Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Publisher: CV. Doki Course and Training E-ISSN: 2985-8070iCP-ISSN: 2986-7762 Work Life Balance Psychometric: A New WLB Scale for ASN Employees Malinda Wijaya1. Jenny Tieneke Mutiara Corry Carolina Manurung2. Amalia Rizki Wahyuni3. Zainun MuAotadin4. Yana Mahdiana5 Universitas Persada Indonesia YAI1,2,3,4 STISIPOL Candradimuka5 Corresponding email: Malinda. 2465290065@upi-yai. ARTICLE INFO Article History Submission: 23-02-2026 Review: 27-02-2026 Revised: 02-03-2026 Accepted: 03-03-2026 Published: 16-03-2026 Kata kunci Work Life Balance Pengembangan Instrumen Aparatur Sipil Negara SDM ABSTRAK Work Life Balance (WLB) merupakan isu penting dalam pengelolaan sumber daya manusia, termasuk pada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menghadapi tuntutan kerja birokratis dan keterbatasan fleksibilitas peran. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi alat ukur Work Life Balance yang sesuai dengan karakteristik ASN di Indonesia. Konstruk WLB mengacu pada model empat dimensi dari Fisher et al. , yaitu Work Interference with Personal Life (WIPL). Personal Life Interference with Work (PLIW). Work Enhancement of Personal Life (WEPL), dan Personal Life Enhancement of Work (PLEW). Penelitian menggunakan desain instrument development and validation study dengan dua tahap pengambilan data, yaitu uji coba (N = . dan pasca uji coba (N = . Validitas isi diuji melalui expert judgment (N = . menggunakan AikenAos V dengan nilai 0,80Ae1,00. Analisis item menunjukkan korelasi positif signifikan . < 0,. dan item-rest correlation > 0,30, dengan reliabilitas tinggi ( = 0,852Ae0,963. O = 0,865Ae0,. Hasil Exploratory Factor Analysis (KMO = 0,829. p < 0,. menunjukkan satu faktor utama yang menjelaskan 62% varians total. Confirmatory Factor Analysis mendukung model unidimensional (CFI = 0,922. TLI = 0,905. GFI = 0,. Instrumen ini valid dan reliabel untuk mengukur WLB pada ASN di Indonesia. Pendahuluan Suatu organisasi atau perusahaan berdiri berlandaskan pada tujuan, dimana dalam proses mencapai tujuan tersebut karyawan sebagai SDM merupakan tokoh sentral dalam organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Isa et al. , 2. Tanpa adanya SDM yang mumpuni, sulit bagi perusahaan untuk mencapai tujuan-tujuannya. Selaras dengan Rahmalia et al. , . bahwa SDM merupakan pilar fundamental bagi organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Oleh sebab itu, penting bagi perusahaan untuk senantiasa menjaga para karyawannya sebagai asset dalam perusahaan. Website : http://jurnal. org/index. php/JIPBS/index Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Perusahaan saat ini dihadapkan pada tekanan untuk menciptakan lingkungan kerja yang dapat mendukung Work Life Balance karyawan mereka (Nawano et al. , 2. Dimana saat ini, kebijakan Work Life Balance menjadi salah satu faktor yang akan menentukan keberhasilan suatu organisasi (Zunaidah et al. , 2. Pada dasarnya, kebijakan Work Life Balance merupakan kebijakan yang dapat memberikan efek positif, baik bagi karyawan maupun perusahaan itu sendiri. Hal ini didukung oleh Wicaksana et al. , . yang menyebutkan bahwa Perusahaan yang mampu dalam menciptakan serta mengelola Work Life Balance merupakan bentuk dari strategi simbiosis mutualisme antara perusahaan dan karyawan. Fenomena kebutuhan akan Work Life Balance ini pun relevan dengan pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurut Hasibuan & Firmansyah . penting untuk menerapkan Work Life Balance pada ASN sebagai pegawai yang mengabdikan diri pada negara untuk melayani masyarakat. Dimana Work Life Balance dalam instansi pemerintah saat ini masih belum seimbang. Hal ini didukung oleh jurnal penelitian dari Mundung et al. , . yang menyebutkan bahwa kondisi Work Life Balance di lingkungan instansi Kementerian Agama saat ini masih tidak seimbang. Fenomena Work Life Balance pada instansi pemerintah pun juga didukung oleh penelitian dari Noviani . , bahkan fenomena Work Life Balance ini pun relevan pada instansi pemerintah daerah. Dimana menurut Fadhli et al. , . pada pegawai kantor Walikota Pekanbaru menunjukkan bahwa Work Life Balance adalah faktor kunci untuk meningkatkan produktivitas serta loyalitas pegawai pemerintah daerah. Dalam konteks ASN, isu work life balance semakin relevan karena kultur birokrasi yang cenderung rigid tanpa fleksibilitas besar. Selaras dengan hasil wawancara pada beberapa karyawan ASN dengan inisial (A) & (S) yang bertugas di salah satu Kementerian di Jakarta Pusat, dimana menurutnya ASN memiliki beban kerja yang tinggi, disusul dengan tuntutan administratif yang kompleks sehingga mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan peran pekerjaan dan kehidupan pribadi. Padahal menurut penelitian dari (Wicaksana et al. , 2. Work Life Balance dapat memberikan motivasi, semangat, dorongan positif dalam melakukan aktivitas serta mengontrol kualitas kehidupan pribadi seperti hubungan, keluarga, finansial dan pencapaian lainnya dalam peningkatan kualitas pekerjaan yang Jika instansi tidak mempertimbangkan pengelolaan work life balance untuk karyawannya maka perilaku kerja mereka akan menurun (Hidayatullah & Aprilyani. Merujuk pada Human Capital Theory, ketika energi dan waktu terkuras dalam satu peran, tidak akan ada cukup energi dan waktu untuk melakukan aktivitas dalam peran yang Oleh karena itu, perlu ada upaya yang kuat dalam membangun dan memelihara perkembangan antara kehidupan pribadi dan kehidupan pekerjaan (Krisdayanti & Lianto. Menurut hasil penelitian dari Dayal . menunjukkan bahwa dalam dunia kerja saat ini, mencapai Work Life Balance sangatlah penting agar urusan professional dan tanggung jawab pribadi dapat dikelola dengan baik. Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Work Life Balance menurut Fisher . didefinisikan sebagai ketegangan antara tuntutan peran pekerjaan dan kehidupan pribadi, dimana sebagai stresor pekerjaan hal ini disebabkan hilangnya sumber daya waktu dan energi serta kurangnya pencapaian tujuan. Sedangkan Work Life Balance menurut Agha et al. , . didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengintegrasikan urusan kerja dan keluarga secara seimbang, sehingga kinerja di kedua bidang tersebut tidak terganggu. Relevan dengan Fadhli et al. bahwa Work Life Balance adalah faktor kunci untuk meningkatkan produktivitas hingga loyalitas pegawai pemerintahan. Dapat disimpulkan bahwa work life balance merupakan kemampuan individu dalam mengintegrasikan ketidakseimbangan antara tuntutan dalam kehidupan pekerjaan dan tuntutan dalam kehidupan pribadi, dimana ketika individu dapat menyeimbangkan kedua peran ini maka dapat meningkatkan produktivitas hingga loyalitas terhadap organisasi. Work Life Balance menurut Fisher et al. , . terdiri dari empat dimensi. Dimana terdapat dua dimensi yang bersifat positif dan dua lainnya bersifat negatif, antara lain: Work Interference with Personal Life (WIPL) Dimensi WIPL ini mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kehidupan pribadi individu. Contohnya seperti, pekerjaan membuat individu merasa kesulitan dalam mengatur waktu kehidupan pribadinya. Personal Life Interference with Work (PLIW) Dimensi PLIW ini mengacu pada sejauh mana kehidupan pribadi individu dapat memberi pengaruh negatif kepada kehidupan pekerjaannya. Contohnya seperti, ketika individu memiliki masalah dalam kehidupan personalnya yang membuat individu merasakan perasaan kurang menyenangkan dan hal tersebut berdampak seperti mengganggu konsentrasinya ketika bekerja. Work Enhancement of Personal Life (WEPL) Dimensi WEPL ini mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat memberikan pengaruh positif pada kualitas kehidupan personal individu. Contohnya seperti, kemampuan yang didapatkan individu sewaktu bekerja memungkinkan individu tersebut untuk memanfaatkan kemampuan tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Personal Life Enhancement of Work (PLEW) Dimensi PLEW ini mengacu pada sejauh mana kehidupan personal seseorang dapat memberikan pengaruh positif terhadap performa individu dalam pekerjaannya. Contohnya, individu merasa kehidupan pribadinya menyenangkan dan hal tersebut membuat mood atau suasana hati individu dalam bekerja menjadi menyenangkan. Dilatarbelakangi akan kebutuhan Work Life Balance sesuai penjabaran diatas, peneliti merasa perlu untuk mengembangkan alat ukur Work Life Balance yang disesuaikan untuk pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia. Dimana untuk pengembangan alat ukur Work Life Balance yang dibuat khusus bagi pegawai ASN di Indonesia hingga saat ini belum Padahal karakteristik birokrasi, budaya kerja, serta tuntutan peran pada ASN Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 berbeda dengan sektor swasta. Dimana berdasarkan fenomena menunjukkan adanya kebutuhan Work Life Balance pada pegawai di Instansi ataupun Kementerian dalam Pemerintahan kita saat ini. Alat ukur ini diharapkan dapat menjadi asesmen awal sebelum adanya intervensi lain pada penelitian psikologi terhadap karyawan yang bekerja pada Instansi Pemerintahan dan dapat berkontribusi terhadap peningkatan SDM khususnya dalam lingkup pemerintahan di Indonesia. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain instrument development & validation study, dimana peneliti akan mengkonstruksi alat ukur Work Life Balance merujuk pada empat dimensi WLB menurut (Fisher et al. , 2. dan menguji hasilnya secara statistik. Keempat dimensi tersebut terdiri dari Work Interference with Personal Life (WIPL). Personal Life Interference with Work (PLIW). Work Enhancement of Personal Life (WEPL) dan Personal Life Enhancement of Work (PLEW). Jumlah item pada masing-masing dimensi terdiri dari 3 item, dengan jumlah keseluruhan item skala WLB ini sejumlah 12 item. Konstruksi skala WLB ini menggunakan skala Likert dengan menggunakan 4 point. Dimana dua dimensi WLB yaitu WIPL dan PLIW merujuk pada dimensi dengan item Sedangkan dua dimensi WLB lainnya yaitu. WEPL dan PLEW merujuk pada dimensi dengan item favorable. Bagi item nomor 1 hingga 6 yang tergolong unfavorable, skoring penilaian yaitu: Point 1 (Sangat Setuj. Point 2 (Setuj. Point 3 (Tidak Setuj. dan Point 4 (Sangat Tidak Setuj. Sedangkankan bagi item 7 hingga 12 yang merupakan item favorable, skoring penilaian sebaliknya. Dalam hal ini, peneliti menggunakan expert judgment sebagai content validity sejumlah 5 orang yang terdiri dari dosen, praktisi psikolog PIO. HRD hingga Rekruiter yang relevan dengan ranah Psikologi Industri Organisasi, dimana semua expert judgement memiliki latar belakang Pendidikan Psikologi. Hasil pengujian dari expert judgment kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis AikenAos V dan hasilnya menunjukkan bahwa seluruh item memperoleh hasil content validity yang tinggi dengan kriteria >0,8 validitas tinggi, >0,6 validitas cukup dan <0,6 validitas rendah. Setelah pengujian content validity, peneliti lanjut melakukan pilot study atau pengambilan data uji coba (N=. untuk menyeleksi item awal dengan responden yaitu Aparatur Sipil Negara (ASN). Pengambilan data uji coba dilakukan secara daring menggunakan media googleform selama 5 hari. Hasil data uji coba tersebut dianalisis korelasi antar butir item, daya beda item, reliabilitas dan construct validity menggunakan analisis EFA. Setelah data pilot study selesai dianalisis, peneliti melanjutkan pengambilan data penelitian dengan jumlah responden yang lebih besar (N=. Pengambilan data penelitian pasca uji coba dilakukan secara daring menggunakan media googleform selama 38 hari dengan responden yaitu Aparatur Sipil Negara (ASN). Setelah pengambilan data penelitian Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 rampung, peneliti menganalisis data pasca uji coba tersebut menggunakan teknis analisis CFA. AVE hingga Composite Reliability. Teknik analisis CFA dilakukan untuk menguji dan membuktikan construct validity dari data yang sudah dikumpulkan serta mengkonfirmasi hasil analisis EFA sebelumnya. Teknik analisis AVE digunakan untuk menguji validitas konvergen dari alat ukur ini, serta reliability ulang . omposite reliabilit. diujikan kembali untuk melihat perbedaan reliabilitas alat ukur antara data uji coba dan dan pasca uji coba. Pengujian data statistic menggunakan software JASP. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Validitas Isi (Expert Judgemen. Validitas isi dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis AikenAos V untuk melihat rentang validitas terhadap butir 1 hingga butir 12. Tabel 1: Hasil Analisis AikenAos V Butir Ket Butir_01 Validitas_Tinggi Butir_02 Validitas_Tinggi Butir_03 Validitas_Tinggi Butir_04 Validitas_Tinggi Butir_05 Validitas_Tinggi Butir_06 Validitas_Tinggi Butir_07 Validitas_Tinggi Butir_08 Validitas_Tinggi Butir_09 Validitas_Tinggi Butir_10 Validitas_Tinggi Butir_11 Validitas_Tinggi Butir_12 Validitas_Tinggi Berdasarkan hasil penilaian expert judgement diatas menunjukkan nilai AikenAos V berada pada rentang 0,8Ae1, yang mengindikasikan seluruh item memenuhi kriteria validitas isi dan tegolong memiliki validitas yang tinggi. Secara metodologis, pendekatan ini merujuk pada prosedur yang dikembangkan oleh (Aiken, 1. , yang menekankan pentingnya kuantifikasi kesepakatan ahli terhadap relevansi item. Validitas isi merupakan langkah awal dalam memastikan representasi domain konstruk sebelum memasuki tahap pengujian empiris (Haynes. Richard, & Kubany. Dalam pengembangan instrumen psikometri, validitas isi merupakan fondasi sebelum pengujian validitas konstruk dilakukan (DeVellis, 2. Tanpa validitas isi yang memadai, pengujian faktor lanjutan berisiko mengonfirmasi struktur yang secara konseptual tidak komprehensif. Dengan demikian, hasil AikenAos V yang tinggi memperkuat dasar konseptual instrumen sebelum dilakukan EFA dan CFA. Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 2 Hasil Uji Coba Instrumen 1 Data Deskriptif Tahap Uji Coba Tabel 2: Analisis Data Deskriptif Uji Coba Descriptive Statistics Usia Pendidikan_Terakhir Pria Wanita Pria Wanita Valid Missing Mode Minimum SMA Maximum > 50 tahun > 50 tahun Penelitian ini melibatkan 30 responden yang terdiri atas 11 responden pria dan 19 responden wanita. Seluruh data dinyatakan lengkap tanpa adanya data hilang . issing value = . pada seluruh variabel demografis yang dianalisis. Tabel 3: Hasil Distribusi Usia Responden Tahap Uji Coba Frequencies for Usia Jenis_Kelamin Pria Wanita Usia Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 18 - 28 29 - 39 40 - 50 > 50 Missing Total 18 - 28 29 - 39 40 - 50 Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Frequencies for Usia Usia Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent > 50 Missing Total Jenis_Kelamin Berdasarkan hasil analisis deskriptif, kelompok usia responden pria paling banyak berada pada rentang 29Ae39 tahun, yaitu sebanyak 6 orang . ,5%). Selanjutnya, responden pria pada rentang usia 40Ae50 tahun berjumlah 3 orang . ,3%), dan usia di atas 50 tahun sebanyak 2 orang . ,2%). Tidak terdapat responden pria pada rentang usia 18Ae28 tahun. Pada kelompok responden wanita, mayoritas juga berada pada rentang usia 29Ae39 tahun, yaitu sebanyak 10 orang . ,6%). Responden wanita usia 18Ae28 tahun berjumlah 5 orang . ,3%), diikuti usia 40Ae50 tahun sebanyak 3 orang . ,8%), dan usia di atas 50 tahun sebanyak 1 orang . ,3%). Secara umum, distribusi usia responden menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan pada tahap uji coba, baik pria maupun wanita, berada pada usia produktif menengah . Ae39 tahu. , yang mengindikasikan karakteristik sampel yang relatif matang secara usia. Tabel 4: Hasil Distribusi Pendidikan Terakhir Responden Tahap Uji Coba Frequencies for Pendidikan_Terakhir Frequen Perce Valid Perce Cumulati Percent SMA Missing Total SMA Jenis_Kela Pendidikan_Tera Pria Wanita Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Frequencies for Pendidikan_Terakhir Jenis_Kela Pendidikan_Tera Frequen Perce Missing Total Valid Perce Cumulati Percent Ditinjau dari tingkat pendidikan terakhir, responden pria didominasi oleh lulusan Strata 1 (S. sebanyak 8 orang . ,7%). Responden pria dengan pendidikan Strata 2 (S. berjumlah 2 orang . ,2%), sedangkan lulusan SMA sebanyak 1 orang . ,1%). Tidak terdapat responden pria dengan pendidikan Diploma 3 (D. Sementara itu, responden wanita sebagian besar juga memiliki pendidikan terakhir Strata 1 (S. , yaitu sebanyak 17 orang . ,5%). Responden wanita dengan pendidikan D3 dan S2 masing-masing berjumlah 1 orang . ,3%), serta tidak terdapat responden wanita dengan pendidikan terakhir SMA. Hasil ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan responden uji coba penelitian didominasi oleh individu dengan latar belakang pendidikan tinggi (S1 dan S. , sehingga dapat diasumsikan bahwa responden memiliki kapasitas akademik yang memadai dalam memahami instrumen penelitian yang digunakan. 2 Hasil Analisis Korelasi Antarbutir Instrumen Tahap Uji Coba Hasil analisis korelasi Pearson pada dimensi Work Interference with Personal Life (WIPL) menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan satu sama lain serta dengan skor total konstruk. Korelasi antara Item 1 dan Item 2 sebesar r = 0,704 . < 0,. , antara Item 1 dan Item 3 sebesar r = 0,792 . < 0,. , serta antara Item 2 dan Item 3 sebesar r = 0,762 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori kuat, yaitu Item 1 . = 0,. Item 2 . = 0,. , dan Item 3 . = 0,. , seluruhnya signifikan pada taraf p < 0,001. Pola korelasi ini mengindikasikan bahwa ketiga item mengukur dimensi yang sama secara konsisten dan saling berkaitan secara substansial. Berikutnya, hasil analisis korelasi Pearson pada dimensi Personal Life Interference with Work (PLIW) menunjukkan bahwa seluruh item memiliki hubungan yang positif dan signifikan baik antar item maupun dengan skor total. Korelasi antara Item 4 dan Item 5 sebesar r = 0,709 . < 0,. , sedangkan korelasi Item 4 dengan Item 6 sebesar r = 0,785 . < 0,. Korelasi tertinggi antar item ditemukan antara Item 5 dan Item 6 dengan nilai r = 0,917 . < 0,. Selain itu, korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga tergolong kuat, yaitu Item 4 . = 0,. Item 5 . = 0,. , dan Item 6 . = 0,. , seluruhnya signifikan pada p < 0,001. Temuan ini mengindikasikan bahwa setiap item saling berkaitan secara konsisten dan merepresentasikan dimensi yang sama secara memadai. Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Diikuti dengan hasil analisis korelasi Pearson pada dimensi Work Enhancement of Personal Life (WEPL) menunjukkan bahwa seluruh item dalam instrumen memiliki hubungan yang positif dan signifikan satu sama lain. Item 7 berkorelasi kuat dengan Item 8 . = 0,741. p < 0,. dan berkorelasi sedang dengan Item 9 . = 0,514. Selanjutnya. Item 8 menunjukkan korelasi kuat dengan Item 9 . = 0,714. Korelasi antara masing-masing item dengan skor total juga berada pada kategori sedang hingga sangat kuat, yaitu Item 7 . = 0,685. p < 0,. Item 8 . = 0,900. p < 0,. , dan Item 9 . = 0,748. p < 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa seluruh item secara konsisten mengukur dimensi yang sama dan memiliki keterkaitan internal yang memadai. Pada dimensi Personal Life Enhancement of Work (PLEW), hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan satu sama lain. Item 10 berkorelasi dengan Item 11 sebesar r = 0,911 dan dengan Item 12 sebesar r = 0,902 . < 0,. , sedangkan korelasi antara Item 11 dan Item 12 mencapai r = 0,874 . < 0,. Selain itu, korelasi masing-masing item terhadap skor total juga tergolong kuat, yaitu Item 10 . = 0,. Item 11 . = 0,. , dan Item 12 . = 0,. , seluruhnya signifikan pada p < 0,001. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketiga item mengukur dimensi yang sama dan memiliki konsistensi hubungan yang tinggi dalam skala. 3 Hasil Analisis Daya Beda Item Tahap Uji Coba Daya beda item dievaluasi melalui nilai itemAerest correlation, yang menunjukkan sejauh mana setiap item mampu membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis pada dimensi Work Interference with Personal Life (WIPL) menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai itemAerest correlation yang tinggi, yaitu Item 1 sebesar 0,803 (CI 95%: 0,622Ae0,. Item 2 sebesar 0,774 (CI 95%: 0,573Ae0,. , dan Item 3 sebesar 0,843 (CI 95%: 0,693Ae0,. Nilai-nilai tersebut melampaui kriteria minimal daya beda yang baik (Ou 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminatif yang sangat baik dalam membedakan responden dengan tingkat konstruk yang berbeda. Berikutnya, daya beda item pada dimensi Personal Life Interference with Work (PLIW) yang ditinjau melalui korelasi item-total . tem-rest correlatio. menunjukkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminasi yang tinggi. Item 4 memiliki koefisien korelasi item-total sebesar 0,762 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,520 hingga 0,901. Item 5 menunjukkan nilai korelasi item-total sebesar 0,858 . % CI: 0,696Ae0,. , sedangkan Item 6 memiliki nilai tertinggi sebesar 0,919 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,829 hingga 0,965. Nilai-nilai tersebut berada jauh di atas batas minimum yang direkomendasikan (Ou 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap item mampu membedakan responden secara baik berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Selanjutnya pada dimensi Work Enhancement of Personal Life (WEPL), daya beda item dievaluasi melalui nilai item-rest correlation yang menunjukkan kemampuan setiap item dalam membedakan responden berdasarkan tingkat konstruk yang diukur. Hasil analisis menunjukkan bahwa Item 7 memiliki korelasi item-total sebesar 0,680 (CI 95%: 0,258Ae0,. Item 8 sebesar 0,836 (CI 95%: 0,585Ae0,. , dan Item 9 sebesar 0,658 (CI 95%: 0,331Ae0,. Seluruh nilai korelasi item-total berada di atas kriteria minimum yang direkomendasikan . > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap item memiliki daya beda yang baik dan berkontribusi secara signifikan terhadap pengukuran konstruk secara keseluruhan. Pada dimensi Personal Life Enhancement of Work (PLEW), daya beda yang ditunjukkan melalui item-rest correlation memperlihatkan nilai yang sangat tinggi pada setiap item, yaitu 0,937 untuk Item 10, 0,915 untuk Item 11, dan 0,908 untuk Item 12, dengan rentang confidence interval yang tetap berada pada kategori kuat. Nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap item mampu membedakan responden dengan tingkat konstruk tinggi dan rendah secara efektif, sehingga seluruh item dapat dikategorikan memiliki kualitas diskriminatif yang sangat baik dan layak dipertahankan dalam instrument. Menurut (Nunnally & Bernstein, 1. , korelasi item-total Ou 0,30 menunjukkan daya diskriminasi yang baik, sedangkan nilai di atas 0,50 mengindikasikan kualitas item yang sangat baik. Dalam penelitian ini, sebagian besar item memiliki korelasi di atas 0,70, bahkan mencapai 0,93 pada beberapa item. Hal ini menunjukkan homogenitas konstruk yang tinggi. Secara teoretis, homogenitas tersebut mendukung asumsi bahwa WLB merupakan konstruk dengan keterkaitan internal yang kuat antar komponennya, sebagaimana dijelaskan oleh (Greenhaus & Beutell, 1. dalam konsep interaksi kerjaAekehidupan pribadi. 4 Hasil Analisis Reliabilitas Tahap Uji Coba Reliabilitas skala diuji menggunakan koefisien CronbachAos Alpha () dan McDonaldAos Omega (O) untuk mengonfirmasi konsistensi internal instrumen. Hasil analisis pada dimensi Work Interference with Personal Life (WIPL) menunjukkan nilai sebesar 0,893 (CI 95%: 0,835Ae0,. dan nilai O sebesar 0,906 (CI 95%: 0,847Ae 0,. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas penerimaan umum (Ou 0,. , yang mengindikasikan bahwa instrumen memiliki reliabilitas yang tinggi. Dengan demikian, skala pada dimensi WIPL ini dapat dinyatakan memiliki konsistensi internal yang sangat baik dan layak digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Berikutnya uji reliabilitas internal pada dimensi Personal Life Interference with Work (PLIW) menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang sangat baik. Koefisien reliabilitas McDonaldAos Omega (O) diperoleh sebesar 0,927 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,838 hingga 0,973, sedangkan koefisien CronbachAos Alpha () sebesar 0,924 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,821 hingga 0,972. Kedua nilai koefisien tersebut melampaui kriteria reliabilitas yang umum Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 digunakan (Ou 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa skala pada dimensi PLIW ini reliabel dan konsisten dalam mengukur konstruk yang diteliti. Pada dimensi Work Enhancement of Personal Life (WEPL), reliabilitas internal instrumen juga dianalisis menggunakan koefisien Omega (O) dan CronbachAos Alpha (). Hasil menunjukkan nilai O sebesar 0,865 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,723 hingga 0,933, serta nilai sebesar 0,852 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,605 hingga 0,920. Kedua koefisien tersebut berada di atas batas minimal reliabilitas yang direkomendasikan (Ou 0,. , yang menandakan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi dan reliabel untuk digunakan dalam pengukuran konstruk penelitian. Sedangkan pada dimensi Personal Life Enhancement of Work (PLEW), pengujian reliabilitas menunjukkan koefisien omega (O) sebesar 0,963 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,939 hingga 0,986, serta koefisien alpha () sebesar 0,963 dengan interval kepercayaan 95% antara 0,914 hingga 1,011. Nilai reliabilitas yang jauh di atas batas umum 0,70 menandakan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang sangat tinggi. Dengan demikian, skala dapat dianggap sangat reliabel untuk mengukur konstruk yang diteliti dan menghasilkan data yang stabil serta dapat Menurut (Hair et al. , 2. , nilai reliabilitas Ou 0,70 dianggap memadai. Ou 0,80 baik, dan Ou 0,90 sangat baik. Dengan demikian, instrumen ini memiliki konsistensi internal yang sangat tinggi. Nilai omega yang lebih tinggi daripada alpha menunjukkan bahwa estimasi reliabilitas berbasis model faktor lebih akurat, sebagaimana direkomendasikan oleh (Dunn et al. , 2. Reliabilitas yang sangat tinggi juga mengindikasikan bahwa varians error relatif kecil dan sebagian besar varians item dijelaskan oleh konstruk laten. 5 Hasil Analisis EFA (Exploratory Factor Analysi. Tahap Uji Coba Tabel 5: Analisis Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) Kaiser-Meyer-Olkin Test MSA Overall MSA Item 1 Item 10 Item 11 Item 12 Item 2 Item 3 Item 4 Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Kaiser-Meyer-Olkin Test MSA Item 5 Item 6 Item 7 Item 8 Item 9 Kelayakan data untuk dilakukan analisis faktor ditunjukkan melalui nilai KaiserMeyer-Olkin (KMO)/MSA sebesar 0,829 yang termasuk dalam kategori baik . Dimana menurut (Kaiser, 1. , nilai KMO > 0,80 menunjukkan kelayakan analisis faktor yang baik, sehingga matriks korelasi dinilai memadai untuk dianalisis lebih lanjut. Nilai MSA tiap item juga berada di atas 0,70 . ,742Ae0,. , yang mengindikasikan bahwa seluruh item layak dipertahankan dalam model faktor. Tabel 6: Analisis BartlettAos Test of Sphericity Bartlett's Test < . Selanjutnya, hasil BartlettAos Test of Sphericity menunjukkan nilai NA = 374,017 dengan df = 66 dan p < 0,001. Hasil ini menandakan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antar item, sehingga struktur faktor dapat dibentuk dan analisis faktor dinilai sesuai untuk digunakan. Tabel 7: Analisis Factor Characteristics Factor Characteristics Unrotated solution Fact Rotated solution Eigenval Proporti on var. Cumulati SumSq Loadin Proporti on var. Cumulati Hasil ekstraksi faktor memperlihatkan bahwa hanya terdapat satu faktor utama dengan eigenvalue sebesar 7,442 yang mampu menjelaskan 62,0% varians total. Persentase ini tergolong tinggi dan menunjukkan bahwa sebagian besar variabilitas konstruk dapat direpresentasikan oleh satu dimensi laten. Tabel 8: Analisis Factor Loadings Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Factor Loadings Factor 1 Uniqueness Item 8 Item 5 Item 6 Item 11 Item 10 Item 12 Item 4 Item 2 Item 9 Item 3 Item 7 Item 1 Ditinjau dari factor loadings, seluruh item memiliki nilai muatan faktor di atas 0,60 . ,621Ae0,. Item 8 memiliki loading tertinggi . dengan nilai uniqueness 0,161, yang menunjukkan kontribusi sangat kuat terhadap faktor. Sebaliknya. Item 1 memiliki loading terendah . dengan uniqueness 0,615, tetapi masih berada dalam batas penerimaan sehingga tetap dapat dipertahankan. Secara umum, nilai uniqueness yang relatif rendah pada sebagian besar item mengindikasikan bahwa varians item lebih banyak dijelaskan oleh faktor bersama daripada oleh varians Tabel 9: Analisis Chi-Square model Chi-Squared Test Model Value < . Uji chi-square model juga menunjukkan hasil signifikan (NA = 145,967. df = 54. , yang memperkuat bahwa model faktor yang terbentuk memiliki kecocokan yang memadai dengan data empiris. Hasil Exploratory Factor Analysis pada data uji coba ini menunjukkan bahwa instrumen memiliki struktur unidimensional dengan kualitas item yang baik. Seluruh item memenuhi kriteria kelayakan analisis faktor, memiliki loading yang kuat, serta mampu menjelaskan proporsi varians yang besar. Temuan unidimensionalitas ini juga Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 selaras dengan pendekatan keseimbangan global yang dipopulerkan oleh (Clark, 2. , yang memandang keseimbangan sebagai pengalaman menyeluruh, bukan sekadar agregasi domain terpisah. Dengan demikian, instrumen dapat dinyatakan memiliki validitas konstruk awal yang memadai dan layak untuk digunakan pada penelitian lanjutan atau tahap konfirmasi (Confirmatory Factor Analysi. 3 Hasil Analisis Instrumen Penelitian 1 Data Deskriptif Penelitian Tabel 10: Analisis Data Deskriptif Penelitian Descriptive Statistics Usia Pendidikan_Terakhir Pria Wanita Pria Wanita Valid Missing Mode Minimum SMA SMA Maximum > 50 tahun > 50 tahun Penelitian ini melibatkan 377 responden yang terdiri atas 102 responden pria dan 275 responden wanita. Seluruh data dinyatakan lengkap tanpa adanya data hilang . issing value = . pada seluruh variabel demografis yang dianalisis. Tabel 11: Hasil Distribusi Usia Responden Penelitian Frequencies for Usia Jenis_Kelamin Pria Usia Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 18 - 28 29 - 39 40 - 50 > 50 Missing Total Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Frequencies for Usia Usia Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 18 - 28 29 - 39 40 - 50 > 50 Missing Total Jenis_Kelamin Wanita Berdasarkan hasil analisis deskriptif diatas, kelompok usia responden pria paling banyak berada pada rentang 29Ae39 tahun, yaitu sebanyak 53 orang . ,0%). Selanjutnya, responden pria pada rentang usia 40Ae50 tahun berjumlah 26 orang . ,5%), dan usia di atas 50 tahun sebanyak 14 orang . ,7%). Sedangkan jumlah responden pria paling rendah pada rentang usia 18Ae28 tahun sebanyak 9 orang . ,8%). Pada kelompok responden wanita, mayoritas juga berada pada rentang usia 29Ae39 tahun, yaitu sebanyak 141 orang . ,3%). Responden wanita usia 18Ae28 tahun berjumlah 90 orang . ,7%), diikuti usia 40Ae50 tahun sebanyak 31 orang . ,3%), dan usia di atas 50 tahun sebanyak 13 orang . ,7%). Secara umum, distribusi usia responden penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan pasca uji coba, baik pria maupun wanita, berada pada usia produktif menengah . Ae39 tahu. , yang mengindikasikan karakteristik sampel yang relatif matang secara usia. Tabel 12: Hasil Distribusi Pendidikan Terakhir Responden Penelitian Frequencies for Pendidikan_Terakhir Frequen Perce Valid Perce Cumulati Percent SMA Profesi Jenis_Kela Pendidikan_Tera Pria Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Frequencies for Pendidikan_Terakhir Jenis_Kela Wanita Frequen Perce Valid Perce Cumulati Percent Missing Total SMA Profesi Missing Total Pendidikan_Tera Ditinjau dari tingkat pendidikan terakhir, responden pria didominasi oleh lulusan Strata 1 (S. sebanyak 38 orang . ,3%). Disusul dengan lulusan D3 sebanyak 22 orang . ,6%), lulusan SMA sebanyak 19 orang . ,6%), responden pria lulusan profesi sebanyak 13 orang . ,7%). Responden pria dengan pendidikan Strata 2 (S. berjumlah 9 orang . ,8%), sedangkan lulusan S3 sebanyak 1 orang . ,0%). Tidak terdapat responden pria dengan pendidikan Diploma 4 (D. Sementara itu, responden wanita sebagian besar memiliki pendidikan terakhir Diploma 3 (D. , yaitu sebanyak 129 orang . ,9%). Disusul dengan lulusan Strata 1 (S. sebanyak 71 orang . ,8%), lulusan profesi sebanyak 44 orang . ,0%), lulusan Diploma 4 (D. sebanyak 16 orang . ,8%). Sedangkan lulusan S2 sebanyak 8 orang . ,9%), diikuti lulusan SMA sebanyak 6 orang . ,2%). Urutan terakhir yaitu lulusan S3 yaitu 1 orang . ,4%). Hasil ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan responden penelitian didominasi oleh individu dengan latar belakang pendidikan tinggi (D3. S1 dan Profes. , sehingga dapat diasumsikan bahwa responden memiliki kapasitas akademik yang memadai dalam memahami instrumen penelitian yang digunakan. Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 2 Confirmatory Factor Analysis (CFA) Uji kelayakan data menunjukkan hasil yang sangat baik. Nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) sebesar 0. 930 mengindikasikan bahwa 93% varians antar item merupakan varians bersama . ommon varianc. , sehingga data sangat layak untuk dianalisis menggunakan pendekatan faktor. Nilai MSA pada masing-masing indikator berkisar 893 hingga 0. 951, yang seluruhnya berada pada kategori sangat memadai. Selain itu. BartlettAos Test of Sphericity menghasilkan NA. = 4321 dengan p < . yang menunjukkan bahwa matriks korelasi berbeda secara signifikan dari matriks identitas, sehingga terdapat korelasi yang cukup antar item untuk dilakukan analisis Tabel 13: Analisis Model fit Fit indices Index Value Comparative Fit Index (CFI) Tucker-Lewis Index (TLI) Bentler-Bonett Non-normed Fit Index (NNFI) Bentler-Bonett Normed Fit Index (NFI) Parsimony Normed Fit Index (PNFI) Bollen's Relative Fit Index (RFI) Bollen's Incremental Fit Index (IFI) Relative Noncentrality Index (RNI) Goodness of fit index (GFI) Berdasarkan indeks incremental fit, model menunjukkan kecocokan yang relatif Nilai Comparative Fit Index (CFI) sebesar 0. 922 mengindikasikan bahwa model mampu meningkatkan kecocokan sebesar 92. 2% dibandingkan model independen. Tucker-Lewis Index (TLI) sebesar 0. 905 dan Bentler-Bonett Non-Normed Fit Index (NNFI) sebesar 0. 905 menunjukkan bahwa setelah mempertimbangkan kompleksitas model, struktur satu faktor masih berada dalam kategori fit yang baik. Nilai Normed Fit Index (NFI) sebesar 0. Incremental Fit Index (IFI) sebesar 0. 922, serta Relative Noncentrality Index (RNI) sebesar 0. 922 semakin memperkuat bahwa secara komparatif model memiliki kecocokan yang memadai. Relative Fit Index (RFI) 899 berada sedikit di bawah batas ideal 0. 90 sehingga tergolong marginal. Sementara itu. Parsimony Normed Fit Index (PNFI) sebesar 0. 793 menunjukkan bahwa model tetap memiliki kecocokan yang cukup baik dengan mempertimbangkan prinsip parsimoni. Disusul dengan Goodness of Fit Index (GFI) menunjukkan nilai Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 sangat tinggi yaitu 0. 973, dan mengindikasikan bahwa 97. 3% varians-kovarians dapat dijelaskan oleh model. Menurut Hu & Bentler . , nilai CFI dan TLI Ou 0,90 menunjukkan model fit yang Nilai GFI yang sangat tinggi . memperkuat bahwa struktur satu faktor mampu merepresentasikan kovarians data secara optimal. Tabel 14: Factor Loadings Factor loadings Confidence Interval Factor Indicator Std. Std. Error Lower Upper Factor < . < . < . < . < . < . < . < . < . < . < . < . Pada tingkat parameter, seluruh indikator memuat secara signifikan pada faktor laten. Nilai standardized factor loading berkisar antara 0. 721 hingga 0. Item dengan loading terendah adalah i9 sebesar 0. 721, sedangkan item dengan loading tertinggi adalah i10 sebesar 0. Seluruh nilai loading berada di atas 0. 70 dan memiliki nilai z yang sangat tinggi . 13 hingga 53. dengan p < . 001, yang menunjukkan bahwa setiap indikator memiliki kontribusi yang kuat dan signifikan terhadap konstruk Work Life Balance. Besarnya loading ini mengindikasikan bahwa varians masing-masing item sebagian besar dijelaskan oleh faktor laten. Instrumen dikembangkan berdasarkan empat dimensi teoretis. Namun hasil analisis faktor eksploratori dan konfirmatori menunjukkan bahwa seluruh item memuat pada Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 satu faktor umum. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam konteks sampel penelitian, konstruk tersebut terorganisasi sebagai satu kesatuan global . Secara teoretis, hasil ini memberikan kontribusi penting terhadap perdebatan unidimensi versus multidimensi dalam pengukuran Work Life Balance. Meskipun literatur awal menekankan struktur multidimensi (Fisher et al. , 2009. Greenhaus & Beutell, 1. , temuan empiris penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks budaya dan populasi Indonesia, konstruk tersebut terintegrasi menjadi satu dimensi Hal ini sejalan dengan penelitian lintas budaya yang menemukan bahwa dalam konteks kolektivistik, batas antara domain kerja dan kehidupan pribadi cenderung lebih terintegrasi dibandingkan konteks individualistik . isalnya kajian oleh Allen et al. 3 Average Variance Extracted (AVE) Tabel 15: Average Variance Extracted (AVE) Average variance extracted Factor AVE Factor 1 Nilai AVE sebesar 0,646 melebihi ambang 0,50 yang direkomendasikan oleh Fornell & Larcker . , sehingga validitas konvergen terpenuhi dengan baik. Nilai Average Variance Extracted (AVE) sebesar 0. 646 menunjukkan bahwa konstruk mampu 6% varians indikatornya, yang melebihi batas minimal 0. Hal ini mengindikasikan bahwa indikator-indikator dalam skala memiliki konsistensi dalam merepresentasikan konstruk yang sama. 4 Compute Reliability (CR) Tabel 16: Compute Reliability Reliability Factor 1 Coefficient O Coefficient Dari sisi reliabilitas, nilai CronbachAos Alpha sebesar 0. 929 menunjukkan konsistensi internal yang sangat tinggi. Sementara itu, nilai McDonaldAos Omega sebesar 0. menunjukkan reliabilitas konstruk berbasis model faktor yang sangat kuat. Nilai omega yang lebih tinggi dibandingkan alpha menunjukkan bahwa reliabilitas berbasis struktur faktor memberikan estimasi konsistensi yang lebih optimal. Secara keseluruhan, instrumen Work Life Balance yang dikembangkan menunjukkan validitas isi yang kuat, struktur faktor unidimensional yang stabil, validitas konvergen yang memadai, serta reliabilitas internal yang sangat tinggi. Temuan ini mendukung penggunaan skor total sebagai representasi konstruk global WLB dan menunjukkan bahwa instrumen ini layak digunakan dalam penelitian lanjutan maupun praktik Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 organisasi terutama pada ASN. Secara konseptual, hal ini konsisten dengan pendekatan keseimbangan sebagai persepsi menyeluruh mengenai integrasi peran kerja dan kehidupan pribadi Greenhaus & Allen . alam Quick & Tetrick, 2. , yang menekankan pengalaman subjektif keseimbangan daripada pemisahan struktural antar Kesimpulan Penelitian ini berhasil mengembangkan dan memvalidasi alat ukur Work Life Balance (WLB) yang secara khusus disesuaikan dengan karakteristik Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia. Berdasarkan hasil validitas isi menggunakan AikenAos V, seluruh item terbukti memiliki relevansi tinggi terhadap domain konstruk. Tahap uji coba menunjukkan bahwa setiap item memiliki korelasi antarbutir yang signifikan dan daya diskriminasi yang sangat baik, sehingga tidak terdapat item yang perlu dieliminasi. Analisis reliabilitas menunjukkan konsistensi internal yang tinggi hingga sangat tinggi pada seluruh dimensi, baik berdasarkan koefisien CronbachAos Alpha maupun McDonaldAos Omega. Hal ini mengindikasikan bahwa instrumen memiliki stabilitas dan presisi pengukuran yang baik. Hasil EFA mengindikasikan bahwa struktur empiris instrumen cenderung unidimensional dengan proporsi varians yang besar . %) dijelaskan oleh satu faktor utama. Temuan ini kemudian dikonfirmasi melalui CFA pada sampel yang lebih besar, dengan indeks model fit yang memenuhi kriteria kelayakan (CFI. TLI Ou 0,90. GFI > 0,. Dengan demikian, meskipun secara teoritis WLB terdiri dari empat dimensi sebagaimana dirumuskan oleh (Fisher et al. , 2. , dalam konteks ASN Indonesia konstruk tersebut secara empiris terintegrasi dalam satu faktor global. Berdasarkan integrasi teori dan hasil penelitian yang menunjukkan struktur unidimensional pada konteks ASN. Work Life Balance dapat didefinisikan secara operasional sebagai persepsi global individu mengenai keseimbangan dan integrasi antara tuntutan kerja dan kehidupan pribadi, yang tercermin dari rendahnya interferensi antarperan serta tingginya pengalaman saling memperkaya antara kedua domain tersebut. Temuan unidimensionalitas memberikan implikasi penting dalam penggunaan Skor total dapat digunakan sebagai representasi global Work Life Balance, tanpa perlu memisahkan skor berdasarkan dimensi awal. Hal ini menyederhanakan prosedur analisis statistik lanjutan . isalnya regresi. SEM, atau analisis mediasi/moderas. karena konstruk dapat diperlakukan sebagai variabel laten tunggal. Secara metodologis, instrumen ini telah memenuhi kriteria validitas konstruk, validitas konvergen . erdasarkan loading faktor yang tingg. , serta reliabilitas internal yang sangat Secara praktis, skala ini dapat digunakan sebagai alat asesmen awal untuk mengidentifikasi tingkat Work Life Balance ASN sebelum dilakukan intervensi organisasi, pengembangan kebijakan fleksibilitas kerja, maupun penelitian lanjutan dalam bidang Psikologi Industri dan Organisasi terutama dalam sektor pemerintahan. Malinda Wijaya et. al (Work Life Balance PsychometricA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 2 2026, 151-173 Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji Work Life Balance (WLB) secara lebih kontekstual dan spesifik pada satu institusi atau kantor instansi pemerintahan tertentu. Pendekatan berbasis satu setting organisasi memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai dinamika WLB dalam konteks budaya organisasi, sistem kerja, beban administratif, serta kebijakan internal yang khas pada institusi tersebut. Dengan demikian, analisis yang dihasilkan akan lebih sensitif terhadap karakteristik struktural dan psikologis yang memengaruhi keseimbangan kehidupan kerja pegawai pada lingkungan kerja tertentu. Selain penelitian dalam satu institusi, studi komparatif antar kantor, antar instansi, maupun antar kementerian juga sangat direkomendasikan. Desain komparatif lintas organisasi memungkinkan identifikasi variasi tingkat WLB yang dipengaruhi oleh perbedaan sistem manajemen, kepemimpinan, fleksibilitas kerja, serta tuntutan birokrasi. Pendekatan ini berpotensi memberikan kontribusi yang lebih luas dalam merumuskan kebijakan berbasis bukti . vidence-based polic. terkait pengelolaan keseimbangan kerjakehidupan dalam sektor pemerintahan. Lebih lanjut, penelitian mendatang dianjurkan untuk mengintegrasikan WLB dengan variabel-variabel organisasi lainnya guna memperluas pemahaman mengenai implikasi praktisnya dalam dunia kerja. Variabel yang relevan untuk dikaji antara lain kinerja karyawan . mployee performanc. , kepuasan kerja . ob satisfactio. , komitmen organisasi . rganizational commitmen. , kebahagiaan di tempat kerja . appiness at wor. serta quiet quitting hingga work engagement. Pengujian hubungan langsung maupun tidak langsung . ediasi dan moderas. antar variabel tersebut akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai peran strategis WLB dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas pegawai. Referensi