FORMULASI DAN EVALUASI SIFAT FISIK SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN WUNGU (Graptopphyllumpictum L. SEBAGAI PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA TIKUS PUTIH Riza Mustofa Universitas Harapan Bangsa. Program Studi Farmasi. Fakultas Kesehatan. Purwokerto rizamustofa18@gmail. Rani Prabandari Universitas Harapan Bangsa. Program Studi Farmasi. Fakultas Kesehatan. Purwokerto raniprabandari@uhb. Peppy Octaviani Universitas Gadjah Mada. Program Studi Magister Farmasi Klinik. Fakultas Kesehatan. Yogyakarta peppyoctaviani@uhb. ABSTRAK Luka diakibatkan terkena benda tumpul atau tajam, bahan kimia, fluktuasi suhu, ledakan, sengatan listrik, maupun gigitan hewan. Salah satu tanaman yang memiliki manfaat sebagai penyembuhan luka yaitu daun tanaman wungu. Metode yang digunakan untuk memperoleh Ekstrak daun wungu dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Ekstrak diberikan secara topikal dalam bentuk sediaan gel dengan variasi konsentrasi 5%, 10% dan 15%. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui evaluasi sifat fisik dari sediaan gel ekstrak etanol daun wungu pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15% dan mengetahui konsentrasi yang paling baik untuk menyembuhkan luka sayat pada tikus putih. Uji ekstrak dilakukan pada luka terhadap hewan uji tikus putih dengan panjang luka sayatan 2 cm dan kedalaman A 0,2 cm. pada punggung tikus dan luka diobati dan diukur setiap sehari sekali hingga luka sembuh. Kontrol positif adalah bioplacenton dan kontrol negatif adalah basis gel tanpa ekstrak. Evaluasi sifat fisik dari sediaan gel ekstrak etanol daun wungu pada uji oganoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, daya lekat dan viskositas semua memiliki hasil yang memenuhi standar terkecuali pada pengujian pH yang tidak memenuhi standar. Didapatkan hasil bahwa formula 2 dengan konsentrasi 10% yang memiliki efek penyembuuhan luka paling cepat selama 7 hari. Data peyembuhan luka dilanalisis menggunakan one way ANOVA dan uji LSD, hasil uji one way ANOVA menunjukan tidak ada perbedaan signifikan sebesar 0,214 dan hasil LSD menunjukan terdapat perbedaan sigifikan pada formula 2 dan 3 sebesar 0,043 kemudian formula 3 dan kontrol negatif sebesar 0,041. Kata Kunci: daun wungu. luka sayat. ABSTRACT Wounds are caused by blunt sharp objects, chemicals, temperature fluctuations, explosions, electric shocks, or animal bites. The method used to obtain wungu leaf extract by maceration using 70% ethanol. The extract was given topically a gel with concentrations of 5%, 10% and 15%. The purpose of this study was to evaluate the physical properties of the ethanol extract of wungu leaf gel at concentrations of 5%, 10%, and 15% and to determine the best concentration for healing cuts in white rats. Extract test was carried out on the wounds of white rats with length of 2 cm and a depth of A 0. 2 cm. on the backs of rats and wounds were treated and measured once a day until the wounds healed. Positive control was bioplacenton and negative control was gel base without extract. Evaluation of the physical properties of the ethanol extract of wungu leaf gel preparation on the oganoleptic test, homogeneity test, dispersion test, adhesion and viscosity all had results that met the standard except for the pH test which did not meet the standard. It was found that formula 2 with concentration of 10% had the fastest wound healing effect for 7 days. Wound healing data were analyzed using one way ANOVA and LSD test, the results of the one way ANOVA test showed no significant difference of 0. 214 and LSD results showed that there was a significant difference in formulas 2 and 3 of 0. 043 then formula 3 and negative control of 0. Keywords: wungu leaves. incision wound. ISSN 2502-1524 Page | 274 Riza Mustofa dkk : Formulasi Dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Wungu (Graptopphyllumpictum L. ) Sebagai Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih PENDAHULUAN Kulit adalah organ luar yang berada di permukaan tubuh untuk mencegah masuknya bakteri berbahaya dan mikroba lain ke dalam tubuh, tetapi kulit sering mengalami kerusakan oleh sejumlah faktor eksternal (Laut et al. , 2. Kerusakan atau hilangnya jaringan kulit disebabkan oleh Aubenda tajam atau tumpul hingga suhu ekstrem, bahan kimia, ledakan, sengatan listrik, bahkan gigitan hewanAy (Ningsih et , 2. Luka sayat yaitu jenis kerusakan atau kehilangan jaringan karena terkena benda tajam (Ningsi et al. , 2. Luka pada tubuh manusia bisa pulih dengan sendirinya, namun memerlukan waktu yang lama, biasanya antara 5 dan 10 hari (Sari et al. , 2. Tahapan penyembuhan luka yaitu Aufase inflamasi, fase proliferasi, dan fase maturasi atau remodelingAy. Segera setelah kerusakan, fase inflamasi mencapai puncaknya pada hari ketiga. Selama fase proliferasi, yang berlangsung dari hari keempat hingga ketujuh, jumlah fibroblas terus meningkat. Fibroblas merupakan faktor dominan dalam penyembuhan luka dan kerangka atau fondasi untuk produksi kolagen. Penyembuhan luka yang tahan lama terjadi selama fase pematangan luka (Laut et al. Salah satu tanaman yang memiliki manfaat sebagai penyembuhan luka sayat pada tikus putih yaitu daun tanaman wungu (Graptopphyllumpictum L. ) diketahui daun wungu memiliki bahan aktif adalah flavonoid, tannin, saponin. Bahan kimia ini sangat penting untuk penyembuhan luka (Haryati et al. , 2. Flavonoid berfungsi sebagai antimikroba, antioksidan, dan agen anti-inflamasi pada luka, sementara saponin dan tanin membantu regenerasi jaringan selama penyembuhan luka. Saponin adalah zat pembersih dan antibakteri (Kusumawardani et al. , 2. Salah satu upaya untuk mempermudah pemakaian ekstrak etanol daun wungu (Graptopphyllumpictum penyebuhan luka sayat yaitu dengan cara dibuat sediaan topikal dalam bentuk sediaan gel. Di antara obat-obatan topikal, gel menawarkan beberapa keuntungan. Gel ini efektif dalam dispersi pada kulit, memiliki efek mendinginkan, tidak merusak fungsi rambut, berfungsi fisiologis, mudah dicuci dengan air, dan melepaskan obat secara efektif (Farid et al. Konsentrasi sediaan gel Ekstrak daun wungu (Graptopphyllumpictum L. ) pada konsentrasi 5%, 10% dan 15% sanggup menyembuhkan luka sayat pada tikus (Andiyani et al. , 2. Flavonoid dalam ekstrak etanol daun wungu berfungsi sebagai agen antiinflamasi dengan menghambat COX-2, yang pada gilirannya menekan pembentukan prostaglandin E2. Akibatnya, berkepanjangan mampu dihentikan dan respons inflamasi seperti nyeri dan pembengkakan dapat berhenti. Ekstrak daun wungu mengandung tanin dengan sifat astringen. Astrigen adalah bahan kimia pengencang kulit yang memiliki kemampuan untuk mengecilkan dan mengkerutkan jaringan kulit, sehingga mengurangi pendarahan dan mempercepat penyembuhan luka (Laut et al. , 2. Berdasarkan penjelasan latar belakang sebelumnya, peneliti tertarik melaksanakan penelitian berjudul Auformulasi dan evaluasi sifat fisik sediaan gel ekstrak etanol daun wungu . raptopphyllumpictum l. ) sebagai penyembuhan luka sayat pada tikus putihAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental, yaitu untuk Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 7 Nomor 3 Tahun 2022 Halaman :274-288 mengetahui perbedaan dari persen penyembuhan luka pada hewan uji tikus dengan melihat Kontrol positif yang menggunakan bioplasenton gel. Kontrol negative yang meggunakan basis gel tanpa ekstrak dan gel ekstrak daun wungu. Penelitian ini meliputi formulasi, evaluasi sediaan fisik gel dan pembarian ekstrak (Graptopphyllumpictum L. penyembuhan luka sayat pada tikus putih. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas laboratorium (IwakiA), timbangan analitik, blender (PhilipsA), pH meter. Rotary evaporator. Penangas . , jarum ose, cawan petri, cawan penguap, lumpang, stamper, pot gel. hectingset, alat cukur, sarung tangan, cotton bud, jangka sorong. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah (Graptopphyllumpictum HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulos. , etanol propilenglikol, bioplasenton gel, air suling. Prosedur Kerja Preparasi sampel Determinasi Determinasi daun wungu (Graptopphyllumpictum dilakukan dengan tujuan untuk tanaman yang akan dilakukan untuk penelitian (Putri et al, 2. Determinasi Laboratorium Biologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Jendral Soedirman. Purbalingga. Provinsi Jawa Tengah. Daun wungu yang diambil adalah duan segar yang berwarna ungu muda. Pembuatan simplisia Daun wungu di cuci dan ditiriskan, kemudian dipotongpotong atau dirajang kemudian diangin-anginkan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. itutup kain hita. Daun wungu yang telah kering di blender hingga halus (Farid et al. , 2. Pembuatan ekstrak etanol daun Simplisia serbuk sebanyak 1000 gram sampel daun wungu yang telah dikeringkan dimasukan ditambahkan pelarut etanol 70% sampai diatas permukaan sampel dan ditutup rapat serta terhindar dari cahaya matahari langsung. Proses perendaman dilakukan selama 3 hari sambil diaduk 1 y 24 Setelah 3 hari, campuran simplisia dan etanol disaring mengunakan kain flanel sehingga diperoleh ekstrak cair. Dipekatkan evaporator pada suhu 40-45AC dan menggunakan waterbath dengan suhu 70oC hingga diperoleh ekstrak kental (Farid et al. , 2. Ekstrak kental yang dipoleh dihitung rendemennya. Pengambilan sampel Daun wungu diperoleh dari Desa Karangasem. Kecamatan Kertanegara. Kabupaten Pembuatan gel Tahap pembuatan sediaan gel yaitu yang pertama disiapkan semua bahanbahan yang digunakan. Kemudian % Rendemen = bobot ekstrak yang diperoleh . bobot simplisia sebelum di ektraksi . x 100% Riza Mustofa dkk : Formulasi Dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Wungu (Graptopphyllumpictum L. ) Sebagai Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih bahan ditimbang sesuai dengan formula yang ada. Gel dibuat dengan cara mendispersikan HPMC dalam akuades yang telah dipanaskan pada suhu 8090AC. Metil paraben dan propil paraben dilarutkan dalam propilen glikol, kemudian campuran ekstrak daun wungu dicampur dengan basis HPMC yang telah dibuat diaduk hingga homogen kurang lebih 10-15 menit dengan pengadukan secara manual hingga berbentuk massa gel kemudian dimasukkan kedalam wadah gel (Arikumalasari et al. , 2. Tabel 1 Formula Gel Ekstrak Daun Wungu (Graptophyllum pictum (L. Formula (%) Bahan Kegunaan Ekstrak Duan Zat aktif HPMC Basis gel Propilenglikol Humektan Metilparaben 0,075 0,075 0,075 Propilparaben 0,025 0,025 0,025 Aquades ad Sumber :Ardana 2015, dengan modifikasi Evaluasi sediaan Uji organoleptik Uji organoleptik dilakukan secara visual dan dilihat secara lansung bentuk, warna, bau, dari gel yang di buat. Gel biasanya jernih dengan konsentrasi stengah padat (Farid et al. , 2. Uji homogenitas Pengujian dilakukan dengan cara sampel gel dioleskan pada keping kaca atau bahan transparan lain. Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Farid et al. , 2. Uji pH Uji menggunakan kertas pH universal dengan mencelupkan kertas pH universal ke dalam gel yang sudah diencerkan, kemudian perubahan warna yang terjadi dicocokkan dengan standar pH universal (Sina dan Komalasari, 2. Uji daya sebar Gel ditimbang sebanyak 0,50 gram kemudian diletakkan ditengah kaca bulat berskala. Di atas gel di letakkan kaca bulat lain atau bahan transparan lain dan pemberat sehingga berat kaca bulat dan pemberat 150,00 g, diamkan selama 1 menit, kemudian dicatat diameter Daya sebar gel yang baik antara 5-7 cm (Farid et , 2. Uji daya lekat Uji daya lekat dilakukan dengan meletakkan 0,5 gram gel di atas kaca obyek kemudian ditutup iberi beban beban 1 kg selama 3 Penentuan daya lekat diperlukan sampai kedua kaca obyek terlepas. Syarat daya lekat yaitu lebih dari 1 detik (Rahmawati et al. , 2. Uji viskositas Pengukuran viskositas sediaan Pengukuran viskositas sediaan sebanyak 3x dengan kecepatan 30 rpm. Nilai viskositas sediaan gel yang baik disarankan berada pada (Soemarie et al. , 2. Perlakuan terhadap hewan uji Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 7 Nomor 3 Tahun 2022 Halaman :274-288 Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus putih sebanyak 25 ekor, terdapat 5 kelompok masing masing kelompok terdiri dari 5 tikus, dengan berat badan antara 200 Sebelum pembuatan luka, tikus diaklimatisasi selama 5 hari dengan tujuan untuk membiasakan hidup pada lingkungan dan perlakuan baru. Sehari sebelum pembuatan luka, pada punggung tikus dibersihkan dari bulu sampai licin. Area yang sudah dicukur dibersihkan dengan kapas yang mengandung alkohol 70% kemudian di beri tanda pada bagian yang ingin di diistirahatkan selama 24 jam. Pada keesokan harinya, pada masing-masing . ewan uj. yang sudah ditandai kemudian disayat menggunakan pisau bisutri dengan panjang 2 cm dengan kedalaman A 0,2 cm. Pengolesan (F1: 5%. F2: 10%. F3: F4: Kontrol positif. F5: Kontrol negati. pada setiap luka sayat dilakukan sebanyak tiga kali sehari . etiap 8 ja. Kontrol negative yang digunakan adalah basis gel tanpa Kontrol positif yang digunakan adalah bioplasenton gel. Pengamatan penyembuhan luka sayat pada tikus dilakukan dengan cara melihat secara kasat mata serta mengukur panjang dan menggunakan alat jangka sorong. Pengamatan dilakukan hingga luka dinyatakan semubuh dengan Parameter yang dipakai dalam penentuan persen penyembuhan luka adalah kesembuhan luka dan durasi hari dengan pengamatan pada penurunan luas luka, dan dikur panjang atau diameter luka. Analisis Data Analisis pada pengujian dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis data one way anova yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan secara signifikan dari setiap perlakuan untuk setiap harinya (Farid et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi sampel Determinasi Determinasi daun wungu (Graptopphyllumpictum dilakukan dengan tujuan untuk tanaman yang akan dilakukan untuk penelitian (Putri et al, 2. Berdasarkan hasil determinasi di laboratorium lingkungan Fakultas Bologi Universitas Jendral Soedirman diperoleh kepastian bahwa simplisia yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis daun wungu dengan nama ilmiah Graptophyllum pictum (L. ) Griff. Pembuatan ekstrak etanol daun Pembuatan ekstrak etanol daun wungu dimulai dari pembuatan simplisia dengan sampel daun wungu sebanyak 6 kg basah di cuci terlebih dahulu, tujuannya untuk menempel pada daun wungu. Kemudian dipotong - potong atau ketebalan yang sama unuk memudahkan proses pengeringan. Pengirisan terlalu tebal membuat bahan tidak mudah kering dan lebih cepat terkontaminasi oleh mikrobia sehingga mempengaruhi kualitas (Kusumaningrum et al. , 2. Tahap selanjutnya keringkan selama 2 Ae 3 hari ditempat yang Riza Mustofa dkk : Formulasi Dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Wungu (Graptopphyllumpictum L. ) Sebagai Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih tidak terkena sinar matahari langsung . itutup menggunakan kain hita. tujuan pengeringan untuk mencegah timbuhnya bakteri dan jamur pada tahap penyimpanan (Dharma et al. , 2. Simplisia serbuk sebanyak 1000 gram sampel daun wungu yang telah dikeringkan dimasukkan kedalam wadah kaca, lalu ditambahkan pelarut etanol 70% sampai diatas permukaan sampel, penggunaan pelarut etanol 70% merupakan pelarut yang cocok flavonoid (Suhendra et al. , 2. Proses menggunakan metode maserasi yang dilakukan selama 3 hari sambil diaduk 1 y 24 jam. Maserasi dengan proses perendaman bahan dengan pelarut yang sesuai dengan senyawa aktif yang akan diambil dengan pemanasan rendah atau tanpa adanya proses pemanasan (Khairunnisa et al. Ekstraksi dengan metode maserasi terjaminnya zat aktif yang diekstrak tidak akan rusak (Chairunnisa et al. Setelah 3 hari, campuran simplisia dan etanol disaring mengunakan kain flanel sehingga diperoleh ekstrak cair, kemudian dipekatkan dengan mengunakan rotary evaporator dan kemudian dilanjut dengan menggunakan waterbath dengan suhu 70oC hingga diperoleh ekstrak kental. Tujuan penggunaan Suhu 70oC merupakan suhu yang paling (Ruzaik, 2. Ekstrak akhir yang didapakan sebesar 50,06 gram dan hasil rendemen yang didapatkan sebesar 5,00%. Hasil pada penelitian ini tidak sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa hasil maserasi dikatakan baik bila hasil rendemen >10% (Febriyanti et al. , 2. Hal ini disebabkan pada proses evaporasi, suhu yang di gunakan bukan pada suhu optimum yaitu 70AC dikarnakan pada saat penggunaan suhu 70AC ekstrak cair dalam evaporator flask terdapat gelembung yang dikhawatirkan masuk kedalam kondensor. Apabila suhu semakin tinggi dan semakin lama waktu maserasi, maka semakin tinggi rendemen yang diperoleh hingga tercapainya suhu dan waktu optimum. Akan tetapi, peningkatan suhu ekstraksi juga perlu diperhatikan, karena suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada bahan yang sedang diproses. Pembuatan gel Tahap pembuatan sediaan gel yang pertama disiapkan semua bahan (Graptopphyllumpictum (L) Griff. (HPMC) Hidroxy Propyl Methyl Cellulose, etanol 70%, metilparaben. Kemudian bahan ditimbang sesuai dengan formula. Gel dibuat dengan cara mendispersikan HPMC dalam aquades yang telah dipanaskan pada suhu 8090AC tujuanya agar HPMC muda larut dalam aquades. Metil paraben dan propil paraben dilarutkan dalam propilen glikol, kemudian campuran ekstrak daun wungu dicampur dengan basis HPMC yang telah dibuat diaduk hingga Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 7 Nomor 3 Tahun 2022 Halaman :274-288 homogen kurang lebih 10-15 menit dengan pengadukan secara manual hingga berbentuk massa gel kemudian dimasukkan kedalam wadah gel. Hasil pembuatan gel dapat dilihat pada Gambar 1 Hasil sediaan gel ekstrak daun Evaluasi sediaan Uji organoleptik Uji organoleptik adalah cara analisis karakterisik fisik dengan indra manusia untuk melihat warna, aroma atau bau, dan bentuk. Fungsinya adalah untuk penerimaan (Nugrahani et al. , 2. Hasil penelitian organoleptik dapat dilihat pada Tabel 2 Tabel 2 Uji organoleptik gel ekstrak etanol daun wungu Formula / Uji Bentu Warna Bau berbau khas berbau khas berbau khas Berbau HPMC Berbau Kental Putih Kental Bening Hasil uji organoleptis terhadap F1. F2 dan F3 menunjukkan bahwa formula tersebut memiliki sifat organoleptis yang sama yaitu bentuk sediaan semi padat, warna hijau kecoklatan dan bau khas ekstrak daun wungu. Sifat organoleptis kombinasi bahan yang digunakan yaitu HPMC, propilenglikol, metil paraben dan propil paraben yang akuades berbentuk cair sehingga dengan komposisi yang tepat dapat diperoleh sediaan semi padat dengan konsistensi tertentu. Warna sediaan dihasilkan dari ekstrak daun wungu karena bahan lain berwarna putih dan tidak berwarna. Bau sediaan dihasilkan dari ekstrak daun wungu yang memiliki bau khas dan kuat sedangkan bahan lain tidak Uji homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui homogenitas gel ekstrak daun wungu dengan melihat keseragaman partikel dalam sediaan tersebut (Rohmani dan Kuncoro. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji homogenitas dari ketiga formula sediaan gel ekstrak daun wungu dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3 Uji homogenitas gel ekstrak etanol daun wungu Formula Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Riza Mustofa dkk : Formulasi Dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Wungu (Graptopphyllumpictum L. ) Sebagai Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih Pada hasil data tersebut dapat diketahui bahwa seluruh sediaan gel pada formula 1, 2 dan 3 memiliki homogenitas yang baik dan memenuhi persyaratan sediaan, dimana disebutkan gel yang baik harus memiliki susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Farid et al. , 2. Sediaan yang homogen menjamin jumlah zat aktif yang seragam pada setiap pengambilan (Putri dan Anindhita, 2. Uji pH Uji pH bertujuan untuk untuk mengetahui gel yang dihasilkan dapat diterima pH kulit karena dapat menyebabkan iritasi kulit apabila tidak sesuai dengan pH kulit (Cahyaningsih, 2. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji pH dari ketiga formula sediaan gel ekstrak daun wungu dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Uji pH gel ekstrak etanol daun Replikasi Rata-rata 7,53 0,05 Formula 7,46 0,40 7,35 0,07 Pada hasil data tersebut dapat diketahui bahwa sediaan gel pada formula satu dengan konsentrasi 10% memiliki nilai pH yang paling besar sebesar 7,53A0,05 dan nilai pH yang paling kecil dimiliki oleh formula ke tiga dengan konsentrasi 15% sebesar 7,4A1,09. pH sediaan gel yang baik memiliki rentang 4,5 Ae 6,5. Range pH normal kulit sebesra 5,0 Ae 6,8 (Ardana et al. , 2. Berdasarkan data penelitian tersebut diketahui bahwa pengujian pH tidak sesuai dengan persyaratan pH gel dan pH kulit yang baik, hal ini disebabkan karena sifat dari eksipien yang digunakan memiliki pH yang cukup tinggi diantaranya HPMC yang memiliki nilai pH 5 Ae 8, propilenglikol memeiliki nilai pH 5 - 7,5 dan propilparaben memiliki nilai pH 4 Ae 8 (Sheskey et al. , 2. Penggunaa pH Sediaan topikal dengan pH terlalu rendah dapat mengiritasi kulit, sedangkan apabila menyebabkan kulit menjadi kering (Putri dan Anindhita, 2. Berdasarkan hasil analisis statistik one way anova menunjukan bahwa signifikan pada ke 3 formula sebesar 0,003. Uji daya sebar Uji daya sebar bertujuan untuk mengetahui seberapa baik sediaan gel menyebar di permukaan kulit, absorbsi obat dan pelepasan zat aktif di tempat pemakaiannya. Suatu sediaan yang baik dan disukai bila dapat menyebar dengan mudah di kulit dan nyaman digunakan (Ardana et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji daya sebar dari ketiga formula sediaan gel ekstrak daun wungu dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Uji daya sebar gel ekstrak etanol daun wungu Replikasi Formula 6,15 5,35 6,05 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 7 Nomor 3 Tahun 2022 Halaman :274-288 Rata-rata 6,40 0,17 6,03 0,02 5,35 0,15 Pada hasil data tersebut dapat diketahui bahwa sediaan gel yang memiliki daya sebar paling kecil pada formula 3 sebesar 5,35A0,15, dan nilai daya sebar terbesar pada formula 1 sebesar 6,4A0,17. Daya sebar gel yang baik antara 5-7 cm (Farid et al. , 2. Daya sebar kemampuan penyebaran pada kulit. Daya berpengaruh pada absorbsi zat aktif atau obat, daya sebar yang rendah berarti kontak dengan kulit kecil sehingga absorbsi zat aktif atau obat tidak akan optimal (Putri dan Anindhita, 2. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa dari ketiga formula memenuhi persyaratan daya sebar gel yang baik. Hasil analisis statistik one way anova menunjukan bahwa adanya perbedaan signifikan pada ke 3 formula sebesar 0,000. Uji daya lekat Pengujian daya lekat bertujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh gel untuk melekat di kulit. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji daya lekat dari ketiga formula sediaan gel ekstrak daun wungu dapat dilihat pada Tabel 6. 0,39 Replikasi Rata-rata 1,05 1,83 1,48 1,45 Formula 2,88 2,68 4,13 3,05 3,96 2,87 3,96 0,16 Pada hasil data tersebut dapat diketahui bahwa sediaan gel yang memiliki daya lekat paling kecil pada formula 1 sebesar 1,45A0,39, dan nilai daya sebar terbesar pada formula 3 sebesar 3,96A0,16. Penentuan daya lekat berupa waktu yang diperlukan sampai kedua kaca obyek terlepas. Syarat daya lekat yaitu lebih dari 1 detik (Irianto et al. Daya melekat pada kulit, daya lekat tinggi menandakan sediaan tidak mudah hilang (Putri dan Anindhita, 2. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa dari ketiga formula memenuhi persyaratan daya lekat gel atau sesuai standart. Hasil analisis statistik one way anova perbedaan signifikan pada ketiga formula sebesar 0,000. Uji viskositas Uji viskositas untuk melihat kekentalan dari sediaan gel yang telah dihasilkan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji viskositas dari ketiga formula sediaan gel ekstrak daun wungu dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Uji viskositas gel ekstrak etanol daun wungu Replikasi Tabel 6 Uji daya lekat gel ekstrak etanol daun wungu 0,18 Rata-rata Formula . 2339,66 41,13 2996,66 143,30 3462,66 374,50 Pada hasil data tersebut dapat diketahui bahwa sediaan gel yang Riza Mustofa dkk : Formulasi Dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Wungu (Graptopphyllumpictum L. ) Sebagai Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih memiliki viskositas paling kecil pada formula 1 sebesar 2. 33A41,13, dan nilai viskositas terbesar pada formula 3 sebesar 3. 14A32,52. viskositas gel yang baik yaitu berkisar antara 2000-4000 cP. Nilai putaran yang digunakan yaitu 50 rpm untuk melihat kekentalan dari sediaan gel (Farid et al. , 2. Viskositas menggambarkan kekentalan sediaan yang dihasilkan, pada sediaan gel yang memiliki viskositasnya tinggi dapat menandakan sediaan gel memiiki daya lekatnya yang tinggi sehingga sediaan gel akan lebih lama melekat di kulit (Putri dan Anindhita, 2. Peningkatan nilai viskositas gel dan daya lekat gel, akan mengakibatkan penurunan nilai daya sebar gel (Pramuji Afianti dan Murrukmihadi, 2. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa dari ketiga formula memenuhi persyaratan viskositas yang baik. Hasil analisis statistik one way anova menunjukan bahwa adanya perbedaan signifikan pada ke 3 formula sebesar 0,000 hal ini menunjukan dari ketiga formula memiliki kekentalan yang berbeda. Semakin besar nilai viskositasnya, maka semakin kental sediaan (Salim, 2. Perlakuan terhadap hewan uji Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus putih sebanyak 25 ekor yang terbagi dalam 5 kelompok, masing - masing kelompok terdiri dari 5 tikus, dengan berat badan antara 200 gram. Sebelum pembuatan luka, tikus diaklimatisasi selama 5 hari dengan tujuan untuk membiasakan hidup pada lingkungan dan perlakuan Sehari sebelum pembuatan luka, pada punggung tikus dibersihkan dari bulu sampai bersih. Area yang sudah dicukur dibersihkan dengan kapas yang mengandung alkohol 70%, tujuan dari Alkohol swab 70% dapat digunakan penyembuhan luka dengan cara bakteri (Suhendra et al. , 2. Kemudian diberi tanda pada bagian yang ingin di sayat selanjutnya hewan uji diistirahatkan selama 24 jam. Pada keesokan harinya, pada masing-masing . ewan uj. yang sudah ditandai kemudian disayat menggunakan pisau bisutri dengan panjang 2 cm dengan kedalaman A 0,2 cm. Pengolesan (F1: F2: 10%. F3: 15%. F4: Kontrol positif. F5: Kontrol negati. , pada setiap luka sayat dilakukan sebanyak tiga kali sehari . etiap 8 ja. Kontrol negative yang digunakan adalah basis gel tanpa ekstrak. Kontrol bioplasenton gel, alasan pengunaan Bioplacenton sebagai kontrol postif karena mengandung placenta extract dan neomycin sulfate. Kombinasi ini merupakan bagian dari perawatan luka yang sangat efektif, placenta extract Aubiogenic stimulatorAy memegang peranan penting dalam mempercepat regenerasi sel dan neomycin sulfate bekerja sebagai antibiotik yang mampu membunuh beragam jenis kuman dengan daya kerja yang tidak terganggu oleh nanah (Ningsih et al. , 2. Pengamatan penyembuhan luka dilakukan menggunakan alat jangka Pengamatan dilakukan hingga luka dinyatakan sembuh dengan Parameter penentuan persen penyembuhan luka Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 7 Nomor 3 Tahun 2022 Halaman :274-288 adalah kesembuhan luka dan durasi hari dengan pengamatan pada penurunan luas luka, dan dikur panjang atau diameter luka apakah semakin kecil atau tambah besar kemudian dimasukan kedalam rumus persen peneymbuhan % Penyembuahn luka = Area penyembuhan Area luka awal x 100% Berdasarkan parameter durasi hari hasil penyembuhan luka sayat pada tikus putih sediaan gel Ekstrak daun wungu pada formula 2 dengan konsentrasi 10% paling baik dalam penyembuhan luka sayat dibandingkan dengan formula 3 dan 1 dengan konsetrasi 15% dan 5%. Jumlah ekstrak pada setiap konsentrasi yang berbeda, dimana semakin banyak ekstrak yang ditambahkan maka bahan tambahan yang dimasukkan juga akan berkurang begitupula sebaliknya. Akan tetapi, semakin banyak ekstrak dalam sediaan tidak memastikan akan memberikan efek yang paling baik (Azzahrah et al. Kandungan yang terdapat ekstrak daun wungu seperti saponin, flavonoid serta tanin dapat membantu proses penyembuhan luka, flavonoid berfungsi sebagai antioksidan, antimikroba dan juga antiinflamasi pada luka, saponin dan tanin berperan dalam regenerasi jaringan dalam proses penyembuhan Kandungan saponin mempunyai kemampuan sebagai pembersih atau antiseptik (Kusumawardani et al. Pengunaan Bioplacenton sebagai kontrol postif karena mengandung placenta extract dan neomycin sulfate. Kombinasi ini merupakan bagian dari perawatan luka yang sangat efektif, placenta extract sebagai Aubiogenic stimulatorAy memegang peranan penting dalam mempercepat regenerasi sel dan neomycin sulfate bekerja sebagai antibiotik yang mampu membunuh beragam jenis kuman dengan daya kerja yang tidak terganggu oleh nanah (Ningsih et al. , 2. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa dari ketiga penyembuhan luka. Hasil menunjukan hasil tidak signifikan sebesar 0,214 selanjutnya dilanjutkan menggunakan uji lanjutan LSD dan didapatkan pada Formula 2 dan Formula 3 terdapat perbedaan signifikan sebesar 0,043 kemudian formula 3 dan kontrol negatif terdapat perbedaan signifikan sebesar 0,041. SIMPULAN Hasil evaluasi sifat fisik dari sediaan gel (Graptopphyllumpictum L. ) pada uji oganoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, daya lekat dan viskositas semua memiliki hasil yang memenuhi standar. Pada pengujian pH tidak memenuhi standar, hal ini disebabkan karena sifat dari eksipien yang digunakan memeiliki pH yang cukup tinggi diantaranya HPMC. Propilenglikol Propilparaben. Konsentrasi yang paling baik dari ke 3 formula ekstrak etanol daun wungu (Graptopphyllumpictum sediaan gel yang memiliki aktivitas menyembuhkan luka sayat terhadap tikus putih berdasarkan parameter durasi hari pada formula 2 dengan konsentrasi 10% paling baik dalam penyembuhan luka sayat. SARAN Berdasarkan penelitian yang telah Riza Mustofa dkk : Formulasi Dan Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Wungu (Graptopphyllumpictum L. ) Sebagai Penyembuhan Luka Sayat Pada Tikus Putih dilakukan pada pembuatan sediaan gel perlu dilakukan pemilihan eksipien yang lebih menyeluruh terutama yang dapat meingkatkan pH pada sediaan gel dan dilakukan lagi pengujian Skrining serta Stabilitas gel pada penelitian selanjutnya. UCAPAN TERIMA KASIH