Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Sosialisasi Pencegahan Skabies Pada Suku Waekolo Dusun Darlale Desa Wamlana Kecematan Fena Leisela Kabupaten Buru Zulfikar Lating1*. Herlien Sinay2 Program Studi Kesehatan Masyarakat. STIKes Maluku Husada. Maluku Email: fikarlating066@gmail. Abstrak Skabies merupakan salah satu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei yang banyak ditemukan pada lingkungan dengan kondisi kebersihan yang kurang memadai serta keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan, di mana kelompok masyarakat yang tinggal di pedesaan maupun komunitas adat sering kali menjadi kelompok yang rentan terhadap kejadian penyakit ini. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta keterampilan masyarakat Suku Waekolo Dusun Darlale Desa Wamlana Kecamatan Fena Leisela Kabupaten Buru dalam pencegahan penyakit skabies melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi kesehatan. Metode kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif berupa penyuluhan, diskusi kelompok, serta praktik sederhana mengenai perilaku hidup bersih dan sehat yang relevan dengan upaya pencegahan skabies. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai penyebab, cara penularan, gejala, dan langkah pencegahan skabies. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat lebih terampil dalam menerapkan perilaku hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan demi menurunkan angka kejadian skabies. Keywords: Pencegahan skabies. Suku Waekolo PENDAHULUAN Suku Waekolo merupakan salah satu komunitas adat yang bermukim di Kabupaten Buru, tepatnya di Dusun Darlale. Desa Wamlana. Kecamatan Fena Leisela. Masyarakat Waekolo dikenal dengan kehidupan sosial yang masih sangat erat dengan tradisi leluhur, pola pertanian subsisten, serta keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan. Kondisi geografis yang berada di pedalaman menjadikan suku ini relatif terisolasi dari pelayanan publik, termasuk layanan kesehatan dasar. Situasi ini berimplikasi pada tingginya kerentanan terhadap penyakit menular, termasuk skabies. Skabies, atau dikenal dengan kudis, merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei. Penularannya sangat mudah terjadi, terutama pada masyarakat dengan tingkat pengetahuan kesehatan rendah dan kebiasaan hidup yang tidak Berdasarkan wawancara awal, sebagian besar masyarakat Waekolo masih belum memahami mekanisme penularan dan cara pencegahan skabies, sehingga penyakit ini sering dianggap sebagai kondisi biasa yang tidak memerlukan penanganan medis. Faktor sosial-budaya juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat masyarakat Waekolo terbiasa hidup berkelompok dalam rumah yang relatif padat dengan sanitasi yang kurang Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Kebiasaan berbagi peralatan tidur dan pakaian tanpa memperhatikan kebersihan turut mempercepat penyebaran tungau penyebab skabies. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, di mana 74,3% responden tidak pernah mengenyam pendidikan formal, sehingga akses terhadap informasi kesehatan menjadi sangat Pentingnya kegiatan sosialisasi pencegahan skabies pada masyarakat Waekolo terletak pada peran edukasi kesehatan sebagai salah satu pilar upaya promotif-preventif dalam pelayanan kesehatan primer. Melalui sosialisasi, masyarakat tidak hanya diberi pengetahuan, tetapi juga dilatih keterampilan dasar dalam menjaga kebersihan diri, lingkungan, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hal ini diharapkan dapat mengurangi insiden skabies secara signifikan di komunitas yang rentan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini difokuskan pada peningkatan pemahaman masyarakat Waekolo melalui sosialisasi pencegahan skabies. Intervensi ini menjadi relevan mengingat tingginya angka kejadian penyakit kulit di kalangan masyarakat pedesaan dan minimnya intervensi kesehatan berbasis komunitas. Dengan pendekatan partisipatif, diharapkan kegiatan ini mampu membangun kesadaran kolektif masyarakat Waekolo dalam menjaga kesehatan kulit sekaligus menjadi model pengabdian yang dapat direplikasi di daerah terpencil lainnya. METODE KEGIATAN Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi praktik kebersihan diri. Sasaran kegiatan adalah 70 orang anggota masyarakat suku Waekolo di Dusun Darlale. Sebelum sosialisasi, dilakukan pre-test berupa wawancara singkat untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat mengenai skabies. Setelah itu, tim pengabdi memberikan materi tentang definisi skabies, cara penularan, gejala, dampak kesehatan, serta strategi pencegahan yang mudah dilakukan sehari-hari. Selain itu, dilakukan praktik langsung berupa cara mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan tempat tidur, serta penggunaan pakaian bersih. Evaluasi dilakukan melalui post-test berupa diskusi kelompok untuk melihat sejauh mana pemahaman masyarakat meningkat setelah kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menyajikan karakteristik responden yang meliputi distribusi berdasarkan usia. Pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, agama, riwayat penyakit, serta pengetahuan. Data ini memberikan gambaran umum mengenai profil responden yang menjadi dasar dalam menganalisis temuan dalam kegiatan pengabdian. Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Usia -17 Ae 25 Tahun -26 Ae 35 Tahun -36 Ae 45 Tahun -46 Ae 55 Tahun -56 Ae 66 Tahun Pendidikan -Tidak Sekolah -SD -SMP -SMA Pekerjaan -Petani -IRT Jenis Kelamin -Laki-Laki -Perempuan Agama -Hindu Riwayat Penyakit -Penyakit -Tidak Penyakit Pengetahuan -Baik -Cukup -Kurang Dari 70 responden, mayoritas berada pada rentang usia 46Ae55 tahun . %), berjenis kelamin laki-laki . ,7%), dan memiliki pekerjaan utama sebagai petani . ,7%). Tingkat pendidikan masih rendah dengan 74,3% tidak pernah bersekolah, sedangkan hanya 2,9% yang mencapai tingkat SMA. Data ini menunjukkan bahwa rendahnya pendidikan menjadi faktor dominan yang memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap isu kesehatan, termasuk pencegahan penyakit menular seperti skabies Tingkat pengetahuan responden mengenai skabies pada awal kegiatan juga tergolong rendah, di mana 51,4% masuk kategori kurang dan hanya 14,3% yang memiliki pengetahuan Kondisi ini sejalan dengan penelitian Puspita et al. yang menyebutkan bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat merupakan salah satu faktor risiko utama meningkatnya kasus skabies di pedesaan, terutama di kalangan masyarakat dengan latar belakang pendidikan rendah. Melalui kegiatan sosialisasi, terjadi peningkatan pemahaman masyarakat terkait penyebab, cara penularan, dan pencegahan skabies. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 partisipasi aktif masyarakat dalam diskusi serta adanya perubahan sikap terhadap praktik kebersihan diri. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Azizah et al. yang menyatakan bahwa intervensi edukasi kesehatan berbasis komunitas efektif meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan skabies. Faktor pekerjaan sebagai petani juga berpengaruh, mengingat sebagian besar responden sering terpapar lingkungan yang kotor dan lembap, sehingga risiko skabies lebih tinggi. Penelitian Fajarwati & Nurhayati . menegaskan bahwa pekerja sektor informal yang lebih sering bersentuhan dengan tanah dan kelembapan lingkungan memiliki prevalensi lebih tinggi terhadap penyakit kulit, termasuk skabies. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyadari pentingnya menjaga kebersihan diri, seperti mandi dua kali sehari, mencuci pakaian secara teratur, serta menghindari penggunaan peralatan tidur secara bergantian. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan sosialisasi memiliki dampak positif dalam membentuk perilaku kesehatan baru. Temuan ini didukung oleh studi Handayani et al. yang menekankan bahwa perubahan perilaku merupakan kunci utama dalam menurunkan prevalensi skabies di komunitas Tantangan yang masih dihadapi adalah keterbatasan fasilitas sanitasi dan akses terhadap air bersih, sehingga implementasi perilaku higienis tidak selalu mudah dilakukan. Hal ini sejalan dengan penelitian Setiawan et al. yang menemukan bahwa keterbatasan sumber daya air bersih menjadi hambatan utama dalam keberhasilan program pencegahan skabies di daerah terpencil. Meskipun demikian, pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan tokoh masyarakat setempat terbukti efektif dalam mendorong partisipasi warga. Dukungan tokoh adat dan agama turut meningkatkan legitimasi kegiatan dan memperkuat penerimaan pesan kesehatan. Penelitian oleh Yuliana et al. juga menunjukkan bahwa keterlibatan tokoh masyarakat dalam program kesehatan meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap perilaku hidup Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan melalui sosialisasi dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Waekolo dalam pencegahan skabies. Dengan penguatan intervensi lanjutan, seperti penyediaan sarana air bersih dan pendampingan perilaku higienis, maka angka kejadian skabies dapat ditekan secara Hasil ini menjadi bukti penting bahwa program pengabdian masyarakat mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan komunitas terpencil. Vol. No. 3 September 2025 JOMPA ABDI: Jurnal Pengabdian Masyarakat https://jurnal. com/index. php/jpabdi e-ISSN: 2828-819X p-ISSN: 2828-8424 Gambar 1. Sosialisasi SCABIES Gambar 2 Hasil Sosialisasi Pencegahan SCABIES KESIMPULAN Kegiatan sosialisasi pencegahan skabies pada masyarakat Suku Waekolo Dusun Darlale Desa Wamlana Kecamatan Fena Leisela Kabupaten Buru berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat mengenai penyebab, cara penularan, gejala, serta langkah pencegahan skabies. Melalui metode partisipatif, masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menunjukkan perubahan perilaku dan komitmen untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Meskipun terdapat tantangan berupa keterbatasan sarana air bersih dan kepadatan hunian, masyarakat mulai melakukan adaptasi dan mencari solusi bersama. Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan berbasis komunitas yang sensitif terhadap budaya lokal dapat menjadi strategi efektif dalam menurunkan angka kejadian skabies UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Desa Wamlana, tokoh adat Suku Waekolo, masyarakat Dusun Darlale, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Kami juga berterima kasih kepada rekan sejawat dan mahasiswa yang turut mendampingi kegiatan ini, sehingga program dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. DAFTAR PUSTAKA