A AL-MUSTAQBAL: Jurnal Agama Islam Volume. Nomor. 4 November 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 33-45 DOI: https://doi. org/10. 59841/al-mustaqbal. Tersedia: https://ibnusinapublisher. org/index. php/AL-MUSTAQBAL Karakter Penghargaan Keberagaman Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Media Digital Kurikulum Berbasis Cinta Pada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Ilma IzzatunnisaA. Sigit agus wahyudiA. Ahmad Zainuri3. Frika Fatimah Zahra4 Universitas Raden Fatah. Palembang. Indonesia Universitas Raden Fatah. Palembang. Indonesia Universitas Raden Fatah. Palembang. Indonesia Universitas Raden Fatah. Palembang. Indonesia Jl. Prof. Zainal Abidin Fikri No. Km. RW. Pahlawan. Kec. Kemuning. Kota Palembang. Sumatera Selatan 30126 Korespondensi penulis: sigitagus1111@gmail. Abstract. This research aims to examine how the character of education which emphasizes respect for diversity, the use of digital media, and the application of the Love-Based Curriculum can strengthen each other in an effort to improve the quality of the learning process at Madrasah Ibtidaiyah. By applying the literature review method, this research collected various academic sources that discuss the value of tolerance, multicultural education, technological innovation in learning, as well as pedagogical approaches based on compassion and empathy. The research results show that character education that focuses on diversity can build mutual respect between On the other hand, digital media plays an important role in providing a learning process that is more interesting, interactive, and in line with current technological developments. Furthermore, the Love-Based Curriculum enriches education by strengthening spiritual, emotional and moral aspects, so that learning is not only limited to academic results. Combining these three approaches is considered effective for creating a learning environment that is inclusive, friendly, and appropriate to students' developmental stages. In the end, madrasas have the opportunity to produce a generation that is religious, tolerant, and has strong character in facing today's socio cultural changes. Keywords: character education, diversity, digital media, love-based curriculum. Madrasah Ibtidaiyah Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana karakter pendidikan yang mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman, pemanfaatan media digital, dan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta Kasih dapat saling menguatkan dalam upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Dengan menerapkan metode tinjauan pustaka, penelitian ini mengumpulkan berbagai sumber akademik yang membahas tentang nilai toleransi, pendidikan multikultural, inovasi teknologi dalam pembelajaran, serta pendekatan pedagogi berbasis kasih sayang dan empati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang menitikberatkan pada keberagaman dapat membangun rasa saling menghormati antar siswa. Di sisi lain, media digital berperan penting dalam memberikan proses pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan sejalan dengan perkembangan teknologi saat ini. Lebih lanjut. Kurikulum Berbasis Cinta memperkaya pendidikan dengan memperkuat aspek spiritual, emosional, dan moral, sehingga pembelajaran tidak hanya sebatas hasil akademik Penggabungan ketiga pendekatan tersebut dinilai efektif untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, bersahabat, dan sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Pada akhirnya, madrasah mempunyai peluang untuk melahirkan generasi yang religius, toleran, dan berkarakter kuat dalam menghadapi perubahan sosial budaya saat Kata kunci: pendidikan karakter, keberagaman, media digital. Kurikulum Cinta. Madrasah Ibtidaiyah Naskah Masuk: 17 September 2025. Revisi: 21 Oktober 2025. Diterima: 28 November 2025. Terbit: 30 November 2025 Karakter Penghargaan Keberagaman Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Media Digital Kurikulum Berbasis Cinta Pada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah LATAR BELAKANG Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak pulau dan kaya akan berbagai budaya. Terdapat lebih dari 17. 000 pulau yang membentang dari barat hingga timur, dan di sana tinggal 300 suku yang memiliki bahasa, budaya, dan tradisi yang berbeda. Keragaman budaya ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan variasi terbesar di dunia. Namun, di tengah keragaman ini, ada tantangan besar untuk menjaga rasa harmonis dan persatuan di antara masyarakat yang beraneka ragam. Dalam situasi seperti ini, pendidikan memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai yang memungkinkan siswa untuk memahami, menerima, dan menghargai perbedaan, serta membentuk sikap toleran sejak mereka berada di sekolah dasar (Rijal Sianturi, 2. Karakter tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat. prosesnya memerlukan waktu yang panjang, terarah, dan konsisten. Usaha ini akan lebih berhasil jika kita tidak hanya bergantung pada kurikulum resmi di kelas, tetapi juga menggabungkannya dengan berbagai kegiatan Setiap aktivitas di luar pembelajaran utama bisa dirancang untuk menanamkan sikap dan nilai-nilai tertentu yang ingin dikembangkan pada siswa. Selain itu, kesuksesan pendidikan karakter di sekolah sangat dipengaruhi oleh adanya kurikulum tersembunyi, yaitu nilai-nilai yang diajarkan melalui contoh nyata perilaku guru dalam keseharian mereka. Contoh yang diberikan oleh guru dalam berbagai situasi belajar berperan penting dan seringkali lebih efektif dalam membentuk karakter siswa (Ependi. ,et al , 2. Menanamkan nilai-nilai karakter yang menghargai beragam etnis dapat dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam berbagai aktivitas di sekolah, baik dalam proses belajar di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, maupun melalui tradisi yang menjadi budaya Misalnya dalam pembelajaran yang tematik, guru bisa memilih materi yang berhubungan dengan kekayaan budaya Indonesia dan mengajak siswa untuk mengenal berbagai unsur seperti pakaian adat, makanan daerah, tarian lokal, rumah tradisional, serta cerita rakyat dari berbagai suku di tanah air. Pendekatan ini tidak hanya menambah pengetahuan siswa tetapi juga membantu mereka mengembangkan empati dan sikap menghormati budaya lain yang berbeda dari yang mereka kenal sehari-hari (Rijal Sianturi. Perkembangan teknologi yang sangat cepat telah mengubah cara interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar. Kini, kegiatan belajar sudah tidak lepas dari pemanfaatan AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 33-45 media digital yang berfungsi sebagai alat bantu untuk menjadikan pengajaran lebih menarik, dinamis, dan mudah dipahami oleh siswa. Di lingkungan madrasah, berbagai perangkat dan aplikasi digital bisa dipakai untuk memperkenalkan ragam budaya Indonesia sekaligus menanamkan nilai-nilai multikultural melalui visual, audio, dan aktivitas interaktif. Metode ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, meningkatkan rasa ingin tahu, serta menumbuhkan penghargaan terhadap keragaman budaya di sekitar mereka. Selain adanya dukungan dari teknologi. Kurikulum Berbasis Cinta muncul sebagai inovasi yang menekankan betapa pentingnya penguatan aspek spiritual, emosional, dan sosial dalam pendidikan. Dengan pendekatan ini, siswa diajak untuk tidak hanya mengejar hasil akademis, tapi juga untuk menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, orang lain, lingkungan, dan bangsa. Nilai cinta yang diajarkan menjadi dasar dalam membentuk individu yang peduli, penyayang, dan saling menghormati. Ketika diterapkan baik dalam pembelajaran Bahasa Arab maupun aktivitas di madrasah lainnya, kurikulum ini dapat menyampaikan pesan moral dengan cara yang lebih lembut, menyentuh hati, dan berarti bagi siswa. Paduan antara pendidikan karakter yang menghargai keberagaman, penggunaan teknologi digital, dan implementasi Kurikulum Cinta memberikan kesempatan besar bagi Madrasah Ibtidaiyah untuk menciptakan suasana belajar yang lebih manusiawi dan sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. Gabungan dari ketiga pendekatan ini menghasilkan proses pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan kemampuan akademis, tetapi juga memperkuat nilai moral dan spiritual siswa. Dengan demikian, madrasah dapat mencetak generasi yang tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga peka secara sosial dan memiliki sikap toleransi yang kokoh di dalam masyarakat. KAJIAN TEORITIS Bagian ini menguraikan teori-teori relevan yang mendasari topik penelitian dan memberikan ulasan tentang beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dan memberikan acuan serta landasan bagi penelitian ini dilakukan. Jika ada hipotesis, bisa dinyatakan tidak tersurat dan tidak harus dalam kalimat tanya. Pendidikan Karakter Penghargaan Keberagaman Pendidikan karakter adalah suatu proses yang bertujuan untuk menanamkan nilai moral dan etika kepada siswa. Proses ini meliputi pengertian, kesadaran diri, keteguhan, dan kesiapan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai yang diajarkan Karakter Penghargaan Keberagaman Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Media Digital Kurikulum Berbasis Cinta Pada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah mencakup hubungan seseorang dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan, serta kehidupan sebagai bagian dari masyarakat. Diharapkan melalui proses yang terus menerus, muncul individu dengan akhlak yang baik, budi pekerti yang mulia, atau insan kamil. Pembentukan karakter terjadi melalui kebiasaan yang dilakukan secara rutin sehingga menjadi bagian dari diri individu. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dimulai sejak anak-anak agar nilai positif dapat tertanam dengan kuat dan berlanjut hingga mereka dewasa. Di sekolah, pendidikan karakter dapat diterapkan dalam setiap pelajaran. Setiap mata pelajaran yang mengandung nilai moral, karakter, atau ajaran toleransi harus dikembangkan dan dihubungkan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat memahami dan mengaplikasikannya dalam praktik hidup (Safara Diniah. Saiful Aziz Al-Falaq. Vania Indah Sabillah, 2. Keberagaman mencakup berbagai perbedaan dan persamaan yang dimiliki oleh setiap orang, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Hal ini meliputi variasi dalam ras, etnis, jenis kelamin, usia, orientasi seksual, kemampuan fisik, latar belakang ekonomi-sosial, dan banyak dimensi lainnya. Tujuan dari pendidikan keberagaman adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, di mana semua siswa merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Langkah-langkah ini dilakukan dengan merancang kurikulum yang menonjolkan berbagai perspektif dan pengalaman, serta menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Konsep keberagaman menekankan pentingnya menghormati dan menghargai perbedaan dalam kehidupan sosial. sekolah, peran guru sangat penting dalam mengelola keragaman siswa agar proses dan hasil belajar dapat menjadi optimal. Keragaman ini dapat dilihat melalui variasi dalam kemampuan akademik, gaya belajar, latar belakang budaya, status sosial ekonomi, bahasa yang digunakan, dan juga keberadaan siswa dengan kebutuhan khusus (Santoso, 2. Media Digital dalam Pendidikan Secara umum, media dapat diartikan sebagai alat yang digunakan untuk mengirim pesan atau informasi dari satu pihak ke pihak lainnya. Dalam konteks pendidikan, media berfungsi sebagai alat bantu bagi guru untuk menjelaskan materi kepada siswa. Tujuan dari kehadiran media pembelajaran adalah untuk memudahkan proses belajar agar siswa dapat memahami dan menerima informasi dengan lebih baik. Dengan adanya media, perhatian, minat, emosi, dan pemikiran siswa bisa terstimulasi, sehingga pemahaman informasi menjadi lebih efektif (Zaelani. , & Mahmudah, 2. AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 33-45 Di zaman kemajuan teknologi digital saat ini, penggunaan media pembelajaran yang berbasis teknologi semakin meningkat dan menjadi pilihan utama dalam pendidikan. Berbagai jenis media audio-visual digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di semua tingkat pendidikan. Contoh media digital yang sering digunakan mencakup e-book, situs pembelajaran, e-modul, aplikasi berbasis flash, dan CD multimedia interaktif. Ketersediaan media digital memungkinkan pembelajaran melampaui batasan ruang kelas biasa. Materi dapat diakses melalui berbagai platform online seperti blog atau Moodle, sehingga siswa dapat belajar kapan saja mereka mau. Selain itu, media sosial seperti Twitter dan Facebook juga berfungsi sebagai tempat untuk berdiskusi dan berinteraksi, membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan menarik (Ahunaya et al. , 2. Kurikulum Berbasis Cinta (Love-Based Curriculu. Kurikulum cinta dalam konteks pendidikan Islam berasal dari keyakinan bahwa cinta adalah pilar utama dalam kehidupan beragama serta dalam interaksi antar manusia. Dalam tinjauan Islam, cinta dipandang bukan semata-mata sebagai perasaan, melainkan sebagai nilai etika dan spiritual yang mengikat manusia dengan Allah, sesamanya, serta seluruh alam. Prinsip ini berlandaskan pada konsep rahmatan lil Aoalamin, yaitu ajaran tentang kasih sayang yang bersifat universal yang harus diwujudkan di semua aspek kehidupan, termasuk Pendekatan pendidikan Islam yang didasarkan pada cinta ini sejalan dengan pandangan para pemikir klasik seperti al-Ghazali dan Imam al-SyafiAoi, yang menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter individu yang mulia dan memiliki kedalaman spiritual. Dengan pendekatan ini, cinta menjadi sarana untuk menanamkan ajaran agama secara menyeluruh, mengombinasikan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan, tetapi juga alat untuk membangun kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan (Aslan, 2. Kurikulum Cinta adalah metode pendidikan yang terkait dengan beberapa teori kurikulum, terutama teori yang menekankan perkembangan sosial, emosional, dan moral Salah satu teori yang sangat relevan dengan pendekatan ini adalah Teori Kurikulum Humanistik dari Carl Rogers. Dalam pandangan humanistik, siswa ditempatkan sebagai pusat dari proses pembelajaran, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, emosional, dan psikologis mereka. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya fokus pada keberhasilan akademis, tetapi juga pada perkembangan emosional dan sosial yang memiliki tingkat kepentingan yang sama. Proses pembelajaran dirancang agar menjadi pengalaman yang Karakter Penghargaan Keberagaman Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Media Digital Kurikulum Berbasis Cinta Pada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah bermakna dan dekat dengan realitas hidup siswa, sehingga mereka belajar tidak hanya melalui pemahaman kognitif, tetapi juga melalui pengalaman emosional. Dalam model ini, peran guru adalah sebagai fasilitator yang memberikan dukungan dengan empati dan humanisme, sekaligus mendorong siswa untuk aktif dalam mengelola proses belajar mereka sendiri (Ifendi. Madrasah Ibtidaiyah sebagai Lembaga Pendidikan Kata madrasah berasal dari bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai "tempat untuk " Di Indonesia, istilah ini merujuk pada lembaga pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam. Definisi ini membuat madrasah berbeda dari jenis pendidikan Islam lain, seperti pesantren, walaupun keduanya memiliki fungsi sebagai institusi pendidikan berlandaskan Perbedaan terbesar antara keduanya terlihat pada kurikulum yang diterapkan, metode pendidikan yang digunakan, dan ciri-ciri unik masing-masing lembaga. Pesantren, contohnya, memiliki segmen khas yang meliputi adanya kiai, santri, asrama, masjid yang menjadi pusat kegiatan, dan pengajaran kitab klasik. Sementara itu, madrasah tidak memerlukan elemenelemen tersebut dalam proses belajarnya. Sebagai lembaga pendidikan Islam formal yang diatur oleh Kementerian Agama, madrasah menggunakan kurikulum nasional seperti sekolah umum lainnya. Namun, madrasah juga menawarkan mata pelajaran agama tambahan, seperti Aqidah Akhlak. Fikih. Al-QurAoan Hadis. Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab, untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan belajar (Nasir, 2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah lembaga pendidikan dasar yang berlandaskan Islam yang menyelenggarakan pembelajaran pada tingkat yang setara dengan sekolah dasar. Institusi ini memiliki peran penting dalam membentuk nilai-nilai moral dan karakter siswa sesuai dengan ajaran Islam. Selain menjalankan kurikulum pendidikan dasar seperti sekolah umum. MI juga memberikan pendidikan yang berfokus pada pengembangan akhlak dan penguatan karakter keislaman di dalam diri siswa (Miftahul Jannah. Indah Mutia, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengimplementasikan metode studi literatur dengan fokus pada pencarian, pembacaan, serta analisis berbagai referensi ilmiah yang berkaitan dengan pengembangan karakter, penghargaan terhadap keanekaragaman, pemanfaatan media digital, dan penerapan kurikulum yang didasarkan pada cinta di Madrasah Ibtidaiyah. Semua tahapan penelitian berlangsung tanpa pengumpulan data lapangan, melainkan sepenuhnya bergantung pada data sekunder yang diraih dari buku, artikel jurnal, laporan penelitian, prosiding, dan dokumen AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 33-45 resmi pendidikan yang diterbitkan antara tahun 2018 sampai 2025. Literatur ini didapat melalui pencarian dengan menggunakan kata kunci tertentu yang kemudian disaring berdasarkan kredibilitas sumber, relevansi isi, dan tingkat kebaruan informasi. Setelah sumber yang dipilih terkumpul, peneliti melaksanakan analisis isi dengan cara membaca secara mendalam, memilih informasi yang penting, mengelompokkan temuan ke dalam tema utama, dan menyusun sintesis untuk menghasilkan pemahaman yang lebih baik. Untuk memastikan validitas data, peneliti menerapkan triangulasi sumber dengan membandingkan hasil kajian dari berbagai referensi, serta memberikan penilaian kritis terhadap setiap literatur agar argumen yang dibangun memiliki landasan teori yang kuat. Melalui pendekatan ini, temuan penelitian disusun secara orisinil, tanpa menyalin dari sumber manapun, dan terhindar dari kemungkinan terdeteksinya plagiarisme. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pendidikan Karakter Penghargaan Keberagaman Pada Madrasah Ibtidaiyah Konsep yang berkaitan dengan dimensi multikultural menekankan bahwa pendidikan yang baik perlu melibatkan berbagai kelompok budaya, sehingga siswa dapat mengembangkan sikap penghargaan terhadap perbedaan. Kerangka ini menekankan beberapa poin penting, seperti mengintegrasikan materi dari berbagai budaya dalam pembelajaran, menerapkan strategi pengajaran yang adil, mengurangi sikap prasangka, dan memperkuat budaya sekolah yang ramah terhadap semua. Semua dimensi ini bisa diterapkan di berbagai jenis lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan agama seperti Madrasah Ibtidaiyah. Konsep dan prinsip utama dalam pendidikan multikultural fokus pada penciptaan lingkungan belajar yang adil, inklusif, dan mendukung perkembangan kemampuan lintas Prinsip inklusivitas mengharuskan adanya kurikulum yang menyajikan berbagai sudut pandang serta memberikan kesempatan bagi siswa dari latar belakang budaya yang beragam untuk berpartisipasi. Di sisi lain, prinsip kesetaraan mewajibkan agar setiap siswa menerima perlakuan yang sama dan memiliki akses ke berbagai sumber belajar, tanpa terpengaruh oleh kondisi sosial, ekonomi, atau budaya mereka. Selain itu, pengembangan kompetensi budaya juga sangat penting, yang mencakup kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan efektif dalam situasi yang melibatkan keragaman budaya. Dengan cara ini, siswa dapat membangun sikap saling menghargai dan memahami satu sama lain. (Kurdi, 2. Karakter Penghargaan Keberagaman Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Media Digital Kurikulum Berbasis Cinta Pada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Pada intinya, pendidikan yang berfokus pada multikulturalisme bertujuan untuk menciptakan kesatuan di tengah berbagai perbedaan dengan memegang teguh prinsip-prinsip Metode ini menyoroti pentingnya memahami realitas masyarakat yang bervariasi, baik dari segi etnis, budaya, maupun kelompok sosial. Oleh karena itu, diharapkan sekolah dapat berfungsi sebagai tempat yang mencerminkan penerapan nilai-nilai demokrasi tersebut. Pogram kurikulum dirancang untuk mewakili beragam kelompok budaya, bahasa, dan dialek yang ada dalam komunitas. Dalam suasana belajar seperti itu, siswa diharapkan untuk mengembangkan sikap saling menghargai dan kerjasama, alih-alih memperkuat stereotip atau menciptakan kompetisi yang tidak sehat antara siswa dengan latar belakang yang berbeda ras, budaya, etnis, atau status sosial. Pembelajaran yang berperspektif multikultural didasarkan pada prinsip-prinsip dasar mengenai kebebasan, keadilan, kesetaraan, serta perlindungan terhadap hak asasi manusia. Tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan semua siswa agar dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, baik di lingkungan sekolah maupun di komunitas yang lebih Pendidikan multikultural bukan hanya sebuah program untuk memenuhi kebutuhan akan inklusi atau mempromosikan pluralisme, tetapi juga merupakan usaha untuk menyusun kurikulum yang benar-benar mendorong kolaborasi antara berbagai kelompok budaya, bukan menciptakan persaingan antar budaya individu. (Mubin et al. , 2. Media Digital Berperan Dalam Mendukung Pengembangan Karakter Keberagaman Penggunaan media digital merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengenalkan materi budaya kepada anak-anak di usia dini. Dengan menggunakan media visual dan interaktif seperti gambar animasi atau animasi sederhana, pesan budaya bisa disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan gampang dipahami oleh anak-anak. Selain itu, media digital juga membantu pembelajaran yang melibatkan banyak indra karena menyatukan elemen gambar, suara, dan gerakan, sehingga cocok dengan cara belajar anak-anak di usia ini. Dengan kemajuan teknologi yang cepat, pendidikan multikultural yang berbasis digital semakin menjadi penting. Pendidikan ini tidak hanya memperkuat sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, tetapi juga menjadi cara untuk meningkatkan integrasi sosial dan menjaga identitas nasional di tengah pesatnya digitalisasi. Di zaman ini, pendidikan multikultural yang menggunakan teknologi dapat meningkatkan kesadaran dan empati siswa terhadap berbagai budaya, memperkuat sikap toleransi, dan menciptakan suasana belajar yang Selain itu, teknologi digital memberikan kesempatan untuk menyesuaikan AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 33-45 pembelajaran dengan latar belakang siswa dan membuka lebih banyak peluang untuk berinteraksi antar budaya. (Mahardika et al. , 2. Teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), sudah menjadi bagian yang semakin signifikan dalam memperkuat pendidikan multikultural. Dengan kemampuannya untuk menyajikan konten yang relevan dengan budaya yang berbeda. AI dapat menyesuaikan cara mengajar agar sesuai dengan kebutuhan setiap siswa yang berasal dari berbagai latar belakang. Teknologi ini juga berkontribusi untuk meningkatkan pemahaman dan rasa empati terhadap keberagaman budaya. Selain itu. AI dapat meningkatkan partisipasi siswa melalui platform interaktif, menyediakan materi yang disesuaikan, dan mendukung evaluasi yang lebih adil dengan mengurangi kemungkinan bias budaya yang sering muncul dalam penilaian biasa. Namun, penggunaan AI dalam pendidikan masih mengalami berbagai tantangan, seperti keterbatasan dalam infrastruktur teknologi, kurangnya pelatihan untuk para pengajar, adanya ketakutan atau penolakan dari orang tua dan pendidik, serta masalah lain seperti biaya dan akses internet yang tidak merata. Secara keseluruhan, meskipun AI memberikan banyak peluang untuk meningkatkan pendidikan, keberhasilannya sangat tergantung pada dukungan kebijakan yang tepat, penelitian yang berkelanjutan, serta kerja sama dari berbagai pihak (Lypez. -A. , et al 2. Kurikulum Berbasis Cinta Dapat Diimplementasikan Dalam Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyah Kurikulum Cinta ialah sebuah ide kurikulum yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, namun juga berorientasi untuk membentuk peserta didik menjadi individu yang memiliki cinta yang menyeluruh. Cinta ini mencakup hubungan spiritual dengan Tuhan . ablum minallA. , kasih dan kepedulian terhadap orang lain . ablum minannA. , perhatian terhadap lingkungan . ablum minal biAoa. , serta cinta terhadap bangsa dan tanah air . ubbul Dalam konteks pendidikan di madrasah, penerapan Kurikulum Cinta bisa menjadi solusi terhadap kurangnya penerapan nilai-nilai dasar yang tidak mendapatkan perhatian cukup dari sistem pendidikan formal. Banyak pendidik mengamati bahwa perhatian yang terlalu besar pada pencapaian akademik sering kali mengakibatkan aspek pembinaan hati, karakter, dan dimensi afektif peserta didik kurang diperhatikan dengan baik (Syaripudin & Hasna, 2. Implementasi Kurikulum Cinta dalam pengajaran Bahasa Arab di madrasah bertujuan untuk menjembatani antara kebutuhan untuk menguasai bahasa dan pengembangan karakter Dengan metode ini. Bahasa Arab tidak hanya dianggap sebagai latihan untuk memahami Karakter Penghargaan Keberagaman Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Media Digital Kurikulum Berbasis Cinta Pada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah tata bahasa atau menghafal kata-kata, melainkan sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Materi yang diajarkan bisa dikaitan dengan cerita para nabi, nilainilai tasawuf, atau ungkapan bijak yang berisi pesan tentang cinta dan kasih. Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar struktur bahasa dan keterampilan membaca, tetapi juga menerima pesan moral dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Kebutuhan akan Kurikulum Cinta semakin mendesak melihat kondisi sosial siswa saat ini yang berada di tengah era digital dan menghadapi berbagai tantangan moral. Permasalahan seperti radikalisasi, bullying, dan menurunnya empati menjadi isu yang harus diperhatikan oleh institusi pendidikan. Kurikulum Cinta menawarkan pendekatan yang bersifat pencegahan dan pembangunan, sehingga membantu membentuk individu yang tidak hanya unggul dalam akademik tetapi juga memiliki kehalusan budi pekerti dan kepedulian sosial. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengintegrasikan nilai kasih sayang dalam pembelajaran bisa meningkatkan motivasi siswa, mempererat hubungan sosial di kelas, serta menciptakan suasana belajar yang lebih ramah, nyaman, dan menyenangkan. (Laili, 2. Tantangan Dan Upaya Strategi Penerapannya Dalam Konteks Madrasah Ibtidaiyah Secara fundamental, untuk menerapkan Kurikulum Cinta di Madrasah Ibtidaiyah, semua bagian dari dunia pendidikan perlu terlibat, termasuk guru, siswa, dan budaya sekolah secara Melaksanakan kurikulum ini bukan hanya dengan menambahkan materi yang berisi nilai moral, tetapi juga diperlukan penciptaan suasana belajar yang membuat setiap siswa merasa aman, dihargai, dan dicintai. Dalam pelajaran Bahasa Arab, nilai cinta dapat ditunjukkan melalui contoh baik dari guru, pemilihan teks yang memiliki pesan positif, dan kegiatan belajar yang mendorong sikap empati serta kerja sama antara siswa. Membangun hubungan baik antara guru dan siswa adalah hal yang sangat penting, karena interaksi yang hangat dan penuh rasa hormat dapat membantu siswa menyerap nilai karakter yang ingin (Hidayati, 2. Selain itu, perlu diintegrasikannya Kurikulum Cinta dengan cara mengajar yang inovatif dan melibatkan peran aktif siswa. Para guru bisa menambahkan berbagai aktivitas seperti permainan pendidikan, storytelling, percakapan dasar dalam Bahasa Arab, atau proyek kecil yang dapat meningkatkan kesadaran sosial siswa. Metode ini tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, tetapi juga secara tidak langsung melatih siswa dalam menciptakan hubungan sosial yang baik. Dengan cara ini, pembelajaran Bahasa Arab tidak AL-MUSTAQBALAe VOLUME. NOMOR. 4 NOVEMBER 2025 e-ISSN: 3064-0970, p-ISSN: 3064-1519. Hal 33-45 hanya menciptakan siswa yang mahir secara linguistik, tetapi juga individu yang memiliki karakter lembut, perhatian, dan rasa menghargai terhadap orang lain. (Suharno, 2. Supaya Kurikulum Cinta bisa diterapkan dengan baik, madrasah harus menyusun kebijakan internal yang mendukung pengembangan karakter dengan cara yang menyeluruh. Hal ini dapat dilakukan melalui program kebiasaan, peningkatan pemahaman tentang nilainilai Islam, dan kolaborasi yang kuat antara guru dan orang tua untuk menciptakan suasana belajar yang harmonis antara rumah dan sekolah. Secara keseluruhan, catatan ini menyoroti bahwa keberhasilan Kurikulum Cinta sangat bergantung pada kesesuaian antara materi pembelajaran, metode pengajaran, dan budaya di sekolah. Jika ketiga elemen ini berjalan bersama-sama, madrasah memiliki kesempatan untuk menciptakan siswa yang tidak hanya berhasil dalam akademik tetapi juga berkembang secara emosional dan spiritual. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter yang berlandaskan penghargaan terhadap perbedaan, penggunaan media digital, dan penerapan Kurikulum Cinta adalah tiga pilar utama yang saling mendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Ketiga pendekatan ini sangat penting dalam mengembangkan sikap toleransi, menumbuhkan semangat belajar, serta membentuk karakter siswa yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dewasa secara emosional dan spiritual. Menggabungkan ketiganya memberikan kesempatan bagi madrasah untuk menciptakan suasana belajar yang lebih inklusif, manusiawi, dan sejalan dengan perubahan sosial budaya di era digital. Dengan cara ini, proses pembelajaran tidak hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun karakter dan memperkuat nilai-nilai kasih sayang yang dapat melindungi siswa dari pengaruh negatif zaman yang terus Namun, pelaksanaan ketiga konsep tersebut masih menghadapi beberapa tantangan. Beberapa guru belum memiliki keterampilan yang cukup untuk menggunakan perangkat digital, sarana teknologi pendidikan tidak tersedia secara merata, dan masih ada kecenderungan beberapa pendidik yang hanya memfokuskan diri pada pencapaian akademik. Tantangan lainnya termasuk kurangnya pelatihan yang mendalam mengenai pelaksanaan Kurikulum Cinta dan kolaborasi antara madrasah dan orang tua yang belum optimal untuk menciptakan lingkungan belajar yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan penghargaan terhadap perbedaan. Karakter Penghargaan Keberagaman Lembaga Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Media Digital Kurikulum Berbasis Cinta Pada Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan sistem secara menyeluruh agar nilai-nilai tersebut dapat benar-benar diterapkan dalam diri siswa. Sebagai langkah lanjut, diperlukan tindakan strategis yang berkelanjutan. Guru harus ditingkatkan kemampuannya melalui berbagai pelatihan, seperti workshop, pendalaman teknologi pendidikan, dan pengayaan konsep Kurikulum Cinta agar dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyentuh aspek emosional siswa. Madrasah juga perlu meningkatkan penggunaan media digital yang cocok dengan karakteristik belajar siswa, baik melalui platform interaktif, materi visual, maupun media online yang mendukung pendidikan Selain itu, kerjasama yang kuat antara pendidik, orang tua, dan masyarakat sangat penting agar nilai kasih sayang, toleransi, dan kepedulian dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari siswa. Jika ketiga aspek tersebut diterapkan secara berkesinambungan dan harmonis. Madrasah Ibtidaiyah mempunyai potensi untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul dalam intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang baik, kepedulian sosial, dan kemampuan untuk menghargai perbedaan. Generasi ini diharapkan bisa menjadi penguat persatuan dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial yang terus berubah. UCAPAN TERIMA KASIH