SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING DAN THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS 5 DALAM PELAJARAN MATEMATIKA DASAR Mutiara Sasy Ayudya1. Theresia Sri Rahayu2 Program Studi PGSD. Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga Jawa Tengah1,2 e-mail : 292015030@student. edu1 , theresia. rahayu@uksw. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model problem based learning dan think pair share terhadap kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran matematika kelas V SD. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD. Subjek pada penelitian ini yaitu SDN Sidorejo Lor 01 Salatiga sejumlah 40 siswa, 20 siswa di kelas A sebagai kelas eksperimen 1, dan 20 siswa kelas B sebagai kelas kontrol Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan Ho ditotak dan Ha diterima. Hal ini berdasarkan hasil analisis NGain menunjukkan peningkatan nilai setelah diberikan perlakuan PBL sebesar 0,67, sedangkan peningkatan nilai setelah diberikan perlakuan TPS sebesar 0,54. Berdasarkan dari semua hasil analsis dapat disimpulkan adanya perbedaan efektivitas yang signifikan dalam penelitian ini. Terbukti penerapan model pembelajara PBL memiliki tingkat efektivitas lebih tinggi jika dibandingkan dengan model pembelajaran TPS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas V dalam pelajaran Kata kunci : Problem Based Learning. Think Pair Share. Kemampuan Berpikir. Abstract The purpose of this study was to determine the effectiveness of the problem based learning model and think pair share of critical thinking skills in mathematics subject class V SD. The subjects in this study were SDN Sidorejo Lor 01 Salatiga with a total of 40 students, 20 students in class A as experimental class 1, and 20 students in class B as a control class. Based on the research results showed Ho was rejected and Ha was accepted. This is based on the results of the NGain analysis showing an increase in value after being given PBL treatment by 0. 67, while an increase in value after being given a TPS treatment by 0. Based on all the results of the analysis it can be concluded that there are significant differences in effectiveness in this study. Proven application of PBL learning models has a higher level of effectiveness when compared to the TPS learning model on the critical thinking skills of fifth grade students in mathematics. Keywords: Problem Based Learning. Think Pair Share. Thinking Ability. PENDAHULUAN Menurut peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 103 Tahun 2014 pasal 2 ayat 1 menyebutkan Pembelajaran dilaksanakan berbaasis aktivitas dengan karakteristik: interaktif dan inspiratif, menyenangakan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, kontekstual dan kolaboratif, memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik, sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu, pendidik diharapkan untuk dapat menciptakan pembelajaran yang inovatif maupun menyenangkan namun tidak menghilangkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai maka tagline diciptakan pembelajaran yang bermakna. Hal tersebut akan terwujud jika peserta didik ikut terlibat dalam proses belajar mengajar yang Sehinga peserta didik dapat menemukan solusi pemecahan masalah yang ada dalam pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang tepat agar tercipta pembelajaran bermakna yang diinginkan. Di dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 pun sudah diatur bahwa peserta didik dituntut untuk menunjukkan Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 keterampilan berfikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan Matematika merupakan pelajaran yang selalu ada dan diajarkan disetiap jenjang pendidikan, dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Matmatika adalah ilmu yang mempelajari tentang dasar penggembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Matematika di tingkat SD sendiri memiliki ruang lingkup meliputi bilangan asli, bulat dan pecahan sederhana, geometri dan pengukuran sederhana, dan statistika sederhana. Ada 5 alasan belajar matematika menurut Cornelius . alam jurnal Aufa dkk, 2. Asarana untuk berpikir jernih dan logis, . sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, . sarana untuk mengetahui hubungan pola dan generalisasi pengalaman, . sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan . sarana untuk meningkatkan kesadaran akan perkembangan budayaAy. Matematika dianggap sebagai bahasa yang dapat mewakili serangkaian pertanyaan yang selama ini ingin kita sampaikan. Selain itu, dengan menggunakan pola pikir tertentu matematika juga dapat berfungsi sebagai alat pemikiran untuk mengambil keputusan. Sehingga diharapkan pembelajaran matematika di sekolah dapat dipelajari dengan benr dan tepat agar pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna dan brmanfaat dan dapat digunakan atau diterpakan dikehidupan seharihari. Seiring berkembangnya jaman, tingkah dan peilaku manusia pun mengalami Tidak hanya tingkah dan perilaku manusianya saja, perubahan juga terjadi pada sistem pendidikan yang ada, terutama di Indonesia. Sistem pendidikan adalah strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar pesrta didik dapat aktif mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan revolusi industri yang ada. Perubahan perkembangan revolusi industri memberikan efek yang secara tidak langsung tidak hanya merubah tatanan ekonomi dunia saja melainkan turut merubah sistem pendidikan yang ada karna adanya tantangan baru di Revolusi industri di dunia sendiri sudah terjadi dari abad ke 18 hingga sekarang, dan sudah mengalami revolusi industri 4. 0 yang terjadi mulai sekitar tahun 2010. Dengan menggunakan internet of thing dan rekayasa intelegensia sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Nama tren revolusi industri ini adalah Industri 4. 0, dimana nama tersebut merupakan nama tren dari sistem otomatisasi Era revolusi industri 4. 0 ini mencakup sistem siberfisik, dimana internet digunakan untuk segala aktivitas, komputasi kognitif dan aktifasi lain berbasis jaringan. Era revolusi industri 4. 0 merupakan tantangan terberat bagi guru. Guru yang sebelumnya berperan sebagai penyedia ilmu kini tergeser dengan adanya revolusi industri ini, karena guru tidak hanya berperan menyediakan ilmu dan pentingnya kehadiran sang guru, kini guru dituntut memiliki kreativitas yang tinggi di dalam kelas. Seseorang yang memiliki kemmpuan brpikir kritis dan kreatif memugkinkan ia mempelajari masalaha yang ada dari berbagai persoalan yang dihadapinya secara Begitu pula dengan peserta didik, apabila guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dapat merangsang peserta didik untuk melakukan kegiatan berpikir kritis dalam membahas penemuan yang berkaitan dengan rumus masalah yang ada dalam pembelajaran, sehingga mencapai tujuan yang ada, dengan tetap memberikan arahan dan memfasilitasi peserta didik dalam proses pembelajaran maka hasil belajar yang diterima pun akan optimal. Menurut Atmoko . , peserta didik dikatakan berpikir kritis apabila peserta didik dapat menguji pengalamannya, mengevaluasi kemampuan, ide-ide, dan mempertimbangkan argument sebelum mendapat justifikasi. WebsterAs . alam Amri dan ahmad, 2010:. mengungkapkan berpikir kritis dengan menyatakan bahwa AuKritisAy adalah menerapkann atau mempraktikkan penilaian yang teliti dan objektif sehingga berpikir kritis diartikan sebagai berpikir yang membutuhkan kecermatan dalam membuat keputusan. Sedangkan ACece WijayaAy . berpendpat bahwa berpikir kritis adalah kegiatan menganalisis idea tau gagasan kea arah yang lebih spesifik, membedakannya secara slogannya, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya kearah yang lebih sempurna. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Model pembelajaran berbasis masalah. Problem Based Learning (PBL) dan berpikir pasangan berbagi (TPS) merupakan dua contoh model pembelajaran kooperatif yang ada. Dijelaskan oleh Slavin . , "pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam macam metode pengajaran satunya adalah para peserta didik dan memulai bekerja dalam kelompok akan membawa peserta didik belajar bersosialisasi". Pembelajaran ini merupakan salah satu pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil pada peserta didik untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar sehingga mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Sugiyanto . Pembelajaran kooperatif merupakan konsep yang lebih luas, meliputi semua jenis kerja kelompok yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru, ini menurut Suprijono . Maka dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang diarahkan oleh guru, dimana guru hanya berperna sebagai fasilitator pemberi tugas dan beberapa pertanyaan serta menyediakan bahan dan informasi yang dibutuhkan peserta didik dalam menyelesaikan masalah yang diberikan ole guru METODE PENELITIAN Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah quasi-eksperimental-design. Eksperimen semu yang merupakan pengembangan dari eksperimen murni. Peneliti menggunakan desain eksperimen Non-equivalent Control Group Desain dapat menyelidiki perngaruh dari dua atau lebih variable yang digunakan. Dalam penelitian ini dapat dilihat perbedaan efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) setelah diberikan perlakuan dan dari masing-masing model dapat dilihat manakah yang lebih efektif antara kedua model tersebut. Kelompok eksperimen dan kelompok control diberikan pretest dan posttest guna untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Berikut adalah desain penelitian Non-equivalent Control Group Design (Sugiyono, 2. Tabel Desain Penelitian Non Equivalent Control Group Design Group Pretes Perlakuan Postes Eksperimen Kontrol Desain Eksperimen (Non-equivalent Control Group Desig. Keterangan : O1: Pengukuran awal hasil belajar . pada kelas eksperimen O3: Pengukuran awal hasil belajar . pada kelas kontrol X1: Perlakuan untuk kelompok eksperimen yaitu pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) X2: Perlakuan untuk kelompok kontrol yaitu pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) O2:Pengukuran akhir hasil belajar . pada kelas eksperimen O4:Pengukuran akhir hasil belajar . pada kelas control Adapun lokasi penelitian ini dilaksanakan di Gugus Sidorejo Lor. Kecamatan Sidorejo. Kota Salatiga. Populasi yang ada diambil dalam penelitian ini yaitu siswa kelas V sebanyak 40 siswa, 20 siswa kelas VA, dan 20 siswa kelas VB. Dalam penelitian ini materi yang digunakan yaitu materi menentukan volume bangun ruang balok dan kubus. Penelitian ini menempuh langkah-langkah sebagai berikut: memberikan soal pretest terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pemberian pretest digunakan untuk memahami tingkat kemampuan yang dimiliki siswa pada awal sebelum diberikan perlakuan. Perlakuan yang diberikan berbeda, yaitu pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 dengan menggunakan model pembelajaran PBL, sedangkan kelompok kontrol diberikan perlakukan dengan menggunakan modelpembelaajaran TPS. Dari kedua kelompok tersebut memiliki tujuan untuk mengetahui perbedaan dari perlakuan antara kedua model pembelajaran tersebut. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik tes dan non tes. Dalam teknik tes yaitu dilakukan siswa mengerjakan soal tes berupa uraian untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa, sedangkan teknik non tes dilakukan untuk mengamati bagaimana kesesuaian guru selama melakukan pembelajaran dengan menggunakan model yang sesuai dengan langkah-langkah yang ada. Selain itu dalam penelitian ini terdapat langkah-langkah untuk mengumpulkan data, yaitu: menyusun kisi-kisi, menyusun instrumen penelitian, melakukan uji validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 26 for windows, memberikan pretest, memberikan tindakan penelitian dengan memberikan posttest, dan menganalisis data. Adapun langkah-langkah dalam penelitian yang dilakukan sebagai berikut: . tahap persiapan, meliputi merumuskan indikator, pembuatan instrumen, . tahap uji instrumen, meliputi uji pakar, uji validitas, dan reabilitas, . tahap pelaksanaan, meliputi pengambilan data selama proses perlakuan berlangsung dan setelah perlakuan dilakukan, . tahap analisis data, meliputi analisis kumparasi, uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis. Hipotesis yang diuji dalam penelitian, yaitu: Ho: Tidak terdapat perbedaan antara penggunaan model problem based learning dan think pair share terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran matematika kelas V SD. Ha: Terdapat perbedaan antara penggunaan model problem based learning dan think pair share terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran matematika kelas V SD. Efektivitas model PBL dengan TPS ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dilakukan uji beda rata-rata dengan menggunakan Independent Sample Ttest. Penggunaan Independent Sample T-test berguna untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata dari kedua model pembelajaran PBL dan TPS. Hal ini berhubungan dengan uji NGain dikarenakan dalam uji NGain dapat mengetahui peningkatan rata-rata setelah diberikan perlakuan dari hasil pretest dan posttest. Dalam melakukan uji beda menggunakan data rata-rata adalah data sesudah perlakukan diberikan atau data posttest. Setelah mendapatkan hasil dilakukan uji hipotesis yang memiliki kriteria keputusan sebagai berikut: Ho diterima apabila probilitas > 0,05 dan jika probilitas < 0,05 Ha diterima. Setelah mengetahui keefektivan kedua model terhadap kemampuan berpikir kritis pada kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat analsisi deskriptif diperoleh data komparasi hasil pengukuran pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis yang dipaparkan dalam tabel sebagai berikut : Tabel Komparasi Hasil Pengukuran Kemampuan Berpikir Kritis Pengukuran Pretest Posttest Rata-rata Skor . Eksperimen Kontrol Selisih Dari tabel data komparasi rata-rata skor pretes antara kedua kelompok penelitian, yaitu kelompok eksperimen yang diberi pelakuan dengan model PBL dan kelompok control yang diberi perlakuan deng model pembelajaran TPS sehingga diperoleh selisih 2,9. Sedangakn untuk rata-rata skore posttes dari kedua kelompok tersebut memiliki selisih 5,8. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Dibawah ini adalah diagram komparasi data antara kedua kelompok yang disajikan dalam bentuk gambar. Pre Test Post Test Eksperimen Kontrol Diagram komparasi data antara kedua kelompok Berdasarkan dari gambar diagram diatas. Adiketahui bahwa adaya peningkaatan pada kedua kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan PBL maupun kelompok kontrol yang diberikan perlakuan TPSAoAo. Dari hasil penelitian juga dilakukan Uji Normalitas terhadap kelompok eksperimen dan kelompok control. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada table berikut : Tests of Normality Kelas Hasil Belajar KolmogorovSmirnova Statistic df Sig. Pre Test Eksperimen Pos Test Eksperimen Pre Test Kontrol Pos Test Kontrol Shapiro-Wilk Stati Sig. Dari table diatas diperoleh hasil uji normalitas pretes dan posttes kedua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan dengan PBL dan kelompok control yang diberika perlakuan TPS diperoleh nilei signifikasi < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal dan sebaliknya jika nilai signifikasi > 0,05 maka data berdistribusi normal. AuPada kolom table ke 3 tertera nilai signifikasi > 0,05 baik dari hasil yang diperoleh pretest maupun hasil yang diperoleh posttest dari kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Oleh karna itu, dapat disimpulkan bahwa data memiliki distribusi normal. Tingkat signifikasi nilai pretest kelompok eksperimen adalah 0,434 > 0,05, artinya nilai berdistribusi normal. Tingkat signifikasi nilai posttest kelompok eksperimen adalah 0,180 > 0,05, artinya nilai berdistribusi Tingkat signifikasi nilai pretest kelompok kontrol adalah 0,280 > 0,05, artinya nilai berdistribusi normal. Tingkat signifikasi nilai posttest kelompok kontrol adalah 0,089 0,05, artinya nilai berdistribusi normal. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Pada penelitian ini dilakukan juga uji homogenitas ini menggunakan SPSS 26 for Windows. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah sampel kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki varian yang sama. Berikut adalah tabel hasil uji Tabel Uji Homogenitas Sebelum Perlakuan Hasil Belajar Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed Sig. Tabel diatas memperoleh hasil uji homogenitas mengunakan metode LeveneAos Test. Memilih salah satu interpretasi statistik yang berdasarkan pada rata-rata (Based on Mea. Berdasarkan hasil pada Tabel menunjukkan hasil uji homogenitas sebelum dilakukan perlakuan memperoleh nilai signifikasi 0,110 dimana < 0,05 yang mengartikan bahwa kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak terdapat varian yang sama atau dikatakan tidakA homogen . Tabel Uji Homogenitas Setelah Perlakuan Hasil Belajar Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed Levene Statistic Sig. Dari tabel diatas diperoleh hasil uji homogenitas mengunakan metode LeveneAos Test. Berdasarkan hasil pada tabel menunjukkan hasil uji homogenitas setelah dilakukan perlakuan memperoleh nilai signifikasi 0,557dimana > 0,05 yang mengartikan bahwa kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terdapat varian yang sama atau ditakatan Setelah itu dapat dilakukan analisis uji T menggunakan independent sample T test dengan menggunakan bantuan sofware SPSS 26 for windows. Uji T ini memiliki tujuan agar dapat memperoleh informasi ada atau tidaknya perbedaan efektifitas atara kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terhadap kemampuan berpikir kritis. Berikut adalah sajian hasil analisis uji T dalam bentuk tabel : Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Tabel 6 Hasil Analisis uji T dengan Independent Sample T-Test Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Hasil Belajar Equal Equal t-test for Equality of Means Sig. Sig. Mea Differ Std. Error Differ 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Berdasarkan hasil analisis uji T pada Tabel , yang menggunakan independent sample T test dapat diartikan bahwa hasil 987dengan signifikasi pada kolom sig. -taile. sebesar 0,000. Selanjutnya terdapat perbedaan antara rata-rata dari kelompok mean diference sebesar 6. yang diperoleh dari data diatas adalah 2,268. Dalam penelitian hipotesis dapat menentukan apakah hipotesis tersebut diterima atau Berikut merupakan hipotesis pada penelitian ini : : Tidak terdapat perbedaan pengaruh penerapan model PBL dengan TPS ditinjau dari kemampuan berpikir kritis siswa kelas V dalam pelajaran matematika. : Terdapat perbedaan pengaruh penerapan model PBL dengan TPS ditinjau dari kemampuan berpikir kritiss siswa kelas V dalam pelajaran matematika. Kriteria pengambilan keputusan: Menggunakan koefisien Sig. Dengan ketentuan: Jika nilai sig. Hitung . <0,05 maka H0 ditolak. Jika nilai sig. Hitung . >0,05 maka H0 diterima. Menggunakan koefisien t hitung dengan ketentuan: Jika koefisien t Hitung > t tabel maka H0 ditolak. Jika koefisien t Hitung < t tabel maka H0 diterima. Penelitian ini memperlihatkan bahwa hasil uji beda rata-rata pretest nilai kemampuan berpikir kritis siswa dengan kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan PBL lebih tinggi daripada kelompok kontrol yang mendapatkan perlakuan TPS. Selain itu juga dapat diartikan bahwa kelompok eksperimen lebih efektif jika dibandingkan dengan kelompok Sedangkan uji NGain dapat digunakan untuk memperkuat keefektivan dari penerapan kedua model pembelajaran yang telah dipakai. Berikut adalah rumus yang telah digunakan dalam uji NGain yaitu rumus Hake yang terdapat pada Tabel berikut : Penelitian ini menunjukkan hasil uji beda rata-rataa nilai pretest kemampuan bepikir kritis siswa kelompk eksperimen, yaitu kelompok yang memperoleh pelakuan PBL lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok control yang diberi perlakuan deng model TPS. Sehingga dapat diartikan jika kelompok ekperimen yang diberi perlakuan dengan PBL lebih efektif bial dibandingakan dengan kelompok control. Seedangkan uji NGain dapat digunakan untuk memperrkuat keefektifan dari penerapan kedua model tersebut. Berikut ini adalah rumus yang telah digunakan dalam uji NGain yaitu rumus Hake yang terdapat pada Tabel Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 N Ae Gain = Keterangan : S Posttest: Skor Posttest S Pretest : Skor Pretest S max : Skor Maksimum ideal Tabel Ketegori Perolehan Skor N-Gain Batasan Kategori g > 0,7 0,3 < g O0,7 g < 0,3 Tinggi Sedang Rendah Dari hasil uji N-Gain kelompok ekspermen yang telah dilakukan menunjukkan perubahann peningkatan sebesar 0,67 sehingga dapat diartikan bahwa rata-rata kelompok ekperimen mengalami peningkatan kategori sedang. Jika dibandingkan dengan hasil ratarata kelompok eksperimen, hasil dari uji NGain dari kelompok kontrol menunjukkan peningkatan sebesar 0,54. Hasil tersebut dapat berarti bahwa pada kelompok kontrol juga mengalami peningkatan masuk dalam kategori sedang. Namun, peningkatan lebih tinggi terjadi pada kelompok eksperimen. Kegiatan penlitian ini dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan Think Pair Share. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahawa model pembelajaran Problem Based Learning terbukti lebih efektif diterapkan dibandingkan menggunakan Aumodel pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan kemampan berpikir kritis yaitu:A AuClarification. Assesment. Inference, dan Strategi/takti. pernyataan ini sesuai dengan pendapat Cece Wijaya . mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan kegiatan menganalisis ide atau gagasaan ke arah yang lenih spesifik, membedakan secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya kea rah yang lebih sempurna. Keberhasilaan yang didapat untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V dalam pelajaran maatematika dengan menggunakan moel ,Problem Based Learning dan model pembelajran Think Pair Share dipengaruhi dengan mengembagkan ide dan gagasn diteiap aspek yang sudah disediakan. Diharapkan dengan dikembangkannya ide, siswa dapat meningkatkan kemempuan dalam berpikir kritis leboih efektif dan siswa dilatih untuk berpikir logis, relektuf, serta produktif. Hal tersebut sma dengan pendapat (Desmita, 2. yang mengatakan bahwa kemampuan berpikir dengan logis, reflektif, serta produktif yang diterpakan dlam menilai sesuai untuk membuat oertimbangan dan keputusan yang Selain itu, penelitian ini dilakukan dengan pretes dan posttes untuk mendukung dan meningkatkan nilai yang dicapai oleh siswa. Hal ini sangat berpengaruh pada berhasil atau tidaknya penelitian ini dikarenakan adanya perbedaan nilai yang signifikan pada sebelum dan sesudah perlakuan yang diberikan pada setiap kelompok. Maka dari itu dilakukan analisi untuk mengetahui perbedaan atau peningkatan dalam setiap model, yaitu bahwa dengan model Problem Based Learning diperoleh peningkatan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share. Dengan penelitian ini diperoleh juga hasil penelitoian yang membuktikan Aubahawa model pembelajaran Problem Based learning lebih efektif untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan model pembelajaran Think Pair Share. Hasil penelitian ini memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Indrawati D. Wahyudi dan Ratu dengan hasil model pembelajaran Problem Based Learning mampu untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah operasi hitung bilangan pecahan. Begitu Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 272-281 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Maarif. H dan Wahyudi dengan hasil yang menyatakan modelpembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika dibandingkan dengan CIRC. AuDan penelitian yang dilakukan oleh Nurin, dan Djamilah dengan hasil model pembelajaran Problem AuBased Learning lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran Konvensional ditinjau dari kemampuan berpikir kritis matematisAy. AuSelain itu melalui model Problem Based Learning merupakan kebiasaan yang sangat perlu dilatih sedini dan sesering mungkinAy. KESIMPULAN Dari hasiil penleitian, dan pembahasann, maka disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning terbukti lebih efektif dibandingkan dengan model1 pembelajaran 1Think Pair ShareAy. Hal ini terbukti pada penelitian yang dilakukan di kelas VA dan B di SD Negeri Sidorejo Lor 01 Salatiga. Dapat dilihat dari hasil nilai rata-rata skor posttes siswa dengan menggunakan model ProblemAy Based Learning mendapatkan nilai rata-rataa sebesarr 88,6 dengan NGain mengalami peningkatan sebesar 0,67. Sedangkan rata-rata nilai yang menggunakan model Think Pair Share memperoleh nilai skornya 82,4 dengan nilai NGainnya mengalami peningkatan sebesar 0,54. Hal tersebut membuktikan jika penggunaan model pembelajaran Problem Based Leaening memang lebih efektif apabila dibandingikan dengan model pembelajaran Think Pair Share. DAFTAR PUSTAKA