan pernyataan Amanda et al. , . terdapat dua faktor yang menyebabkan kesulitan membaca pada siswa kelas II, yaitu faktor internal yang berasal dari diri siswa sendiri dan faktor eksternal yang berasal dari lingkungan Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, siswa mengalami kendala dari faktor internal, seperti tingkat kecerdasan dalam memahami teks dan kurangnya minat membaca. Sementara itu, faktor eksternal berasal dari lingkungan keluarga. Menurut Abdurrahman . alam Jasmina & Darnius, 2. mengatakan bahwaSiswasiswa yang mengalami kesulitan dalam membaca dapat diidentifikasi berdasarkan kriteria berikut: . adanya masalah pada penglihatan, . kesulitan dalam mengonversi kata menjadi huruf, . kelemahan dalam memori visual, . adanya masalah pendengaran, . kesulitan dalam memahami sumber suara, . kesulitan dalam mengintegrasikan informasi visual dan auditori, . kesulitan dalam mempelajari simbol-simbol bahasa Inggris yang tidak teratur, . kesulitan dalam menyusun kata dan huruf, . kecenderungan untuk membaca kata per kata, dan . kesulitan dalam berpikir secara konseptual. KESIMPULAN Beberapa masalah membaca yang dihadapi oleh siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah. Masalah-masalah tersebut meliputi kurangnya kelancaran dalam membaca, sering melakukan kesalahan, kesulitan dalam membedakan huruf yang mirip, serta kesalahan dalam melafalkan kata atau simbol bunyi. Langkah-langkah yang diambil oleh guru untuk mengatasi kesulitan membaca siswa Di SD Negeri 41 Karang Tangah, telah cukup efektif. Guru menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan interaktif, seperti buku huruf bergambar, serta memperkuat rasa percaya diri dan motivasi siswa melalui pujian. Selain itu, guru tidak menyalahkan siswa dan menyediakan program remedial khusus untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. REFERENSI