Page 291 of 7 Studi Agregat Faktor Pengetahuan dan Pemberian Vitamin A terhadap Prevalensi Stunting di Indonesia An Aggregate Study of Knowledge and Vitamin A Supplementation Factors on the Prevalence of Stunting in Indonesia Niken Agus Tianingrum1. Reny Mareta Sari2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Indonesia Department of Public Health. Universitas Strada Indonesia. Jawa Timur. Indonesia Email: nikenagust@umkt. ABSTRACT Stunting has been being national nutrition problem that must be prioritized considering the importance of children's health and growth for a country. The study aims to analyze the variables of knowledge and correct attitudes towards all aspects about stunting and supplementation of High Dose Vitamin A related to the prevalence of stunting in 36 provinces in Indonesia. The study design was aggregate approach using SSGI 2024 data with province as analysis unit. Bivariate analysis was carried out using scatter plots and Kendall's tau correlation tests. The results of the study showed that most provinces in Indonesia still have a fairly high prevalence of stunting . % - 21%). The results of the scatter plot and bivariate tests showed that the higher the proportion of knowledge and appropriate attitudes towards all aspects of stunting, the lower the prevalence of stunting. The higher the proportion of toddlers who received high doses of vitamin A in the last 12 months, the lower the prevalence of stunting. There is a relationship between the supplementation of vitamin A and the prevalence of stunting . = 0. 025 <0. It can be concluded that there is a positive relationship between high-dose Vitamin A supplementation and the prevalence of stunting. It is recommended that the policy maker support for areas with low coverage of Vitamin A supplementation. Keywords: knowledge, attitude, vitamin A, stunting ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah gizi yang harus diprioritaskan mengingat pentingnya kesehatan dan pertumbuhan anak bagi suatu negara. Studi ditujukan untuk menganalisis variabel pengetahuan dan sikap yang tepat terhadap seluruh aspek stunting dan pemberian Vitamin A Dosis Tinggi yang berhubungan dengan prevalensi stunting di 36 provinsi di Indonesia. Desain studi menggunakan pendekatan studi agregat bersumber data SSGI 2024 dengan unit analisis adalah provinsi. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan scatter plot dan uji korelasi KendallAos tau. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar provinsi di Indonesia masih memiliki prevalensi stunting yang cukup tinggi . % Ae 21%). Hasil scatter plot dan uji bivariat menunjukkan bahwa semakin tinggi proporsi pengetahuan dan sikap yang tepat terhadap seluruh aspek stunting, maka semakin rendah prevalensi stunting. Semakin tinggi proporsi balita yang mendapatkan vitamin A dosis tinggi dalam 12 bulan terakhir, semakin rendah prevalensi stunting. Terdapat hubungan antara pemberian vitamin A dengan prevalensi stunting . =0,025<0,. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara suplementasi Vitamin A dosis tinggi dengan prevalensi stunting. Diharapkan pemangku kebijakan mampu mendorong peningkatan cakupan suplementasi vitamin A di provinsi yang masih rendah cakupannya. Kata Kunci : pengetahuan, sikap, vitamin A, stunting PENDAHULUAN Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 291-297 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Studi Agregat Faktor Pengetahuan dan A (Niken Agus Tianingrum. Reny Mareta Sar. Masalah kesehatan yang masih belum bisa ditaklukkan oleh sebagian besar negara berkembang adalah stunting, termasuk di Indonesia. Kondisi Stunting merujuk kepada kekurangan gizi kronis akibat kekurangan asupan gizi dari makanan yang berlangsung cukup lama (Fitri et al. , 2. Stunting dilihat dari panjang badan atau tinggi badan yang kurang dari -2 SD menurut referensi global WHO (WHO, 2. Oleh karena itu, balita stunting identik dengan balita dengan tubuh yang lebih pendek dari sebaya di usianya. Di Indonesia, berdasarkan data survei nasional, prevalensi stunting mencapai 37,6% pada tahun 2013, menurun menjadi 19,8% pada tahun 2024. Angka ini masih jauh dari target nasional RPJMN 2024 yaitu Permasalahan stunting diprioritaskan mengingat indikator utama keberhasilan pembangunan sosial dan ekonomi suatu pertumbuhan anak (Kemenkes RI, 2. Kondisi stunting yang diabaikan akan memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang balita. Dalam jangka pendek, stunting dapat mempengaruhi menurunkan kecerdasan, hingga masalah Sedangkan, dampak jangka panjang dari stunting mampu menurunkan kemampuan kognitif, menurunkan daya tahan tubuh sehingga tubuh lebih rentan terserang penyakit, dan berisiko terserang penyakit degeneratif seperti diabetes militus, penyakit kardiovaskular, kanker, stroke, serta tidak dapat bersaing dalam rendahnya produktivitas (Dewi et al. Stunting erat kaitannya dengan pola pemberian makan dan pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua maupaun pengasuh balita. Pengetahuan dan sikap yang baik dinilai mampu mencegah stunting Berbagai menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap kejadian stunting (Aghadiati et al. , 2023. Arnita et , 2. Stunting pada balita dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, panjang makronutrien . rotein, karbohidra. dan mikronutrien yaitu . alsium, vitamin A, zat besi dan zin. Faktor utama penyebabnya ialah tingkat kecukupan protein. Vitamin A sebagai mikronutrien dinilai penting dalam Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan produksi matriks tulang oleh remodeling terhambat yang berakibat pada gangguan pembentukan tulang. Gangguan tersebut berujung pada terhambatnya pertumbuhan sehingga muncul kejadian stunting (Awasthi & Awasthi, 2020. Pinto. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) secara berkala dilakukan, seperti yang dilaksanakan tahun 2024, menjadi salah satu instrumen utama dalam memantau kondisi dan perkembangan status gizi balita secara nasional. Survei ini dirancang untuk memperoleh data akurat dan terpercaya terkait prevalensi stunting, faktor risiko terkait, serta efektivitas intervensi yang telah dilaksanakan. Penelitian ini akan berhubugan dengan kejadian stunting yaitu pengetahuan dan sikap yang tepat terkait stunting serta pemberian vitamin A dosis tinggi melalui studi agregat. METODE Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan studi agregat (Laksono & Sandra, 2. melaui data laporan yang diambil dari AuSSGI 2024 (Survei Status Gizi Indonesia Dalam Angk. Ay, yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI ((Kemenkes RI, 2. Studi ini dilakukan dengan provinsi sebagai unit analisis, dimana 36 provinsi diikutsertakan dalam penelitian. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah AuPrevalensi Status Gizi (TB/U) Balita di ProvinsiAy, sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah proporsi balita yang mendapatkan Vitamin A dosis tinggi serta pengetahuan dan sikap yang tepat terhadap seluruh aspek tentang stunting. Kondisi stunting digambarkan dalam ZScore -3,0 - <-2,0. Pemberian Vitamin A dosis tinggi merupakan pemberian vitamin kepada balita oleh pelayanan kesehatan baik di Posyandu. Pustu. Klinik. Puskesmas. Rumah Sakit. PAUD/TK/Sederajat maupun kunjungan petugas. Pengetahuan dan sikap yang tepat terhadap stunting diukur dengan melihat 4 aspek, yaitu aspek pengertian, aspek penyebab, aspek cara mencegah dan aspek dampak dari stunting. Pada SSGI Tahun 2024, pengetahuan dan sikap Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 291-297 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Studi Agregat Faktor Pengetahuan dan A (Niken Agus Tianingrum. Reny Mareta Sar. terhadap stunting, pengukuran dilakukan responden tentang aspek yang akan dinilai. Responden adalah pengasuh utama dari Balita, dimana sebagian besar adalah Ibu Balita. Analisis akan dilakukan secara bivariat, dengan memasukkan variabel independen HASIL Distribusi prevalensi stunting di Indonesia ditunjukkan pada Gambar 1, dan dependen ke dalam scatter plot. Analisis statistik dengan menggunakan uji korelasi dari KendallAos-tau dilakukan untuk memastikan adanya hubungan diantara dua dimana masih terdapat kesenjangan angka prevalensi di berbagai daerah. Gambar 1. Distribusi Prevalensi Stunting berdasarkan Provinsi di Indonesia Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2025 Pada prevalesi stunting tinggi ada pada provinsi dengan warna merah, dimana prevalensi stunting lebih dari 21%, masih lebih tinggi ditetapkan pada tahun 2024, yaitu 14%. Meski demikian, jumlah tersebut tidak lebih banyak daripada jumlah provinsi yang telah mencapai target penurunan stunting yang ditunjukkan pada peta warna hijau. Terlihat pada gambar, sebagian besar wilayah Indonesia masih memiliki prevalensi yang tinggi di atas 14%. Tabel 1. Statistik Deskriptif tentang variable dependen dan independent dalam Variabel Minimum Maksimum Mean Std. Deviasi Prevalensi Stunting Proporsi Responden Pengetahuan dan Sikap yang tepat terkait Proporsi Balita Vitamin A 14,914 6,6521 0,889 1,4530 74,086 22,6646 Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 291-297 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Studi Agregat Faktor Pengetahuan dan A (Niken Agus Tianingrum. Reny Mareta Sar. Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa stunting paling rendah di angka 0% dan prevalensi stunting terendah ada di angka tertinggi di angka 8,2%. Proporsi balita 7,1% sedangkan tertinggi adalah 27,2%. yang mendapatkan suplementasi vitamin A Proporsi memiliki paling rendah adalah 53,4% dan yang pengetahuan dan sikap yang tepat terkait paling tinggi ada 94,8% Pengetahuan dan Sikap Pengetahuan dan Sikap Responden yang tepat terhadap semua aspek stunting digambarkan pada gambar 2. Gambar 2. Scatter plot Prevalensi Stunting dan Variabel Pengetahuan dan Sikap yang tepat terhadap seluruh aspek stunting Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2025 Gambar di atas menunjukkan tentang sebaran plot dari prevalensi stunting dan variabel pengetahuan dan sikap yang tepat dari responden terhadap semua aspek tentang stunting. Garis pada diagram pengetahuan dan sikap yang tepat terhadap seluruh aspek stunting, maka semakin rendah angka prevalensi stunting di wilayah provinsi tersebut. Hasil uji korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antara variabel pengetahuan dan sikap yang tepat terhadap seluruh aspek stunting dengan prevalensi stunting . = 0,192>0,. Pemberian Vitamin A Dosis Tinggi Berikut adalah hasil sebaran plot antara prevalensi stunting dan variabel pemberian Vitamin A pada balita dalam 12 bulan terakhir. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 291-297 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Studi Agregat Faktor Pengetahuan dan A (Niken Agus Tianingrum. Reny Mareta Sar. Gambar 3. Scatter plot Prevalensi Stunting dan Variabel Pemberian Vitamin A Dosis Tinggi pada Balita dalam 12 bulan terakhir Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 2025 Gambar di atas menunjukkan tentang sebaran plot dari prevalensi stunting dan Pemberian Vitamin A Dosis Tinggi pada Balita dalam 12 bulan terakhir. Garis pada diagram menunjukkan bahwa semakin tinggi proporsi balita yang mendapatkan suplementasi Vitamin A dosis tinggi dalam 12 bulan terakhir, maka semakin rendah angka prevalensi stunting di wilayah provinsi tersebut. PEMBAHASAN Distribusi Prevalensi Stunting berdasarkan Provinsi di Indonesia pada Gambar 1 menunjukkan masih adanya kesenjangan di berbagai daerah. Sejumlah daerah menunjukkan telah mencapai target dengan angka prevalensi kurang dari 14% sedangkan sebagian besar daerah yang belum mencapai target. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap yang tepat tentang stunting serta pemberian vitamin A dosis tinggi memiliki hubungan dengan prevalensi stunting di Pengetahuan dan sikap yang tepat tentang seluruh aspek stunting memiliki pencegahan dan upaya mengatasi stunting termasuk selama masa kehamilan serta pola asuh terhadap anak. Lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam menentukan tumbuh kembang anak. Kurangnya stimulasi, pola asuh, sanitasi dan ketersediaan air, serta keamanan pangan yang buruk merupakan determinan stunting dalam tingkat rumah tangga (Beal Hasil uji korelasi menunjukkan ada hubungan antara variabel pemberian Vitamin A dengan prevalensi stunting . = 0,025<0,. R2 menunjukkan angka 0,075 sehingga dapat disimpulkan bahwa sebanyak 7,5% prevalensi stunting dapat dihubungkan dengan suplementasi vitamin A. et al. , 2. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang bisa diatasi dengan adanya pengetahuan dan sikap yang tepat dan komprehensif tentang stunting. Salah satu upaya paling efektif dalam mencegah stunting adalah peningkatan pengetahuan yang komprehensif pada tenaga kesehatan, ibu balita, dan wanita usia subur atau calon ibu (Fristiwi et al. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dalam upaya peningkatan pengetahuan efektif dalam mencegah dan mengatasi stunting dengan membentuk pola asuh dan kesadaran akan gizi balita (Kartika Sari et al. , 2023. Muhamad et al. , 2023. Wijayanti & Fauziah. Pengetahuan yang tepat dan memahami pentingnya tumbuh kembang tumbuh kembang yang optimal melalui pola asuh, nutrisi, dan lingkungan yang baik sehingga dapat mencegah dan mengatasi stunting (Indriani et al. , 2. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 291-297 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Studi Agregat Faktor Pengetahuan dan A (Niken Agus Tianingrum. Reny Mareta Sar. Faktor lain yang berkontribusi secara signifokan terhadap prevalensi stunting adalah pemberian Vitamin A. Defisiensi Vitamin Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa defisiensi Vitamin A memiliki dampak buruk pada tingkat nutrisi anak, anemia, gangguan tumbuh kembang, dan kejadian stunting. Untuk WHO pemberian Vitamin A pada bayi dan anak untuk mengoptimalkan tumbuh kembang, mencegah infeksi, dan menurunkan risiko Selain itu, konsumsi Vitamin A memiliki hubungan yang kuat dengan pemulihan stunting (Sedgh et al. , 2000. WHO, 2011. Winata et al. , 2. Stunting tumbuh kembang pada anak akibat malnutrisi dan infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Malnutrisi dan infeksi saling berhubungan dengan cara yang buruk. Malnutrisi meningkatkan kerentanan seseorang untuk DAFTAR PUSTAKA Aghadiati. Ardianto. Rida Wati. Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Adiwangsa Jambi. Studi Keperawatan. Ilmu Kesehatan Universitas Adiwangsa Jambi. Jl Sersan Muslim NoRT. Hok. Jambi Sel. Jambi. , & Penulis. Hubungan Pengetahuan Ibu Terhadap Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Suhaid Relationship Between MotherAos Knowledge and Stunting In the Work Area of the Suhaid Health Center. In Journal of Healthcare Technology and Medicine (Vol. Issue . Arnita. Rahmadhani. , & Sari. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan Upaya Pencegahan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Kawat Kota Jambi. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi, 9. , 7. https://doi. org/10. 36565/jab. Awasthi. , & Awasthi. Role of vitamin a in child health and nutrition. Clinical Epidemiology and Global Health, 8. , 1039Ae1042. https://doi. org/10. 1016/j. Beal. Tumilowicz. Sutrisna. Izwardy. , & Neufeld. penyerapan dan pemanfaatan zat gizi Untuk itu, pemberian vitamin A dirasa penting karena mampu mencegah infeksi dan meningkatkan status gizi anak (Macallan, 2009. WHO, 2015. Winata et al. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan stunting, namun terdapat hubungan positif antara suplementasi Vitamin A dosis tinggi dengan prevalensi stunting. SARAN