GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Efektifitas Konseling Kelompok Pendekatan SFBC untuk Meningkatkan Resiliensi Yatim Piatu di Panti Asuhan Gatot Soebroto Kota Semarang Anggun Karomah1* . Universitas Negeri Semarang. Indonesia. Abstract Changes in conditions in an individual's life give rise to various kinds of reactions that have an impact on behavior. Every individual is required to be strong in facing changes, bad support and emotions make the individual unconscious of the strength he has. Therefore, there is a need for methods to increase self-resilience abilities in facing life's stresses and adversities, one of which is group counseling services with a solution focused brief counseling approach. The aim of this research is to find out how to increase resilience in orphaned children in the Gatot Soebroto orphanage. Semarang City. This research is quantitative research using pre-experimental research methods with a One Group Pretestposttest design. The research population was 15 with 8 research samples. The data collection techniques used were questionnaires and observation with descriptive data analysis methods and t hypothesis testing. The research results show that the effectiveness of the SFBC group counseling approach can increase the resilience of orphans in orphanages with pretest and posttest Sig. 000, namely Ha is accepted 0. 000 < 0. and Ho is rejected. Keywords: Resilience. Group Counseling. SFBC. Orphans. Orphanages Info Artikel Histori Artikel: Dikirim: 2024-05-04 | Diterbitkan: 2024-10-26 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 14. No 3 . Halaman: 726 - 735 (*) Penulis Korespondensi: Anggun Karomah. Universitas Negeri Semarang. Indonesia. Email: anggunkaromah932@students. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Kehidupan di panti asuhan berbeda dengan kehidupan yang berada dalam keluarga, anak yatim piatu yang berada di panti asuhan cenderung harus mampu untuk menyesuaikan diri dan menghadapi berbagai situasi sulit yang mempengaruhi emosional. Selama menjalani kondisi demikian dukungan emosional, spiritual, dan instrumental dari lingkungannya akan mempengaruhi bagaimana mereka bertahan dalam kondisi yang sulit (Muliawiharto & Page | 726 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Masykur 2. Menurut Smith, ddk . lingkungan yang positif menjadi salah pendukung bagi seseorang untuk memiliki ketahanan diri, menghilangkan kesedihan, dan Anak yatim piatu mengalami banyak kondisi yang membuat mereka merasa tidak beruntung dan sulit untuk melewati fase perubahan pada dirinya. Mereka yang berada di panti asuhan akan cenderung kesulitan untuk memandang kekuatan yang dimiliki dibandingkan anak yang tinggal dalam lingkup keluarga. Kyaruzi & Edna . berpendapat bahwa ketidaksejahteraan fisik dan psikologis yatim piatu dapat menimbulkan tuntutan dan juga hambatan bagi mereka untuk menjalani kehidupan. Anak yatim piatu dengan ketahanan diri yang rendah menjadikan diri mereka merasa kurang berharga dan tidak dapat secara langsung beradaptasi dengan keadaan atau mengalami fase adversitas emosional, sedangkan menurut Munawaroh & Mashudi . pada sisi lain bahwa kekuatan yang individu yakini atau resiliensi yang tinggi dalam menghadapi situasi dapat membantu mereka untuk mencapai keberhasilan dalam Salah satu ciri kecenderungan negatif yang terjadi pada anak yatim piatu dengan resiliensi rendah adalah kesulitan untuk mengendalikan perusakan diri. Adanya kejadiankejadian kemalangan dan hidup di lingkungan dengan keterbatasan menjadikan anak yatim piatu kurang memiliki pribadi yang resilience atau individu dengan resiliensi rendah untuk survive terhadap situasi menyakitkan yang dialami. Menurut Mutiasari & Yarni . perilaku yang biasa terjadi pada anak yatim piatu adalah kesulitan untuk mengontrol diri, memilih cara bersikap, dan tidak memiliki kendali atas emosinya akibat dari ketidaksiapan menerima rasa sakit atas kejadian yang mereka Sebuah penelitian yang dilakukan Handayani, dkk . terhadap anak yatim piatu dengan resiliensi rendah menyatakan bahwa yatim piatu yang berada di panti asuhan memiliki kecenderungan perasaan yang kurang beruntung, mengalami kecemasaan, rasa kurang percaya diri bahkan pada tingkat depresi. Penelitian lain yang dilakukan Wardani, dkk . mengungkapkan hal rasa takut, tidak berdaya dan kesulitan penyesuaian diri dialami oleh anak yatim piatu. Kecenderungan kondisi perkembangan dan tingkat kekuatan yang kurang optimal disebabkan kurangnya interaksi yang menstimulasi usaha-usaha mereka untuk mampu melewati masa sulit dalam kehidupannya (Sazali & Setiawan, 2. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan kekuatan anak yatim piatu yang berada di lingkungan panti asuhan memiliki kekuatan jiwa yang rendah dalam menghadapi beberapa situasi dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Panti Asuhan Gatot Soebroto Kota Semarang mereka cenderung kesulitan untuk menerima berbagai tekanan dan merubah situasi interaksi sosialnya menjadi pasif karena menganggap dirinya tidak begitu berharga setelah kehilangan orang tuanya. Dalam hal ini, mereka memerlukan tingkat resiliensi atau ketangguhan yang lebih agar mampu kembali membuka diri di dalam keadaan atau lingkungan yang menjadi sumber tekanan bagi dirinya dan menciptakan penerimaan yang lebih positif. Resiliensi menurut Jakimovski, ddk . kapasitas yang ada dalam diri seseorang dengan sifat yang dinamis dalam upaya melawan atau beradaptasi dengan keadaan yang menyakitkan yang mengancam fungsi-fungsi dalam keberlangsungan Ketahanan ini berkaitan erat dengan bagaimana hubungan sosial seseorang dengan individu lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Munawaroh & Mashudi . hubungan sosial dapat membuat perubahan bagi individu menentukan apa yang ada didepannya, dengan kata lain bila hubungan sosialnya positif maka akan berpengaruh baik pada tingkat ketahanan individu dalam menghadapi tekanan dalam kehidupan. Menurut Page | 727 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Essel, dkk . resiliensi merupakan kondisi mental individu yang baik mengacu pada bagaimana individu dapat menerima pengalaman-pengalaman yang kurang sesuai dengan harapan atau berupa hal menyakitkan. Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa resiliensi merupakan ketahanan yang dimiliki individu dalam menghadapi persoalan, tekanan, kegagalan dan hal menyakitkan dalam kehidupannya. Kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungannya sangat penting bagi anak yatim piatu, hal ini dilakukan untuk menjaga kekuatan diri yang dimiliki. Resiliensi yang rendah pada anak yatim piatu dapat dilihat dari kesulitan mereka untuk beradaptasi dalam perubahan keadaan yang signifikan dan kurang mampu untuk mengendalikan kecemasan dan emosi (Macia, ddk. Sedangkan resiliensi yang tinggi pada mereka ditandai dengan penerimaan dan adaptasi diri terhadap sesuatu yang baru dan sesuatu yang Resiliensi yang kuat yang dimiliki oleh mereka dapat dilihat bagaimana mereka menerima sebuah keadaan dimana harus hidup di panti asuhan tanpa adanya keluarga, dalam penyesuaian inilah akan membentuk sebuah resiliensi atau kekuatan bagi mereka dalam menghadapi berbagai perubahan dan tekanan yang dialami. Resiliensi yang rendah dapat ditingkatkan melalui beberapa intervensi layanan beberapa diantaranya adalah intervensi melalui layanan konseling individu yang dalam penelitian Utami . dengan intervensi layanan konseling individu ego state pada anak yatim piatu di panti asuhan dengan hasil berpengaruh terhadap peningkatan resiliensi. Penelitian Pestu, dkk . menggunakan intervensi layanan bimbingan kelompok psikoedukasi dengan hasil berpengaruh terhadap peningkatan resiliensi dalam kondisi Penelitian Dina, dkk . menggunakan intervensi konseling kelompok pendekatan Realita menunjukan hasil memiliki pengaruh terhadap peningkatan resiliensi bagi anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan beberapa intervensi pada anak yatim piatu dalam meningkatkan resiliensinya. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan intervensi konseling kelompok dengan pendekatan Solution Focused Brief Counseling. Penggunaan konseling kelompok dinilai sebagai intervensi yang lebih mudah dalam memecahkan masalah dan memberikan pemahaman bersama-sama terutama bagi suatu kelompok dengan masalah yang homogen (Edmawati, 2. Sedangkan penggunaan pendekatan Solution Focused Brief Counseling pendekatan dipilih berdasarkan asumsinya berfokus pada solusi atau cara penyelesaian masalah bukan pada masalah yang terjadi. Pendekatan yang digagas oleh oleh Steve De Shazer & Insoo Kim Berg dikenal dengan konseling singkat yang berfokus pada solusi dan memandang bahwa setiap individu memiliki keberdayaan dalam hidupnya (Mulawarman, 2. Solution Focused Brief Counseling dapat juga disebut sebagai terapi yang tidak lepas dari interaksi sosial, hal ini sejalan dengan pendapat Mousavi, ddk . SFBC merupakan metode psikologis postmodern dengan hubungan yang terapuetik dan didasarkan pada teori konstruktiv sosial. SFBC pada saat ini memiliki daya tarik dalam pelaksanaannya dengan berfokus pada solusi dan singkat cenderung dipandang efektif dan efisien dengan mempertimbangkan konteks, waktu, dan aplikatif, sehingga tepat jika digunakan dalam lingkungan sosial. Adapun beberapa tahapan dalam pendekatan Solution Focused Brief Counseling Menurut Mulawarman . yaitu Establishing Relationship. Identifying a Solvable Complaint. Establishing Goals. Designing and Implementing Intervention tahap terakhir ini konselor memastikan pemahaman atas solusi yang dipilih konseli dan mendorong konseli untuk melaksanakan solusi yang telah dipilih. Dalam tahapan-tahapan Page | 728 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA tersebut terdapat teknik-teknik konseling, teknik ini digunakan untuk mempermudah proses konseling sesuai pada konsep yang diterapkan (Haryono & Ariyani. Teknik yang digunakan dalam pendekatan konseling SFBC diantaranya adalah Exception Question atau pengecualiaan merupakan teknik yang digunakan untuk mengarahkan konseli pada pengalaman yang tidak menyakitkan yang pernah dialami, sehingga konseli dapat menyadari perbedaan ketika mengalami permasalahan dan intensitas masalah kecil. Kedua, teknik Miracle Question atau pertanyaan ajaib ini merupakan teknik yang mendorong konseli untuk mempertimbangkan tentang apa yang diinginkan bukan berfokus pada hal yang tidak diinginkan. Terakhir adalah Scaling Question atau pertanyaan berskala yang bertujuan untuk mengukur bagaimana perasaan, permasalahan, dan keyakinan konseli terhadap solusi yang digagas (Widayanti. Berdasarkan beberapa kelebihan penggunaan intervensi layanan konseling kelompok dan pendekatan SFBC serta berdasarkan hasil analisis terhadap rendahnya resiliensi anak yatim piatu Gatot Soebroto Kota Semarang. Peneliti menganalisis bagaimana layanan konseling kelompok pendekatan SFBC untuk meningkatkan resiliensi anak di panti asuhan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana sistem layanan konseling kelompok menggunakan pendekatan SFBC terhadap peningkatan resiliensi anak yang berada di panti asuhan. METODE Desain Penelitian Desian penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-posttest. Design yang melibatkan satu kelompok eksperimen yang akan diberikan treatment. Pretest dilakukan sebelum dilakukan treatment (O. dan posttest dilakukan setelah treatment berakhir (O. Variabel dalam penelitian ini adalah resiliensi (X) sebagai variable bebas dan anak yatim piatu (Y) sebagai variable terikat. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui sebuah pengaruh treatment atau perlakuan tertentu, (Arifin, 2. Tabel 1. Metode Prettest Treatment Posttest Keterangan: O1 : Pengukuran Prettest (Resiliensi Siswa Yatim Piat. X : Perlakuan (Konseling Kelompok S. O2 : Pengukuran Posttest (Resiliensi Siswa Yatim Piatu Partisipan Populasi pada penelitian ini adalah anggota panti asuhan Gatot Soebroto. Kota Semarang dengan sampel penelitian adalah 15 anak yatim piatu usia 12-17 tahun yang berada di Panti Asuhan dan anggota populasi berjumlah 8 orang dengan tingkat resiliensi rendah. Pemilihan subjek pada penelitian menggunakan metode random sampling dengan populasi homogen dan kriteria telah ditentukan. Page | 729 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Instrumen Penelitian Peneliti mengadopsi instrument untuk resiliensi yaitu The Connor Davidson Resilience (CD-RSIC) yang dikembangakan oleh Connor Davidson . dengan total 25 item dengan reliabilitas 0,736. Pengukuran nilai . yaitu Sesuai(S). Sangat Sesuai (SS). Tidak Sesuai ST), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Semakin tinggi nilai yang diperoleh menggambarkan semakin tinggi tingkat resiliensinya. Prosedur perlakuan dilakukan dengan jumlah 6 sesi pertemuan dengan masing-masing waktu 60 menit. Selama perlakuan dilakukan obeservasi langsung terhadap perilaku responden. Beberapa alat yang digunakan diantaranya persetujuan responden . nformed consen. dan alat ukur Teknik Analisis Data Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriteria subjek anak yatim piatu di Panti Asuhan Gatat Soebroto Kota Semarang dengan uji hipotesis ini menggunakan paired simple t-test menggunakan windows SPSS versi 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan treatment yang dilakukan pada 15 anak yatim piatu dan diambil 8 responden dengan 6 perempuan dan 2 laki-laki dengan kategori hasil pretest paling rendah untuk dilakukan treatment. Resiliensi meningkat secara signifikan setelah mendapatkan konseling kelompok, yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2. Nilai Resiliensi Yatim Piatu Interval Kategori Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Total Pretest Frekuensi Presentase Interval Posttest Frekuensi Presentase Tabel 2 menunjukan nilai resiliensi pada anak panti asuhan sebelum . re-tes. dan setelah . ost-tes. dilakukan perlakuan. Hasil pretest menunjukan anak yang memiliki tingkat resiliensi yaitu sekitar 1 anak . 5%) dalam kategori sangat rendah, 4 anak . %) dalam kategori rendah, 3 anak . 5%) dalam kategori tinggi dan 0 anak . %) dalam kategori sangat tinggi. Setelah dilakukan layanan konseling kelompok pendekatan SFBC terjadi peningkatan resiliensi. Hasil posttest menjukan sekitar 75% anak yatim piatu setelah dilakukan perlakuan memiliki tingkat resiliensi yang sangat tinggi dibandingkan sebelum dilaksanakan perlakuan yaitu hanya sekitar 37. 5% anak memiliki resiliensi yang tinggi. Page | 730 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Pre Test Post Test Test of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Statistic Shapiro-Wilk Sig. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk dengan menggunakan SPSS 25 for windows, hasil menunjukan nilai p Lilliefros (Si. 200 > 0. 05 atau data berdistribusi normal. Nilai p uji Shapiro-Wilk pada kelompok 0. 833 > 0. 05 atau hasil uji berdistribusi normal. Tabel 4. Uji T-Test Mean Pair 1 Pre Test Ae Post Test Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval fo the Difference Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean Tabel di atas menunjukan nilai Sig. 000 < 0. 05 atau berarti kurang dari 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan Ho ditolak dan Ha diterima. Tabel 5. Uji Statistik Pair 1 Pre Test Post Test Paired Samples Statistics Mean Std. Std. Error Mean Melalui hasil penelitian . Skor rata-rata pretest hasil uji statistik sebesar 70. 37 dan skor rata-rata posttest 92. 25 dengan selisih antara pretest dan posttest adalah 21. Berdasarkan hasil tersebut menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang siginifikan pada tingkat resiliensi anak panti asuhan melalui konseling kelompok pendekatan solution focused brief counseling. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata resiliensi yang dimiliki oleh anak yatim piatu di panti asuhan Gatot Soeboroto setelah dan sebelum diberikan perlakuan memiliki memiliki perbedaan. Resiliensi pada seseorang dapat menjadi berarti ketika berada dalam situasi sosial yang mengajaknya pada penguatan. Melalui pemahaman dirinya atau identitas dalam situasi akan membentuk self understanding yang dipandang sebagai pribadi yang koheren (Munawaroh & Mashudi, 2018: . Menurut Fernandes, dkk . reseliensi yang dimiliki seseorang merupakan salah satu penentu bagaimana individu tersebut dapat bertahan dan bangkit dari rasa sakit sekalipun dalam kondisi yang beresiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa resiliensi merupakam kemampuan seseorang untuk mengelola kekuatan dalam dirinya dalam menghadapi situasi kehidupan yang sulit. Berdasarkan kesimpulan dari perolehan pretest dan pottest resiliensi pada total 8 anak yatim piatu di panti asuhan Gatot Soebroto Kota Semarang. Berdasarkan tabel di bawah ini menunjukan perubahan atau peningkatan reseiliensi secara konsisten. Page | 731 Sig. tailed GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Tabel 6. Hasil Pretest dan Postest Kode Nama MRA DAP Kelas Eksperimen Pre Test Post Test Skor Kategori Skor Kategori Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Rendah Resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk beradaptasi terhadap situasisituasi yang tidak diharapakan hadir (Munawaroh & Mashudi, 2018:. Kemampuan individu dalam menghadapi beragam persoalan dalam hidupnya termasuk perisitiwa yang tidak menyenangkan dapat diukur melalui beberapa karakter resiliensi dalam dirinya seperti sanse of self, keterampilan interpersonal, kemampuan merencanakan, dan menentukan tujuan, mampu berempati, dan menggunkan humor yang positif. Pendapat lain juga dikemukankan oleh Santarone, dkk . bahwa individu yang memiliki kekuatan dalam dirinya atau pribadi yang resiliens dicirikan memiliki regulasi emosi yang baik, tenang dalam menghadapi tantangan, mampu untuk fokus, dan bersikap Resiliensi dapat ditingkatkan pada bagaimana bersikap dalam lingkungan sosialnya karena dengan seiringan pengalaman yang positif yang dilalui oleh individu dapat menyadarkan kekuatan dalam dirinya. Kondisi tersebut dapat dilakukan juga melalui pelatihan untuk interkasi dan memahami pengalaman-pengalaman yang individu Konseling kelompok menurut Prayitno, dkk . layanan yang melibatkan kelompok dengan kondisi permasalahan yang sama dengan memafaatkan dinamika Tujuan dalam layanan konseling kelompok ini adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam interkasi sosialnya. Secara tidak langsung melalui proses interkasi ini siswa akan mendapatkan pemahaman dan pengalaman sebagai bentuk kekuatan dalam dirinya. Layanan konseling kelompok berfokus pada masalah pribadi yang diharapkan mendapatkan pengaruh dari pemecahan masalah secara kelompok. Layanan konseling kelompok juga diartikan sebagai kegiatan kelompok yang berorientasi pada pemecahan masalah yang difasilitasi oleh konselor. Tindakan pemecahan masalah dari setiap anggota kelompok menjadi standar pemberian informasi, (Septiana, dkk, 2. Saat melaksanakan layanan konseling kelompok anggota kelompok terlihat bagaimana proses dinamika berjalan dan komunikasi aktif dilakukan termasuk pada adaptasi dengan kondisi-kondisi yang dimiliki. Kesempatan untuk berbagi sebuah pendapat dan balikan dapat mengembangkan kemampuan individu untuk memahami individu lain dan dirinya secara mendalam. Penggunaan fokus pendekatan yang dilakukan dalam konseling kelompok juga menjadi penunjang keterlaksanaan layanan secara aktif dan efektif. Penggunaan teknik dalam pendekatan SFBC seperti scalling question, miracle question dan exception question membantuk untuk pemecahan masalah atau memfokuskan untuk mendapatkan sebuah solusi. Page | 732 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada penelitian dengan uji independent ttest menggunakan SPSS windows versi 25 menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat resiliensi dengan nilai Sig. 0,05. Tahap awal evaluasi kelas eksperimen terdapat 15 anak panti asuhan yang kemudian menjadi 8 anggota eksperimen dengan nilai minimun pretest 61,00 dan nilai maksimum 78,00. Sedangkan peningkatan terjadi dilihat dari hasil setelah dilaksakan eksperimen dengan nilai minimal 90,00 dan nilai maksimal 96,00. Hasil ini menunjukan layanan konseling kelompok efektif bagi peningkatan resiliensi anak yatim piatu. Hasil pelaksanan dilakukan evaluasi penilaian pada perilaku, pemikiran dan Pada evaluasi proses dapat diukur bahwa kelompok mengalami perkembangan yang cukup memuaskan saat setelah diberikan layanan konseling kelompok pendekatan SFBC. Anggota kelompok dapat lebih baik dalam mengelola kekuatan diri yang mereka miliki untuk beradaptasi. Konseling kelompok dibagi kedalam 4 tahap yaitu: . tahap awal, yaitu tahap pembentukan kelompok dengan dinamikanya, . tahap transisi, tahap ini anggota kelompok mulai di fokuskan pada layanan, . tahap inti, pada tahap ini merupakan tahap terjadinya diskusi dan pemecahan permasalahan, . tahap pengakhiran, pada tahap inilah semua kegiatan disimpulkan dengan perpisahan hangat untuk sesi lanjutan maupun pengakhiri sesi. Berdasarkan pemapran di atas konseling kelompok pendekatan SFBC dilakuakan peneliti untuk mengimplementasikan layanan dan menunjang peningkatan perilaku positif yaitu peningkatan resiliensi pada lingkungan beresiko seperti panti asuhan. SIMPULAN Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok pendekatan solution focused brief counseling (SFBC) menujukan pengaruh bagi peningkatan resiliensi anak yatim piatu dengan hasil yang signifikan seteleh diberikan layanan dengan Sig. 05 yaitu hipotesis diterima. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi guru bimbingan dan konseling atau konselor untuk tetap memfasilitasi konseli dengan konseling kelompok dan pendekatan SFBC untuk mengembangkan kekuatan atau keberdayaan individu. Keterbatasan penelitian ini adalah pelaksanaan layanan konseling pada sebuah komunitas cukup terbatas anggota yang dapat ikut serta sehingga tidak memungkinakan adanya generalisasi di luar populasi. Selain itu, kurangnya data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi pada anggota komunitas dan faktor lain yang belum dapat teridentifikasi dalam penelitian sebagai penunjang hasil yang diperoleh. REFERENSI