PUSAKA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 2 . Desember 2025 E-ISSN: 3062-942X The article is published with Open Access at: https://journal. id/index. php/pusaka Penguatan Literasi Akademik Siswa SMAN 1 Banda Baro Melalui Pelatihan Penyusunan Makalah dan Presentasi Ilmiah serta Pengembangan Pojok Baca Sekolah Masithah Mahsa A. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia Islami Fatwa. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia Trisfayani. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia A masithahmahsa@unimal. Abstract: Literasi akademik merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai bekal menghadapi pendidikan tinggi dan tantangan akademik di masa depan. Namun, kemampuan siswa dalam menyusun makalah ilmiah, menyajikan presentasi akademik, serta memanfaatkan sumber bacaan secara optimal masih tergolong rendah. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya penguatan literasi akademik siswa SMA melalui pelatihan penyusunan makalah, presentasi ilmiah, dan pengembangan pojok baca sekolah di SMAN 1 Banda Baro. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan siswa SMA sebagai peserta kegiatan. Program dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu pelatihan penulisan makalah ilmiah, pendampingan presentasi ilmiah, serta pengembangan pojok baca sebagai sarana pendukung budaya literasi. Berdasarkan hasil kegiatan ditemukan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap struktur dan kaidah penulisan makalah, kemampuan menyampaikan gagasan secara sistematis melalui presentasi ilmiah, serta meningkatnya minat baca siswa setelah pengembangan pojok baca sekolah. Dengan demikian, program ini terbukti efektif dalam memperkuat literasi akademik siswa SMA dan dapat dijadikan sebagai model pengembangan literasi di lingkungan sekolah. Keywords: Literasi akademik, siswa SMA, makalah, presentasi ilmiah, pojok baca sekolah. Received December 1, 2025. Accepted December 27, 2025. Published December 31, 2025 Published by Mandailing Global Edukasia A 2025. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. INTRODUCTION Seiring berkembangnya lanskap pendidikan, siswa dituntut memiliki keterampilan literasi yang baik dalam memenuhi kebutuhan peserta didik abad ke-21 (Mahsa et al, 2. Keterampilan literasi merupakan kompetensi penting yang harus dikembangkan secara sistematis, terutama di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal tersebut mencakup kemampuan siswa dalam memahami, mengolah, dan mengkomunikasikan informasi secara ilmiah melalui kegiatan membaca, menulis, dan berbicara di sekolah. Menurut Mardiani & Wahyuni . , literasi akademik mencakup lebih dari sekedar kemampuan berkomunikasi secara teknis. Ini adalah praktik sosial yang mencakup cara berpikir, berpikir, dan berpartisipasi dalam komunitas akademik. Oleh karena itu, adalah langkah yang bijaksana untuk memperkuat literasi akademik siswa sejak Sekolah Menengah Atas untuk mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan pembelajaran di pendidikan tinggi dan dunia keilmuan. Kebijakan pendidikan nasional menyebutkan bahwa literasi akademik siswa sekolah menengah harus ditingkatkan. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang didirikan oleh pemerintah Indonesia menempatkan literasi sebagai kunci untuk meningkatkan kualitas Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. GLS menyatakan bahwa tujuan kegiatan literasi di sekolah adalah untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan siswa. Sekolah harus berkonsentrasi pada pencapaian akademik kognitif siswa selain menanamkan kebiasaan literasi yang berkelanjutan dalam karakter siswa. Hal tersebut sejalan dengan Faizah . yang menyebutkan bahwa literasi sekolah di dalam definisi konteks GLS ialah kemampuan seseorang dalam memahami, mengakses serta menggunakan sesuatu dengan cerdas dalam berbagai kegiatan, seperti menyimak, membaca, berbicara, menulis dan melihat. Hal tersebut menjadikan sekolah sebagai institusi bagi civitas akademik untuk belajar literasi di sepanjang hidupnya melalui pelibatan publik. Literasi juga menjadi kompetensi penting dalam semua mata pelajaran Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran Kurikulum Merdeka menuntut kemampuan siswa untuk berpikir kritis, mengolah data, dan menyampaikan ide secara logis dan komunikatif. Ningsih et al . menyebutkan bahwa kegiatan literasi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan berkreativitas. Hal tersebut sesuai dengan kecakapan yang dibutuhkan oleh siswa SMA yaitu kemampuan untuk menyusun makalah dan presentasi akademik. Literasi akademik menjadi bagian penting dari proses pembelajaran, bukan lagi kegiatan tambahan. Namun, faktanya kemampuan literasi akademik siswa SMA masih belum berkembang dengan baik. Banyak siswa mengalami kesulitan menyusun makalah ilmiah yang memenuhi persyaratan akademik. Ketidakmampuan untuk merumuskan masalah, ketidakmampuan untuk membuat argumen yang kuat, penggunaan bahasa yang tidak baku, dan kurangnya pemahaman tentang etika akademik, seperti membuat daftar pustaka dan mengutip sumber, adalah beberapa masalah yang sering muncul. Namun, kebijakan pendidikan nasional menganjurkan penggunaan pembelajaran berbasis literasi melalui penulisan makalah ilmiah. Keterampilan menulis ilmiah hanya dapat ditingkatkan melalui latihan dan bimbingan yang berkelanjutan (Dalman, 2. Keterampilan presentasi ilmiah merupakan komponen penting dari literasi akademik yang harus diperkuat. Siswa diharapkan mampu berkomunikasi secara efektif, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berbagai kebijakan pendidikan, termasuk profil siswa Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Presentasi ilmiah mengajarkan siswa untuk menyampaikan konsep secara sistematis, menggunakan data secara rasional, dan berargumentasi secara logis di depan orang lain. Komunikasi lisan dalam konteks akademik membutuhkan penguasaan struktur wacana serta kemampuan menyampaikan pesan secara jelas dan terstruktur (Brown dan Yule, 1. Fakta di lapangan menyebutkan bahwa keterampilan presentasi siswa masih rendah dan belum maksimal. Banyak siswa merasa takut dan cemas ketika tampil di depan umum. Siswa khawatir apa yang disampaikan dan ditanyakan menjadi sebuah penilaian dari orang lain (Radhiah. Tidak hanya itu, kurangnya budaya membaca di sekolah juga berkontribusi pada tingkat literasi akademik siswa. GLS menekankan pentingnya menyediakan lingkungan literasi yang mendukung, seperti perpustakaan sekolah, sudut baca di kelas, dan pojok Kebijakan literasi nasional yang bertujuan untuk mendekatkan siswa dengan bahan bacaan berkualitas diwujudkan melalui pembentukan pojok baca di sekolah. Pojok baca di sekolah mampu menciptakan lingkungan membaca yang menarik dan menyenangkan serta melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan literasi (Suryanti, 2. Menurut Suyono. Harsiati, dan Wulandari . , lingkungan belajar yang mendukung aktivitas membaca dan menulis memiliki kemampuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan mendorong perkembangan keterampilan berpikir kritis mereka. Oleh karena itu, membuat pojok baca berfungsi sebagai pelengkap fasilitas sekolah dan strategi pedagogis yang mendukung pembelajaran berbasis literasi akademik. Dengan adanya pojok baca, ekosistem literasi di sekolah tersebut akan meningkat. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di sekolah mitra, yaitu SMAN 1 Banda Baro ditemukan permasalahan utama terkait rendahnya literasi siswa, diantaranya: minimnya fasilitas literasi di SMAN 1 Banda Baro. kurangnya minat membaca dan menulis siswa. keterampilan presentasi ilmiah siswa belum optimal. tidak adanya program literasi yang interaktif di sekolah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan beberapa solusi yakni: . membuat pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah. pembuatan pojok baca. pendampingan siswa dalam program literasi sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menguatkan literasi akademik siswa SMAN 1 Banda Baro dengan meningkatnya minat membaca dan menulis siswa, khususnya menulis makalah serta mengoptimalkan keterampilan presentasi ilmiah METHODS Kegiatan ini dilaksanakan di SMAN 1 Banda Baro. Kabupaten Aceh Utara. Pemilihan lokasi didasarkan pada kebutuhan sekolah terhadap penguatan literasi akademik siswa, khususnya dalam keterampilan penulisan makalah, presentasi ilmiah, dan pemanfaatan fasilitas literasi. Kegiatan pengabdian dilaksanakan selama satu periode program, dimulai dari Oktober hingga Desember 2025. Kegiatan ini diawali dengan tahap perencanaan hingga evaluasi, yang berlangsung selama beberapa minggu pada semester berjalan tahun ajaran berlangsung. Subjek kegiatan ini adalah siswa SMAN 1 Banda Baro yang terlibat secara langsung dalam kegiatan penguatan literasi akademik. Peserta kegiatan terdiri atas siswa kelas X dan XI yang dipilih berdasarkan rekomendasi pihak sekolah dan kesediaan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Siswa kelas X berjumlah 34 orang. Sedangkan, siswa kelas XI berjumlah 42 orang. Sementara itu, objek kegiatan ini adalah peningkatan literasi akademik siswa yang meliputi tiga aspek utama, yaitu: . kemampuan menyusun makalah ilmiah, . kemampuan melakukan presentasi ilmiah, dan . pemanfaatan pojok baca sekolah sebagai sarana pendukung literasi akademik. Dalam pelaksanaan kegiatan, diperlukan prosedur kerja yang terstruktur, sistematis, dan terencana dengan baik (Syahriandi et al. , 2. Kegiatan ini dilakukan melalui beberapa tahapan yang akan dijabarkan pada tabel berikut. Tabel 1. Prosedur Pelaksanaan Kegiatan Tahapan Kegiatan Perencanaan Pelaksanaan Uraian Kegiatan Analisis kebutuhan literasi akademik siswa Koordinasi antara pihak sekolah dan tim pelaksana terkait kebutuhan dalam pelaksanaan kegiatan. Menyiapkan semua kebutuhan pelatihan, baik materi kegiatan maupun peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan. Pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah Kegiatan penyampaian materi pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah dengan tujuan agar siswa memahami cara menyusun makalah dan melakukan presentasi ilmiah. Kegiatan praktik yang bertujuan agar siswa dapat menyusun makalah serta terampil dalam presentasi ilmiah. Kegiatan tanya jawab/diskusi yang bertujuan untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah. Kegiatan mempresentasikan makalah yang telah disusun. Sementara, siswa lain memberi masukan terkait makalah tersebut. Kegiatan refleksi yang bertujuan untuk mengetahui kepuasan siswa terkait pelaksanaan pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah. Pengembangan pojok baca sekolah Penataan ruang pojok baca Penyediaan bahan bacaan Sosialisasi pemanfaatan pojok baca kepada siswa Mendampingi mahasiswa dalam proses penyusunan makalah dan latihan presentasi ilmiah secara berkelanjutan. Memastikan siswa mampu mengimplementasikan literasi akademik secara mandiri dan berkelanjutan. Penilaian keberhasilan penguatan literasi akademik di sekolah. Penilaian hasil makalah siswa. Pengamatan terhadap perubahan kemampuan presentasi ilmiah. Pemanfaatan pojok baca sekolah. Pemberian masukan oleh pihak sekolah terkait kegiatan yang telah dilakukan. Pendampingan Evaluasi dan Refleksi Berdasarkan prosedur pelaksanaan kegiatan di atas, berikut rubrik penilaian penyusunan makalah dan presentasi ilmiah dalam kegiatan pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah pada siswa SMAN 1 Banda Baro. Rubrik ini dibuat untuk memberi skor secara objektif dan melihat ketercapaian tujuan pelaksanaan kegiatan. Tabel 2. Rubrik Penilaian Penyusunan Makalah Aspek yang Dinilai Kesesuaian Topik Sistematika Makalah Isi dan Pembahasan Kebahasaan Teknik Penulisan Daftar Pustaka Indikator Topik relevan dan fokus Struktur lengkap dan sistematis Isi dan pembehasan mendalam, jelas, serta didukung oleh fakta Bahasa baku, ejaan tepat, dan kalimat efektif Format dan tata tulis sesuai dengan ketentuan yang berlaku Sumber lengkap dan konsisten Tabel 3. Rubrik Penilaian Presentasi Ilmiah Aspek yang Dinilai Penguasaan Materi Sistematika Penyajian Media Presentasi Kebahasaan Sikap Tanya Jawab Indikator Menguasai materi, jelas, dan akurat Penyajian runtut dan logis Media menarik dan informatif Bahasa baku dan artikulasi jelas Percaya diri, kontak mata dan gestur Ketepatan dan kelogisan jawaban Kegiatan pelatihan ditutup dengan pemberian angket kepada siswa untuk mengukur kepuasan siswa terhadap kegiatan pelatihan. Angket disusun menggunakan skala Likert dan diisi setelah kegiatan pelatihan selesai. Tabel 4. Angket Kepuasan Siswa Indikator Materi Pelatihan Deskripsi Penilaian siswa Metode Pelaksanaan Pelatihan Pemateri/Fasilitator Manfaat pelatihan Kepuasan Umum kualitas materi Penilaian siswa terhadap metode dan proses Penilaian siswa terhadap kompetensi pemateri Penilaian siswa terhadap manfaat pelatihan Kepuasan secara keseluruhan Kegiatan selanjutnya setelah pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah adalah pengembangan pojok baca sekolah. Pengembangan pojok baca dikhususkan untuk kelas X saja. Dalam kegiatan ini disusun beberapa instrumen pengembangan dengan tujuan untuk mengukur efektivitas pelaksanaan kegiatan. Ada tiga instrumen yang telah Ketiga instrumen tersebut akan dideskripsikan pada tabel berikut. Tabel 5. Lembar Observasi Sarana dan Prasarana Pojok Baca Indikator Lokasi Pojok baca Buku dan Rak Buku Tempat Duduk Pencahayaan Ventilasi Udara Penataan Poster/Slogan Literasi Kebersihan Deskripsi Kesediaan dan kemudahan akses lokasi Kesediaan, rapi, dan tertata Kesediaan dan kenyamanan Kesediaan dan kecukupan Kesediaan Kesediaan dan kemenarikan Kesediaan dan kemenarikan Kesediaan dan terjaga Lembar observasi tersebut digunakan untuk memetakan kondisi awal literasi di SMAN 1 Banda Baro. Tabel 6. Angket Pemanfaatan Pojok Baca oleh Siswa Indikator Intensitas Pemanfaatan Jenis dan Kesesuaian Bacaan Kualitas Aktivitas Membaca Pemanfaatan untuk Pembelajaran Sikap dan Motivasi Literasi Deskripsi Frekuensi dan konsistensis siswa memanfaatkan pojok baca Variasi dan relevansi bahan bacaan yang dimanfaatkan siswa Kedalaman dan kesadaran siswa dalam membaca Pemanfaatan pojok baca sebagai sumber belajar Minat, sikap, dan motivasi siswa terhadap kegiatan membaca Angket pemanfaatan pojok baca oleh siswa disusun untuk mengukur tingkat intensitas dan kualitas pemanfaatan pojok baca oleh siswa. Tabel 7. Angket Dampak Pojok Baca terhadap Literasi Siswa Indikator Literasi Membaca Literasi Menulis Literasi Berbicara Minat Literasi Aktivitas Akademik Budaya Literasi Sekolah Deskripsi Perubahan kemampuan dan kebiasaan membaca Pengaruh membaca terhadap keterampilan menulis siswa Pengaruh pojok baca terhadap kemampuan berbicara dan presentasi Perubahan sikap, minat, dan motivasi siswa terhadap literasi Kontribusi pojok baca terhadap pembelajaran dan prestasi akademik Peran pojok baca dalam membentuk lingkungan literat Angket dampak pojok baca terhadap literasi siswa disusun untuk mengukur dampak pojok baca terhadap perkembangan literasi membaca, menulis, berbicara, dan sikap literasi siswa. RESULTS Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama dua bulan, dimulai dari 16 Oktober hingga 16 Desember 2025. Rangkaian kegiatan pengabdian ini mencakup pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah yang dilaksanakan pada bulan Oktober serta pengembangan pojok baca sekolah yang dilaksanakan pada bulan November. Berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa minimnya fasilitas literasi di sekolah, seperti tidak adanya lokasi pojok baca dan kesediaan bahan bacaan. Selain itu, kurangnya minat membaca dan menulis siswa, serta rendahnya kemampuan presentasi ilmiah siswa juga menjadi temuan dalam kegiatan observasi awal. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan koordinasi dengan pihak sekolah untuk melaksanakan pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah serta pengembangan pojok baca dengan tujuan meningkatkan ekosistem literasi di sekolah. Gambar 1. Observasi dengan Pihak Sekolah Setelah disepakati dengan pihak sekolah, maka kegiatan berikutnya adalah menyiapkan semua kebutuhan pelatihan, baik materi pelatihan maupun peralatan yang akan digunakan. Pelaksanaan kegiatan pelatihan berlangsung selama dua hari, yakni pada 20-21 Oktober 2025. Pelatihan ini diikuti 76 siswa yang terdiri dari kelas X dan kelas XI. Gambar 2. Penyampaian Materi Pelatihan oleh Fasilitator Gambar 3. Peserta Pelatihan Penyusunan Makalah dan Presentasi Ilmiah Materi pelatihan penyusunan makalah meliputi pengenalan karakteristik karya ilmiah, sistematika makalah, teknik pengembangan paragraf, penggunaan bahasa ilmiah, serta etika pengutipan sumber. Sedangkan, materi pelatihan presentasi ilmiah berfokus pada penyusunan materi presentasi, teknik penyampaian gagasan, penggunaan media presentasi, serta latihan presentasi dan umpan balik. Para siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan pelatihan. Hal ini dibuktikan dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang diberikan terkait materi pelatihan. Berdasarkan hasil kegiatan ditemukan bahwa kemampuan siswa SMAN 1 Banda Baro dalam menyusun makalah dan presentasi ilmiah meningkat secara signifikan. Awalnya Sebagian besar siswa belum memahami makalah ilmiah secara sistematis. Namun, setelah mengikuti pelatihan, siswa telah mampu menyusun makalah dengan struktur yang lebih sistematis yang mencakup pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Hal tersebut dibuktikan dari 45% persen siswa berada dalam kategori sangat baik dan 41% siswa berada pada kategori baik dalam tes menyusun makalah ilmiah. Hasil Tes PenyusunanA Sangat Baik Gambar 4. Hasil Tes Menyusun Makalah Sejalan dengan itu, keterampilan presentasi ilmiah siswa juga mengalami peningkatan. Siswa mulai percaya diri dalam berkomunikasi dan lebih siap ketika melakukan presentasi Hal ini terlihat dari hasil tes presentasi ilmiah yang menunjukkan 39% siswa berada pada kategori sangat baik dan 45% siswa berada pada kategori baik. Hasil Tes Presentasi Ilmiah Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Gambar 5. Hasil Tes Presentasi Ilmiah Pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah di SMAN 1 Banda Baro dikatakan berjalan dengan lancar karena didukung oleh prencanaan yang matang, materi yang diberikan sistematis sesuai kebutuhan siswa SMA, serta metode pelatihan yang interaktif dan aplikatif. Namun, dibalik kelancaran tersebut ada beberapa kendala seperti, perbedaan tingkat pemahaman siswa terhadap penulisan ilmiah, minimnya pengalaman siswa dalam menyusun makalah dan presentasi ilmiah serta keterbatasan sarana pendukung seperti gangguan koneksi internet. Respon terhadap Manfaat Pelatihan Sangat Berdampak Berdampak Gambar 6. Presentase Manfaat Pelatihan Berdasarkan hasil angket kepuasan di atas, siswa mengaku puas terhadap pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah yang diberikan. Para siswa menyebutkan bahwa kegiatan pelatihan tersebut sangat berdampak bagi kompetensi literasi akademik mereka. Hal ini dapat dilihat pada diagram berikut. Respon terhadap Metode dan Pelaksanaan Pelatihan Sangat Puas Puas Cukup Puas Kurang Puas Gambar 7. Presentasi Penggunaan Metode dan Pelaksanaan Pelatihan Selain itu, para siswa juga menyebutkan bahwa kegiatan pelatihan sangat menyenangkan karena menggunakan metode pelatihan yang interaktif dan aplikatif. Meskipun kegiatan pelatihan telah selesai, tim pelaksana tetap melakukan pendampingan kepada siswa dalam menyusun makalah dan presentasi ilmiah hingga Desember 2025. Sejalan dengan hasil kegiatan pelatihan, hasil kegiatan pengembangan pojok baca di sekolah juga menunjukkan peningkatan minat baca siswa dan kebiasaan literasi Sebelum pengembangan pojok baca, siswa biasanya hanya melakukan aktivitas membaca di buku pelajaran wajib dan hanya menerima tugas dari guru. Namun, setelah pojok baca dibuat dan disosialisasikan, siswa mulai menggunakan fasilitas ini untuk membaca secara mandiri, baik di waktu luang maupun sebelum kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan Pojok Baca 9%0% Sangat Tinggi Tinggi Cukup Tinggi Kurang Tinggi Gambar 8. Pemanfaatan Pojok Baca oleh Siswa Dampak Pengembangan Pojok Baca 11%0% Sangat Tinggi Tinggi Cukup Tinggi Kurang Tinggi Gambar 9. Dampak Pengembangan Pojok Baca Berdasarkan diagram di atas, dapat dikatakan bahwa pojok baca telah dimanfaatkan dengan baik oleh siswa. Dengan kata lain, pojok baca memiliki peran positif dalam mendukung kegiatan literasi siswa di SMAN 1 Banda Baro. DISCUSSION Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa kemampuan siswa SMAN 1 Banda Baro dalam menyusun makalah ilmiah telah meningkat secara signifikan. Siswa mulai menunjukkan perbaikan setelah mendapatkan pelatihan pendampingan dan penyusunan makalah ilmiah. Analisis dokumen makalah siswa menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu menyusun makalah dengan struktur yang lebih Meskipun parafrase dan penulisan daftar pustaka masih perlu diperbaiki, ide yang disampaikan juga lebih terarah dan didukung oleh sumber bacaan yang relevan. Berdasarkan hasil penilaian makalah yang telah disusun oleh siswa, mayoritas siswa berada pada kategori sangat baik sebesar 45% dan kategori baik sebesar 41%. Sisanya berada pada kategori cukup sebesar 14%. Aspek penilaian yang paling menonjol terlihat pada isi dan pembahasan makalah, sistematika makalah, serta penyusunan daftar Siswa mampu menyusun makalah dengan isi dan pembahasan yang mendalam, jelas, serta didukung oleh fakta. Tidak hanya itu, struktur makalah yang disajikan juga sistematis serta referensi yang diberikan lengkap dan konsisten. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa dapat secara bertahap memahami proses penulisan ilmiah melalui pelatihan dan pendampingan. Hasil ini sejalan dengan pendapat Dalman . , yang menyatakan bahwa keterampilan menulis ilmiah tidak dapat dipelajari secara instan. sebaliknya, itu memerlukan latihan dan bimbingan yang teratur dan berulang. Siswa tidak hanya belajar menulis melalui instruksi ini, tetapi mereka juga belajar berpikir secara akademik, yang berarti mereka harus menyusun argumen secara logis, mengaitkan teori dengan masalah, dan mengorganisasi ide-ide. Selain itu, siswa juga menjadi lebih sadar akan pentingnya membuat rujukan yang akurat dan konsisten. Ini merupakan tahap awal pembentukan sikap akademik yang bertanggung jawab, salah satu komponen penting dari literasi akademik. Keterampilan presentasi ilmiah siswa menunjukkan kemajuan yang cukup besar setelah mengikuti sesi pelatihan dan pendampingan. Sebelum mengikuti pelatihan, siswa kurang percaya diri dan gagal dalam menyampaikan gagasan yang runtut dan Namun, setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan siswa lebih berani tampil di depan dan mampu mengomunikasikan gagasannya secara logis dan terstruktur. Tidak hanya itu, media presentasi yang disajikan lebih menarik. Berdasarkan hasil penilaian presentasi ilmiah siswa ditemukan bahwa 39% siswa berada pada kategori sangat baik dan 45% siswa berada pada kategori baik. Sedangkan, 16% siswa berada pada kategori cukup. Penguasaan materi, sistematika penyajian, sikap, tanya jawab merupakan perubahan yang paling terlihat dalam kemampuan presentasi ilmiah siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa presentasi ilmiah dapat membantu siswa berpikir kritis. Siswa didorong untuk memahami materi secara lebih mendalam ketika mereka diminta untuk menjelaskan dan mempertahankan pendapat mereka. Hal tersebut dilakukan secara berulang melalui pelatihan dan pendampingan, sehingga membuat mereka menjadi lebih siap dan percaya diri ketika presentasi di depan audiens. Selanjutnya, kegiatan pengembangan pojok baca di sekolah. Sebelum dilakukan pengembangan pojok baca, siswa biasanya hanya melakukan aktivitas membaca pada saat pelajaran dan saat menerima tugas dari guru. Namun, setelah pojok baca dibuat dan disosialisasikan, siswa mulai menggunakan fasilitas ini untuk membaca secara mandiri, baik di waktu luang maupun sebelum kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil angket pemanfaatan pojok baca dan dampak pojok baca di SMAN 1 Banda Baro ditemukan bahwa pojok baca menjadi tempat literasi alternatif yang disukai oleh siswa dengan kategori sangat tinggi sebesar 55%, kategori tinggi sebesar 36%, dan kategori cukup tinggi sebesar 9%. Siswa lebih suka membaca karena bahan bacaan lebih bervariasi, tata letak ruang yang lebih menarik, dan kemudahan akses. Hal ini berdampak pada pengetahuan siswa yang lebih luas dan peningkatan kosa kata akademik mereka, yang kemudian tercermin dalam tulisan dan presentasi mereka. Pengembangan pojok baca di sekolah berdampak pada peningkatan keterampilan membaca, menulis, dan berbicara siswa khususnya menulis makalah dan presentasi ilmiah dengan kategori sangat tinggi sebesar 50%, kategori tinggi sebesar 39%, kategori cukup tinggi sebesar 11%. Selain itu, pengembangan pojok baca juga berkontribusi terhadap pembelajaran dan prestasi akademik siswa. Berdasarkan paparan di atas, dapat dikatakan bahwa kegiatan penguatan literasi akademik di SMAN 1 Banda Baro berhasil menciptakan lingkungan belajar yang lebih literat dan mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam aktivitas akademik. Kegiatan pelatihan penyusunan makalah dan presentasi ilmiah dapat dimasukkan ke dalam program pembelajaran sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler. Di samping itu, pojok baca harus dibangun secara berkelanjutan. Sekolah dan guru diharapkan dapat menggunakan pojok baca sebagai sumber pembelajaran dan menggabungkannya dengan tugas akademik siswa. CONCLUSION Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan AuPenguatan Literasi Akademik Siswa SMAN 1 Banda Baro melalui Pelatihan Penyusunan Makalah. Presentasi Ilmiah, dan Pengembangan Pojok Baca SekolahAy berhasil meningkatkan literasi akademik siswa secara komprehensif. Peningkatan terlihat pada kemampuan siswa dalam menyusun makalah ilmiah yang lebih sistematis dan sesuai kaidah akademik, kemampuan melakukan presentasi ilmiah dengan lebih percaya diri dan terstruktur, serta meningkatnya minat baca siswa melalui pemanfaatan pojok baca sekolah. Integrasi antara pelatihan keterampilan akademik dan pengembangan lingkungan literasi terbukti efektif dalam membangun ekosistem literasi akademik di sekolah. Program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga membentuk sikap akademik yang positif, seperti kejujuran ilmiah, kepercayaan diri, dan kebiasaan Dengan demikian, kegiatan ini dapat dijadikan sebagai model penguatan literasi akademik yang aplikatif dan berkelanjutan di tingkat Sekolah Menengah Atas. REFERENCES